• Tidak ada hasil yang ditemukan

2. TINJAUAN PUSTAKA

2.4. Penelitian yang Telah Dilakukan

Terdapat beberapa penelitian yang telah dilakukan oleh institusi baik nasional maupun internasional untuk mengetahui daya saing daerah atau negara, di antaranya:

1. Pusat Pendidikan dan Studi Kebanksentralan (PPSK) Bank Indonesia bekerja sama dengan Laboratorium Penelitian, Pengabdian pada Masyarakat dan Pengkajian Ekonomi (LP3E) Fakultas Ekonomi Universitas Padjajaran (2007).

Penelitian ini dilakukan untuk memberikan gambaran profil dan pemetaan daya saing ekonomi daerah kabupaten/kota di Indonesia pada tahun 2005. Potret profil daya saing daerah menunjukkan posisi relatif suatu daerah terhadap daerah lainnya dengan memperhatikan semua faktor-faktor pembentuk daya saing yang dimilikinya serta seberapa jauh daerah tersebut dapat merealisasikan potensi dari faktor-faktor tersebut.

Sedangkan pemetaan daya saing daerah dibagi ke dalam tiga pemetaan utama, yaitu:

1. Pemetaan daya saing daerah secara keseluruhan,

2. Pemetaan daya saing daerah berdasarkan indikator input, dan 3. Pemetaan daya saing daerah berdasarkan output.

Semua hasil pemetaan disajikan dalam bentuk persentile peringkat daya saing daerah.

Hasil utama dari penelitian tersebut adalah peringkat daya saing daerah dan neraca daya saing daerah untuk setiap kabupaten/kota di Indonesia. Hasil pemetaan daya saing daerah secara keseluruhan menempatkan 5 peringkat teratas daya saing daerah, yaitu Kota Bontang (Kalimantan Timur), Kab. Mimika (Papua), Kab. Kutai Timur (Kalimantan Timur), Kota Kediri (Jawa Timur) dan Kab. Siak (Riau).

2. World Economic Forum (WEF) setiap tahunnya mempublikasikan Global Competitiveness Report yang menggambarkan secara menyeluruh kinerja ekonomi negara-negara di dunia. Selain itu WEF juga menyusun Global Competitiveness Index (GCI) sebagi tolok ukur kinerja makroekonomi dan mikroekonomi daya saing suatu negara. Global Competitiveness Index memberikan penjelasan secara menyeluruh tentang

33 | P a g e faktor-faktor yang dianggap penting dalam mendorong produktivitas dan daya saing negara.

Faktor-faktor tersebut tidak dapat berdiri sendiri membentuk daya saing negara tetapi memiliki keterkaitan dan memperkuat satu dengan yang lainnya. Kelemahan satu faktor akan berdampak negatif terhadap faktor lainnya. Misalnya kekuatan kemampuan berinovasi akan sulit dicapai tanpa adanya faktor kesehatan dan pendidikan dan pelatihan tenaga kerja yang baik akan menyerap teknologi yang mutakhir. Meskipun faktor-faktor tersebut merupakan satu kesatuan yang membentuk indeks daya saing negara, namun GCI tetap memberikan penilaian secara detail masing-masing faktor tersebut agar negara dapat mengetahui faktor mana yang masih perlu dikembangkan.

3. Institute for Management Development (IMD) setiap tahunnya juga menerbitkan The World Competitiveness Yearbook yang menyajikan hasil pemeringkatan dan analisa atas kemampuan negara dalam menciptakan dan menjaga kemampuan daya saingnya.

Penyusunan ranking dimulai dengan penghitungan standar nilai untuk setiap masing-masing kriteria seluruh negara. dengan menggunakan data-data yang tersedia baik data kuantitatif maupun data kualitatif. Kemudian dibuat ranking negara berdasarkan agregasi kriteria yang terpilih. Kriteria yang tidak digunakan sebagai dasar penyusunan ranking, dijadikan sebagai informasi yang dapat menguatkan penilaian ranking. Pemeringkatan tidak hanya dibuat untuk peringkat negara, tetapi juga peringkat masing-masing kriteria.

Misalnya, kriteria Produk Domestik Bruto, negara yang memiliki standar nilai tertinggi akan berada pada ranking pertama, sedangkan yang memiliki standar rendah berada pada ranking terbawah.

4. European Commission mempublikasikan European Competitiveness Index (2013) tentang pemeringkatan daya saing yang mengukur, membandingkan dan meneliti daya saing bukan saja hanya antar negara, tetapi juga antar daerah di negara-negara Uni Eropa.

Pemeringkatan didasarkan pada sebelas pilar yang menggambarkan faktor input dan output dari daya saing teritorial yang diklasifikasikan ke dalam 3 kelompok utama pembentuk daya saing, yaitu: (1) Dasar; (2) Efisiensi; dan (3) Inovasi. Indikator-indikator yang digunakan untuk menyusun RCI dipilih dari Eurostat yang bersumber dari World Economi Forum, OECD-PISA and Regpat, the European Cluster Observatory, the World Bank Ease and Doing Business Index and Governance Indicator. Terdapat 73 indikator dari 80 indikator yang terpilih dari hasil uji statistik dengan menggunakan analisis

34 | P a g e multivariat. Kemudian skor dihitung dari masing-masing pilar berdasarkan rata-rata sederhana dari z-score standar dan atau/ indikator yang ditransformasi. Sedangkan sub-indeks (3 kelompok utama, yaitu dasar, efisiensi dan invoasi) dihitung berdasarkan rata-rata aritmatika dari skor pilarnya. Keseluruhan skor RCI dihitung dari agregasi tertimbang ketiga sub indeks tersebut berdasarkan pendekatan WEF-GCI.

35 | P a g e 3. METODE PENELITIAN

3.1. Identifikasi dan Klasifikasi Variabel

Variabel dalam kajian/penelitian ini dipetakan berdasarkan sasaran strategis yang ingin dicapai dalam membangun daya saing daerah. Selanjutnya diklasifikasikan dalam bentuk model logika input-output, yaitu faktor input dan faktor output pembentuk daya saing daerah. Dengan demikian, kedua faktor tersebut merupakan refleksi dari sasaran strategis yang ingin dicapai dalam membangun daya saing daerah, atau dikatakan sebagai indikator kinerja daya saing daerah. Indikator kinerja didefinisikan secara rinci dan dinyatakan dalam data kontinyu dan data diskrit yang ditransformasikan menjadi data kontinyu. Kumpulan beberapa indikator kinerja menurut masing-masing sasaran strategis kemudian dirumuskan dan disusun secara komposit dengan bobot tertentu yang diperoleh berdasarkan persepsi responden pemerintah daerah atas prioritas sasaran strategis. Hasil pengukuran daya saing daerah tersebut berupa indeks daya saing daerah sebagaimana disajikan pada gambar berikut ini.

Gambar 3.1 Alur Proses Penghitungan Indeks Daya Saing Daerah

Lingkup kajian ini adalah untuk mengetahui faktor dominan yang menguatkan daya saing daerah. Hubungan antara faktor dominan dengan indeks daya saing daerah akan menunjukkan seberapa besar pengaruh dari masing-masing faktor dominan terhadap besarnya

Data

36 | P a g e daya saing daerah. Faktor dominan yang dipilih sebagai fokus analisa adalah faktor-faktor pembentuk input dan output yang terpilih secara statistika dalam suatu model indeks daya saing yang dapat menjelaskan hubungan faktor pembentuk input dan output dengan indeks daya saing yang memberikan kontribusi yang paling besar.

Disamping itu dilakukan analisa terhadap faktor penguat daya saing, dalam hal ini dipilih sembilan belanja APBD menurut fungsi. Faktor tersebut dipilih dengan pertimbangan bahwa APBD atau Budget memiliki salah satu fungsi yaitu fungsi alokasi. Keselarasan antara perencanaan, dideskripsikan dengan bobot prioritas sasaran strategis dalam menghitung indeks daya saing daerah, dengan diskresi pemerintah daerah dalam mengarahkan sumber daya yang ada akan terlihat jelas.

Gambar 3.2 Hubungan Belanja Menurut Fungsi Layanan dengan Daya Saing

Target Input

Belanja Fungsi A

Belanja Fungsi B

Belanja Fungsi C

Belanja Fungsi D Belanja

Fungsi A

Belanja Fungsi B

Belanja Fungsi C

Belanja Fungsi D

Target Output

Input

Output

Indeks

Daya Saing Indeks

Daya Saing

Benchmark Units -- Peers

37 | P a g e 3.2. Definisi Operasional Variabel

Variabel ditetapkan dengan mendekatkan pada sasaran strategis dalam membangun daya saing daerah. Indikator kinerja apa yang dapat merefleksikan sasaran strategis yang ingin dicapai. Secara konsep, kinerja ditentukan terlebih dahulu lalu kemudian memilih indikator yang sesuai. Pemilihan indikator memperhatikan ketersediaan data dan pertama-tama diarahkan pada data kuantitatif (data sekunder) yang ada. Apabila data sekunder tidak diperoleh maka menggunakan data kualitatif (data primer) dari responden melalui kuesioner yang disampaikan. Dengan demikian, variabel yang dimaksud dalam kajian atau penelitian ini adalah indikator kinerja yang mewakili sasaran strategis untuk membangun daya saing daerah yang menunjukan besarnya kemampuan suatu daerah dalam mencapainya.

Memperhatikan heterogenitas variabel yang dipilih dan digunakan dalam mengukur daya saing daerah maka variabel tersebut terlebih dahulu harus di-indeks-kan dan kemudian digabung dengan imbangan (bobot) masing-masing sehingga menghasilkan indeks daya saing suatu daerah. Bobot disusun secara bertingkat atau gradual. Level pertama merupakan sasaran strategis, dan level kedua adalah kinerja-kinerja yang menggambarkan masing-masing sasaran strategis tersebut. Tingkatan tersebut disusun untuk memudahkan keputusan memilih prioritas dari rangkaian strategi yang ada berdasarkan kemampuan yang dimiliki (kinerja). Analisa yang demikian disebut Proses Analitis Hirarki (Analytical Hierachy Process) yang sering dikatakan AHP. Hirarki dari rangkaian sasaran strategis dan kinerja digambarkan dalam bagan berikut :

38 | P a g e Tabel 3.1 Hirarki Faktor Input

Tabel 3.1 menunjukan hirarki faktor input yaitu lima sasaran strategis berserta indikator kinerja yang mendukungnya. Sedangkan pada Tabel 3.2 berikut ini menunjukan output yang ingin dicapai beserta indikator capaiannya. Prioritas dari suatu daerah akan berbeda dengan daerah lain tergantung pada kemampuan yang dimilikinya. Pilihan sasaran strategis mana yang lebih prioritas dibanding yang lain didasarkan atas persepsi dari responden dari pemerintah daerah.

Tabel 3.2 Hirarki Faktor Output

3.2.1. Faktor Input Pembentuk Daya Saing Daerah

OUTPUT

Level I OUTPUT : Capaian

Level II Indikator Daya Saing a. Meningkatkan produktivitas tenaga kerja

b. Meningkatkan PDRB perkapita c. Menurunkan angka kemiskinan d. Memperluas kesempatan kerja

INPUT

Level I Sasaran Strategis : Mendorong aktivitas perekonomian daerah Meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan ketenagakerjaan Level II Indikator Kinerja a. Mengoptimalkan Pendapatan Asli Daerah a. Meningkatkan pendidikan dan keterampilan penduduk dan

tenaga kerja

b. Meningkatkan Kapasitas Fiskal Daerah b. Meningkatkan derajat kesehatan penduduk dan tenaga kerja c. Meningkatkan investasi daerah c. Meningkatkan kualitas pendidikan serta kompetensi teknologi

dan keterampilan.

INPUT

Level I Sasaran Strategis :

Level II Indikator Kinerja a. Penyederhanaan dan harmonisasi berbagai peraturan

a. Ketersediaan infrastruktur transportasi untuk memperlancar arus barang, jasa, manusia dan menjadi penghubung yang efisien antara sumber bahan baku, pusat produksi dan pasar.

b.

Penyelenggaraan pelayanan terpadu satu pintu untuk mempercepat dan mempermudah proses

perijinan dan non perijinan. b.

Ketersediaan listrik yang memadai dan menjadi insentif untuk membangun industri serta memperluas jangkauan pemasaran dan distribusi.

c. Kemudahan dalam proses pembebasan dan perolehan lahan.

c. Kemudahan dalam proses pembebasan dan perolehan lahan.

d. Menciptakan keamanan yang terkendali. d. Ketersediaan sarana telekomunikasi untuk memudahkan arus informasi dengan lebih luas dan cepat

INPUT

Level I Sasaran Strategis

Level II Indikator Kinerja a. Meningkatkan jumlah kantor bank.

b. Meningkatkan jumlah kantor non bank (perusahaan asuransi, perusahaan dana pensiun, koperasi, bursa efek/pasar modal, pegadaian dll).

c. Mendekatkan jenis-jenis usaha perbankan dan lembaga keuangan dengan kebutuhan masyarakat.

Meningkatkan aktivitas Perbankan dan Lembaga Keuangan

Menciptakan lingkungan usaha produktif yang dapat menarik minat dunia usaha untuk melakukan kegiatan usaha (termasuk investasi)

Membangun konektivitas yang terintegrasi antara sistem transportasi, logistik serta komunikasi dan informasi dalam rangka membuka akses daerah seluas-luasnya

39 | P a g e Faktor input pembentuk daya saing daerah dalam kajian ini merupakan variabel yang merefleksikan kinerja input sesuai dengan sasaran strategisnya. Dalam pengukuran dan penghitungan indeks daya saing, terlebih dahulu ditentukan sifat (polarisasi) nya, apakah itu searah/positif atau berlawanan/ negatif. Variabel-variabel dimaksud meliputi :

Tabel 3.3 Faktor Input Pembentuk Daya Saing Daerah

No Sasaran Strategis Kinerja Indikator Sifat

I N P U T

40 | P a g e

No Sasaran Strategis Kinerja Indikator Sifat

I N P U T

41 | P a g e

No Sasaran Strategis Kinerja Indikator Sifat

I N P U T

42 | P a g e

No Sasaran Strategis Kinerja Indikator Sifat

I N P U T

43 | P a g e

No Sasaran Strategis Kinerja Indikator Sifat

I N P U T perbankan dan lembaga keuangan di daerah perlu ditambah?)

3.2.2. Faktor Output Pembentuk Daya Saing Daerah

Pengertian dari faktor output pembentuk daya saing daerah dalam kajian ini adalah variabel yang merefleksikan kinerja output. Sifat variabel dimaksud, sama halnya dengan faktor input, terlebih dahulu perlu ditentukan sifat (polarisasi) nya dalam pengukuran dan penghitungan indeks daya saing. Apakah itu searah/positif atau berlawanan/ negatif/inverse?

Variabel output terdiri dari :

Tabel 3.4 Faktor Output Pembentuk Daya Saing Daerah

No Sasaran Strategis Kinerja Indikator Sifat

O U T P U T

1 Meningkatkan produktivitas tenaga kerja

Nilai tambah perekonomian dibanding jumlah angkatan kerja

PDRB konstan/

jumlah

angkatan kerja

Searah

2 Meningkatkan PDRB perkapita

PDRB Atas Dasar Harga Berlaku dibanding

PDRB ADHB/

Searah

44 | P a g e

No Sasaran Strategis Kinerja Indikator Sifat

jumlah penduduk

jumlah penduduk

3 Menurunkan angka kemiskinan

Persentase jumlah

penduduk miskin

Jumlah penduduk miskin/

jumlah penduduk

Inverse

4 Memperluas kesempatan kerja

Tingkat Kesempatan Kerja (TKK)

Jumlah penduduk umur 15 tahun ke atas yang bekerja/

jumlah

angkatan kerja

Searah

Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT)

Jumlah

pengangguran/

Jumlah

angkatan kerja

Inverse

45 | P a g e 3.2.3. Faktor Dominan yang Mempengaruhi Daya Saing Daerah

Faktor dominan yang menguatkan daya saing daerah dalam kajian ini adalah faktor pembentuk input dan output yang terpilih berdasarkan analisa statistika dalam membangun model indeks daya saing. Faktor dominan tersebut dapat menjelaskan hubungan indeks daya saing dengan faktor pembentuknya dan memberikan kontribusi yang paling besar.

3.2.4. Peran Belanja Fungsi APBD sebagai Faktor Penguat Daya Saing Daerah

Pemilihan belanja fungsi APBD sebagai faktor penguat daya saing daerah didasarkan atas beberapa catatan yang telah disampaikan pada bab sebelumnya, yaitu catatan Institute for Management Development (IMD) bahwa rendahnya kondisi daya saing Indonesia, disebabkan oleh buruknya kinerja perekonomian nasional dalam hal antara lain : buruknya efisiensi kelembagaan pemerintahan dalam mengembangkan kebijakan pengelolaan keuangan negara dan kebijakan fiskal, pengembangan berbagai peraturan dan perundangan untuk iklim usaha kondusif, lemahnya kordinasi akibat kerangka institusi publik yang masih banyak tumpang tindih dan kompleksitas struktur sosialnya. Demikian pula World Economic Index memberikan catatan bahwa terpuruknya daya saing perekonomian antara lain disebabkan oleh buruknya kualitas kelembagaan publik dalam menjalankan fungsinya sebagai fasilitator dan pusat pelayanan.

Analisa yang dilakukan untuk mengetahui peran belanja fungsi APBD menggunakan statistik non parameter, yaitu analisa DEA. Analisa ini menilai efisiensi belanja aktual (input) suatu daerah berdasarkan benchmarking unit atau peers sebagai acuan dalam penetapan target capaian.

3.3. Sumber dan Metode Pengumpulan Data

Data yang digunakan untuk kajian tersebut berasal dari data primer dan data sekunder.

Data primer merupakan data kualitatif yang diperoleh melalui kuesioner dan disampaikan kepada responden via surat. Data sekunder merupakan data kuantitatif yang berasal dari data publikasi instansi pemerintah pusat dan daerah.

Metode pengumpulan data primer yaitu dengan mengirimkan kuesioner kepada 33 pemerintah provinsi sebagai responden dengan target tujuan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yaitu Bappeda (Badan Perencanaan Pembangunan Daerah). Dari jumlah tersebut hanya terkumpul 13 pemerintah provinsi, yaitu sebanyak 8 pemerintah provinsi yang menyampaikan kembali baik melalui surat atau email, sedangkan 5 daerah merupakan pemerintah kab/kota yang dianggap dapat merepresentasikan provinsi-nya yaitu Sorong

46 | P a g e (Papua Barat), Kab. Blitar (Jawa Timur), Kab. Gowa (Sulsel), Kab. Tegal (Jateng), dan Cirebon (Jabar). Kuesioner disampaikan kepada lima pemerintah kab/kota melalui ruang layanan DJPK lantai 3 Gedung Radius Prawiro.

Sedangkan data sekunder dikumpulkan dari publikasi Badan Pusat Statistik (www.bps.go.id), DJPK Kementerian Keuangan (laporan realisasi APBD), dan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).

3.4. Metode Penentuan Sampel

Sampel kajian ini ditentukan secara acak (random sampling). Kuesioner kajian ini dikirimkan kepada pimpinan 33 Bappeda provinsi di seluruh Indonesia. Kemudian, Bappeda Provinsi yang mengirim kembali kuesioner, ditetapkan sebagai daerah sampel kajian ini.

Namun, kelengkapan dan kewajaran data yang diisi oleh responden akan dinilai terlebih dahulu sebelum responden tersebut dijadikan daerah sampel.

Selain dengan metode pengiriman kuesioner ke daerah melalui surat, metode random sampling juga dilakukan kantor tim penyusun kajian berada. Mengingat pejabat/staf dari beberapa SKPD daerah, termasuk Bappeda, melakukan kunjungan ke Jakarta untuk melakukan konsultasi. Beberapa Bappeda Provinsi/Kota/Kabupaten yang berkunjung (melalui pejabat/staf yang datang) akan dipilih secara acak untuk kemudian daerahnya dijadikan sebagai sampel.

Pemilihan metode random sampling ini dilakukan mengingat adanya keterbatasan waktu dan biaya bagi penyusun kajian ini jika dibanding dengan meneliti seluruh populasi objek penelitian. Semula, dalam menyusun kajian ini direncanakan untuk melakukan kunjungan ke daerah sampel untuk pengumpulan data dan indepth interview mengenai daya saing daerah. Namun karena ada keterbatasan biaya, metode pengumpulan data dilakukan dengan cara mengirimkan kuesioner kepada responden.

47 | P a g e 4. PEMBAHASAN

4.1. Pengukuran Indeks Daya Saing Daerah

Indeks Daya Saing Daerah merupakan kuantifikasi dari kekuatan atau kondisi yang dimiliki daerah, dalam kajian ini diwakili dengan faktor input dan faktor output pembentuk daya saing daerah. Faktor input dan output pembentuk daya saing daerah terdiri dari variabel-variabel yang mewakilinya dengan jenis data yaitu primer dan sekunder. Data primer diperoleh dari kuesioner yang telah diisi oleh pemerintah daerah yaitu Bappeda (Badan Perencana Pembangunan Daerah) berupa isian persepsi. Disamping itu kajian ini juga menggunakan data sekunder yaitu data yang diperoleh dari institusi penyedia data resmi (BPS dan BKPM). Setelah data diperoleh, maka dilanjutkan proses penghitungan dan pengukuran indeks daya saing.

Tahapan pengukuran indeks daya saing terdiri dari, yaitu (1) tahap penghitungan bobot yang berasal dari data persepsi dari pemerintah daerah terhadap inisiatif strategi penguatan daya saing daerah; dan (2) tahap standardisasi data dan indeks. Indeks daya saing merupakan indeks komposit dari indeks faktor input dan indeks faktor output, untuk selanjutnya disebut indeks input dan indeks output. Dalam hal ini indeks input dan indeks output sama-sama memberikan kontribusi secara ekual terhadap indeks daya saing.

4.1.1. Penghitungan Bobot Pengukuran

Penghitungan bobot pengukuran daya saing menggunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP) yang dibangun pertama kali oleh Thomas L. Saaty pada era 1970-an. AHP merupakan teknis struktur dalam mengorganisasi dan menganalisa keputusan-keputusan yang kompleks menggunakan matematika dan psikologi3. Lebih lanjut dijelaskan bahwa metode AHP menggunakan input utama persepsi manusia (data kualitatif), dimana masalah yang ada dipecah menjadi kelompok-kelompoknya dan disusun dalam suatu hirarki sehingga memudahkan dalam pengambilan keputusan4. Persepsi tersebut diperoleh dari ekspert. Ekspert dimaksud disini tidak berarti harus pintar bergelar Doktor namun lebih pada seseorang yang memahami permasalahan atau memiliki kepentingan terhadap hal tersebut.

3 en.wikipedia.org/wiki/Analytic_hierarchy_process

4 Brodjonegoro, Bambang Permadi S dan Bey Sapta Utama, 1992. "AHP : Analytic Hierarchy Process", Pusat Antar Universitas-Studi Ekonomi, Universitas Indonesia

48 | P a g e Hasil penghitungan berdasarkan data persepsi dari kuesioner yang telah disampaikan oleh pemerintah provinsi tersusun dalam tingkatan atau hirarkis berikut ini :

49 | P a g e

50 | P a g e Prioritas sasaran strategis dari faktor input pada tabel 4.1 sebagai berikut :

Tabel 4.1 Prioritas Sasaran Strategis Faktor Input

Meningkatkan aktivitas perbankan dan lembaga keuangan non bank merupakan prioritas pertama sasaran strategis dari faktor input untuk meningkatkan dan menguatkan daya saing daerah yaitu sebesar 32,24%. Kemudian diikuti oleh sasaran strategis kedua yaitu mendorong aktivitas perekonomian daerah sebesar 30,29%. Kedua sasaran strategis tersebut telah memberikan kontribusi secara kumulatif sebesar 62,53% atau lebih dari setengah dari total bobot (100%).

Pada gambar 4.1 bobot pada level kedua merupakan bobot pada kelompok sasaran strategis masing-masing. Bobot inilah yang digunakan dalam penghitungan indeks input.

Sedangkan untuk melihat prioritas, perlu dikalikan dengan bobot sasaran strategis-nya terlebih dahulu. Pada tabel 4.2 prioritas kinerja (level kedua) disajikan secara konsisten dengan sasaran strategis-nya yang memiliki prioritas pertama yaitu upaya prioritas yang harus dilakukan adalah meningkatkan jumlah kantor bank. Prioritas kedua adalah mengoptimalkan PAD.

Prioritas kinerja dari 1 s.d. 5 didominasi oleh prioritas sasaran strategis meningkatkan aktivitas perbankan dan lembaga keuangan serta mendorong aktivitas perekonomian daerah. Prioritas tersebut menunjukkan bahwa yang terkait dengan akses dan sumber daya pendukung seperti sumber daya manusia menjadi terlihat relatif kurang penting. Pada sub bab analisa berikutnya dapat dilihat permasalahan tersebut, yaitu pada indeks input dan output yang rendah sebelum dikalikan bobot sebagai prioritas kebijakan.

Prioritas Sasaran Strategis Bobot

1 Meningkatkan aktivitas Perbankan dan Lembaga Keuangan 32,24%

2 Mendorong aktivitas perekonomian daerah 30,29%

3

Menciptakan lingkungan usaha produktif yang dapat menarik minat dunia usaha untuk melakukan kegiatan usaha (termasuk

investasi) 13,36%

4 Meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan

ketenagakerjaan 13,29%

5

Membangun konektivitas yang terintegrasi antara sistem transportasi, logistik serta komunikasi dan informasi dalam

rangka membuka akses daerah seluas-luasnya 10,82%

51 | P a g e Tabel 4.2 Prioritas Kinerja Faktor Input

Sasaran strategis faktor output tidak di-breakdown lebih lanjut, dengan demikian AHP yang dilakukan hanyalah satu tingkat saja. Prioritas sasaran strategis faktor output disajikan pada tabel 4.3 berikut ini :

Tabel 4.3 Prioritas Sasaran Strategis Faktor Output

Menurunkan angka kemiskinan merupakan prioritas utama yang disusul kemudian dengan meningkatkan PDRB perkapita. Prioritas sasaran strategis tidak terlalu bervariasi, dengan kata lain responden tidak terlalu berbeda pendapat terhadap penting-nya sasaran strategis tersebut.

Prioritas Kinerja Bobot

1 Meningkatkan jumlah kantor bank. 13,35%

2 Optimal PAD 12,99%

3

Meningkatkan jumlah kantor non bank (perusahaan asuransi, perusahaan dana pensiun, koperasi, bursa efek/pasar modal,

pegadaian dll). 12,58%

4 Meningkatkan KpF 10,73%

5 Meningkatkan investasi daerah 6,56%

6 Mendekatkan jenis-jenis usaha perbankan dan lembaga keuangan

dengan kebutuhan masyarakat. 6,32%

7 Meningkatkan derajat kesehatan 5,24%

8 Meningkatkan Pendidikan dan keterampilan Penduduk dan Naker

5,09%

9 Kemudahan dalam proses pembebasan dan perolehan lahan. 4,53%

10 Ketersediaan sarana telekomunikasi untuk memudahkan arus

informasi dengan lebih luas dan cepat 4,29%

11 Penyederhanaan dan harmonisasi berbagai peraturan 3,94%

12

Ketersediaan listrik yang memadai dan menjadi insentif untuk membangun industri serta memperluas jangkauan pemasaran dan

distribusi. 3,93%

13 Meningkatkan kualitas pendidikan 2,96%

14

Ketersediaan infrastruktur transportasi untuk memperlancar arus barang, jasa, manusia dan menjadi penghubung yang efisien antara

sumber bahan baku, pusat produksi dan pasar. 2,60%

15 Penyelenggaraan pelayanan terpadu satu pintu untuk mempercepat

dan mempermudah proses perijinan dan non perijinan. 2,59%

16 Menciptakan keamanan yang terkendali. 2,30%

52 | P a g e 4.1.2. Standardisasi Data dan Indeks

Melakukan standardisasi data dengan : (1) melakukan konversi dengan Method of Succesive Interval (MSI) yaitu mengubah data ordinal dalam hal ini data isian kuesioner yang menggunakan skala Likert. Data ordinal merupakan data diskret, sedangkan untuk menghitung indeks daya saing maka data ordinal tersebut diubah menjadi data interval yang merupakan data kontinyu; (2) menetapkan data mana yang sifat /polarisasi-nya berlawanan

Melakukan standardisasi data dengan : (1) melakukan konversi dengan Method of Succesive Interval (MSI) yaitu mengubah data ordinal dalam hal ini data isian kuesioner yang menggunakan skala Likert. Data ordinal merupakan data diskret, sedangkan untuk menghitung indeks daya saing maka data ordinal tersebut diubah menjadi data interval yang merupakan data kontinyu; (2) menetapkan data mana yang sifat /polarisasi-nya berlawanan

Dokumen terkait