KAJIAN TEORITIK
K. PENELITIAN YANG RELEVAN
Beberapa penelitian yang relevan dalam penelitian ini antara lain :
1. Qurratul A’yunin untuk memenuhi Skripsi dari Universitas Sebelas Maret dalam penelitiannya, “Prediksi Tingkat Bahaya Erosi dengan metode USLE
di Lereng Timur Gunung Sindoro”.“Dalam Metode Prediksi Erosi banyak
model erosi yang telah dikembangkan, dimulai dengan USLE dan beberapa model empiris lainnya, Misalnya RUSLE, MUSLE. Pada model USLE pengelolaan lahan dalam memprediksi erosi jangka panjang. Dalam model USLE hasil erosi memberikan dugaan tinggi untuk tanah dengan laju erosi rendah, dan erosi dugaan rendah untuk tanah laju erosi tinggi23.”
2. Penelitian lainnya dengan judul “Analisis Tingkat Bahaya Erosi (TBE)
Pada Lahan Kering Tegalan Di Kecamatan Tretep Kabupaten Temanggung” yang disusun oleh Ery Suryo Saputro dalam memenuhi
Skripsi di Universitas Negeri Semarang.“Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada lahan kering Tegalan di Kecamatan Tretep Kabupaten Temanggung terdapat empat kelas tingkat bahaya erosi, yaitu rendah,sedang,berat dan sangat berat. Besarnya erosi pada daerah penelitian disebabkan berbagai faktor antara lain kemiringan lereng, jenis tanaman dan pengolahan lahan (konservasi).24”
3. Sebagai bahan rujukan penelitian adalah dari Sucipto (2007), Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Universitas Negeri Semarang, tentang kajian Analisis
18 Qurratul A’yunin,“Prediksi Tingkat Bahaya Erosi dengan metode USLE di Lereng Timur Gunung
Sindoro,” Skripsi pada Universitas Sebelas Maret, Surakarta, 2008, h. 23, tidak di publikasikan.
19 Ery Suryo Saputro, “Analisis Tingkat Bahaya Erosi (TBE) Pada Lahan Kering Tegalan Di Kecamatan
Tretep Kabupaten Temanggung”, Skripsi pada Universitas Negeri Semarang, Semarang, 2009, h. 8, tidak di
34
Erosi yang terjadi di Lahan karena Pengaruh Kepadatan Tanah.25 Berdasarkan hasil analisis Pada penelitian ini dilakukan pengamatan mengenai Pengaruh Kepadatan Tanah Terhadap Erosi yang Terjadi di Lahan. Penelitian dilakukan di laboratorium dimana simulasi hujan buatan mengggunakan alat rainfall simulator. Sedangkan tanah uji yang digunakan pada penelitian ini adalah tanah yang diambil dari daerah Godean. Pada penelitian ini digunakan variasi kepadatan yang berbeda-beda, dimana untuk setiap kepadatan dilakukan pengamatan selama 2 jam dengan pencatatan data setiap 15 menit. Disamping itu juga dilakukan variasi intensitas hujan untuk membandingkan hasil yang didapat satu dengan yang lain. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui fenomena laju erosi yang terjadi dan juga untuk mengetahui pengaruh kepadatan tanah terhadap erosi yang terjadi di lahan.
4. Sebagai bahan rujukan penelitian kedua adalah Rahmat Razali (2013), Mahasiswa Fakultas Geografi Universitas Gajah Mada (UGM) dan Ikatan Geografi Indonesia. Tentang kajian Studi Bahaya Erosi Tanah dengan Metode Pemetaan Cepat (Rapid Mapping) di Sub DAS Cimanuk Hulu.26 Berdasarkan hasil analisis bahaya erosi tanah di Sub DAS Cimanuk Hulu dengan metode Pemetaan Cepat (Rapid Mapping) dan menentukan arahan teknik konservasi tanah berdasarkan bahaya erosi tanah.Tanah di Sub DAS Cimanuk Hulu didominasi oleh jenis Andosol seluas 115,09 Km 2 atau 73,60% dari luas DAS. Sebagian kecil jenis tanah Aluvial seluas 4,37 Km2 yang merupakan Tanah Andosol dikenal peka terhadap erosi, menunjukkan wilayah Sub DAS Cimanuk Hulu rentan terhadap erosi.
5. Sebagai bahan rujukan penelitian ketiga adalah Nanang Komaruddin (2008), Mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran Bandung.27
Tentang kajian Penilain Tingkat Bahaya Erosi di Sub Daerah Aliran Sungai
20Sucipto, “Analisis Erosi yang terjadi di Lahan karena Pengaruh Kepadatan Tanah”, jurnal Wahana Teknik
Sipil Semarang Vol. 12,April 2007, h.51-60
21 Rahmat Razali, “Studi Bahaya Erosi Tanah dengan Metode Pemetaan Cepat (Rapid Mapping) di Sub DAS Cimanuk Hulu”. jurnal Majalah Geografi Indonesia, Vol 28, No. 2, September 2013
22 Nanang Komaruddin, “Penilain Tingkat Bahaya Erosi di Sub Daerah Aliran Sungai Cileungsi, Bogor”.
35
Cileungsi, Bogor. Berdasarkan hasil analisis upaya rehabilitas lahan di daerah aliran sungai (DAS) harus dilakukan berdasarkan nilai erosi actual lahan sehingga degradasi lahan yang lebih parah dapat dicegah. Penelitian ini dilakukan untuk mengklasifikasi lahan di sub DAS Cileungsi Bogor Jawa Barat berdasarkan tingkat bahaya erosi dan kondisi resapan air tanah. Tingkat bahaya erosi ditentukan berdasarkan rumus USLE (Universal Soil
Loss Equation), sedangkan analisis resapan air didekati melalui tingkat
resapan (infiltrasi) air hujan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat bahaya erosi di daerah kajian berkisar dari sangat ringan sampai sedang dengan luas 24.620 ha (45,59%) dan berat sampai sangat berat dengan luas 11.540 ha (21,37%).
Tabel 2.12 Penelitian yang Relevan
No Penulis Judul Hasil Perbedaan Persamaan
1. Qurratul A’yunin (2008) Prediksi Tingkat Bahaya Erosi dengan metode USLE di Lereng Timur Gunung Sindoro
Berdasarkan hasil analisis Hasil Dalam Metode
Prediksi Erosi banyak model erosi yang telah
dikembangkan, dimulai dengan USLE dan beberapa model empiris lainnya, Misalnya RUSLE, MUSLE. Pada model USLE
pengelolaan lahan dalam memprediksi erosi jangka panjang. Dalam model USLE hasil erosi memberikan dugaan tinggi untuk tanah dengan laju erosi rendah, dan erosi dugaan rendah untuk tanah laju erosi tinggi
Peneliti sebelumnya meneliti studi erosi. Meneliti tingkat bahaya Erosi 2. Ery Suryo Saputro Analisis Tingkat Bahaya
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada lahan kering Tegalan di
Peneliti sebelumnya meneliti Meneliti Analisis bahaya erosi
36 (2007) Erosi (TBE) Pada Lahan Kering Tegalan Di Kecamatan Tretep Kabupaten Temanggun g Kecamatan Tretep Kabupaten Temanggung terdapat empat kelas tingkat bahaya erosi, yaitu rendah,sedang,berat dan sangat berat. Besarnya erosi pada daerah penelitian disebabkan berbagai faktor antara lain kemiringan lereng, jenis tanaman dan pengolahan lahan (konservasi) tingkat bahaya erosi dengan metode USLE 3. Sucipto (2007) Analisis Erosi yang terjadi di Lahan karena Pengaruh Kepadatan Tanah
Hasil penelitian ini dilakukan pengamatan mengenai Pengaruh Kepadatan Tanah Terhadap Erosi yang Terjadi di Lahan. Penelitian dilakukan di laboratorium dimana simulasi hujan buatan mengggunakan alat rainfall simulator. Sedangkan tanah uji yang digunakan pada penelitian ini adalah tanah yang diambil dari daerah Godean. Penelitian sebelumnya meneliti Analisis Tingkat Bahaya Erosi (TBE) Pada Lahan Kering Meneliti mengenai bahaya tingkat erosi 4. Rahmat Razali (2013) Studi Bahaya Erosi Tanah dengan Metode Pemetaan Cepat (Rapid Mapping) di Sub DAS Cimanuk Hulu
Berdasarkan hasil analisis bahaya erosi tanah di Sub DAS Cimanuk Hulu dengan metode Pemetaan Cepat (Rapid Mapping) dan menentukan arahan teknik konservasi tanah berdasarkan bahaya erosi tanah. Tanah di Sub DAS Cimanuk Hulu didominasi oleh jenis Andosol seluas 115,09 Km 2 atau 73,60% dari luas DAS.
Penelitian sebelumnya meneliti Analisis Erosi yang terjadi di Lahan karena Pengaruh Kepadatan Tanah Meneliti mengenai bahaya erosi tanah
37
Sebagian kecil jenis tanah Aluvial seluas 4,37 Km2 yang merupakan Tanah Andosol dikenal peka terhadap erosi, menunjukkan wilayah Sub DAS Cimanuk Hulu rentan terhadap erosi. 5. Nanang Komaru ddin (2008) Penilain Tingkat Bahaya Erosi di Sub Daerah Aliran Sungai Cileungsi, Bogor
Hasil analisis upaya rehabilitas lahan di daerah aliran sungai (DAS) harus dilakukan berdasarkan nilai erosi actual lahan sehingga degradasi lahan yang lebih parah dapat dicegah. Penelitian ini dilakukan untuk mengklasifikasi lahan di sub DAS Cileungsi Bogor Jawa Barat berdasarkan tingkat bahaya erosi dan kondisi resapan air tanah. Tingkat bahaya erosi ditentukan berdasarkan rumus USLE (Universal Soil
Loss Equation), sedangkan
analisis resapan air didekati melalui tingkat resapan (infiltrasi) air hujan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat bahaya erosi di daerah kajian berkisar dari sangat ringan sampai sedang dengan luas 24.620 ha (45,59%) dan berat sampai sangat berat dengan luas 11.540 ha (21,37%). Penelitian sebelumnya meneliti Bahaya Erosi Tanah dengan Metode Pemetaan Cepat (Rapid Mapping) di Sub DAS Meneliti erosi di sub daerah aliran sungai
38 2. KERANGKA BERPIKIR
Erosi merupakan suatu proses dimana tanah dihancurkan dan kemudian dipindahkan ke tempat lain oleh kekuatan air, angin, dan gravitasi dan hampir terjadi di semua tanah. Khususnya di Indonesia, masalah erosi disebabkan oleh curah hujan dan penggunaan lahan yang kurang tepat sehingga menyebabkan terjadinya erosi. Contohnya, di wilayah Desa Sindangjaya, Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur dengan titik koordinat -6.7412791,107.0054145. Dalam pengidentifikasian kemiringan lereng sangat sesuai dengan tipe penggunaan lahan tertentu pada suatu kawasan yaitu jenis tanah dan curah hujan dimana kondisi fisik dasar sangat mempengaruhi pengembangan suatu kawasan budidaya di Desa Sindangjaya Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur. Titik ketinggian di atas muka laut dan bentang alam berupa bentukan akibat gaya satuan geomorfologi yang bekerja.
Di Desa Sindangjaya banyak kasus yang seharusnya di tanami oleh pohon yang berakar kuat malah digunakan untuk perkebunan warga yang ditanami dengan tanaman semusim. Hal ini mengakibatkan sering terjadinya erosi dan tanah longsor karena sudah tidak adanya lagi penghalang tumbuhan yang berakar kuat dan besar dalam terjadinya banjir apabila musim penghujan tiba. Untuk itulah peneliti mengambil penelitian di Desa Sindangjaya, Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur untuk melihat berapa besar tingkat bahaya erosi di daerah tersebut dan bagaimana pengendalian lahan yang sering terjadinya erosi. Terutama pada daerah yang sering terjadinya erosi.
39 BAB III
METODOLOGI PENELITIAN