• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA"

Copied!
32
0
0

Teks penuh

(1)

13 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Bantuan Operasional Sekolah (BOS)

2.1.1 Pengertian Bantuan Opersional Sekolah (BOS)

Upaya pemerintah dalam meningkatkan mutu pendidikan merupakan prioritas dalam pembangunan nasional, sehingga pemerintah daerah perlu melakukan tindakan secara nyata dalam meningkatkan mutu pendidikan bagi masyarakat terhadap pendidikan yang lebih berkualitas. Salah satu upaya nyata dari pemerintah agar meringankan beban biaya pendidikan bagi masyarakat yaitu dengan mengalokasikan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) (World Bank, 2012). “and various cash subsidies to school (“Bantuan Operasional Sekolah” as central government grant, and “Bantuan Opersional Propinsi” as local government grant)”.

Berdasarkan PP Nomor 80 Tahun 2015 Pasal 1 tentang juknis BOS menjelaskan bahwa Bantuan Operasional Sekolah adalah program pemerintah untuk penyediaan pendanaan biaya operasi yang bersifat non personalia bagi satuan pendidikan dasar dan menengah. Program ini tentunya mempunyai maksud dan tujuan tertentu, adapun maksud dan tujuan program BOS menurut PP Nomor 80 Tahun 2015 Pasal 3, secara umum tujuan program BOS adalah untuk meringankan beban masyarakat terhadap pembiayaan pendidikan dalam rangka wajib belajar 9 tahun yang bermutu serta berperan dalam

(2)

14 mempercepat pencapaian dalam meningkatkan mutu pendidikan. Namun secara khusus tujuan program BOS adalah untuk: 1) membebaskan pungutan bagi seluruh peserta didik pada tingkat dasar dan menengah negeri terhadap biaya operasi satuan pendidikan; 2) membebaskan pungutan seluruh peserta didik miskin dari seluruh pungutan dalam bentuk apapun, baik di satuan pendidikan negeri maupun swasta; dan 3) meringankan beban biaya operasi satuan pendidikan bagi peserta didik di satuan pendidikan swasta.

Waktu penyaluran dana BOS dilakukan setiap 3 bulan yaitu pada periode Januari-Maret, April-Juni, Juli-September dan Oktober-Desember.

2.1.2 Prinsip Pelaksanaan Bantuan Opersional Sekolah (BOS)

Selanjutnya pada BAB III PP No 80 Tahun 2015 dijelaskan bahwa pelaksanaan penggunaan BOS juga harus sesuai dengan prinsip-prinsip sebagai berikut:

a) Efisien, yaitu diupayakan dengan dana dan daya yang ada untuk mencapai sasaran program dan dalam waktu yang singkat serta dapat dipertanggung jawabkan,

b) Efektif, yaitu harus sesuai dengan kebutuhan yang telah ditetapkan dan dapat bermanfaat terhadap sasaran yang ditetapkan.

(3)

15 c) Transparan, yaitu adanya keterbukaan terhadap masyarakat sehingga dapat mengetahui dan mendapatkan informasi terkait pengelolaan dana BOS.

d) Akuntabel, yaitu pelaksanaan kegiatan yang dapat dipertanggung jawabkan.

e) Kepatutan, yaitu penjabaran program/kegiatan harus dilaksanakan secara realistis dan proporsional.

f) Manfaat, yaitu pelaksanaan program/kegiatan sejalan dengan prioritas nasional dan menjadi kewenangan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi dan benar-benar dirasakan manfaatnya dan berdaya guna bagi sekolah.

Setiap sekolah yang menyelenggarakan program BOS dalam pelaksanaannya harus sesuai dengaan prinsip-prinsip pelaksanaannya yaitu efeisien, efektif, transparan, akuntabel, kepatutan dan manfaat. Hal yang paling rawan dilakukan kesalahan adalah transparansi. Sekolah seringkali kurang transparan terhadap penggunaan dana BOS, sehingga dapat mengakibatkan tidak efektifnya program yang telah dijalankan dan berdampak terhadap mutu pendidikan.

Menurut Setyorini (2010) teori implementasi kebijakan berdasarkan faktor-faktor yang mempengaruhi efektifitas dan efisiensi implementasi salah satunya teori George Edwards III. Adapun faktor yang mempengaruhi implementasi kebijakan menurut Edwards (1980) dalam Setyorini (2010) adalah: 1) komunikasi, merupakan aktivitas yang penting dan

(4)

16 menjadi syarat pertama bagi implementasi kebijakan dalam penyampaian keputusan kebijakan; 2) sumber daya meliputi staf harus sesuai kualifikasi agar dapat melaksanakan tugas dengan baik, informasi mengenai bagaimana pelaksanaan kebijakan, wewenang dari pemerintah dalam implementasi kebijakan untuk melaksanakan tugas dan fasilitas; 3) disposisi/komitmen implementor yaitu sikap dan perilaku dari pelaksana program. Jika pelaksana memiliki komitmen yang baik terhadap suatu kebijakan, maka kebijakan akan terlaksana sesuai dengan tujuan; 4) struktur birokrasi meliputi standar operasional prosedur dan perbedaan asumsi diantara para pelaksana.

Berdasarkan uraian diatas, maka penelitian ini juga berusaha menggali dan menyajikan informasi terkait dengan empat faktor yang mempengaruhi efektifitas dan efisiensi dari implementasi program BOS. Faktor tersebut meliputi: 1) komunikasi terkait sosialiasasi kebijakan program BOS, komunikasi antar pelaksana program yang dilakukan melalui rapat dan pertemuan. 2) sumber daya berkaitan dengan guru sebagai bendahara sekolah, kemudian kepala sekolah sebagai penanggungjawab dan komite sekolah; 3) komitmen terhadap implementasi program BOS; dan 4) struktur birokrasi yang meliputi Juknis BOS yang digunakan sebagai standar operasional prosedur.

(5)

17 2.1.3 Sasaran Program dan Besar Bantuan Operasional

Sekolah (BOS)

Sebuah program tentunya memiliki sasaran program, sasaran sebuah program harus tepat agar tujuan program dapat tercapai. Sasaran program BOS adalah semua satuan pendidikan SD/SDLB, SMP/SMPLB/SMPT dan SD-SMP Satu Atap baik negeri maupun swasta di seluruh provinsi Indonesia yang sudah terdata dalam sistem Data Pokok Pendidikan Dasar dan Menengah (Dapodikdasmen). Untuk satuan pendidikan swasta harus memiliki izin operasional.

Besar dana BOS yang diterima oleh satuan pendidikan dasar dihitung menurut jumlah peserta didik, dengan biaya sebesar Rp 800.000,-/peserta didik/tahun. Jadi besar dana yang diterima oleh sekolah dihitung berdasarkan jumlah siswa yang terdapat pada setiap sekolah dikali dengan besar satuan biaya yang diperoleh setiap anak. Misalnya dalam satu sekolah terdapat 100 siswa, maka besar dana yang diterima pertahun adalah 100 siswa x Rp 800.000,- /peserta didik, jadi jumlah yang diterima oleh sekolah sebesar Rp 80.000.000,- ditingkat Sekolah Dasar/SDLB. Begitu pula untuk SMP/SMPLB/Satap/SMPT jika jumlah siswa 100 maka 100 siswa x Rp 1.000.000 maka jumlah yang diterima pertahun sebesar Rp 100.000.000,-. Besar dana yang diterima harus di kelola dan diimplementasikan dengan baik sesuai dengan petunjuk teknis yang berlaku.

(6)

18 2.1.4 Implementasi Bantuan Operasional Sekolah (BOS)

Implementasi BOS untuk satuan pendidikan mmemiliki beberapa ketentuan menurut Permendikbud No 80 tahun 2015, bahwa: 1) BOS wajib diterima oleh semua SD/SDLB/SMP/SMPLB/SMPT/Satap negeri yang sudah terdata dan dilarang melakukan pungutan kepada orangtua peserta didik; 2) BOS berhak diterima oleh semua satuan pendidikan swasta yang sudah terdata, dan berhak juga untuk menolak BOS dimana penolakan tersebut harus memperoleh persetujuan orang tua peserta didik melalui Komite Sekolah, dan tetap menjamin kelangsungan pendidikan peserta didik miskin di satuan pendidikan tersebut; 3) SD/SDLB/SMP/SMPLB/SMPT/Satap swasta yang memungut biaya pendidikan harus mengikuti Permendikbud Nomor 14 Tahun 2012; 4) satuan pendidikan dapat menerima sumbangan dari masyarakat dan orangtua peserta didik, dapat berupa uang atau barang/jasa yang bersifat sukarela tidak memaksa, tidak mengikat, dan tidak ditentukan jumlah maupun jangka waktu pemberiannya; 5) pemerintah harus ikut mengawasi dan mengendalikan pungutan yang dilakukan oleh satuan pendidikan dan sumbangan yang diterima dan mengikutin prinsip nirlaba dan dikelola dengan prinsip tarnsaparan dan akuntabel; 6) pembatalan pungutan dapat dilakukan oleh Menteri dan Kepala Daerah apabila satuan

(7)

19 pendidikan melanggar peraturan perundang-undangan dan dinilai meresahkan masyarakat.

Implementasi program BOS harus sesuai dengan peraturan pemerintah yang berlaku. Implementasi BOS juga menjadi salah satu aspek yang menunjang pemenuhan Standar Pelayanan Minimal sekolah. Hal ini menarik untuk diteliti lebih lanjut agar pelaksanaan pendidikan dapat dilaksanakan dengan baik dan menjamin mutu pendidikan.

2.2 Pengertian Evaluasi

Evaluasi berasal dari kata Bahasa Inggris yaitu “evaluation”

yang berarti penilaian. Menurut Suchman (1961) di Arikunto (2010) evaluasi dipandang sebagai metode menentukan hasil dari perencanaan yang terdiri dari berbagai kegiatan dan pencapaian yang sudah terencana, yang fokus untuk mendukung dicapainya suatu tujuan. Sedangkan menurut Worthen dan Sanders (1973) dalam Arikunto (2010) evaluasi merupakan kegiatan mendapatkan informasi yang bermanfaat untuk menilai implementasi suatu program, prosedur, produksi serta alternatif rencana yang diajukan dalam mencapai tujuan dari program yang telah ditetapkan. Arikunto dan Abdul Jabar (2010) mengemukakan, evaluasi merupakan kegiatan dikumpulkan berbagai informasi tentang terlaksananya sesuatu, yang dilanjutkan dengan mencari alternatif yang tepat sehingga keputusan yang diambil merupakan keputusan yang paling tepat. Selanjutnya Mohammad Ali (2014) mengatakan bahwa

(8)

20 evaluasi merupakan suatu aktivitas yang biasa dilakukan untuk memberi penilaian pada kelayakan dari kegiatan yang direncanakan, penerapan, dan hasil suatu kebijakan atau program yang dilaksanakan. Sedangkan menurut Stanley and Hopskin (1978) dalam Mohammad Ali (2014) berpendapat evaluasi yaitu suatu cara yang dilakukan untuk membuat penilaian mengenai nilai sesuatu. Menurut Sugiyono (2015) evaluasi adalah langkah untuk mengetahui seberapa jauh hal yang direncanakan dapat terlaksana dan seberapa jauh tujuan dari program dapat tercapai.

Dari beberapa pendapat ahli tentang pengertian dari evaluasi dapat pahami bahwa kegiatan evaluasi yakini, suatu cara yang dilakukan untuk mencari informasi yang berguna yang bertujuan melakukan penilaian tehadap kepatutan suatu program termasuk dari tahap rencana, aplikasi sampai hasil suatu kebijakan atau program yang terlaksana. Jika sebuah program yang sudah berjalan tidak dilakukan evaluasi, bagaimana dengan ketercapaian tujuan program, dan bagaimana keefektifan program tersebut. Sebuah program atau kegiatan yang baik tentunya harus dilakukan evaluasi secara berkala melalui serangkaian tahapan evaluasi program agar mudah mengetahui ketercapaian program yang telah dijalankan.

Dibawah ini akan dijelaskan mengenai evaluasi program.

2.3 Evaluasi Program

2.3.1 Pengertian Evaluasi Program

(9)

21 Evaluasi program berkaitan erat dengan perencanaan, karena sebuah program yang merupakan suatu sistem atau kesatuan kegiatan dari implementasi kebijakan, tidak akan berjalan dengan baik tanpa perencanaan yang matang.

Definisi evaluasi program yang terkenal dan berhubungan dengan pendidikan adalah menurut Raph Tyler (1950) dalam (Arikunto 2010:5), mengemukakan bahwa evaluasi program merupakan sebuah proses yang dilaksanakan untuk mengetahui apakah tujuan dari pendidikan sudah dapat direalisasikan.

Arikunto (2010:5) evaluasi program menurut Cronbach (1963) dan Stufflebeam (1971) merupakan sebuah cara agar tersedia informasi sehingga dapat disampaikan kepada pengambil keputusan. Mc. David and Hawthorn (2006) dalam Sugiyono (2015:741) menyatakan bahwa evaluasi dari program merupakan sebuah proses yang sistematis atau tersusun guna mendapatkan informasi yang selanjutnya diinterpretasikan sehingga dapat dimanfaatkan untuk menjawab pertanyaan dari program yang dilaksanakan.

Sedangkan menurut Sugiyono (2015:742) memiliki pendapat bahwa sebuah mengevaluasi sebuah program merupakan sebuah upaya yang ilmiah (sistematik, empiris dan dapat diterima akal pikiran) dengan tujuan didapatkan informasi serta mengetahui efektifitas dan efisiensi proyek, kebijakan dan program.

(10)

22 Berdasarkan pengertian dari evaluasi sebuah program yang telah disebutkan, maka dapat disimpulkan evaluasi program merupakan sebuah cara mendapatkan informasi sehingga dapat diketahui efisien dan efektif suatu program unruk diterapkan, serta untuk mengetahui apakah tujuan awal program sudah dapat direlisasikan yang kemudian diambil keputusan sesuai kebijakan program.

Kembali lagi mengenai ketercapaian program dapat dilakukan dengan mengevaluasi program itu sendiri secara berkala, dalam penelitian ini perlu dianalisis juga mengenai ketercapaian program BOS dalam memenuhi ketercapaian tujuan dan peningkatan mutu khususnya di SD Negeri 1 Kurtoajo. Melalui evaluasi program itu juga, dapat diketahui pula tingkat efektifitas dan efisiensi sebuah program. Setelah dilakukan evaluasi kemudian diambil keputusan sesuai kebijakan program. Evaluasi program tentunya mempunyai tujuan.

2.3.2 Tujuan Evaluasi Program

Evaluasi program memiliki sebuah tujuan, menurut Arikunto (2014:18), yaitu untuk melihat bagaimana tujuan dari program dapat dicapai dengan menelaah beberapa faktor, yaitu dilaksanakannya penerapan kegiatan program, sehingga yang melakukan evaluasi (evaluator) program ingin dapat mengetahui komponen apa saja yang sudah harus terlaksana dalam program, teteapi belum bisa diterapkan dengan

(11)

23 maksimal dikarenaka kendala tertentu. Kendala maupun hambatan selanjutnya dicari solusi untuk menyelesaikan permasalahan.

Evaluasi program secara khusus bertujuan untuk melihat setiap unsur yang dicapai dalam program melalui dilaksanakannya program yang didalamnya terdapat kegiatan- kegiatan dari program. Komponen apa yang sudah terlaksana dan yang belum terlaksana. Misalnya saja pada pengelolaan BOS di sekolah terkait pemenuhan ketercapaian tujuan dan peningkatan mutu khususnya di SD Negeri 1 Kurtoajo, komponen yang terdapat dalam program sekolah untuk ketercapaian tujuan dan peningkatan mutu di SD Negeri 1 Kurtoajo mencakup aspek:

1. Kurikulum

Kurikulum menjadi sangat penting dalam penyelenggaraan pendidikan. Pendanaan terkait implementasi kurikulum bersumber dari BOS, termasuk dalam proses pembelajaran dan pelatihan tenaga pendidik mengenai implementasi kurikulum baru.

2. Pendidikan dan Tenaga Kependidikan

Baik Guru Honorer atau Guru Tidak Tetap (GTT) dan Pegawai Tidak Tetap mendapatkan gaji dari program dana BOS

3. Penilaian Pendidikan/Evaluasi

(12)

24 Semua guru harus mengasah kemampuan dengan cara mengikuti pelatihan-pelatihan. Pelatihan ini juga dibiayai oleh dana BOS misalnya untuk pelatihan pengembangan program penilaian berdasarkan kurikulum yang berlaku.

4. Sarana dan Prasarana

Untuk mendapatan sarana yang layak dan prasarana yang memadai, juga bersumber dari dana BOS, termasuk di dalamnya mencakup gedung sekolah, ruang kelas, meja dan kursi, ruang guru, buku mata pelajaran, pengayaan dan referensi, alat peraga, dan lain-lain.

5. Penjaminan Mutu Sekolah

Penjaminan mutu sekolah meliputi kunjungan pengawas, supervisi dan pembinaan. Supervisi oleh kepala sekolah terhadap guru, dan laporan hasil ujian kepada dinas pendidikan.

6. Manajemen Sekolah

Manajemen sekolah terkait pemenuhan ketercapaian tujuan dan peningkatan mutu di SD Negeri 1 Kurtoajo yaitu menerapkan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS).

Sehingga tujuannya adalah mengetahui pencapaian tujuan program dengan melakukan evaluasi menggunakan model evaluasi kesenjangan (Discrepancy Evaluation Model) oleh Malcom Provus (1971) dengan dilakukan analisis mulai dari definisi, instalasi, proses pelaksanaan, produk, dan manfaat biaya. Setelah dianalisis kemudian dilihat apakah sudah

(13)

25 sesuai tujuan yang akan dicapai dengan pelaksanaan di lapangan. Melalui analisis model evaluasi kesenjangan ini maka akan diketahui komonen maupun sub dari komponen yang belum bisa dilaksanakan sesuai dengan tujuan dan apa penyebabnya.

2.3.3 Manfaat Evaluasi Program

Evaluasi program juga dapat memberi manfaat terhadap pelaksanaan program. Berikut manfaat evaluasi program menurut Arikunto (2014:22) yaitu:

1. Program diberhentikan karena dilihat bahwa program yang dijalankan tersebut tidak terlakasana sebagaimana mestinya dengan hasil yang tidak sesuai dengan tujuan program atau tidak dapat terlihat manfaat dari pelaksanaan.

2. Revisi atau program, pada penerapan program terdapat sedikit kesalahan atau ada beberapa bagian yang kurang atau sesuai dengan apa yang diharapkan.

3. Program tetap dilanjutkan, dikarenanakan pelaksanaan program memperlihatkan bahwa program sudah berjalan sesuai dengan harapan dan bermanfaat sehingga dapat dilanjutkan .

4. Menyebarluaskan atau memberitahukan program (mengimplementasikan di tempat lain atau diulang penerapan program di lain waktu), program tersebut

(14)

26 berhasil dilaksanakan dan memiliki fungsi, maka akan program dapat diterapkan di tempat lain.

Setelah program dievaluasi, maka beberapa keputusan yang dapat diambil berdasarkan analisis temuan yang didapat diantaranya dengan menghentikan program, hal ini dapat dilakukan jika program yang dijalankan tidak ada manfaat atau tidak berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Namun hal ini juga harus disertai bukti-bukti kuat adanya kegiatan yang dilaksanakan tidak sesuai dengan tujuan.

Merevisi program, dapat dilakukan jika setelah dilakukan evaluasi, ada beberapa bagian-bagian program yang penerapannya tidak sesuai dengan tujuan. Misalnya dalam pembuatan RKAS BOS disekolah, ada beberapa bagian yang tidak sesuai dengan Juknis BOS, maka evaluator harus memperbaiki atau merevisi RKAS BOS sekolah.

Sebuah program akan dilanjutkan ketika program tersebut benar-benar sudah dilaksakan sesuai dengan tujuan dan peraturan dari program dan bermanfaat maka selanjutnya dapat disebarluaskan dan dilaksanakan di tempat yang lain.

2.4 Model Evaluasi DISCREPANCY

2.4.1 Pengertian Model Evaluasi Discrepancy

Malcom Provus’s (1971) mengembangkan model evaluasi discrepancy. Menurut Provus Model Evaluasi Discrepancy merupakan suatu model yang dipakai untuk mengetahui kesesuaian antara standar baku yang sudah ditentukan dalam

(15)

27 pelaksanaan suatu program dengan kinerja (performance) program saat sudah diterapkan.

Sejalan dengan pendapat Madaus, Sriven, Stufflebeam (1993:79-99) mengatakan bahwa discrepancy model merupakan model evaluasi yang menilai suatu program dengan membandingkan antara pelaksanaan program dan peraturan yang ditetapkan di dalam program, sehingga diketahui layak tidaknya suatu program untuk dilaksanakan atau diulang. Membandingkan standard dan implementasi dapat mempermudah evaluator mengetahui adanya kontradiksi dari standar yang sudah ditetapkan dengan kinerja di lapangan.

Dari pendapat para tokoh di atas dapat disimpulkan model evaluasi discrepancy merupakan suatu model yang bisa digunakan untuk mengevaluasi program dengan tujuan mendapatkan informasi tentang ada tidaknya kesenjangan yang antara performansi (yang sebenarnya terjadi) dan sejumlah unsur program dengan instrument standar performansi atau standar baku.

2.4.2 Tujuan dan Manfaat Evaluasi Discrepancy

Evaluasi kesenjangan (discrepancy) memiliki tujuan untuk mengeveluasi suatu program dengan cara melihat tingkat kesesuaian atau keselarasan antara proram dengan penampilan aktual atau program ketika sudah dilaksanakan dilapangan. Penampilan program dapat dilihat dari sumber,

(16)

28 prosedur, manajemem program, dan hasil nyata dari suatu program yang sudah dilaksanakan. Program yang dilaksanakan sudah ditentukan dalam kriteria yang telah dikembangkan yang akan menghasilkan keberhasilan implementasi program yang efektif.

Evaluasi program kesenjangan (discrepancy) dalam penggunaannya memiliki berberapa manfaat. Model evaluasi kesenjangan memiliki tujuan dan manfaat. Zaibaski (2010) menjelaskan bahwa tujuan evaluasi kesenjangan adalah untuk melakukan identifikasi kesenjangan antara alokasi optimis dengan integrasi input, serta ketercapaian sekarang. Evaluasi kesenjangan ini dapat dimanfaatkan untuk:

a. Memberikan penilaian berapa besar tingkat kesenjangan antara kinerja actual dengan standar pokok kinerja yang sesuai dengan tujuan yang diharapkan dicapai.

b. Diketahui adanya kinerja yang meningkat yang diperlukan untuk menutup kesenjangan yang terjadi setelah dilakukan evaluasi.

c. Dasar yang digunakan dalam pengambilan keputusan yang berhubungan dengan prioritas waktu, besar dana yang harus tersedia sehingga dapat memenuhi standar pelayanan yang ditetapkan.

2.4.3 Proses Model Evaluasi Discrepancy

(17)

29 Menurut Wirawan (2013:106) terdapat enam langkah- langkah model evaluasi kesenjangan (discrepancy) dalam mengevaluasi program, yaitu:

1. Menspesifikasi karakteristik-karakteristik implementasi ideal dari program yang dibuat dengan mengembangkan desain.

2. Evaluasi dilakukan memakai model evaluasi kesenjangan (discrepancy). Informasi yang diperlukan untuk dijadikan pembanding antara penerapan dengan standar pada program harus ditentukan terlebih dahulu.

3. Menyaring program yang terdiri dari tahap pelaksanaan program, hasil-hasil pengamatan meliputi kuantitatif dan kualitatif.

4. Melakukan identifikasi kesenjangan (discrepancy) antara standar atau patokan dengan hasil dari dilaksanakan program evaluasi yang sesungguhnya dan menentukan seberappa besar perbandingan kesenjangan.

5. Menentukan latar belakang adanya kesenjangan antara yang sudah dijadikan standar dengan hasil program evaluasi.

6. Melakukan eliminasi kesenjangan dengan membuat alterasi terhadap aplikasi program.

Menentukan kesenjangan dapat dilakukan dengan mempelajari tiga faktor program yang diimplementasikan,

(18)

30 meliputi, masukan (input), proses dari program, dan keluaran atau hasil pada susunan program:

1. Definisi berfokus pada desain program dan sifat dibandingkan dengan proyek termasuk objektif siswa, staf, aktivitas, dan sebagainya

2. Penerapan dari program

3. Proses pelaksanaan program yang fokus pada tingkatan yang informatif dimana objektifitas program sedang dicapai.

4. Produk dari program yang diterapkan atau hasil akhir untuk dibandingkan dengan standar yang dipakai.

5. Analisi Biaya dan Manfaat

Sedangkan Proses evaluasi Kesenjangan menurut Provus (1969), sebagai berikut:

1. Definisi/desain, kegiatan ini dilakukan untuk merumuskan tujuan, proses dan aktivitas serta untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

2. Instalasi, dalam kegiatan ini rancangan program digunakan sebagai standar untuk mempertimbangkan langkah-langkah operasional program.

3. Proses, pada tahap ini evaluator berupaya untuk memperoleh data tentang kemajuan para peserta program, sehingga identifikasi dan penentuan terhadap aktivitas- aktivitas peserta dapat diarahkan untuk mencapai tujuan program.

(19)

31 4. Produk, tahap ini dilakukan penilaian untuk menentukan

apakah tujuan akhir program tercapai atau tidak.

5. Analisis manfaat biaya. Pada tahap ini, yang dimaksudkan adalah menganalisis implikasi (kemanfaatan) sosial politik ekonomi yang diharapkan bisa tercapai dari pelaksanaan program tersebut. Kemudian hasil yang telah dicapai dibandingkan dengan tujuan yang telah ditetapkan. Evaluator menuliskan semua temuan kesenjangan untuk disajikan kepada para pengambil keputusan. Hal ini bertujuan agar mereka dapat mengambil keputusan terhadap kelanjutan program tersebut, kemungkinannya adalah: a) menghentikan program; b) mengganti atau merevisi; c) meneruskan; d) memodifikasi tujuannya.

Tahap pertama evaluasi model ini adalah menganalisa definisi/desain program. Dimana hal ini dilakukan untuk merumuskan serta menentukan tujuan program. Selanjutnya dilakukan analisis mengenai instalasi atau disebut juga dengan penyusunan program, yakni cara, metode, langkah- langkah yang dilakukan untuk mencapai tujuan program.

Tahap selanjutnya yaitu analisa mengenai proses atau pelaksanaan program. Pada tahap ini, evaluator berfokus pada pengukuran perbedaan antara hasil yang dicapai dengan tujuan yang telah ditentukan. Sehingga perbedaan yang

(20)

32 ditemukan dapat digunakan sebagai penentuan terhadap kegiatan yang diarahkan untuk mencapai tujuan program.

Tahap terakhir model evaluasi ini adalah menganalisa produk, dilakukan dengan menginterpretasikan hasil temuan evaluasi. Kemudian evaluator memberikan rekomendasi berdasarkan hasil temuan evaluasi untuk pembuatan keputusan. Keputusan ini dapat berupa revisi atau perbaikan program dan atau melanjutkan program.Evaluasi kesenjangan dilakukan dengan membandingkan keadaan nyata dengan standar yang telah ditetapkan. Dalam penelitian ini membandingkan keadaan nyata program BOS dengan petunjuk teknis sebagai standar yang ditetapkan.

Dengan melihat kesenjangan berdasarkan 5 komponen dalam model evaluasi kesenjangan diharapkan dapat ditemukan hal-hal yang kurang atau tidak sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Mulai dari rancangan program, proses pelaksanaan, pencapaian tujuan program dan kemanfaatan setelah program dilaksanakan. Menurut Setyorini (2010) penelitian dengan menggunakan model evaluasi kesenjangan pada intinya adalah melihat kesenjangan dalam pelaksanaan program. Dalam penelitian ini pelaksanaan program BOS digambarkan sesuai dengan keadaan yang sebenarnya dilapangan dan kemudian dianalisis kesesuainnya dengan standar pelaksanaannya. Hal tersebut

(21)

33 bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat kesenjangan antara pelaksanaan dengan standar yang telah ditetapkan dalam implementasi Program BOS. Standar pelaksanaan yang digunakan adalah Petunjuk Teknis Pelaksanaan BOS tahun 2019.

2.5 Mutu Pendidikan

Segala upaya Pemerintah dalam pembuatan kebijakan pendidikan adalah bertujuan untuk meningkatkan mutu pendidikan. Sebelum kita berbicara tentang mutu pendidikan itu sendiri mari kita lihat apa pengertian dari mutu itu sendiri.

Definisi dari mutu dapat memiliki makna yang berbeda bagi setiap orang. Menurut Edward Sallis mutu merupakan kepuasan pelanggan, mutu bisa dilihat sebagai sebuah konsep rancangan yang bersifat absolut atau mutlak dan sekaligus relatif. Mutu sebagai konsep yang absolut, yaitu karakter yang baik, indah dan benar sehingga memiliki makna yang tidak bisa dinegosiasikan.

Absolut dari sesuatu yang memiliki kualitas merupakan anggota dari standar yang paling tinggi sehingga sulit atau tidak dapat diungguli. Sedangkan relatif yaitu sesuatu yang melekat pada sebuah produk yang disesuaikan dengan kebutuhan pelanggan. Menurut Misman dan Bambang S.

Sulasmono (2015), mutu dapat diartikan sebagai suatu keadaan yang dinamis dimana dihubungkan atau berhubungan dengan produk, manusia, jasa, proses dan lingkungan yang memenuhi

(22)

34 atau melebihi harapan. Mutu sangat berkaitan erat dengan kualitas sehingga dapat memuaskan pelanggan. Sesuatu hal yang menjadi standar dan memiliki syarat untuk memenuhi kebutuhan pelanggan merupakan mutu. Sehingga dapat disimpulkan bahwa mutu adalah suatu standar, syarat, atau kualitas dari manusia produk dan jasa, lingkungan dan proses yang bersifat absolut, relatif dan dinamis sehingga menjadi kebutuhan bagi konsumen atau pelanggan yang bisa memenuhi atau melebihi harapan.

Berbicara tentang mutu pendidikan, artinya membahas tentang kualitas, standar dan syarat bagi pendidikan itu sendiri.

Menurut Misman dan Sulasmono (2015), mutu dalam pendidikan merupakan tingkatan keunggulan dalam mengelola pendidikan dengan cara effisien dan efektif untuk tercipta keunggulan di bidang akademis dan ekstrakurikuler pada siswa yang dinyatakan lulus untuk di jenjang pendidikan atau menyelesaikan program pembelajaran tertentu.

Dalam konteks pendidikan, pengertian mutu mencakup input, process, dan output (Mulyasa. 2013:157). Input pendidikan merupakan segala sesuatu yang harus tersedia karena dibutuhkan dalam proses. Input pendidikan terdiri atas dua komponen yaitu input sumber daya manusia dan input perangkat lunak pendidikan. Input sumber daya manusia meliputi kepala sekolah, guru, karyawan, siswa dan sumber daya yang lain yaitu peralatan, perlengkapan, uang, bahan dsb.

(23)

35 Sedangkan input perangkat lunak meliputi struktur organisasi sekolah, peraturan perundang-undangan, deskripsi tugas, rencana, program, input harapan seperti visi, misi, tujuan, dan saran-saran yang ingin dicapai sekolah. tinggi rendahnya mutu pendidikan dapat diukur dari kesiapan input yang ada.

Process pendidikan merupakan serangkaian kegiatan yang direncanakan demi tercapainya perubahan yang positif. Dalam tingkat sekolah, proses pendidikan yang dimaksud adalah proses pengambilan keputusan, proses pengelolaan kelembagaan, proses pengelolaan program, proses belajar mengajar, dan proses monitoring dan evaluasi (monev).

Dikatan bermutu apabila ada harmonisasi antara input pendidikan dengan proses pendidikan, sehingga mampu menciptakan suasana pemebelajaran yang menyenangkan, mampu mendorong motivasi dan minat belajar, dan benar- benar mampu memberdayakan peserta didik.

Output pendidikan dapat dilihat dari kinerja sekolah. kinerja sekolah yang dimaksud meliputi kualitasnya, efektivitasnya, produktivitasnya, efisiensinya, inovasinya, kualitas kehidupan kerjanya, dan moral kerjanya. Output pendidikan dikatakan bermutu apabila prestasi siswa menunjukan pencapaian yang tinggi. Prestasi siswa yang dimaksud adalah prestasi akademik berupa nilai ulangan, nilai ujian akhir, karya ilmiah, lomba- lomba akademik; dan prestasi non akademik berupa imtaq,

(24)

36 kejujuran, kesopanan, olahraga, kesenian, ketrampilan kejuruan, dan kegiatan ekstrakurikuler lainnya.

Dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa mutu pendidikan adalah syarat, kriteria, atau derajat keunggulan yang digunakan dalam mengelola pendidikan yang mana sifatnya dinamis namun dapat dilaksanakan dengan memadukan harmonisasi antara input, process, dan output pendidikan sehingga menjadi efektif dan efisien serta menghadirkan peserta didik yang unggul dalam akademik maupun non akademik.

2.6 Penelitian yang Relevan

Penelitian tentang “Evaluasi Kebijakan Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) Pada Sekolah Negeri Di Kecamatan Palu Timur” oleh Soulisa (2017) menjelaskan hasil Evaluasi BOS dari 6 kriteria yang diajukan oleh Dunn (2000:610). Yang pertama efektifitas: dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Soulisa bahwa efektifitas pelaksanaan BOS ini telah dilakukan secara optimal oleh pihak sekolah.

Hal ini dibuktikan dengan pelaksanaan dan pengelolaan dan BOS selalu bersandar kepada aturan yang telah ditetapkan yaitu petunjuk teknis (juknis) penggunaan dan pertanggungjawaban dana BOS. Sehingga BOS sudah dirasakan oleh peserta didik khususnya siswa miskin. Namun menurut beliau, adanya dana BOS ini belum secara jelas memperlihatkan adanya peningkatan dalam mutu pendidikan.

(25)

37 Yang kedua Efisiensi: berdasarkan hasil wawancara bahwa efisiensi pelaksanaan BOS di sekolah sudah efisien jika dinilai dari segi pemanfaatan bagi siswa miskin karena dapat memenuhi kebutuhan dalam kegiatan belajar dan operasional sekolah itu sendiri.

Tetapi jika dinilai efisiensi di sekolah belum berjalan maksimal, hal ini disebabkan karena pelaksanaan kebijakan dana BOS di sekolah yang juga diemban oleh guru sebagai tenaga pengajar sehingga menyebabkan kinerja dari guru sendiri menurun dalam pelaksanaan kebijakan dana BOS tersebut. Yang ketiga kecukupan: dari hasil penelitian ini diperoleh bahwa dana BOS sangat bermanfaat dalam operasional sekolah tetapi jumlah anggaran dana BOS yang diterima sekolah dalam membiayai operasional sekolah dirasakan belum cukup atau belum memenuhi sepenuhnya.

Padahal dana yang diterima oleh sekolah cukup besar, dikarenakan jumlah siswa yang semakin banyak setiap tahunnya.

Sehingga dari pihak sekolah dan komite menyepakati adanya sumbangan komite sekolah untuk memenuhi kebutuhan sekolah yang tidak terakomodir oleh dana BOS dan yang memang peruntukannya tidak ada dalam juknis penggunaan dana BOS. Yang keempat perataan: hasil penelitian menunjukan bahwa pemerataan penyaluran dana BOS dapat dirasakan oleh semua siswa, sehingga peneliti

(26)

38 berpendapat bahwa pelaksanaan kebijakan dana BOS dari aspek perataan sudah optimal dilakukan. Yang kelima resposivitas: dari hasil wawancara didapat bahwa aspek responsifitas telah terpenuhi dengan cukup baik. Hal ini dikarenakan pemerintah sangat merespon secara positif kebijakan pengelolaan dana BOS di sekolah dengan fungsinya sebagai pengendali kebijakan yang dilakukan sehingga dapat terlaksana dengan baik dan tepat.

Manfaat kebijakan dana BOS ini pun dirasakan oleh orang tua siswa dengan mendukung dan tetap memantau jalannya pengelolaan kebijakan di sekolah. Yang terakhir ketepatan:

dari data yang diperoleh, pengelolan dana BOS di sekolah dilakukan sesuai juknis penggunaan dan pertanggungjawaban keuangan dana BOS tahun anggaran 2014 agar tepat sasaran dalam pelaksanaan dan manfaatnya dapat dirasakan semua peserta didik khususnya siswa miskin dalam bentuk pelayanan pendidikan yang baik.

Penelitian yang dilakukan oleh Hutasuhut (2014) dengan judul “Evaluasi Pelaksanaan Program Bantuan Operasional Sekolah Dasar Negeri NO.125549 Kelurahan Martoba Kecamatan Siantar Utara Pematangsiantar”. Beliau menjelasakan hasil penelitian ini dilihat dari empat aspek yaitu aspek sosialisasi program BOS, aspek proses penyaluran dana, aspek ketepatan waktu dan sasaran, serta aspek pencapaian tujuan. Aspek sosialisasi: beliau menjelaskan bahwa masih

(27)

39 banyak siswa yang belum mengerti tentang dana BOS yang sudah dijalankan oleh sekolah. Hal ini disebabkan karena pihak sekolah kurang serius dalam melaksanakan sosialisasi BOS kepada siswa dan orang tua murid. Aspek proses penyaluran dana BOS: penyaluran dana yang dimaksud adalah dana alat tulis kantor (ATK) serta pembelian barang habis pake. Dalam hal ini, bahwa sekolah dasar negeri pematangsiantar telah menyalurkan dana dengan baik. Aspek ketepatan waktu dan sasaran: hasil penelitian menunjukan bahwa dana BOS telah tersalurkan dangan baik dan telah diberikan tepat sasaran.

Hal ini dibuktikan lewat wawancara terhadap siswa di sekolah tersebut bahwa anak-anak miskin telah terpenuhi kebutuhan mereka seperti buku-buku pelajaran, alat-alat olahraga, dan alat-alat pratikum telah diberikan tepat waktu dan tidak ada pengunduran waktu. Aspek pencapaian tujuan:

dari hasil wawancara, dijelaskan bahwa para orang tua murid merasa sudah tepat dan sangat membantu karena dengan penghasilan orang tua yang Cuma cukup untuk memenuhi kebutuhan buat makan, dengan adanya BOS siswa dapat bersekolah tanpa ada pungutan biaya dari sekolah. Selain itu wawancara dengan pengelola BOS di SD Negeri Pematangsiantar yang mengatakan bahwa sudah memberikan dana BOS ini kepada orang-orang yang tepat yaitu siswa yang tergolong miskin. Selain itu, para pengelola BOS juga sudah

(28)

40 melakukan sosialisasi, penyaluran dana, ketepatan waktu dan ketepatan sasaran dengan baik dan benar.

Penelitian dengan judul “Monitoring Dan Evaluasi Program Bantuan Operasional Sekolah Di Kota Salatiga Dengan Menggunakan Analisis Kesenjangan” oleh Slameto (2016). Dalam penelitian ini menjelasakan bahwa implementasi program BOS di salatiga ternyata terdapat kesenjangan yang bervariasi: tinggi, sedang dan rendah baik yang menyangkut proses implementasi maupun hasil program. Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa terdapat kesenjangan yang tinggi dalam implementasi BOS, sehingga:

ada keraguan apakah sekolah tetap dapat mempertahankan mutu pelayanan penendidikan apalagi harus menyelenggarakan sekolah gratis; apakah BOS digunakan secara transparan, dan para guru dilibatkan; dengan BOS yang diterima, sekolah belum dapat membebaskan seluruh biaya sekolah (hanya dapat membebaskan 40-70% dari biaya sekolah), sehingga masih harus melakukan penggalian dana dari sumber lain; terdapat sejumlah kebutuhan program sekolah yang strategis tetapi tidak dapat dibiayai oleh BOS;

dana BOS belum mampu mewujudkan sekolah gratis.

Menurut beliau, terdapat berbagai faktor, baik faktor internal sekolah yang bersangkutan maupun faktor eksternal, dan itulah yang perlu mendapat perhatian dalam menentukan tindak lanjut, yaitu perlunya memodifikasi program terutama

(29)

41 pada aras implementasi level sekolah dengan dukungan supra struktur birokrasinya.

Penelitian yang dilakukan oleh Kaswandi (2015) dengan judul “Evaluasi Pengelolaan Dana Bantuan Operasional Sekolah Di SD Negeri 027 Tarakan”. Dalam penelitian ini beliau menjelaskan bahwa penyusunan RKAS tepat waktu diawal tahun anggaran, berdasarkan skala prioritas kebutuhan sekolah, serta melibatkan komite dan guru. Aspek pelaksanaan belum seluruhnya berhasil dikarenakan penyaluran dana BOS masih terlambat, administrasi pembukuan sudah sesuai dengan Permendiknas No.51 tahun 2011.

Aspek pengawasan masih belum berhasil karena belum ada pengawasan dari pihak komite sekolah dan dinas terkait secara berkala. Aktivitas evaluasi oleh pihak komite sudah dilakukan meskipun belum maksimal. Pelaporan pengelolaan dana BOS di SDN 027 pengelolaan dan BOS sesuai dengan Permendiknas No. 51 tahun 2011.

Dari beberapa penelitian di atas, terlihat bahwa dalam pelaksanaan BOS masih belum sepenuhnya berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Apa yang di harapkan pemerintah dengan yang terjadi di lapangan masih belum menunjukan hasil yang positif. Ada beberapa perbedaan dan persamaan penelitian di atas dengan penelitian yang akan peneliti tulis antara lain sebagai berikut: penelitian yang dilakukan oleh

(30)

42 Soulisa (2017), beliau meneliti tentang BOS di SDN 24 Palu.

Dalam penelitian ini Soulisa menggunakan 6 indikator untuk melihat BOS di SDN 24 Palu, yang mana keenam indikator ini dikemukakan oleh Dunn (2000:610) yaitu, efektifitas, efisisensi, kecukupan, perataan, responsifitas, dan ketepatan.

Penelitian yang dilakukan oleh Hutasuhut (2014), tentang BOS di SDN Pematangsiantar, beliau menjelaskan keberhasilan BOS di SDN Pemantangsiantar dilihat dari empat aspek yaitu sosialisasi, proses penyaluran dana, ketepatan waktu/sasaran dan pencapaian tujuan. Selanjutnya penelitian yang dilakukan oleh Slameto (2016) tentang monitoring dan evaluasi (monev) BOS di kota salatiga, beliau menggunakan analisis kesenjangan untuk menentukan proses perkembangan dan tingkat keberhasilan program BOS atas dasar perbandingan kondisi ideal dan kenyataan yang ada.

Selain itu untuk menentukan faktor pendukung dan penghambatnya.

Pada akhirnya monev ini juga akan mengidentifikasi peluang/prospek program BOS dimasa yang akan datang.

Selanjutnya penelitian yang dilakukan oleh Kaswandi (2015), beliau menggunakan model kesenjangan dalam mengevaluasi program BOS di SDN 027 Tarakan. Persamaan dari penelitian-penelitian di atas adalah terletak pada evaluasi dan program yang diteliti yaitu BOS sedangkan perbedaannya terlatak pada model evaluasi yang di gunakan serta tempat

(31)

43 penelitian. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan model evaluasi kesenjangan (discrepancy), dimana nanti yang peneliti liat dalam program BOS ini adalah definisi:

pengertian dan tujuan BOS, sasaran BOS, dan besaran dana yang diterima; instalasi: pembuatan Rencana Kegitan dan Anggaran Sekolah (RKAS), identifikasi kebutuhan program;

proses pelaksanaan: kesesuain dengan prinsip pelaksanaan BOS, aktivitas atau kegiatan program BOS, subyek yang menjalankan program BOS, partisipan program BOS; produk:

laporan pertanggungjawaban BOS, kemajuan peserta didik penerima BOS, respon orangtua siswa penerima BOS, ketercapaian dalam meningkatkan mutu pendidikan; dan analisis manfaat biaya: dampak sosial ekonomi orang tua siswa penerima BOS, hambatan dan kendala BOS, efektifitas BOS; serta untuk mengetahui apakah ada kesenjangan yang terjadi. Harapannya dari model evaluasi kesenjangan (discrepancy) ini dapat memberikan gambaran yang jelas dalam pelaksanaan program BOS di SD Negeri 1 Kutoarjo.

2.7 Kerangka Berpikir

Mengingat tujuan utama program BOS adalah untuk pemerataan dan perluasan akses serta peningkatan mutu pendidikan. Maka pemerintah mewajibkan belajar 9 tahun.

perencanaan dan penganggaran pencapaian layanan pendidikan yang bermutu bagi setiap daerah. Evaluasi terhadap program BOS di SD Negeri 1 Kutoarjo bertujuan untuk mengukur sejauh

(32)

44 mana kontribusi program BOS dalam mensukseskan kebijakan yang telah dibuat Pemerintah. Model evaluasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah model evaluasi kesenjangan (discrepancy). Berikut adalah gambar kerangka berfikir yang peneliti gunakan dalam penelitian ini:

Gambar 2.1 Kerangka Berpikir

Referensi

Dokumen terkait

Oleh karena itu bagi lembaga pendidikan yang mengembangkan pendidikan vokasi tidak perlu minder dan kemudian mengubah menjadi pendidikan akademik, karena akan

Peran ICCTF adalah untuk menggalang, mengelola dan menyalurkan pendanaan yang berkaitan dengan penanganan perubahan iklim serta mendukung program pemerintah untuk

Bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan minuman probiotik sari buah ini adalah buah durian lay ( Durio kutejensis ) yang diperoleh dari Balikpapan Kalimantan Timur

SISTEM PELAPORAN BUDAYA KESELAMATAN RUMAH SAKIT '& 'ama 7abatan #etua #&mite #eselamatan Pasien Rumah Sakit 1 Pengertian 7abatan Sese&rang yang diberikan wewenang

Adversity Intelligence menginformasikan pada individu mengenai kemampuannya dalam menghadapi sebuah keadaan atau situasi yang sulit (adversity) dan kemampuan untuk

1) Cita-cita merupakan ungkapan dari dalam pikiran manusia. Kalau keinginan untuk berperikehidupan yang berkecukupan ternyata dirumuskan dalam Pancasila dan UUD 1945,

Jeli dengan konsentrasi gelling agent 2% dan rasio gelatin : kappa karagenan 2:1 merupakan jeli terbaik karena menghasilkan karakteristik fisik mendekati produk jeli