BAB I KINERJA
D. Peningkatan Kerja Sama dan Perundingan Bilateral
3. Pertemuan Trade Negotiating Committee (TNC) ke-7 Indonesia –
3. Pertemuan Trade Negotiating Committee (TNC) ke-7 Indonesia – Pakistan
Pertemuan Trade Negotiating Committee ke-7 antara
Indonesia – Pakistan diselenggarakan pada tanggal 10 – 11 Juni 2011 di Islamabad, Pakistan.
Perundingan TNC-7 dimulai pada tanggal 10 Juni 2011
diawali dengan sambutan dari Ketua Delegasi Pakistan, menyampaikan apresiasinya kepada Indonesia atas kesediaan untuk melanjutkan perundingan TNC – 7 dan mengungkapkan beberapa pending issues pada TNC- ke 6 yang diharapkan dapat diselesaikan pada pertemuan ini. Pakistan menyatakan bahwa perundingan berpegang pada prinsip proportional dan equitable reciprocity serta pencapaian level of playing field dengan Indonesia.
Preferential Trade Agreement
Pada sambutan pembukaan Delri, Indonesia juga mengapresiasi atas sambutan dan kesediaan penyelenggaraan TNC-7. Indonesia sependapat dengan Pakistan untuk menyelesaikan pending list of products pada TNC ke 6 di Bali pada tahun 2009, kemudian menentukan waktu penandatanganan Preferential Trade
Agreement (PTA) kedua negara, serta persiapan proses FTA
sesuai kesepakatan Framework Agreement on Comprehensive Economic Partnership between the Government of the Republic of Indonesia and the Government of the Islamic Republic of Pakistan yang
ditandatangani oleh Menteri Perdagangan kedua negara pada tanggal 24 November 2005. Disampaikan bahwa Indonesia telah berupaya untuk menanggapi permintaan Pakistan dan mengharapkan proposal baru Indonesia
dapat diterima. Ditekankan, dalam rangka memastikan penyelesaian PTA yang lama tertunda, pihak Indonesia tidak menerima pembahasan baru mengenai tambahan produk di luar daftar produk (offer list) yang telah dibahas pada TNC ke–6.
Review of the Progress of the previous Rounds
Kedua belah pihak membahas perkembangan perundingan TNC ke – 1 (2006) sampai TNC ke – 6 (2009). Kedua belah pihak sepakat bahwa perundingan PTA telah membahas dan menyelesaikan agenda terkait dengan PTA dan hanya sebagian kecil saja yang harus diselesaikan guna menyelesaikan PTA dan memulai pembicaraan FTA. Kedua belah pihak menekankan kembali arti penting penyelesaian pending issues di TNC ke – 6 dalam rangka finalisasi PTA Indonesia – Pakistan.
Gambar 5. Trade Negotiating Committee ke-7 Indonesia-Pakistan Pakistan Response on
Indonesia’s Proposal
Indonesia menyampaikan kembali proposal Indonesia dan kepastian akan diberikannya perlakuan 0% tarif sepanjang tahun untuk jeruk Kinnow dengan syarat CPO Indonesia disamakan perlakuan tarifnya dengan CPO Malaysia dan tidak ada lagi penambahan permintaan produk dari pihak Pakistan.
Penawaran Indonesia diberikan dengan persyaratan jika:
(i) Produk CPO Indonesia mendapatkan perlakuan yang sama seperti yang diberikan Pakistan kepada Malaysia; dan (ii) Pakistan menyetujui permintaan Indonesia yaitu sebanyak 17 pos tarif dari sebelumnya 32 pos tarif yang diminta Indonesia pada TNC ke–6.
Pakistan menanggapi posisi Indonesia sebagai berikut: 1) Pakistan menyambut baik proposal dari pihak Indonesia,
namun dalam rangka mewujudkan prinsip proportional dan equitable reciprocity. Pakistan meminta Indonesia untuk mempertimbangkan 14 pos tarif additional
request dan 4 pos tarif deeper cut yang terdapat dalam
permintaan Pakistan;
2) Pakistan juga menambahkan additional request baru
sebanyak 9 pos tarif baru di luar permintaan yang terdapat dalam additional request Pakistan sebelumnya;
3) Terkait dengan permintaan (request list) Indonesia,
Pakistan bersedia memberikan 1 pos tarif dalam HS 48 yaitu HS 48.13.20.0000 (Cigar paper in roll of width < 5
cm) sedangkan untuk permintaan yang lain tetap akan
dibahas di FTA atau dipertimbangkan dengan prinsip resiprokal; dan
4) Pakistan menarik komitmen atas 3 pos tarif untuk deeper cut yang telah disepakati di TNC ke – 4 yaitu: (i) printing paper, HS 4802.52.20.00; (ii) other paper weighing 7150g/m2, HS 4802.53.00.00; dan (iii) other
carbon paper in rolls or sheets, 4809.90.00.00 dengan
alasan bahwa telah terjadi kesalahan pemberian pos tarif tersebut dalam perundingan sebelumnya.
Tanggapan pihak Indonesia atas Posisi Pakistan
Indonesia tidak puas dengan tanggapan Pakistan terhadap proposal Indonesia. Hal ini didasarkan pada fakta – fakta sebagai berikut:
1) Respons Pakistan yang hanya memberikan 1 pos tarif
dari 17 pos tarif (sebelumnya 32 pos tarif) yang diajukan Indonesia;
2) Pakistan mengajukan permohonan baru sebesar 14 pos
tarif additional request dan 4 pos tarif deeper cut, di luar apa yang telah Indonesia berikan di TNC ke – 6 dan dalam proposal Indonesia, tanpa mempertimbangkan
additional request Indonesia;
3) Pakistan mengajukan permintaan 9 pos tarif baru di luar
apa yang telah ada di dalam additional request Pakistan. Hal ini jelas melanggar komitmen yang telah dibuat sebelumnya yaitu pada pertemuan TNC ke – 7 bertujuan untuk menyelesaikan pending issues dalam TNC ke – 6 dan tidak akan membahas hal baru; dan
4) Pakistan melakukan withdrawal terhadap komitmen
Indonesia bereaksi keras atas tindakan Pakistan karena hal ini dapat menjadi preseden yang buruk untuk perundingan ke depan. Indonesia meminta Pakistan mempertimbangkan kembali posisinya.
Posisi Final Indonesia Pembahasan dilanjutkan pada hari kedua tanggal 11 Juni 2011, Indonesia telah mengupayakan untuk melangkah lebih maju dan lebih fleksibel dari posisi sebelumnya dan telah pula disampaikan posisi bottom line Indonesia pada saat terakhir sebagai berikut:
1) Untuk additional request Pakistan, Indonesia bersedia
memberikan 5 tambahan pos tarif, dengan demikian total pos tarif yang diberikan Indonesia menjadi 37 dari 61 pos tarif;
2) Untuk deeper cut Pakistan, Indonesia bersedia
memberikan 4 tambahan pos tarif, dengan demikian total pos tarif yang diberikan Indonesia menjadi 27 dari 43 pos tarif;
3) Indonesia juga bersedia menurunkan additional request
dari 17 menjadi 12 pos tarif (5 pos tarif kertas, 2 pos tarif sorbitol, dan 5 pos tarif keramik). Untuk lebih mendekatkan posisi, Indonesia menurunkan lagi permintaannya menjadi 10 pos tarif yang terdiri dari 5 pos tarif kertas, 2 pos tarif sorbitol, dan 3 pos tarif keramik. Dengan demikian, Indonesia telah mengeluarkan 22 pos tarif dari usulan awal Indonesia pada TNC sebelumnya;
4) Indonesia bersedia memberikan 2 dari 3 pos tarif yang
diminta untuk dikeluarkan oleh Pakistan. Walaupun keputusan ini berisiko, namun tetap diambil demi mendapatkan hasil positif guna menyelesaikan perundingan.
Menanggapi posisi final dari Indonesia, Pakistan tetap
pada prinsip “proportionality dan equitable reciprocity” dan belum dapat menerima posisi final Indonesia karena 12 pos tarif yang diajukan Indonesia masih sensitif bagi
stakeholder mereka. Penundaan
Perundingan
Dengan tidak fleksibelnya posisi Pakistan maka dengan sangat menyesal Indonesia terpaksa tidak melanjutkan perundingan dan memutuskan penundaan perundingan. Masuk ke dalam pengamatan, perundingan kali ini belum mencapai kesepakatan karena tidak bergeraknya posisi Pakistan padahal Indonesia telah menunjukkan fleksibilitas dan beberapa kali memperbaiki posisi offer maupun
request. Perundingan dihentikan dan akan dilanjutkan
apabila kedua belah pihak telah siap melakukan perundingan kembali.