• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR ISI DAFTAR ISI... 1 KATA PENGANTAR... 3 RINGKASAN EKSEKUTIF... 5 DAFTAR GAMBAR... 9

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "DAFTAR ISI DAFTAR ISI... 1 KATA PENGANTAR... 3 RINGKASAN EKSEKUTIF... 5 DAFTAR GAMBAR... 9"

Copied!
72
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

DITERBITKAN OLEH :

DIREKTORAT JENDERAL KERJA SAMA PERDAGANGAN INTERNASIONAL DITJEN KPI / LB / 52 / VI / 2012

(3)

Laporan Bulanan Ditjen KPI Periode Mei 2012 1

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI....………...………... 1 KATA PENGANTAR... 3 RINGKASAN EKSEKUTIF...………...………... 5 DAFTAR GAMBAR... 9 BAB I KINERJA…………....……... 11

A. Peningkatan Kerja Sama dan Perundingan Multilateral... 11

1. Rapat Koordinasi Penyusunan Bahan Posisi Kerja Sama Perdagangan Multilateral... 11

2. Rapat Penyusunan Bahan Posisi Runding Indonesia dalam Menghadapi Rangkaian Perundingan Teks Dispute Settlement Understanding... 12

3. Rapat Koordinasi Penyusunan Bahan Posisi Kerja Sama Perdagangan Multilateral dalam Rangka Persiapan Sidang Informal Negotiating Group on Trade Facilitation... 12

4. Rapat Koordinasi Penyusunan Bahan Posisi Kerja Sama Perdagangan Multilateral Bidang Hak Kekayaan Intelektual... 13

B. Peningkatan Kerja Sama dan Perundingan ASEAN ….……….………….. 14

1. Pertemuan ke-4 ASEAN Australia-New Zealand Free Trade Area (AANZFTA) Joint Committee... 14

2. The 2nd Senior Economic Official Meeting for the Forty-Third ASEAN Economic Ministers Meeting and Related Meetings…... 20

C. Peningkatan Kerja Sama dan Perundingan APEC dan Organisasi Internasional Lainnya... 29

1. Pertemuan APEC Committee on Trade and Investment ke-3…... 29

2. Pertemuan Board of Directors (BoDs) International Rubber Consortium Limited... 37

D. Peningkatan Kerja Sama dan Perundingan Bilateral... 38

1. Kunjungan Kerja ke Brussel, Belgia, dan St. Gallen, Swiss... 38

2. Pertemuan Working Group on Trade and Investment pada Mid Term Joint Commission Meeting (JCM) III RI-AS... 42

3. Interim Meeting Rl—UK... 45

E. Peningkatan Kerja Sama Perdagangan Jasa... 48

1. APEC Group on Services Meeting... 48

2. Pertemuan ASEAN–India Trade Negotiating Committee and Other Related Meetings (AI-TNC) ke-30... 51

(4)

2 Laporan Bulanan Ditjen KPI Periode Mei 2012

BAB II PERMASALAHAN DAN TINDAK LANJUT...………... 67

A. Kendala dan Permasalahan….………... 67

B. Tindak Lanjut Penyelesaian…..……….. 68

(5)

Laporan Bulanan Ditjen KPI Periode Mei 2012 3

KATA PENGANTAR

Laporan Bulanan Direktorat Jenderal Kerja Sama Perdagangan Internasional merupakan uraian pelaksanaan kegiatan dari tugas dan fungsi Direktorat-direktorat dan Sekretariat di lingkungan Direktorat Jenderal Kerja Sama Perdagangan Internasional, yang terdiri dari rangkuman pertemuan, sidang dan kerja sama di fora Multilateral, ASEAN, APEC dan Organisasi Internasional Lainnya, Bilateral, serta Perundingan Perdagangan Jasa setiap bulan baik di dalam maupun di luar negeri.

Adapun maksud dan tujuan dari penyusunan laporan bulanan ini adalah untuk memberikan masukan dan informasi kepada unit-unit terkait Kementerian Perdagangan, dan sebagai wahana koordinasi dalam melaksanakan tugas lebih lanjut. Selain itu, kami harapkan Laporan Bulanan Direktorat Jenderal Kerja Sama Perdagangan Internasional ini, dapat memberikan gambaran yang jelas dan lebih rinci mengenai kinerja operasional Direktorat Jenderal Kerja Sama Perdagangan Internasional.

Akhir kata kami menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu sejak penyusunan hingga penerbitan laporan bulanan ini.

Terima kasih.

Jakarta, Mei 2012

(6)
(7)

Laporan Bulanan Ditjen KPI Periode Mei 2012 5

RINGKASAN EKSEKUTIF

Beberapa kegiatan penting yang telah dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal Kerja Sama Perdagangan Internasional pada bulan Mei 2012, antara lain:

Rapat Koordinasi Penyusunan Bahan Posisi Kerja Sama Perdagangan Multilateral

Penyelenggaraan rapat bertujuan untuk mendengarkan paparan mengenai perkembangan kebijakan Illegal Logging Prohibition Bill 2011-Australia dan hasil dari

Public Hearing yang diselenggarakan oleh House of Parliament Australia pada tanggal

9 Mei 2012 serta berdiskusi untuk mengantisipasi apabila Bill tersebut diberlakukan.

Rapat Penyusunan Bahan Posisi Runding Indonesia dalam Menghadapi Rangkaian Perundingan Teks Dispute Settlement Understanding

Agenda utama rapat adalah bahan posisi runding Indonesia dalam menghadapi rangkaian perundingan teks Dispute Settlement Understanding (DSU) dalam kerangka

G40 Consultations.

Rapat Koordinasi Penyusunan Bahan Posisi Kerja Sama Perdagangan Multilateral dalam Rangka Persiapan Sidang Informal Negotiating Group on Trade Facilitation

Rapat bertujuan untuk menyusun tanggapan RI atas beberapa Article dalam Section I dan Section II Draft Consolidated Text (TN/TF/W/165/Revisi 12), dalam Pertemuan Informal Fasilitator Negotiating Group on Trade Facilitation.

Rapat Koordinasi Penyusunan Bahan Posisi Kerja Sama Perdagangan Multilateral Bidang Hak Kekayaan Intelektual

Rapat membahas agenda sidang WTO Council for Trade-Related Aspects of Intellectual

Property Rights (TRIPS Council) pada tanggal 5-6 Juni 2012 dan juga matriks posisi

runding untuk tiap-tiap isu perundingan TRIPS.

Pertemuan ke-4 ASEAN Australia-New Zealand Free Trade Area (AANZFTA) Joint Committee

Agenda terpenting dari pertemuan ini adalah: (i) FTA Joint Committee; (ii) Committee

Trade in Goods; (iii) Sub-Committee on Rules of Origin (SC-ROO); (iv) Sub-Committee on Sanitary and Phytosanitary Measures; (v) Committee on Trade in Services; (vi) Committee on Investment;dan (vii) Economic Cooperation Budget.

The 2nd Senior Economic Official Meeting for the Forty-Third ASEAN Economic Ministers Meeting and Related Meetings

Pertemuan difokuskan pada isu-isu: (i) ASEAN Internal Agenda; (ii) ASEAN Relations

with FTA Partners; (iii) Regional Comprehensive Economic Partnership; dan (iv) ASEAN Relations with Strategic Partners.

(8)

6 Laporan Bulanan Ditjen KPI Periode Mei 2012 Pertemuan APEC Committee on Trade and Investment ke-3

Beberapa isu yang dibahas adalah: (i) Support for the Multilateral Trading System; (ii)

Bogor Goals Review Process; (iii) Exploring an Free Trade Area of the Asia Pacific; (iv) Next Generation Trade and Investment Issues; (v) Environmental Goods and Services/Green Growth; (vi) Services; (vii) Investment; (viii) Contribution to Establishing Reliable Supply Chains; (ix) Expanding Regulatory Cooperation and Advancing Regulatory Convergence; (x) Contributions to APEC Leaders’ Growth Strategy, Including Innovative Growth; dan (xi) Industry Dialogue.

Pertemuan Board of Directors (BoDs) International Rubber Consortium Limited

Agenda utama pertemuan adalah membahas peran dan fungsi IRCo 10 tahun mendatang. Pertemuan kali ini merupakan pertemuan pertama bagi anggota BoDs dan anggota Commitee on Strategic Market Operation (CSMO) dari Indonesia, Thailand, dan Malaysia dengan masa tugas tanggal 29 April 2012 sampai 28 April 2014.

Kunjungan Kerja ke Brussel, Belgia, dan St. Gallen, Swiss

Kunjungan kerja dimaksudkan untuk mengukuhkan peran Indonesia dalam perekonomian global, terutama untuk lebih mengintensifkan hubungan ekonomi Indonesia dengan Uni Eropa, khususnya di bidang perdagangan dan investasi.

Pertemuan Working Group on Trade and Investment pada Mid Term Joint Commission Meeting (JCM) III RI-AS

Tujuan utama Working Group on Trade and Investment kali ini adalah membahas persiapan Trade and Investment Council (TIC) XII, baik untuk level Senior Official

Meeting (SOM) maupun Ministerial Meeting tahun 2012, dan sebagai ajang

pertemuan bagi kedua pihak untuk mencatat isu-isu yang menjadi concern Indonesia dan AS untuk kemudian dibahas dengan lebih mendetail dalam TIC XII.

Interim Meeting Rl—UK

Interim Meeting ini bertujuan untuk menindaklanjuti isu-isu yang diangkat pada Annual Trade Talks ke-1 yang telah dilaksanakan pada tanggal 1 November 2011

sehingga kiranya pada pertemuan berikutnya kedua negara dapat melanjutkan diskusi dengan isu-isu baru.

APEC Group on Services Meeting

Beberapa isu yang dibahas adalah: (i) Support for the Multilateral Trading System; (ii)

Trade and Investment Liberalisation, Regional Economic Integration; (iii) Contribution to Establishing Reliable Supply Chains; dan (iv) Expanding Regulatory Cooperation and Advancing Regulatory Convergence.

(9)

Laporan Bulanan Ditjen KPI Periode Mei 2012 7  Pertemuan ASEAN–India Trade Negotiating Committee and Other Related Meetings

(AI-TNC) ke-30

Pertemuan ini bertujuan untuk menyelesaikan pending matters pada pertemuan sebelumnya dan mengupayakan memperoleh clean text ASEAN – India Trade in

Services Agreement.

Pertemuan ke-69 ASEAN Coordinating Committee on Services

Pertemuan difokuskan pada isu-isu: (i) ASEAN Agreement on Movement of Natural

Persons; (ii) 8th Package of Commitments Under AFAS; (iii) Achievement of the AFAS Target 2015; (iv) Enhancement of the AFAS; (v) Facilitation and Cooperation; dan (vi) Sectoral Working Group.

(10)
(11)

Laporan Bulanan Ditjen KPI Periode Mei 2012 9

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 Committee on Trade and Investment Meeting...……... 29

Gambar 2 Pertemuan Bilateral dengan EU Trade Commissioner... 39

(12)
(13)

Laporan Bulanan Ditjen KPI Periode Mei 2012 11

BAB I

KINERJA

A. Peningkatan Kerja Sama dan Perundingan Multilateral

1. Rapat Koordinasi Penyusunan Bahan Posisi Kerja Sama Perdagangan Multilateral Rapat koordinasi penyusunan bahan posisi kerja sama

perdagangan multilateral, khususnya perkembangan Illegal

Logging Prohibition Bill 2011-Australia dilaksanakan pada

tanggal 15 Mei 2012, di Jakarta.

Penyelenggaraan rapat bertujuan untuk mendengarkan

paparan mengenai perkembangan kebijakan Illegal

Logging Prohibition Bill 2011-Australia dan hasil dari Public Hearing yang diselenggarakan oleh House of Parliament Australia pada tanggal 9 Mei 2012 serta berdiskusi untuk

mengantisipasi apabila Bill tersebut diberlakukan.

Hasil rapat secara umum membahas Bill tersebut yang

mewajibkan bahwa seluruh impor produk kayu yang ditebang dan masuk ke pasar Australia akan dianggap secara legal dengan memenuhi persyaratan uji kelayakan. Persyaratan tersebut merupakan sistem yang wajib dipenuhi oleh para importir kayu dan industri pengolahan kayu mentah di negara Australia setelah dua tahun peraturan ditetapkan.

Rapat mendiskusikan kemungkinan adanya unsur politik

dalam pembuatan kebijakan Australia tersebut mengingat produksi kayu domestik Australia tidak banyak dan jenis kayu tertentu yang tumbuh di antaranya ekaliptus. Terkait dugaan tersebut, wakil dari Direktorat Kerja Sama Bilateral, Kementerian Perdagangan akan mencoba menganalisis kemungkinan tersebut melalui perkembangan proses

Illegal Logging Prohibition Bill selanjutnya. Sistem Verifikasi

Legalitas Kayu

Rapat menyepakati bahwa salah satu langkah agar ekspor Indonesia untuk kayu dan produk kayu tidak terhambat oleh Bill tersebut maka perlu pengakuan Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK) di dalamnya sehingga Indonesia tidak perlu khawatir akan hasil due dilligence yang akan dilakukan oleh Pemerintah Australia di pelabuhan terhadap produk ekspor Indonesia.

Disampaikan juga apabila memang nilai dan potensi ekspor

kayu dan produk kayu sangat signifikan terhadap nilai ekspor Indonesia maka Indonesia perlu bersikap pro aktif

(14)

Laporan Bulanan Ditjen KPI Periode Mei 2012 12 dalam mensosialisasikan SVLK sebagai sistem nasional. Langkah proaktif dapat melalui workshop dan kunjungan lapangan dengan mengundang pembuat kebijakan di Australia ke Indonesia sehingga dapat melihat proses dan kredibilitas SVLK Indonesia.

Hal tersebut sangat penting mengingat regulasi teknis baru

akan disusun setelah 6 bulan Bill tersebut diberlakukan sehingga Indonesia berkesempatan untuk terus menanamkan image kredibilitas sistem SVLK agar mendapat pengakuan perlakuan yang sama.

2. Rapat Penyusunan Bahan Posisi Runding Indonesia dalam Menghadapi Rangkaian Perundingan Teks Dispute Settlement Understanding

Rapat diselenggarakan pada tanggal 7 – 8 Mei 2012 di

Bekasi, Jawa Barat. Agenda utama rapat adalah menyusun bahan posisi runding Indonesia dalam menghadapi rangkaian perundingan teks Dispute Settlement Understanding (DSU) dalam kerangka G40 Consultations. Isu – isu yang dibahas di dalam rapat antara lain adalah: 1) Flexibility and Member Control;

2) Panel Composition;

3) Strictly Confidential Information (SCI); 4) Remand; dan

5) Third Party Participation.

Rapat telah berhasil menyusun posisi runding RI atas

beberapa isu yang dijadikan agenda utama dalam rangkaian perundingan teks Dispute Settlement Understanding (DSU) pada tanggal 7 – 8 Mei 2012. Posisi

runding RI tersebut telah disampaikan kepada Sekretariat WTO melalui PTRI Jenewa pada tanggal 8 Mei 2012.

3. Rapat Koordinasi Penyusunan Bahan Posisi Kerja Sama Perdagangan Multilateral dalam Rangka Persiapan Sidang Informal Negotiating Group on Trade Facilitation

Rapat Koordinasi dilaksanakan pada tanggal 30 – 31 Mei

2012 di Bogor. Rapat bertujuan untuk menyusun tanggapan RI atas beberapa Article dalam Section I dan

Section II Draft Consolidated Text (TN/TF/W/165/Revisi

12), dalam Pertemuan Informal Fasilitator NGTF. Sesuai dengan agenda Sidang Informal NGTF, rapat membahas artikel-artikel sebagai berikut:

(15)

Laporan Bulanan Ditjen KPI Periode Mei 2012 13

1) Section I : Article 10.6 (Post-Shipment Inspections), Article 10.7 (Customs Brokers), dan Article 11 (Freedom of Transit).

2) Section II (Special and Differential Treatment)

Dalam rapat telah disepakati bersama bahwa terkait

dengan pembahasan artikel dalam Section II (S&D) akan dilakukan lebih lanjut bersama Direktorat Perdagangan, Perindustrian, Investasi dan HKI – Kementerian Luar Negeri. Selain itu, sehubungan dengan ketentuan dalam

Article 11 - Freedom of Transit, Direktorat Kerja Sama

Multilateral akan meminta konfirmasi kepada Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, Kementerian Perhubungan terkait Article 11.2, apakah pengelolaan Pelabuhan Udara sampai saat ini masih dipegang oleh BUMN. Hasil pembahasan dalam rapat mengenai posisi runding RI telah disepakati akan disampaikan dalam bentuk submission kepada Sekretariat WTO. Sehubungan dengan hal tersebut, Dit. Kerja Sama Multilateral telah menyampaikan

Written Submission posisi RI terkait Article-Article yang

telah dibahas dalam rapat kepada PTRI Jenewa untuk diteruskan ke Sekretariat WTO.

4. Rapat Koordinasi Penyusunan Bahan Posisi Kerja Sama Perdagangan Multilateral Bidang Hak Kekayaan Intelektual

Rapat bertujuan untuk menyusun posisi runding dalam

rangka menghadapi sidang WTO Council for Trade-Related

Aspects of Intellectual Property Rights (TRIPS Council) yang

akan diselenggarakan pada tanggal 5-6 Juni 2012 di Jenewa.

Rapat membahas agenda sidang TRIPS Council tanggal 5-6

Juni 2012 dan juga matriks posisi runding untuk tiap-tiap isu perundingan TRIPS, antara lain:

1) Australia: Tobacco Plain Packaging Bill;

2) Non Violation and Situation Complaint (NVSC); 3) Isu-isu terkait TRIPS-CBD dan GRTKF;

4) IP Enforcement Trends; dan

5) Observer Status for International Intergovernmental

Organization

Terdapat 2 (dua) mata agenda baru dalam sidang TRIPS Council kali ini yaitu: (i) Exchange of Information on Securing Supply Chain Against Counterfeit Goods; dan (ii)

(16)

Laporan Bulanan Ditjen KPI Periode Mei 2012 14

Copyright Limitations and Exceptions: On going Negotiation at WIPO – Briefing by Brazil and The United States.

B. Peningkatan Kerja Sama dan Perundingan ASEAN

1. Pertemuan ke-4 ASEAN Australia-New Zealand Free Trade Area (AANZFTA) Joint Committee

Pertemuan ke-4 ASEAN Australia-New Zealand Free Trade Agreement (AANZFTA) Joint Committee (FJC) dan

rangkaian pertemuan lainnya telah dilaksanakan pada tanggal 5 – 11 Mei 2012 di Bandar Seri Begawan, Brunei Darussalam.

FTA Joint Committee Pertemuan mencatat bahwa pada tanggal 10 Januari 2012 Indonesia telah Entry into Force (EIF) AANZFTA, dengan demikian semua ASEAN Member States (AMS) telah bergabung dalam Free Trade Agreement (FTA).

Pertemuan sepakat untuk menyiapkan laporan kepada

para Menteri yang menjelaskan momentum dilaksanakannya AANZFTA, dengan roadmap yang jelas untuk menekankan FTAs built in agenda serta peran penting dari Economic Cooperation Working Programme (ECWP).

Pertemuan telah menyetujui Summary of Decisions (SOD) Committee Trade in Goods (CTG) ke-4 di Australia pada

tanggal 6-8 Desember 2011 dan CTG ke-5 di Brunei Darussalam pada tanggal 8-10 Mei 2012 serta hasil-hasil pembahasan CTG, SC-ROO, SC-SPS, COI, CTS, SC Ad-hoc EC

Budget pada pertemuan ini.

Committee Trade in Goods (CTG) Transposition on the

AANZFTA Tariff Schedule to HS 2012

Pertemuan sepakat untuk menyelesaikan transposisi Tariff

Reduction Schedule (TRS) ke HS 2012. Pada kesempatan

ini, Laos, Vietnam, dan Myanmar minta untuk diadakan

training capacity building tentang jadwal penurunan tarif,

dan ASEAN Sekretariat akan segera mempersiapkan proposal training capacity building dan technical workshop terkait hal ini. Mengingat AEM-CER ke-16 telah memberi mandat untuk mempercepat proses transposisi, semua pihak diminta agar revisi TRS dan 2 way concordance table dapat diselesaikan sebelum tanggal 15 Juli 2012.

Monitoring Utilization AANZFTA Tariff

Preferences

Pertemuan meminta agar semua pihak dapat menyerahkan data perdagangannya sesuai dengan kesepakatan pada pertemuan CTG sebelumnya. Indonesia

(17)

Laporan Bulanan Ditjen KPI Periode Mei 2012 15 akan menyediakan data setelah Entry Into Force dengan AANZFTA tanggal 10 Januari 2012.

Non-Tariff Measures (NTMs)

CTG telah melakukan review kembali terhadap kajian NTMs New Zealand yang dapat menjadi pedoman untuk merekomendasikan proposal kepada konsultan independen, termasuk ruang lingkup pekerjaan yang harus diselesaikan oleh konsultan independen tersebut yaitu: SC-STRACAP, SC-SPS, dan SC-ROO.

List of Contact Points Negara-Negara Anggota ASEAN termasuk Indonesia telah melakukan pemutakhiran contact point untuk Trade in

Goods (TIG) kepada ASEAN Sekretariat.

Sub-Committee on Rules of Origin (SC-ROO)

Pertemuan sepakat untuk memutakhirkan focal and customs contact point ASEAN-Australia New Zealand

(AANZ) serta Specimen Signatures dan Official Seals ke dalam website AANZFTA.

Sebagai tindak lanjut mandat keputusan ASEAN Economic Ministers (AEM), pertemuan sepakat menghapus nilai FOB

dalam SKA dan diperlukan protokol amandemen AANZFTA. Untuk memfasilitasi perubahan-perubahan AANZFTA di masa mendatang, ASEAN mengusulkan dibuat ketentuan-ketentuan yang memungkinkan FTA-JC dapat mengadopsi perubahan-perubahan yang terjadi pada AANZFTA tanpa melalui protokol.

ANZ diminta untuk membuat dan mensirkulasikan draf Protocol secara intersessional kepada ASEAN untuk

ditanggapi pada tanggal 7 Juni 2012, selain itu ASEAN juga diminta untuk memberikan informasi mengenai prosedur domestik dan persyaratan amandemen trade agreements yang berlaku pada tanggal 29 Juni 2012.

Pertemuan tidak mencapai konsensus untuk mengadopsi full cummulation, namun ASEAN sepakat akan menggali

kemungkinan penerapan full cummulation pilot project berdasarkan voluntrary basis untuk produk-produk tertentu atau sektor-sektor yang akan diidentifikasi kemudian. Beberapa negara ASEAN tetap akan melakukan konsultasi domestik terkait dengan pelaksanaan pilot

project.

Product Specific Rules ASEAN meminta klarifikasi lebih lanjut terhadap tariff lines

Chapter 84, 85, dan 90. ANZ akan menyampaikan klarifikasi

secara tertulis terhadap Chapter dimaksud pada tanggal 31 Mei 2012, dan akan menyampaikan revisi proposal PSR

(18)

Laporan Bulanan Ditjen KPI Periode Mei 2012 16 sesuai HS 2012. ASEAN akan memberikan respons terhadap proposal tersebut pada akhir Juli 2012. Mengingat masih belum disepakatinya proposal ANZ untuk proses produksi kimia dan plastik, ASEAN meminta agar ANZ memberikan contoh spesifik Pos Tarif yang produknya telah diaplikasikan, selambat-lambatnya tanggal 31 Mei 2012.

Proposal PSR yang telah disampaikan oleh ANZ adalah

versi 2007, dan ANZ juga menyampaikan revisi proposal PSR kepada ASEAN HS 2012. ASEAN akan menyampaikan usulan PSR ANZ dan PSR lainnya pada akhir Juli 2012. Self-Certification Pilot

Project

Australia dan New Zealand menyampaikan outline non

paper dengan 3 (tiga) pilihan. ANZ menekankan pada

pilihan yang mengarah pada satu sistem Self Certification

Pilot Project yang pelaksanaannya sejalan dengan COO

yang sudah ada. ANZ meminta ASEAN untuk menyampaikan pertanyaan-pertanyaan terkait perkembangan Self Certification Pilot Project.

Transposition of The Product Specific Rules (PSRs), HS 2007 to HS 2012

ANZ menyatakan bahwa proses transposisi PSRs HS 2007 ke HS 2012 masih perlu waktu dan akan disampaikan ke ASEAN Sekretariat tanggal 31 Mei 2012 dan tanggapan ASEAN atas usulan transposisi ANZ akan disampaikan tanggal 15 Juni 2012.

Capacity Building Programme – ECWP

Pertemuan mencatat bahwa draft module training yang dipersiapkan oleh konsultan telah disirkulasi untuk mendapat tanggapan dari SC-ROO. Sekretariat ASEAN mengingatkan kembali kepada SC-ROO agar segera memberikan tanggapannya. Australia mengindikasikan akan memberikan tanggapan pada akhir Mei 2012. Pertemuan sepakat merekomendasikan kepada Committee

Trade in Goods (CTG) untuk mengesahkan revisi proyek

proposal “Development of Training Modules and Training

for trainers on AANZFTA Rules of origin”.

Sub-Committee on Sanitary and Phytosanitary Measures (SC-SPS)

Rules and Procedures of the AANZFTA SC-SPS

Pertemuan mencatat akan membentuk Sub-Committee on

SPS berdasarkan Article 10 Chapter 5 Agreement AANZFTA

yang beranggotakan perwakilan dari ASEAN dan ANZ. Untuk pedoman kerja, pada pertemuan ini telah diselesaikan Dokumen Rules and Procedures for the AANZFTA SC-SPS.

Pertemuan sepakat apabila ada perubahan mengenai

(19)

Laporan Bulanan Ditjen KPI Periode Mei 2012 17 negara ASEAN, Australia, dan New Zealand maka harus dinotifikasi ke semua anggota dan juga mengirim ringkasannya ke Sekretariat ASEAN. Selanjutnya Sekretariat ASEAN akan mengumpulkan berbagai notifikasi dimaksud dan melaporkannya kepada SC-SPS. Berkaitan dengan tugas tersebut, SC-SPS sepakat akan melaksanakan

a scoping study atau kajian tentang SPS yang berkaitan

dengan NTM yang berdampak pada pelaksanaan

Agreement dimaksud dan diharapkan dapat memberikan

masukannya terhadap rencana kajian dimaksud paling selambat-lambatnya tanggal 8 Juni 2012.

Economic Cooperation Work Programme (ECWP) for SPS Component

Dalam rangka meningkatkan kemampuan AMS untuk dapat melaksanakan kebijakan SPS secara efisien, Indonesia (Kementerian Pertanian) sepakat ikut dalam proyek kerja sama “Capacity – building for SPS National

Notification Authorities and National Enquiry Points on obligations for notification under WTO SPS Agreement”,

yang dilaksanakan dalam bentuk seminar/workshop dengan biaya AU$ 80,000. Kementerian Pertanian menyiapkan proposalnya dan akan dibahas oleh pihak Australia dan AMS sebelum diserahkan ke ASEAN Sekretariat.Diharapkan proposal yang diajukan tidak hanya untuk kegiatan notifikasi SPS tetapi juga notifikasi NTM. Committee on Trade in Services (CTS)

Rules and Procedures Pertemuan menyepakati Rules and Procedures

AANZFTA-CTS, dengan adanya usulan pada komponen cost and financial assistance.

Built in Agenda under Chapter 8 TIS

Dalam pembahasan review commitment, pertemuan sepakat untuk menyusun case study, yang selanjutnya akan disiapkan Term of Reference (TOR) dengan menetapkan sektor jasa yang menjadi fokus. Untuk memfasilitasi pembahasan Australia menyampaikan

non-paper yang menitikberatkan pembahasan pada sektor jasa

yang mendukung pencapaian regional/global supply chain, sementara New Zealand terfokus pada education sector.

Dalam agenda application of the MFN treatment to trade in services, ANZ menyampaikan preferensi untuk

menerapkan automatic and comprehensive MFN

treatment provision. ASEAN menekankan adanya

perbedaan karakteristik perundingan dan kepentingan dari tiap negara mitra, sehingga cukup sulit untuk menerapkan

automatic MFN. Terlepas dari status pembahasan isu ini

yang memang cukup sensitif dan belum siap untuk masuk pembahasan secara formal, Pertemuan

(20)

Laporan Bulanan Ditjen KPI Periode Mei 2012 18 mempertimbangkan kemungkinan diadakannya workshop

best practices on MFN.

Terkait review implementasi, Pertemuan meminta

masing-masing pihak untuk menyiapkan isu-isu terkait implementasi perjanjian pada sektor jasa yang menjadi perhatian dari domestic stakeholders/service suppliers. Dalam hal ini, Australia akan mensirkulasikan suatu paper yang berisikan pendekatan dalam mengomunikasikan manfaat dari perdagangan jasa kepada domestic

stakeholders. Pertemuan juga mencatat usulan New

Zealand untuk dilakukannya survei bagi sektor bisnis/services suppliers.

Trade In Services Implementation Plan Under The ECWP

Pertemuan membahas project yang telah dilaksanakan pada tahun 2011 dan memasuki fase kedua tahun 2012 yaitu pelaksanaan Project Capacity Building on Statistics on

International Trade in Services (SITS) dan National Qualification Framework (NQF) tahap II.

Pertemuan juga membahas 3 project baru yaitu Enhancing Domestic Regulation, Expanding the Capacity of ASEAN Logistics Services, dan Implementation/Action Plan to Operationalize ASEAN Mutual Recognition Arrangements. ANZ memberikan preliminary inputs agar fokus

pembahasan dilakukan secara sektoral dan perlu adanya keterkaitan dengan industri/services suppliers. Sementara itu, untuk proposal MRA, ANZ tidak melihat keterkaitan secara langsung project ini dengan dimensi AANZFTA, untuk itu disarankan untuk mengusulkan project ini pada kerangka di luar AANZFTA. Pada pertemuan FJC, Australia mengusulkan untuk menyampaikan project ini kepada

ASEAN Australia Development Cooperation Program (AADCP).

Committee on Investment (COI)

Sebelum dilakukan pertemuan COI, telah diadakan

workshop pada tanggal 3-4 Mei 2012 di Bandar Seri

Begawan, Brunei Darussalam. Tujuan dari workshop adalah untuk mempersiapkan pembahasan isu-isu yang terdapat dalam pasal Work Programme AANZFTA Investment

Chapter.

Pertemuan COI mencatat sejumlah isu yang dibahas terkait

isu investasi pada AANZFTA Committee on Investment yang perlu ditindaklanjuti diantaranya: (i) Pernyataan perwakilan Australia-New Zealand bahwa penyelesaian isu terkait treatment of non mode 3 investment in services dan

application of MFN treatment adalah syarat

(21)

Laporan Bulanan Ditjen KPI Periode Mei 2012 19 dalam AANZFTA Investment Chapter; (ii) Klarifikasi atas beberapa hal di perundingan terkait posisi ASEAN yang berbeda dengan posisi ANZ; (iii) Penyusunan Reservation

List bagi AANZFTA Investment Chapter termasuk konsep Headnote bagi Reservation List yang telah disusun oleh

Sekretariat ASEAN, elemen-elemen, dan time frame bagi

Reservation List; dan (iv) Pengusulan aktivitas dalam skema Economic Cooperation Working Programme (ECWP) Implementation Plan.

Work Program AANZFTA Investment Chapter

(i) Non mode 3 investment in services, NZ menyampaikan bahwa dalam konteks liberalisasi investasi hal tersebut seyogyanya dicakup dalam Investment Chapter, dengan pengecualian minimum dari pihak-pihak yang melakukan perjanjian apabila terdapat sensitivitas menyangkut non

mode 3 investment in services. ASEAN meminta agar pihak

ANZ menyusun suatu paper singkat mengenai non mode 3

investment in services agar didapat kesamaan persepsi dan

dibahas lebih lanjut pada pertemuan berikutnya; (ii)

Application of MFN treatment, posisi ANZ untuk

memberikan preferensi terhadap penggunaan automatic

MFN dengan pertimbangan bahwa hal tersebut

memberikan nilai tambah kepada Investment Chapter.

Automatic MFN yang dimaksud hanya akan mencakup

perlakuan yang diberikan oleh ASEAN secara kolektif maupun ANZCERTA kepada negara lain apabila di waktu mendatang melakukan perjanjian investasi. ASEAN meminta ANZ dapat menyusun suatu paper mengenai operasionalisasi pasal automatic MFN untuk dibahas pada pertemuan berikutnya; (iii).] Procedure for the modification of schedules of reservation diusulkan bahwa

akan merujuk kepada Article XXI GATS; dan (iv) Terkait

scheduling ofreservation kedua belah pihak sepakat

menggunakan pendekatan daftar negative list. Pertemuan membahas juga mengenai status implementasi aktivitas COI dalam ECWP 2010-2014 dan perkembangan proyek

OECD Investment Policy Review bagi Negara-negara ASEAN

yang berminat. Intellectual Property

Committee

Pertemuan telah mengesahkan SOD dari 3rd Meeting Intellectual Property Committee (IPC).

Economic Cooperation Budget AANZFTA Economic

Cooperation Support Programme

Pertemuan ini khususnya membahas budget proyek-proyek yang didanai oleh Selandia Baru dan Australia dan dikelola oleh ASEAN Sekretariat. Terdapat 2 (dua) program yaitu Economic Cooperation Work Programme (ECWP) dan

(22)

Laporan Bulanan Ditjen KPI Periode Mei 2012 20

ASEAN Support Unit (ASU). Proyek dalam ECWP adalah

proyek yang diusulkan secara sektoral oleh komite di bawah Joint Committee sedangkan proyek dalam ASU adalah adalah proyek yang lebih mendukung kepada ASEC dalam melaksanakan kegiatan di bawah AANZFTA. Besaran dana yang telah disediakan untuk kegiatan ECWP adalah sebesar AUD 5,3 juta dan untuk kegiatan ASEAN Support

Unit (ASU) AUD 1,3 juta. ECWP Component

Implementation Plan

Pertemuan menyepakati bahwa setiap komite agar merumuskan kegiatan masing-masing dalam mengimplementasikan Component Implementation Plan (CIP) sesuai dengan FJC Strategic Approach to Economic

Cooperation. Untuk itu dimungkinkan menggunakan

tenaga ahli dalam membantu desain maupun implementasi kegiatan ECWP. Hal ini dimaksudkan supaya proyek-proyek yang diusulkan dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya kepada negara anggota ASEAN.

Untuk proyek ECWP, pertemuan menyepakati beberapa

proyek baru yang diusulkan yaitu: (i) Technical Assistance

to Enhance ASEAN Logistics Services Sector, dan (ii) Enhancing Domestic Regulations.

Other Matters Pertemuan juga mencatat peningkatan jumlah kegiatan yang dilaksanakan pada tahun 2012 di mana salah satunya adalah OECD-Investment Policy Review (IPR) bagi negara AMS yang berminat. Sebagaimana diketahui, Malaysia saat ini sedang melakukan OECD-IPR dengan memanfaatkan dana tersebut. Indonesia menanyakan apakah dimungkinkan menggunakan dana tersebut untuk menindaklanjuti Indonesia-OECD IPR 2010. Pihak ANZ menyatakan bahwa hal tersebut bisa dilakukan.

2. The 2nd Senior Economic Official Meeting for the Forty-Third ASEAN Economic Ministers Meeting and Related Meetings

Pertemuan the 2nd Senior Economic Official Meeting for the Forty-Third ASEAN Economic Ministers Meeting and Related Meetings (SEOM 2/43) berlangsung pada tanggal

14-19 Mei 2012 di Makati City, Filipina.  ASEAN Internal Agenda

Phnom Penh Agenda SEOM sepakat bahwa Phnom Pehn Agenda merupakan pendalaman/penekanan pada program kerja yang ada, khususnya terkait dengan implementasi komitmen AEC

Blueprint menuju AEC 2015 dan ASEAN Frameworks for Equitable Economic Development (EED) dan Regional

(23)

Laporan Bulanan Ditjen KPI Periode Mei 2012 21

Economic Comprehensive Partnership (RCEP). Oleh karena

itu SEOM sepakat untuk menempuh upaya tambahan (double efforts) dalam mengimplementasikan komitmen AEC dengan titik berat pada key/priority measures. Pertemuan menyepakati usulan Indonesia untuk menggunakan rekomendasi MTR-AEC Blueprint sebagai

inputs dalam menetapkan key/priority measures, dan

SEOM menambahkan fokus pada regulatory reform sebagai inisiatif horizontal yang perlu mendapat perhatian khusus untuk mendorong implementasi AEC Blueprint. Sekretariat ASEAN akan menyiapkan draf tindak-lanjut

Phnom Penh Agenda untuk pembahasan SEOM 3/43 pada

bulan Juli 2012. Khusus terkait regulatory reform, Thailand menyampaikan concept paper untuk mendapat tanggapan dan pertimbangan SEOM.

Mid-Term Review (MTR) of AEC Blueprint

Pertemuan menyambut baik draf laporan ERIA tentang kemajuan kajian MTR on AEC Blueprint yang dititik-beratkan pada implementasi AEC measures dan outcomes, serta outputs, impacts or contributions of AEC Blueprint pada ekonomi masing-masing anggota ASEAN. Salah satu temuan penting dari survei yang dilakukan pada pelaku bisnis adalah pemeringkatan measures yang diharapkan menjadi perhatian khusus, yakni: (i) trade facilitation; (ii)

standards and conformance; (iii) investment facilitation and promotion; (iv) transport facilitation and connectivity;

(v) liberalization-related measures; dan (vi)

competitiveness measures.

SEOM meminta ERIA melakukan penyempurnaan rekomendasi pada key/priority measures (termasuk usulan

new measures bila ada) dan untuk reframing AEC Blueprint

dalam konteks post-2015. Diharapkan negara anggota dan

sectoral bodies memberikan masukan bagi

penyempurnaan laporan MTR paling lambat tanggal 28 Mei 2012 agar draf laporan dapat dibahas pada SEOM 3/43 dan HLTF-EI ke-22 pada bulan Juli 2012 dan selanjutnya kepada 44th AEM pada bulan Agustus 2012. Laporan akhir

MTR akan disampaikan kepada AEC Council pada bulan November 2012.

Equitable Economic Development (EED)

Pertemuan mencatat draft work plan untuk mengimplementasikan AF-EED dan hasil stock-taking yang dilakukan Sekretariat ASEAN. Negara anggota diharapkan dapat memberikan masukan pada matriks stock-taking tersebut paling lambat tanggal 22 Juni 2012 dan sepakat untuk menjadikan matriks tersebut sebagai bahan

(24)

Laporan Bulanan Ditjen KPI Periode Mei 2012 22 pembahasan implementasi AF-EED di bawah payung AEC

Council.

Indonesia c.q. Bank Indonesia melaporkan persiapan

penyelenggaraan ASEAN Conference on Financial Inclusion pada tanggal 27-28 Juni 2012 di Jakarta. Bank Indonesia dalam paparannya menggarisbawahi tujuan penyelenggaraan konferensi yaitu sebagai langkah awal untuk merumuskan platform financial inclusion di ASEAN melalui sharing of best practices yang diharapkan akan mendorong pembentukan financial inclusion forum di ASEAN. SEOM menyambut baik rencana penyelenggaraan konferensi tersebut.

Public-Private Sector Engagement (PPE)

SEOM mempelajari jadwal konsultasi dengan pelaku usaha pada tahun 2012 baik yang berbasis di ASEAN maupun

ASEAN-Dialogue Partners. SEOM menyetujui permintaan East Asia Business Council (EABC) untuk melakukan

konsultasi dengan SEOM+3 pada saat SEOM 3/43 bulan Juli 2012. Lebih lanjut SEOM juga membahas mekanisme

engagement sektor swasta dengan Menteri Ekonomi

ASEAN (AEM) dan menyepakati bahwa konsultasi dengan AEM dapat dilakukan apabila telah mendapat rekomendasi dari SEOM.

Indonesia meng-update SEOM terkait rencana penyelenggaraan ASEAN-Latin Business Forum (ALBF) yang akan digelar di Jakarta pada tanggal 9-10 Juli 2012 dengan target peserta forum yaitu para pengusaha, akademisi dan pemerintah, organisasi regional dari ASEAN dan Amerika Latin. Diharapkan agar negara anggota mendukung forum ini sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan hubungan dagang dan investasi dengan kawasan Amerika Latin dan Karibia.

Priority Integration Sector (PIS)

SEOM mencatat laporan kemajuan implementasi kegiatan horizontal dan spesifik dari masing-masing PIS yang disampaikan Sekretariat ASEAN dan country coordinator PIS. SEOM membahas usulan Singapura tentang rencana mempertemukan ASEAN Furniture Industries Council (AFIC) dengan AEM, dan sepakat agar AFIC mengadakan konsultasi lebih dahulu dengan SEOM pada pertemuan SEOM 3/43 mendatang untuk dapat memutuskan apakah AFIC dapat berdialog dengan AEM pada bulan Agustus 2012.

Self-Certification (SC) SEOM menyimpulkan bahwa target implementasi

ASEAN-wide self certification pada tahun 2012 ini tidak akan

(25)

Laporan Bulanan Ditjen KPI Periode Mei 2012 23 disiapkan Indonesia, Filipina, dan Laos kemungkinan baru dapat diimplementasikan pada awal tahun 2013 dan memerlukan sekurangnya satu tahun untuk dapat dilakukan assessment. SEOM sepakat menetapkan target implementasi ASEAN-wide self certification pada tahun 2015 dengan asumsi negosiasi penggabungan operational

certification procedures dari Pilot Project-1 dan Pilot Project-2 dapat diselesaian pada tahun 2014.

ASEAN MRA on Type Approval of Automotive Products

Terdapat perbedaan pandangan mengenai pemberlakuan MRA-Otomotif, apakah berlaku hanya untuk produk yang diproduksi dan dijual di ASEAN atau mencakup pula produk yang berasal dari luar ASEAN (non-ASEAN product). SEOM sepakat agar MRA-Otomotif tersebut berlaku hanya bagi produk otomotif yang diproduksi dan dijual di ASEAN. Pemberlakuan MRA dimaksud terhadap produk otomotif yang berasal dari negara di luar ASEAN dapat dilakukan apabila ASEAN telah menyepakati MRA tersebut dengan Negara yang bersangkutan.

Trade in Services Pertemuan mencatat beberapa perkembangan di bidang jasa termasuk hasil pertemuan CCS ke-69 pada tanggal 3-5 Mei 2012 di Da Nang, Vietnam, antara lain: (i) penyelesaian AFAS Paket 8 yang masih menunggu finalisasi komitmen Filippina; (ii) perundingan MNP Agreement, yang telah menyepakati penghapusan provision for

progressive liberalisation namun masih dalam proses

finalisasi penempatan Scheduling of Commitment di bawah

MNP Agreement (menunggu konfirmasi Filipina dan

Thailand), dan tentang scope, further liberalization,

institutional mechanism (perlu tidaknya membentuk Joint Committee); (iii) pembahasan threshold AFAS Paket 9 dan

Paket 10; dan (iv) gagasan penyempurnaan AFAS menjadi

ASEAN Services Agreement yang didasarkan pada kajian

Sekretariat ASEAN tentang potential benefit dari penambahan provisions serta implikasi hukumnya.

Intellectual Property Rights

SEOM menyambut baik usulan ASEAN-Geneve Committee (AGC) untuk menyelenggarakan AEM-WIPO Consultations pada pertemuan AEM ke-44 bulan Agustus 2012 dengan dua topik usulan DG WIPO yaitu: (i) discussion on the

global competitiveness of the ASEAN region and the critical role of IP in sustaining regional competitiveness in moving toward a competitive AEC in 2015; dan (ii) provision by WIPO of support for a Myanmar representative to be able to participate in all future AWGIPC meetings. SEOM juga

(26)

Laporan Bulanan Ditjen KPI Periode Mei 2012 24

intellectual property dengan diberlakukannya ASEAN Patent Search and Examination Cooperation (ASPEC) pada

tanggal 30 April 2012.

Consumer Protection Pertemuan menyambut baik peresmian website ASEAN

Committee on Consumer Protection (ACCP) dengan alamat

www.aseanconsumer.org. Dalam kaitan ini, Indonesia menyampaikan komitmen Pemerintah Indonesia untuk mendorong perlindungan konsumen di dalam negeri dengan menetapkan 20 April sebagai Hari Konsumen Nasional.

ASEAN Relations With FTA Partners

ASEAN – China Pertemuan mencatat bahwa seluruh negara anggota telah

mengimplementasikan komitmen penurunan tarif

Sensitive Track berdasarkan HS 2012 dan Product Specific Rules (PSRs) ACFTA berdasarkan HS 2007, kecuali

Indonesia. Pertemuan meminta Indonesia untuk mempercepat proses penyelesaian Legal Enactment (LE). Untuk bidang Jasa, China mengharapkan negara anggota yang belum meratifikasi Protocol to Implement the 2nd

Package of Specific Commitment on Trade in Services,

termasuk Indonesia, untuk segera menyelesaikannya sebelum pertemuan AEM-MOFCOM Consultations pada bulan Agustus 2012. Pertemuan juga menyepakati 2 (dua)

deliverables untuk disahkan pada pertemuan the 11th AEM-MOFCOM Consultation yang akan datang, yaitu (i)

penandatanganan the 3rd Protocol to Amend the ACFTA

dan Protocol to Incorporate SPS and TBT into TIG-ACFTA; serta (ii) alokasi dana khusus untuk berbagai proyek

Economic Cooperation.

ASEAN – Korea Pertemuan mencatat bahwa proses transposisi jadwal penurunan tarif dari HS 2007 ke HS 2012 di ASEAN secara umum telah mencapai tahap final dan menunggu verifikasi teknis dari pihak Korea. Seperti beberapa negara anggota lainnya, Indonesia akan segera menerbitkan PMK (LE) yang mengatur hal tersebut tanpa menunggu proses verifikasi oleh Korea yang diperkirakan akan memakan waktu. Pertemuan juga mencatat agar proses sukarela (voluntary)

offer and request liberalisasi pos tarif Sensitive Track (ST)

menjadi Normal Track (NT) dapat ditinjau kembali dan dibahas lebih lanjut di pertemuan AKFTA-IC bulan Juli 2012 di Kuala Lumpur, Malaysia. Empat target deliverables untuk the 9th AEM-ROK Consultations pada bulan Agustus

2012 adalah: (i) amandemen OCP AKFTA (target implementasi 1 Januari 2013); (ii) Review of Sensitive Track

(27)

Laporan Bulanan Ditjen KPI Periode Mei 2012 25

under AKFTA; (iii) Update on Trade in Services Agreement;

dan (iv) Transposition process of HS 2007 - HS 2012 AKFTA. ASEAN – Jepang Pertemuan sepakat untuk menyelesaikan verifikasi teknis

transposisi HS 2002 – HS 2007 hingga akhir Juni 2012. Terkait hal tersebut, Jepang melalui pertemuan bilateral dengan Indonesia mengusulkan untuk ditemukan “creative

solutions” atas hasil transposisi 293 pos tarif Indonesia

yang masih dipermasalahkan Jepang. Untuk itu diusulkan agar Indonesia mengundang pejabat teknis Jepang untuk melakukan pembahasan khusus di Jakarta. Terkait upaya penyelesaian perundingan di bidang jasa dan investasi, Jepang mengusulkan agar negara anggota yang telah memiliki bilateral EPA dengan Jepang dapat meningkatkan komitmennya (meskipun sulit bagi kedua pihak untuk menemukan titik ekuilibrium antara komitmen bilateral dan komitmen pada tingkat regional).

ASEAN akan melakukan konsultasi domestik atas draft ASEAN-Japan 10-Year Strategic Economic Cooperation Roadmap. Secara internal, ASEAN sepakat untuk dapat

memberikan input dan tanggapan secara umum sebelum tanggal 4 Juni 2012 dan secara spesifik sebelum tanggal 18 Juni 2012. Pertemuan juga sepakat dengan 5 (lima) target

deliverables untuk the 18th AEM-METI Consultation yaitu:

(i) Transposisi HS 2002- HS 2007; (ii) Transposisi PSR HS 2002 – HS 2007; (iii) finalisasi ASEAN-Japan 10-Year

Strategic Economic Cooperation Roadmap; (iv) update

implementasi AJCEP; dan (v) tindak lanjut konsultasi AEM-FJCCIA.

ASEAN – Australia-New Zealand

Australia dan Selandia Baru menyambut baik bergabungnya Indonesia sebagai party sejak 10 Januari 2012. Pertemuan sepakat untuk menyelesaikan 2 (dua)

pending issues yaitu: (i) Transposisi Jadwal Penurunan Tarif

dari HS 2007 ke 2012; dan (ii) Penghapusan nilai FOB pada SKA. Kemajuan atas dua hal ini diharapkan dapat dicapai sebelum pertemuan AEM ke-43 bulan Agustus 2012.

ASEAN – India Kedua pihak menyampaikan harapan agar perundingan bidang jasa dan investasi dapat diselesaikan pada pertemuan AITNC ke-30 tanggal 21-25 Mei 2012 di Malaysia meskipun sebagian besar anggota ASEAN merasa pesimistis. India mengusulkan agar ASEAN menggunakan komitmen ANZ FTA sebagai basis perundingan jasa dan investasi dalam AITNC, namun Malaysia selaku country

coordinator AIFTA menyampaikan kesulitan ASEAN

(28)

Laporan Bulanan Ditjen KPI Periode Mei 2012 26 informasi terkait dengan program “ASEAN-India Business

Fair“ yang akan diselenggarakan pada tanggal 16-18

Desember 2012 di India, dan meminta kesediaan Negara anggota ASEAN untuk berpartisipasi aktif pada kegiatan tersebut.

Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) SEOM mencatat laporan hasil pertemuan the 1st ASEAN

Preparatory Meeting on RCEP WG-TIG di Singapura pada

tanggal 19-20 April 2012. Isu utama yang dibahas oleh RCEP WG-TIG adalah level of ambition, pengertian Special

and Differential (S&D) dan Workplan TIG. Ketua

WG-TIG (Singapura) juga melaporkan bahwa saat ini negara anggota masih melakukan konsultasi domestik terhadap

template ASEAN yang akan dibahas kembali pada

pertemuan WG-TIG selanjutnya pada tanggal 3 Juni 2012.

Dalam pembahasan internal ASEAN mengenai possible template khususnya untuk trade in goods, dua isu

mengemuka yakni: (i) target of tariff liberalization sebesar 95% dari total tariff lines; dan (ii) aplikasi Special and

Differential (S&D). Mengenai target liberalisasi tarif, SEOM

sepakat dengan usulan Indonesia yang juga sudah disampaikan secara intersessional bahwa target 95% lebih bersifat aspirational mengingat perbedaan level of

sensitivity di antara sesama Negara ASEAN. Sementara

mengenai penerapan S&D treatment khususnya keberatan Thailand untuk memberikan perlakuan sama antara Vietnam dan ASEAN Least Developed Countries (LDCs), melalui pertemuan Leads only SEOM menyapakati usulan Indonesia untuk menjaga perdebatan mengenai hal ini sebagai isu internal ASEAN karena realisasinya akan sangat ditentukan oleh hasil negosiasi masing-masing Negara dengan mitra rundingnya.

SEOM – FTA Partners Indonesia sebagai country coordinator on RCEP

mempresentasikan konsep RCEP dalam pertemuan yang dihadiri oleh ASEAN dan negara mitra FTA (Australia, China, India, Jepang, Korea, dan Selandia Baru). Di dalam presentasi ini Indonesia menekankan bahwa konsep RCEP masih bersifat work-in-progress dan oleh karena itu melalui pertemuan pertama dengan seluruh FTA partners ini ASEAN mengharapkan adanya saran-saran untuk mengembangkan konsep RCEP ini lebih lanjut. Semua negara mitra FTA memberikan respons positif terhadap konsep RCEP, namun juga meminta penjelasan antara lain mengenai metode pendekatan dan kerangka waktu

(29)

Laporan Bulanan Ditjen KPI Periode Mei 2012 27 negosiasi, pengembangan templates, dan proses scoping

excercise. Dari diskusi yang berlangsung dapat disimpulkan

bahwa Negara-negara mitra FTA ASEAN ingin dilibatkan sedini mungkin dalam mengembangkan RCEP, terutama untuk dapat dikonsultasikan secara paralel dengan

domestic constituents masing-masing.

Pertemuan juga sepakat bahwa diperlukan pembahasan

pada dua tingkat: (i) policy-level discussion; dan (ii)

technical-level discussion (untuk sektor goods, services,

dan investment). Untuk itu Indonesia mengusulkan dibentuk mailing list khusus untuk membahas arah dan detail kebijakan RCEP secara intersessional. Pertemuan juga sepakat bahwa setelah pertemuan kedua ASEAN

Working Group on Trade in Goods pada awal Juni 2012,

ASEAN akan mengundang working-level officials dari Negara mitra FTA untuk melakukan scoping exercise menuju penyusunan template on trade in goods.

SEOM Plus Three (APT) Consultations

SEOM mencatat laporan DSG ASEAN tentang tindak lanjut hasil pertemuan tingkat Menteri dan Kepala Negara APT pada KTT Summit di Bali. Salah satu isu yang menjadi perhatian para Menteri adalah rekomendasi East Asia

Business Council (EABC) untuk memberi fokus pada

pengembangan Small and Medium Enterprises (SMEs). Terkait dengan proyek-proyek APT, pertemuan mencatat saat ini terdapat 3 (tiga) proposal yang disampaikan ASEAN namun baru satu proyek yang disetujui oleh forum PRs (Permanent Representatives) Negara-negara APT dan sudah siap pendanaannya yaitu pengembangan EABC

Business Matching Website, sementara 2 (dua) proyek

lainnya masih menunggu persetujuan dari PR-APT.  ASEAN Relations With Strategic Partners

ASEAN – US Indonesia selaku Country Coordinator ASEAN-US TIFA melaporkan perkembangan implementasi ASEAN-US TIFA

Work Plan 2011-2012. Selain mendukung rencana

pelaksanaan the 2nd Session of Trade and Environment Forum pada tahun 2012 dan ASEAN-US Business Summit

pada bulan Agustus 2012, SEOM juga mencatat perkembangan kerja sama di bidang standar dengan akan disepakatinya US-ASEAN Workplan for Cooperation in

Standards and Conformance. Pertemuan juga mencatat

rencana pelaksanaan Healthcare Services Forum dan

Digital Dialogue Forum yang akan menjadi subtema dari ASEAN-US Business Summit. Atas permintaan Indonesia,

(30)

Laporan Bulanan Ditjen KPI Periode Mei 2012 28 sama baru dalam konteks implementasi ASEAN-US TIFA

Work Plan 2011-2012 secara intersessional.

ASEAN – EU Vietnam selaku Country Coordinator ASEAN-EU

melaporkan hasil pertemuan the 11th AEM-EU Trade Commissioner Consultation dan pelaksanaan the 2nd ASEAN-EU Business Summit (2nd AEBS) pada bulan April

2012. Pertemuan mencatat draf respons ASEAN terhadap rekomendasi the 2nd AEBS yang dikoordinasikan oleh

Sekretariat ASEAN, namun masih ada beberapa pending

issues yang perlu dikomunikasikan lebih lanjut dengan sectoral bodies.

ASEAN – Canada Indonesia selaku ASEAN Country Coordinator untuk kerja sama ekonomi ASEAN - Canada memprakarsai dua kali pertemuan paralel guna menyelesaikan 2012-2015

Workplan on ASEAN-Canada Trade and Investment Cooperation. Workplan dimaksud selanjutnya telah di-adopt pada pertemuan SEOM – Canada Consultations

dengan fokus pada kerja sama aerospace, agri-food, clean

technology, education, energy, connectivity and infrastructure, science and technology, dan SMEs. SEOM

dan Kanada sepakat untuk melakukan pembahasan

intersessional guna merumuskan lebih lanjut rencana

kegiatan pada sector-sektor prioritas tersebut, untuk selanjutnya dilaporkan pada the First AEM-Canada

Consultations yang akan diadakan bulan Agustus 2012. ASEAN – Russia Pertemuan berhasil menyepakati draft “ASEAN-Russia

Trade and Investment Cooperation Roadmap” sebagai

salah satu deliverable untuk the 2nd AEM-Russia Consultations pada bulan Agustus 2012. Hal ini

dimungkinkan setelah SEOM dapat meyakinkan Rusia bahwa referensi kepada Belarusia dan Kazakhstan dalam

roadmap tidak dapat diakomodasi oleh ASEAN yang terikat

pada prosedur tertentu sesuai Piagam ASEAN, terutama karena Belarusia dan Kazakhstan belum memiliki status sebagai ASEAN Dialogue Partners. Beberapa program yang dicakup dalam roadmap ini adalah: (i) high-level dan

senior-level dialogues; (ii) dialog sektoral; (iii) fasilitasi

perdagangan dan investasi; serta (iv) peningkatan peran

private sectors. Dialog sektoral pada khususnya meliputi

area: transportation and communication, healthcare,

environment, tourism, capital markets, finance and banking, agriculture, energy, intellectual property, industrial cooperation, dan kerja sama lain yang bersifat

(31)

Laporan Bulanan Ditjen KPI Periode Mei 2012 29

C. Peningkatan Kerja Sama dan Perundingan APEC dan Organisasi Internasional Lainnya

1. Pertemuan APEC Committee on Trade and Investment ke-3

Pertemuan CTI-3 diselenggarakan pada tanggal 30-31 Mei 2012, di Kazan, Rusia. Pertemuan didahului dengan beberapa pertemuan sub-fora di bawah CTI:

Gambar 1. Committee on Trade and Investment Meeting

Support for the Multilateral Trading System

CTI menerima laporan Convenor sub-fora Market Access

Group (MAG) mengenai kontribusi APEC pada pembahasan

inisiatif perluasan cakupan produk dan keikutsertaan dalam Kesepakatan Teknologi Informasi (Information

Technology Agreement-ITA) tahun 1997 di Organisasi

Perdagangan Dunia (World Trade Organization-WTO). Terkait inisiatif perluasan ITA, beberapa anggota APEC menyatakan bahwa mereka masih dalam tahap melakukan konsultasi domestik. Sementara Anggota APEC yang mendukung mengingatkan agar APEC memenuhi Leaders’

Mandate tahun 2010, yaitu komitmen untuk tidak

mengeluarkan kebijakan yang dapat menghambat perdagangan (standstill commitment). Indonesia menyampaikan bahwa saat ini masih melakukan kajian atas dampak ITA tersebut sebelum memutuskan untuk ikut atau tidak ikut dalam inisiatif perluasan ITA.

MAG menyatakan dukungan atas dimulainya proses perundingan perluasan ITA di WTO dan mendorong agar dimasukkan sebagai bagian dari Ministers Responsible for

Trade (MRT) Statement. CTI menghimbau agar anggota

APEC meningkatkan intensitas konsultasi domestik agar dapat segera bergabung dalam perundingan ITA WTO.

(32)

Laporan Bulanan Ditjen KPI Periode Mei 2012 30

Bogor Goals Review Process

Pembahasan Bogor Goals Progress Report yang disiapkan

Policy Support Unit (PSU) berisi ringkasan area capaian dan

peningkatan yang harus dilakukan anggota APEC dalam pencapaian Bogor Goals (free and open trade and

investment) pada tahun 2020. Selain itu juga dibahas

“Dashboard”, yaitu indikator perdagangan barang, jasa, dan investasi anggota APEC. CTI sepakat dengan indikator tersebut yang kemudian akan dipublikasikan di internet setelah mendapat persetujuan dari masing-masing anggota.

Exploring an Free Trade Area of the Asia Pacific (FTAAP)

Korea menyampaikan informasi rencana penyelenggaraan

workshop on Rules of Origin and FTA Implementation dan workshop on Environment and Sanitary and Phytosanitary Measures (SPS) sebagai kegiatan awal Regional Economic Integration Capacity Building Needs Initiative (CBNI) yang

disahkan CTI pada pertemuan CTI-2 di Singapura. Next Generation Trade

and Investment Issues (NGTI)

CTI membahas tindak lanjut kesepakatan Leaders tahun 2011 yaitu: (i) Promoting effective, non-discriminatory, and

market driven innovation policy, melalui usulan Amerika

Serikat (AS) Innovation and Trade Implementation; (ii)

Enhancing small and medium-sized enterprises

participation in global production chains, melalui rencana

pelaksanaan seminar; dan (iii) Facilitating global

supply-chains, melalui penyelenggaraan Trade Policy Dialogue

(TPD) pada tanggal 27 Mei 2012.

Promoting effective, non-discriminatory, and market driven innovation policy; yaitu usulan rencana pengembangan implementation practices yang dapat digunakan oleh

anggota APEC sebagai referensi dalam meningkatkan kebijakan dalam negeri terkait peningkatan inovasi.

Implementation practices merupakan revisi dari usulan Guidance to implement innovation policy yang mendapat

banyak tanggapan negatif karena dianggap dapat mengatur arah kebijakan masing-masing anggota APEC.

Facilitating global supply-chains; Singapura menyampaikan

hasil Trade Policy Dialogue (TPD) on facilitating global

supply-chains, yang dimaksudkan sebagai langkah awal

dalam pembahasan Global Supply Chains (GSC). TPD membahas bagaimana perubahan struktural dan perkembangan pola perdagangan dunia, dan bagaimana kecenderungan barang-barang diproduksi secara global. Sebagai dampak dari hal tersebut, perlu dipertimbangkan pendekatan nilai tambah dalam penghitungan statistik perdagangan guna mendapatkan hasil perhitungan neraca

(33)

Laporan Bulanan Ditjen KPI Periode Mei 2012 31 perdagangan yang lebih akurat. Dalam hal ini dicontohkan bahwa nilai ekspor yang tinggi atas suatu barang belum tentu mencerminkan nilai ekspor yang sesungguhnya, karena perhitungan nilai tersebut tidak secara detail menghitung bagian yang diproduksi atau dirakit dengan menggunakan produk dan tenaga kerja dalam negeri. Selain itu, juga dibahas pentingnya APEC meningkatkan kemampuan UKM dalam GSC terutama bagaimana meningkatkan keahlian dalam memanfaatkan teknologi informasi.

CTI juga membahas identifikasi isu baru NGTI yang juga merupakan instruksi Leaders tahun 2011. Pembahasan ini sudah dilakukan sejak CTI-1 di mana diusulkan sepuluh isu baru yang kemudian mengerucut menjadi empat isu pada pertemuan CTI-3. Keempat usulan tersebut adalah: (i)

Transparency in RTAs/FTAs (usulan Rusia); (ii) Local Content Requirements (usulan Jepang, Korea, dan Amerika

Serikat); (iii) Creation and Dissemination of Creative

Content in the Digital Environment (usulan Amerika

Serikat); dan (iv) Promoting and Facilitating Trade of

Renewable and Cleaning Energy Products Through Dialogue (usulan China).

Setelah melalui pembahasan intensif sejak CTI-1, baik pada saat pertemuan maupun secara intersession, CTI menyepakati Transparency in RTAs/FTAs sebagai isu baru NGTI 2012. Terkait kesepakatan ini, APEC akan menyusun

best practices terkait transparency RTAs/FTAs. CTI juga

menyepakati pembahasan Promoting and Facilitating

Trade of Renewable and Cleaning Energy Products Through Dialogue dan Local Content Requirements untuk dilakukan

di bawah agenda perdagangan dan investasi, sementara

Creation and Dissemination of Creative Content in the Digital Environment akan dibahas di sub-fora Intellectual Property Rights Expert Group (IPEG).

Environmental Goods and Services/Green Growth

Pada pertemuan FoTC yang dilaksanakan sehari sebelum pertemuan CTI-3, Australia sebagai lead FoTC menyampaikan perkembangan nominasi sebanyak 323 produk yang telah disampaikan dari 13 anggota ekonomi APEC, dengan common product sekitar 122 produk yang dicalonkan oleh 7 anggota ekonomi. Pembahasan berpusat pada 8 (delapan) kategori nominasi produk yang telah mendapat tanggapan tertulis dari beberapa anggota ekonomi APEC. Delapan kategori itu antara lain fuels,

(34)

Laporan Bulanan Ditjen KPI Periode Mei 2012 32

efficiency, measuring and monitoring instruments, Alternating Current (AC) generators, batteries, beberapa

barang machinery lines dan iron and steel pipes.

Pembahasan juga menyoroti beberapa isu penting antara lain "dual uses" untuk beberapa barang lingkungan, tingkatan penggunaan barang non-lingkungan tertentu dan dampaknya terhadap lingkungan, kemungkinan penggunaan "ex-out" untuk fokus pada barang lingkungan tertentu dan manfaatnya bagi lingkungan secara langsung maupun tidak langsung. Selain itu anggota ekonomi APEC juga memberikan penjelasannya mengenai beberapa prinsip dan ruang lingkup dari barang lingkungan, serta alasan pencantuman produk tersebut sebagai nominasi barang lingkungan. Beberapa anggota ekonomi menyatakan keprihatinan terkait dengan nominasi produk

fuels dan chemicals dalam Environmental Goods And Services (EGs) list. Pada akhir pertemuan FoTC tersebut,

Amerika Serikat memaparkan presentasi tentang isu klasifikasi dan harmonisasi kepabeanan yang terkait dengan produk dalam nomenklatur HS 2012.

Pada pertemuan CTI-3 disepakati untuk perlunya melaksanakan CTI extraordinary meeting yang akan diselenggarakan pada 25-26 Juli 2012 di Mexico City guna untuk membahas lebih mendalam perkembangan APEC

EGs list. Juga disepakati agar anggota ekonomi APEC

menyampaikan tanggapan baru atau revisi nominasi produk sebelum tanggal 22 Juni 2012, dengan catatan anggota ekonomi masih dapat tetap memasukkan tanggapan mereka sesudah tanggal tersebut. Tanggapan tersebut dapat juga mencantumkan mengenai alasan satu ekonomi untuk mendukung nominasi suatu produk dalam

APEC list. Lead FoTC akan kembali menyampaikan update

hasil kompilasi nominasi produk dan komentar tertulis secara intersession.

Beberapa anggota ekonomi APEC menggarisbawahi pentingnya kesepakatan atas suatu APEC List untuk dilaporkan kepada APEC Leaders dalam pertemuan AELM di Vladivostok, Rusia. Namun, beberapa ekonomi lainnya juga menekankan concern atas perlunya melakukan konsultasi domestik secara menyeluruh dan mencapai konsensus tentang beberapa masalah yang berhubungan dengan lingkungan.

Services Group on Services (GOS) memberikan informasi terkait

Gambar

Gambar 1. Committee on Trade and Investment Meeting
Gambar 2. Pertemuan Bilateral dengan EU Trade Commissioner
Gambar 3. Group on Services Meeting

Referensi

Dokumen terkait

Data primer meliputi karakteristik contoh, karakteristik sosial ekonomi keluarga, konsumsi pangan, kebiasaan sarapan, status gizi, kebiasaan olahraga, dan

(perjudian). Alasannya karena tertanggung mengharap-harap sejumlah harta tertentu bila benar-benar mengalami musibah, seperti kematian terlalu cepat atau pemegang

Klik icon line lagi, dari sudut kiri bawah tidak diklik hanya disenter kemudian ditarik keatas lurus 30mm klik, kemudian tarik kesamping kanan dengan ukuran

Dalam bentuk uang pangsa ekspor cokelat dan produk cokelat dalam volume produksi cokelat di Rusia dalam beberapa tahun ke depan akan naik dan pada tahun 2015 akan

Wakil ketua DPRD Sumut Ruben Tarigan mengatakan, meski sudah disahkan sejak 18 Desember 2015, tapi APBD Sumut TA 2016 belum bisa digunakan karena belum ada pergub

Kekurangan ini akan lenyap dengan sendirinya kalau kaum intelektual kita dapat didikan di dalam perguruan sehingga diperoleh orang-orang Indonesia yang cinta pada nusa dan

Kualitas dari sistem informasi tergantung dari tiga hal, yaitu informasi harus akurat, tepat pada waktunya dan relevan (Siagian, 2006:37). a) Akurat, maksudnya adalah

Saya yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan untuk turut berpartisipasi sebagai responden dalam penelitian yang bertujuan untuk mengetahui pengetahuan perawat tentang