BAB IV HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN
B. Penemuan dan Pembahasan
Pengolahan data pada penelitian ini dilakukan menggunakan bantuan Microsoft Excel 2010, SPSS 17.0 dan Software Amos 16 untuk apat megolah data dan memperoleh hasil dari variabel-variabel yang diteliti, yaitu terdiri dari variabel eksogen ; Dana Pihak Ketiga (DPK), Non Performing Loan (NPL), Capital Adequecy Ratio (CAR) dan Loan to deposit Ratio (LDR), sedangkan variabel endogen ; Return on Assets (ROA) dan Penyaluran Kredit. Penjelasan lebih lanjut sebagai berikut :
a. Analisis Deskriptif Variabel Dana Pihak Ketiga
Pada dasarnya dana pihak ketiga adalah dana yang diperoleh bank dari masyarakat. Dana tersebut dapat berupa giro, tabungan
70 ataupun deposito yang berasal dari nasabah perorangan atau badan hukum.
Menurut UU Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perbankan (Pasal 1) disebutkan bahwa, simpanan adalah dana yang dipercayakan oleh masyarakat kepada bank berdasarkan perjanjian penyimpanan dana dalam bentuk giro, deposito, tabungan dan atau bentuk lainnya yang dipersamakan dengan itu.
Menurut Riyadi (2004:79) Sumber Dana Pihak Ketiga dari segi mata uangnya dibedakan menjadi :
1) Sumber Dana Pihak Ketiga Rupiah
Yaitu kewajiban-kewajiban bank yang tercatat dalam bentuk rupiah pada pihak ketiga bukan bank baik kepada penduduk maupun bukan penduduk. Komponen DPK ini terdiri dari Giro, Simpanan Berjangka (deposito dan Sertifikat Deposito), tabungan dan kewajiban-kewajiban lainnya yang terdiri dari kewajiban segera yang dapat dibayar, surat-surat berharga yang diterbitkan, pinjaman yang diterima, setoran jaminan dan lainnya. Tidak termasuk dana yang berasal dari bank sentral.
2) Sumber Dana Pihak ketiga Valuta Asing
Sedangkan yang dimaksud Dana Pihak Ketiga Valuta Asing adalah kewajiban bank yang tercatat dalam valuta asing kepada pihak ketiga, baik penduduk maupun bukan penduduk
71 termasuk pada Bank Indonesia, bank lain (pinjaman melalui pasar uang).
Data dana pihak ketiga yang digunakan adalah jumlah penghimpunan dana pihak ketiga pada kelompok Bank Persero periode bulan Januari 2005 – bulan Juni 2010. Data DPK tersebut terdiri atas giro, deposito, dan tabungan dalam bentuk rupiah maupun valas yang diperoleh dari Statistik Perbankan Indonesia pada situs www.bi.go.id.
Tabel 4.1
Dana Pihak Ketiga (per miliyar rupiah)
Bulan Tahun 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Jan 369,704 426,133 472,915 532,878 649,338 756,125 Feb 366,388 427,578 469,799 524,205 645,356 731,073 Mar 367,765 426,754 475,222 521,856 654,751 746,188 Apr 370,794 424,799 473,697 528,568 657,564 744,188 Mei 368,892 434,191 475,388 530,964 659,249 745,012 Jun 389,020 434,871 497,053 563,202 684,450 778,439 Jul 387,818 430,130 502,842 564,933 677,812 - Agu 392,914 437,092 495,955 535,128 696,359 - Sep 401,565 447,182 499,326 575,568 694,161 - Okt 401,788 457,196 500,878 604,913 699,218 - Nov 407,162 463,738 507,603 621,880 720,979 - Des 431,397 480,394 571,008 669,827 783,384 -
(Sumber : Data diolah)
Tabel 4.1 menunjukan perkembangan jumlah dana pihak ketiga pada Bank Persero periode Januari 2005 – Juni 2010. Pada masa penelitian ini jumlah Dana Pihak Ketiga terendah terjadi pada bulan Februari 2005 yaitu sebesar Rp.366.388 (miliyar), sedangkan
72 jumlah Dana Pihak Ketiga tertinggi terjadi pada bulan November 2010 yaitu sebesar Rp.798.125 (miliyar).
Agar lebih mudah dipahami dan komunikatif data tersebut dapat kita lihat melalui grafik sebagai berikut.
Gambar 4.1
Grafik Dana Pihak Ketiga (DPK)
(Sumber : Data diolah)
Pada grafik di atas, Dana Pihak Ketiga (DPK) menunjukkan kecenderungan yang terus meningkat, hal ini sejalan dengan perkembangan jumlah kantor Bank Persero yang terus meningkat sehingga semakin besar juga dana masyarakat atau Dana Pihak Ketiga (DPK) yang dapat diserap oleh Bank Persero.
b. Analisis Deskriptif Non Performing Loan (NPL)
Menurut Manurung dan Rahardja (2004: 196), NPL (Non Performing Loan) terbagi menjadi dua, yaitu kredit tak lancar dan kredit macet, kredit tak lancar adalah kredit yang masih dilakukan pembayarannya, tetapi lebih lambat dari jadwal yang seharusnya.
73 Sedangkan kredit macet adalah kredit yang sejak + 21 bulan dikategorikan diragukan, belum ada pelunasan atau upaya penyelamatan kredit. NPL (Non Perfoming Loan) atau tingkat kredit macet menunjukkan berapa persen kredit yang bermasalah dari keseluruhan kredit yang mereka kucurkan ke masyarakat. NPL juga merupakan faktor yang sangat penting bagi penilaian kinerja perbankan, bahkan hampir semua rasio nilainya dipengaruhi oleh NPL. Bank Indonesia sebagai regulator perbankan di Indonesia telah mengeluarkan peratuaran Surat Edaran Bank Indonesia No. 6/23/DPNP tanggal 31 Mei 2004 yang menetapkan NPL maksimim 5%. Semakin rendah NPL semakin bagus karena jumlah kredit yang bermasalah/macet pada bank tersebut semakin kecil begitupun sebaliknya semakin tinggi NPL suatu bank maka akan semakin besar kredit yang bermasalah/macet pada bank tersebut. NPL yang digunakan adalah NPL pada Bank Kelompok Persero.
Data NPL yang digunakan adalah perkembangan NPL pada kelompok Bank Persero periode bulan Januari 2005 – bulan Juni 2010. Data NPL tersebut diperolah dari Statistik Perbankan Indonesia pada situs www.bi.go.id pada tanggal 1 November 2010.
74
Tabel 4.2
Non Performing Loan (NPL)
Bulan Tahun 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Jan 0,0643 0,1533 0,1083 0,0689 0,043 0,0319 Feb 0,0643 0,1595 0,1105 0,0679 0,0453 0,0326 Mar 0,059 0,1608 0,1043 0,0559 0,0497 0,0307 Apr 0,0618 0,1569 0,1082 0,0569 0,0503 0,0314 Mei 0,114 0,1617 0,1076 0,0556 0,0513 0,0336 Jun 0,1301 0,1603 0,1003 0,0515 0,0466 0,0301 Jul 0,1441 0,1639 0,1013 0,0511 0,0481 - Agu 0,1574 0,1632 0,1008 0,0502 0,048 - Sep 0,1529 0,154 0,0868 0,0462 0,0436 - Okt 0,1461 0,163 0,085 0,0458 0,0449 - Nov 0,1529 0,1593 0,0809 0,048 0,0428 - Des 0,1475 0,107 0,065 0,0374 0,0346 -
(Sumber : Data diolah)
Tabel 4.2 menunjukkan perkembangan tingkat NPL pada kelompok Bank Persero periode bulan Januari 2005 – bulan Juni 2010. Pada masa penelitian ini NPL terendah terjadi pada bulan Juni 2010 yaitu sebesar 0,301, sedangkan NPL tertinggi terjadi pada bulan Juli 2006 yaitu sebesar 0,1639.
Agar lebih mudah dipahami dan komunikatif data tersebut dapat kita lihat melalui grafik sebagai berikut.
75
Gambar 4.2
Grafik Non Performing Loan (NPL)
(Sumber: Data diolah)
Grafik diatas menunjukkan kecenderungan NPL yang terus menurun, hal ini menunjukkan bahwa tingkat kesehatan aktiva produktif Bank Persero yang semakin membaik, karena masyarakat yang mengalami kredit macet sudah sedikit jumlahnya. Hal ini tampak pada periode Januari 2005 hingga Juni 2010 terjadi penurunan Non Performing Loan dengan tingkat rata-rata sebesar -18,83 persen per tahunnya.
c. Analisa Deskriptif Capital Adequecy Ratio (CAR)
Menurut Riyadi (2006:161) Capital Adequacy Ratio (CAR) yaitu rasio kewajiban pemenuhan modal minimum yang harus dimiliki oleh bank. CAR memperlihatkan kemampuan bank dalam memenuhi kecukupan modalnya. CAR merupakan indikator terhadap kemampuan bank untuk menutupi penurunan aktivanya sebagai akibat dari kerugian-kerugian bank yang disebabkan oleh aktiva beresiko, CAR juga menjadi indikator untuk melihat tingkat efisiensi dana modal bank
76 yang digunakan untuk investasi. Apabila persentase CAR terlalu kecil (lebih rendah dari standar BI) maka bank tersebut termasuk ke dalam kategori bank tidak sehat, namun apabila persentase CAR terlalu besar berarti terlalu besar dana bank yang menganggur (idle fund).
Data CAR yang digunakan adalah perkembangan CAR pada kelompok Bank Persero periode bulan Januari 2005 – bulan Juni 2010. Data CAR tersebut diperolah dari Statistik Perbankan Indonesia pada situs www.bi.go.id
Tabel 4.3
Capital Adequecy Ratio (CAR)
Bulan Tahun 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Jan 0,2376 0,2093 0,2227 0,2052 0,157 0,1567 Feb 0,2339 0,2049 0,2243 0,2094 0,1562 0,1562 Mar 0,2299 0,2194 0,2053 0,1992 0,1553 0,1615 Apr 0,2321 0,2219 0,215 0,187 0,1485 0,1537 Mei 0,2058 0,2169 0,2117 0,1679 0,1457 0,1513 Jun 0,1983 0,2038 0,1963 0,1545 0,1421 0,1413 Jul 0,2009 0,2085 0,196 0,1574 0,1381 - Agu 0,1989 0,2068 0,2023 0,1539 0,1351 - Sep 0,1978 0,1925 0,2297 0,1505 0,1327 - Okt 0,1992 0,2054 0,1984 0,1435 0,1311 - Nov 0,2019 0,2063 0,1906 0,14 0,1277 - Des 0,1943 0,212 0,1785 0,1431 0,1381 -
(Sumber : Data diolah)
Tabel 4.3 menunjukkan perkembangan tingkat CAR pada kelompok Bank Persero periode bulan Januari 2005 – bulan Juni 2010. Pada masa penelitian ini CAR terendah terjadi pada bulan November
77 2009 yaitu sebesar 0,1277, sedangkan CAR tertinggi terjadi pada bulan Januari 2005 yaitu sebesar 0,2376.
Agar lebih mudah dipahami dan komunikatif data tersebut dapat kita lihat melalui grafik sebagai berikut.
Gambar 4.3
Grafik Capital Adequecy Ratio (CAR)
(Sumber: Data diolah)
Grafik di atas menggambarkan fluktuasi tingkat kecukupan modal Bank Persero yang cenderung menurun, hal ini tampak pada periode Januari 2005 hingga Juni 2010 terjadi penurunan Capital Adequacy Ratio dengan tingkat rata-rata sebesar -5,64 persen. Hal ini disebabkan peningkatan kredit yang tidak sebanding dengan peningkatan modal, sehingga menyebabkan rasio permodalan (CAR) cenderung menurun.
d. Analisis Deskriptif Loan to Depoit Ratio (LDR)
Menurut Ahmad Faishol (2007: 151) LDR yaitu rasio antara jumlah seluruh kredit yang diberikan Bank dengan dana yang diterima oleh Bank.
78 Menurut Riyadi (2003;146), LDR adalah perbandingan antara total kredit yang diberikan dengan total Dana Pihak Ketiga yang dapat dihimpun oleh Bank. LDR juga LDR akan menunjukan tingkat kemampuan Bank dalam menyaluran dana pihak ketiga yang dihimpun oleh Bank yang bersangkutan.
LDR menyatakan seberapa jauh kemampuan bank untuk membayar kembali penarikan dana yang dilakukan deposan dengan mengandalkan kredit yang diberikan sebagai sumber likuiditasnya.
Data LDR yang digunakan adalah perkembangan LDR pada kelompok Bank Persero periode bulan Januari 2005 – bulan Juni 2010. Data LDR tersebut diperolah dari Statistik Perbankan Indonesia pada situs www.bi.go.id.
Tabel 4.4
Loan to Deposit Ratio (LDR)
Bulan Tahun 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Jan 0,4927 0,584 0,5898 0,6412 0,7145 0,7008 Feb 0,5062 0,5824 0,5978 0,6592 0,7306 0,7338 Mar 0,5128 0,5915 0,6062 0,6854 0,734 0,7375 Apr 0,5161 0,5943 0,6032 0,6935 0,7368 0,7497 Mei 0,5378 0,5909 0,6066 0,7162 0,745 0,7653 Jun 0,5271 0,6013 0,6188 0,7131 0,7479 0,7563 Jul 0,5294 0,6025 0,6142 0,7442 0,7564 - Agu 0,5353 0,6007 0,6359 0,7898 0,7564 - Sep 0,5312 0,603 0,6433 0,766 0,7464 - Okt 0,5317 0,595 0,6553 0,7589 0,7495 - Nov 0,529 0,5957 0,6628 0,7556 0,7368 - Des 0,5104 0,5993 0,6237 0,7027 0,6955 -
79 Tabel 4.4 menunjukkan perkembangan tingkat LDR pada kelompok Bank Persero periode bulan Januari 2005 – bulan Juni 2010. Pada masa penelitian ini LDR terendah terjadi pada bulan Februari 2005 yaitu sebesar 0,5062, sedangkan LDR tertinggi terjadi pada bulan Mei 2010 yaitu sebesar 0,7653.
Agar lebih mudah dipahami dan komunikatif data tersebut dapat kita lihat melalui grafik sebagai berikut.
Gambar 4.4
Grafik Loan to Deposit Ratio (LDR)
(Sumber: Data diolah)
Grafik diatas menunjukkan peningkatan LDR sebesar 7,57 persen. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan dalam kemampuan bank membayar penarikan yang dilakukan deposan dengan mengandalkan kredit yang diberikan sebagai sumber likuiditasnya, semakin tinggi rasio ini maka semakin rendah pula kemampuan likuiditas bank.
80
e. Analisis Deskriptif Return On Assets (ROA)
Menurut Riyadi (2007:156) ROA adalah rasio profitabilitas yang menunjukkan perbandingan antara laba dengan total asset bank, rasio ini menunjukkan tingkat efisiensi pengelolaan aset yang dilakukan oleh bank yang bersangkutan.
Data yang digunakan adalah data perkembangan Return on Asset (ROA) pada kelompok Bank Persero periode bulan Januari 2005 – bulan Juni 2010. Data tersebut diperoleh dari Statistik Perbankan Indonesia pada situs www.bi.go.id.
Tabel 4.5
Return on Asset (ROA)
Bulan Tahun 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Jan 0,0331 0,0151 0,0287 0,0328 0,0289 0,029 Feb 0,0333 0,0176 0,0305 0,0234 0,0292 0,0277 Mar 0,0343 0,0193 0,0274 0,0274 0,0274 0,0305 Apr 0,0371 0,0223 0,0271 0,0263 0,0263 0,0295 Mei 0,0327 0,0208 0,0276 0,0265 0,026 0,0287 Jun 0,005 0,0202 0,0267 0,0243 0,0268 0,0296 Jul 0,0069 0,0196 0,0266 0,0269 0,0264 - Agu 0,0074 0,0196 0,0268 0,0273 0,0264 - Sep 0,0042 0,0212 0,0265 0,0262 0,0257 - Okt 0,0057 0,0208 0,0268 0,0265 0,0267 - Nov 0,0102 0,0219 0,0268 0,026 0,0263 - Des 0,0245 0,0222 0,0276 0,0272 0,0271 -
(Sumber : Data diolah)
Tabel 4.5 menunjukkan perkembangan Return on Assets (ROA) pada Bank Persero periode Januari 2005 – Juni 2010. Pada masa penelitian ini Return on Assets (ROA) terendah terjadi pada
81 bulan September 2005 yaitu sebsesar 0,0042 atau 0,42%, sedangkan Return on Assets (ROA) tertinggi terjadi pada bulan April 2005 yaitu sebesar 0,0371 atau 3,71%.
Agar lebih mudah dipahami dan komunikatif, data tersebut dapat kita lihat melalui grafik sebagai berikut.
Gambar 4.5
Grafik Return on Assets (ROA)
(Sumber : Data diolah)
Grafik diatas menggambarkan kinerja Bank Persero dilihat dari sisi kinerja profitabilitas yang diukur dengan Return on Assetss (ROA). Selama periode Januari tahun 2005 hingga Juli tahun 2007, Bank Persero mengalami penurunan laba dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 5,6 persen per tahun. Namun, menjelang awal tahun 2008, perolehan laba cenderung meningkat sebesar 0,9 persen dari tahun sebelumnya. Return On Assets mengalami penurunan kemungkinan dipicu oleh peningkatan Non Performing Financing (NPF) yang mengharuskan bank harus menanggung biaya pencadangan aktiva produktif sehingga berpotensi menurunkan
82 profitabilitas. Meski demikian, secara keseluruhan pertumbuhan Return on Assetss (ROA) Bank Persero mengalami peningkatan.
f. Analisis Deskriptif Penyaluran Kredit
Menurut Undang-Undang No. 10 Tahun 1998, kredit adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam meminjam antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan jumlah bunga, imbalan atau pembagian hasil keuntungan.
Data penyaluran kredit yang digunakan adalah total jumlah kredit yang disalurkan oleh Bank Persero pada periode Januari 2005 – Juni 2010. Data tersebut diperoleh dari Statistik Perbankan Indonesia pada situs www.bi.go.id.
Tabel 4.6 Penyaluran Kredit (per milyar rupiah)
Bulan Tahun 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Jan 219,663 248,857 278,924 341,685 463,971 529,897 Feb 224,061 249,020 280,831 345,568 471,491 536,471 Mar 229,003 252,438 288,095 357,685 480,597 550,334 Apr 232,515 252,442 285,751 366,576 484,482 557,986 Mei 237,331 256,565 288,366 380,303 491,163 570,164 Jun 241,680 261,466 307,579 401,660 511,883 588,755 Jul 242,734 259,171 308,882 407,019 512,725 - Agu 248,357 262,567 315,353 422,633 523,875 - Sep 250,470 269,642 321,204 440,864 518,113 - Okt 251,583 272,047 328,201 459,042 524,081 - Nov 251,768 276,265 336,427 469,900 531,249 - Des 256,413 287,910 356,151 470,665 544,870 -
83 Tabel 4.6 menunjukkan perkembangan penyaluran kredit pada Bank Persero periode Januari 2005 - Juni 2010. Pada masa penelitian ini jumlah penyaluran Kredit terendah terjadi pada bulan Januari 2005 yaitu sebesar Rp. 219.663,- (Milyar), dimana jika diperhatikan terjadi kecenderungan peningkatan penyaluran Kredit dari bulan ke bulan sampai tingkat tertinggi yaitu pada bulan Juni 2010 sebesar Rp. 588.755,- (Milyar).
Agar lebih mudah dipahami dan komunikatif, data tersebut dapat kita lihat melalui grafik sebagai berikut.
Gambar 4.6
Grafik Penyaluran Kredit Bank Persero
(Sumber: Data diolah)
Grafik di atas menunjukkan perkembangan penyaluran kredit pada Bank Persero selama periode Januari 2005 sampai Juni 2010 yang setiap tahunnya mengalami peningkatan. Hal ini sejalan dengan peningkatan jumlah Dana Pihak Ketiga (DPK) yang dihimpun oleh Bank Persero selama periode Januari 2005 hingga Juni 2010. Dengan
84 rata-rata peningkatan sebesar 19,6 persen per tahun menunjukkan konsistensi Bank Persero dalam menyalurkan kredit sebagai lembaga intermediasi untuk membantu menggerakkan perekonomian dalam negeri.
2. Analisis Jalur Pengaruh Dana Pihak Ketiga (DPK), Non Performing Loan (NPL), Capital Adequecy Ratio (CAR), dan Loan to Deposit Ratio
(LDR) terhadap Return On Assets (ROA) serta Implikasinya terhadap Penyaluran Kredit Pada Bank Persero
Analisis jalur ini dibagi menjadi tiga substruktur. Substruktur yang pertama menganalisis pengaruh DPK, NPL, CAR, dan LDR sebagai variabel eksogen terhadap ROA sebagai variabel endogen. Substruktur yang kedua menganalisis pengaruh DPK, NPL, CAR, LDR, dan ROA sebagai variabel eksogen terhadap penyaluran Kredit sebagai variabel endogen. Dari hasil perhitungan dengan menggunakan AMOS 16, maka dapat digambarkan diagram jalur sebagai berikut.
85
Gambar 4.7
Diagram Jalur dengan Hasil Perhitungan
(Sumber: OutputAmos 16)
a. Analisis Korelasi
Korelasi antara DPK, NPL, CAR, dan LDR Kelompok Bank Persero dapat dilihat pada tabel sebagai berikut.
Tabel 4.7
Hasil Korelasi antara DPK, Modal Inti dan Inflasi
Korelasi Antar Variabel Estimasi Probabilitas
DPK < - - > NPL -0.773 0.000 DPK < - -> CAR -0.857 0.000 DPK < - -> LDR 0.880 0.000 NPL < - -> CAR 0.675 0.000 NPL < - -> LDR -0.742 0.000 CAR < - -> LDR -0.866 0.000
( Sumber : data diolah)
DPK NPL CAR LDR .63 ROA .99 KREDIT e1 e2 -.74 -.87 -.88 .67 .88 -.77 .23 .89 .31 -.85 -.04 .66 -.14 -.15 .11
86 1) Korelasi antara DPK dan Non Performing Loan (NPL)
Berdasarkan perhitungan, diperoleh angka korelasi antara variabel DPK dan NPL sebesar -0,773. Untuk menafsirkan angka tersebut digunakan kriteria sebagai berikut:
0 – 0,25 : Korelasi sangat lemah (dianggap tidak ada)
> 0,25 – 0,5 : Korelasi cukup kuat
> 0,5 – 0,75 : Korelasi kuat
> 0,75 – 1 : Korelasi sangat kuat
Untuk pengujian lebih lanjut, maka diajukan hipotesis:
Ho; ρ = 0 : Tidak ada hubungan (korelasi) yang signifikan antara dua variabel
Ha;ρ ≠ 0 : Ada hubungan (korelasi) yang signifikan antara dua variablel
Pengujian berdasarkan signifikan:
Jika probabilitas > 0,05 maka H0 diterima
Jika probabilitas < 0,05 maka H0 ditolak
Korelasi sebesar -0,773 mempunyai maksud hubungan antara variabel DPK dan NPL sangat kuat dan berlawanan. Berlawanan artinya apabila terjadi kenaikan DPK, maka NPL akan mengalami penurunan, dan sebaliknya. Korelasi dua variabel
87 tersebut mempunyai probabilitas sebesar 0 0 < 0,05 maka tidak cukup bukti untuk menolak Ho; ρ = 0 dan menerima Ha; ρ ≠ 0 sehingga korelasi signifikan.
2) Korelasi antara DPK dengan Capital Adequecy Ratio (CAR)
Berdasarkan perhitungan, diperoleh angka korelasi antara variabel DPK dan CAR sebesar -0.875. Korelasi sebesar -0.875 mempunyai maksud hubungan antara variabel DPK dan CAR sangat kuat dan berlawanan. Berlawanan artinya jika DPK mengalami kenaikan maka nilai dari CAR akan mengalami penurunan, dan sebaliknya. Korelasi dua variabel tersebut mempunyai probabilitas sebesar 0,000 < 0,05 maka tidak cukup bukti untuk menolak Ho; ρ = 0 dan menerima Ha; ρ ≠ 0 sehingga korelasi signifikan.
3) Korelasi antara DPK dan Loan to Deposit Ratio (LDR)
Berdasarkan perhitungan, diperoleh angka korelasi antara variabel DPK dan LDR sebesar 0.880. Korelasi sebesar 0.880 mempunyai maksud hubungan antara variabel DPK dan LDR sangat kuat dan searah. Searah artinya apabila terjadi kenaikan DPK, maka nilai dari LDR akan mengalami kenaikan, dan sebaliknya. Korelasi dua variabel tersebut mempunyai probabilitas sebesar 0,000 > 0,05 maka telah cukup bukti untuk menolak Ho; ρ = 0 dan menerima Ha; ρ ≠ 0 sehingga korelasi signifikan.
88 4) Korelasi antara NPL dan CAR
Berdasarkan perhitungan, diperoleh angka korelasi antara variabel NPL dan CAR sebesar 0.675. Korelasi sebesar 0.675 mempunyai maksud hubungan antara variabel NPL dan CAR kuat dan searah. Searah artinya apabila terjadi kenaikan NPL, maka nilai dari CAR akan mengalami kenaikan, dan sebaliknya. Korelasi dua variabel tersebut mempunyai probabilitas sebesar 0,000 > 0,05
maka telah cukup bukti untuk menolak Ho; ρ = 0 dan menerima Ha;
ρ ≠ 0 sehingga korelasi signifikan. 5) Korelasi antara NPL dan LDR
Berdasarkan perhitungan, diperoleh angka korelasi antara variabel NPL dan LDR sebesar -0.742. Korelasi sebesar -0.742 mempunyai maksud hubungan antara variabel NPL dan LDR kuat dan berlawanan. Berlawanan artinya apabila terjadi kenaikan NPL, maka nilai dari LDR akan mengalami penurunan, dan sebaliknya. Korelasi dua variabel tersebut mempunyai probabilitas sebesar 0,000 > 0,05 maka telah cukup bukti untuk menolak Ho; ρ = 0 dan menerima Ha; ρ ≠ 0 sehingga korelasi signifikan.
6) Korelasi antara CAR dan LDR
Berdasarkan perhitungan, diperoleh angka korelasi antara variabel CAR dan LDR sebesar -0.866 Korelasi sebesar -0.866 mempunyai maksud hubungan antara variabel CAR dan LDR sangat kuat dan berlawanan. Searah artinya apabila terjadi kenaikan
89 CAR, maka nilai dari LDR akan mengalami penurunan, dan sebaliknya. Korelasi dua variabel tersebut mempunyai probabilitas sebesar 0,000 > 0,05 maka telah cukup bukti untuk menolak Ho; ρ = 0 dan menerima Ha; ρ ≠ 0 sehingga korelasi signifikan.
b. Analisis Jalur Pengaruh Dana Pihak Ketiga (DPK), Non Performing Loan (NPL), Capital Adequecy Ratio (CAR), dan Loan to Deposit Ratio (LDR) terhadap Return On Assets (ROA)
Adapun gambar hasil analisis diagram jalur sub struktur pertama adalah sebagai berikut.
Gambar 4.8
Diagram Jalur Substruktur I
(Sumber : Output Amos 16)
Analisis jalur sub struktur yang pertama adalah menganalisis pengaruh DPK, NPL, CAR, dan LDR terhadap ROA baik secara
DPK NPL CAR LDR .63 ROA e1 -.74 -.87 -.68 .67 .88 -.77 .23 .89 .31 -.85
90 simultan maupun secara parsial. Untuk melihat besarnya pengaruh secara simultan dapat terlihat pada kolom estimasi pada tabel Square Multiple Correlation. Besarnya pengaruh antara variabel secara individu dapat terlihat dari besarnya angka estimasi pada tabel Standardized Regression Weight. Sedangkan untuk melihat signifikansi pengaruh antar variabel dapat terlihat pada angka di tabel Regression Weight kolom Probability. (Lihat Lampiran) .Adapun hasil perhitungan dengan menggunakan AMOS 16 adalah sebagai berikut.
Tabel 4.8
Pengaruh antara DPK, NPL, CAR, dan LDR terhadap ROA
Pengaruh antar variable Estimasi Probabilitas R Square
DPK - - > ROA 0.229 0.242
0.629 NPL - - > ROA -0.854 0.000
CAR - - > ROA 0.890 0.000 LDR - - > ROA 0.309 0.085
(Sumber : data diolah)
Untuk melihat pengaruh DPK, NPL, CAR, dan LDR secara gabungan terhadap ROA, kita dapat melihat hasil perhitungan pada tabel 4.8 khususnya angka R square.
Besarnya angka R square (r2) adalah 0,629. Angka tersebut digunakan untuk melihat besarnya pengaruh variabel DPK, NPL, CAR, dan LDR secara gabungan terhadap ROA dengan cara
91 menghitung koefisien determinasi (KD) dengan menggunakan rumus berikut:
KD = r2 x 100%
KD = 0,629 x 100%
KD = 62,9%
Angka tersebut mempunyai maksud bahwa pengaruh variabel DPK, NPL, CAR, dan LDR terhadap ROA secara gabungan adalah 62,9%, sedangkan sisanya sebesar 37,1% (100%-62,9%) dipengaruhi oleh faktor lain. Dengan kata lain, variabilitas kepuasan yang dapat diterangkan dengan menggunakan variabel DPK, NPL, CAR, dan LDR adalah sebesar 62,9%, sementara pengaruh yang disebabkan oleh variabel-variebel lain di luar model ini adalah sebesar 37,1%.
Untuk melihat besarnya pengaruh DPK, NPL, CAR, dan LDR terhadap ROA secara parsial, digunakan kolom estimasi pada tabel 4.8, sedangkan untuk melihat signifikansi digunakan kolom probabilitas.
1) Pengaruh antara variabel DPK dengan ROA
Untuk melihat apakah ada hubungan linier antara variabel DPK dengan ROA, dapat melakukan langkah-langkah analisis sebagai berikut:
Hasil perhitungan menunjukkan angka 0,242 > 0,05. maka tidak cukup data untuk menolak Ho; ρ = 0 dan menerima Ha; ρ ≠ 0.
92 Artinya, tidak ada hubungan linier antara variabel DPK dengan ROA. Besarnya pengaruh DPK terhadap ROA sebesar 0.229 atau 22,9%
Dana Pihak Ketiga memiliki pengaruh yang positif dan tidak signifikan terhadap ROA. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh R. Taufik Ahmad Hidayat (2010) bahwa Dana Pihak Ketiga dan portofolio kredit secara simultan dan parsial tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap ROA maupun NIM. Hal ini juga sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Yuliani (2007) bahwa total DPK tidak signifikan terhadap ROA. Dalam penelitian juga menunjukkan untuk mengukur tingkat profitabilitas/rentabilitas suatu bank variabel DPK tinggi tidak menjadi tolok ukur bank memperoleh laba yang tinggi. Walaupun secara teori jika DPK tinggi berarti masyarakat mempercayakan uangnya untuk dikelola oleh bank. Total DPK diperoleh dengan menjumlahkan rekening dari pihak ketiga yaitu tabungan, giro dan deposito. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Kesowo dalam Kuncoro dan Suhardjono (2002).
2) Pengaruh antara variabel NPL dengan ROA
Untuk melihat apakah ada hubungan linier antara variabel Inflasi dengan Return on Assets (ROA), dapat melakukan langkah- langkah analisis sebagai berikut:
93 Hasil perhitungan menunjukkan angka 0,000 < 0,05. Maka telah cukup data untuk menolak Ho dan menerima Ha. Artinya, ada hubungan linier antara variabel NPL dengan ROA. Besarnya pengaruh NPL pada ROA sebesar -0,854 atau -85,4%.
NPL memiliki pengaruh yang negatif dan signifikan terhadap ROA. Artinya, apabila NPL mengalami kenaikan, maka ROA akan mengalami penurunan, begitu juga sebaliknya. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Fitriani Prastiyaningtyas (2010) pada Bank Umum Go Public Yang Listed di Bursa Efek Indonesia Tahun 2005-2008, bahwa NPL berpengaruh signifikan negatif terhadap profitabilitas bank yang diukur dengan ROA. Menurut catatan Bank Indonesia, kredit macet disebabkan antara lain penurunan kualitas kredit yang disebabkan oleh penurunan kondisi keuangan debitor, keterlambatan pembayaran, masalah pembayaran lain, buruknya prospek usaha debitor dan efek penerapan Peraturan Bank Indonesia nomor 7/2/PBI/2005 tentang Penilaian Kualitas Bank Umum. Peningkatan NPL membutuhkan pencadangan yang lebih besar, sehingga mengurangi laba operasi (Fitriani Prastiyaningsih, 2007)
3) Pengaruh antara variabel CAR dengan ROA
Untuk melihat apakah ada hubungan linier antara variabel CAR dengan ROA, dapat melakukan langkah-langkah analisis sebagai berikut:
94 Hasil perhitungan menunjukkan angka 0,000 < 0,05. Maka telah cukup data untuk menolak Ho dan menerima Ha. Artinya, ada hubungan linier antara variabel CAR dengan ROA. Besarnya pengaruh CAR dengan ROA sebesar 0,890 atau 89%.
CAR memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap ROA. Artinya, apabila CAR mengalami kenaikan, maka ROA juga akan mengalami kenaikan, begitu juga sebaliknya. Hasil ini didukung oleh pendapat yang dikemukakan oleh Amiranti Masya (2009) yang secara rinci berpendapat bahwa rasio CAR berpengaruh secara signifikan terhadap ROA. Hasil ini juga sesuai dengan penelitian yang dilakukan dengan Edward Gagah Purwana (2009)