BAB II KAJIAN PUSTAKA. mengenai kualitas pribadi yang dimiliki seseorang untuk menghadapi

32 

Loading.... (view fulltext now)

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Kecerdasan Adversitas

1. Definisi Kecerdasan Adversitas

Kecerdasan Adversitas (Adversity Intelligence) adalah suatu konsep mengenai kualitas pribadi yang dimiliki seseorang untuk menghadapi berbagai kesulitan dan dalam usaha mencapai kesuksesan di berbagai bidang hidupnya (Paul G Stoltz, 2000 : 9). Dalam kamus bahasa Inggris, kata “adversity” diartikan dengan kesengsaraan dan kemalangan, sedangkan “Intelligence” diartikan dengan kecerdasan. Stoltz (2000 : 9) menekankan pada unsur kesulitan (adversity) sebagai faktor penentu terhadap kesuksesan seseorang. Adversity Intelligence menginformasikan pada individu mengenai kemampuannya dalam menghadapi sebuah keadaan atau situasi yang sulit (adversity) dan kemampuan untuk mengatasinya, meramalkan individu yang mampu dan tidak mampu menghadapi kesulitan, meramalkan mereka yang akan melampaui dan mereka yang akan gagal melampaui harapan-harapan atas kinerja dan potensi yang dimiliki, dan meramalkan individu yang akan menyerah dan yang akan bertahan dalam menghadapi kesulitan.

Stoltz (2000 : 9) secara ringkas menjelaskan kecerdasan adversitas sebagai kapasitas manusia dalam bentuk pola-pola respon yang dimiliki seseorang dalam mengendalikan dan mengarahkan situasi yang sulit,

(2)

mengakui dan memperbaiki situasi yang sulit,mempersepsikan jangkauan situasi yang sulit dan mempersepsikan jangka waktu terjadinya kesulitan di berbagai aspek dalam hidupnya. Konsep ini merupakan satu kerangka kerja yang dapat diukur karena memiliki alat yang dikembangkan dengan dasar ilmiah yang bertujuan untuk mengetahui kecenderungan dan memahami aspek-aspek dari kesuksesan seseorang dalam merespon keadaan sulit. Definisi kesuksesan yang dikemukakan oleh Stolz (2000 : 38) adalah tingkat dimana seseorang bergerak maju untuk mencapai misinya, meskipun banyak hambatan atau kesulitan yang dihadapi. Faktor tersebut adalah kecerdasan adversitas.

Apakah yang dimaksud kecerdasan adversitas (AI) ? Kecerdasan adversitas merupakan kecerdasan yang dimiliki seseorang ketika menghadapi permasalahan, atau bisa dikatakan merupakan kecerdasan daya juang seseorang. Stolz (2000 : 9) mengatakan bahwa AI adalah :

1. AI menjelaskan kepada kita bagaimana sebaiknya tetap bertahan pada masa-masa kesulitan dan meningkatkan kemampuan kita untuk mengatasinya.

2. AI memprediksi siapa saja yang akan dapat mengatasi kesulitan dan siapa saja yang tidak akan dapat mengatasinya.

3. AI memprediksi siapa saja yang akan memiliki harapan yang tinggi terhadap kinerjanya dan siapa yang tidak.

(3)

Dengan kata lain adversity intelligence merupakan suatu kemampuan untuk dapat bertahan dalam menghadapi segala masalah ataupun kesulitan hidup.

2. Aspek-aspek Kecerdasan Adversitas

Menurut Stoltz (2000 : 140-148), kecerdasan adversitas memiliki empat dimensi yang biasa disingkat dengan CO2RE yaitu:

1. Control (C)

Dimensi ini bertujuan untuk mengetahui seberapa banyak atau seberapa besar kontrol yang dirasakan oleh individu terhadap suatu peristiwa yang sulit. Dimensi ini mempertanyakan seberapa besar kendali yang dirasakan individu terhadap situasi yang sulit. Individu yang memiliki tingkat kecerdasan adversitas yang tinggi merasa bahwa mereka memiliki kontrol dan pengaruh yang baik pada situasi yang sulit bahkan dalam situasi yang sangat di luar kendali. Individu yang memiliki skor tinggi pada dimensi control akan berpikir bahwa pasti ada yang bisa dilakukan, selalu ada cara menghadapi kesulitan dan tidak merasa putus asa saat berada dalam situasi sulit. Individu yang memiliki kecerdasan adversitas rendah, merespon situasi sulit seolah olah mereka hanya memiliki sedikit bahkan tidak memiliki control, tidak bisa melakukan apa - apa dan biasanya mereka menyerah dalam menghadapi situasi sulit.

2. Origin dan Ownership (O2)

Dimensi ini mempertanyakan dua hal, yaitu apa atau siapa yang menjadi penyebab dari suatu kesulitan dan sampai sejauh

(4)

manakah seseorang mampu menghadapi akibat–akibat yang ditimbulkan oleh situasi sulit tersebut.

Origin, dimensi ini mempertanyakan siapa atau apa yang menimbulkan kesulitan. Dimensi ini berkaitan dengan rasa bersalah. Individu yang memiliki kecerdasan adversitas rendah, cenderung menempatkan rasa bersalah yang tidak semestinya atas peristiwa-peristiwa buruk yang terjadi. Dalam banyak hal, mereka melihat dirinya sendiri sebagai satusatunya penyebab atau asal usul (origin) kesulitan tersebut. Selain itu, individu yang memiliki kecerdasan adversitas rendah juga cenderung untuk menyalahkan diri sendiri. Individu yang memiliki nilai rendah pada dimensi origin cenderung berpikir bahwa ia telah melakukan kesalahan, tidak mampu, kurang memiliki pengetahuan, dan merupakan orang yang gagal. Sedangkan individu yang memiliki kecerdasan adversitas tinggi menganggap sumber-sumber kesulitan itu berasal dari orang lain atau dari luar. Individu yang memiliki tingkat origin yang lebih tinggi akan berpikir bahwa ia merasa saat ini bukan waktu yang tepat, setiap orang akan mengalami masa-masa yang sulit, atau tidak ada yang dapat menduga datangnya kesulitan.

Ownership, dimensi ini mempertanyakan sejauh mana individu bersedia mengakui akibat akibat yang ditimbulkan dari situasi yang sulit. Mengakui akibat akibat yang ditimbulkan dari situasi yang sulit mencerminkan sikap tanggung jawab (ownership).

(5)

Individu yang memiliki kecerdasan adversitas tinggi mampu bertanggung jawab dan menghadapi situasi sulit tanpa menghiraukan penyebabnya serta tidak akan menyalahkan orang lain. Rasa tanggung jawab yang dimiliki menjadikan individu yang memiliki kecerdasan adversitas tinggi untuk bertindak dan membuat mereka jauh lebih berdaya daripada individu yang memiliki kecerdasan adversitas rendah. Individu yang memiliki kecerdasan adversitas tinggi lebih unggul daripada individu yang memiliki kecerdasan adversitas rendah dalam kemampuan untuk belajar dari kesalahan. Sementara individu yang memiliki kecerdasan adversitas rendah, menolak untuk bertanggung jawab, tidak mau mengakui akibat-akibat dari suatu kesulitan dan lebih sering merasa menjadi korban serta merasa putus asa.

3. Reach (R)

Dimensi ini merupakan bagian dari kecerdasan adversitas yang mengajukan pertanyaan sejauh mana kesulitan yang dihadapi akan mempengaruhi bagian atau sisi lain dari kehidupan individu. Individu yang memiliki kecerdasan adversitas tinggi memperhatikan kegagalan dan tantangan yang mereka alami, tidak membiarkannya mempengaruhi keadaan pekerjaan dan kehidupan mereka. Indvividu yang memiliki kecerdasan adversitas rendah membiarkan kegagalan mempengaruhi area atau sisi lain dalam kehidupan dan merusaknya.

(6)

4. Endurance (E)

Dimensi keempat ini dapat diartikan ketahanan yaitu dimensi yang mempertanyakan berapa lama suatu situasi sulit akan berlangsung. Individu yang memiliki kecerdasan adversitas rendah merasa bahwa suatu situasi yang sulit akan terjadinya selamanya. Individu yang memiliki respon yang rendah pada dimensi ini akan memandang kesulitan sebagai peristiwa yang berlangsung terus menerus dan menganggap peristiwaperistiwa positif sebagai sesuatu yang bersifat sementara. Sementara individu yang memiliki kecerdasan adversitas tinggi memiliki kemampuan yang luar biasa untuk tetap memiliki harapan dan optimis.

3. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Kecerdasan Adversitas

Paul G. Stoltz dalam bukunya menggambarkan potensi dan daya tahan individu dalam sebuah pohon yang disebut pohon kesuksesan. Aspek-aspek yang ada dalam pohon kesuksesan tersebut yang dianggap mempengaruhi kecerdasan adversitas seseorang, diantaranya (Stoltz, 2000 : 92)

1. Bakat

Bakat adalah suatu kondisi pada diri seseorang yang dengan suatu latihan khusus memungkinkannya mencapai suatu kecakapan, pengetahuan dan keterampilan khusus. Bakat menggambarkan penggabungan antara keterampilan, kompetensi,

(7)

pengalaman dan pengetahuan yakni apa yang diketahui dan mampu dikerjakan oleh seorang individu.

2. Kemauan

Kemauan menggambarkan motivasi, antusiasme, gairah, dorongan, ambisi, dan semangat yang menyala-nyala. Seorang individu tidak akan menjadi hebat dalam bidang apapun tanpa memiliki kemauan untuk menjadi individu yang hebat.

3. Kecerdasan

Menurut Gardner (dalam Stoltz, 2000 : 11) terdapat tujuh bentuk kecerdasan, yaitu linguistik, kinestetik, spasial, logika matematika, musik, interpersonal, dan intrapersonal. Individu memiliki semua bentuk kecerdasan sampai tahap tertentu dan beberapa di antaranya ada yang lebih dominan. Kecerdasan yang lebih dominan mempengaruhi karir yang dikejar oleh seorang individu, pelajaran-pelajaran yang dipilih, dan hobi.

4. Kesehatan

Kesehatan emosi dan fisik juga mempengaruhi individu dalam mencapai kesuksesan. Jika seorang individu sakit, penyakitnya akan mengalihkan perhatian dari proses pencapaian kesuksesan. Emosi dan fisik yang sehat sangat membantu dalam pencapaian kesuksesan.

(8)

5. Karakteristik kepribadian

Karakteristik kepribadian seorang individu seperti kejujuran, keadilan, ketulusan hati, kebijaksanaan, kebaikan, keberanian dan kedermawanan merupakan sejumlah karakter penting dalam mencapai kesuksesan.

6. Genetika

Meskipun warisan genetis tidak menentukan nasib, namun faktor ini juga mempengaruhi kesuksesan individu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor genetik merupakan salah satu faktor yang mendasari perilaku dalam diri individu.

7. Pendidikan

Pendidikan mempengaruhi kecerdasan, pembentukan kebiasaan yang sehat, perkembangan watak, keterampilan, hasrat, dan kinerja yang dihasilkan individu.

8. Keyakinan

Keyakinan merupakan hal yang sangat penting dalam kelangsungan hidup individu. Keyakinan merupakan ciri umum yang dimiliki oleh sebagian orang-orang sukses karena iman merupakan faktor yang sangat penting dalam harapan, tindakan moralitas, kontribusi, dan bagaimana kita memperlakukan sesama kita.

(9)

4. Tingkatan dalam Kecerdasan Adversitas

Stoltz mengelompokkan individu berdasarkan daya juangnya menjadi tiga: quitter, camper, dan climber. Penggunaan istilah ini dari kisah pendaki Everest, ada pendaki yang menyerah sebelum pendakian, merasa puas sampai pada ketinggian tertentu, dan mendaki terus hingga puncak tertinggi. Kemudian Stoltz menyatakan bahwa orang yang menyerah disebut quitter, orang yang merasa puas pada pencapaian tertentu sebagai camper, dan seseorang yang terus ingin meraih kesuksesan disebut sebagai climber.

Dalam bukunya, Stoltz menyatakan terdapat tiga tingkatan daya tahan seseorang dalam menghadapi masalah, antara lain (Stoltz, 2000 : 23):

1. Quitters

Quitters yaitu orang yang memilih keluar, menghindari kewajiban, mundur, dan berhenti. Individu dengan tipe ini memilih untuk berhenti berusaha, mereka mengabaikan menutupi dan meninggalkan dorongan inti yang manusiawi untuk terus berusaha. Dengan demikian, individu dengan tipe ini biasanya meninggalkan banyak hal yang ditawarkan oleh kehidupan.

Ciri-ciri, deskripsi dan karakteristik Quitters : a. Menolak untuk mendaki lebih tinggi lagi

b. Gaya hidupnya tidak menyenangkan atau datar dan tidak “lengkap”

(10)

c. Bekerja sekedar cukup untuk hidup

d. Cenderung menghindari tantangan berat yang muncul dari komitmen yang sesungguhnya

e. Jarang sekali memiliki persahabatan yang sejati

f. Dalam menghadapi perubahan mereka cenderung melawan atau lari dan cenderung menolak dan menyabot perubahan g. Terampil dalam menggunakan kata-kata yang sifatnya

membatasi, seperti “tidak mau”, “mustahil”, “ini konyol” dan sebagainya.

h. Kemampuannya kecilatau bahkan tidak ada sama sekali; mereka tidak memiliki visi dan keyakinan akan masa depan, konribusinya sangat kecil.

2. Campers

Campers atau orang yang berkemah adalah orang-orang yang telah berusaha sedikit kemudian mudah merasa puas atas apa yang dicapainya. Tipe ini biasanya bosan dalam melakukan pendakian kemudian mencari posisi yang nyaman dan bersembunyi pada situasi yang bersahabat. Kebanyakan para campers menganggap hidupnya telah sukses sehingga tidak perlu lagi melakukan perbaikan dan usaha.

Ciri-ciri, deskripsi dan karakteristik Campers :

a. Mereka mau untuk mendaki, meskipun akan “berhenti” di pos tertentu, dan merasa cukup sampai disitu

(11)

b. Cukup puas telah mencapai suatu tahapan tertentu (satisficer)

c. Masih memiliki sejumlah inisiatif, sedikit semangat, dan beberapa usaha.

d. Mengorbankan kemampuan individunya untuk mendapatkan kepuasan, dan mampu membina hubungan dengan para camper lainnya

e. Menahan diri terhadap perubahan, meskipun kadang tidak menyukai perubahan besar karena mereka merasa nyaman dengan kondisi yang ada

f. Menggunakan bahasa dan kata-kata yang kompromistis, misalnya, “ini cukup bagus”, atau “kita cukuplah sampai di sini saja”

g. Prestasi mereka tidak tinggi, dan kontribusinya tidak besar juga.

h. Meskipun telah melalui berbagai rintangan, namun mereka akan berhenti juga pada suatu tempat dan mereka “berkemah” di situ.

3. Climbers

Climbers atau si pendaki adalah individu yang melakukan usaha sepanjang hidupnya. Tanpa menghiraukan latar belakang, keuntungan kerugian, nasib baik maupun buruk, individu dengan tipe ini akan terus berusaha.

(12)

Ciri-ciri, deskripsi dan karakteristik Climbers :

a. Mereka membaktikan dirinya untuk terus “mendaki”, mereka adalah pemikir yang selalu memikirkan kemungkinan-kemungkinan.

b. Hidupnya “lengkap” karena telah melewati dan mengalami semua tahapan sebelumnya. Mereka menyadari bahwa akan banyak imbalan yang diperoleh dalam jangka panjang melalui “langkah-langkah kecil” yang sedang dilewatinya. c. Menyambut baik tantangan, memotivasi diri, memiliki

semangat tinggi, dan berjuang mendapatkan yang terbaik dalam hidup; merekacenderung membuat segala sesuatu terwujud.

d. Tidak takut menjelajahi potensi-potensi tanpa batas yang ada di antara dua manusia; memahami dan menyambut baik risiko menyakitkan yang ditimbulkan karena bersedia menerima kritik.

e. Menyambut baik setiap perubahan, bahkan ikut mendorong setiap perubahan tersebut ke arah yang positif.

f. Bahasa yang digunakan adalah bahasa dan kata-kata yang penuh dengan kemungkinan-kemungkinan; mereka berbicara tentang apa yang bisa dikerjakan dan cara mengerjakannya; mereka berbicara tentang tindakan, dan

(13)

tidak sabar dengan kata-kata yang tidak didukung dengan perbuatan.

g. Memberikan kontribusi yang cukup besar karena bisa mewujudkan potensi yang ada pada dirinya.

h. Mereka tidak asing dengan situasi yang sulit karena kesulitan merupakan bagian dari hidup.

Ketiga tipe ini jika dihubungkan dengan hierarki kebutuhan Maslow, maka tingkatan yang akan mereka raih juga berbeda, seperti terlihat pada gambar 1.

Gambar 1. Tingkatan Kecerdasan Adversitas dalam Hierarki Kebutuhan Maslow 5. Peranan Kecerdasan Adversitas dalam Kehidupan

Faktor-faktor kesuksesan berikut ini dipengaruhi oleh kemampuan pengendalian individu serta cara individu tersebut merespon kesulitan, diantaranya (Stoltz, 2000 : 93):

(14)
(15)

a. Daya Saing

Jason Sattefield dan Martin Seligman (Stoltz, 2000 : 93), dalam penelitiannya menemukan bahwa individu yang merespon kesulitan secara lebih optimis dapat diramalkan akan bersifat lebih agresif dan mengambil lebih banyak resiko, sedangkan reaksi yang lebih pesimis terhadap kesulitan menimbulkan lebih banyak sikap pasif dan hati-hati.

Individu yang bereaksi secara konstruktif terhadap kesulitan lebih tangkas dalam memelihara energi, fokus, dan tenaga yang diperlukan supaya berhasil dalam persaingan. Persaingan sebagian besar berkaitan dengan harapan, kegesitan, dan keuletan yang sangatditentukan oleh cara seseorang menghadapi tantangan dan kegagalan dalam kehidupan.

b. Produktivitas

Penelitian yang dilakukan Stoltz, menemukan korelasi yang kuat antara kinerja dan cara-cara pegawai merespon kesulitan. Seligman (2006 dalam Stoltz, 2000 : 93) membukitkan bahwa orang yang tidak merespon kesulitan dengan baik kurang berproduksi, dan kinerjanya lebih buruk daripada mereka yang merespon kesulitan dengan baik.

c. Kreativitas

Joel Barker (dalam Stoltz, 2000 : 94), kreativitas muncul dalam keputusasaan, kreativitas menuntut kemampuan untuk

(16)

mengatasi kesulitan yang ditimbulkan oleh hal-hal yang tidak pasti. Joel Barker menemukan orang-orang yang tidak mampu menghadapi kesulitan menjadi tidak mampu bertindak kreatif. Oleh karena itu, kreativitas menuntut kemampuan untuk mengatasi kesulitan yang oleh hal-hal yang tidak pasti.

d. Motivasi

Dari penelitian Stoltz (2000 : 94) ditemukan orang-orang yang kecerdasan adversitasnya tinggi dianggap sebagi orang-orang yang paling memiliki motivasi.

e. Mengambil Resiko

Satterfield dan Seligman (Stoltz, 2000 : 94) menemukan bahwa individu yang merespon kesulitan secara lebih konstruktif,bersedia mengambil banyak resiko. Resiko merupakan aspek esensial pendakian.

f. Perbaikan

Perbaikan terus-menerus perlu dilakukan supaya individu bisa bertahan hidup dikarenakan individu yang memiliki kecerdasan adversitas yang lebih tinggi menjadi lebih baik, sedangkan individu yang kecerdasan adversitasnya lebih rendah menjadi lebih buruk. g. Ketekunan

Ketekunan merupakan inti untuk maju (pendakian) dan kecerdasan adversitas individu. Ketekunan adalah kemampuan untuk

(17)

terus menerus walaupun dihadapkan pada kemunduran-kemunduran atau kegagalan.

h. Belajar

Carol Dweck (dalam Stoltz, 2000 : 95), membuktikan bahwa anak-anak dengan respon-respon yang pesimistis terhadap kesulitan tidak akan banyak belajar dan berprestasi jika dibandingkan dengan anak-anak yang memiliki pola-pola yang lebih optimis.

i. Merangkul Perubahan

Perubahan adalah bagian dari hidup sehingga setiap individu harus menentukan sikap untuk menghadapinya. Stoltz (2000 : 95), menemukan individu yang memeluk perubahan cendrung merespon kesulitan secara lebih konstruktif. Dengan memanfaatkannya untuk memperkuat niat, individu merespon dengan merubah kesulitanmenjadi peluang. Orang-orang yang hancur dalam perubahan akan hancur oleh kesulitan.

6. Mengembangkan Kecerdasan Adversitas

Menurut Stoltz, cara mengembangkan dan menerapkan kecerdasan adversitas dapat diringkas dalam kata LEAD (Stoltz, 2000 : 194), yaitu:

a. Listened (dengar)

Mendengarkan respon terhadap kesulitan merupakan langkah yang penting dalam mengubah kecerdasan adversitas individu. Individu berusaha menyadari dan menemukan jika terjadi kesulitan, kemudian menanyakan pada diri sendiri apakah itu respon

(18)

kecerdasan adversitas yang tinggi atau rendah, serta menyadari dimensi kecerdasan adversitas mana yang paling tinggi.

b. Explored (gali)

Pada tahap ini, individu didorong untuk menjajaki asal-usul atau mencari penyebab dari masalah. Setelah itu menemukan mana yang merupakan kesalahannya, lalu mengeksplorasi alternatif tindakan yang tepat.

c. Analized (analisa)

Pada tahap ini, individu diharapkan mampu menganalisa bukti apa yang menyebabkan individu tidak dapat mengendalikan masalah, bukti bahwa kesulitan itu harus menjangkau wilayah lain dalam kehidupan, serta bukti mengapa kesulitan itu harusberlangsung lebih lama dari semestinya. Fakta-fakta ini perlu dianalisa untuk menemukan beberapa faktor yang mendukung kecerdasan adversitas individu.

d. Do (lakukan)

Terakhir, individu diharapkan dapat mengambil tindakan nyata setelah melewati tahapan-tahapan sebelumnya. Sebelumnya diharapkan individu dapat mendapatkan informasi tambahan guna melakukan pengendalian situasi yang sulit, kemudian membatasi jangkauan keberlangsungan masalah saat kesulitan itu terjadi.

(19)

B. Empati

1. Definisi Empati

Allport (dalam Taufik, 2012 : 39)mendefinisikan empati sebagai perubahan imajinasi ke dalam pikiran, perasaan, dan perilaku orang lain. Menurut Carl Roger (1951 dalam Taufik, 2012 : 39) empati adalah memahami orang lain seolah-olah individu masuk ke dalam diri orang lain sehingga bisa merasakan dan mengalami sebagaimana yang dirasakan dan dialami oleh orang lain.

Menurut Johnson (dalam Sari & Eliza, 2003) empati adalahkecenderungan untuk memahami kondisi atau keadaan pikiran orang lain. Seseorang yang berempati digambarkan sebagai individu yang toleran, ramah, mampu mengendalikan diri, dan bersifat humanistik.

Sedangkan menurut Mulyodiarjo (2010 : 73) mengatakan bahwa, secara definitif empati berarti kemampuan „(seolah-olah) menjadi diri orang lain. Empati berarti kita mampu membaca pikiran dari sudut pandang orang lain, mampu menyelaraskan diri dengan orang lain, meski sebenarnya keinginan kita berbeda dengan mereka. Oleh karena itu empati membuat komunikasi kita menjadi seat karan dengan empati, selalu ada gerakan-gerakan positif yang menuntun kita pada suatu kondisi dimana kita mampu menyebarkan energi-energi positif.

Dari beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa empati merupakan suatu kemampuan yang dimiliki oleh seseorang untuk menempatkan diri dalam memahami kondisi atau keadaan pikiran, sifat

(20)

serta perasaan orang lain, mampu merasakan dan memahami keadaan emosional orang lain sehingga timbul perasaan toleransi serta menghargai perasaan orang lain.

2. Aspek-Aspek Empati

Davis (1983 : 2) menjelaskan bahwa secara global ada dua komponen dalam empati, yaitu : Komponen afektifyang terdiri dari Perspective Taking (PT) dan Fantasy (FS), sedangkan komponen afektif meliputi Empathic Concern (EC) dan Personal Distress (PD). Keempat aspek tersebut memili arti sebagai berikut :

a. Perspective tacking (Pengambilan perspektif)

Merupakan kecenderungan individu untuk mengambil sudut pandang psikologis orang lain secara spontan. Mead (dalam Davis, 1983 : 2) menekankan pentingnya kemampuan dalam perspective taking untuk perilaku yang non-egosentrik, yaitu perilaku yang tidak berorientasi pada kepentingan diri sendiri, tetapi perilaku yang berorientasi pada kepentingan orang lain. Coke (dalam Davis, 1983 : 2) menyatakan bahwa perspective taking berhubungan dengan reaksi emosional dan perilaku menolong pada orang dewasa.

b. Fantasy (Imajinasi)

Kemampuan seseorang untuk mengubah diri mereka secara imajinatif dalam mengalami perasaan dan tindakan dari karakter khayal dalam buku, film atau cerita yang dibaca atau ditontonnya. Stotland (dalam Davis, 1983 : 3) mengemukakan bahwa fantasy

(21)

merupakan aspek yang berpengaruh pada reaksi emosi terhadap orang lain dan meimbulkan perilaku menolong.

c. Empathic concern (Perhatian Empatik)

Merupakan orientasi seseorang terhadap orang lain berupa simpati, kasihan, dan peduli terhadap orang lain yang mengalami kesulitan. Aspek ini juga merupakan cermin dari perasaan kehangatan yang erat kaitannya dengan kepekaan dan kepedulian terhadap orang lain.

d. Personal distress (Distress Pribadi)

Menekankan pada kecemasan pribadi yang berorientasi pada diri sendiri serta kegelisahan dalam menghadapi setting interpersonal yang tidak menyenangkan. Personal Distress yang tinggi membuat kemampuan sosialisasi seseorang menjadi rendah. Agar seseorang dapat berempati, ia harus mengamati dan mengintepretasikan perilaku orang lain.

Ketepatan dalam berempati sangat dipengaruhi kemampuan seseorang dalam mengintepretasikan informasi yang diberikan orang lain mengenai situasi internalnya yang dapat diketahui melalui perilaku dan sikap-sikap mereka.

3. Faktor-faktor Empati

Dikemukakan oleh Hoffman (dalam Golleman, 1999: 204) factor-faktor yang mempengaruhi seseorang dalam memberi empati adalah sebagai berikut :

(22)

1. Sosialisasi

Dengan adanya sosialisasi memungkinkan seseorang dapat mengalami sejumlah emosi, mengarahkan seseorang untuk melihat keadaan orang lain dan berpikir tentang orang lain, serta lebih terbuka terhadap kebutuhan orang lain sehingga akan meningkatkan kemampuan berempati.

2. Mood and feeling

Situasi perasaan seseorang ketika berinteraksi dengan lingkungannya akan mempengaruhi cara seseorang dalam memberikan respon terhadap perasaan dan perilaku orang lain. 3. Situasi dan tempat

Pada situasi tertentu seseorang dapat berempati lebih baik dibandingkan dengan situasi yang lain.

4. Proses belajar dan identifikasi

Dalam proses belajar, anak belajar membetulkan respon-respon khas, yang disesuaikan dengan peraturan yang dibuat oleh orangtua atau penguasa lainnya. Apa yang telah dipelajari anak dirumah atau pada situasi tertentu, diharapkan anak dapat menerapkannya pada lain waktu yang lebih luas.

5. Komunikasi dan bahasa

Pengungkapan empati dipengaruhi oleh komunikasi respon terhadap perasaan dan perilaku orang lain.

(23)

6. Pengasuhan

Lingkungan yang berempati dari suatu keluarga sangat membantu anak dalam menumbuhkan empati dalam dirinya.

C. Optimisme

1. Definisi Optimisme

Optimisme mempunyai banyak yang pengertian yang dikemukakan oleh para ahli. Menurut Segerestrom (dalam Ghufron dan Risnawita 2010: 95) optimisme adalah “cara berfikir yang positif dan realistis dalam memandang suatu masalah. Berfikir positif adalah berusaha mencapai hal terbaik dari keadaan terburuk. Optimisme dapat membantu meningkatkan kesehatan secara psikologis, memiliki perasaan yang baik, melakukan penyelesaian masalah dengan cara yang logis sehingga hal ini dapat meningkatkan kekebalan tubuh juga”.

Menurut Lopez dan Snyder (dalam Ghufron dan Risnawita 2010: 95) optimisme adalah suatu harapan yang ada pada individu bahwa segala sesuatu akan berjalan menuju kearah kebaikan. Perasaan optimisme membawa individu pada tujuan yang diinginkan yakni percaya pada diri dan kemampuan yang dimiliki. Sikap optimis menjadikan seseorang keluar dengan cepat dari permasalahan yang dihadapi karena adanya pemikiran dari permasalahan yang dihadapi karena adanya pemikiran dan perasaan memiliki kemampuan, dan didukung dengan anggapan bahwa setiap orang memiliki keberuntungan sendirisendiri.

(24)

Berbeda dengan pandangan diatas Goleman (1995: 513) melihat optimisme melalui titik pandang kecerdasan emosional, yakni kemampuan individu untuk memotivasi diri ketika berada dalam keadaan putus asa, mampu berfikir positif, dan menumbuhkan optimisme dalam hidupnya. Kemampuan ini akan membuat individu mampu bertahan dalam masalah yang membebaninya, mampu untuk terus berjuang ketika menghadapi hambatan yang besar, tidak pernah putus asa dan kehilangan harapan.

2. Ciri- Ciri Optimisme

Seseorang dikatakan optimis jika individu memiliki ciri ciri kehidupannya didominasi oleh pikirannya yang positif, berani mengambil resiko, setiap mengambil keputusan penuh dengan keyakinan dan kepercayaan diri yang mantap. Menurut Vaughan (dalam Safaria, 2007:76) berikut ini adalah ciri ciri individu memiliki optimisme tinggi, yaitu:

1. Optimisme yang tinggi cenderung mendorong seseorang untuk tidak mudah menyerah sebelum bekerja keras. Walaupun menghadapi tantang yang sulit, individu tersebut yakin bahwa dirinya mampu untuk memecahkan tantangan tersebut dengan sukses.

2. Individu yang optimis menjalani kehidupan yang lebih bahagia daripada individu yang pesimistis.

Individu yang optimis tahan terhadap depresi, memiliki kemungkinan lebih besar untuk mengambangkan potensi untuk mengambangkan potensi diri, tangguh dalam menghadapi kesulitan dan menikmati kesehatan lebih baik. Individu tersebut juga

(25)

menikmati kepuasan yang lebih maksimal dari kesuksesannya karena keyakinan bahwa dirinyalah yang menyebabkan tercapainya kesuksesan tersebut dan yakin mencapainya kembali.

4. Individu yang optimis dapat menghadapi tekanan hidup secara lebih baik. Selain itu juga dapat pulih lebih cepat dari kesedihan dan memiliki keyakinan akan berhasil mengalahkan setiap hambatan. Individu mampu untuk berkelit dalam kesulitan dan menjadi pengendali dalam hidupnya sendiri.

5. Individu yang optimis lebih mampu menyeimbangkan emosinya daripada orang yang pesimis.

6. Individu yang optimis melihat peristiwa buruk sebagai suatu yang acak, nasib buruk tidak berhubungan dengan karakternya dan menganggap peristiwa buruk tersebut mungkin akan terjadi. Individu yang pesimis melihat peristiwa buruk sebagai hal yang permanen, menyeluruh dan khusus terjadi pada dirinya. Individu pesimis juga menyimpulkan bahwa peristiwa buruk tersebut terjadi karena karakternya sendiri dan oleh karenanya akan terjadi di masa depan. 3. Aspek- Aspek Optimisme

Menurut Seligman (2006 : 44-51), terdapat beberapa aspek dalam individu memandang suatu peristiwa/masalah berhubungan erat dengan gaya penjelasan (explanatory style), yaitu:

(26)

1. Permanence

Gaya penjelasan peristiwa ini menggambarkan bagaimana individumelihat peristiwa berdasarkan waktu, yaitu bersifat sementara (temporary) dan menetap (permanence). Orang-orang yang mudah menyerah (pesimis) percaya bahwa penyebab kejadian-kejadian buruk yang menimpa mereka bersifat permanen selalu hadir mempengaruhi hidup mereka. Orang- orang yang melawan ketidakberdayaan (optimis) percaya bahwa penyebab kejadian buruk itu bersifat sementara.

Menurut Seligman (2006 : 44), gaya optimis terhadap peristiwa baikberlawanan dengan gaya optimis terhadap peristiwa buruk. Orang-orang yang percaya bahwa peristiwa baik memiliki penyebab yang permanen lebih optimis daripada mereka yang percaya bahwa penyebabnya temporer. Orang-orang yang optimis menerangkan peristiwa dengan mengaitkannya dengan penyebab permanen, contohnya watak dan kemampuan.

Orang-orang meyakini bahwa peristiwa baik memiliki penyebab permanen, ketika berhasil mereka berusaha lebih keras lagi pada kesempatan berikutnya. Orang yang mengangggap peristiwa baik disebabkan oleh alasan temporer mungkin menyerah bahkan ketikaberhasil, karena mereka percaya itu hanya suatu kebetulan. Orang yang paling bisa memanfaatkan keberhasilan dan terus

(27)

bergerak maju begitu segala sesuatu mulai berjalan dengan baik adalah orang yang optimis.

2. Pervasif (Universal- Spesific)

Permanen adalah masalah waktu, pervasive adalah masalahruang.Individu yang pesimis, menyerah di segala area ketika kegagalan menimpa satu area. Individu yang optimis mungkin memang tidakberdaya pada satu bagian kehidupan, tapi ia melangkah dengan mantap pada bagian lain.

3. Personalisasi

Personalisasi adalah bagaimana individu melihat asal masalah, daridalam dirinya (internal) atau luar dirinya (eksternal).Dari beberapa penjelasan diatas maka dapat disimpulkan bahwa aspekaspek dari optimisme yaitu individu mempunyai sikap hidup kearah kemataangan dalam jangka waktu yang lama. Individu berpandangan secaraumum terhadap suatu kejadian sehingga individu mampu menjelaskan penyebabnya baik dari dalam maupun dari luar.

4. Faktor- Faktor Optimisme

Optimisme mempunyai faktor-faktor yang mempengaruhinya. Menurut Vinacle(1988 dalam Shofia, 2009 dalam Ika & Harlina, 2011)menjelaskan ada dua faktor yang mempengaruhi optimisme :

(28)

Faktor etnosentris yaitu sifat- sifat yang dimiliki oleh suatu kelompokatau orang lain yang menjadi ciri khas dari kelompok atau jenis lain. Faktor etnosentris ini berupa keluarga, status sosial, jenis kelamin, agama dan kebudayaan.

2. Faktor Egosentris

Faktor egosentris yaitu sifat- sifat yang dimiliki tiap individu yangdidasarkan pada fakta bahwa tiap pribadi adalah unik dan berbeda dengan pribadi lain. Faktor egosentris ini berupa aspek-aspek kepribadian yang memiliki keunikan sendiri dan berbeda antara pribadi yang satu dengan yang lain.

D. Hubungan antara Empati danOptimisme dengan Kecerdasan Adversitas

pada Mahasiswa yang Sedang Skripsi

Adversity Quotient (AQ) atau kecerdasan adversitas adalah daya juang sebagai kecerdasan seseorang dalam menghadapi rintangan atau kesulitan secara teratur. Daya juang membantu individu memperkuat kemampuan dan ketekunan dalam menghadapi tantangan hidup sehari-hari seraya tetap berpegang teguh pada prinsip dan impian tanpa memperdulikan apa yang sedang terjadi. Sebagai mahasiswa yang sedang menempuh skripsi pastinya sangat membutuhkan daya juang yang tinggi, karena tanpa daya juang, tingkat stres pun dapat terjadi karena banyaknya hambatan yang dapat terjadi selama pengerjaan skripsi.

Keyakinan yang kuat terhadap hasil yang positif dapat disebut juga optimisme, Mahasiswa yang optimis dalam menyusun skripsi mau mencari

(29)

pemecahan dari masalah, menghentikan pemikiran negative, merasa yakinbahwa memiliki kemampuan, dan lain- lain. Ketika menghadapi kesulitanatau kendala dalam menyusun skripsi akan berusaha menghadapi kesulitanatau kendala tersebut dan tidak membiarkan kesulitan berlarut larut. Lainhalnya dengan mahasiswa yang kurang optimis dalam menyusun skripsi,ketika menghadapi kesulitan atau kendala, terdapat mahasiswa yang bereaksimenghindar, mengabaikan, dan lain- lain sehingga kesulitan atau kendalatersebut tidak dapat terselesaikan.

Sistem pengerjaan skripsi yang individual dan dituntut untuk mengerjakan mandiri membuat sosioemosi mahasiswa berkurang, bahkan kualitas dalam beriteraksi antar teman juga akan menurun. Hal ini diakibatkan oleh kurangnya rasa empati pada mahasiswa karena saat mengerjakan skripsi, mahasiswa hanya terfokus pada skripsi yang dikerjakannya.

Oleh karena itu dalam penelitian ini, peneliti akan mencari keterhubungan antara ketiga variabel tersebut, yaitu Kecerdasan Adversitas, Empati dan Optimisme. Seperti halnya penelitian terdahulu oleh Nailul Fauziah (2014) yang mendapatkan hasil bahwa adanya hubungan positif antara empati, persahabatan dan kecerdasan adversitas.

Selain itu, penelitian yang dilakukan Setyawan (2011) yang menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara ketrampilan belajar kontekstual dan kemampuan empati dengan adversity intelligence.

(30)

Dalam masa penyusunan skripsi, banyak masalah-masalah yang umum dihadapi oleh mahasiswa dalam menyusun skripsi seperti banyaknya mahasiswa yang tidak mempunyai kemampuan dalam tulis menulis, adanya kemampuan akademis yang kurang memadai, serta kurang adanya ketertarikan mahasiswa pada penelitian. Kegagalan dalam penyusunan skripsi juga disebabkan oleh adanya kesulitan mahasiswa dalam mencari judul skripsi, kesulitan mencari literatur dan bahan bacaan, dana yang terbatas, serta adanya kecemasan dalam menghadapi dosen pembimbing. Masalah-masalah tersebut menyebabkan adanya tekanan dalam diri mahasiswa maka dapat menyebabkan adanya stres dalam menyusun skripsi pada mahasiswa.

Oleh karena itu, untuk mereduksi akan kemungkinan-kemungkinan buruk yang ditimbulkan dari skripsi, untuk itu mahasiswa seharusnya memiliki daya juang yang lebih tinggi lagi saat mengerjakan skripsi.

Daya juang atau yang bisa disebut dengan Adversity intelegence atau Adversity Quotiens adalah suatu konsep mengenai kualitas pribadi yang dimiliki seseorang untuk menghadapi berbagai kesulitan dan dalam usaha mencapai kesuksesan di berbagai bidang hidupnya (Stoltz, 2000 : 9).

Proses pengerjaan skripsi yang dituntut mandiri karena harus mengerjakannnya secara individu menjadikan rasa sosio emosi mahasiswa menurun, akibatnya empaty mahasiswa berkurang, padahal dalam pengerjaan skripsi dukungan sosial juga sangat penting.

Allport (dalam Taufik, 2012 : 39) mendefinisikan empati sebagai perubahan imajinasi ke dalam pikiran, perasaan, dan perilaku orang lain.

(31)

Selama proses pengerjaan skripsi, sebagian mahasiswa mengalami hambatan dan kesulitan baik dari faktor internal maupun eksternal diri mahasiswa. Seperti, waktu pengambilan data yang tidak sesuai dengan kondisi subjek dan dosen sulit ditemui karena sibuk, takut bertemu dosen,sedikit kesulitan untuk memulai, mulai lelah karena revisi tak kunjung selesai, dan motivasi yang sedikit menurun karena tertinggal oleh teman-teman yang lain. Hal-hal tersebut menjadikan mahasiswa yang mengerjakan skripsi merasa putus asa dan kadang tidak ingin lagi mengerjakan skripsi, akibatnya skripsi bisa tertunda dan mereka yang menunda skripsi juga pasti menunda kelulusan.

Melihat kondisi tersebut, perilaku optimisme juga harus dimiliki oleh mahasiswa. Optimisme adalah keyakinan dalam menyikapi sebuah peristiwa baik menyenangkan maupun tidak menyenangkan, menempatkan penyebab kegagalan pada keadaan di luar diri, memiliki harapan dan ekspektansi menyeluruh bahwa akan ada lebih banyak hal baik daripada hal buruk akan terjadi pada masa yang akan datang (Seligman, 2008 : 3).

Berikut dihadirkan gambar untuk mempermudah memahami dari penjabaran diatas dan dapat dilihat pada gambar 2.

Y X1 X2 Y

Kecerdasan

Adversitas

Empati

Optimisme

(32)

Gambar 2. Kerangka Teoritik Empati, Optimisme dengan Kecerdasan Adversitas

Dari gambar tersebut telah terlihat jelas dan dapat ditarik kesimpulanbahwa peneliti ingin meneliti hubungan antara variabel Empati (X1), Optimisme (X2) dengan variabel Kecerdasan Adversitas (Y).

E. Hipotesis

Setelah mengkaji teori-teori yang ada, dibuatlah hipotesis yang digunakandalam penelitian ini, yaitu:

Ha 1: Terdapat hubungan antara Empati, dengan Kecerdasan Adversitas pada mahasiswa yang mengerjakan skripsi.

Ha 2 : Terdapat hubungan antara Optimisme dengan Kecerdasan Adversitas pada mahasiswa yang mengerjakan skripsi.

Ha 3: Terdapat hubungan antara Empati dan Optimisme dengan Kecerdasan Adversitas pada mahasiswa yang mengerjakan skripsi.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :