BAB I KINERJA
C. Peningkatan Kerja Sama dan Perundingan APEC dan Organisasi
1. World Economic Forum on East Asia (WEF on EA)
Penyelenggaraan WEF on East Asia (WEF on EA) di Jakarta pada tanggal 11-13 Juni 2011 telah dilaksanakan oleh Kementerian Perdagangan bekerja sama dengan kementerian-kementerian terkait dan dunia usaha. WEF on
EA sebagai forum internasional resmi dibuka oleh Bapak
Presiden Republik Indonesia pada tanggal 12 Juni 2011.
Gambar 2. Pembukaan World Economic Forum on East Asia
WEF on EA ke-20 yang bertema “Responding to the New Globalism” dihadiri oleh 624 partisipan dari 40 negara yang
kebijakan regional dan global, dan pimpinan lembaga nirlaba serta akademisi.
Tujuan WEF on EA adalah untuk meningkatkan kegiatan ekonomi dan investasi suatu negara di dunia dengan melibatkan dunia bisnis, politik, akademisi, dan para pemimpin kelompok masyarakat untuk menyusun agenda industri secara regional dan global.
Session: “Navigating Geopolitical Risks in Asia”
Pada sesi navigating geopolitical risks in Asia dibahas beberapa hal-hal penting sebagai berikut:
1) Saat ini Asia sedang mengalami era integrasi dan pertumbuhan ekonomi yang kuat, namun sayangnya hal ini tidak diikuti dengan penguatan aspek-aspek keamanan dan politik di kawasan tersebut;
2) Pertumbuhan ekonomi, politik, dan kekuatan militer Republik Rakyat Tiongkok adalah pertanyaan kunci bagi setiap negara di kawasan Asia. Pertanyaan lain yang juga muncul atas Republik Rakyat Tiongkok adalah mengenai kesanggupan pemerintah Republik Rakyat Tiongkok mewujudkan harapan untuk memenuhi lapangan kerja, ketersediaan rumah tinggal, dan kebebasan berekspresi bagi generasi muda;
3) Badan-badan internasional seperti Dewan Keamanan PBB, IMF, dan WTO masih merefleksikan sistem internasional masa lalu, seolah dunia masih dalam sistem yang lama, dan badan-badan tersebut belum mampu merefleksikan sistem internasional sebagaimana kondisi dunia saat ini; dan
4) Pembangunan arsitektur politik dan keamanan baru yang mampu merefleksikan kondisi terkini adalah langkah perlu untuk memastikan stabilitas Asia.
Session: “Sustaining Indonesia’s Growth Momentum”
Pada sesi sustaining Indonesia’s growth momentum dibahas beberapa hal-hal penting sebagai berikut:
1) Indonesia berada pada jalur pertumbuhan yang mengesankan dengan ekonomi yang akan tumbuh pada kisaran 6-7 %;
2) Meningkatkan tata kelola, transparansi, dan manajemen fiskal akan memicu sentimen yang baik;
3) Kendala-kendala yang ada pada infrastruktur, peraturan perundang-undangan, dan birokrasi serta pentingnya RUU reformasi pertanahan disahkan tahun ini; dan 4) Pentingnya ada kekuatan yang cukup dalam kabinet dan
masyarakat untuk menjamin kelancaran Pemilihan Presiden tahun 2014.
Session: “Financial Fault Lines: Averting
Aftershocks in Asia”
Pada sesi financial fault lines: averting aftershocks in Asia dibahas hal-hal penting sebagai berikut:
1) Konektivitas mutlak dan sifat interkoneksi pasar modal global memerlukan suatu pendekatan yang terkoordinasi atas risiko sistemik;
2) Pemerintah dan bank-bank di Asia Timur mengakui bahwa risiko keuangan harus dikelola dengan kebijakan makro ekonomi yang cermat; dan
3) Tekanan inflasi yang disebabkan oleh kenaikan harga komoditas pangan dan energi menjadi perhatian utama.
Session: “Disrupted Aspirations: Closing the Income Gap”
Pada sesi disrupted aspirations: closing the income gap dibahas beberapa hal penting sebagai berikut:
1) Kemiskinan muncul bukan karena rendahnya penghasilan semata. Demikian juga dengan kesuksesan ekonomi Asia yang sangat signifikan, ternyata tidak turut serta mengurangi jumlah orang miskin di Asia secara signifikan;
2) Untuk menjalankan program penghapusan kemiskinan, diperlukan kerja sama antara pemerintah, pengusaha, dan lembaga swadaya masyarakat (NGOs) berdasarkan fakta-fakta dasar tentang kemiskinan seperti inflasi, perlindungan sosial, kesehatan, dan lainnya;
3) Pemerintah harus bisa mengelola prioritas program penghapusan kemiskinan, karena kemiskinan sendiri memiliki banyak aspek, seperti: pekerjaan, gender, umur, agama, dan konflik berkepanjangan, serta faktor-faktor lainnya;
4) Di Asia, tidak ada satu formula yang dapat dijadikan solusi untuk semua kasus. Oleh karena itu, pemerintah-pemerintah di Asia harus dapat mendesain suatu
portfolio program dengan mengikutsertakan masyarakat
miskin, sehingga mereka bisa memilih solusi yang tepat bagi kemiskinan yang mereka alami; dan
5) Portfolio program penghapusan kemiskinan dapat turut memasukkan aspek microfinance, micro-insurance, pembangunan infrastruktur di pedalaman, keterlibatan
corporate, dan pendidikan. Session: “Asia’s
Consumer Dilemma”
Pada sesi Asia’s consumer dilemma dibahas beberapa hal penting sebagai berikut:
1) Jumlah konsumen kelas menengah perkotaan berkembang pesat di seluruh dunia, dan di Asia adalah yang terbesar;
2) Tanpa perubahan yang signifikan, kebiasaan konsumsi kelas menengah baru Asia akan memperparah ketersediaan sumber daya alam. Selanjutnya,
kecenderungan konsumsi berlebihan atau boros ditambah dengan produksi yang tidak efisien memperburuk masalah;
3) Konsumsi yang berkelanjutan berarti mendidik konsumen dan mendorong pertumbuhan yang lebih merata; dan
4) Inisiatif perusahaan tidak akan berjalan kecuali disertai dengan peraturan dan kerja sama pemerintah.
Session: “Overcoming Energy Security Challenges”
Pada sesi overcoming energy security challenges dibahas beberapa hal penting sebagai berikut:
1) Diversifikasi energi merupakan kunci dalam mengatasi tantangan energi;
2) Energi nuklir akan menjadi komponen yang integral dengan kebutuhan energi global di masa depan;
3) Pendidikan dan kesadaran yang lebih besar tentang harga sebenarnya pemakaian energi merupakan hal yang sangat penting; dan
4) Solusi berbasis teknologi merupakan upaya ekonomi yang baik dalam mengeksploitasi energi ke dalam bentuk yang berbeda dan dapat menjadi pendorong perekonomian.
Session: “The Beauty of Indonesia's
Biodiversity”
Pada sesi the beauty of Indonesia's biodiversity dibahas beberapa hal penting sebagai berikut:
1) Jutaan penduduk Indonesia bergantung pada keanekaragaman hayati bagi penghidupan mereka; 2) Keragaman hayati merupakan kepentingan lokal,
nasional, dan global; dan
3) Keragaman hayati harus menjadi pusat perhatian dalam memerangi kemiskinan.
Session: “The G2 Impact on Asia”
Pada sesi The G2 Impact on Asia dibahas beberapa hal penting sebagai berikut:
1) Republik Rakyat Tiongkok muncul sebagai kekuatan baru utama dunia di balik ketergantungan hubungan perdagangan yang tinggi dengan Amerika Serikat. Rivalitas kuat antara kedua negara dijaga oleh hubungan yang saling ketergantungan masing-masing negara; 2) Banyak negara-negara Asia yang berada di antara
ketergantungan terhadap pertumbuhan perdagangan Republik Rakyat Tiongkok dan ketergantungan pada bidang keamanan yang didominasi oleh Amerika Serikat; dan
3) Konsep G2 memberikan suatu model bagi kerja sama Sino-AS, tetapi pelaksanaan hubungan ini terbuka untuk diperdebatkan. Cina mengatakan berusaha mengurangi tekanan tetapi ada perbedaan pendapat pada seberapa
besar keinginan membentuk kembali tatanan global sebagaimana mestinya. Session: “Regional Reverberations: Responding to Natural Disasters”
Pada sesi regional reverberations: responding to natural
disasters dibahas beberapa hal penting sebagai berikut:
1) Dari sejumlah bencana alam yang mematikan di dunia, sekitar 85%-nya terjadi di Asia. Sementara itu, tidak terdapat solusi praktis untuk isu yang sulit ini, kuncinya hanya kerja sama yang baik antara sektor pemerintah, swasta, dan masyarakat sipil;
2) Saat ini, hanya sekitar 0.7% dari rata-rata US$ 17 juta dana bencana yang dihabiskan untuk proyek persiapan bencana, mayoritas dana bencana dihabiskan untuk dana tanggap bencana (pasca bencana). Penyeimbangan rasio antara dana persiapan (pencegahan) dan penanggulangan bencana, akan membuat rasio dana bencana lebih berpengaruh untuk menghadapi bencana; dan
3) Persiapan dan respons terhadap bencana harus difokuskan kepada bencana lokal yang mengancam orang-orang di lapangan.
Session: “The
Complexities of Cultural Fusion”
Pada sesi the complexities of cultural fusion dibahas beberapa hal penting sebagai berikut:
1) Serangan teror dan kejahatan seperti pembakaran gereja telah menimbulkan keprihatinan bahwa negara Indonesia yang demokratis mengarah kepada munculnya intoleransi dan ekstremitas;
2) Ideologi negara "unity in diversity" sangat tertanam dalam kesadaran warga negara Indonesia;
3) Ekstremitas di Indonesia lebih disebabkan oleh marjinalisasi ekonomi dan sosial dibandingkan dengan intoleransi agama; dan
4) Pemerintah harus meningkatkan perannya sebagai penengah kekuatan-kekuatan sosial yang bersaing dan mengambil sikap yang tegas terhadap intoleransi, mendukung penuh mempromosikan dan penerimaan pluralisme.
Session: “Driving Asian Growth: Women at the Wheel”
Pada sesi driving Asian growth: women at the wheel dibahas beberapa hal penting sebagai berikut:
1) Peranan wanita dalam dunia kerja merupakan pusat pendorong pertumbuhan ekonomi dan peningkat daya saing;
2) Persepsi tradisional terhadap wanita sebagai seorang istri dan ibu merupakan penghambat yang cukup signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi;
3) Wanita dapat membuat perbedaan dengan jelas dan membuat keputusan ekonomi untuk jangka waktu yang lebih panjang dibanding pria;
4) Pendekatan komprehensif dari sektor swasta dan pemerintah dibutuhkan sebagai jembatan kesenjangan
gender antara pria dan wanita; dan
5) Perekonomian akan kuat, jika perbedaan gender dapat dihilangkan.
Session : “Defying Deforestation : A Game Change for Climate Change”
Pada sesi defying deforestation: a game change for climate
change dibahas beberapa hal-hal penting sebagai berikut:
1) Indonesia adalah negara terbesar ketiga emitor emisi karbon. Dengan lebih dari 300 luas lahan hutan sebesar lapangan bola hancur karena penebangan hutan liar setiap jamnya, penggundulan hutan di Indonesia telah mencapai tingkat yang sangat membahayakan. Saat ini, hanya 30% dari hutan di Indonesia yang tinggal utuh, padahal Indonesia merupakan negara terbesar ketiga emitor karbon;
2) Negara berkembang telah berkomitmen untuk mengurangi pembuangan karbon hingga sebesar 26% pada tahun 2020. Forum internasional pada perubahan iklim hanya mencapai kesuksesan kecil dalam komitmen pembuangan gas emisi, panelis mencatat bahwa beberapa langkah penting telah dibuat. Indonesia, misalnya secara sukarela berkomitmen untuk mengurangi pembuangan gas karbon hingga 26% pada tahun 2020, dengan mengimplementasikan lebih dari 70 program guna mendukung tujuan besar ini;
3) Terdapat kepentingan yang significant dari sektor swasta untuk mendorong praktik-praktik berkelanjutan dalam mencegah dampak perubahan iklim yang lebih besar. Praktik-praktik ini mencakup usaha untuk melakukan penelitian yang lebih baik, inovasi-inovasi, efisiensi, dan meningkatkan kepercayaan diri konsumen untuk ikut mencegah dampak perubahan iklim. Dukungan yang besar dari sektor swasta ini juga akan mendorong langkah politik dalam menciptakan aturan-aturan, mendorong investasi dalam teknologi hijau dan dalam sumber daya energi yang dapat diperbarui, meningkatkan koordinasi dan partnership antara masyarakat lokal dan sektor swasta dalam mengimplementasikan standar-standar global; dan 4) Ekspansi yang besar dalam industri minyak kelapa sawit
dapat berkembang dengan langkah-langkah pengembangan yang berkelanjutan, seperti peningkatan efisiensi dan adopsi global sustainability standards.
Session: “Building a National Brand: Powering Growth through Culture”
Pada sesi building a national brand: powering growth
through culture dibahas beberapa hal-hal penting sebagai
berikut:
1) Pencitraan pariwisata merupakan citra nasional yang utama;
2) Peristiwa kekerasan dan kerusuhan, khususnya di negara-negara dengan sistem otoriter, dapat merusak citra pariwisata suatu negara beberapa tahun ke depan; 3) Para pemimpin mewakili citra yang dimiliki pariwisata suatu negara: apa yang mereka mengenai negara mereka akan memiliki dampak yang sangat besar; 4) Singapura sangat berhasil dalam mengelola citra dan
reputasinya; dan
5) Transformasi Indonesia dari negara otoriter menjadi negara demokratis ketika krisis keuangan Asia yang disertai kerusuhan masih memberikan dampak lebih dari satu dekade selanjutnya. Untuk mengatasi ini, Indonesia perlu mengoordinasikan strategi pencitraan.
Session: “Creating Jobs in Asia: The
Entrepreneurship Equation”
Pada sesi creating jobs in Asia: the entrepreneurship
equation dibahas beberapa hal-hal penting sebagai
berikut:
1) Saat ini, lebih banyak Usaha Mikro daripada Usaha Mikro. Padahal Usaha Kecil dan Menengah (UKM) yang berdiri di Asia. Di Filipina 96% perusahaan baru merupakan Usaha Mikro. Indonesia sendiri memiliki lebih dari 50 juta Usaha Mikro. Padahal UKM paling banyak menciptakan lapangan pekerjaan dan membayar pajak dalam pertumbuhan ekonomi. Meskipun bantuan pendirian Usaha Mikro menjadi perhatian, namun diperlukan perhatian yang sama terhadap UKM untuk memajukan dan menjaga keberadaan UKM. Hal ini untuk mencegah banyaknya tenaga kerja yang bekerja ke luar negeri;
2) Perusahaan multinasional dan perusahaan besar lainnya menciptakan lapangan pekerjaan juga, namun menghadapi kekurangan tenaga kerja terampil di negaranya atau di luar negeri;
3) Kewirausahaan juga dapat menciptakan lapangan pekerjaan, khususnya masyarakat miskin, namun masyarakat harus dilengkapi keahlian berbisnis dan keahlian lainnya serta belajar mengambil risiko; dan 4) Pemerintah mempunyai peranan dalam membuat
sistem pendidikan atau pelatihan yang terkait dengan kewirausahaan, membuat kebijakan, serta ketentuan melindungi teknologi dan industri baru.
Session : “Social Media in Asia: From Shaping Norms to Influencing Policy”
Pada sesi social media in Asia: from shaping norms to
influencing policy dibahas beberapa hal-hal penting
sebagai berikut:
1) Media sosial telah menekan tingkat pemisahan, merevolusi cara-cara yang ditempuh perusahaan dalam memasarkan produk-produknya dan mendefinisi ulang makna menjadi “seseorang” dan menjadi “seorang teman”. Media sosial seperti Facebook dan Twitter selain telah mengubah alat game modern, juga telah mengubah pola masyarakat dalam berhubungan satu sama lain, dan telah mengubah pola perusahaan dalam mengomunikasikan produknya kepada konsumen dan pelanggan mereka;
2) Perusahaan-perusahaan harus menggunakan media sosial sebagai alat komunikasi dengan pelanggan mereka, khususnya dalam masa krisis seperti sekarang, ketika penyampaian pesan kepada publik tanpa filter media tradisional menjadi begitu penting;
3) Namun di Asia, banyak perusahaan yang masih menolak untuk pindah ke media sosial, karena takut mereka akan kehilangan kontrol pasar. Padahal, media sosial telah membuktikan dirinya sebagai alat yang paling penting dalam berkomunikasi; dan
4) Menurut suatu kajian dan bukti anekdot, inovasi dengan menggunakan media sosial terjadi lebih sering di ekonomi berkembang dari pada di negara dengan pasar yang sudah maju. Indonesia misalnya, merupakan negara pengguna Facebook terbesar dengan 20 juta pengguna. Asia Tenggara, merupakan kawasan pengguna Twitter terbanyak di dunia.
Session: “Redrawing the "Greenprint" of Asia's Energy Architecture”
Pada sesi redrawing the "greenprint" of Asia's energy
architecture dibahas beberapa hal-hal penting sebagai
berikut:
1) Asia harus tetap berpikiran terbuka terhadap semua sumber energi termasuk tenaga nuklir, gas alam, batu bara, panas bumi, dan energi yang dapat diperbaharui (angin dan cahaya) untuk memenuhi kebutuhan energi yang meningkat. Hampir 40% penduduk di Negara berkembang seperti India dan Indonesia tidak memiliki akses untuk memanfaatkan energi tersebut;
2) Meskipun terjadi peristiwa kegagalan reaktor nuklir Fukushima, Asia tampak tidak terpengaruh dibandingkan dengan Eropa. Jerman memutuskan menutup 17 reaktor nuklir hingga tahun 2022 sementara Swiss akan menutup semua dari kelima
reaktor nuklirnya hingga tahun 2034. Referendum pada tenaga nuklir juga dikeluarkan oleh Italia; dan
3) Berpikir ulang mengenai model pemberian harga bahan bakar minyak termasuk penghapusan subsidi yang diperlukan untuk menunjukkan biaya sebenarnya dalam mendorong konservasi.
Session : “Currency Volatility: Balancing Flexibility and Stability”
Pada sesi ini dibahas beberapa hal-hal penting sebagai berikut:
1) Kebijakan China terhadap Yuan merupakan pusat isu mata uang di beberapa kawasan. China telah lama menjadi perhatian masyarakat internasional, terutama karena perannya sebagai partner kunci perdagangan Amerika Serikat, dengan menjaga nilai yuan tetap terkontrol secara ketat;
2) The current limited internationalization yuan merupakan percobaan yang luar biasa. Nilai mata uang dan metode mata uang yang dilakukan China akan menginternasionalisasi ekonomi China sedemikian dalam sehingga memberikan dampak kepada nilai dolar Amerika di masa mendatang dan memberikan dampak kepada ekonomi global. Fakta bahwa China melakukan kebijakan ini dengan tetap mencegah nilai yuan dari konversi, telah menjadikan China negara yang luar biasa;
3) Kemunduran mata uang dollar Amerika Serikat akan terjadi secara bertahap dan tidak terhindari. Namun mengelola peningkatan nilai yuan secara signifikan terhadap nilai dollar Amerika dalam sistem internasional, akan terjadi dalam proses yang lamban. Berkurangnya liberalisasi yuan saat ini telah menciptakan efek ‘bubbles’ dan distorsi. Tujuan para ekonomi di Asia, termasuk China dalam 35 tahun mendatang adalah menciptakan kompetitif tidak dengan mata uang yang murah tapi dengan mendorong inovasi home-grown;
4) Beberapa koordinasi kebijakan moneter sedang terjadi di negara-negara Asia Tenggara. Di Asia Tenggara saat ini, muncul kerja sama antara negara-negara berkembang untuk mengoordinasikan kebijakan moneter mereka. Bankers Asia Tenggara saling berkomunikasi dan mengadakan pertemuan secara rutin untuk merespons perkembangan di Asia Tenggara; dan 5) Reaksi pasar terhadap tsunami dan gempa bumi di
Jepang tidak mencerminkan kekuatan ekonomi yang fundamental dari negara tersebut, faktanya adalah Jepang memiliki hutang negara yang tinggi terhadap
rasio Gross domestic product (GDP). Salah satu area ekonomi Jepang yang lemah adalah Unit Usaha Kecil dan Menengah di Jepang yang hanya mendapat sedikit permintaan. Panelis mencatat bahwa akan sangat sulit memprediksi efek terhadap kekuatan yen yang menjadi lemah karena bencana tsunami di Jepang.
Session : “Capitalizing on Transformative Technology and Innovation”
Pada sesi capitalizing on transformative technology and
innovation dibahas beberapa hal-hal penting sebagai
berikut:
1) Teknologi akan dilihat sebagai suatu kegunaan utama seperti air dan listrik. Penggunaan alami teknologi yang terjadi di mana-mana seiring dengan ledakan inovasi teknologi itu sendiri merupakan suatu penciptaan paradigma baru tentang bagaimana masyarakat mencipta, menggunakan dan mengakses pengetahuan. Peningkatan kecanggihan teknologi, sebagai suatu aspek yang dinamis dan interaktif telah mengisi informasi tentang demokrasi, hal ini tentu membebaskan pergerakan informasi bagi masyarakat luas dan membuat negara berkembang membentuk pendekatan-pendekatan yang inovatif bagi tantangan sosial, politik, dan ekonomi mereka;
2) Demokrasi teknologi akan mengurangi tingkat kemiskinan. Perkembangan teknologi dan terbukanya arus informasi yang luas akan tersedia juga bagi penduduk miskin dan masyarakat pinggiran, sehingga mereka memiliki akes informasi yag sama dengan masyarakat Barat yang metropolis, dan hal ini akan terjadi dalam lima tahun mendatang;
3) Perkembangan teknologi akan memberikan manfaat bagi berbagai sektor dari mulai sektor energi hingga sektor kesehatan dan sektor pendidikan; dan
4) Pemanfaatan teknologi akan berguna dalam mempromosikan alokasi sumber daya yang lebih efisien. Teknologi semakin menjadi relevan dalam lingkungan sosial. Khususnya bagi generasi yang bertumbuh di lingkungan di mana masyarakatnya selalu “dikejar” oleh waktu, dan di tengah pemerintah dan pengusaha bisnis yang butuh untuk selalu fokus pada pengembangan manajemen information technology dalam menjalankan fungsi yang besar sekali manfaatnya dalam realitas baru ini.
Gambar 3. Panelis dalam Acara World Economic Forum on East Asia