BAB I KINERJA
E. Peningkatan Kerja Sama Perdagangan Jasa
2. Pertemuan Perundingan ke-2 Working Group Trade in Services
Pertemuan ke-2 Working Group on Trade in Services dilaksanakan dalam rangkaian perundingan putaran kedua Indonesia-EFTA Comprehensive Economic Partnership
Agreement yang telah diselenggarakan pada tanggal 6-8
Juni 2011 di Jenewa dan dipimpin secara bersama oleh ketua Working Group On Trade In Services dari Indonesia dan dari EFTA.
Terkait pembahasan to do list masing-masing pihak, Delegasi Indonesia menyampaikan Modalities for Incorporating GATS Commitments into the Trade in
Services Chapter untuk menjelaskan posisi Indonesia pada chapter text yang menginginkan kejelasan dalam setiap
ketentuan yang disepakati, serta Non Paper On The
Development Dimension Of The Trade In Services yang
menerangkan interest Indonesia atas pengaturan
Movement of Natural Person, sementara pihak EFTA
menyampaikan tambahan draft text Annex on Tourism and
Trave Services. Draft text chapter
Trade in Services
Atas draft text chapter Trade in Services usulan EFTA, Indonesia menyampaikan posisinya atas setiap article yang untuk beberapa hal masih belum dapat diterima oleh pihak EFTA di antaranya:
1) EFTA keberatan dengan proposal Indonesia pada article
Scope and Coverage untuk mengatur pembatasan
cakupan sektor karena dipandang telah mereduksi cakupan komitmen yang terdapat di GATS;
2) EFTA keberatan dengan proposal Indonesia untuk tidak mengakui natural person yang tinggal di negara non EFTA, mengingat services supplier EFTA sangat dimungkinkan tidak tinggal di wilayah EFTA;
3) EFTA belum dapat menerima proposal Indonesia untuk menambahkan Article mengenai Emergency Safeguard
Measures karena terkait kebijakan multilateral EFTA
yang juga belum menyetujui adanya usulan pengaturan
safeguard untuk trade in services di WTO;
4) EFTA menyatakan tidak akan dapat menerima proposal Indonesia untuk menambahkan article mengenai
denial of benefit, dan menjelaskan bahwa pada
dasarnya sekalipun hal tersebut dimungkinkan oleh GATS, namun sampai saat ini tidak pernah digunakan negara-negara anggota WTO dan bahwa klausul tersebut awalnya dimaksudkan untuk mengakomodir permasalahan bilateral antara Amerika Serikat dan Kuba sehingga EFTA memandang hal ini tidak relevan bagi kerja sama perdagangan jasa Indonesia dan EFTA; 5) Sekalipun dapat menerima proposal Indonesia atas
metode pengaturan exclusion pada article scope and
coverage, EFTA tidak dapat menerima exclusion
berlakunya chapter trade in services ini terhadap
cabotage, subsidies, dan taxation, tetapi mengusulkan cabotage dan subsidies ke dalam SoC serta taxation ke dalam General Provision.
Masih terdapat 2 (dua) issue dalam chapter trade in
services yang pembahasannya ditunda, sampai selesainya
Government Procurement dan Economic Cooperation
untuk menjaga konsistensi dan sinkronisasi komitmen.
Sector of interest Masing-masing Pihak
Kedua negara menyampaikan hal-hal yang mencerminkan sektor-sektor yang menjadi kepentingan masing-masing pihak. Indonesia menyampaikan interest-nya terhadap
supply jasa dalam bentuk movement of natural person
yang mencakup sektor-sektor tourism; health services
(nurses and caregivers); shipping construction; financial services, telecommunication; Technical testing and analysis services serta maintenance and repair services. Selain
spesifik sektor tersebut, sebagai tambahan pada article
MNP chapter Trade in Services Business Visitors; Intra Corporate Transferee, Indonesia juga menyampaikan
ketertarikannya untuk mendapatkan akses untuk Trainee,
Internship, and Independent Professionals dalam pasar
EFTA.
Indonesia Pasar Potensial bagi Supply Jasa EFTA
EFTA menjelaskan bahwa pada saat ini Indonesia merupakan pasar yang sangat potensial bagi supply jasa dari EFTA terutama sektor-sektor telecommunication (selain satellite sector juga ingin masuk ke operation
sector), finance (asset management, securities, financial advice, reinsurance), sector tourism, gas and oil energy (hydro dan carbon, electricity distribution), maritime, MIT insurance, financial services, tourism, technical testing and analysis, and mode 4 for installers and maintainers of machineries. Khusus untuk Norwegia menginginkan market access di sektor energy (hydro power) telecomunication, maritime, dan asuransi perkapalan.
Kedua pihak menyepakati bahwa sektor-sektor yang
interest masing-masing negara yang disampaikan pada
negosiasi putaran kedua ini akan menjadi dasar pertimbangan masing-masing pihak untuk kemudian mengelaborasi dan mempertimbangkan lebih jauh untuk dapat menjadi posisi pada perundingan berikut dan menjadi komitmen masing-masing.
Pembahasan Annex on Financial Services
Adapun beberapa hal penting terkait pembahasan annex
on financial services adalah sebagai berikut:
1) Annex on Financial Services (AFS) usulan EFTA berbeda secara signifikan dengan AFS yang ada di GATS. AFS usulan EFTA banyak memasukkan paragraph-paragraph dari Understanding on Financial Commitments,
Domestic Regulation GATS, dan paragraph baru tanpa
mengacu pada dokumen GATS; dan
2) Indonesia menjelaskan bahwa mempertimbangkan
menganggap bahwa AFS sesuai GATS sudah memadai dan menanyakan apakah memang ada rencana peningkatan presence di Indonesia. Sebagai respons, EFTA menyebutkan bahwa pengusulan draft AFS tersebut, terlepas dari tingkat presence, merupakan sesuatu yang lebih baik daripada AFS GATS. EFTA belum bisa mengonfirmasikan apakah akan ada peningkatan
presence di Indonesia ke depan. Pembahasan Annex on
Movement of Natural Persons (MNP)
Indonesia telah menyampaikan non paper yang isinya antara lain akses tenaga kerja ke EFTA untuk tenaga kerja semi permanen, tidak mengenal kuota dan penghapusan
Economic need test dalam memberikan akses tenaga kerja
dan meminta dibukanya kategori tenaga kerja yaitu
trainee, internship, dan independent professional.
Indonesia menyampaikan interest untuk lapangan kerja di bidang kesehatan nurse, caregivers, pariwisata yaitu perhotelan, sea fearer, spa, welder, konstruksi, financial, dan telecomunication services.
Pembahasan Annex on Telecomunication
EFTA menginginkan agar dalam perjanjian lECEPA juga mencakup liberalisasi sektor telekomunikasi melebihi ketentuan yang diatur dalam GATS dan reference lainnya, yang antara lain market access dan pengaturan penerbitan perizinan di sektor telekomunikasi dengan batas waktu maksimum 6 bulan. Menanggapi hal tersebut Indonesia menyampaikan bahwa keinginan tersebut tidak sesuai dengan ketentuan peraturan Indonesia dan mengusulkan untuk menggunakan GATS saja. Namun usulan tersebut akan dipelajari lebih lanjut.