• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR ISI DAFTAR ISI... 1 KATA PENGANTAR... 3 RINGKASAN EKSEKUTIF... 4 DAFTAR GAMBAR... 8 DAFTAR TABEL... 9

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "DAFTAR ISI DAFTAR ISI... 1 KATA PENGANTAR... 3 RINGKASAN EKSEKUTIF... 4 DAFTAR GAMBAR... 8 DAFTAR TABEL... 9"

Copied!
112
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

DITERBITKAN OLEH :

DIREKTORAT JENDERAL KERJA SAMA PERDAGANGAN INTERNASIONAL DITJEN KPI / LB / 80 / VIII / 2011

(3)

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI....………...………... 1 KATA PENGANTAR... 3 RINGKASAN EKSEKUTIF...………...………... 4 DAFTAR GAMBAR... 8 DAFTAR TABEL... 9 BAB I KINERJA…………....……... 10

A. Peningkatan Kerja Sama dan Perundingan Multilateral... 10

1. Regional Review Meeting on Aid for Trade-Asia Pacific... 10

2. Sidang Komite Technical Barriers to Trade... 11

B. Peningkatan Kerja Sama dan Perundingan ASEAN ….……….………….. 12

1. Pertemuan ke-3 ASEAN-Australia-New Zealand Free Trade Area Joint Committee (FJC).……… 12

2. Pertemuan ke-5 ASEAN-Japan Comprehensive Economic Partnership Joint Committee (AJCEP-JC)... 18

3. Pertemuan ke-38 ASEAN China Trade Negotiating Committee (AC-TNC)... 23

4. Pertemuan ke-5 ASEAN-Korea FTA Implementing Committee (AKFTA-IC) dan Pertemuan Terkait Lainnya... 27

5. Pertemuan the 28th ASEAN Small Medium Enterprise Working Group (SMEWG) and Other Related Meetings………. 33

6. Pertemuan the 3rd Senior Economic Official Meeting for the Forty-Second ASEAN Economic Ministers Meeting (SEOM 3/42) and Other Related Meetings... 38

C. Peningkatan Kerja Sama dan Perundingan APEC dan Organisasi Internasional Lainnya... 50

1. World Economic Forum on East Asia(WEF on EA)………... 50

2. St. Petersburg International Economic Forum (SPIEF) ke-15... 60

D. Peningkatan Kerja Sama dan Perundingan Bilateral... 63

1. Pertemuan Keempat Joint Experts Group Pan Beibu Gulf Economic Cooperation……… 63

2. The 2nd Round of Negotiation Indonesia-EFTA Comprehensive Partnership Agreement (IE-CEPA)……… 65

3. Pertemuan Trade Negotiating Committee (TNC) ke-7 Indonesia – Pakistan………. 72

4. Pertemuan Joint Border Committee RI – Papua New Guinea ke-28... 76

(4)

6. Diseminasi Rekomendasi Vision Group Indonesia-Uni Eropa dan

Pertemuan ke-4 Working Group on Trade and Investment (WGTI)

Indonesia-Uni Eropa... 83

E. Peningkatan Kerja Sama Perdagangan Jasa... 88

1. ASEAN-Japan Comprehensive Economic Partnership Sub Committee on Services ke-4……… 88

2. Pertemuan Perundingan ke-2 Working Group Trade in Services Indonesia EFTA-Cooperation Economic Partnership Agreement…….. 90

3. Committee on Trade in Financial Services (CTFS) – WTO……… 93

4. Pertemuan Trade and Development Commission, Third Session, UNCTAD………. 95

5. Sidang Working Party on Domestic Regulations……… 98

6. Sidang Working Party on GATS Rules (WPGR)……… 99

7. Sidang Council for Trade in Services (CTS)………. 101

BAB II PERMASALAHAN DAN TINDAK LANJUT...………... 105

A. Kendala dan Permasalahan….………... 105

B. Tindak Lanjut Penyelesaian…..……….. 107

(5)

KATA PENGANTAR

Laporan Bulanan Direktorat Jenderal Kerja Sama Perdagangan Internasional merupakan uraian pelaksanaan kegiatan dari tugas dan fungsi Direktorat-direktorat dan Sekretariat di lingkungan Direktorat Jenderal Kerja Sama Perdagangan Internasional, yang terdiri dari rangkuman pertemuan, sidang dan kerja sama di fora kerja sama Multilateral, ASEAN, APEC dan organisasi internasional lainnya, Bilateral serta Perundingan Perdagangan Jasa setiap bulan baik di dalam maupun di luar negeri.

Adapun maksud dan tujuan dari penyusunan laporan bulanan ini adalah untuk memberikan masukan dan informasi kepada unit-unit terkait Kementerian Perdagangan, dan sebagai wahana koordinasi dalam melaksanakan tugas lebih lanjut. Selain itu, kami harapkan Laporan Bulanan Direktorat Jenderal Kerja Sama Perdagangan Internasional ini, dapat memberikan gambaran yang jelas dan lebih rinci mengenai kinerja operasional Direktorat Jenderal Kerja Sama Perdagangan Internasional.

Akhir kata kami menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu sejak penyusunan hingga penerbitan laporan bulanan ini.

Terima kasih.

Jakarta, Juni 2011 DIREKTORAT JENDERAL KPI

(6)

RINGKASAN EKSEKUTIF

Beberapa kegiatan penting yang telah dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal Kerja Sama Perdagangan Internasional pada bulan Juni 2011, antara lain:

Regional Review Meeting on Aid for Trade-Asia Pacific

Pertemuan ini bertujuan untuk mengambil pelajaran dan membagi pengalaman positif

dari skema aid for trade sebagai complementary Doha Development Agenda terhadap

liberalisasi perdagangan dan pertumbuhan ekonomi khususnya negara-negara Asia Pasifik, efektivitasnya saat ini, dan tantangannya di masa yang akan datang.

Sidang Komite Technical Barriers to Trade

Tanggapan-tanggapan yang disampaikan dalam sidang adalah: (i) Specific Trade

Concern yang disampaikan oleh Uni Eropa, Korea Selatan, Jepang; (ii) Peraturan

Australia mengenai Tobacco Plain Packaging Bill 2011; dan (iii) Peraturan EU mengenai

EU Renewable Energy Directive.

Pertemuan ke-3 ASEAN-Australia-New Zealand Free Trade Area Joint Committee

(FJC)

Pembahasan di tingkat FTA Joint Committee mencakup hal-hal yang bersifat umum

(recent economic and economic policy development), selain membahas laporan badan-badan bawahannya dan mengambil keputusan atas hal-hal yang tidak dapat

diputuskan di tingkat committee atau karena sifatnya harus diputuskan pada tingkat

FTA Joint Committee.

Pertemuan ke-5 ASEAN-Japan Comprehensive Economic Partnership Joint Committee

(AJCEP-JC)

Pertemuan ASEAN-Japan Comprehensive Economic Partnership Joint Committee

(AJCEP-JC) antara lain membahas: (i) Implementasi AJCEP; (ii) Adendum Notifikasi

AJCEP di WTO; (iii) Rencana pertemuan ke-1 Sub-Committee of Sanitary and

Phytosanitary (SC-SPS) dan Sub-Committee of Standards, Technical Regulations, and Conformity Assessment Procedures (SC-STRACAP); (iv) Guidelines Kerja Sama Ekonomi AJCEP; dan (v) Status Negosiasi Jasa dan Investasi.

Pertemuan ke-38 ASEAN China Trade Negotiating Committee (AC-TNC)

Pertemuan ASEAN China Trade Negotiating Committee (AC-TNC) antara lain

membahas: (i) Perdagangan Barang; (ii) Perdagangan Jasa; (iii) Kerja sama Ekonomi;

(iv) Working GroupSanitary and Phytosanitay (SPS); dan (v) Working GroupTechnical

(7)

Pertemuan ke-5 ASEAN-Korea FTA Implementing Committee (AKFTA-IC) dan Pertemuan Terkait Lainnya

Pembahasan dalam Pertemuan ke-5 AKFTA-IC difokuskan pada: (i) Tindak Lanjut

SEOM-ROK Consultation; (ii) Notifikasi AKFTA di World Trade Organisation (WTO); (iii)

Implementasi Protocol to Amend ASEAN–Korea Trade in Goods (AKTIG) Agreement to

Incorporate Lao PDR HSL-E List; (iv) Laporan Akhir Joint Impact Study AKTIG; (v)

Penyelesaian Penyusunan Second Protocol to Amend the AKTIG Agreement; dan (vi)

Pembahasan hasil dari AKSTROO dan WGEC.

Pertemuan the 28th ASEAN Small Medium Enterprise Working Group (SMEWG) and Other Related Meetings

Pertemuan terdiri dari empat rangkaian yakni: (i) the 28th SMEWG Meeting; (ii) the 1st

ASEAN SME Advisory Council; (iii) the 1st Expert Panel on SME Access to Finance Meeting; dan (iv) 9th Joint Consultation between ASEAN SMEWG–ASEAN Plus Three Countries dan 8th Joint Consultation between SMEWG–Japan.

Pertemuan the 3rd Senior Economic Official Meeting for the Forty-Second ASEAN Economic Ministers Meeting (SEOM 3/42) and Other Related Meetings

Pertemuan SEOM 3/42 antara lain membahas isu internal ASEAN dan persiapan pertemuan SEOM dengan Mitra Dialognya pada tanggal 24-26 Juni 2011. Di sela-sela

pertemuan juga berlangsung pertemuan ASEAN Plus Working Group on Economic

Cooperation.

World Economic Forum on East Asia(WEF on EA)

WEF on EA ke-20 yang bertema “Responding to the New Globalism” dihadiri oleh 624 partisipan dari 40 negara yang mewakili lembaga pemerintah, industri, pengambil kebijakan regional dan global, dan pimpinan lembaga nirlaba serta akademisi. Tujuan

WEF on EA adalah untuk meningkatkan kegiatan ekonomi dan investasi suatu negara di dunia dengan melibatkan dunia bisnis, politik, akademisi, dan para pemimpin kelompok masyarakat untuk menyusun agenda industri secara regional dan global. St. Petersburg International Economic Forum (SPIEF) ke-15

Topik St. Petersburg International Economic Forum (SPIEF) ke-15 tahun ini adalah

Emerging Leadership for a New Era dengan tiga subtopik pembahasan yaitu: (i)

Securing Global Growth; (ii) Building Russia's Creative Capital; dan (iii) Expanding Technology Horizons.

Pertemuan Keempat Joint Experts Group Pan Beibu Gulf Economic Cooperation

Tujuan pertemuan antara lain: (i) Memfinalisasikan Feasibility Study Report on Pan

Beibu Gulf Economic Cooperation; (ii) Membahas draft Letter to SEOM-MOFCOM (China) Consultation from the JEG on PBGEC; dan (iii) Membahas draft Follow up Action Proposals by the JEG on PBGEC.

(8)

The 2nd Round of Negotiation Indonesia-EFTA Comprehensive Partnership Agreement (IE-CEPA)

Perundingan ini merupakan kerja sama ekonomi bilateral antara Indonesia dengan

EFTA yang mencakup 8 bidang atau kelompok perundingan, yaitu: Trade in goods,

Trade in Services; Investment; Rules of Origin and Custom Procedures; Government Procurement; Intellectual Property Rights (IPR); Cooperation and Capacity Building;dan

General Provisions. Pada perundingan tersebut juga telah dilaksanakan konsultasi

dengan pihak EFTA dalam bidang Sustainable Development, Competition, dan Trade

Remedies.

Pertemuan Trade Negotiating Committee (TNC) ke-7 Indonesia – Pakistan

Delegasi RI menghadiri Pertemuan TNC ke – 7 dengan membawa proposal baru guna

memecah kebuntuan pembahasan request list of products dan sekaligus

menyelesaikan perundingan Preferential Trade Agreement (PTA) dengan Pakistan.

Menanggapi posisi final dari Indonesia, Pakistan tetap pada prinsip “proportionality

dan equitable reciprocity” dan belum dapat menerima posisi final Indonesia. Dengan tidak fleksibelnya posisi Pakistan maka perundingan diputuskan untuk ditunda.

Pertemuan Joint Border Committee RI – Papua New Guinea ke-28

JBC RI – PNG ke 28 dibagi ke dalam 2 sesi pertemuan yakni plennary dan working

group/subsidiary organs. Working group/subsidiary organs dalam JBC RI – PNG terdiri

atas: (i) Border Liaisons Meeting; (ii) Joint Sub Committee on Security Matters relating

to Border Areas; (iii) Joint Sub Committee on Survey and Demarcation of the Boundary and Mapping of the Border Areas (JTSC-SDM); (iv) Sub Committee on Communication;

dan (v) Joint Sub Committee on Trade and Investment along the Border Areas.

Kunjungan Menteri Perdagangan ke RRT

Agenda yang dilakukan selama kunjungan tersebut adalah para Menteri beserta

delegasi melakukan pertemuan bilateral dengan Minister of Commerce dan Vice

Minister of Finance RRT; kunjungan kehormatan kepada Perdana Menteri RRT, dan

business gathering dengan CEO dari perusahaan RRT dan Indonesia.

Diseminasi Rekomendasi Vision Group Indonesia-Uni Eropa dan Pertemuan ke-4

Working Group on Trade and Investment (WGTI) Indonesia-Uni Eropa

Diseminasi ini bertujuan untuk memberikan informasi dan memperoleh masukan serta

dukungan dari seluruh stakeholder Uni Eropa dalam rangka pembentukan kerja sama

kemitraan yang komprehensif antara Indonesia-UE.

ASEAN-Japan Comprehensive Economic Partnership Sub Committee on Services ke-4

Agar pembahasan berjalan seimbang ASEAN sepakat untuk menyampaikan Draft Text

on Trade in Services versi ASEAN pada saat pertemuan AJCEP SCS ke-4. Draft Text on Trade in Services proposal dari ASEAN untuk perundingan AJCEP SCS didasarkan pada

(9)

Pertemuan Perundingan ke-2 Working Group Trade in Services Indonesia EFTA-Cooperation Economic Partnership Agreement

Pertemuan membahas hal-hal terkait dengan follow up bahasan dari perundingan

putaran pertama, draft chapter text on trade in services, serta membahas annexes

mengenai Telecomunication, Financial Services, dan Movement Natural Person.

Committee on Trade in Financial Services (CTFS) - WTO

Agenda utama Sidang CTFS adalah pembahasan mengenai Trade in Financial Services and

Development; Technical Issues: Classification Issues, Acceptance of the Fifth Protocol to the general Agreement on Trade in Services embodying the results of the Financial Services Negotiation.

Pertemuan Trade and Development Commission, Third Session, UNCTAD

Isu-isu yang dibahas yakni: (i) Laporan Pertemuan Para Ahli yang membahas

Commodities and Development, Services, Development and Trade, International Cooperation, dan Transport and Trade Facilitation; (ii) Pembahasan Isu: Assessing the evolution of the intemasional trading system and enhancing its contribution to development and economic recovery; (iii) Pembahasan Isu: Integration of developing countries in global supply chains including through adding value to their exports; dan

(iv) Laporan terkait Promoting and Strengthening synergies among three pillars.

Sidang Working Party on Domestic Regulations

Agenda utama sidang adalah membahas kelanjutan perundingan isu Domestic

Regulations (DR), khususnya terkait dengan kenyataan mandeknya perundingan Putaran Doha saat ini.

Sidang Working Party on GATS Rules (WPGR)

Agenda utama Sidang adalah membahas kelanjutan (way forward) dari perundingan

isu-isu yang dibahas di WPGR, yaitu: Emergency Safeguard Measures (ESM),

Government Procurement (GP), dan Subsidi.

Sidang Council for Trade in Services (CTS)

Agenda utama Sidang CTS antara lain adalah: Notifications Pursuant to Articles III:3

(Komunikasi dari Togo, S/C/N/580-593) dan Notifications Pursuant to articles V:7

(Komunikasi dari Korea Selatan dan ASEAN, S/C/N/559/ADD.1 dan S/C/N560/ADD.1);

Sectoral and Modal Discussions, Dedicated Discussion on International Mobile Roaming; Work Programme on Electronic Commerce.

(10)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 Regional Review Meeting on Aid for Trade-Asia

Pacific... 10

Gambar 2 Pembukaan World Economic Forum on East Asia …... 50

Gambar 3 Panelis dalam Acara World Economic Forum on East Asia ……… 60

Gambar 4 St. Petersburg International Economic Forum ke-15... 61

Gambar 5 Trade Negotiating Committee ke-7Indonesia-Pakistan... 73

(11)

DAFTAR TABEL

(12)

BAB I

KINERJA

A. Peningkatan Kerja Sama dan Perundingan Multilateral

1. Regional Review Meeting on Aid for Trade-Asia Pacific

Regional Review Meeting on Aid for Trade-Asia Pacific

berlangsung pada tanggal 14 Juni 2011. Pertemuan ini bertujuan untuk mengambil pelajaran dan membagi

pengalaman positif dari skema aid for trade sebagai

complementary Doha Development Agenda terhadap liberalisasi perdagangan dan pertumbuhan ekonomi khususnya negara-negara Asia Pasifik, efektivitasnya saat ini dan tantangannya di masa yang akan datang.

Laporan dan rekomendasi dari pertemuan ini akan dibawa

dalam Global Review Meeting Committee on Trade and

Development-WTO pada tanggal 18-19 Juli di Jenewa.

Pertemuan ini dibuka oleh opening speech dari Menteri

Perdagangan Republik Indonesia. Dalam opening speech

tersebut, Ibu Mendag menyampaikan antara lain bahwa

Aid for Trade adalah merupakan pelengkap dalam Doha Development Agenda (DDA) dan sangat diharapkan agar

skema aid for trade ini efektif dalam mengatasi kebuntuan

dalam perundingan Doha Development Agenda.

Gambar 1. Regional Review Meeting on Aid for Trade-Asia Pacific

Peran Penting Wilayah Asia Pasifik

Pada kesempatan tersebut Direktur Jenderal WTO, juga memberikan pidato antara lain menyampaikan bahwa wilayah Asia Pasifik memiliki peran yang penting dalam kerangka pertumbuhan dan pemulihan ekonomi di mana

(13)

pembangunan. Selain itu, Direktur Jenderal WTO juga menyampaikan bahwa evaluasi dan pengujian terhadap

dampak dari skema aid for trade penting untuk dilakukan

agar bisa dilihat keterkaitannya dengan penurunan kemiskinan dan pembangunan.

Tantangan Pengurangan Kemiskinan

Presiden dari Asian Development Bank (ADB), juga

menyampaikan pidato yang antara lain menekankan tantangan untuk terus mengurangi kemiskinan dengan salah satu caranya yaitu memperkuat dan memperluas

supply chain dan jaringan kerja sama produksi yang menawarkan cara untuk mengintegrasikan negara maju dan negara berkembang. Presiden ADB juga menyatakan

kesiapan ADB untuk secara konsisten mendukung aid for

trade untuk wilayah Asia Pasifik. Pertemuan kemudian dilanjutkan dengan sesi presentasi dari para pembicara. Pertemuan ditutup dengan kesimpulan dan rekomendasi sebagai berikut:

1) Indonesia berpandangan bahwa DDA memang harus

conclude dan early harvest bagi Least Developing Countries (LDCs), hal ini harus dilengkapi dengan Aid for Trade yang bukan saja ditujukan untuk LDCs tapi juga untuk negara berkembang lainnya;

2) Pentingnya Kemitraan sebagai salah satu strategi untuk meningkatkan perdagangan;

3) Meningkatkan perdagangan dapat berarti meningkatkan teknologi dan kesempatan kerja;

4) WTO memberikan kontribusi besar bagi negara-negara berkembang karena membuat perdagangan menjadi lebih mudah;

5) Diperlukannya koordinasi dan kerja sama swasta antara pemerintah dan swasta juga dengan pemerintah untuk

mengelola aid for trade agar lebih efektif sebagai salah

satu cara untuk mengembangkan perdagangan; dan

6) Evaluasi dan pengujian terhadap dampak dari skema aid

for trade penting untuk dilakukan agar bisa dilihat keterkaitannya dengan penurunan kemiskinan dan pembangunan.

2. Sidang Komite Technical Barriers to Trade

Sidang Komite TBT dilaksanakan pada tanggal 15-16 Juni 2011, di WTO Jenewa, Swiss. Adapun tanggapan-tanggapan yang disampaikan adalah sebagai berikut:

(14)

1) Memberikan tanggapan atas Specific Trade Concerns

(STC) yang disampaikan oleh The European Union (EU)

terkait Kewajiban Pencantuman Label pada Barang;

2) Memberikan tanggapan atas Specific Trade Concern

yang disampaikan Korea terhadap notifikasi Indonesia mengenai Rancangan Peraturan Menteri Perindustrian tentang Pemberlakuan Standar Nasional (SNI) Baja Lembaran Elektrolisis Lapis Seng (BjLTE) secara wajib

(G/TBT/N/IDN/46) melalui bilateral meeting dan sidang;

3) Memberikan tanggapan atas trade concern yang

disampaikan oleh Jepang terhadap notifikasi Indonesia mengenai Rancangan Peraturan Menteri Perindustrian tentang Pemberlakuan Standar Nasional (SNI) Baja Lembaran dan Gulungan Canai Dingin (BjD) secara wajib (G/TBT/N/IDN/33) dan produk baja lain melalui bilateral meeting;

4) Memberikan tanggapan terhadap peraturan Australia

mengenai Tobacco Plain Packaging Bill 2011

(G/TBT/N/AUS/67);

5) Memberikan tanggapan terhadap peraturan EU

mengenai EU Renewable Energy Directive (EU-RED);

6) Memantau Specific Trade Concern atas notifikasi dari EU

tentang Directive 67/548 ATP (Adoption of Technical

Progress) ke-31 dan CLP 1 tentang pengklasifikasian

nickel compounds;

7) Memantau Specific Trade Concern atas notifikasi dari EU

tentang Regulation on the Registration, Evaluation, and

Authorization of Chemicals (REACH); dan

8) Memantau Brazil Draft Resolution No. 112, November

29, tahun 2010 mengenai Maximum levels of tar, nicotin

and carbonmonoxide permitted on tobacco products and prohibition on additives (G/TBT/N/BRA/407).

B. Peningkatan Kerja Sama dan Perundingan ASEAN

1. Pertemuan ke-3 ASEAN-Australia-New Zealand Free Trade Area Joint Committee

(FJC)

Pertemuan ke-3 AANZ FTA Joint Committee (FJC)

dilaksanakan di Wellington, New Zealand pada tanggal 30 Mei – 2 Juni 2011. Pertemuan dihadiri oleh wakil seluruh negara anggota ASEAN, Australia, New Zealand, dan Sekretariat ASEAN.

(15)

Pertemuan FTA Joint Committee

Pembahasan di tingkat FJC mencakup hal-hal yang bersifat

umum (recent economic and economic policy

development), selain membahas laporan badan-badan bawahannya dan mengambil keputusan atas hal-hal yang

tidak dapat diputuskan di tingkat committee atau karena

sifatnya harus diputuskan pada tingkat FJC.

Kerja Sama di Bidang Investasi

Khusus untuk kerja sama di bidang investasi yang dibahas

dalam Committee on Investment, FJC memutuskan untuk

memperbolehkan negara anggota yang berminat untuk

memanfaatkan dana Economic Cooperation Work

Programme untuk mengikuti OECD Investment Policy Review maupun untuk menerapkan rekomendasi dari hasil

review dimaksud, dengan catatan bahwa kegiatan ini bersifat sukarela dan tidak ada keharusan baik untuk

mengikuti review maupun untuk mengimplementasikan

rekomendasi dari proses review dimaksud.

Kerja Sama di Bidang Jasa

Untuk bidang services, FJC menggarisbawahi mandat dari

Chapter 8 AANZFTA bagi dilakukannya review of commitments selambatnya tiga tahun sejak AANZFTA berlaku efektif tanggal 1 Januari 2010. Untuk itu, FJC

sepakat bahwa Committee on Services akan diaktivasikan

pada semester kedua tahun 2012. Untuk memfasilitasi aktivasi ini setiap negara anggota diminta menyampaikan

dan meng-updatecontact point masing-masing, sementara

kegiatan capacity building tetap dapat diusulkan dan

dilaksanakan. Secara khusus ASEAN menyatakan minatnya untuk meningkatkan kapasitas dalam mengumpulkan dan menyusun data statistik perdagangan bidang jasa, sedangkan Australia mengusulkan proyek lanjutan

mengenai National Qualifications Framework.

Project Management Guide and Template

dan Strategic Approach to Economic

Cooperation

FJC selanjutnya juga membahas Economic Cooperation

Work Programme (ECWP) Project Management Guide and Template, dan Strategic Approach to Economic Cooperation. Kedua dokumen ini disahkan oleh FJC dan

akan dilaporkan kepada AEM-CER Consultations pada

bulan Agustus 2011. Kedua dokumen ini memiliki arti

penting untuk menuntun dan mengelola economic

cooperation fund yang mencapai total AUS$ 20 juta untuk dimanfaatkan hingga tahun 2015.

Pertemuan ke-2 Committee on Trade in Goods (CTG)

Salah satu agenda yang dibahas oleh Committee on Trade

(16)

ditawarkan oleh AANZFTA. Pertemuan mencatat laporan dari Delegasi Australia bahwa meski baru berlangsung setahun di antara ASEAN7, Australia, dan New Zealand, perjanjian ini telah mulai dimanfaatkan dengan baik, terutama untuk ekspor ASEAN7 ke Australia. Statistik Australia menunjukkan bahwa impor dari ASEAN7 yang

membayar tarif Most Favourable Nations pada tahun 2010

mengalami penurunan dibanding tahun 2009 kecuali untuk Myanmar, seperti tabel di bawah ini. Kamboja dan Laos belum terangkum dalam statistik ini karena baru mengimplementasikan AANZFTA pada bulan Januari 2011; demikian pula dengan Indonesia, belum tercatat dalam statistik di bawah ini karena belum mengimplementasikan AANZFTA.

Tabel 1 Utilisasi Tarif Preferensi

Country

Proportion of Import into Australia Paying MFN Tariffs 2009 (%)

Proportion of Import into Australia Paying MFN Tariffs 2010 (%) Brunei 0.06 0.04 Malaysia 10.07 5.24 Myanmar 0.29 1.91 Philippines 30.93 15.56 Singapore 3.53 2.96 Thailand 3.05 2.19 Viet Nam 10.73 6.66 AANZFTA-7 5.69 3.71 Monitoring Utilisasi AANZFTA

Hal lain yang dicatat oleh Committee on Trade in Goods

(CTG) adalah bahwa ASEAN telah menggantikan posisi Uni Eropa sebagai sumber utama kedua impor New Zealand pada tahun 2010 setelah China. Sementara itu, Australia

juga mencatatkan tren serupa meskipun ASEAN belum

menggantikan posisi Uni Eropa karena importir Australia masih terikat kontrak jangka menengah dan panjang dengan eksportir di luar ASEAN. Seluruh pihak sepakat bahwa monitoring utilisasi AANZFTA ini perlu ditingkatkan

dan melibatkan tidak hanya issuing authorities tetapi juga

receiving authorities untuk menjamin akurasi data. Dalam

kaitan ini, CTG didukung AANZFTA Support Unit yang

berada di Sekretariat ASEAN akan menyusun template bagi

pertukaran data dan informasi, serta mempersiapkan dua

workshop untuk membahas teknik pengumpulan data serta analisis dan presentasi data.

Review of Non-Tariff Measures

Pertemuan CTG juga membahas program kerja review of

non-tariff measures (NTMs) yang merupakan built-in agenda di dalam AANZFTA. Tujuan dari program kerja ini adalah untuk meningkatkan transparansi mengenai NTMs yang diberlakukan oleh masing-masing pihak, dan tidak untuk mempertanyakan keabsahan NTMs yang dilaporkan.

(17)

Seluruh anggota sepakat untuk segera menginformasikan NTMs masing-masing, termasuk yang telah dinotifikasikan

ke WTO, dan/atau menginformasikan alamat website di

mana berbagai ketentuan NTMs dapat diakses. Selain itu

disepakati pula bahwa pada tahap awal review, perhatian

akan difokuskan pada: (i) quantitative import restrictions;

(ii) import licensing and associated administrative

arrangements and fees; dan (iii) excise tax regimes and other internal tax regimes that are applied in a way that affect the competitive relationship between domestically produced goods and imported goods.

Transposisi Tarif CTG juga membahas transposisi jadwal

penurunan/penghapusan tarif dari HS 2007 ke HS 2012. Pertemuan mencatat bahwa ASEAN masih harus

menyelesaikan transposisi internal ASEAN Harmonized

Tariff Nomenclature 2012 dan masing-masing negara ASEAN masih perlu melakukan transposisi tarif MFN ke tingkat nasionalnya (8, 9, atau 10 digit). Dengan demikian, transposisi tarif AANZFTA diperkirakan baru selesai seluruhnya pada pertengahan 2012, kecuali untuk Australia, New Zealand, Brunei, dan Singapura yang akan menerapkan HS 2012 mulai 1 Januari 2012. Pertemuan sepakat agar semua anggota menempuh langkah-langkah yang diperlukan agar transposisi ini dapat diselesaikan secepatnya, dan bahwa hasil transposisi tarif AANZFTA akan melalui verifikasi teknis sebelum berlaku efektif. Sub-Committee on SPS CTG juga melakukan pembahasan atas hasil-hasil

pertemuan sub-committees yang berada di bawahnya,

yakni Sub-Committee on SPS (SC-SPS) dan Sub-Committee

on ROO (SC-ROO). Untuk SC-SPS, pertemuan di Wellington ini merupakan yang pertama dan mengesahkan program

kerja, rules and procedures serta beberapa usulan proyek

kerja sama. Sesuai Chapter 5 dari AANZFTA, maka cakupan

kerja sama di bidang SPS ini antara lain adalah ekuivalensi, notifikasi, kerja sama, dan konsultasi. Pertemuan sepakat

untuk menyiapkan template guna memperjelas roadmap

organisasi/instansi di masing-masing negara anggota yang bertanggungjawab untuk masalah SPS untuk ekspor dan impor.

Sub-Committee on Rules of Origin

Untuk SC-ROO, pertemuan di Wellington merupakan pertemuan ketiga dan membahas hal-hal yang bersifat substantif. Beberapa kesepakatan yang dicapai dalam SC-ROO adalah sebagai berikut:

1) List of Focal Points untuk SC-ROO telah ditetapkan dan

(18)

SC-ROO tetapi juga untuk koordinasi di dalam negeri masing-masing serta untuk publik yang ingin

mendapatkan informasi mengenai ROO dalam

AANZFTA. List ini akan dicantumkan dalam website

AANZFTA dan dapat di-update oleh negara anggota;

2) Seluruh negara anggota akan menyampaikan

consolidated list of official seals and signatures of issuing authorities selambatnya pada tanggal 1 Juli

2011, dan list ini selanjutnya berlaku efektif mulai

tanggal 1 Agustus 2011. Pertemuan juga sepakat bahwa

specimen signatures dan official seals yang tidak

terangkum dalam consolidated list per tanggal 1 Agustus

2011 akan dianggap tidak sah untuk penerbitan SKA setelah tanggal 1 Agustus 2011;

3) Seluruh negara anggota akan meng-update Procedures

Matrix selambatnya tanggal 17 Juni 2011, yakni matriks yang memuat dokumen-dokumen yang harus dilengkapi untuk mendapatkan SKA AANZFTA, berikut penjelasan

mengenai sifat dokumen dan instansi yang

menerbitkannya;

4) Usulan dihapuskannya FOB value dalam SKA pada

prinsipnya dapat diterima oleh ASEAN bila kriteria asal

barang yang digunakan adalah Wholly Obtained or

Produced, Produced Entirely from Originating Materials,

atau memenuhi kriteria Change in Tariff Classification

atau Process Rules of Origin. Namun Kamboja dan

Myanmar memerlukan masa transisi selama 2 tahun untuk mengimplementasikan usulan ini. Seluruh negara anggota ASEAN diminta memberikan konfirmasi final mengenai usulan ini;

5) Masalah cumulation masih perlu dibahas agar semua

Negara memahami manfaat dan risikonya. Australia dan

New Zealand (selaku pengusul diterapkannya full

cumulation dalam AANZFTA) akan menyampaikan paper

kepada seluruh anggota selambatnya pada tanggal 31 Oktober 2011 untuk dibahas oleh SC-ROO yang rencananya akan bertemu pada bulan November 2011; 6) Negara anggota diharapkan menyampaikan daftar

Product Specific Rules (PSR) yang ingin diusulkan paling lambat tanggal 1 September 2011 kepada Sekretariat ASEAN, sementara Australia dan New Zealand akan

menyampaikan proposal chemical and plastic process

rules pada tanggal 15 Agustus 2011 untuk mendapatkan pertimbangan ASEAN;

(19)

7) Akan dilaksanakan dua workshop, yakni mengenai

Streamlining of COO Procedures dan COO Self-certification Procedures.

Pertemuan ke-2 Committee on Investment (COI)

Pertemuan Committee on Investment (COI) antara lain

sepakat untuk meningkatkan transparansi mengenai ketentuan terkait investasi di masing-masing negara anggota. Untuk itu disepakati agar setiap negara

meng-update daftar alamat website yang relevan. Pertemuan

juga membahas reservation list yang perlu disusun dalam

kerangka AANZFTA. Pertemuan sepakat bahwa langkah ini masih perlu menunggu diselesaikannya implementasi

ASEAN Comprehensive Investment Agreement (ACIA) oleh ASEAN.

Proyek di Bidang Investasi

Pertemuan juga membahas usulan proyek di bidang

investasi, yakni: (i) Study on FDI Flows between ASEAN,

Australia and New Zealand and Identification of Investment Concerns and Impediments; (ii) Technical workshop on ISDS and Alternatives to ISDS; dan (iii)

Workshop on Investment in Services, Application of MFN Treatment and Procedures for the Modification Schedules of Reservations.

Economic Cooperation Work Programme

(ECWP)

Secara umum hal-hal terkait ECWP dibahas oleh Ad-Hoc

Economic Cooperation Budget Sub-Committee yang bertugas khusus mengelola program-program kerja sama dalam kerangka AANZFTA. Sembilan proposal baru dibahas

oleh Sub-Committee ini, termasuk usulan Indonesia untuk

melaksanakan series of ASEAN Competition Conferences

mulai bulan November 2011. Proposal Indonesia ini dapat disetujui namun untuk konferensi yang pertama, sedangkan rangkaian konferensi selanjutnya akan

dipertimbangkan berdasarkan hasil pelaksanaan

konferensi yang pertama tersebut. AANZFTA Business

Seminar “Partners in Growth: Services trade with Southeast Asia”

Pada tanggal 3 Juni 2011, mengakhiri rangkaian pertemuan

AANZFTA Joint Committee, telah diselenggarakan business seminar dengan fokus pada perdagangan bidang jasa. Seminar yang diikuti oleh sekitar 60 orang peserta (umumnya dari New Zealand) ini mengangkat beberapa

subsektor sebagai fokusnya, yakni: (i) education services;

(ii) aviation sector; (iii) services component of goods; (iv)

engineering services; (v) IT/telecommunications; dan (vi)

(20)

2. Pertemuan ke-5 ASEAN-Japan Comprehensive Economic Partnership Joint Committee (AJCEP-JC)

Pertemuan ke-5 ASEAN-Japan Comprehensive Economic

Partnership Joint Committee (AJCEP-JC) dilaksanakan pada tanggal 7-8 Juni 2011 di Batam, Indonesia.

Implementasi Persetujuan AJCEP Notifikasi Persetujuan

AJCEP di WTO

Filipina dan Kamboja akan melakukan Adendum notifikasi Persetujuan AJCEP di WTO atas Notifikasi WTO yang telah dilakukan 7 Negara ASEAN dan Jepang pada tanggal 14 Desember 2009. Sementara Indonesia akan melakukan

notifikasi Persetujuan AJCEP di WTO melalui

perwakilannya di Jenewa setelah mengimplementasikan Persetujuan AJCEP.

Transposisi Jadwal Komitmen Tarif

Di sela-sela pertemuan ke-5 AJCEP, Jepang dan beberapa negara Anggota ASEAN (Brunei Darussalam, Kamboja, Malaysia, Filipina, Thailand) melakukan pertemuan bilateral untuk memfasilitasi verifikasi teknis transposisi HS.2002-2007 jadwal penurunan/penghapusan tarif AJCEP. Jepang juga berencana akan melakukan pembahasan

transposisi jadwal komitmen secara intersessional dengan

Laos, Myanmar, dan Vietnam. Seluruh perkembangan hasil diskusi bilateral tersebut diharapkan dapat dilaporkan ke negara Jepang pada akhir Juli 2011.

Pertemuan Bilateral Indonesia-Jepang

Pada tanggal 5 Juni 2011 telah dilakukan pertemuan bilateral antara Indonesia dan Jepang untuk membahas

pending issue transposisi HS.2002-2007 jadwal komitmen penurunan/penghapusan tarif Indonesia.

Transposisi HS.2002-2007

Pada intinya Jepang menghargai hasil transposisi sementara yang dilakukan Indonesia, namun berkeberatan atas kenaikan tingkat tarif 140TL yang terjadi sebagai dampak dari penggabungan pos-pos tarif hasil transposisi Indonesia. Jepang menekankan bahwa hasil transposisi tidak boleh menaikkan tingkat tarif karena bertentangan dengan Pasal 16 Persetujuan AJCEP serta harus menjaga hasil-hasil perundingan yang telah disahkan tanpa

melakukan renegosiasi line by line. Jepang juga

menggarisbawahi pentingnya mengimplementasikan

AJCEP sambil menyelesaikan verifikasi teknis transposisi jadwal komitmen tarif HS.2002-2007 sebagaimana yang dilakukan oleh negara ASEAN lainnya.

Untuk itu Jepang meminta Indonesia untuk dapat melakukan transposisi seperti yang dilakukan dalam IJEPA,

(21)

yaitu menciptakan pemecahan pos tarif baru atas pos-pos tarif yang mengalami penggabungan sehingga dapat tetap menjaga hasil perundingan yang telah ditandatangani. Jepang juga meminta Indonesia untuk memilih tingkat tarif terendah dari TL yang mengalami penggabungan.

Indonesia menggarisbawahi bahwa kenaikan tingkat tarif tersebut bukan merupakan suatu hal yang bertentangan dengan Ketentuan Pasal 16 Persetujuan AJCEP, karena terjadi akibat transposisi penggabungan dengan pos-pos tarif yang memiliki sensitivitas di Indonesia. Transposisi yang dilakukan dalam IJEPA juga telah menciptakan permasalahan kepabeanan karena tidak sesuai dengan

sistem national single window yang berlaku di Indonesia.

Sub-Committee Economic Cooperation

Guidelines Tim perunding Jepang akan melakukan diskusi terlebih dahulu di negaranya mengenai usulan ASEAN untuk

melakukan perubahan Terms of Reference (TOR) menjadi

guidelines yang berjudul Proposed Draft AJCEP Project Management Guidelines. Selain itu menindaklanjuti keberatan Jepang, maka pertemuan menyepakati untuk

mengganti kata “shall” menjadi ”undertake to” dan

“commit to”. Guidelines tersebut diharapkan dapat

diselesaikan secara inter-sessionally sehingga pada

pertemuan SCEC mendatang dapat membahas dan

mempertimbangkan project proposal yang diusulkan

ASEAN dan Jepang sebelum tanggal 6 Juli 2011.

Audit Pembiayaan Proyek

ASEAN Sekretariat menyampaikan informasi mengenai

proses persetujuan proyek yang akan dibiayai oleh Japan

ASEAN Integrated Funds (JAIF), dengan total ketersedian dana sebesar US$ 12 juta. Jepang juga menginformasikan bahwa seluruh proyek yang dibiayai oleh JAIF wajib diaudit

oleh Financial Auditor. Hal inilah yang menjadi perhatian

ASEAN agar Jepang dapat mengupayakan penyederhanaan proses untuk dapat mempercepat implementasi proyek kerja sama ekonomi. Menanggapi hal ini, pihak Jepang akan mempertimbangkan dan mencari upaya untuk penyederhanaannya.

Sub-Committee Rules of Origin (SC-ROO)

Pertemuan SC-ROO membahas beberapa agenda antara

lain terkait dengan persiapan transposisi Product Specific

Rules (PSR) HS 2002-2007, proposal Jepang untuk

memodifikasi PSR, serta monitoring utilisasi Certificate of

(22)

Transposisi Product Specific Rules (PSR) HS 2002-2007

Menindaklanjuti penyelesaian pembahasan 27 TL yang mengalami perubahan akibat transposisi HS.2002-2007 di Krabi, Thailand, pertemuan SC-ROO di Batam ini juga melakukan verifikasi dan menyepakati daftar seluruh

transposisi PSR HS.2002-2007. Sebagai persiapan

implementasi transposisi PSR tersebut, pertemuan

menyepakati untuk melakukan amandemen pada Annex 2

Persetujuan AJCEP.

Draf teks amandemen Annex 2 Persetujuan AJCEP dan

draft Diplomatic Notes sebagai mekanisme implementasi transposisi PSR akan disampaikan Jepang secara

intersessionally untuk mendapat tanggapan ASEAN. Seluruh negara ASEAN juga akan melakukan konsultasi internal mengenai proses ratifikasi dan implementasi

Diplomatic Notes tersebut di negaranya.

Modifikasi Product Specific Rules

Terkait proposal Jepang untuk melakukan modifikasi

General Rule (RVC 40% or CTH) atas PSR produk-produk

kimia (RVC 40% or CTSH) dan semi-konduktor (Diffusion

Process sebagai aturan tambahan), beberapa negara ASEAN dapat menerima modifikasi PSR atas produk-produk kimia sebagaimana yang terdapat pada PSR ATIGA

dan AANZFTA. Sementara untuk semi-konduktor (Diffusion

Process), ASEAN masih memerlukan konsultasi internal terutama karena proses ini masih asing berlaku di ASEAN. Untuk membantu proses konsultasi ASEAN, pada

pertemuan ini Jepang juga menyampaikan non-paper

penjelasan diffusion process dan dokumen pembuktian

originating materials.

Monitoring Pemanfaatan

Certificate of Origin

(CO) Form-AJ

Sebagai tindak lanjut dari Pertemuan SC-ROO di Krabi, Thailand, untuk melakukan monitoring utilisasi CO

implementasi Persetujuan AJCEP, Jepang

menginformasikan sedang melakukan review atas sistem

kepabeanannya. Perubahan sistem kepabeanan tersebut akan membuat Jepang mampu menyampaikan data nilai perdagangan penerimaan CO Form-AJ pada format monitoring CO, dan membandingkannya dengan total impor yang diterima. Sistem ini ditargetkan berlaku pada kuartal pertama tahun 2012.

Lebih lanjut Jepang juga menyampaikan bahwa Japan

Chamber of Commerce and Industry (JCCI) sebagai Lembaga Penerbit CO Form-AJ di Jepang, tidak menerapkan sistem pengumpulan data. Dengan demikian, pengumpulan data penerimaan CO di Kepabeanan masing-masing pihak sudah cukup memberikan informasi

(23)

monitoring implementasi AJCEP di masing-masing negara. Menindaklanjuti hal tersebut, ASEAN memerlukan konsultasi domestik untuk dapat melakukan sistem serupa dengan Jepang, terutama level data yang harus disampaikan (HS 4 digit, 6 digit, atau level nasional) dan proposal Jepang untuk memberikan akses informasi implementasi peneriman CO tersebut kepada publik melalui internet.

Pertukaran Buku Tarif ASEAN menyampaikan pentingnya pertukaran buku tarif

nomenclature di antara Para Pihak untuk dapat memberikan transparansi kepada pengusaha dan instansi pembina sektor atas tingkat tarif MFN dan tingkat tarif AJCEP yang berlaku di antara para Pihak. Untuk itu pertemuan menyepakati pertukaran tersebut dapat dilakukan di antara para pihak yang membutuhkan.

Sub-Committee of Sanitary and Phytosanitary (SC-SPS)

dan Sub-Committee of Standards, Technical Regulations, and Conformity Assessment Procedures

Menindaklanjuti pembentukan Sub-Committee STRACAP

(diketuai oleh Malaysia) dan SPS (diketuai oleh Thailand),

ASEAN dan Jepang sepakat untuk memanfaatkan badan/komite yang telah terbentuk di ASEAN untuk dapat

melakukan pertemuan dengan Sub-Committe AJCEP yang

baru terbentuk (SC-STRACAP dan SC-SPS).

ASEAN dan Jepang diharapkan dapat memberikan

konfirmasi perwakilannya di masing-masing

Sub-Committee tersebut, sehingga ASEAN Chair dan Sekretariat

ASEAN dapat menyiapkan agenda dan work programme

dalam mempersiapkan kemungkinan dilakukannya

pertemuan ke-1 SC-STRACAP dan SC-SPS AJCEP. Sub-Committee Services (SC-S)

Pertemuan ke-4 SC-S merupakan kelanjutan dari pertemuan ke-3 SCS yang dilakukan di Jepang pada bulan Mei 2011. Pertemuan ini dihadiri oleh negara ASEAN (kecuali Myanmar) dan Jepang. Agenda pertemuan ke-4

SCS AJCEP masih membahas pending issues pada

pertemuan sebelumnya, yaitu klarifikasi Delegasi ASEAN dan Jepang terhadap proposal masing-masing pihak yaitu

Modalities and General Principles, Draft Text Agreement on Trade in Services, dan Indicative Workplan.

Modalitas dan Prinsip Dasar Negosiasi

Jepang tetap mengusulkan tiga konsep dasar

(Transparency, User-friendliness, dan Living Agreement)

(24)

approach, Automatic MFN Treatment, Standstill, dan

Ratchet Mechanism dapat diadopsi oleh ASEAN. Sementara ASEAN menyampaikan bahwa ketiga konsep dasar usulan Jepang bukan merupakan preferensi ASEAN. Draft Text Chapter on

Trade in Services

Sebagaimana disepakati dalam pertemuan ke-3 SCS AJCEP pada bulan Mei 2011 di Tokyo-Jepang, kedua pihak

perunding menggunakan terminologi Chapter dan bukan

Agreement pada Draft Text on Trade in Services. Terkait isi

Draft Text dari ASEAN, Jepang mencatat bahwa draft

perjanjian hanya merujuk pada GATS dan perjanjian ASEAN dengan mitra dialog, serta kurang mengakomodir kesepakatan (bilateral) yang telah ada antara Jepang dan

tujuh (7) negara anggota ASEAN. Sedangkan Draft Text dari

Jepang, selain merujuk pada GATS juga merupakan perpaduan dari berbagai kesepakatan bilateral EPA dengan satu atau lebih negara anggota ASEAN.

Indonesia juga melakukan konfirmasi dan verifikasi atas

draft text Jepang, antara lain: (i) Poin 1c article “scope”; (ii)

Pencantuman article “Local Presence, Reservations, &

Non-conforming Measures” (yang tidak ada dalam GATS); (iii)

Overlapped articles mengenai direct taxation pada Draft Text on Trade in Services dan perjanjian induk AJCEP pada

klausul direct taxation measures; dan (iv) Penihilan

berlakunya kesepakatan Chapter on Trade in Services

(point f, article “definitions”).

Negotiation Work Plan ASEAN dan Jepang belum dapat menyelesaikan perundingan SCS AJCEP hingga bulan Agustus 2011 sebagaimana mandat AEM-METI 2008. Untuk itu kedua

pihak sepakat untuk melakukan konsultasi dan

pembahasan lebih lanjut sambil meminta arahan para Menteri untuk dapat menyelesaikan negosiasi pada AEM-METI 2012.

Sub-Committee Investment

Secara umum, hal-hal yang dibahas dalam Pertemuan

SC-Investment meliputi: (i) Draft Text for the AJCEP’s Investment Chapter; dan (ii) Work Plan for ASEAN-Japan Investment Negotiations.

Draft Text for the AJCEP’s Investment Chapter

Hal utama yang dibahas dalam draft text dari Investment

Chapter ini adalah mengenai approach of negotiation, di

mana terlihat jelas terdapat perbedaan level of ambition

antara ASEAN dan Jepang. Posisi ASEAN telah jelas yaitu hanya ingin memasukkan elemen promosi, fasilitasi, dan promosi saja ke dalam perjanjian ini. Sedangkan untuk pilar liberalisasi, ASEAN mengusulkan untuk menggunakan

(25)

Bilateral Investment Treaties masing-masing Negara Anggota ASEAN dengan Jepang (kecuali Myanmar yang belum memiliki perjanjian bilateral dengan Jepang).

Sementara itu, Jepang menyampaikan posisinya yang ingin memasukkan elemen liberalisasi dalam perjanjian

investasi, termasuk perlunya penyampaian Reservation List

dalam AJCEP’s Investment Chapter. Jepang juga

menjelaskan bahwa saat ini telah menandatangani FTA dengan India dan Peru yang mencakup elemen liberalisasi investasi, dan meminta ASEAN untuk mempertimbangkan kembali posisinya.

Di samping itu, sidang melanjutkan pembahasan dan

klarifikasi atas draft text yang telah diusulkan oleh ASEAN

dan Jepang. ASEAN juga menyampaikan tambahan draft

text untuk articles mengenai National Treatment, Special

and Differential Treatment for Newer AMS, Temporary Safeguard Measures, dan Denial of Benefits.

3. Pertemuan ke-38 ASEAN China Trade Negotiating Committee (AC-TNC)

Rangkaian pertemuan ke-38 ASEAN China Trade

Negotiating Committee (AC-TNC) dilaksanakan pada tanggal 9-11 Juni 2011 di Batam dan dihadiri oleh delegasi seluruh negara anggota ACFTA dan Sekretariat ASEAN.

Perdagangan Barang

Legal Enactment (LE) Produk Sensitif

Indonesia, Malaysia, dan Filipina saat ini dalam proses

penyelesaian legal enactment penurunan tarif kategori

sensitif berdasarkan Para 3 Annex 2 Persetujuan

Perdagangan Barang ACFTA yang menyebutkan bahwa seluruh tarif dalam kategori sensitif untuk ASEAN-6 dan China harus diturunkan tarifnya maksimal menjadi 20% pada tahun 2012, dan menjadi 0-5% pada tahun 2018. Pertemuan mengingatkan kembali untuk negara-negara bersangkutan, diharapkan untuk dapat mempersiapkan

Legal Enactment penurunan tarif kategori sensitif sebelum implementasi 1 Januari 2012, dan menyampaikannya kepada Sekretariat ASEAN sebelum 15 Desember 2011. Sementara China menginformasikan telah siap untuk mengimplementasikan komitmen tarif tersebut pada 1 Januari 2012.

Review Persetujuan Perdagangan Barang

Institutional Arrangement ACFTA, untuk melakukan

transformasi ACTNC menjadi ASEAN-China FTA Joint

Committee (ACFTA-JC) telah dituangkan dalam sebuah

(26)

China dapat memberikan masukan terhadap draf TOR tersebut sebelum tanggal 20 Juli 2011, termasuk proses hukum transformasi tersebut melalui persetujuan para Menteri Ekonomi ASEAN dan China.

Perdagangan Produk Sensitif

Para Pihak (kecuali Laos pada tanggal 30 Juni 2011) telah menyampaikan data tarif dan perdagangan sesuai kesepakatan pada pertemuan ACTNC ke-37 di Ma’anshan, China, di mana Sekretariat ASEAN akan melakukan kajian analisis data tarif dan perdagangan atas produk-produk

yang terdapat dalam Sensitive Track (ST) seluruh negara

ASEAN dan China. Pertemuan meminta agar data perdagangan China juga dimiliki oleh masing-masing negara anggota ASEAN. Hasil analisis Sekretariat ASEAN ini akan dipertimbangkan pada pertemuan berikutnya.

Penerapan Ketentuan

General Exception (GE)

Terdapat 6 (enam) negara ASEAN (Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, Myanmar, Filipina, dan Vietnam) yang

menerapkan General Exception (GE) List. Adopsi

pemahaman umum atas penerapan ketentuan GE dari Persetujuan TIG-ACFTA ini merupakan salah satu kesepakatan SEOM-MOFCOM untuk menjadi salah satu

deliverable pada Pertemuan ke-10 AEM-MOFCOM

Consultations. Malaysia dan Vietnam menyatakan siap

untuk menyelaraskan GE List sesuai dengan Pasal 3

(Penurunan dan Penghapusan Tarif) dan Pasal 12 (Pengecualian Umum) Persetujuan Perdagangan Barang ACFTA dengan kondisi diizinkan untuk mempertahankan pajak khusus atas beberapa produk GE tertentu, sedangkan Brunei, Indonesia, Myanmar, dan Filipina tetap

mempertahankan preferensinya atas GE list mereka.

Produk GE List Indonesia di antaranya yakni produk

alkohol, limbah bahan berbahaya, senjata, dan amunisi. Untuk itu, pertemuan menyepakati para pihak yang

menerapkan GE List diminta untuk menyampaikan

justifikasi atas masing-masing pos tarif dalam GE List

dimaksud disertai informasi terkait nilai most favoured

nation (MFN) tahun 2003, dan aturan domestik yang diberlakukan, data-data nilai perdagangan (ekspor dan impor) sesuai dengan format yang telah disiapkan oleh Sekretariat ASEAN.

Follow-up Penyampaian Data

Untuk memperkuat mekanisme penyampaian data perdagangan secara teratur, ASEAN menyarankan untuk

menggunakan monitoring sheet penyampaian data

lembaga penerbit dan penerima. Untuk itu China setuju

untuk mempertimbangkannya secara inter-sessionally.

(27)

proposal ASEAN untuk mengadakan workshop di China bagi negara-negara anggota ASEAN agar lebih memahami bagaimana sistem pengumpulan data dan pemantauan data utilisasi tarif preferensi ACFTA.

Second Protocol Revisi

Operational

Certification Procedures

Pada pertemuan ini Myanmar menginformasikan telah

mengimplementasikan Protokol revisi Operational

Certification Procedures sejak tanggal 25 Maret 2011. Indonesia dan Kamboja menginformasikan telah berada dalam tahapan ratifikasi pemberlakuan protokol tersebut dan diharapkan dapat diselesaikan pada kesempatan

pertama. Kamboja juga mengindikasikan siap

mengimplementasikan Protokol tersebut pada akhir bulan Juli 2011.

Implementasi Transposisi Product Specific Rules (PSR)

China dan 7 (tujuh) negara ASEAN telah

mengimplementasikan transposisi Product Specific Rules

(PSR), sementara Indonesia, Laos, dan Thailand masih dalam proses ratifikasi pemberlakuan transposisi PSR

tersebut. China juga meminta ASEAN untuk

mempertimbangkan segera memulai pembahasan

transposisi PSR HS.2012 pada kesempatan pertama.

Review ACFTA ROO Pertemuan membahas proposal ASEAN untuk melakukan

review Rules of Origin ACFTA untuk menyelaraskannya

dengan aturan ROO (origin criteria/general rule) yang ada

di seluruh mitra dialog ASEAN, antara lain mengubah origin

criteria “RVC 40%” menjadi “RVC 40% or CTH”.

Amandemen ini dilakukan untuk memfasilitasi

manufacturer dan exporter dalam memilih origin kriteria yang pada akhirnya dapat meningkatkan utilisasi pemanfaatan ACFTA. China menganggap perubahan kriteria ini merupakan perubahan mendasar dalam FTA dan tidak menerapkan aturan serupa di setiap FTA China.

China mengharapkan ASEAN dapat memberikan

penjelasan lebih terperinci dan akan melakukan konsultasi domestik sebelum pertemuan mendatang.

Problem Implementasi Pada pertemuan ini juga dilakukan konsultasi penyelesaian

isu implementasi antara beberapa negara ASEAN dan China. Untuk itu pertemuan mengharapkan ASEAN dan China dapat mematuhi aturan yang ada dalam OCP agar Persetujuan ACFTA dapat dijalankan sesuai maksud dan

tujuannya. Pada kesempatan ini, Laos juga

menginformasikan akan memberikan mandat kepada Laos

National Chamber of Commerce and Industry untuk menerbitkan CO Form-AK di negaranya.

(28)

Ad-hoc Working Group on Customs Procedures and Trade Facilitation

Pada pertemuan ini, ASEAN telah menyiapkan counter

proposal kepada China atas draf teks Customs Procedures

dan Trade Facilitation yang diusulkan China pada pertemuan ACTNC di Ma’anshan, bulan Maret 2011. Terhadap posisi ASEAN ini, Indonesia menyampaikan

belum memandang perlu dibuatnya Chapter tersebut

dengan pertimbangan sebagai berikut:

1) administrasi pabean Pihak ACFTA (termasuk

Indonesia) selama ini telah menjadikan International

Customs best practises (landasan substansi proposal China) sebagai salah satu referensi utama prinsip

prosedur dan regulasi kepabeanan, tanpa

membedakan perlakuan terkait negara asal dan/atau tujuan barang;

2) Customs Administration dari negara-negara anggota

ASEAN dan China Customs Administration saat ini juga

telah selesai menyusun draft MoU yang

ditandatangani oleh pimpinan administrasi pabean masing-masing negara ASEAN dan China pada

pertemuan ke-20 ASEAN Customs Directors-General

Meeting Juni 2011, yang menunjukkan telah

sedemikian maju dan lebih komprehensifnya

komitmen kerja sama ekonomi antara ASEAN dengan China khususnya terkait kepabeanan, dibandingkan dengan Mitra Wicara ASEAN lainnya.

3) Proposal China atas draf teks Customs Procedures dan

Trade Facilitation dinilai terlalu luas dan lepas dari konteks keterkaitan administrasi pabean dalam kerangka ACFTA.

Perdagangan Jasa Pada pertemuan ini, China telah memfinalisasi dan

mengkonfirmasikan revisi atas komitmen paket ke-2 Malaysia dan Myanmar. Sebagai persiapan penandatangan

Draft Protocol komitmen paket ke-2 Persetujuan Jasa

ACFTA tersebut para pihak diharapkan dapat

mempersiapkan prosedur internal penandatangan Para Menteri Ekonomi ASEAN dan China pada pertemuan ke-10

AEM-MOFCOM Consultation, bulan Agustus 2011 di

Manado, Indonesia.

Kerja Sama Ekonomi Pertemuan ke-8 Working Group on Economic Cooperation

(WGEC) dilaksanakan pada tanggal 10 Juni 2011 di Kuala Lumpur, Malaysia.

Pertemuan WGEC tersebut mendiskusikan hasil Konferensi China-ASEAN SME, status proyek dan kegiatan dalam kerja

(29)

sama ekonomi di antaranya ASEAN Business Portal, proyek proposal yang baru, masalah pendanaan dalam proyek kerja sama ekonomi ACFTA, keterlibatan China-ASEAN

Business Council (CABC), dan industri dalam forum dialog yang disepakati. Pertemuan tersebut juga menyepakati untuk melakukan dialog dengan sektor swasta pada

Pertemuan ACTNC sebagai outreach programme dan akan

membahas mengenai outreach work plan tahun

2011/2012 pada pertemuan ACTNC berikutnya. Working Group Sanitary

and Phytosanitay (SPS)

Terdapat 3 (tiga) issue yang masih memerlukan consensus

di antara Negara Anggota ASEAN dan antara ASEAN dan

China yang terkait dengan the 3rd draft ASEAN-China SPS

Chapter, yaitu: (i) Article 5 Para 2: Risk Analysis, ASEAN

menyetujui usulan China menghapus Article 5 Para 2; (ii)

Article 7: Regionalization, kedua belah pihak menyetujui

masuknya Article 7: Regionalization dalam SPS Chapter

dengan modifikasi dan menghapus para 2 Article 7 serta

tetap menambahkan para 2 (d) pada Article 10; dan (iii)

Article 9: Transparancy, pertemuan sepakat mengenai kerangka waktu 15 hari dalam penyediaan lengkap setelah

notifikasi dalam Article 9.

Working Group Technical Barrier to Trade (TBT)

Pertemuan ke-3 ACTNC WG-TBT membahas mengenai

pasal-pasal yang akan dicantumkan ke dalam TBT ACTNC

Chapter, di mana terdapat dua pasal yang menjadi pokok permasalahan, yaitu: (i) Pasal 7 Ayat 6 mengenai pemberitahuan tentang penolakan Sertifikat Kesesuaian, di mana akhirnya China menyetujui proposal yang diajukan oleh ASEAN, sementara Pasal 8 Ayat 2 mengenai Transparansi, Negara Anggota ASEAN kecuali Myanmar telah menyepakati kerangka kerja 15 hari, sementara karena Myanmar tidak mengirimkan wakilnya maka diberi waktu selama 2 (dua) minggu untuk memberikan jawaban.

4. Pertemuan ke-5 ASEAN-Korea FTA Implementing Committee (AKFTA-IC) dan

Pertemuan Terkait Lainnya

Pertemuan 5th AKFTA-IC telah diselenggarakan di Nha

Trang, Vietnam, pada tanggal 13–16 Juni 2011. Pertemuan

diselenggarakan back-to-back dengan Pertemuan ke-14

ASEAN-Korea Sub-Committee on Tariff and Rules of Origin

(AKSTROO), dan pertemuan ke-12 Working Group

(30)

Pertemuan ke-15

ASEAN Senior Economic Officials Meeting

(SEOM –Republic of Korea (ROK)

Consultation

ASEAN dan Korea mencatat kesepakatan SEOM-ROK

Consultation atas hal-hal yang akan dibahas pada pertemuan para Menteri Ekonomi ASEAN dan Korea, pada

bulan Agustus 2011, antara lain:(i)Hasil final Joint Impact

Study ASEAN-Korea Trade in Goods (TIG); (ii) Persetujuan

para Menteri atas pembuatan Website dan Perangkat

Promosi AKFTA; dan (iii) Rencana penandatanganan

Second Protocol to Amend the AKTIG Agreement oleh para Menteri Ekonomi ASEAN dan Korea.

Notifikasi AKFTA di WTO

Pertemuan mencatat bahwa berdasarkan Pasal 5 GATS,

Persetujuan Liberalisasi sektor jasa dan Persetujuan

Investasi ASEAN-Korea FTA telah dinotifikasi kepada

Dewan Perdagangan Jasa WTO pada tanggal 21 April 2011. Review Persetujuan

Perdagangan Barang AKFTA

Protokol Daftar HSL-E Laos telah berlaku sejak tanggal 1 Maret 2010 untuk Korea, Brunei Darussalam, Laos,

Malaysia, Myanmar, Singapura, Thailand, dan Vietnam.

Sementara Kamboja, Indonesia, dan Filipina masih dalam proses penyelesaian prosedur internal ratifikasi dan notifikasi Persetujuan dimaksud. Para Pihak meminta agar

negara anggota ASEAN dimaksud untuk dapat

mempercepat proses internalnya tersebut.

Laporan Akhir Joint Impact Study AKTIG

Laporan Akhir Joint Impact Study of the ASEAN-Korea

Trade in Goods (TIG) Agreement dipresentasikan oleh

konsultan yang telah ditunjuk, yaitu oleh Korea Institute

for International Economic Policy dan Mahasiswa Phd.

Monash University. Pertemuan AK-IC membahas

rekomendasi dari kajian ini serta mandat untuk meninjau

Persetujuan Trade in Goods AKFTA dan upaya peningkatan

pemanfaatan preferensi tarif AKFTA.

Hasil dari kajian tersebut akan disampaikan kepada Para

Menteri pada pertemuan AEM-ROK Consultation, pada

blan Agustus 2011, di Manado. Beberapa hal dalam kajian yang menjadi pembahasan ASEAN terutama pada rendahnya pemanfaatan AKFTA yang dapat dikaitkan dengan berbagai biaya produksi, perbedaan kecil antara tarif MFN dan tarif preferensi AKFTA, serta krisis keuangan global tahun 2009. Berbeda dengan ASEAN, Korea mendukung rekomendasi kajian konsultan Korea yang sejalan dengan usulan Korea untuk meningkatkan pemanfaatan AKFTA pada AEM-ROK Konsultasi ke-7, pada bulan Agustus 2010.

ASEAN dan Korea sepakat untuk meminta mandat para Menteri pada AEM-ROK Konsultasi ke-8, bulan Agustus

(31)

meninjau produk dalam Sensitive Track (ST) berdasarkan hasil kajian para Konsultan serta Pasal 15 ayat (2)

Persetujuan TIG (review produk sensitif). Tinjauan tersebut

akan menganalisis perdagangan produk sensitif dan dampaknya pada pemanfaatan utilisasi AKFTA, sehingga IC dapat membuat rekomendasi mengenai kemungkinan dilakukannya liberalisasi produk ST. Hal-hal lainnya yang menjadi pertimbangan peningkatan utilisasi AKFTA antara lain prosedur aplikasi dan penerbitan surat keterangan asal (SKA), amandemen ketentuan asal barang, serta proposal

Korea atas self-certification system, dan approved

exporters. Protocol to Amend

AKTIG Agreement

ASEAN dan Korea masih berbeda pandangan mengenai cakupan draf protokol dimaksud. Pada kesempatan tersebut ASEAN dan Korea telah menyampaikan revisi

counter-draft masing-masing dan dibahas pada pertemuan

adhoc legal expert.

ASEAN memberikan draft protocol to amend the

ASEAN-Korea Trade in Goods yang berisi tentang perubahan pasal 6 dan penambahan pasal yaitu pasal 6 bis, serta perubahan

pasal 17. Amandemen tersebut bersifat substantive dan

dimaksudkan untuk mengakomodir perubahan tariff line

secara unilateral dan bilateral yang mungkin terjadi di masa akan datang. Selain itu ASEAN menganggap perubahan Pasal 17 tidak dapat mengakomodir perubahan

yang terjadi berdasarkan Pasal 6 Agreement Trade in

Goods AKFTA.

Terhadap draf tersebut Korea beranggapan bahwa isu

tersebut merupakan perubahan prosedur dan

mengusulkan agar perubahan pasal 6 dan penambahan pasal 6 bis dihapus. Menurut Korea hal tersebut telah terakomodir dalam perubahan pasal 17. Korea juga

menambahkan footnote berkaitan dengan permasalahan

Rules of Origin, di mana amandemen terhadap

penghilangan “name of manufacture”, penerimaan

penambahan halaman dari Certificate of Origin untuk

beberapa barang dalam Certificate Origin yang sama,

modifikasi istilah “at the time of exportation” dan “prior to

or at the time of shipment” dapat diubah dengan

persetujuan dari Implementing Committee.

Untuk itu negara anggota ASEAN dan Korea diharapkan

untuk memberikan tanggapannya secara inter-sessional

melalui adhoc group on legal expert guna memfinalisasi

protokol dimaksud. Korea akan melakukan perbaikan draft

(32)

dalam normal track-nya sebelum pertemuan SEOM-ROK

Consultation, di Kuala Lumpur pada tanggal 24 Juni 2011.

Pertemuan sepakat untuk menentukan target

penandatangan Protokol dimaksud pada KTT ASEAN-Korea, November 2011, namun draf akhir Protokol diharapkan telah selesai sebelum bulan Agustus 2011. Review prinsip

reciprocity untuk Peningkatan Tingkat Utilisasi AKFTA

Menindaklanjuti mandat para Menteri ASEAN dan Korea untuk meningkatkan utilisasi AKFTA pada AEM-ROK Konsultasi ke-7 pada bulan Agustus 2010, Korea

menyampaikan proposal menghapuskan prinsip

resiprositas produk ST dalam Persetujuan TIG AKFTA. Beberapa Negara ASEAN yang menerapkan prinsip resiprositas berkeinginan untuk tetap mempertahankan

prinsip timbal balik (reciprocity) tersebut. Thailand

mengusulkan agar pembahasan ini dapat dilakukan pada

working group AK-STROO.

Tinjauan Implementasi AKTIG

Pertemuan mencatat bahwa implementasi komitmen tarif

pada sensitive track akan dimulai pada tanggal 1 Januari

2012, dan meminta seluruh Pihak untuk mempersiapkan dasar hukum pemberlakuan liberalisasi produk sensitif tersebut sebelum tanggal 1 Januari 2012.

Pertemuan juga membahas rencana pembaharuan

nomenklatur tarif (Harmonised System/HS 2012 untuk

Korea dan ASEAN Harmonised Tariff Nomenclature/AHTN

untuk ASEAN) yang akan diimplementasikan pada tanggal 1 Januari 2012. Singapura dan Vietnam menyatakan siap untuk mengimplementasikan AHTN 2012 pada tanggal 1 Januari 2012. Menindaklanjuti hal tersebut, ASEAN dan Korea sepakat meminta AKSTROO untuk melakukan verifikasi teknis transposisi tarif dimaksud.

Sub-Committee on Tariff and Rules of Origin (AKSTROO)

Pertemuan AKSTROO menyepakati amandemen

penyederhanaan Prosedur Operasional Serifikasi

(Operational Certification Procedures/OCP) antara lain pada: (i) amandemen ketentuan (7) ayat (1) OCP tentang

deklarasi “at the time of exportation”; (ii) penghapusan

nama manufacturer pada Box.7 CO Form-AK; dan (iii)

perpanjangan jangka waktu pemberlakuan CO Form-AK

dari semula 6 bulan menjadi 12 bulan. Kesepakatan amandemen ini akan diimplementasikan pada OCP setelah

penandatanganan dan proses ratifikasi Persetujuan Second

Protocol to Amend AKTIG.

Terkait dengan Certificate of Origin (CO), pada prinsipnya

ASEAN sepakat untuk menghapuskan FOB Value pada CO

Gambar

Gambar 1. Regional Review Meeting on Aid for Trade-Asia Pacific
Tabel 1 Utilisasi Tarif Preferensi
Gambar 2. Pembukaan World Economic Forum on East Asia
Gambar 3. Panelis dalam Acara World Economic Forum on East Asia
+4

Referensi

Dokumen terkait

Realisasi IKU “Persentase Pemerintah Kabupaten/Kota dengan Maturitas SPIP Level 3” Tahun 2019 adalah sebesar 34,78% atau mencapai 38,22% dari target sebesar 91%,

Pertemuan Bilateral dengan pejabat pemerintah Suriname dimulai pada tanggal 27 September 2011. Kunjungan Delri tersebut bertujuan untuk mengadakan pertemuan bilateral dengan mitra

Seiring dengan kemajuan teknologi dan informasi, mempengaruhi perubahan perilaku masyarakat modern yang membutuhkan data secara realtime, dan tersedia lebih cepat (faster),

Nilai sasaran ini didukung oleh 3 (tiga) Indikator Kinerja, yaitu meningkatnya jumlah dokumen kerja sama dan perjanjian internasional bidang kelautan dan

Realisasi indikator kinerja kegiatan pengabdian masyarakat jumlah kegiatan pengabdian masyarakat yang dilakukan dalam satu tahun sebanyak 55 kali, untuk kegiatan pengabdian

Dari konsep dan definisi mengenai daya saing di atas, terdapat kesamaan pandangan bahwa pada dasarnya daya saing daerah dihasilkan oleh interaksi yang kompleks antara

Tabel 14 Perbandingan Realisasi Kinerja untuk Indikator Kinerja Jumlah Dokumen Perencanaan Provinsi dan/atau Kabupaten/Kota yang Sudah di-KLHS Tahun 2013 –

5 (lima) indikator kinerja yang terdapat dalam sasaran strategis tersebut adalah indikator jumlah rekomendasi hasil analisis dan evaluasi hukum yang dimanfaatkan sebagai