ANALISIS DANA PIHAK KETIGA, NON PERFORMING LOAN,
CAPITAL ADEQUECY RATIO, DAN LOAN TO DEPOSIT RATIO
TERHADAP RETURN ON ASSETS SERTA IMPLIKASINYA
TERHADAP PENYALURAN KREDIT PADA BANK PERSERO
SKRIPSI
Diajukan kepada Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Untuk Memenuhi Syarat-Syarat Meraih Gelar Sarjana Ekonomi
Di susun oleh : AGUS PAUZI 106081002374
JURUSAN MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
v
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
Nama : Agus Pauzi
Tempat/Tanggal lahir : Jakarta, 11Agustus 1988
Alamat : Jl. Utan Jati RT 005/06 No.05, Kalideres
Jakarta Barat 11830
Agama : Islam
Warga negara : Indonesia
Telepon : 02192373052-083873754229
Email : [email protected]/[email protected]
Motto Hidup : “If There Is A Will There Is A way”
Pendidikan :
1. MI Manba’ul Khairaat Tahun 2000
2. Mts Da’il Khairaat Tahun 2003
3. MA Da’il Khairaat Tahun 2006
4. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Manajemen FEB Tahun 2011
PengalamanOrganisasi :
1. Anggota Divisi Olahraga BEM FEB Jurusan Manajemen Universitas Islam Negeri Jakarta 2007/2008
2. Anggota Purna Paskibraka Indonesia Madrasah Aliyah DKI Jakarta 2005
vi
ABSTRACT
The purpose of this research is to analyze the influence of Third Party Funds, Non Performing Loan (NPL), Capital Adequacy Ratio (CAR), dan Loan to Deposit Ratio (LDR) toward Return on Assets (ROA) and its implication to Credit Distribution at Persero Bank. This research used path analysis method with decomposition model. The result of substructure I indicate that Non Performing Loan (NPL), Capital Adequacy Ratio (CAR), dan Loan to Deposit Ratio (LDR) have significantly effect to Return on Assets (ROA) at Persero Bank. The result of substructure II indicate that Third Party Funds, Non Performing Loan (NPL), Capital Adequacy Ratio (CAR), Loan to Deposit Ratio (LDR), and Return On Assets (ROA) have significantly effect to Credit Distribution.
vii
ABSTRAK
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisa pengaruh Dana Pihak Ketiga (DPK), Non Performing Loan (NPL), Capital Adequacy Ratio (CAR), dan Loan to Deposit Ratio (LDR) terhadap Return On Assets (ROA) serta implikasinya pada penyaluran Kredit di Bank Persero. Penelitian ini menggunakan metode analisis jalur dengan model dekomposisi. Hasil pengujian pada substruktur I menunjukkan bahwa variable Non Performing Loan (NPL), Capital Adequacy Ratio (CAR), dan Loan to Deposit Ratio (LDR) berpengaruh signifikan terhadap Return on Assets (ROA) Bank Persero. Hasil pengujian pada substruktur II menunjukkan bahwa variabel Dana Pihak Ketiga (DPK), Non Performing Loan (NPL), Capital Adequacy Ratio (CAR), Loan to Deposit Ratio (LDR), dan Return On Assets (ROA) berpengaruh signifikan terhadap Penyaluran Kredit.
viii
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur hanyalah milik Allah SWT. Atas berkat rahmat, karunia, kudrat dan iradat, serta ridho-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “ANALISIS DANA PIHAK KETIGA, NON PERFORMING
LOAN, CAPITAL ADEQUACY RATIO, DAN LOAN TO DEPOSIT RATIO
TERHADAP RETURN ON ASSETS SERTA IMPLIKASINYA TERHADAP PENYALURAN KREDIT PADA BANK PERSERO (PERIODE JANUARI 2005 – JUNI 2010)”. Tak lupa shalawat serta salam penulis haturkan kepada junjungan kita Rasulullah SAW yang membawa kita dari jaman jahiliyah ke jaman yang penuh ilmu pengetahuan.
Skripsi ini dimaksudkan untuk memenuhi salah satu syarat menempuh ujian Sarjana Ekonomi pada Program Studi Manajemen, Konsentrasi Perbankan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Penulis menyadari bahwa sejak awal penyusunan hingga terselesaikannya skripsi ini banyak pihak yang telah membantu dan memberi dukungan baik moril maupun materil. Untuk itu, tak lupa pada kesempatan ini, secara khusus, penulis ingin menyampaikan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada :
1. Ibunda Hj. Romelah tercinta yang telah yang memberikan dukungan moral, material, dan spiritual yang tidak terhingga. Semoga Allah Subhanahu Wata’ala memberikan kesehatan dan kebahagiaan serta kemuliaan kepada beliau, dan semoga penulis dapat membahagiakan beliau meskipun tidak akan sebanding dengan apa yang telah beliau berikan, amin Ya Robbal ’Alamin.
ix
3. Bapak Prof. Dr. Abdul Hamid MS, selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
4. Bapak Prof. Dr. Ahmad Rodoni MM, selaku Pudek Bidang Akademik Fakultas Ekonomi dan Bisnis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan selaku Pembimbing I yang telah banyak meluangkan waktu untuk membantu dan mengarahkan penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
5. Ibu Murdiyah Hayati S. Kom, MM, selaku Dosen Tetap Fakultas Ekonomi dan Bisnis dan selaku Dosen Pembimbing II yang telah banyak memberikan bimbingan, arahan, dan motivasi dalam penyusunan skripsi ini.
6. Seluruh Dosen dan Staf Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah memberikan ilmu dan bantuan yang bermanfaat selama penulis.
7. Kakak-kakakku yang tidak dapat disebutkan namanya satu persatu yang turut memberikan dukungan serta doa kepada penulis.
8. Izatun Milah yang tak pernah letih untuk senantiasa mendoakan yang terbaik dan meneriakkan kata-kata semangat serta selalu ada dalam suka maupun duka.
9. Teman-teman Manajemen Perbankan A yang telah meluangkan waktunya untuk membantu penulis menyelesaikan skripsi ini.
10.Keluarga Besar Manajemen B 2006 khususnya Faizal, Fadhil, Diaz, Rayhan, Rifqi, Amero, Apri, Beno, Dipta, Eep, Eko, Erlangga, Rezy, dll. Terimakasih untuk suka maupun duka kita selama menjadi civitas akademika UIN Jakarta, semoga tali silaturahmi kita akan terus terjalin sampai kapanpun.
11.Keluarga Besar penghuni Anggrek 4 yang sudah memberikan izin tempat kepada penulis selama penullis menyelesaikan skripsi ini.
x
13.Sahabat terbaik, Miftahul Jannah dan Iman Nurjaman yang telah banyak meluangkan waktu untuk ribuan cerita, doa, dan semangatnya. Terimakasih untuk persahabatan ini.
14.Pihak-pihak yang tidak dapat disebutkan namanya satu per satu, suatu kebahagiaan telah dipertemukan dan diperkenalkan dengan kalian semua. Terima kasih banyak atas motivasi yang telah diberikan selama ini.
Penulis menyadari bahwa hasil penelitian ini masih memiliki banyak kekurangan. Dengan segenap kerendahan hati penulis mengharapkan saran, arahan maupun kritikan yang konstruktif demi penyempurnaan hasil penelitian ini. Akhirnya hanya kepada Allah semua ini penulis serahkan, karena hanya dengan ridha-Nya penulis dapat meyelesaikan skripsi ini. Semoga penulisan skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak khususnya bagi penulis sendiri.
Jakarta, 15 Juni 2011
xi DAFTAR ISI
LEMBAR PENGESAHAN ... i
DAFTAR RIWAYAT HIDUP ... v
ABSTRACT ... vi
ABSTRAK ... vii
KATA PENGANTAR ... viii
DAFTAR ISI ... xi
DAFTAR GAMBAR ... xiii
DAFTAR TABEL... xiv
DAFTAR LAMPIRAN ... xv
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1
B. Perumusan Masalah... 11
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 12
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Kerangka Teoritis ... 14
B. Kredit Perbankan... 23
C. Dana Pihak ketiga (DPK) ... 31
D. Non Performing Loan (NPL) ... 34
E. Capital Adequecy Ratio (CAR)... 34
F. Loan to Deposit Ratio (LDR)... 35
G. Return On Assets (ROA) ... 36
H. Penelitian Terdahulu ... 37
I. Keterkaitan Antar Variabel ... 41
J. Kerangka Pemikiran ... 44
K. Paradigma Penelitian ... 47
xii
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
A. Ruang Lingkup Penelitian ... 49
B. Metode Penentuan Sampel ... 50
C. Metode Pengumpulan Data ... 51
D. Metode Analisis ... 52
E. Operasional Variabel Penelitian ... 62
BAB IV HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN A. Sekilas Gambaran Umum Objek Penelitian... 65
B. Penemuan dan Pembahasan... 69
C. Interpretasi Hasil ... 122
BAB V KESIMPULAN DAN IMPLIKASI A. Kesimpulan ... 127
B. Implikasi... 129
DAFTAR PUSTAKA ... 130
xiii
DAFTAR GAMBAR
Nomor Keterangan Halaman
2.1 2.2
Kerangka Pemikiran Paradigma Penelitian
46 47 3.1 Hubungan Kausal X1, X2, X3, X4 terhadap Y 53
3.2 Hubungan Kausal X1, X2, X3, X4, dan Y terhadap Z 54
4.1 Dana Pihak Ketiga (DPK) Bank Persero 72
4.2 Non Performing Loan (NPL) Bank Persero 75
4.3 Capital Adequacy Ratio (CAR) Bank Persero 77
4.4 Loan to Deposit Ratio (LDR) Bank Persero 79
4.5 Return on Asset (ROA) Bank Persero 81
4.6 Penyaluran Kredit Bank Persero 83
4.7 Diagram Jalur dengan Hasil Perhitungan 85
4.8 Diagram Jalur Substruktur I 89
4.9 Diagram Jalur Substruktur II 96
xiv
DAFTAR TABEL
Nomor Keterangan Halaman
3.1 Standar Penilaian Kesesuaian (Fit) 61
4.1 Dana Pihak Ketiga (DPK) Bank Persero 71
4.2 Non Performing Loan (NPL) Bank Persero 74
4.3 Capital Adequecy Ratio (CAR) Bank Persero 76
4.4 Loan to Deposit Ratio (LDR) Bank Persero 78
4.5 Return On Assets (ROA) Bank Persero 80
4.6 Penyaluran Kredit Bank Persero 82
4.7 Hasil Korelasi antara DPK, NPL, CAR, dan LDR 85
4.8 Pengaruh antara DPK, NPL, CAR, dan LDR terhadap ROA 90
4.9 Pengaruh antara DPK, NPL, CAR, LDR, dan ROA terhadap penyaluran Kredit
97
4.10 Pengujian Pengaruh antar Variabel Eksogen dengan Endogen
104
4.11 Hasil Uji Goodness of Fit Pengaruh DPK, NPL, CAR, dan LDR terhadap ROA serta implikasinya terhadap penyaluran Kredit
105
4.12 Hasil Uji Goodness of Fit Setelah Modifikasi 106 4.13 Hasil Perhitungan Pengaruhantar Variabel SetelahTrimming 107 4.14 Hasil Korelasi antara DPK, NPL, CAR, dan LDR setelah 4.18 Rangkuman Dekomposisi dari Koefisien Jalur, Pengaruh
Langsung dan TidakLangsung, dan Pengaruh Total tentang DPK (X1), NPL(X2), CAR (X3), LDR (X4), dan ROA (Y) pada Kredit (Z)
xv
DAFTAR LAMPIRAN
Nomor Keterangan Halaman
1 Data-Data 135
2 Hasi AMOS 16 Sebelum Trimming 138
3 Hasi AMOS 16 Setelah Trimming 144
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Terintegrasinya perekonomian global telah menyebabkan krisis di suatu negara dan dengan cepat berimbas ke negara lain. Salah satu bukti konkritnya adalah krisis keuangan yang terjadi di Amerika Serikat tahun
2008 yang dengan cepat mempengaruhi keadaan ekonomi negara lain. Pergeseran arus modal yang besar dan tiba-tiba pada berbagai negara
memberikan guncangan pada stabilitas sistem keuangan di banyak negara. (Bank Indonesia, 2008). Namun dalam kondisi seperti itu, Indonesia tidak berada pada kondisi terburuk jika dibanding negara-negara lain. Secara
umum, kinerja makroekonomi Indonesia pada tingkat pertumbuhan ekonominya dapat dikatakan cukup bagus. Hal ini terlihat dengan
terjaganya keseimbangan antara sisi permintaan dan penawaran yang merupakan salah satu faktor utama yang menyebabkan perekonomian di Indonesia mampu terus tumbuh tanpa harus mengorbankan stabilitas
harga. (Bank Indonesia, 2009)
Keberadaan sektor perbankan sebagai subsistem dalam
perekonomian suatu negara memiliki peranan cukup penting, bahkan dalam kehidupan masyarakat modern sehari-hari sebagian besar
2 perbankan mengemban fungsi utama sebagai perantara keuangan antara unit-unit ekonomi yang surplus dana, dengan unit-unit ekonomi yang
kekurangan dana. Melalui sebuah bank dapat dihimpun dana dari masyarakat dalam berbagai bentuk simpanan selanjutnya dari dana yang
telah terhimpun tersebut, oleh bank disalurkan kembali dalam bentuk pemberian kredit kepada sektor bisnis atau pihak lain yang membutuhkan. Semakin berkembang kehidupan masyarakat dan transaksi-transaksi
perekonomian suatu negara, maka akan membutuhkan pula peningkatan peran sektor perbankan melalui pengembangan produk-produk jasanya.
(Hempel, 1994 dalam Bachruddin, 2006).
Dengan semakin berkembangnya dunia perbankan dewasa ini yang disertai dengan krisis keuangan global, maka persaingan antar bank,
khususnya antar bank yang sejenis akan semakin ketat. Untuk menjaga kelangsungan hidup bank dalam menghadapi persaingan yang ketat
tersebut, maka diperlukan suatu penanganan dan pengelolaan sumber daya yang dilakukan oleh pihak manajemen dengan baik agar dapat menghasilkan keputusan-keputusan yang menunjang terhadap pencapaian
tujuan perusahaan di masa yang akan datang. (Alfan Indrawan, 2009) Pencapaian tujuan yang dimaksud tersebut pada suatu bank adalah
memaksimalkan laba dengan mengelola modal yang dimiliki dan mengatur kewajiban dengan baik. Faktor yang mempengaruhi
3 dalam menekan biaya operasi. (Mahmoedin, 2004 dalam Alfan Indrawan, 2009).
Penilaian terhadap kinerja suatu bank pada dasarnya dapat dilakukan dengan menganalisis laporan keuangan bank yang
bersangkutan. Dari laporan keuangan tersebut dapat diperoleh adanya suatu informasi tentang posisi keuangan, aliran kas, dan informasi lain yang berkaitan dengan kinerja bank yang bersangkutan. Berdasarkan
laporan itu akan dapat dihitung sejumlah rasio keuangan yang lazim dijadikan sebagai dasar penilaian tingkat kinerja bank. Informasi mengenai
kondisi suatu bank dapat digunakan oleh pihak-pihak yang terkait, baik dari pihak bank sendiri, pihak luar bank (seperti kreditur, investor, dan nasabah), dan Bank Indonesia selaku otoritas pengawasan bank, untuk
mengevaluasi kinerja bank dalam menerapkan prinsip kehati-hatian, kepatuhan terhadap ketentuan-ketentuan yang berlaku saat itu. (Diana
Puspitasari, 2009)
Kemampuan bank dalam menghasilkan profit akan bergantung kepada kemampuan manajemen bank yang bersangkutan dalam mengelola
asset dan liabilities yang ada. Salah ukuran untuk melihat kinerja keuangan perbankan adalah melalui Return On Asset (ROA). Menurut
Surat Edaran BI No. 3/30DPNP tanggal 14 Desember 2001, rasio ROA dapat diukur dengan perbandingan antara laba sebelum pajak terhadap
4 keuangan yang semakin baik, karena tingkat pengembalian (return) semakin besar.
Semenjak krisis 1998 industri perbankan di Indonesia masih lesu apalagi penawaran kredit bank untuk UMKM, penurunan kredit
disebabkan oleh turunnya kemauan bank untuk memberikan pinjaman pada tingkat suku bunga yang berlaku. Faktor-faktor yang dapat menyebabkan menurunnya keinginan untuk memberikan kredit dapat
bersumber dari faktor internal bank maupun faktor eksternal. Faktor internal seperti rendahnya kualitas aset perbankan, tingginya
non-performing loans dan anjloknya modal perbankan akibat depresiasi dan negative interest margin menurunkan kemampuan bank untuk memberikan pinjaman. (Agung, dkk (2001 :21).
Menurut Harmanta dan Ekananda (2005:71), krisis pada tahun 1998 mengakibatkan melambatnya pertumbuhan dana pihak ketiga dan
berdampak menurunnya lending capacity perbankan, sehingga mengurangi kemampuan bank dalam menyalurkan kredit. Selain itu, kondisi perbankan itu sendiri seperti masih tingginya kredit macet yang
dialami perbankan dan timbulnya masalah penurunan permodalan berakibat pada turunnya kemampuan bank dalam menyalurkan kredit.
Masih lambatnya pertumbuhan kredit perbankan setelah mengalami penurunan yang sangat tajam pada awal krisis merupakan
5 lainnya yang terkena krisis seperti Korea Selatan dan Thailand. Meskipun kondisi makroekonomi khususnya moneter telah relatif membaik
dibandingkan pada saat krisis, sebagaimana tercermin antara lain dari relatif rendahnya tingkat suku bunga, jumlah kredit yang disalurkan
perbankan belum cukup menjadi pelumas dalam mendorong pertumbuhan ekonomi untuk kembali pada tingkat sebelum krisis. (Agung, dkk (2000:18)
Agenor et. al (2000:14) dalam studi literaturnya menyebutkan bahwa sebab-sebab menurunnya penyaluran kredit perbankan kepada
sektor swasta di Asia setelah krisis tahun 1997 masih menimbulkan perdebatan di antara para ekonom. Sebagian ekonom berpendapat bahwa menurunnya penyaluran kredit perbankan disebabkan oleh ”credit crunch” yang menimbulkan fenomena credit rationing sehingga terjadi
penurunan penawaran kredit oleh perbankan (supply side constraint).
Credit crunch juga biasa disebut quantity rationing, dimana suku bunga pinjaman tidak lagi berfungsi dalam menyeimbangkan permintaan dan penawaran kredit. Credit rationing sebagai suatu kondisi dimana nasabah
tertentu tidak mendapatkan kredit walaupun mereka mau membayar suku bunga pinjaman yang lebih tinggi. Sedangkan menurut Agung, dkk
(2001:21) credit crunch adalah pembatasan suplai kredit yang bersifat non-harga (non-price credit constraint) sebagai akibat peraturan
6 legal lending limit atau akibat penurunan kualitas aset dan profitabilitas perbankan.
Menurut Adhly Basar P dan Ihsan Ismady P (2009), pada 2010 perbankan Indonesia diharapkan dapat kembali meningkatkan perannya
sebagai lembaga intermediasi secara optimal dengan momentum recovery dari krisis finansial. Banyak kalangan, khususnya kalangan dunia usaha dan pemerintah mengharapkan kontribusi perbankan yang lebih besar
dalam menggerakkan perekonomian. Perkembangan perbankan sepanjang tahun 2009 menunjukkan adanya recovery setelah krisis global yang
berlangsung pada medio 2008. Hal tersebut tercermin dengan adanya pertumbuhan aset, kredit dan dana pihak ketiga (DPK) perbankan pada periode Juni hingga Desember 2009 yang relatif lebih tinggi dibanding
semester pertama 2009.
Kondisi perekonomian yang cukup kondusif tersebut telah
mendorong perbankan untuk terus meningkatkan kinerjanya. Rasio permodalan (CAR) mencapai 17,4% (Juni 2010), dengan kualitas kredit yang cukup baik tercermin dari NPL gross yang hanya sebesar 3,3%.
Selain itu, pertumbuhan kredit pada semester I 2010 tercatat sebesar 18,8% (yoy) atau lebih tinggi dari total pertumbuhan tahun 2009 (10,0%).
Kualitas kredit yang terkendali dan penyaluran kredit yang meningkat menyebabkan profitabilitas perbankan cukup tinggi dengan ROA 2,9%.
7 sedikit melambat perlu mendapat perhatian mengingat DPK merupakan sumber dana terbesar bagi perbankan. (Kajian Stabilitas Keuangan (2010).
Menurut Hana Rosdiana (2010), bank yang dalam kegiatan usahanya tidak efisien akan mengakibatkan ketidakmampuan bersaing
dalam mengarahkan dana masyarakat maupun menyalurkan dana tersebut kepada masyarakat yang membutuhkan sebagai modal usaha. Dengan adanya efisiensi pada lembaga perbankan terutama efisiensi biaya maka
akan diperoleh tingkat keuntungan yang optimal, penambahan jumlah dana yang disalurkan, biaya lebih kompetitif, peningkatan pelayanan
kepada nasabah, keamanan dan kesehatan perbankan yang meningkat. Bank juga tidak asal meningkatkan jumlah dan tingkat suku bunga penyaluran kreditnya. Untuk menghindarkan resiko NPL yang tinggi dari
penyaluran kredit yang tidak efisien. Dalam hal ini perlu untuk mempertimbangkan alokasi dana yang efisien. Seperti penyaluran kredit
yang bisa memberikan return yang tinggi dimana tingkat NPL tidak terlalu tinggi. Karena pengalokasian dana yang tepat sangat mempengaruhi jumlah modal bank.
Menurut Perry Warjiyo (2004: 26), dalam kenyataannya perilaku penawaran kredit perbankan tidak hanya dipengaruhi oleh dana yang
tersedia yang bersumber dari DPK (Dana Pihak Ketiga), tetapi juga dipengaruhi oleh persepsi bank terhadap prospek usaha debitor dan
8 dan LDR (Loan to Deposit Ratio). Muliaman Hadad (2004) menambahkan selain faktor-faktor tersebut, faktor profitabilitas atau tingkat keuntungan
yang tercermin dalam rasio return on assets juga berpengaruh terhadap keputusan bank untuk menyalurkan kredit.
Pemaparan tersebut di atas menjelaskan bahwa setiap perusahaan baik perbankan ataupun tidak, dalam mengembangkan kinerjanya dan memutuskan penyaluran kredit tak lepas dari variabel mikro dan
rasio-rasio keuangan.
Menurut Hasibuan (2007), rasio NPL digunakan untuk mengukur
kemampuan manajemen bank dalam mengelola kredit bermasalah yang diberikan oleh bank. Semakin tinggi rasio ini maka akan semakin buruk kualitas kredit bank yang menyebabkan jumlah kredit bermasalah semakin
besar dan menyebabkan kerugian, sebaliknya jika semakin rendah NPL maka laba atau profitabilitas bank (ROA) tersebut akan semakin
meningkat.
Rasio CAR digunakan untuk mengukur kecukupan modal yang dimiliki bank untuk menunjang aktiva yang mengandung atau
menghasilkan resiko, misalnya kredit yang diberikan. Semakin tinggi CAR maka semakin kuat kemampuan bank tersebut untuk menanggung risiko
dari setiap kredit atau aktiva produktif yang berisiko. Jika nilai CAR tinggi (sesuai dengan ketentuan Bank Indonesia sebesar 8%) berarti bahwa bank
9 bagi profitabilitas bank (ROA) yang bersangkutan (Dendawijaya, 2003 dalam Diana Puspitasari, 2009).
Rasio LDR digunakan untuk mengukur kemampuan bank tersebut mampu membayar hutang-hutangnya dan membayar kembali kepada
deposannya, serta dapat memenuhi permintaan kredit yang diajukan. LDR adalah rasio antara seluruh jumlah kredit yang diberikan terhadap dana pihak ketiga. Besarnya jumlah kredit yang disalurkan akan menentukan
keuntungan bank. Jika bank tidak mampu menyalurkan kredit sementara dana yang terhimpun banyak maka akan menyebabkan bank tersebut rugi
(Kasmir, 2004).
Menurut Darmawan (2004) dalam Billy Arma Pratama (2009) bahwa Non Performing Loan (NPL) merupakan rasio yang dipergunakan
untuk mengukur kemampuan bank dalam meng-cover risiko kegagalan pengembalian kredit oleh debitur. Menurut Ali (2004) dalam Billy Arma
Pratama juga mengatakan bahwa NPL mencerminkan risiko kredit, semakin tinggi tingkat NPL maka semakin besar pula risiko kredit yang ditanggung oleh pihak bank. Akibat tingginya NPL perbankan harus
menyediakan pencadangan yang lebih besar, sehingga pada akhirnya modal bank ikut terkikis. Padahal besaran modal sangat mempengaruhi
besarnya ekspansi kredit. Besarnya NPL menjadi salah satu penyebab sulitnya perbankan dalam menyalurkan kredit (Sentausa, 2009).
10 besarnya ditentukan oleh seberapa besar modal yang dimiliki yang terdiri dari modal inti dan modal pelengkap. Serta besarnya ATMR dimana bobot
risiko masing-masing aktiva telah ditetapkan. Sesuai dengan prinsip yang telah ditetapkan BI, kewajiban penyediaan minimum bank didasarkan
pada resiko aktiva bank yang tercantum dalam neraca maupun aktiva yang bersifat administratif yang merupakan kewajiban komitemn dan kontjusi, dimana resiko aktiva tersebut dapat berupa resiko kredit, fluktuasi bunga,
fluktuasi nilai tukar, dan fluktuasi harga dari surat-surat berharga. Dampak dari peraturan mengenai CAR tersebut adalah batasan-batasan yang harus
diperhatikan oleh bank dalam rangka melakukan pengembangan usahanya adalah apabila batasan CAR tidak diperhatikan, resiko yang mugkin terjadi adalah penurunan tingakat CAR bank yang pada akhirnya akan
berimplikasi kepada penurunan tingkat kesehatan bank.
Rasio Loan to Deposit (LDR) ialah rasio yang mengukur
kemampuan melempar dana berdasarkan sumber dana yang tertentu. Rasio ini mirip dengan rasio asset/kewajiban untuk perusahaan biasa. Pinjaman kredit biasanya merupakan asset yang penting dan terbesar untuk bank,
sedangkan deposito merupakan sumber dana penting dan terbesar untuk bank. Semakin tinggi angka ini semakin tidak likuid bank tersebut, karena
sebagian besar dana tertanam pada pinjaman. Jika ada penarikan dana oleh deposan, bank bisa mengalami kesulitan. Di lain pihak, semakin tinggi
11 keuntungan dengan risiko. (Hanafi dan Halim (2005:349-350) dalam Muhammad Yahya).
Apabila dilihat dari Laporan Kajian Stabilitas Keuangan dan Tinjauan Kebijakan Moneter 2009 secara keseluruhan pertumbuhan
ekonomi dan kondisi perbankan secara umum di Indonesia semakin membaik. Seharusnya lembaga keuangan khususnya bank harus terus menjalankan fungsinya sebagai lembaga intermediasi agar pertumbuhan
ekonomi dapat meningkat. Namun, mengapa kebijakan moneter dan kondisi perbankan yang cukup solid tidak dibarengi oleh pertumbuhan
kredit yang disalurkan oleh bank.
Dengan latar belakang di atas dan mengingat betapa pentingnya fungsi bank saat ini sebagai intermediasi untuk meningkatkan
pertumbuhan ekonomi. Dalam hal ini, peneliti mencoba mengetahui variabel apa saja yang mempengaruhi penyaluran kredit perbankan. Maka
peneliti memilih judul yaitu “Analisis Dana Pihak Ketiga (DPK), Non Performing Loan (NPL), Capital Adequecy Ratio (CAR), dan Loan to
Deposit Ratio (LDR) Terhadap Return On Assets (ROA) Serta
Implikasinya Terhadap Penyaluran Kredit pada Bank Persero”
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan hal tersebut, maka penulis merumuskan permasalahan
12 1. Bagaimana pengaruh Dana Pihak Ketiga (DPK), Non Performing Loan (NPL), Capital Adequecy Ratio (CAR), dan Loan to Deposit Ratio
(LDR) terhadap Return On Assets (ROA)?
2. Bagaimana pengaruh Dana Pihak Ketiga (DPK), Non Performing Loan
(NPL), Capital Adequecy Ratio (CAR), dan Loan to Deposit Ratio (LDR) dan Return On Assets (ROA) terhadap penyaluran Kredit ? 3. Bagaimana pengaruh Dana Pihak Ketiga (DPK), Non Performing Loan
(NPL), Capital Adequecy Ratio (CAR),Loan to Deposit Ratio (LDR), Return On Assets (ROA) terhadap penyaluran Kredit baik secara
langsung maupun secara tidak langsung?
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan Penelitian
a) Untuk menganalisis pengaruh Dana Pihak Ketiga (DPK), Non
Perfroming Loan (NPL), Capital Adequacy Ratio (CAR), dan Loan to Deposit Ratio (LDR terhadap return On Assets (ROA).
b) Untuk menganalisis pengaruh Dana Pihak Ketiga (DPK), Non
Perfroming Loan (NPL), Capital Adequacy Ratio (CAR), Loan to Deposit Ratio (LDR, dan return On Assets (ROA) terhadap
penyaluran Kredit.
c) Untuk menganalisis pengaruh langsung dan tidak langsung Dana
13 Adequacy Ratio (CAR), Loan to Deposit Ratio (LDR, dan return On Assets (ROA) terhadap penyaluran Kredit.
2. Manfaat Penelitian a) Bagi Peneliti
Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan perbandingan antara teori-teori yang telah diperoleh dibangku kuliah dengan kenyataan yang sebenarnya di bank persero.
b) Bagi Fakultas
Untuk memberikan sumbangan pikiran sebagai bahan
perbandingan kepada semua pihak yang melakukan penelitian lebih lanjut.
c) Bagi Perbankan
Memberikan sumbangan berupa pemikiran mengenai bidang perbankan dalam menetapkan kebijakan – kebijakan yang
berkaitan dengan kebijakan moneter Bank Indonesia dan kebijakan – kebijakan yang bersifat operasional, salah satunya dalam hal
14
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Kerangka Teoritis
1. Pengertian Lembaga Keuangan
Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Keuangan Republilk Indonesia Nomor 792 Tahun 1990, lembaga keuangan adalah semua badan
usaha yang memiliki kegiatan di bidang keuangan berupa penghimpunan dan penyaluran dana kepada masyarakt terutama untuk membiayai
investasi perusahaan.
Menurut Sukirno (2004: 273-274) yang dimaksudkan dengan lembaga keuangan atau instansi keuangan adalah semua perusahaan yang
kegiatan utamanya meminjamkan uang yang disimpankan kepada mereka. Lembaga-lembaga ini mendorong masyarakat untuk membuat tabungan kepada mereka, dan sebagai “balas jasanya” para penabung akan diberi
“pendapatan” berupa bunga ke atas tabungan yang mereka buat.
2. Pengertian Bank
Bank merupakan lembaga keuangan yang kegiatan utamanya menerima simpanan giro, tabungan,dan deposito. Kemudian bank juga
dikenal sebagai tempat untuk meminjam uang bagi masyarakat yang membutuhkan. Disamping itu bank dikenal sebagai tempat untuk menukar
15 Menurut Undang-Undang No. 10 Tahun 1998, bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan
dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan/atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat
banyak.
Sedangkan menurut Kasmir (2003:11), mengartikan bank secara sederhana sebagai lembaga keuangan yang kegiatan utamanya adalah
menghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkan kembali dana tersebut ke masyarakat serta memberikan jasa-jasa bank lainnya.
Berdasarkan definisi-definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa bank merupakan suatu badan usaha yang bergerak dalam bidang keuangan yang kegiatan utamanya meliputi penghimpunan dana, penyaluran dana ,
serta memberikan jasa-jasa dalam lalu lintas perbankan lainnya dengan tujuan meningkatkan taraf hidup masyarakat.
3. Jenis-Jenis Bank
Jenis-jenis bank di Indonesia sebagaimana disebutkan dalam UU no.7 Tahun 1992 tentang perbankan sebagaimana telah diubah dengan UU
16
a. Jenis Bank Berdasarkan Fungsinya
1) Bank Sentral
Bank Sentral merupakan bank pemerintah yang memegang otoritas moneter, dengan tujuan menjaga kestabilan nilai mata uang
dalam negri.
Untuk lebih jelasnya, menurut UU No.3 Tahun 2004, Bank Sentral adalah lembaga negara yang mempunyai wewenang untuk
mengeluarkan alat pembayaran yang sah dari suatu negara, merumuskan dan melaksanakan kebijakan moneter, mengatur dan
menjaga kelancaran sistem pembayaran, mengatur dan mengawasi perbankan serta menjalani fungsi sebagai lender of the last resort. Di Indonesia yang dimaksud dengan Bank Sentral
adalah Bank Indonesia.
Bank Indonesia adalah lembaga negara yang independen
dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya, bebas dari campur tangan pemerintah dan atau pihak lain, kecuali untuk hal-hal yang secara tegas diatur dalam undang-undang ini.
a) Tujuan Bank Indonesia
Menurut UU RI No. 3 Tahun 2004 Pasal 7, dijelaskan
tujuan Bank Indonesia adalah mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah. Untuk mencapai tujuan yang dimaksud
17 konsisten, transparan, dan harus mempertimbangkan kebijakan umum pemerintah di bidang perekonomian.
b) Tugas Bank Indonesia
Berdasarkan UU No. 3 Tahun 2004, Bank Indonesia
mempunyai tugas sebagai berikut:
(1) menetapkan dan melaksanakan kebijakan moneter (2) mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran
(3) mengatur dan mengawasi bank 2) Bank Umum
Pengertian bank umum menurut Peraturan Bank Indonesia No. 9/7/PBI/2007 adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional dan atau berdasarkan prinsip syariah yang
dalam kegiatannya memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran. Jasa yang diberikan oleh bank umum bersifat umum, artinya dapat
memberikan seluruh jasa perbankan yang ada. Bank umum sering disebut bank komersial (commercial bank).
3) Bank Perkreditan Rakyat (BPR)
BPR adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional atau berdasarkan prinsip syariah yang dalam
kegiatannya tidak memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran. Kegiatan BPR jauh lebih sempit jika dibandingkan dengan
18
b. Jenis Bank Berdasarkan Kepemilikannya
Apabila ditinjau dari segi kepemilikannya, jenis bank terdiri atas
bank milik pemerintah, bank milik swasta nasional, dan bank milik swasta asing.
1) Bank Milik Pemerintah
Bank pemerintah adalah bank di mana baik akta pendirian maupun modalnya dimiliki oleh pemerintah, sehingga seluruh
keuntungan bank dimiliki oleh pemerintah pula. Contohnya Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank Mandiri. Selain itu ada juga bank
milik pemerintah daerah yang terdapat di daerah tingkat I dan tingkat II masing-masing provinsi. Contoh Bank DKI, Bank Jateng, dan sebagainya.
2) Bank Milik Swasta Nasional
Bank swasta nasional adalah bank yang seluruh atau
sebagian besar modalnya dimiliki oleh swasta nasional serta akta pendiriannya pun didirikan oleh swasta, begitu pula pembagian keuntungannya juga dipertunjukkan untuk swasta pula. Contohnya
Bank Muamalat, Bank Danamon, Bank Central Asia, Bank Lippo, Bank Niaga, dan lain-lain.
3) Bank Milik Asing
Bank jenis ini merupakan cabang dari bank yang ada di luar
19 Kepemilikannya dimiliki oleh pihak luar negeri. Contohnya ABN AMRO bank, City Bank, dan lain-lain.
c. Jenis Bank Menurut Operasionalnya
1) Bank Konvensional
Pengertian kata “konvensional” menurut Kamus
Umum Bahasa Indonesia adalah “menurut apa yang sudah menjadi kebiasaan”. Sementara itu, menurut Kamus Besar Bahasa
Indonesia (KBBI) adalah “berdasarkan kesepakatan umum” seperti
adat, kebiasaan, kelaziman.
Berdasarkan pengertian itu, bank konvensional adalah bank yang dalam operasionalnya menerapkan metode bunga, karena metode bunga sudah ada terlebih dahulu, menjadi kebiasaan dan
telah dipakai secara meluas dibandingkan dengan metode bagi hasil.
Bank konvensional pada umumnya beroperasi dengan mengeluarkan produk-produk untuk menyerap dana masyarakat antara lain tabungan, simpanan deposito, simpanan giro;
menyalurkan dana yang telah dihimpun dengan cara mengeluarkan kredit antara lain kredit investasi, kredit modal kerja, kredit
konsumtif, kredit jangka pendek; dan pelayanan jasa keuangan antara lain kliring, inkaso, kiriman uang, Letter of Credit, dan
20 2) Bank Syariah
Bank syariah muncul di Indonesia pada awal tahun
1990-an. Pemrakarsa pendirian bank syariah di Indonesia dilakukan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada tanggal 18 – 20 Agustus
1990.
Bank syariah adalah bank yang beroperasi sesuai dengan prinsip-prinsip syariah Islam, maksudnya adalah bank yang dalam
operasinya mengikuti ketentuan-ketentuan syariah Islam, khususnya yang menyangkut tata cara bermuamalah secara Islam.
d. Jenis Bank Menurut Valas
1) Bank Devisa
Menurut Siamat (2004:29), bank devisa adalah bank yang dalam
kegiatan usahanya dapat melaksanakan transaksi dalam valuta asing, setelah memperoleh pertsetujuan dari Bank Indonesia, antara
lain menerima simpanan dan memberikan kredit dengan valuta asing misalnya letter of credit and travellers check.
2) Bank Non Devisa
Sedangkan bank non devisa adalah kebalikannya dari bank devisa yakni bank yang tidak dapat melaksanakan kegiatan usahanya yang
21
e. Jenis Bank Menurut Geografinya
1) Bank Lokal (community or local bank), adalah bank yang
beroperasi secara terbatas di daerah tertentu
2) Bank Regional (regional bank), yaitu bank yang beroperasi di
pasar regional
3) Bank Multinasional (multinational bank), yaitu bank yang lingkupnya sampai tingkat nasional maupun internasional
f. Jenis Bank Menurut Struktur Organisasinya
1) Bank Unit, adalah bank yang menggabungkan atau kantor saja
untuk melayani semua jenis keuangan
2) Bank Cabang, adalah bank yang melayani beberapa lokasi sehingga ada satu kantor pusat dan beberapa kantor cabang
3) Holding Company Bank,adalah bank yang memiliki satu atau lebih bank
4) Multi Holding Company Bank, adalah bank yang memiliki perusahaan yang bergerak di perbnakan dan non bank
4. Fungsi Bank
Secara umum, fungsi utama bank adalah menghimpun dana dari masyarakat luas (funding) dan menyalurkan kembali kepada masyarakat
dalam bentuk pinjaman atau kredit (lending) untuk berbagai tujuan. Secara garis besar bank hanya sebagai lembaga perantara saja, sehingga tanpa
22 operasional bank adalah penyaluran pinjaman kepada masyarakat yang membutuhkan, hal tersebut merupakan sumber pendapatan terbesar yang
dihasilkan oleh bank.
Menurut Budisantoso dan Triandaru (2006:9), penjelasan fungsi
bank yang lebih spesifik yang lebih spesifik adalah sebagai berikut: a. Agent of Trust
Dasar utama kegiatan perbankan adalah trust atau kepercayaan, baik
dalam hal menghimpun dana maupun penyaluran dana. Masyarakat akan berminat menitipkan dananya di bank apabila dilandasi oleh unsur
kepercayaan. Masyarakat percaya bahwa uangnya tidak akan disalahgunakan oleh bank, uangnya akan dikelola dengan baik, bank tidak akan bangkrut, dan juga percaya bahwa pada saat yang telah
dijanjikan masyarakat dapat menarik kembali simpanan dananya di bank. Pihak bank juga akan mau menempatkan atau menyalurkan dananya
pada debitur atau masyarakat apabila dilandasi unsur kepercayaan. Pihak bank percaya bahwa debitur tidak akan menyalahgunakan pinjamannya, debitur akan mengelola dananya dengan baik, debitur akan mampu
membayar pada saat jatuh tempo, dan juga bank percaya bahwa debitur mempunyai niat baik untuk mengembalikan pinjaman beserta kewajiban
23 b. Agent of Development
Sektor dalam kegiatan perekonomian masyarakat yaitu sektor moneter
dan sektor riil. Kedua sektor tersebut tidak bisa dipisahkan dan saling berinteraksi mempengaruhi satu dengan yang lain. Sektor riil tidak dapat
berkinerja dengan baik apabila sektor moneter tidak bekerja dengan baik. Tugas bank sebagai penghimpun dana dan penyalur dana sangat diperlukan untuk kelancaran kegiatan perekonomian di sektor riil.
Kegiatan bank tersebut memungkinkan masyarakat melakukan investasi, distribusi, dan konsumsi barang dan jasa, mengingat semua kegiatan
investasi, distribusi, dan konsumsi selalu berkaitan dengan uang, sehingga dapat membangun perekonomian masyarakat.
c. Agent of Service
Disamping melakukan kegiatan penghimpunan dan penyaluran dana, bank juga memberikan penawaran jasa-jasa perbankan yang lain kepada
masyarakat. Jasa-jasa yang ditawarkan ini erat kaitannya dengan kegiatan perekonomian masyarakat secara umum. Jasa-jasa bank ini antara lain dapat berupa jasa pengiriman uang, jasa penitipan barang
berharga, jasa pemberian jaminan bank, dan jasa penyelesaian tagihan.
B. Kredit Perbankan a. Pengertian Kredit
24 “Creditum” yang berarti kepercayaan akan kebenaran. Dalam hal ini dapat
diartikan bahwa seorang debitur yang memperoleh pinjaman telah
mendapatkan kepercayaan dari bank bahwa debitur tersebut tidak akan menyalahgunakan pinjaman yang diberikan dan akan mengembalikannya
pada saat yang telah ditetapkan (jatuh tempo).
Menurut Undang-Undang No. 10 Tahun 1998, kredit adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu,
berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam meminjam antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi
utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan jumlah bunga, imbalan atau pembagian hasil keuntungan.
b. Fungsi dan tujuan kredit
Menurut Kasmir (2002:105-109), mengemukakan secara garis besar fungsi kredit dalam perekonomian, perdagangan dan keuangan
adalah sebagai berikut:
1) Untuk meningkatkan daya guna uang. Dengan adanya kredit dapat meningkatkan daya guna uang maksudnya jika uang hanya disimpan
saja tidak akan menghasilkan sesuatu yang berguna. Dengan diberikannya kredit, uang tersebut menjadi berguna untuk
menghasilkan barang atau jasa oleh sepenerima kredit.
2) Untuk meningkatkan peredaran uang dan lalu lintas uang. Dalam hal ini
25 memperoleh kredit maka daerah tersebut akan memperoleh tambahan uang dari daerah lainnya.
3) Untuk meningkatkan daya guna barang. Kredit yang diberikan oleh bank akan dapat digunakan oleh debitur untuk mengolah barang
yang tidak berguna menjadi berguna atau bermanfaat.
4) Meningkatkan peredaran uang. Kredit dapat pula menambah atau memperlancar arus dari suatu wilayah kewilayah lainnya, sehingga
jumlah barang yang beredar dari satu wilayah kewilayah lainnya bertambah atau kredit dapat pula meningkatkan jumlah barang yang
beredar.
5) Sebagai alat stabilitas ekonomi. Dengan memberikan kredit dapat dikatakan sebagai stabilitas ekonomi karena dengan adanya kredit
yang diberikan akan menambah jumlah barang ayng diperlukan oleh masyarakat. Kredit dapat pula membantu mengekpor barang dari
dalam negeri ke luar negeri sehingga meningkatkan devisa negara. 6) Untuk meningkatkan kegairahan usaha. Bagi penerima kredit akan
dapat meningkatkan kegairahan keusahaannya karena adanya
tambahan modal yang banyak.
7) Untuk meningkatkan pemerataan pendapatan. Semakin banyak kredit
yang disalurkan maka akan semakin baik, terutama dalam hal meningkatkan pendapatan. Jika sebuah kredit diberikan untuk
26 8) Untuk meningkatkan hubungan internasional. Dalam hal pinjaman internasional dapat meningkatkan saling membutuhkan antara
sipenerima kredit dengan sipemberi kredit. Pemberian kredit oleh Negara lain akan meningkatkan kerja sama dibidang lainnya.
Adapun tujuan penyaluran kredit di kemukakan oleh Kasmir (2002) adalah sebagai berikut:
1) Mencari keuntungan. Yaitu bertujuan untuk memperoleh hasil dari
pemberian kredit tersebut. Hasil tersebut terutama dalam bentuk bunga yang diterima oleh bank sebagai balas jasa dan biaya
administrasi kredit yang dibebankan kepada nasabah.
2) Membantu usaha nasabah. Tujuan lainnya adalah untuk membantu usaha nasabah yang memerlukan dana, baik dana investasi maupun
dana untuk modal kerja. Dengan dana itu maka pihak debitur akan dapat mengembangkan dan memperlas usahanya.
3) Membantu pemerintah. Baik pemerintah semakin banyak kredit yang disalurkan oleh pihak perbankan, maka semakin baik, mengingat semakin banyak kredit berarti adanya peningkatan pembangunan
berbagai sektor.
Menurut Hesty Rinjiyani (2009:1) penyaluran kredit merupakan
kegiatan usaha yang mendominasi pengalokasian dana bank. Penggunaan dana untuk menyalurkan kredit ini mencapai 70% - 80%
27 pemberian kredit, antara bank satu dengan bank yang lainnya tidak selalu sama, baik syarat-syarat maupun prosedurnya. Kredit yang
diberikan oleh bank dapat berbentuk kredit jangka pendek, jangka menengah ataupun jangka panjang. Syarat kredit jangka pendek pada
umumnya lebih lunak dibandingkan kredit jangka panjang. Hal ini disebakan oleh karena kredit jangka panjang pada umumnya meliputi jumlah dana yang besar dan terikat untuk jangka waktu yang panjang.
Dalam melakukan proses penyeleksian permohonan kredit yang diajukan oleh debitur, menurut Hesty Rinjiyani (2009:2-3) bank
menggunakan “The Five C’s of Credit Analysis” sebagai berikut: a. Character
Watak calon debitur yang terpercaya dan jujur diharapkan debitur
dengan watak ini akan berusaha menjaga nama baiknya untuk memenuhi kewajiban utangnya dengan pihak bank. Karena dalam
kerjasama antara kedua belah pihak, yang paling dibutuhkan adalah kepercayaan, sehingga apabila karakter debitur baik maka kerjasama keduanyapun akan baik pula.
b. Capacity
Penilaian pihak bank bahwa piutangnya dapat dibayar kembali
oleh debitur dari berbagai sumber dana, termasuk hasil penjualan harta perusahaan, hasil penjualan saham perusahaan dari pemegang saham
28 c. Capital
Kondisi harta operasional calon debitur yang mendukung
kemampuan produk mereka untuk bersaing di pasar akan meningkatkan hasil penjualan dan keuntungan yang dicapai. Pemilik perusahaan akan
mempunyai andil yang besar akan kepemilikan harta operasional perusahaanya. Harta operasional perusahaan bukan berasal dari lease finansing. Berdasarkan kondisi diatas bank dapat menilai kemampuan
debitur untul: mengembalikan pinjamannya. d. Collateral
Fungsi utama jaminan bagi bank adalah memperkecil jumlah kerugian yang akan diderita oleh bank, apabila debitur tidak memenuhi kewajibannya pada saat jatuh tempo.
e. Condition of Economy
Bank memperhatikan kondisi ekonomi internasional pada
umumnya dan kondisi nasional pada khususnya serta kebijaksanaan pemerintah yang berdampak langsung atau tidak langsung terhadap kondisi ekonomi nasional.
c. Jenis-jenis kredit
Menurut Kasmir (2003: 76), secara umum jenis-jenis kredit yang
dialurkan oleh bank dan dilihat dari berbagai segi, antara lain: 1) Dilihat dari segi kegunaan
29 kegiatan utamaatau hanya kegiatan tambahan. Jika ditinjau dari segi kegunaan terdapat dua jenis kredit :
a) Kredit Investasi, yaitu kredit yang biasanya digunakan untuk keperluan perluasan usaha atau membangun proyek atau pabrik baru
dimana masa pemakaiannya untuk suatu periode yang relatif lebih lama dan biasanya kegunaan kredit ini adalah untuk kegiatan utama suatu perusahaan. Kredit investasi menurut ketentuan Paket
Kebijaksanaan 25 Maret 1989 adalah kredit jangka menengah atau panjang untuk membiayai pengadaan barang-barang modal maupun
jasa yang diperlukan dalam rangka rehabilitasi modernisasi ekspansi, relokasi dan pendirian proyek baru.
b) Kredit Modal Kerja, merupakan kredit yang digunakan untuk
keperluan meningkatkan produksi dalam operasionalnya. Contohnya kredit modal kerja diberikan untuk membeli bahan baku, membayar
gaji karyawan, atau biaya lainnya yang berkaitan dengan proses produksi perusahaan. Kredit modal kerja merupakan kredit yang diberikan untuk mendukung kredit investasi yang sudah ada dan juga
untuk menambah modal kerja debitur. 2) Dilihat dari segi tujuan kredit
Kredit jenis ini dilihat dari tujuan pemakaian kredit, apakah bertujuan untuk diusahakan kembali atau dipakai untuk keperluan
30 a) Kredit Produktif, yaitu kredit yang digunakan untuk peningkatan usaha atau produksi atau investasi. Kredit ini diberika untuk
menghasilkan barang atau jasa. Artinya kredit ini digunakan untuk diusahakan sehingga menghasilkan suatu yang baik
berupa barang dan jasa.
b) Kredit konsumtif, yaitu kredit yang digunakan untuk dikonsumsi atau dipakai secara pribadi. Dalam kredit ini tidak ada
penambahan barang atau jasa yang dihasilkan, karena memang untuk digunakan atau dipakai oleh seseorang atau badan usaha.
c) Kredit perdagangan, yaitu kredit yang digunakan untuk kegiatan perdagangan dan biasanya untuk membeli barang dagangan yang pembayarannya diharapkan dari hasil penjualan barang
dagangan tersebut. Kredit ini sering diberikan kepada suplier atau agen-agen perdagangan yang akan membeli barang dalam
jumlah tertentu. 3) Dlihat dari segi jangka waktu
Dilihat dari segi jangka waktu, artinya lamanya masa pemberian
kredit mulai dari pertama sekali diberikan sampai masa pelunasan kredit ini adalah:
a) Kredit jangka pendek, yaitu kredit yang memiliki jangka waktu kurang dari satu tahun atau paling lama satu tahun dan biasanya
31 b) Kredit jangka menengah, yaitu kredit yang janga waktunya berkisar antara satu tahun sampai dengan tiga tahun, kredit ini dapat
diberikan untuk modal kerja. Beberapa bank mengklasifikasikan kredit ini menjadi kredit jangka panjang.
c) Kredit jangka panjang, yaitu kredit yang jangka pengambalianya paling panjang, berkisar diatas tiga tahunatau lima tahun. Biasanya kredit ini digunakan untuk investasi jangka panjang.
4) Dilihat dari segi jaminan
Dilihat dari segi jaminan maksudnya dalah setiap pemberian
suatu fasilitas kredit harus dilindungi dengan suatu barang atau surat berharga minimal senilai kredit yang diberikan. Jenis kredit ini adalah: a) Kredit dengan jaminan, yaiu kredit yang diberikan dengan suatu
jaminan tertentu. Jaminan tersebut dapat berbentuk barang berwujud atau tidak berwujud. Artinya setiap kredit yang dikeluarkan akan
dilindungi senilai jaminan yang diberikan si calon debitur.
b) Kredit tanpa jaminan, yaitu kredit yang diberikan tanpa jaminan barang atau orang tertentu. Kredit jenis ini diberikan dengan melihat
prospek usaha, karakter serta loyalitas si calon debitur selama berhubungan dengan bank yang bersangkutan.
C.Dana Pihak Ketiga (DPK)
32 dari Pasar Uang disebut dana pihak kedua. Sumber Dana Pihak ketiga dari segi mata uangnya, dibedakan menjadi :
I. Sumber Dana Pihak Ketiga Rupiah
Yaitu kewajiban-kewajiban bank yang tercatat dalam rupiah kepada pihak
ketiga bukan bank baik kepada penduduk maupun bukan penduduk.komponen DPK ini terdiri dari Giro, Simpanan Berjangka (Deposito dan Sertifikat Deposito), Tabungan, dan kewajiban-kewajiban
lainnya yang terdiri dari kewajiban sdewgera yang dapat dibayar, surat-surat berhaga yang diterbitkan, pinjaman yang diterima, setoran pinjaman,
dan lainnya. Tidak termasuk dan yang berasal dari bank sentral.
II. Sumber Dana Pihak Ketiga Valuta Asing
Yaitu kewajiban bank yang tercatat dalam valuta asing kepada pihakm
ketiga, baik penduduk maupun bukan penduduk termasuk Bank Indonesia, bank lain (pnjaman melalui pasar uang 0. DPK valuta asing terdiri atas
Giro, Call Money, Deposit On Call (DOC), Deposito Berjangka, Margin Profit, Setoran Pinjaman, Pinjaman Yang Diterima, dan Kewajiban-Kewajiban Lainnya dalam valuta asing.
Berbagai produk berbasis simpanan banyak dikeluarkan oleh pihak-pihak bank konvensional dalam bentuk dan kemasan yang
berbeda-beda. Menurut Riyadi (2004:63), bila dana pihak ketiga ditinjau dari segi biaya yang harus dibayar bank, sumber dana dapat dikelompokkan
33 a) Sumber Dana Berbiaya
Sumber dana berbiaya pada umumnya adalah dana-dana yang
berasal dari masyarakat, baik dana pihak ketiga mauoun dana pihak kedua (tidak termasuk penerbitan saham).
Pada umumnya jenis-jenis simpanan pada Sumber Dana Berbiaya mencakup simpanan giro (demand deposit), simpanan tabungan (saving deposit), simpanan deposito (time deposit), dan
kewajiban-kewajiban lainnya seperti kewajiban segera yang dapat dibayar, surat berharga yang diterbirtkan, pinjaman yang diterima, dan
setoran pinjaman. b) Dana Tidak Berbiaya
Menurut Riyadi (2004:65), hampir semua sebagian dana bank
memiliki beban biaya yang harus ditanggung oleh terutama dana yang berasal dari Dana Pihak Ketiga da Dana Pihak Kedua, sehingga dapat
dikatakan tidak ada dana yang tanpa biaya bagi suatu bank. Namun jika ditelah lebih mendalam terdapat jenis dana yang tidak mengandung unsur biaya, sperti modal yang disetor (modal saham),
agio saham, laba tahun berjalan, laba ditahan, cadangan umum, dengan tujuan lainnya, deposito berjangka yang telah jatuh tempo dan
belum dicairkan oleh nasabah, transfer masuk yang belum dibayar, hasil inkaso keluar yang belum dibayar, dan utang pajak kepada
34
D.Non Performing Loan (NPL)
Non Performing Loan (NPL) gross merupakan rasio yang
menunjukkan jumlah pembiayaan yang tergolong dalam kolektibilitas 3 sampai dengan 5. Jika NPL suatu bank selalu tinggi maka akan
mempengaruhipermodalan bank tersebut karena dengan NPL yang tinggi akan membuat bank mempunyai kewajiban untuk memenuhi PPAP yang terbentuk. Bila hal ini terus menerus terjadi maka mungkin saja modal bank
tersebut akan tersedot untuk membayar PPAP. Karena itulah bank menginginkan NPL yang rendah. Nilai NPL yang rendah akan meningkatkan
nilai profitabilitas bank (Riyadi, 2004:141). Rasio ini dapat dirumuskan sebagai berikut :
E.Capital Adequecy Ratio (CAR)
Menurut Riyadi (2003:142) Capital Adequacy Ratio (CAR) adalah rasio kewajiban pemenuhan modal minimum yang harus dimiliki oleh bank. CAR memperlihatkan kemampuan bank dalam memenuhi kecukupan
modalnya. CAR merupakan indikator terhadap kemampuan bank untuk menutupi penurunan aktivanya sebagai akibat dari kerugian-kerugian bank
35 Untuk mendapatkan nilai CAR langkah selanjutnya adalah membagi Modal Bank (Bank’s Equities) dengan Risk Weighted Assets (ATMR). Dari
rumus tersebut dapat dilihat bahwa apabila suatu bank semakin agresif menyalurkan dananya ke dalam aktiva produktif yang berisiko (karena
mengharapkan pendapatan bunga yang lebih besar), sudah seharusnya bank tersebut juga harus memiliki modal yang semakin besar.
Rumus perhitungan CAR adalah:
F.Loan to Deposit Ratio (LDR)
Menurut Warjiyo (2004: 26), dalam kenyataannya perilaku penawaran
kredit perbankan tidak hanya dipengaruhi oleh dana yang tersedia yang bersumber dari DPK (Dana Pihak Ketiga), tetapi juga dipengaruhi oleh
persepsi bank terhadap prospek usaha debitor dan kondisi perbankan itu sendiri seperti permodalan atau CAR (Capital Adequacy Ratio), jumlah kredit macet atau NPLs (Non Performing Loans), dan LDR (Loan to Deposit Ratio).
Menurut Riyadi (2003;146), LDR adalah perbandingan antara total kredit yang diberikan dengan total Dana Pihak Ketiga yang dapat dihimpun
oleh Bank. LDR juga LDR akan menunjukan tingkat kemampuan Bank dalam menyaluran dana pihan ketiga yang dihimpun oleh Bank yang
36 jumlah seluruh kredit yang diberikan Bank dengan dana yang diterima oleh Bank. LDR menyatakan seberapa jauh kemampuan bank untuk membayar
kembali penarikan dana yang dilakukan deposan dengan mengandalkan kredit yang diberikan sebagai sumber likuiditasnya. Maksimal LDR yang di
perkenankan oleh Bank Indonesia adalah sebesar 110%. Rumus Loan to Deposit Ratio adalah:
G. Return on Asset (ROA)
Menurut Riyadi (2007: 156) ROA adalah rasio profitabilitas yang
menunjukkan perbandingan antara laba dengan total asset bank, rasio ini menunjukkan tingkat efisiensi pengelolaan aset yang dilakukan oleh bank
yang bersangkutan. Dalam bukunya, Mishkin (2007:232) menyatakan bahwa, because owners of a bank must know whether their bank is being managed
well, they need good measures of bank profitability. A Basic measure of bank
37
H. Penelitian Terdahulu
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Diana Puspitasari (2009)
dengan judul, “Pengaruh CAR, NPL, PDN, NIM, BOPO, LDR, dan Suku
Bunga SBI Terhadap ROA”, diperoleh hasil bahwa variabel PDN dan suku
bunga SBI tidak menunjukkan pengaruh signifikan, variabel CAR, NIM, dan LDR berpengaruh positif signifikan, sedangkan variabel NPL dan BOPO berpengaruh negatif terhadap ROA. Kemampuan prediksi dari ketujuh
variabel tersebut terhadap ROA dalam penelitian ini sebesar 72%, sedangkan sisanya 28% dipengarui oleh faktor lain yang tidak dimasukkan ke dalam
model penelitian.
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Ferdi Rindhatmono (2005)
dengan judul “Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Profitabilitas Bank
Pasca Merger Di Indonesia”, diketahui M & A dengan pooling data dari tahun
1999-2004 dan dianalisis dengan metode regresi berganda. Hasil penelitiannya
menunjukkan bahwa BOPO, NPL, NIM, CAR dan market share mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap profitabilitas (ROA) bank pasca merger di Indonesia, sedangkan LDR tidak signifikan. Secara keseluruhan, bank pasca
merger di Indonesia mempunyai ratio BOPO, NPL, NIM, LDR, CAR dan MS, belum dapat memenuhi batasan-batasan yang telah ditetapkan oleh regulator.
Hal ini membuktikan bahwa bank pasca merger di Indonesia yang telah melakukan merger sejak tahun 1999, belum dapat melaksanakan fungsi
38 permasalahan keuangan semata-mata, tetapi juga kepada persoalan non finansial.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh R. Taufik Ahmad Hidayat (2010) dengan judul, “Pengaruh Dana Pihak Ketiga Dan Portofolio Kredit
Terhadap Profitabilitas Bank Bri Unit Dalem Kaum Bandung”, Penelitian ini bersifat deskriptif verifikatif dengan menggunakan analisis regresi linier berganda terhadap data yang bersumber dari neraca dan laporan rutin bulanan
Bank BRI Unit Dalem Kaum Bandung. Sebelum melakukan analisis regresi linier berganda, terlebih dahulu dilakukan uji asumsi klasik terhadap data
penelitian. Setelah melalui uji asumsi klasik dan analisis, hasil penelitian menunjukkan bahwa selama periode penelitian, dana pihak ketiga dan portofolio kredit secara simultan dan parsial tidak memiliki pengaruh yang
signifikan terhadap ROA maupun NIM Bank BRI Unit Dalem Kaum Bandung.
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Astohar (2009) dengan judul, “Analisis Faktor - Faktor yang Mempengaruhi Profitabilitas Perbankan yang
Diproksikan Dengan ROA dan ROE”, Sampel dalam penelitian ini sebanyak
84 perbankan yang masuk dalam bank domestik sebanyak 62, Bank Campuran sebanyak 12 dan Bank Asing sebanyak 10 bank, dengan menggunakan alat
analisis regresi berganda. Hasil yang diperoleh adalah ukuran (size), capital adequacy ratio (CAR), pertumbuhan deposito, loan to deposit ratio (LDR)
39 saham oleh perusahaan (institusi) dan kurs Rupiah pada Dollar tidak mempunyai pengaruh yang positif dan signifikan terhadap profitabilitas
perbankan.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Billy Arma Pratama
(2010) dengan judul, “Analisis Faktor - Faktor yang Mempengaruhi Kebijakan Penyaluran Kredit Perbankan”, diperoleh hasil bahwa Dana Pihak Ketiga
(DPK) berpengaruh positif dan signifikan terhadap penyaluran kredit
perbankan. Capital Adequacy Ratio (CAR) dan Non Performing Loan (NPL) berpengaruh negatif dan signifikan terhadap penyaluran kredit perbankan.
Sementara suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap penyaluran kredit perbankan. Untuk meningkatkan penyaluran kredit Bank Umum harus melakukan
penghimpunan dana secara optimal, mengoptimalkan kegunaan sumber daya finansial (modal) yang dimiliki, dan memiliki manajemen perkreditan yang
baik agar NPL tetap berada dalam tingkat yang rendah dan dalam batas yang disyaratkan oleh Bank Indonesia.
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Hana Rosdiana (2010) dengan
judul, “Analisis Pengaruh CAR, NPL, LDR Terhadap ROA dan Dampaknya
Pada Penawaran Kredit Investasi pada Bank Persero”, analisis data dalam
penelitian ini menggunakan metode path analysis. Dari hasil pengujiannya pada sub struktur I setelah trimming, diketahui variabel Capital Adequacy Ratio (CAR), Non Performing Loan (NPL), dan Loan to Deposit Ratio (LDR)
40 Persero sebesar 0,632. Hasil pengujian secara parsial menunjukkan bahwa Capital Adequacy Ratio (CAR) dan Loan to Deposit Ratio (LDR) memiliki
pengaruh yang positif pada Return on Assets (ROA), sedangkan Non Performing Loan (NPL) memilki pengaruh yang negatif pada Return on Assets
(ROA) di Bank Persero. Hasil pengujian pada sub struktur II setelah trimming, diketahui variabel Capital Adequacy Ratio (CAR), Non Performing Loan (NPL), dan Loan to Deposit ratio (LDR) memiliki pengaruh secara simultan
terhadap Penawaran Kredit Investasi pada Bank Persero sebesar 0,854. Hasil pengujian secara parsial, diketahui variabel Capital Adequacy Ratio (CAR),
dan Non performing Loan (NPL) memiliki pengaruh yang negatif dan signifikan terhadap Penawaran Kredit Investasi pada Bank Persero, sedangkan Loan to Deposit Ratio (LDR) memiliki pengaruh yang positif dan signifikan
terhadap Penawaran Kredit investasi pada Bank Persero.
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Himaniar Triasdini (2010) dengan judul, “Pengaruh CAR, NPL, dan ROA Terhadap Penyaluran Kredit Modal Kerja”, dari hasil pengujian yang dilakukan terhadap penelitian ini
diketahui secara simultan bahwa CAR, NPL, dan ROA berpengaruh secara
signifikan. Sedangkan pengujian secara parsial, diperoleh hasil bahwa CAR nilai t hitung dari CAR sebesar 3,375 dengan tingkat signifikansi 0,001 yang
berarti CAR berpengaruh positif dan signifikan. Untuk NPL diperoleh nilai t hitung sebesar -2,509 dengan tingkat signifikansi 0,048 yang berarti NPL
41 Sedang untuk ROA diperoleh t hitung sebesar 1,991 dengan tingkat signifikansi 0,009 yang berarti ROA berpengaruh positif dan signifikan.
I. Keterkaitan Antar Variabel
1) Variabel DPK dengan ROA
Sesuai dengan fungsi bank sebagai lembaga keuangan dimana kegiatan sehari-harinya adalah bergerak di bidang keuangan maka, sumber
sumber dana juga tidak terlepas dari bidang keuangan. Untuk menopang kegiatan bank sebagai penjual uang (memberikan pinjaman), bank harus
lebih dahulu membeli uang (menghimpun dana) sehingga dari selisih bunga tersebutlah bank memiliki keuntungan. (Kasmir, 2007).
2) Variabel NPL dengan ROA
Menurut Surat Edaran BI No. 3/30DPNP tanggal 14 Desember 2001, NPL diukur dari rasio perbandingan antara kredit bermasalah
terhadap total 26 kredit yang diberikan. NPL yang tinggi akan memperbesar biaya, sehingga berpotensi terhadap kerugian bank. Semakin tinggi rasio ini maka akan semakin buruk kualitas kredit bank yang
menyebabkan jumlah kredit bermasalah semakin besar, dan oleh karena itu bank harus menanggung kerugian dalam kegiatan operasionalnya sehingga
42 3) Variabel CAR dengan ROA
Pendanaan yang efisien akan terjadi bila perusahaan mempunyai
capital yang optimal. Capital yang optimal dapat diartikan sebagai struktur modal yang dapat meminimalkan biaya penggunaan modal keseluruhan
atau biaya modal rata-rata, sehingga memaksimalkan nilai perusahaan (Ratnawati, 2007)
4) Variabel LDR dengan ROA
Arifin (2002 : 70) yang menyatakan bahwa terlalu banyak likuiditas akan mengorbankan tingkat pendapatan terlalu sedikit akan
berpotensi untuk meminjam dana dengan harga yang yang tidak dapat diketahui sebelumnya, yang dapat berakibat meningkatkan biaya dan akhirnya menurunkan profitabilitas.
5) Variabel DPK dengan Kredit
Baik giro, deposito maupun tabungan turut memberikan andil di
dalam kehidupan Perbankan, pengumpulan atas dana-dana tersebut digunakan Perbankan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan juga untuk menjalankan fungsinya sebagai lembaga keuangan yaitu
memberikan kredit kepada masyarakat. (Amiranti Marsya, 2009:18). 6) Variabel NPL dengan Kredit
Nilai NPL yang tinggi akan menyebabkan bank cenderung mengurangi jumlah kredit yang disalurkannya. Karena NPL yang tinggi
43 besar dan menyebabkan akan lebih berhati-hati sehingga mengurangi alokasi dana bank dalam bentuk penyaluran kredit.
7) Variabel CAR dengan Kredit
Capital Adequacy Ratio (CAR) merupakan rasio permodalan yang
menunjukkan kemampuan bank dalam menyediakan dana untuk keperluan pengembangan usaha dan menampung risiko kerugian dana yang diakibatkan oleh kegiatan operasi bank (Ali, 2004). Semakin tinggi CAR
maka semakin besar pula sumber daya finansial yang dapat digunakan untuk keperluan pengembangan usaha dan mengantisipasi potensi
kerugian yang diakibatkan oleh penyaluran kredit. 8) Variabel LDR dengan Kredit
Menurut Warjiyo (2004), dalam kenyataannya perilaku penawaran
kredit perbankan tidak hanya dipengaruhi oleh dana yang tersedia yang bersumber dari DPK (Dana Pihak Ketiga), tetapi juga dipengaruhi oleh
persepsi bank terhadap prospek usaha debitor dan kondisi perbankan itu sendiri seperti permodalan atau CAR (Capital Adequacy Ratio), jumlah kredit macet atau NPLs (Non Performing Loans), dan LDR (Loan to
Deposit Ratio).
9) Variabel ROA dengan Kredit
Rendahnya pertumbuhan kredit selama semester I 2009 disebabkan antara lain oleh menurunnya kebutuhan kredit pengusaha di sektor riil