BAB I KINERJA
E. Peningkatan Kerja Sama Perdagangan Jasa
2. Pertemuan ASEAN–India Trade Negotiating Committee and Other
Rangkaian pertemuan ASEAN–India Trade Negotiating
Committee and other related Meetings (AI-TNC) ke-30
dilaksanakan pada tanggal 22-25 Mei 2012 di Kuala Lumpur, Malaysia. Pertemuan dihadiri oleh seluruh ASEAN Member
States (AMS) dan India. Pembahasan Definisi
Kategori Movement of Natural Persons (MNP)
Terkait dengan kategori Independent Professional (IP), apabila India tidak setuju dengan usulan Indonesia terkait IP, maka Indonesia memutuskan untuk lebih baik tidak ada kesepakatan. Hal ini didukung oleh AMS. Indonesia juga menyatakan untuk bersedia membahasnya namun tidak akan memasukkan kategori IP ini dalam agreement. Filipina dengan tegas menolak adanya kategori IP untuk dimasukkan dalam agreement ini.
Terkait dengan Contractual Service Supplier (CSS), ASEAN sepakat untuk tetap mengusulkan para (ii) dan para (v).
52 Laporan Bulanan Ditjen KPI Periode Juni 2012 Pembahasan Text
AI-TISA
Pembahasan text ASEAN – India Trade in Services Agreement (AI-TISA) berfokus pada beberapa article yang masih pending, yaitu:
1) Article Definition
ASEAN setuju untuk dimasukkan Kamboja dalam footnote bersama dengan 7 negara lainnya termasuk Indonesia, dengan alasan bahwa Kamboja tidak mengenal hukum aturan terkait permanent residence.
2) Article Recognition
Jika India menerima kata “may” pada para 3 maka Indonesia tidak keberatan atas masukan India pada kalimat “and conclude within 12 months”. ASEAN sepakat untuk tetap menggunakan kata ”may” pada para 3. Indonesia juga setuju atas usulan India pada para 6 di mana jika terjadi dispute settlement dalam implementasi
Mutual Recognition Agreement (MRA) menjadi tanggung
jawab professional body masing-masing. ASEAN juga telah menyiapkan counter proposal terkait usulan India pada para 3 dan 6.
3) Article Safeguards
Terkait dengan posisi Indonesia dan Thailand atas footnote yang menyatakan kedua negara berhak menerapkan tindakan safeguards apabila mekanisme konsultasi tidak mencapai kata sepakat, Indonesia setuju menarik footnote tersebut dengan syarat ASEAN Member State (AMS) setuju sepakat untuk tidak memasukkan IP pada definisi kategori
natural persons. Sedangkan Thailand memberikan
fleksibilitasnya dengan syarat India menyetujui usulan ASEAN pada Annex on Financial Services. Terkait dengan
footnote yang berisikan “a service sector of a Party”,
Indonesia menjelaskan bahwa di samping adanya perbedaan klasifikasi pada sektor energi, Indonesia juga tidak menginginkan adanya perbedaan interpretasi pada klasifikasi dengan adanya like products jasa.
4) Article Withdrawal & Termination
ASEAN sepakat untuk tetap mempertahankan article ini yang akan memberikan perlindungan bagi para investor apabila setelah implementasi perjanjian ini ada party yang melakukan withdrawal and termination.
ASEAN-India TNC Working Group on Services
India menyatakan untuk beberapa pasal dalam text akan dibahas setelah offer difinalisasi dan menyampaikan ketidakpuasaannya terhadap 4rd revised offer yang telah
disampaikan oleh AMS, walaupun Indonesia telah menambahkan offer di 3 subsektor yaitu Professional
Laporan Bulanan Ditjen KPI Periode Juni 2012 53
86220), Other Business Services: Market Research Services (CPC 86401), dan Management Consulting Services for:
Marketing Management Consulting Services (CPC 86503).
Pembahasan terkait draft text pada beberapa article, yaitu: 1) Pada article Recogniton, ASEAN, kecuali Vietnam, sepakat
untuk mempertahankan kata “may” dan adanya
timeframe waktu 12 bulan pada para 3 terkait MRA.
Indonesia menjelaskan bahwa dengan hal tersebut tidak mengandung makna obligation. India dalam hal ini masih mempertahankan untuk digunakannya kata shall, karena penggunan kata may tidak mempunyai nilai yang berarti. 2) Pada article safeguards, ASEAN dan India sepakat untuk
menghapuskan footnote 1 (satu). Sementara untuk
footnote 2 (menjadi footnote 4), Indonesia menyatakan
posisinya untuk mempertahankannya, dan fleksibel untuk peletakkannya. Hal ini sangat penting untuk menentukan
like produk jika ingin menerapkan safeguards. Namun
demikian, India menyatakan tidak fair bagi Negara ASEAN lainnya, dan India tidak menyetujuinya.
3) Pada pembahasan definisi terkait natural persons, ASEAN menyampaikan mengenai 3 kategori yang akan dimasukkan dalam definisi dan tidak memasukkan definisi mengenai Independent Professional sebagaimana usulan India. Indonesia menjelaskan bahwa dalam Peraturan Perundangan-undangan Indonesia tidak ada pengaturan suatu kontrak antara pengusaha dengan natural person. 4) India juga mengusulkan adanya annex terpisah untuk
MNP, namun ASEAN menolak hal ini karena tidak sesuai dengan request India pada pertemuan ASEAN Economic
Ministers (AEM) di Manado pada bulan Agustus 2011 yang
menyatakan bahwa India menginginkan MNP hanya sebagai initial step dalam pembahasan agreement.
Joint Meeting of AITNC Leads and AITNC WGS
Melihat perkembangan perundingan di WGS yang tidak mencapai kesepakatan karena kedua pihak berkeras pada posisinya, dilaksanakan pertemuan antara AITNC Leads dan
AITNC WGS Leads dengan hasil antara lain sebagai berikut:
1) ASEAN sepakat atas usulan India untuk menggunakan kata
“shall” dan menambahkan kalimat “of mutual interest”
pada para 3 Article Recognition, serta penggunaan “within
12 months months or a reasonable time frame to be mutually agreed between the professional bodies of both Parties”. Namun tambahan kalimat tersebut belum
54 Laporan Bulanan Ditjen KPI Periode Juni 2012
2) ASEAN juga sepakat untuk menghapus tambahan kalimat pada dispute settlement pada para 3 dan setuju atas usulan India pada para 6 mengenai jika terjadi dispute
settlement dalam implementasi Mutual Recognition Agreement (MRA) menjadi tanggung jawab professional body masing-masing. India sepakat untuk menghapus kata “continually” dan menyetujui usulan ASEAN untuk
menambahkan kalimat “pursuant to article ##<Review>” di para 3.
3) Pada article safeguards Indonesia masih mempertahankan definisi “a service sector of a Party” refers to domestic
service suppliers which shall be determined in accordance with their respective domestic laws and regulations di footnote 4.
4) Terkait MNP, belum ada kesepakatan karena ASEAN mengusulkan common definition mengenai MNP pada
Agreement di bawah artikel schedule of specific commitment sementara India tetap pada posisi adanya
pemisahan MNP di dalam annex. Demikian pula belum terdapat kesepakatan antara ASEAN dengan India mengenai Annex on Financial Services sebagai bagian dari
Agreement on Trade in Services. ASEAN mengusulkan Annex on Financial Services tetap sebagai isu penting
untuk dibahas pada WGS meeting.