• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penelitian yang Relevan

Dalam dokumen BAB II TINJAUAN PUSTAKA (Halaman 24-31)

Penelitian tentang “Evaluasi Kebijakan Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) Pada Sekolah Negeri Di Kecamatan Palu Timur” oleh Soulisa (2017) menjelaskan hasil Evaluasi BOS dari 6 kriteria yang diajukan oleh Dunn (2000:610). Yang pertama efektifitas: dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Soulisa bahwa efektifitas pelaksanaan BOS ini telah dilakukan secara optimal oleh pihak sekolah.

Hal ini dibuktikan dengan pelaksanaan dan pengelolaan dan BOS selalu bersandar kepada aturan yang telah ditetapkan yaitu petunjuk teknis (juknis) penggunaan dan pertanggungjawaban dana BOS. Sehingga BOS sudah dirasakan oleh peserta didik khususnya siswa miskin. Namun menurut beliau, adanya dana BOS ini belum secara jelas memperlihatkan adanya peningkatan dalam mutu pendidikan.

37 Yang kedua Efisiensi: berdasarkan hasil wawancara bahwa efisiensi pelaksanaan BOS di sekolah sudah efisien jika dinilai dari segi pemanfaatan bagi siswa miskin karena dapat memenuhi kebutuhan dalam kegiatan belajar dan operasional sekolah itu sendiri.

Tetapi jika dinilai efisiensi di sekolah belum berjalan maksimal, hal ini disebabkan karena pelaksanaan kebijakan dana BOS di sekolah yang juga diemban oleh guru sebagai tenaga pengajar sehingga menyebabkan kinerja dari guru sendiri menurun dalam pelaksanaan kebijakan dana BOS tersebut. Yang ketiga kecukupan: dari hasil penelitian ini diperoleh bahwa dana BOS sangat bermanfaat dalam operasional sekolah tetapi jumlah anggaran dana BOS yang diterima sekolah dalam membiayai operasional sekolah dirasakan belum cukup atau belum memenuhi sepenuhnya.

Padahal dana yang diterima oleh sekolah cukup besar, dikarenakan jumlah siswa yang semakin banyak setiap tahunnya.

Sehingga dari pihak sekolah dan komite menyepakati adanya sumbangan komite sekolah untuk memenuhi kebutuhan sekolah yang tidak terakomodir oleh dana BOS dan yang memang peruntukannya tidak ada dalam juknis penggunaan dana BOS. Yang keempat perataan: hasil penelitian menunjukan bahwa pemerataan penyaluran dana BOS dapat dirasakan oleh semua siswa, sehingga peneliti

38 berpendapat bahwa pelaksanaan kebijakan dana BOS dari aspek perataan sudah optimal dilakukan. Yang kelima resposivitas: dari hasil wawancara didapat bahwa aspek responsifitas telah terpenuhi dengan cukup baik. Hal ini dikarenakan pemerintah sangat merespon secara positif kebijakan pengelolaan dana BOS di sekolah dengan fungsinya sebagai pengendali kebijakan yang dilakukan sehingga dapat terlaksana dengan baik dan tepat.

Manfaat kebijakan dana BOS ini pun dirasakan oleh orang tua siswa dengan mendukung dan tetap memantau jalannya pengelolaan kebijakan di sekolah. Yang terakhir ketepatan:

dari data yang diperoleh, pengelolan dana BOS di sekolah dilakukan sesuai juknis penggunaan dan pertanggungjawaban keuangan dana BOS tahun anggaran 2014 agar tepat sasaran dalam pelaksanaan dan manfaatnya dapat dirasakan semua peserta didik khususnya siswa miskin dalam bentuk pelayanan pendidikan yang baik.

Penelitian yang dilakukan oleh Hutasuhut (2014) dengan judul “Evaluasi Pelaksanaan Program Bantuan Operasional Sekolah Dasar Negeri NO.125549 Kelurahan Martoba Kecamatan Siantar Utara Pematangsiantar”. Beliau menjelasakan hasil penelitian ini dilihat dari empat aspek yaitu aspek sosialisasi program BOS, aspek proses penyaluran dana, aspek ketepatan waktu dan sasaran, serta aspek pencapaian tujuan. Aspek sosialisasi: beliau menjelaskan bahwa masih

39 banyak siswa yang belum mengerti tentang dana BOS yang sudah dijalankan oleh sekolah. Hal ini disebabkan karena pihak sekolah kurang serius dalam melaksanakan sosialisasi BOS kepada siswa dan orang tua murid. Aspek proses penyaluran dana BOS: penyaluran dana yang dimaksud adalah dana alat tulis kantor (ATK) serta pembelian barang habis pake. Dalam hal ini, bahwa sekolah dasar negeri pematangsiantar telah menyalurkan dana dengan baik. Aspek ketepatan waktu dan sasaran: hasil penelitian menunjukan bahwa dana BOS telah tersalurkan dangan baik dan telah diberikan tepat sasaran.

Hal ini dibuktikan lewat wawancara terhadap siswa di sekolah tersebut bahwa anak-anak miskin telah terpenuhi kebutuhan mereka seperti buku-buku pelajaran, alat-alat olahraga, dan alat-alat pratikum telah diberikan tepat waktu dan tidak ada pengunduran waktu. Aspek pencapaian tujuan:

dari hasil wawancara, dijelaskan bahwa para orang tua murid merasa sudah tepat dan sangat membantu karena dengan penghasilan orang tua yang Cuma cukup untuk memenuhi kebutuhan buat makan, dengan adanya BOS siswa dapat bersekolah tanpa ada pungutan biaya dari sekolah. Selain itu wawancara dengan pengelola BOS di SD Negeri Pematangsiantar yang mengatakan bahwa sudah memberikan dana BOS ini kepada orang-orang yang tepat yaitu siswa yang tergolong miskin. Selain itu, para pengelola BOS juga sudah

40 melakukan sosialisasi, penyaluran dana, ketepatan waktu dan ketepatan sasaran dengan baik dan benar.

Penelitian dengan judul “Monitoring Dan Evaluasi Program Bantuan Operasional Sekolah Di Kota Salatiga Dengan Menggunakan Analisis Kesenjangan” oleh Slameto (2016). Dalam penelitian ini menjelasakan bahwa implementasi program BOS di salatiga ternyata terdapat kesenjangan yang bervariasi: tinggi, sedang dan rendah baik yang menyangkut proses implementasi maupun hasil program. Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa terdapat kesenjangan yang tinggi dalam implementasi BOS, sehingga:

ada keraguan apakah sekolah tetap dapat mempertahankan mutu pelayanan penendidikan apalagi harus menyelenggarakan sekolah gratis; apakah BOS digunakan secara transparan, dan para guru dilibatkan; dengan BOS yang diterima, sekolah belum dapat membebaskan seluruh biaya sekolah (hanya dapat membebaskan 40-70% dari biaya sekolah), sehingga masih harus melakukan penggalian dana dari sumber lain; terdapat sejumlah kebutuhan program sekolah yang strategis tetapi tidak dapat dibiayai oleh BOS;

dana BOS belum mampu mewujudkan sekolah gratis.

Menurut beliau, terdapat berbagai faktor, baik faktor internal sekolah yang bersangkutan maupun faktor eksternal, dan itulah yang perlu mendapat perhatian dalam menentukan tindak lanjut, yaitu perlunya memodifikasi program terutama

41 pada aras implementasi level sekolah dengan dukungan supra struktur birokrasinya.

Penelitian yang dilakukan oleh Kaswandi (2015) dengan judul “Evaluasi Pengelolaan Dana Bantuan Operasional Sekolah Di SD Negeri 027 Tarakan”. Dalam penelitian ini beliau menjelaskan bahwa penyusunan RKAS tepat waktu diawal tahun anggaran, berdasarkan skala prioritas kebutuhan sekolah, serta melibatkan komite dan guru. Aspek pelaksanaan belum seluruhnya berhasil dikarenakan penyaluran dana BOS masih terlambat, administrasi pembukuan sudah sesuai dengan Permendiknas No.51 tahun 2011.

Aspek pengawasan masih belum berhasil karena belum ada pengawasan dari pihak komite sekolah dan dinas terkait secara berkala. Aktivitas evaluasi oleh pihak komite sudah dilakukan meskipun belum maksimal. Pelaporan pengelolaan dana BOS di SDN 027 pengelolaan dan BOS sesuai dengan Permendiknas No. 51 tahun 2011.

Dari beberapa penelitian di atas, terlihat bahwa dalam pelaksanaan BOS masih belum sepenuhnya berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Apa yang di harapkan pemerintah dengan yang terjadi di lapangan masih belum menunjukan hasil yang positif. Ada beberapa perbedaan dan persamaan penelitian di atas dengan penelitian yang akan peneliti tulis antara lain sebagai berikut: penelitian yang dilakukan oleh

42 Soulisa (2017), beliau meneliti tentang BOS di SDN 24 Palu.

Dalam penelitian ini Soulisa menggunakan 6 indikator untuk melihat BOS di SDN 24 Palu, yang mana keenam indikator ini dikemukakan oleh Dunn (2000:610) yaitu, efektifitas, efisisensi, kecukupan, perataan, responsifitas, dan ketepatan.

Penelitian yang dilakukan oleh Hutasuhut (2014), tentang BOS di SDN Pematangsiantar, beliau menjelaskan keberhasilan BOS di SDN Pemantangsiantar dilihat dari empat aspek yaitu sosialisasi, proses penyaluran dana, ketepatan waktu/sasaran dan pencapaian tujuan. Selanjutnya penelitian yang dilakukan oleh Slameto (2016) tentang monitoring dan evaluasi (monev) BOS di kota salatiga, beliau menggunakan analisis kesenjangan untuk menentukan proses perkembangan dan tingkat keberhasilan program BOS atas dasar perbandingan kondisi ideal dan kenyataan yang ada.

Selain itu untuk menentukan faktor pendukung dan penghambatnya.

Pada akhirnya monev ini juga akan mengidentifikasi peluang/prospek program BOS dimasa yang akan datang.

Selanjutnya penelitian yang dilakukan oleh Kaswandi (2015), beliau menggunakan model kesenjangan dalam mengevaluasi program BOS di SDN 027 Tarakan. Persamaan dari penelitian-penelitian di atas adalah terletak pada evaluasi dan program yang diteliti yaitu BOS sedangkan perbedaannya terlatak pada model evaluasi yang di gunakan serta tempat

43 penelitian. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan model evaluasi kesenjangan (discrepancy), dimana nanti yang peneliti liat dalam program BOS ini adalah definisi:

pengertian dan tujuan BOS, sasaran BOS, dan besaran dana yang diterima; instalasi: pembuatan Rencana Kegitan dan Anggaran Sekolah (RKAS), identifikasi kebutuhan program;

proses pelaksanaan: kesesuain dengan prinsip pelaksanaan BOS, aktivitas atau kegiatan program BOS, subyek yang menjalankan program BOS, partisipan program BOS; produk:

laporan pertanggungjawaban BOS, kemajuan peserta didik penerima BOS, respon orangtua siswa penerima BOS, ketercapaian dalam meningkatkan mutu pendidikan; dan analisis manfaat biaya: dampak sosial ekonomi orang tua siswa penerima BOS, hambatan dan kendala BOS, efektifitas BOS; serta untuk mengetahui apakah ada kesenjangan yang terjadi. Harapannya dari model evaluasi kesenjangan (discrepancy) ini dapat memberikan gambaran yang jelas dalam pelaksanaan program BOS di SD Negeri 1 Kutoarjo.

Dalam dokumen BAB II TINJAUAN PUSTAKA (Halaman 24-31)

Dokumen terkait