BAB I KINERJA
D. Peningkatan Kerja Sama dan Perundingan Bilateral
3. Interim Meeting Rl—UK
Pada tanggal 24-25 Mei 2012 telah dilaksanakan rangkaian
Interim Meeting RI- UK di London, Inggris dalam rangka
persiapan menuju penyelenggaraan Annual Trade Talks ke-2. Interim Meeting ini bertujuan untuk menindaklanjuti isu-isu yang diangkat pada Annual Trade Talks ke-1 yang telah dilaksanakan pada tanggal 1 November 2011 sehingga kiranya pada pertemuan berikutnya kedua negara dapat melanjutkan diskusi dengan isu-isu baru.
Isu pajak terkait Production Sharing Contract
Perwakilan dari Kementerian Keuangan dan otoritas pajak Inggris, HM Revenue & Customs telah mengadakan pertemuan teknis sehari sebelumnya dengan tujuan mencapai hasil pembicaraan yang konkret atas isu
Production Sharing Contract (PSC). Kedua belah pihak
sepakat untuk menindaklanjuti kasus ini secara khusus. Jalan keluar yang dianggap memungkinkan adalah dengan membentuk Mutual Agreement di bawah Persetujuan Penghindaran Pajak Berganda (P3B) Rl - UK, yang akan mengikat kedua instansi yaitu Kementerian Keuangan dan
HM Revenue and Customs (HMRC).
Kedua pihak sepakat akan berhenti membahas permasalahan PSC secara umum, namun mulai membahasnya secara khusus, yaitu membahas setiap kontrak secara kasus per kasus melalui Mutual Agreement
Procedures (MAP), suatu mekanisme dispute settlement
yang diatur dalam P3B Inggris. Pihak Kementerian Keuangan mengusulkan agar HMRC dapat mengajukan permintaan untuk melakukan MAP. Mempertimbangkan beberapa hal, termasuk confidentiality, pembahasan hanya dapat dilakukan oleh competent authorities, dalam hal ini Kemenkeu dan HMRC, dan keputusan forum tersebut akan mengikat bagi kedua belah pihak.
Akses pasar bagi komoditi
berkesinambungan Indonesia
Indonesia menjelaskan secara ringkas keinginan untuk memperoleh akses pasar bagi komoditi CPO dan produk hasil kayu yang merupakan komoditi berkesinambungan. Dijelaskan bahwa pada tahun 1998 Indonesia mengalami krisis keuangan, bencana elnino, isu lingkungan pembakaran hutan, juga tentang orang utan yang komunitasnya terganggu. Namun Indonesia bangkit dan mulai memperhatikan komoditi berkesinambungan.
Untuk produk CPO sejak tahun 2003 telah diwujudkan
Roundtable Sustainable Palm Oil (RSPO) yang secara legal
Laporan Bulanan Ditjen KPI Periode Mei 2012 46 Indonesia mengadopsi skema ini dengan mendasarkan 3 aspek: People (mengacu pada kesejahteraan), Planet (mengacu pada lingkungan), Profit (mengacu pada kegiatan ekonomi dengan cara kerja sama kelapa sawit). Kini Indonesia sudah banyak melakukan usaha untuk menjaga komoditi yang berkesinambungan dengan menerapkan ISPO dan penegakkan hukum. Bagi Indonesia, penting untuk menciptakan kerja sama dengan Inggris untuk mengantisipasi kritik tentang Palm Oil Indonesia. Dijelaskan juga bahwa Indonesia dan Uni Eropa akan bersepakat dalam Voluntary Partnership Agreement (VPA)
on Timber. Indonesia akan menerapkan Sistem Verifikasi
Legalitas Kayu/Indonesian Timber Legality Assurance
System (Indo-TLAS). Indonesia mendorong agar pihak
Inggris mendukung Indonesia dengan mengakui dan menerima produk Indonesia yang berkesinambungan dalam pasar Inggris (kelapa sawit dan produk asal kayu). Pihak Inggris mengakui bahwa konsumen di Eropa, dalam hal Ini Inggris memiliki kesadaran yang tinggi atas komoditi yang berkesinambungan, sehingga pihak Inggris mendukung dan menghargai usaha Indonesia untuk terus mempromosikan komoditinya yang berkesinambungan. Salah satunya adalah dengan melibatkan pihak swasta dalam sosialisasi. Kedua belah pihak sepakat untuk melanjutkan promosi dan komunikasi antara pihak secara informal dalam rangka mempromosikan dan melakukan kerja sama di bidang komoditi yang berkesinambungan.
DNI bidang farmasi dan pembatasan impor produk farmasi
Sejauh ini, Indonesia masih menerapkan batasan kepemilikan modal asing (Foreign Direct Investment/FDI) untuk usaha industri farmasi sebesar 75% sesuai dengan PP No. 36/2010 tentang Daftar Bidang Usaha Yang Tertutup dan Bidang Usaha Yang Terbuka dengan Persyaratan di Bidang Penanaman Modal. Pada kesempatan ini, perwakilan BKPM di London menginformasikan bahwa Pemri sedang mempertimbangkan untuk merevisi Daftar Negatif Indonesia dan untuk usaha industri farmasi tersebut, Pemri rencananya akan membuka investasi bagi asing lebih tinggi namun belum dapat dikonfirmasikan besarannya.
Dalam kesempatan ini, perwakilan BPOM memberikan penjelasan tentang Permenkes 1010/2008 yang tujuannya untuk melindungi kesehatan konsumen dan meningkatkan kompetensi industri farmasi di Indonesia. Selanjutnya juga dijelaskan mengenai brown book yang mencakup registrasi
Laporan Bulanan Ditjen KPI Periode Mei 2012 47 obat-obatan di bawah BPOM yang telah disosialisasikan baik kepada asosiasi-asosiasi farmasi lokal maupun asing. Pihak Inggris menyampaikan bahwa mereka menghormati aturan Indonesia dan menghargai penjelasan atas regulasi dimaksud. REACH (Registration, Evaluation Authorization and Restriction of Chemicals)
Mengenai REACH, Indonesia menyampaikan bahwa
stakeholder Indonesia memberikan perhatian mengenai ini
karena berdasarkan data dan studi, baru 42% pelaku usaha yang mengerti akan REACH. Indonesia menganggap cukup sulit untuk mendapatkan sertifikasi REACH karena: (i) Tidak ada Mutual Recognition Agreement (MRA) antara Rl dan UK; (2) registrasi REACH hanya dapat dilakukan melalui agen yang ada di EU; dan (3) tingginya biaya pre-registrasi. Pihak Inggris menawarkan salah satu solusi adalah agar beberapa pelaku usaha melakukan share biaya seperti yang dilakukan oleh pengusaha-pengusaha di Uni Eropa dan Inggris. Dalam hal ini, British Standard Institution (BSI) menawarkan untuk membuat proposal kerja sama dalam rangka membantu sosialisasi REACH kepada UKM.
Pajak dan kuota alkohol Pihak Inggris menyampaikan perhatian utamanya dalam
isu ini, yaitu: (i) adanya diskriminasi antara produk lokal dan produk impor untuk minuman beralkohol (minol) kategori B dan C; dan (ii) kuota alkohol. Dampaknya adalah timbulnya penyeludupan dan pemalsuan atas produk-praduk minol Inggris. Menanggapi hal ini, pihak Indonesia menjelaskan bahwa perbedaan treatment tariff antara produk impor dengan produk lokal tidak diskriminasi karena bukan produk sejenis (alike product), produk lokal Indonesia adalah produk tradisional yang isinya berbeda dengan produk impor. Pemerintah Indonesia menghormati produk tradisional (indigenous product) melalui perlindungan tarif. Dalam kaitannya dengan mengatasi penyelundupan, pemerintah Indonesia telah mengeluarkan kebijakan bahwa importir harus terdaftar dan memperkuat institusi bea cukai sebagai otoritas pengawasan produk impor. Untuk hal tersebut, pemerintah Inggris telah menerima penjelasan tersebut.
Standar Kedua belah pihak memiliki pandangan bahwa standar itu merupakan prasyarat perdagangan internasional yang fundamental. Pihak Inggris melalui BSI menjelaskan akan menindaklanjuti rencana untuk mendukung UKM agar dapat mencapai standar. Pihak Indonesia menanggapi bahwa isu standar merupakan salah satu tugas internal yang perlu dikoordinasikan lebih lanjut.
Laporan Bulanan Ditjen KPI Periode Mei 2012 48
Sertifikat kesehatan bagi ekspor ternak dan bibit ternak
Pihak Inggris menyampaikan apresiasinya atas repons Indonesia yang tanggap atas permintaan Inggris untuk ekspor ternak dan bibit ternak. Tindak lanjut berikutnya adalah komunikasi antara Kementerian Pertanian dan
Department for Environment, Food and Rural Affairs
(DEFRA) untuk memfinalisasi kesepakatan sertifikasi kesehatan.
E. Peningkatan Kerja Sama Perdagangan Jasa