TINJAUAN PUSTAKA
C. Penelitian yang Relevan
Untuk menghindari duplikasi penelitian, perlu dikemukakan kajian pustaka, yakni penelusuran berbagai hasil penelitian terdahulu yang berhubungan dengan penelitian ini, untuk menunjukkan titik perbedaan antara penelitian ini dengan penelitian terdahulu.
Berdasarkan penelusuran berbagai hasil penelitian yang relevan dengan penelitian ini, ditemukan berbagai penelitian yang hampir sama, namun penekanannya berbeda. Selain itu, permasalahan yang diangkat, pendekatan yang digunakan, teknik pengumpulan data, dan analisis data juga berbeda, sehingga kesimpulan yang diperolehpun diharapkan berbeda.
Abd. Rahim dan Nurhilaliyah dalam penelitiannya tentang Implementasi Kompetensi Guru Agama Tersertifikasi di Madrasah Aliyah Propinsi Maluku yang dilaksanakan oleh Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar pada tahun 2011, berkesimpulan bahwa secara umum, kompetensi guru agama pada Madrasah Aliyah Negeri lebih tinggi dari guru yang mengajar pada Madrasah Aliyah Swasta. Selain itu dari keempat kompetensi guru, kompetensi kepribadian lebih tinggi dari kompetensi lainnya, dan kompetensi professional lebih rendah dibandingkan dengan
kompetensi lainnya. 94 Iwan Akil dalam penelitiannya tentang Implementasi
94Abd. Rahim dan Nurhilaliyah, “Implementasi Kompetensi Guru Agama Tersertifikasi di Madrasah Aliyah Propinsi Maluku” (Laporan Penelitian, Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar, 2011), h. 23.
Kompetensi Guru Agama Tersertifikasi di Madrasah Aliyah Negeri Kota Gorontalo yang juga dilaksanakan oleh Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar pada tahun 2011, berdasarkan data yang terkumpul dari barbagai subjek penelitian berkesimpulan bahwa secara umum kompetensi guru agama yang tersertifikasi telah mengalami banyak peningkatan.95 La Mente pada penelitian yang sama dengan lokasi Madrasah Aliyah Negeri Limboto Kabupaten Gorontalo atas kerjasama Universitas Muslim Indonesia dan Balai Penelitian Lektur Keagamaan Makassar 2011 dengan pokok masalah: “Bagaimana Implementasi Kompetensi Guru Agama Tersertifikasi pada Madrasah Aliyah Limboto” menemukan bahwa sedikit sekali peningkatan yang dialami oleh guru agama setelah tersertifikasi.96 Muhlis Madani dan Samhi Muawan Djamal pada penelitian yang sama dengan lokasi Madrasah Aliyah Swasta Kota Manado menemukan data bahwa kompetensi guru agama tersertifikasi pada Madrasah Aliyah Swasta di kota Manado telah mengalami banyak peningkatan setelah mengikuti kegiatan sertifikasi.97
Hasil penelitian di atas menggambarkan bahwa kompetensi guru yang telah tersertifikasi telah mengalami peningkatan. Namun tidak dikemukakan peningkatan yang dialami berapa besar, dan star pada kondisi atau nilai berapa, sehingga berapa besar peningkatan, belum jelas.
95Iwan Akil, “Implementasi Kompetensi Guru Agama Tersertifikasi di Madrasah Aliyah Negeri Kota Gorontalo” (Laporan Penelitian, Balai Pengembangan Agama Makassar, 2011), h. 46.
96La Mente, “Implementasi Kompetensi Guru Agama Tersertifikasi di Madrasah Aliyah Negeri Limboto Kota Gorontalo” (Laporan Penelitian, Balai Lektur Keagamaan dan UMI Makassar, 2011), h. 66.
97Muhlis Madani dan Samhi Muawan Djamal, “Implementasi Kompetensi Guru Agama Tersertifikasi di Madrasah Aliyah Swasta Kota Manado” (Laporan Penelitian, Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar, 2011), h. 4.
Yuspiani dalam penelitiannya tentang Pengaruh Komitmen Profesi terhadap Kompetensi Profesional Guru pada Madrasah Tsanawiyah di Kota Makassar pada tahun 2012, yang mengkhususkan penelitiannya pada kompetensi professional, berkesimpulan bahwa kompetensi professional guru Madrasah Tsanawiyah berada pada kategori sedang dalam hal penguasaan materi, struktur, konsep, dan pola keilmuan yang mendukung mata pelajaran yang diampu, penguasaan Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD), pengembangan materi pelajaran, dan pengembangan keprofesionalan.98 Hasanuddin dalam penelitiannya tentang Pengaruh Kinerja Kelompok Kerja Guru terhadap Kompetensi Profesional Guru (studi pada Guru-guru SD di Kabupaten Barru) tahun 2003 menemukan bahwa kinerja Kelompok Kerja Guru (KKG) dan profesionalismenya termasuk kategori tinggi.99 Muh. Arsyad Parenrengi dalam penelitiannya yang berjudul pengaruh Kinerja Pengawas Terhadap Kinerja Guru Pendidikan Agama Islam pada Sekolah Menengah Atas dan Madrasah Aliyah di Kabupaten Sinjai pada tahun 2007 menemukan bahwa kinerja para pengawas cukup baik dan berdampak positif terhadap kinerja guru PAIS.100
Syahruddin Usman yang meneliti tentang Kinerja Guru Pendidikan Agama Islam pada Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) dan Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) di Kota Makassar (Studi Analisis tentang Faktor-faktor Pendukung dan Penghambat Kinerja), menemukan bahwa kinerja guru Pendidikan
98Yuspiani, “Pengaruh Komitmen Profesi Terhadap Kompetensi Profesional Guru pada Madrasah Tsanawiyah di Kota Makassar” (Disertasi, UIN Alauddin Makassar, 2012), h. 293.
99Hasanuddin, “Pengaruh Kinerja Kelompok Kerja Guru Terhadap Kompetensi Profesional Guru (Studi pada Guru-guru SD di Kabupaten Barru)” (Tesis, Program Pascasarjana UNM Makassar, 2003), h. 71.
100Muh. Arsyad Parenrengi, “Pengaruh Kinerja Pengawas Terhadap Kinerja Guru Pendidikan Agama Islam pada Sekolah Menengah Atas dan Madrasah Aliyah di Kabupaten Sinjai” (Disertasi, UIN Alauddin Makassar, 2007), h. 200.
Agama Islam pada SMAN dan SMKN di Kota Makassar dilihat dari segi proses pembelajaran dalam penyusunan program pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran dan evaluasi serta kegiatan pengembangan profesionalisme, dan kegiatan ekstra kurikuler pada umumnya berada pada kategori sedang. Artinya pada umumnya guru Pendidikan Agama Islam pada sekolah tersebut telah melakukan aktivitas pembelajaran dan pengembangan diri yang berkaitan dengan profesinya, walaupun belum maksimal.101
Nasruddin dalam penelitiannya tentang kinerja guru bersetifikat pendidik pada Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) mengangkat permasalahan tentang gambaran kinerja guru yang bersertifikat pendidik. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa kinerja guru yang berserifikat pendidik cukup baik.102 Penelitian yang hampir sama dilakukan oleh Harun dengan judul Analisis Kompetensi Guru SMA di Pulau Sebatik, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Timur yang mengangkat permasalahan tentang bagaimana tingkat kompetensi guru di Pulau Sebatik. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa kompetensi guru SMA di pulau Sebatik berada pada kateri sedang, cenderung tinggi.103 Lukman, dalam penelitiannya tentang perbandingan Kompetensi Pengetahuan Pedagogik dan Profesional antara Guru bersertifikat pendidik yang lulus melalui jalur portofolio dan jalur PLPG di Kabupaten Sinjai berkesimpulan bahwa guru yang lulus melalui jalur portofolio memiliki kompetensi
101Syahruddin Usman, “Kinerja Guru Pendidikan Agama Islam pada Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) dan Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) di Kota Makassar (Studi Analisis tentang Faktor-faktor Pendukung dan Penghambat Kinerja” (Disertasi, UIN Alauddin Makassar, 2010), h. 295.
102Nasruddin, “Analisis Kinerja Guru Bersirtifikat pada Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri di Kabupaten Mamuju” (Tesis, UNM, 2011), h. 115.
103 Harun, “Analisis Kompetensi Guru SMA di Pulau Sebatik Kabupaten Nunukan Kalimantan Timur” (Tesis, UNM, 2011), h. 119.
yang lebih tinggi dari pada guru yang lulus melalui jalur PLPG, baik pada kompetensi pedagogik maupun pada kompetensi profesional.104 Hal ini menunjukkan bahwa pelaksanaan Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) bagi guru di daerah tersebut kurang berpengaruh. Hal ini dimungkinkan terjadi karena guru yang lulus sertifikasi melalui pola portofolio, adalah guru yang sudah berpengalaman mengajar.
Berkitan dengan rendahnya mutu pendidikan di Indonesia, salah satu penyebabnya adalah rendahnya kualitas kompetensi dan kualifikasi guru. Berita Kompas tanggal 27 Oktober 2009 dalam Jejen Musfah, menulis bahwa sekitar 77,85 persen guru di sekolah dasar tidak layak menjadi guru karena pendidikannya tidak memenuhi syarat. Selain itu, penguasaan guru terhadap materi pelajaran yang diajarkan pada muridnya juga lemah. Di tingkat TK, berdasaarkan data Nasional Depdiknas 2007/2008, sekitar 88 persen tidak layak. Di tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) sekitar 29,33 persen tidak layak mengajar, di Sekolah Menengah Atas (SMA) sekitar 15 persen, di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sekitar 23,04 persen.105
Hasil beberapa penelitian terdahulu dan relevan yang telah dikemukakan di atas, memiliki perbedaan penekanan pada variabel yang akan diteliti. Sebagian peneliti mengambil objek tentang kompetensi guru madrasah, baik Madrasah Aliyah maupun Madrasah Tsanawiyah, sebagian lainnya membahas kompetensi guru dengan membatasi diri pada salah satu kompetensi, misalnya kompetensi profesionalnya saja. Peneliti lain memfokuskan pada guru di sekolah kejuruan, Sekolah Menengah
104Lukman, “Perbandingan Kompetensi Pengetahuan Pedagogik dan Profesional Guru Kelas SD Bersertifikat Pendidik Profesional Antar yang Lulus Melalui Portofolio dengan yang Lulus PLPG di Kabupaten Sinjai” (Tesis, UNM, 2010), h. 110.
105Jejen Musfah, Peningkatan Kompetensi Guru Melalui Pelatihan dan Sumber Belajar Teori dan Praktik, Edisi Pertama (Cet. ke-1: Jakarta: Predana Media Group, 2011), h. 5.
Kejuruan (SMK), sebagian lagi membandingkan kompetensi guru yang sudah tersertifikasi dengan melihat pada jalur yang dilalui, misalnya guru yang melalui jalur portofolio dengan jalur PLPG (Pendidikan dan Latihan Profesi Guru).
Penelitian ini diarahkan pada masalah apakah pemberian sertifikat pendidik (sertifikasi) dapat mempengaruhi dalam arti meningkatkan kualifikasi dan kompetensi guru agama Islam di sekolah berdasarkan penilaian beberapa komponen subjek. Dalam hal ini pimpinan lembaga, teman sejawat, guru, dan siswa yang bersangkutan. Penelitian ini diarahkan khusus pada guru pendidikan agama Islam di sekolah, mulai dari SD, SLTP sampai SLTA yang ada di Kabupaten Enrekang.
Hal ini dilakukan dengan berbagai pertimbangan atau alasan, antara lain: 1. Bahwa penelitian tentang kompetensi guru Pendidikan Agama Islam di sekolah kurang menarik perhatian para peneliti, sehinggah belum ditemukan adanya penelitian yang khusus meneliti kompetensi guru bidang studi Pendidikan Agama Islam pada sekolah di Kabupaten Enrekang.
2. Bahwa para guru bidang studi Pendidikan Agama Islam kurang mendapatkan kesempatan untuk meningkatkan kompetensinya melalui pelatihan-pelatihan.
3. Karena keterbatasan waktu, tenaga, dan biaya maka penelitian ini hanya dibatasi pada satu kabupaten saja, yakni Kabupaten Enrekang, dan lingkup penelitian yang hanya berkisar pada dua kompetensi, yaitu kompetensi profesional dan kompetensi pedagogik.