1 | P a g e
2 | P a g e
3 | P a g e ii
Daftar Isi
DAFTAR ISI .. ... 3
RINGKASAN EKSEKUTIF ... 5
KATA PENGANTAR ... 9
DAFTAR GAMBAR ... 11
DAFTAR TABEL ... 12
1. PENDAHULUAN ... 14
1.1. Latar Belakang ...14
1.2. Perumusan Masalah ...16
1.3. Tujuan Penulisan ...17
1.4. Manfaat Penulisan ...18
1.5. Kerangka Pemikiran ...18
1.6. Sistematika Penulisan ...20
2. TINJAUAN PUSTAKA ... 21
2.1. Kebijakan Desentralisasi Fiskal ...21
2.2. Penguatan Ekonomi Domestik ...23
2.2.1 Peningkatan Daya Saing ...24
2.2.2 Peningkatan Daya Tahan Ekonomi ...25
2.2.3 Pemantapan Stabilitas Politik...26
2.2.4 Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Masyarakat ...27
2.3. Daya Saing Daerah ...27
2.3.1. Pengertian dan Konsep ...27
2.3.2. Faktor Pembentuk Daya Saing Daerah ...29
2.3.3. Faktor Penguat Daya Saing Daerah ...30
2.4. Penelitian yang Telah Dilakukan ...32
3. METODE PENELITIAN ... 35
3.1. Identifikasi dan Klasifikasi Variabel ...35
3.2. Definisi Operasional Variabel ...37
3.2.1. Faktor Input Pembentuk Daya Saing Daerah ...38
3.2.2. Faktor Output Pembentuk Daya Saing Daerah ...43
3.2.3. Faktor Dominan yang Mempengaruhi Daya Saing Daerah ...45
3.2.4. Peran Belanja Fungsi APBD sebagai Faktor Penguat Daya Saing Daerah ...45
3.3. Sumber dan Metode Pengumpulan Data ...45
4 | P a g e iii
3.4. Metode Penentuan Sampel ...46
4. PEMBAHASAN ... 47
4.1. Pengukuran Indeks Daya Saing Daerah ...47
4.1.1. Penghitungan Bobot Pengukuran ...47
4.1.2. Standardisasi Data dan Indeks ...52
4.2. Analisis ...52
4.2.1. Analisis Deskriptif ...53
4.2.2. Analisis Faktor Dominan yang Mempengaruhi Daya Saing Daerah ...57
4.2.3. Analisis Klaster ...60
4.2.4. Analisis DEA terhadap Faktor Penguat Daya Saing Daerah ...70
5. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI ... 88
5.1. Kesimpulan ...88
5.2. Rekomendasi ...96
Daftar Pustaka ... 98
5 | P a g e iv
Ringkasan Eksekutif
Daya saing merupakan kemampuan suatu daerah dibanding daerah lain dalam menetapkan strategi yang tepat untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dengan kata lain, daya saing adalah interaksi yang kompleks antara faktor input (sebagai faktor utama pembentuk daya saing) dan output (inti dari kinerja perekonomian, yaitu meningkatkan kesejahteraan masyarakat) yang ada di daerah masing-masing.
Daya saing ekonomi daerah bertujuan untuk memberikan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, yaitu mengembangkan sektor unggulan sesuai dengan potensi dan kebutuhan daerah dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Sejalan dengan pelaksanaan otonomi daerah dan desentralisasi fiskal, peran pemerintah daerah dalam mengupayakan daya saing daerah menjadi sangat penting dan strategis. Peran pemerintah daerah dalam pelaksanaan otonomi daerah meliputi (1) keselarasan, dan (2) keserasian. Selaras dalam memberikan pelayanan dan meningkatkan peran serta, prakarsa, dan memberdayakan masyarakat yang memperhatikan kepentingan dan aspirasi masyarakat. Serasi dalam menyelenggarakan hubungan antartingkat pemerintahan, baik antardaerah maupun antara pusat dan daerah. Sementara itu, instrumen utama dalam pelaksanaan desentralisasi fiskal adalah pendanaan atas penyerahan urusan kepada daerah yang proporsional, adil, demokratis, dan transparan dengan memperhatikan potensi dan kebutuhan daerah. Pelaksanaan desentralisasi fiskal bermakna pada mengelola keuangan secara efektif, efisien, dan akuntabel guna mendukung pelayanan publik.
Otonomi daerah dan desentralisasi fiskal sangat erat hubungannya dengan daya saing daerah terutama dalam hal pelaksanaan pembangunan. Pembangunan yang ingin dicapai adalah pembangunan yang bersifat dinamis untuk kemajuan daerah. Daerah harus mencari dan mengenal potensi yang dimiliki untuk dikembangkan melalui inovasi dan produktivitas yang tinggi. Di sinilah peran daya saing sangat dibutuhkan. Kebutuhan akan peningkatan daya saing nasional dan daerah dilatarbelakangi oleh pengalaman perekonomian Indonesia menghadapi tantangan yang cukup berat, yaitu periode tahun 2011-2013. Pada periode tersebut pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami penurunan. Sehingga upaya penguatan ekonomi domestik menjadi tema dalam RKP Tahun 2013, yang meliputi :
a. peningkatan daya saing;
b. peningkatan kesejahteraan masyarakat;
c. peningkatan daya tahan ekonomi; dan
6 | P a g e v
d. pemantapan stabilitas politik
Peningkatan daya saing dilakukan dengan menetapkan kebijakan pemerintah pusat dan daerah, memperkuat kelembagaan dan tatakelola, dan membangun infrastruktur. Ketiga hal tersebut diramu untuk menghasilkan : (1) peningkatan produktivitas negara/ daerah pada skala ekonomi-nya; (2) inovasi; (3) peningkatan transparansi dan akuntabilitas; dan (4) penyempurnaan struktur sistem pembangunan nasional/ daerah.
Terdapat catatan penting dari pernyataan Martin dan Tyler (2003) yang memberikan argumen mengapa suatu daerah harus memiliki daya saing (berkompetisi)? : (1) untuk investasi, menarik masuk modal asing swasta dan modal publik; (2) untuk tenaga kerja, mendorong tenaga kerja terampil dan kreatif, menciptakan lingkungan kondusif dan menyediakan pasar tenaga kerja domestik; (3) untuk teknologi, menarik aktivitas inovasi dan transfer ilmu pengetahuan.
Kajian ini dilaksanakan bertujuan untuk : (1) mengetahui faktor-faktor yang membentuk daya saing daerah dan persepsi pemerintah daerah terhadap strategi penguatan daya saing; (2) mengetahui indeks daya saing daerah yang diukur dari faktor-faktor terpilih pembentuk daya saing daerah; (3) mengetahui faktor-faktor dominan yang mempengaruhi daya saing daerah; (4) mengetahui peran belanja fungsi APBD sebagai faktor penguat daya saing. Diharapkan kajian ini dapat memberikan manfaat antara lain : (1) memberikan informasi mengenai faktor-faktor yang membentuk dan faktor-faktor dominan yang menguatkan daya saing daerah; (2) memberikan masukan kepada pemerintah pusat dalam rangka mengevaluasi kebijakan desentralisasi fiskal; (3) memberikan masukan kepada pemerintah daerah dalam rangka mengevaluasi kebijakan keuangan daerah.
Data yang digunakan dalam kajian ini berasal dari data primer dan data sekunder. Data primer merupakan data kualitatif yang diperoleh melalui kuesioner dan disampaikan kepada responden via surat, sedangkan data sekunder merupakan data kuantitatif yang berasal dari data publikasi instansi pemerintah pusat dan daerah.
Metode pengumpulan data primer melalui kuesioner yang dikirimkan kepada 33 pemerintah provinsi sebagai responden dengan target tujuan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yaitu Bappeda (Badan Perencanaan Pembangunan Daerah). Terkumpul 13 pemerintah provinsi, yaitu sebanyak 8 pemerintah provinsi yang menyampaikan kembali baik melalui surat atau email, sedangkan 5 daerah merupakan pemerintah kab/kota yang dianggap dapat merepresentasikan provinsi-nya yaitu Sorong (Papua Barat), Kab. Blitar (Jawa Timur), Kab. Gowa (Sulsel), Kab. Tegal (Jateng), dan Cirebon (Jabar). Kuesioner disampaikan kepada lima pemerintah kab/kota melalui ruang layanan DJPK lantai 3 Gedung Radius Prawiro.
7 | P a g e vi
Pembahasan daya saing dalam kajian ini meliputi dua tahapan yaitu tahapan pengukuran indeks daya saing dan analisa. Pengukuran indeks daya saing terdiri dari dua tahap, yaitu (1) penghitungan bobot yang berasal dari data persepsi dari pemerintah daerah terhadap inisiatif strategi penguatan daya saing daerah; dan (2) standardisasi data dan indeks.
Indeks daya saing merupakan indeks komposit dari indeks faktor input (indeks input) dan indeks faktor output (indeks output). Analisa dilakukan terhadap hasil pengukuran daya saing, yang terdiri dari analisa deskriptif, analisa faktor dominan yang membentuk daya saing daerah, analisa klaster profil daerah, dan yang terakhir adalah analisa terhadap faktor penguat daya saing daerah (dalam hal ini belanja fungsi dalam APBD) menggunakan statistik non parameter DEA (Data Envelopment Analysis).
Rekomendasi
1. Penguatan Kapasitas Fiskal Daerah dan Tatakelola Keuangan Daerah yang Mendorong Daya Saing Daerah.
Pemerintah pusat melanjutkan kebijakan transfer ke daerah yang mendukung pelaksanaan desentralisasi fiskal dengan alokasi Transfer ke Daerah yang terus meningkat, namun harus dibarengi dengan penyempurnaan manajemen keuangan daerah oleh pemerintah daerah, baik dari sisi pendapatan maupun belanja daerah. Pendapatan daerah menuju kemandirian fiskal daerah, sedangkan belanja daerah fokus pada quality of spending.
2. Prioritas Sasaran Strategis dalam Mencapai Kinerja Daya Saing.
Prioritas ditentukan secara konsisten guna memperbaiki Faktor input pembentuk daya saing kinerja yang masih rendah, namun perlu pengertian dan cakupan yang jelas dari masing-masing belanja menurut fungsi, sehingga dapat menghubungkan belanja tersebut secara langsung dengan sasaran strategis pencapaian daya saing-nya.
3. Peningkatan Kinerja Faktor Output Pembentuk Daya Saing.
Perlu upaya untuk memacu peningkatan kinerja Faktor Output pembentuk daya saing. Hal ini dikarenakan banyak daerah yang masih memiliki kinerja relatif rendah pada faktor tersebut, dialami oleh 9 pemerintah provinsi dari 13 pemerintah provinsi yang menjadi sampel .
4. Fokus pada Sasaran Strategis Pencapaian Daya Saing.
Daerah yang memiliki Indeks Input dan Indeks Output di bawah rata-rata perlu fokus menitiberatkan perhatiannya pada sasaran strategis pencapaian daya saing.
8 | P a g e vii
5. Kinerja Mendorong Aktivitas Perekonomian Daerah dan Meningkatkan Kualitas SDM agar Lebih Ditingkatkan.
Pemerintah daerah mengupayakan agar kinerja dalam rangka mendorong aktivitas perekonomian daerah dan meningkatkan kualitas SDM lebih ditingkatkan lagi, karena Indeks PAD terhadap PDRB, Indeks Kapasitas Fiskal terhadap PDRB, dan Indeks Rasio Guru terhadap Murid merupakan indeks rendah yang banyak terjadi di pemerintah provinsi yang menjadi sampel.
6.
Sinergi Antara Penganggaran dan Capaian Strategi dan Kinerja
.Hendaknya menyelaraskan porsi belanja fungsi dalam APBD dengan sasaran strategis daya saing guna mendukung kinerja-nya. Terutama untuk area kinerja yang masih rendah.
7.
Harmonisasi Peraturan dan Kebijakan antara Pusat dan Daerah serta Antardaerah
.Peraturan atau kebijakan hendaknya disinkronisasi sehingga tidak menghambat investasi yang akan masuk ke daerah.
8.
Penyediaan Lahan untuk Industri Terpadu
Penyediaan lahan bertujuan untuk memberikan insentif kemudahan bagi investor yang akan menanamkan modal nya di suatu daerah dengan didukung oleh proses perijinan yang mudah. Berdasarkan kuesioner yang disampaikan, diketahui bahwa Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) telah diterapkan di 13 provinsi yang menjadi sampel.
9 | P a g e viii
Kata Pengantar
ehubungan dengan peran penting pemerintah daerah untuk mengarahkan pembangunan yang sinergis antara pemerintah daerah dengan sektor swasta, maka perlu dilakukan upaya yang terpadu dalam mendukung kemandirian daerah. Kemandirian daerah antara lain dapat dicapai melalui peningkatan daya saing, dimana daya saing tidak hanya berorientasi pada indikator perekonomian saja, melainkan lebih luas artinya meliputi seluruh upaya mengelola sumber daya yang dimiliki. Tantangan ke depan yang akan dihadapi semakin berat, yaitu adanya globalisasi ekonomi yang ditandai dengan perdagangan dan industri yang berlaku tanpa batas (borderless). Kemampuan bersaing (daya saing) menjadi ujung tombak agar sektor-sektor ekonomi dapat tetap tumbuh dan berkembang dan memberikan kesejahteraan masyarakat. Keunggulan, inovasi, dan antisipasi merupakan tiga kunci pokok dalam menghadapi globalisasi. Keunggulan berhubungan dengan kualitas yang dimiliki, inovasi merupakan perubahan strategis yang dilakukan, serta antisipasi adalah bagaimana mengantar pelayanan sesuai timing-nya.
Dalam era otonomi daerah dan desentralisasi fiskal, pemerintah daerah memiliki diskresi yang besar dalam menentukan kebijakan pembangunan daerah. Pemerintah daerah mengalokasikan sumber daya yang dimilikinya berdasarkan prioritas yang ditentukan.
Menghadapi persaingan ke depan, pemerintah daerah dapat mengambil langkah inisiatif dengan mengarahkan sumber daya dalam upaya untuk meningkatkan daya saing. Langkah awal yang diperlukan adalah bagaimana melakukan pemetaan kemampuan daerah yang dimiliki (faktor input) dan tujuan apa yang hendak dicapai (faktor output). Selanjutnya, penentuan prioritas menjadi langkah berikutnya mengingat keterbatasan sumber daya yang dimiliki.
Memperhatikan betapa pentingnya daya saing, maka daya saing tersebut menjadi tiga prioritas penting dari sembilan visi, misi, dan program aksi Presiden Joko Widodo yang dikenal dengan sebutan Nawacita. Tiga prioritas yang terkait dengan daya saing adalah (1) meningkatkan kualitas hidup manusia; (2) meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar internasional; dan (3) mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor-sektor strategis ekonomi domestik.
S
10 | P a g e viii
viii
ix
Akhir kata, kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan kontribusi dalam kajian ini, terutama kepada pemerintah provinsi dan kabupaten/
kota yang telah menyampaikan isian kuesioner sehingga kajian ini bisa terlaksana. Kami berharap agar kajian ini dapat bermanfaat bagi kita semua dan pihak-pihak yang terkait dalam rangka kemajuan implementasi otonomi daerah dan desentralisasi fiskal di Indonesia.
11 | P a g ex
Daftar Gambar
Gambar 1.1 Kerangka Pemikiran ... 19
Gambar 2.1 Komponen Penguat Ekonomi Domestik ... 24
Gambar 3.1 Alur Proses Penghitungan Indeks Daya Saing Daerah ... 35
Gambar 3.2 Hubungan Belanja Menurut Fungsi Layanan dengan Daya Saing ... 36
Gambar 4.1 Hirarki Prioritas Input ... 49
Gambar 4.2 Ukuran Dispersi Indeks Input, Indeks Output, dan Indeks Daya Saing ... 54
Gambar 4.3 Histogram Indeks ... 55
Gambar 4.4 Grafik Radar Indeks 13 Provinsi ... 56
Gambar 4.5 Diagram Cartsesius Posisi Pemerintah Provinsi ditinjau dari Indeks Input dan Indeks Output-nya ... 57
Gambar 4.6 Profil 13 Pemerintah Provinsi Sampel ... 61
Gambar 4.7 Diagram Pareto Kinerja Input dan Output Rendah ... 70
12 | P a g exi
Daftar Tabel
Tabel 2.1 Alokasi Dana Transfer ke Daerah (Milyar Rupiah) ... 22
Tabel 2.2 Peringkat Indonesia dalam Global Competitiveness Index (GCI) ... 30
Tabel 2.3 Peringkat Indonesia dalam The World Competitiveness Yearbook ... 31
Tabel 3.1 Hirarki Faktor Input ... 38
Tabel 3.2 Hirarki Faktor Output ... 38
Tabel 3.3 Faktor Input Pembentuk Daya Saing Daerah ... 39
Tabel 3.4 Faktor Output Pembentuk Daya Saing Daerah ... 43
Tabel 4.1 Prioritas Sasaran Strategis Faktor Input ... 50
Tabel 4.2 Prioritas Kinerja Faktor Input ... 51
Tabel 4.3 Prioritas Sasaran Strategis Faktor Output ... 51
Tabel 4.4 Indeks Input, Indeks Output, dan Indeks Daya Saing ... 54
Tabel 4.5 Regresi Linear Indeks Daya Saing ... 58
Tabel 4.6 Korelasi Pearson dari Indikator/ Variabel dalam Permodelan Indeks Daya Saing ... 59
Tabel 4.7 Kontribusi Indikator/ Variabel dalam Permodelan Indeks Daya Saing ... 60
Tabel 4.8 Indeks Daya Saing dan %Realisasi Belanja Fungsi terhadap Total Belanja ... 72
Tabel 4.9 Peering Efisiensi Belanja Fungsi terhadap Daya Saing Provinsi Sumatera Utara . 73 Tabel 4.10 Pengukuran Efisiensi Belanja Fungsi terhadap Daya Saing Provinsi Sumatera Utara ... 73
Tabel 4.11 Peering Efisiensi Belanja Fungsi terhadap Daya Saing Provinsi Bangka Belitung ... 74
Tabel 4.12 Pengukuran Efisiensi Belanja Fungsi terhadap Daya Saing Provinsi Bangka Belitung ... 75
Tabel 4.13 Peering Efisiensi Belanja Fungsi terhadap Daya Saing Provinsi Bengkulu ... 75
Tabel 4.14 Pengukuran Efisiensi Belanja Fungsi terhadap Daya Saing Provinsi Bengkulu 76 Tabel 4.15 Peering Efisiensi Belanja Fungsi terhadap Daya Saing Provinsi Jawa Timur ... 77
Tabel 4.16 Pengukuran Efisiensi Belanja Fungsi terhadap Daya Saing Provinsi Jawa Timur ... 77
Tabel 4.17 Peering Efisiensi Belanja Fungsi terhadap Daya Saing Provinsi Jambi ... 78
Tabel 4.18 Pengukuran Efisiensi Belanja Fungsi terhadap Daya Saing Provinsi Jambi ... 79
Tabel 4.19 Peering Efisiensi Belanja Fungsi terhadap Daya Saing Provinsi Sulawesi Selatan ... 79
13 | P a g exii Tabel 4.20 Pengukuran Efisiensi Belanja Fungsi terhadap Daya Saing Provinsi Sulawesi
Selatan ... 80
Tabel 4.21 Peering Efisiensi Belanja Fungsi terhadap Daya Saing Provinsi Sulawesi Barat 80 Tabel 4.22 Pengukuran Efisiensi Belanja Fungsi terhadap Daya Saing Provinsi Sulawesi Barat ... 81
Tabel 4.23 Peering Efisiensi Belanja Fungsi terhadap Daya Saing Provinsi Jawa Barat ... 82
Tabel 4.24 Pengukuran Efisiensi Belanja Fungsi terhadap Daya Saing Provinsi Jawa Barat ... 82
Tabel 4.25 Peering Efisiensi Belanja Fungsi terhadap Daya Saing Provinsi Jawa Tengah ... 83
Tabel 4.26 Pengukuran Efisiensi Belanja Fungsi terhadap Daya Saing Provinsi Jawa Tengah ... 83
Tabel 4.27 Peering Efisiensi Belanja Fungsi terhadap Daya Saing Provinsi Banten ... 84
Tabel 4.28 Pengukuran Efisiensi Belanja Fungsi terhadap Daya Saing Provinsi Banten... 85
Tabel 4.29 Peering Efisiensi Belanja Fungsi terhadap Daya Saing Provinsi Bali ... 85
Tabel 4.30 Pengukuran Efisiensi Belanja Fungsi terhadap Daya Saing Provinsi Bali ... 86
Tabel 4.31 Peering Efisiensi Belanja Fungsi terhadap Daya Saing Provinsi Papua Barat .... 86
Tabel 4.32 Pengukuran Efisiensi Belanja Fungsi terhadap Daya Saing Provinsi Papua Barat ... 87
14 | P a g e 1. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Saat ini, perekonomian domestik tidak bisa berdiri sendiri melainkan dipengaruhi juga oleh kondisi ekonomi global. Pengalaman telah menunjukkan bahwa pada triwulan III tahun 2013, kondisi pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami perlambatan sebagai imbas dari kondisi ekonomi global. Hal tersebut ditandai dengan menurunnya harga komoditas dan berbaliknya arus modal, yang selanjutnya mampu menekan ekonomi Indonesia dan mengakibatkan struktur ekonomi menjadi tidak stabil, sehingga menghambat penyesuaian.
Kondisi tidak stabil terjadi akibat impor yang meningkat untuk memenuhi kapasitas industri domestik yang belum memadai terhadap permintaan domestik. Kondisi tersebut semakin berat karena investasi dan ekspor juga menurun. Meskipun telah digulirkan kebijakan fiskal dan moneter, namun karena daya topang ekonomi Indonesia tidak kuat maka dapat dikatakan bahwa kondisi ekonomi sangat rentan terhadap pengaruh eksternal. Berdasarkan hal tersebut, maka dibutuhkan daya saing ekonomi yang dapat memberikan kontribusi bagi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Pengembangan sektor unggulan daerah yang dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat menjadi salah satu solusi 1.
Dalam pelaksanaan Otonomi Daerah dan Desentralisasi Fiskal, peran Pemerintah Daerah menjadi penting dan strategis dalam mengupayakan agar daya saing ekonomi menjadi kuat. Pemberian diskresi yang besar kepada pemerintah daerah untuk melaksanakan segala urusan yang telah menjadi kewenangannya beserta pendanaannya dari Pemerintah Pusat, hendaknya dapat diwujudkan dengan sungguh-sungguh oleh Pemerintah Daerah. Otonomi daerah dan desentralisasi fiskal yang dimaksudkan adalah yang bersifat dinamis dan bertanggung jawab. Dinamis berarti didasarkan pada situasi, kondisi dan perkembangan pembangunan di daerah. Sementara itu, bertanggungjawab berarti bahwa pelaksanaan otonomi dan desentralisasi fiskal benar-benar sejalan dengan tujuannya, yaitu memperlancar pembangunan di seluruh pelosok Tanah Air tanpa ada pertentangan antara kebijaksanaan yang diberikan oleh Pemerintah Pusat dengan pelaksanaan operasional yang dilaksanakan oleh daerah sehingga pembangunan daerah merupakan rangkaian pembangunan nasional secara menyeluruh.
1 Pembangunan Koridor Ekonomi Indonesia, RKP 2013 Memperkuat Perekonomian Domestik bagi Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Rakyat.
15 | P a g e Otonomi daerah memberikan kewenangan kepada daerah untuk mengurus dan mengatur semua urusan pemerintah di luar yang menjadi urusan Pemerintah Pusat. Daerah memiliki kewenangan membuat kebijakan daerah dalam rangka memberi pelayanan, peningkatan peran serta, prakarsa, dan pemberdayaan masyarakat yang bertujuan pada peningkatan kesejahteraan masyarakat dengan selalu memperhatikan kepentingan dan aspirasi yang tumbuh dalam masyarakat. Di samping itu penyelenggaraan otonomi daerah juga harus menjamin keserasian hubungan antar daerah, dan keserasian hubungan antara daerah dengan Pemerintah Pusat.
Desentralisasi fiskal dimaksudkan untuk mendukung pendanaan atas penyerahan urusan kepada daerah sebagai konsekuensi logis otonomi daerah. Pelaksanaan desentralisasi fiskal secara proporsional, demokratis, adil dan transparan dengan memperhatikan potensi, kondisi dan kebutuhan daerah mengikuti fungsi pemerintahan yang menjadi kewajiban dan tanggung jawab masing-masing tingkatan pemerintah.
Dalam prakteknya, pelaksanaan desentralisasi dimaksudkan agar daerah dapat mengelola keuangannya sendiri secara efektif, efisien dan akuntabel guna membiayai kegiatan tugas-tugas pemerintahan memberikan pelayanan publik yang lebih baik dan menciptakan proses pengambilan keputusan publik yang lebih demokratis.
Melalui otonomi daerah dan desentralisasi fiskal diharapkan daerah akan lebih mandiri dalam menentukan seluruh kegiatannya dan diharapkan mampu memainkan peranannya dalam membuka peluang memajukan Daerah dengan melakukan identifikasi potensi sumber- sumber pendapatannya guna pembiayaan pembangunan daerah.
Pembangunan daerah merupakan bagian integral dari pembangunan nasional dan sejalan dengan prinsip-prinsip kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah dimana kepada daerah diberikan kewenangan yang luas dalam mengatur dan mengurus daerahnya masing- masing.
Dalam rangka pelaksanaan pembangunan daerah yang semakin dinamis maka diperlukan upaya pembinaan, pengembangan dan inovasi secara lebih terarah dan terpadu sehingga hasilnya dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kemajuan pembangunan daerah.
Proses menuju kemandirian suatu daerah dalam era globalisasi saat ini tidaklah terlepas dari perlu adanya daya saing dalam membentuknya. Daya saing tidaklah hanya berorientasi pada indikator ekonomi saja, tetapi lebih pada kemampuan daerah untuk menghadapi tantangan dan persaingan global untuk peningkatan kesejahteraan hidup rakyat yang nyata dan berkelanjutan serta secara politis, sosial dan budaya dapat diterima oleh seluruh masyarakat.
16 | P a g e 1.2. Perumusan Masalah
Secara konsep, daya saing menunjukkan kemampuan suatu daerah dibandingkan dengan daerah lain dalam menetapkan strategi yang tepat untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya2. Daerah harus mencari dan mengenal potensi yang akan dikembangkan dan dapat berdampak pada meningkatnya kesejahteraan masyarakat setempat. Apalagi dengan semakin terbukanya pasar bebas yang memungkinkan produk impor masuk ke daerah, tentunya usaha yang dilakukan daerah harus lebih nyata dan terukur. Ukuran keberhasilannya adalah meningkatnya laju pertumbuhan ekonomi dari waktu ke waktu, pengentasan kemiskinan, terbukanya lapangan kerja seluas-luasnya dan indikator kesejahteraan lainnya.
Setiap daerah dituntut untuk menciptakan iklim usaha yang kondusif yang dapat menciptakan ide-ide baru, perbaikan-perbaikan yang dapat mendorong tumbuhnya usaha baru, industri baru, lapangan kerja baru dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkeadilan.
Bank Indonesia dan Fakultas Ekonomi Universitas Padjajaran dalam studi tentang daya saing daerah tahun 2001 mendefinisikan daya saing daerah sebagai kemampuan perekonomian daerah dalam mencapai tingkat kesejahteraan yang tinggi dan berkelanjutan dengan tetap terbuka pada persaingan domestik dan internasional.
Sementara itu The European Commission mendefinisikan daya saing sebagai
“kemampuan untuk memproduksi barang dan jasa sesuai dengan kebutuhan pasar internasional, diiringi dengan kemampuan mempertahankan pendapatan yang tinggi dan berkelanjutan, lebih umumnya adalah kemampuan (regions) untuk menciptakan pendapatan dan kesempatan kerja yang relatif tinggi sementara terekspos pada daya saing eksternal”.
Dari konsep dan definisi mengenai daya saing di atas, terdapat kesamaan pandangan bahwa pada dasarnya daya saing daerah dihasilkan oleh interaksi yang kompleks antara faktor input, output dan outcome yang ada di daerah masing-masing, dengan faktor input sebagai faktor utama pembentuk daya saing daerah yaitu kemampuan daerah, yang selanjutnya akan menentukan kinerja output yang merupakan inti dari kinerja perekonomian. Inti dari kinerja perekonomian adalah upaya meningkatkan daya saing dari suatu perekonomian yaitu meningkatkan kesejahteraan dari masyarakat yang berada di dalam perekonomian tersebut.
Ukuran kesejahteraan memiliki makna yang sangat luas, indikatornya dapat berupa produktivitas tenaga kerja, PDRB per kapita atau tingkat kesempatan kerja.
2 Perencanaan dan Penganggaran Pemerintah Daerah untuk Mendukung Penguatan Ekonomi Domestik, RKP 2013, Buku Pegangan Perencanaan dan Pembangunan Daerah 2012-2013.
17 | P a g e Peran daerah untuk meningkatkan daya saingnya sangat tergantung kepada kemampuan daerah untuk melakukan identifikasi faktor pembentuk dan penentu daya saing daerah.
Dengan kemampuan daerah yang cermat dalam melakukan identifikasi faktor-faktor pembentuk dan penentu daya saing maka daerah dapat menyusun strategi menetapkan kebijakan-kebijakan apa yang harus ditempuh agar daya saing daerahnya dapat terus meningkat.
Dengan demikian, menurut kami perlu dilakukan kajian untuk menentukan faktor- faktor yang merepresentasikan pembentuk daya saing daerah berdasarkan kemampuan ekonomi dan keuangan daerah serta persepsi daerah dalam menetapkan prioritas kebijakan penguatan daya saing daerahnya dengan sasaran akhirnya adalah peningkatan kesejahteraan masyarakat. Dengan ditetapkannya faktor pembentuk daya saing daerah selanjutnya dapat disusun suatu indeks yang dapat dijadikan sebagai tolok ukur daya saing daerah. Di samping itu, perlu untuk menentukan faktor-faktor penentu yang menguatkan daya saing daerah sehingga daerah dapat menetapkan kebijakan-kebijakan penting yang dapat menguatkan daya saingnya.
Oleh karena itu dalam kajian ini dapat dirumuskan beberapa pertanyaan antara lain:
a. Faktor-Faktor apa saja yang menjadi pembentuk daya saing daerah (input dan output) dan persepsi pemerintah daerah terhadap prioritas strategi penguatan daya saing?
b. Bagaimana indeks daya saing daerah di Indonesia berdasarkan faktor-faktor terpilih pembentuk daya saing daerah?
c. Faktor-Faktor apa saja yang dominan mempengaruhi daya saing daerah?
d. Bagaimana peran belanja fungsi APBD sebagai faktor penguat daya saing?
Pertanyaan kajian ini sangat penting dalam kaitannya untuk memudahkan menjawab dan menganalisis permasalahan sehingga apa yang menjadi tujuan kajian akan tercapai secara tepat.
1.3. Tujuan Penulisan
Dengan adanya perumusan masalah, diharapkan adanya suatu kejelasan yang dijadikan tujuan dalam kajian ini. Adapun tujuan kajian ini adalah:
a. Untuk mengetahui faktor-faktor yang membentuk daya saing daerah dan persepsi pemerintah daerah terhadap strategi penguatan daya saing.
b. Untuk mengetahui indeks daya saing daerah yang diukur dari faktor-faktor terpilih pembentuk daya saing daerah.
c. Untuk mengetahui faktor-faktor dominan yang mempengaruhi daya saing daerah.
18 | P a g e d. Untuk mengetahui peran belanja fungsi APBD sebagai faktor penguat daya saing.
1.4. Manfaat Penulisan
Dalam kajian ini diharapkan adanya manfaat antara lain:
1. Memberikan informasi mengenai faktor-faktor yang membentuk dan faktor-faktor dominan yang menguatkan daya saing daerah.
2. Memberikan masukan kepada pemerintah pusat dalam rangka mengevaluasi kebijakan desentralisasi fiskal.
3. Memberikan masukan kepada pemerintah daerah dalam rangka mengevaluasi kebijakan keuangan daerah.
1.5. Kerangka Pemikiran
Kemampuan daerah untuk meningkatkan daya saing daerah akan sangat tergantung pada kemampuan daerah dalam mengidentifikasi faktor-faktor pembentuk dan penentu yang menguatkan daya saing daerahnya. Kendala umum yang dihadapi pemerintah daerah dalam upaya membentuk daya saing daerah adalah ketidakmampuan dalam memetakan secara cermat dan memberdayakan potensi-potensi yang dimiliki daerah.
Beberapa penelitian telah dilakukan baik oleh lembaga nasional maupun internasional untuk mengkaji faktor-faktor pembentuk daya saing negara atau daerah, di antaranya Bank Indonesia bekerjasama dengan Fakultas Ekonomi Universitas Padjajaran menyusun profil dan pemetaan daya saing ekonomi daerah kabupaten/kota di Indonesia, European Commission menyusun Regional Competitiveness Index, Institute for Management Development (IMD) setiap tahunnya menerbitkan The World Competitiveness Yearbook yang didasarkan pada 4 faktor utama dan World Economic Forum menyusun peringkat daya saing negara-negara di dunia dalam Global Competitiveness Index berdasarkan 12 (dua belas) pilar penting.
Dalam kajian ini, kami mencoba untuk menentukan faktor-faktor pembentuk daya saing daerah berdasarkan literature review dari beberapa penelitian yang telah dilakukan dan beberapa referensi buku-buku dan jurnal. Kemudian menyusun indeks daya saing daerah khususnya untuk pemerintah provinsi di Indonesia dan menentukan faktor-faktor dominan yang menguatkan daya saing daerah.
Dengan demikian secara umum kajian atas kebijakan penguatan daya saing daerah dalam rangka peningkatan kesejahteraan masyarakat dilakukan sesuai bagan alur berikut ini:
19 | P a g e Gambar 1.1 Kerangka Pemikiran
Pemilihan indikator input dan output pembentuk daya saing
daerah
Indeks Daya Saing Daerah (Provinsi)
Analisa AHP
Penyusunan Angka Indeks
Menentukan Faktor Dominan yang Mempengaruhi Daya Saing
Daerah
Data Envelopment Analysis atas Faktor
Penguat Daya
Pemilihan faktor penentu daya saing daerah
Literatur Review:
- Penelitian terdahulu - Buku dan jurnal
20 | P a g e 1.6. Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan kajian atas kebijakan penguatan daya saing daerah dalam rangka peningkatan kesejahteraan masyarakat terdiri atas:
1. Pendahuluan
Pendahuluan meliputi tentang latar belakang permasalahan, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, kerangka pemikiran dan sistematika penulisan.
2. Tinjauan Pustaka
Tinjauan Pustaka merupakan landasan teoritis mengenai kebijakan desentralisasi fiskal, penguatan ekonomi domestik, konsep dan pembentuk daya saing daerah serta faktor- faktor dominan yang menguatkan daya saing daerah.
3. Metodologi Penelitian
Metode Penelitian secara garis besar berisi tentang identifikasi, klasifikasi dan definisi operasional variabel serta sumber dan metode pengumpulan data.
4. Pembahasan
Pada bab ini akan dijelaskan tentang bagaimana mengukur indeks daya saing daerah berdasarkan faktor-faktor pembentuk daya saing daerah dan menganalisa faktor dominan yang menguatkan daya saing daerah.
5. Kesimpulan dan Rekomendasi
Pada bab ini terdiri dari kesimpulan-kesimpulan hasil penelitian yang merupakan jawaban dari pertanyaan penelitian dan saran-saran yang direkomendasikan bagi pihak yang berkepentingan.
21 | P a g e 2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Kebijakan Desentralisasi Fiskal
Indonesia memasuki era baru desentralisasi seiring dengan lahirnya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah dan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah. Konsekuensi logis dari lahirnya kedua Undang-Undang tersebut adalah daerah diberikan kewenangan/urusan yang luas untuk mengurus dan mengatur semua urusan pemerintah di luar yang menjadi urusan Pemerintah Pusat. Daerah memiliki kewenangan membuat kebijakan daerah dalam rangka memberi pelayanan, peningkatan peran serta, prakarsa, dan pemberdayaan masyarakat yang bertujuan pada peningkatan kesejahteraan masyarakat dengan selalu memperhatikan kepentingan dan aspirasi yang tumbuh dalam masyarakat.
Tentunya pelimpahan wewenang/urusan ini membawa dampak dibutuhkannya pendanaan yang cukup besar untuk membiayai pelaksanaan urusan tersebut.
Sejalan dengan pembagian kewenangan/urusan, maka pengaturan pendanaan daerah dilakukan berdasarkan azas desentralisasi, dekonsentrasi dan tugas pembantuan.
Desentralisasi adalah penyerahan wewenang pemerintahan oleh Pemerintah kepada Daerah Otonom dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dekonsentrasi adalah pelimpahan wewenang dari Pemerintah kepada Gubernur sebagai wakil Pemerintah dan atau perangkat pusat di Daerah. Sedangkan Tugas Pembantuan adalah penugasan dari Pemerintah kepada Daerah dan Desa dan dari Daerah ke Desa untuk melaksanakan tugas tertentu yang disertai pembiayaan, sarana dan prasarana serta sumber daya manusia dengan kewajiban melaporkan pelaksanaannya dan mempertanggungjawabkannya kepada yang menugaskan.
Kebijakan awal yang dirumuskan dalam UU No. 22 dan No. 25 tahun 1999 antara lain ditandai dengan dialokasikannya Dana Alokasi Umum (DAU) sebagai sumber pembiayaan berbagai urusan pemerintahan yang telah didaerahkan, Dana Bagi Hasil (DBH) dari ekstraksi sumber daya alam yang berada di daerah yang bersangkutan, dan diberikannya otoritas pajak yang terbatas kepada pemerintah daerah.
Selanjutnya, amandemen undang-undang desentralisasi yang dilakukan pada tahun 2004 menitikberatkan kepada mekanisme pemantauan oleh pemerintah pusat, dan perbaikan kepada pertanggungjawaban pengeluaran pemerintah daerah. Di sisi fiskal, UU No. 33 tahun 2004 memperbesar basis bagi hasil pajak dari sumber daya alam yang dimiliki daerah, maupun dari pajak tingkat nasional lainnya, dan perluasan total dana yang menjadi sumber DAU.
22 | P a g e Perubahan kebijakan desentraliasi fiskal itu sendiri merupakan cerminan dari kebutuhan fiskal yang terus membesar di tingkat daerah, praktek soft budget constraint dari sisi pemerintah pusat yang juga disebabkan oleh lambatnya reformasi pajak daerah.
Desentralisasi fiskal adalah salah satu instrumen yang digunakan oleh pemerintah dalam mengelola pembangunan guna mendorong perekonomian daerah maupun nasional.
Melalui mekanisme hubungan keuangan yang lebih baik diharapkan akan tercipta kemudahan-kemudahan dalam pelaksanaan pembangunan di daerah, sehingga akan berimbas kepada kondisi perekonomian yang lebih baik. Sebagai tujuan akhir adalah kesejahteraan masyarakat. Desentralisasi fiskal di Indonesia adalah desentralisasi fiskal di sisi pengeluaran yang didanai terutama melalui transfer ke daerah. Dengan desain desentralisasi fiskal ini maka esensi otonomi pengelolaan fiskal daerah dititikberatkan pada diskresi (kebebasan) untuk membelanjakan dana sesuai kebutuhan dan prioritas masing-masing daerah. Penerimaan negara tetap sebagian besar dikuasai oleh pemerintah Pusat, dengan tujuan untuk menjaga keutuhan berbangsa dan bernegara dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Seiring dengan berjalannya waktu, dukungan pendanaan pemerintah pusat berupa dana transfer ke daerah dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah dan desentralisasi fiskal semakin meningkat sebagaimana digambarkan pada tabel di bawah ini:
Tabel 2.1 Alokasi Dana Transfer ke Daerah (Milyar Rupiah)
No Jenis Transfer 2008 2009 2010 2011 2012 2013
TRANSFER KE DAERAH 310.553,6 292.460,0 345.728,2 412.142,0 481.904,4 529.393,4
1 Transfer Dana Perimbangan 289.213,0 278.473,4 317.103,1 347.676,4 411.480,5 445.330,5
a. Dana Bagi Hasil 77.979,3 77.764,1 92.358,2 96.909,9 111.550,1 102.494,1
b. Dana Alokasi Umum 186.414,1 179.507,1 203.606,5 225.533,7 273.814,4 311.139,3 c. Dana Alokasi Khusus 24.819,6 21.202,1 21.138,4 25.232,8 26.115,9 31.697,1
2 Transfer Dana Otsus dan Penyesuaian 21.340,6 13.986,7 28.625,1 64.465,6 70.423,9 83.831,5
a. Dana Otonomi Khusus 9.526,6 7.510,3 9.099,6 10.421,3 11.952,6 13.445,6
b. Dana Penyesuaian 11.814,0 6.476,4 19.525,5 54.044,3 58.471,3 70.385,9
3 Transfer Dana Keistimewaan D.I Yogyakarta ,0 ,0 ,0 ,0 ,0 231,4
Sumber: Laporan Keuangan Transfer ke Daerah (Audited)
23 | P a g e 2.2. Penguatan Ekonomi Domestik
Kondisi perekonomian Indonesia sepanjang tahun 2011 – 2013 dalam tekanan yang cukup berat. Kinerja perekonomian nasional terlihat tidak cukup baik dengan pertumbuhan ekonomi yang terus mengalami penurunan. Pada tahun 2011, pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 6,35%, kemudian pada tahun 2012 turun menjadi 6,28%, sedangkan pada tahun 2013 pertumbuhannya mencapai 5,90%.
Di tengah kondisi perekonomian nasional yang masih tidak menentu, penguatan ekonomi domestik menjadi syarat mutlak agar Indonesia dapat tetap menjaga pertumbuhan yang berkualitas. Sinergi antara pusat dan daerah untuk menciptakan momentum pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kualitas pertumbuhan merupakan aspek prioritas yang perlu kita lakukan bersama-sama. Keberhasilan pembangunan nasional merupakan agregasi dari keberhasilan pembangunan daerah. Oleh karena itu, penguatan ekonomi nasional adalah hasil akumulasi dari penguatan ekonomi di daerah. Dengan demikian, komunikasi, koordinasi dan sinergi kebijakan antara pusat dan daerah harus terus dipertahankan untuk menjaga momentum pembangunan. Konsistensi kebijakan antara pusat dan daerah akan tercapai jika dijembatani oleh sinergi pusat-daerah oleh berbagai pemangku kepentingan.
Gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat di daerah memiliki tugas dan fungsi yang penting untuk mengkoordinasikan kebijakan pemerintah kabupaten/kota di wilayahnya dan menjaga konsistensi kebijakan antara pusat dan daerah.
Kebijakan pemerintah dalam rangka penguatan ekonomi domestik yang pada Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2013 difokuskan pada empat aspek, yang merupakan komponen penting untuk mendukung penguatan ekonomi domestik seperti yang tercantum dalam gambar berikut:
24 | P a g e Gambar 2.1 Komponen Penguat Ekonomi Domestik
Sumber : Rencana Kerja Pemerintah 2013
2.2.1 Peningkatan Daya Saing
Daya saing dapat dinilai dengan berbagai macam pendekatan dan indikator yang pada prinsipnya menunjukkan kemampuan yang lebih unggul secara kuantitas ataupun kualitas pada skala nasional antar daerah ataupun pada skala internasional antar negara. Daya saing daerah didefinisikan sebagai kemampuan daerah dalam mencapai pertumbuhan ekonomi untuk menciptakan tingkat kesejahteraan yang tinggi dan berkelanjutan, sehingga mampu untuk bersaing di tingkat domestik dan internasional.
Dengan demikian, daya saing merupakan akumulasi dari berbagai faktor yang dimulai dari penyusunan kebijakan, sampai dengan implementasi berupa kelembagaan dan tata kelola dan berupa pembangunan infrastruktur. Muara dari implementasi kebijakan-kebijakan tersebut adalah tercapainya produktivitas suatu negara/daerah sehingga akan meningkatkan kesejahteraan rakyat pada skala perekonomian nasional/daerah. Semakin kompetitif daya saing sebuah sistem perekonomian, maka pembangunan akan tumbuh lebih cepat.
Penguatan Ekonomi Domestik
Peningka tan Daya
Saing
Peningkat an Daya
Tahan Ekonomi
Pemantapan Stabilitas
Politik Peningkatan
dan Perluasan Kesejahtera
an Masyarakat
25 | P a g e 2.2.2 Peningkatan Daya Tahan Ekonomi
Peningkatan daya tahan ekonomi untuk penguatan ekonomi domestik dapat ditempuh melalui beberapa langkah diantaranya:
a. Peningkatan ketahanan pangan
Peningkatan ketahanan pangan harus terus didorong untuk mampu menggerakkan perekonomian daerah. Ketahanan Pangan memegang peranan penting dalam perekonomian nasional karena dapat menjaga stabilitas ekonomi nasional dan juga mempengaruhi pembangunan sektor lain. Pada dasarnya ketahanan pangan mencakup 4 aspek utama yang terdiri atas: (1) aspek ketersediaan pangan; (2) aspek aksesibilitas pangan, distribusi dan stabilisasi harga pangan yang terjangkau; (3) aspek konsumsi pangan yang memenuhi kaidah mutu, keragaman, kandungan gizi, keamanan dan kehalalan; serta (4) aspek penanggulangan masalah pangan.
Aspek ketersediaan pangan berfungsi untuk menjamin ketersediaan pangan guna memenuhi kebutuhan seluruh penduduk dari segi kuantitas, kualitas, keragaman dan keamanannya. Ketersediaan pangan tersebut terdiri atas produksi dalam negeri, cadangan dan impor. Untuk menjaga dan meningkatkan ketahanan pangan, maka produksi dalam negeri harus menjadi sumber utama untuk ketersediaan pangan tersebut.
Aspek aksesibilitas pangan berfungsi untuk menjamin seluruh level masyarakat dapat menjangkau sumber pangan yang mencukupi baik kuantitas maupun kualitasnya.
Distribusi, stabilitas harga dan pasokan merupakan indikator penting untuk menunjukkan kinerja aspek akesibilitas pangan. Distribusi pangan dilakukan untuk memenuhi pemerataan ketersediaan pangan keseluruh wilayah secara berkelanjutan. Stabilisasi harga pangan diselenggarakan dengan tujuan untuk menyejahterakan petani dan nelayan, menghindari terjadinya gejolak harga pangan, menghadapi keadaan darurat karena bencana atau paceklik, mencapai swasembada pangan, memperhatikan daya beli masyarakat. Harga yang terlalu berfluktuasi dapat merugikan petani, produsen, pengolah, pedagang hingga konsumen sehingga berpotensi menimbulkan ketidakstabilan ekonomi.
Aspek konsumsi pangan dan gizi berfungsi untuk mengarahkan agar pola pemanfaatan pangan secara nasional memenuhi kaidah mutu, keragaman, kandungan gizi, keamanan dan kehalalan. Indikator aspek konsumsi, dapat tercermin dalam pola konsumsi masyarakat di tingkat rumah tangga.
26 | P a g e Aspek penanggulangan masalah pangan berfungsi menjaga goncangan pangan akibat ketidakmampuan memenuhi pangan karena kondisi ekonomi, bencana dan lonjakan harga, yang disalurkan dalam bentuk bantuan beras miskin bagi keluarga miskin dan penyaluran cadangan beras pemerintah terutama dalam mengantisipasi terjadinya bencana melalui bantuan pangan.
Masyarakat dan pemerintah daerah memiliki peranan penting dalam membangun ketahanan pangan dimulai dari proses produksi, distribusi, pengolahan pangan dan pemasaran. Sementara peran pemerintah juga sangat penting dalam menjaga insentif untuk tetap menjaga ketahanan pangan melalui regulasi, penciptaan iklim investasi dan pembangunan fasilitas/prasarana publik, serta penyediaan sarana tekonologi dari penyuluhan.
b. Peningkatan rasio elektrifikasi dan konversi energi
Pembangunan ketenagalistrikan bertujuan untuk menjamin ketersediaan tenaga listrik dalam jumlah yang cukup, kualitas yang baik dan harga yang wajar dalam rangka meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat secara adil dan merata serta mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan. Penyediaan tenaga listrik dikuasai oleh negara yang penyelenggaraannya dilakukan oleh pemerintah dan pemerintah daerah berlandaskan prinsip otonomi daerah. Untuk penyelenggaraan penyediaan tenaga listrik, pemerintah dan pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya menetapkan kebijakan, pengaturan, pengawasan dan melaksanakan usaha penyediaan tenaga listrik.
2.2.3 Pemantapan Stabilitas Politik
Stabilitas politik dalam sebuah negara/sistem demokrasi ditentukan oleh sejumlah faktor penting. Pembangunan politik mensyaratkan kesuksesan penyelenggaraan pemilu dalam menghasilkan pemimpin politik yang mampu mendorong kebijakan yang efektif dan bermanfaat untuk rakyat. Pemerintah pusat maupun pemerintah daerah berkepentingan pada penyelenggaraan pemilu yang kredibel, yakni pemilu yang adil, jujur dan tunduk pada prinsip- prinsip umum sebuah pemilu demokratis sehingga memberikan kontribusi nyata pada stabilitas politik. Hal ini dengan mengingat, bahwa stabilitas politik adalah prasyarat mutlak bagi penguatan, perkembangan dan pertumbuhan ekonomi dalam negeri.
27 | P a g e 2.2.4 Peningkatan dan Perluasan Kesejahteraan Masyarakat
Peningkatan dan perluasan kesejahteraan masyarakat dapat ditempuh melalui beberapa langkah, diantaranya:
a. Peningkatan pembangunan Sumber Daya Manusia
Pendidikan memiliki keterkaitan yang erat dengan pembangunan ekonomi. Penegasan bahwa pendidikan dapat memberi kontribusi pada pertumbuhan ekonomi berdasarkan asumsi pendidikan akan menciptakan tenaga kerja produktif dengan kompetensi, keahlian, pengetahuan dan keterampilan tinggi. Tenaga kerja terdidik dengan kualitas tinggi merupakan faktor determinan bagi peningkatan kapasitas produksi, yang memberi stimulasi pada pertumbuhan ekonomi. Nilai ekonomi pendidikan terletak pada sumbangannya dalam memasok tenaga kerja terampil, profesional berpengetahuan dan tenaga ahli dengan kemahiran khusus sehingga menjadi lebih produktif.
b. Percepatan pengurangan kemiskinan
Upaya percepatan pengurangan kemiskinan yang dilakukan melalui strategi dan kebijakan makro dan strategi dan kebijakan klaster diharapkan dapat meningkatkan kapasitas dan produktivitas masyarakat miskin. Secara ekonomis, peningkatan kapasitas dan produktivitas masyarakat ini diharapkan dapat meningkatkan penguatan ekonomi domestik di daerah.
2.3. Daya Saing Daerah 2.3.1. Pengertian dan Konsep
Desentralisasi yang dilaksanakan di Indonesia merupakan upaya untuk meningkatkan geliat pertumbuhan ekonomi di daerah. Kondisi ini membuka kesempatan seluas-luasnya bagi pemerintah daerah untuk meningkatkan kemakmuran masyarakatnya melalui inovasi, peningkatan transparansi dan akuntabilitas, serta menciptakan tata kelola ekonomi ke arah yang lebih kompetitif dan berdaya saing tinggi. Pembentukan daya saing tentu tidak hanya mencakup upaya untuk memperkuat sinergi berbagai sektor pembangunan daerah, tetapi juga mencakup penyempurnaan secara struktural dalam sistem pembangunan daerah agar pembangunan tersebut dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat secara lebih efektif dan efisien.
Daya saing daerah menurut Bank Indonesia didefinisikan sebagai kemampuan perekonomian daerah dalam mencapai tingkat kesejahteraan yang tinggi dan berkelanjutan
28 | P a g e dengan tetap terbuka pada persaingan domestik dan internasional. Konsep dan definisi daya saing daerah yang dikembangkan dalam penelitian tersebut didasarkan pada dua pertimbangan, yaitu: perkembangan perekonomian daerah ditinjau dari aspek ekonomi regional dan perkembangan konsep dan definisi daya saing daerah dari penelitian-penelitian terdahulu.
World Economic Forum (WEF) mendefinisikan daya saing nasional sebagai kemampuan perekonomian nasional untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkelanjutan.
Institute for Management Development (IMD) mendefinisikan daya saing nasional sebagai kemampuan suatu negara dalam menciptakan nilai tambah dalam rangka menambah kekayaan nasional dengan cara mengelola aset dan proses, daya tarik dan agresivitas, globality dan proximity, serta model ekonomi dan sosial.
European Commission mendefinisikan daya saing sebagai kemampuan untuk memproduksi barang dan jasa sesuai dengan kebutuhan pasar internasional, diiringi dengan kemampuan mempertahankan pendapatan yang tinggi dan berkelanjutan, lebih umumnya adalah kemampuan (regions) untuk menciptakan pendapatan dan kesempatan kerja yang relatif tinggi sementara terekspos pada daya saing eksternal.
Konsep daya saing umumnya dikaitkan dengan konsep comparative advantage, yakni dimilikinya unsur-unsur penunjang proses produksi yang memungkinkan satu negara menarik investor untuk melakukan investasi ke negaranya, tidak ke negara yang lain. Konotasi advantage di sini adalah situasi yang memungkinkan pemodal menuai keuntungan semaksimal mungkin. Misalnya dengan menyediakan lahan murah, upah buruh murah, dan suplai bahan mentah produksi yang terjamin kontinyuitasnya dengan harga yang lebih murah daripada harga yang ditawarkan oleh negara lain. Artinya, kekuatan modal dan keunggulan teknologi menjadi kunci penentu peningkatan daya saing (penjualan produk) satu negara.
Martin dan Tyler (2003) menyebutkan argumen mengapa daerah maupun negara saling berkompetisi:
- untuk investasi, melalui kemampuan daerah untuk menarik masuknya modal asing, swasta dan modal publik;
- untuk tenaga kerja, dengan kemampuan untuk menarik masuknya tenaga kerja yang terampil, enterpreneur dan tenaga kerja yang kreatif, dengan cara menyediakan lingkungan yang kondusif dan pasar tenaga kerja domestik;
- untuk teknologi, melalui kemampuan daerah untuk menarik aktivitas inovasi dan transfer ilmu pengetahuan dan teknologi.
29 | P a g e Dari konsep dan definisi mengenai daya saing di atas, dapat dimaknai bahwa daya saing daerah dihasilkan oleh interaksi yang kompleks antara faktor input, output dan outcome yang ada di daerah masing-masing, dengan faktor input sebagai faktor utama pembentuk daya saing daerah yaitu kemampuan daerah, yang selanjutnya akan menentukan kinerja output yang merupakan inti dari kinerja perekonomian. Inti dari kinerja perekonomian adalah upaya meningkatkan daya saing dari suatu perekonomian yaitu meningkatkan kesejahteraan dari masyarakat yang berada di dalam perekonomian tersebut. Ukuran kesejahteraan memiliki makna yang sangat luas, indikatornya dapat berupa produktivitas tenaga kerja, PDRB per kapita atau tingkat kesempatan kerja.
2.3.2. Faktor Pembentuk Daya Saing Daerah
Bank Indonesia dan Universitas Padjajaran dalam penelitiannya menetapkan faktor- faktor pembentuk daya saing daerah yaitu:
1. Perekonomian daerah 2. Keterbukaan
3. Sistem Keuangan
4. Infrastruktur dan Sumber Daya Alam 5. Ilmu pengetahuan dan teknologi 6. Sumber Daya Manusia
7. Institusi, tata pemerintahan dan kebijakan pemerintah 8. Manajemen ekonomi mikro.
Sedangkan WEF menyebutkan ada beberapa faktor penting yang membentuk daya saing nasional antara lain: (1) institusi; (2) Infrastruktur; (3) Kondisi Makroekonomi; (4) Pendidikan dasar dan kesehatan; (5) Pendidikan tinggi dan pelatihan; (6) Efisiensi pasar barang; (7) Efisiensi pasar tenaga kerja; (8) Pembangunan pasar keuangan; (9) Ketersediaan teknologi; (10) Luas pasar; (11) Kemudahan berusaha; (12) Inovasi.
Sementara itu, Institute for Management Development menilai kemampuan daya saing negara didasarkan pada 4 faktor utama, yaitu: (1) Kinerja perekonomian, terdiri dari 83 kriteria yang mencakup ekonomi domestik, perdagangan internasional, investasi internasional, tenaga kerja dan harga.; (2) Efisiensi pemerintah, terdiri dari 70 kriteria yang mencakup keuangan publik, kebijakan fiskal, kerangka kerja institusional, peraturan perundangan dunia usaha dan kerangka kerja masyarakat. ; (3) Efisiensi dunia usaha, terdiri dari 71 kriteria yang mencakup produktivitas dan efisiensi, pasar tenaga kerja, keuangan, praktek manajemen, perilaku dan
30 | P a g e nilai-nilai. ; dan (4) Infrastruktur, terdiri dari 114 kriteria yang mencakup infrastruktur dasar, infrastruktur teknologi, infrastruktur ilmu pengetahuan, kesehatan, lingkungan dan pendidikan.
Dan European Commission memberikan penilaian daya saing daerah yang dirangkum dalam Regional Competitiveness Index (RCI) didasarkan pada 11 pilar, yaitu: (1) Institusi; (2) Stabilitas makroekonomi; (3) Infrastruktur; (4) Kesehatan; (5) Pendidikan dasar; (6) Pendidikan tinggi dan pendidikan seumur hidup; (7) Efisiensi pasar tenaga kerja; (8) Luas pasar; (9) Ketersediaan teknologi; (10) Kemudahan usaha; dan (11) Inovasi.
2.3.3. Faktor Penguat Daya Saing Daerah
Tingginya daya saing daerah di Indonesia secara keseluruhan menjadi ujung tombak daya saing nasional, yang akan menjadi faktor terpenting untuk Indonesia dalam bersaing di tingkat global. Berdasarkan penilaian World Economic Forum (WEF), selama periode 2012 – 2014, peringkat Indonesia dalam Global Competitiveness Index (GCI) terus mengalami peningkatan, meskipun posisi Indonesia masih berada di bawah posisi negara tetangga, sebagaimana digambarkan pada tabel di bawah ini:
Tabel 2.2 Peringkat Indonesia dalam Global Competitiveness Index (GCI)
No Negara
Peringkat Dunia 2012
(144 negara)
2013 (148 negara)
2014 (144 negara)
1 Singapura 2 2 2
2 Malaysia 25 24 20
3 Brunei Darussalam 28 26 Tidak
dilakukan peniliaian
4 Thailand 38 37 31
5 Indonesia 50 38 34
6 Vietnam 75 70 68
Menurut World Economic Index, terpuruknya daya saing disebabkan oleh beberapa faktor penting yang menonjol di antaranya:
a. Tidak kondusifnya kondisi ekonomi makro.
b. Buruknya kualitas kelembagaan publik dalam menjalankan fungsinya sebagai fasilitator dan pusat pelayanan.
31 | P a g e c. Lemahnya kebijakan pengembangan teknologi dalam memfasilitasi kebutuhan
peningkatan produktivitas.
d. Rendahnya efisiensi usaha pada tingkat operasional perusahaan.
e. Lemahnya iklim persaingan usaha.
Sementera itu, Institute for Management Development (IMD) juga menempatkan Indonesia jauh di bawah Singapura dan Malaysia dalam The World Competitiveness Yearbook yang diterbitkannya, sebagaimana terlihat pada tabel berikut ini:
Tabel 2.3 Peringkat Indonesia dalam The World Competitiveness Yearbook
No Negara
Peringkat Dunia 2012
(59 negara)
2013 (60 negara)
2014 (60 negara)
1 Singapura 4 5 3
2 Malaysia 14 15 12
3 Indonesia 42 39 37
Menurut catatan Institute for Management Development (IMD) bahwa rendahnya kondisi daya saing Indonesia, disebabkan oleh buruknya kinerja perekonomian nasional dalam 4 (empat) hal pokok, yaitu:
a. Buruknya kinerja perekonomian nasional yang tercermin dalam kinerjanya di perdagangan internasional, investasi, ketenagakerjaan dan stabilitas harga.
b. Buruknya efisiensi kelembagaan pemerintahan dalam mengembangkan kebijakan pengelolaan keuangan negara dan kebijakan fiskal, pengembangan berbagai peraturan dan perundangan untuk iklim usaha kondusif, lemahnya kordinasi akibat kerangka institusi publik yang masih banyak tumpang tindih dan kompleksitas struktur sosialnya.
c. Lemahnya efisiensi usaha dalam mendorong peningkatan produksi dan inovasi secara bertanggungjawab yang tercermin dari tingkat produktivitas yang rendah, pasar tenaga kerja yang belum optimal, akses ke sumberdaya keuangan yang masih rendah serta praktik dan nilai manajerial yang relatif belum profesional.
d. Keterbatasan di dalam infrastruktur, baik infrastruktur fisik, teknologi dan infrastruktur dasar yang berkaitan dengan kebutuhan masyarakat akan pendidikan dan kesehatan.
Dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Tahun 2013, peningkatan daya saing daerah merupakan salah satu komponen penting di dalam penguatan ekonomi domestik. Peningkatan perekonomian domestik, baik oleh daerah dan nasional akan menjadi modal utama untuk
32 | P a g e menjaga momentum pembangunan dan melakukan percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi untuk menuju ke arah transformasi ekonomi menjadi negara maju dan berdaya saing.
Oleh sebab itu, peran daerah untuk meningkatkan daya saing daerahnya akan sangat bergantung kepada kemampuan daerah untuk melakukan identifikasi faktor penentu daya saing dan strategi untuk meningkatkan daya saingnya.
2.4. Penelitian yang Telah Dilakukan
Terdapat beberapa penelitian yang telah dilakukan oleh institusi baik nasional maupun internasional untuk mengetahui daya saing daerah atau negara, di antaranya:
1. Pusat Pendidikan dan Studi Kebanksentralan (PPSK) Bank Indonesia bekerja sama dengan Laboratorium Penelitian, Pengabdian pada Masyarakat dan Pengkajian Ekonomi (LP3E) Fakultas Ekonomi Universitas Padjajaran (2007).
Penelitian ini dilakukan untuk memberikan gambaran profil dan pemetaan daya saing ekonomi daerah kabupaten/kota di Indonesia pada tahun 2005. Potret profil daya saing daerah menunjukkan posisi relatif suatu daerah terhadap daerah lainnya dengan memperhatikan semua faktor-faktor pembentuk daya saing yang dimilikinya serta seberapa jauh daerah tersebut dapat merealisasikan potensi dari faktor-faktor tersebut.
Sedangkan pemetaan daya saing daerah dibagi ke dalam tiga pemetaan utama, yaitu:
1. Pemetaan daya saing daerah secara keseluruhan,
2. Pemetaan daya saing daerah berdasarkan indikator input, dan 3. Pemetaan daya saing daerah berdasarkan output.
Semua hasil pemetaan disajikan dalam bentuk persentile peringkat daya saing daerah.
Hasil utama dari penelitian tersebut adalah peringkat daya saing daerah dan neraca daya saing daerah untuk setiap kabupaten/kota di Indonesia. Hasil pemetaan daya saing daerah secara keseluruhan menempatkan 5 peringkat teratas daya saing daerah, yaitu Kota Bontang (Kalimantan Timur), Kab. Mimika (Papua), Kab. Kutai Timur (Kalimantan Timur), Kota Kediri (Jawa Timur) dan Kab. Siak (Riau).
2. World Economic Forum (WEF) setiap tahunnya mempublikasikan Global Competitiveness Report yang menggambarkan secara menyeluruh kinerja ekonomi negara-negara di dunia. Selain itu WEF juga menyusun Global Competitiveness Index (GCI) sebagi tolok ukur kinerja makroekonomi dan mikroekonomi daya saing suatu negara. Global Competitiveness Index memberikan penjelasan secara menyeluruh tentang
33 | P a g e faktor-faktor yang dianggap penting dalam mendorong produktivitas dan daya saing negara.
Faktor-faktor tersebut tidak dapat berdiri sendiri membentuk daya saing negara tetapi memiliki keterkaitan dan memperkuat satu dengan yang lainnya. Kelemahan satu faktor akan berdampak negatif terhadap faktor lainnya. Misalnya kekuatan kemampuan berinovasi akan sulit dicapai tanpa adanya faktor kesehatan dan pendidikan dan pelatihan tenaga kerja yang baik akan menyerap teknologi yang mutakhir. Meskipun faktor-faktor tersebut merupakan satu kesatuan yang membentuk indeks daya saing negara, namun GCI tetap memberikan penilaian secara detail masing-masing faktor tersebut agar negara dapat mengetahui faktor mana yang masih perlu dikembangkan.
3. Institute for Management Development (IMD) setiap tahunnya juga menerbitkan The World Competitiveness Yearbook yang menyajikan hasil pemeringkatan dan analisa atas kemampuan negara dalam menciptakan dan menjaga kemampuan daya saingnya.
Penyusunan ranking dimulai dengan penghitungan standar nilai untuk setiap masing- masing kriteria seluruh negara. dengan menggunakan data-data yang tersedia baik data kuantitatif maupun data kualitatif. Kemudian dibuat ranking negara berdasarkan agregasi kriteria yang terpilih. Kriteria yang tidak digunakan sebagai dasar penyusunan ranking, dijadikan sebagai informasi yang dapat menguatkan penilaian ranking. Pemeringkatan tidak hanya dibuat untuk peringkat negara, tetapi juga peringkat masing-masing kriteria.
Misalnya, kriteria Produk Domestik Bruto, negara yang memiliki standar nilai tertinggi akan berada pada ranking pertama, sedangkan yang memiliki standar rendah berada pada ranking terbawah.
4. European Commission mempublikasikan European Competitiveness Index (2013) tentang pemeringkatan daya saing yang mengukur, membandingkan dan meneliti daya saing bukan saja hanya antar negara, tetapi juga antar daerah di negara-negara Uni Eropa.
Pemeringkatan didasarkan pada sebelas pilar yang menggambarkan faktor input dan output dari daya saing teritorial yang diklasifikasikan ke dalam 3 kelompok utama pembentuk daya saing, yaitu: (1) Dasar; (2) Efisiensi; dan (3) Inovasi. Indikator-indikator yang digunakan untuk menyusun RCI dipilih dari Eurostat yang bersumber dari World Economi Forum, OECD-PISA and Regpat, the European Cluster Observatory, the World Bank Ease and Doing Business Index and Governance Indicator. Terdapat 73 indikator dari 80 indikator yang terpilih dari hasil uji statistik dengan menggunakan analisis
34 | P a g e multivariat. Kemudian skor dihitung dari masing-masing pilar berdasarkan rata-rata sederhana dari z-score standar dan atau/ indikator yang ditransformasi. Sedangkan sub- indeks (3 kelompok utama, yaitu dasar, efisiensi dan invoasi) dihitung berdasarkan rata- rata aritmatika dari skor pilarnya. Keseluruhan skor RCI dihitung dari agregasi tertimbang ketiga sub indeks tersebut berdasarkan pendekatan WEF-GCI.
35 | P a g e 3. METODE PENELITIAN
3.1. Identifikasi dan Klasifikasi Variabel
Variabel dalam kajian/penelitian ini dipetakan berdasarkan sasaran strategis yang ingin dicapai dalam membangun daya saing daerah. Selanjutnya diklasifikasikan dalam bentuk model logika input-output, yaitu faktor input dan faktor output pembentuk daya saing daerah. Dengan demikian, kedua faktor tersebut merupakan refleksi dari sasaran strategis yang ingin dicapai dalam membangun daya saing daerah, atau dikatakan sebagai indikator kinerja daya saing daerah. Indikator kinerja didefinisikan secara rinci dan dinyatakan dalam data kontinyu dan data diskrit yang ditransformasikan menjadi data kontinyu. Kumpulan beberapa indikator kinerja menurut masing-masing sasaran strategis kemudian dirumuskan dan disusun secara komposit dengan bobot tertentu yang diperoleh berdasarkan persepsi responden pemerintah daerah atas prioritas sasaran strategis. Hasil pengukuran daya saing daerah tersebut berupa indeks daya saing daerah sebagaimana disajikan pada gambar berikut ini.
Gambar 3.1 Alur Proses Penghitungan Indeks Daya Saing Daerah
Lingkup kajian ini adalah untuk mengetahui faktor dominan yang menguatkan daya saing daerah. Hubungan antara faktor dominan dengan indeks daya saing daerah akan menunjukkan seberapa besar pengaruh dari masing-masing faktor dominan terhadap besarnya
Data Persepsi
Data Primer Dummy variable Data Primer
Skala Likert
Bobot masing2 Variabel
Konversi dgn MSI
Data sekunder
dr BPS
Peng- Indeks an
Peng- Indeks an
Peng- Indeks an
Pembobot an
Indeks Komposit Daya Saing Kuesioner
36 | P a g e daya saing daerah. Faktor dominan yang dipilih sebagai fokus analisa adalah faktor-faktor pembentuk input dan output yang terpilih secara statistika dalam suatu model indeks daya saing yang dapat menjelaskan hubungan faktor pembentuk input dan output dengan indeks daya saing yang memberikan kontribusi yang paling besar.
Disamping itu dilakukan analisa terhadap faktor penguat daya saing, dalam hal ini dipilih sembilan belanja APBD menurut fungsi. Faktor tersebut dipilih dengan pertimbangan bahwa APBD atau Budget memiliki salah satu fungsi yaitu fungsi alokasi. Keselarasan antara perencanaan, dideskripsikan dengan bobot prioritas sasaran strategis dalam menghitung indeks daya saing daerah, dengan diskresi pemerintah daerah dalam mengarahkan sumber daya yang ada akan terlihat jelas.
Gambar 3.2 Hubungan Belanja Menurut Fungsi Layanan dengan Daya Saing
Target Input
Belanja Fungsi A
Belanja Fungsi B
Belanja Fungsi C
Belanja Fungsi D Belanja
Fungsi A
Belanja Fungsi B
Belanja Fungsi C
Belanja Fungsi D
Target Output
Input
Output
Indeks
Daya Saing Indeks
Daya Saing