Bagan 6.2 Bagan Konsonan PMdKr
11) Gugus konsonan wl */wlesiŋ/ ‘jamur’
6.2.1 Penemuan dan Pembuktian Protofonem PMdKrTw
Proses penemuan dan pembuktian protofonem PMdKrTw dilakukan dengan menemukan pertalian dan perpadanan fonem-fonem secara posisional-distribusional. Pertalian dan perpadanan itu ditelaah dan dibandingkan posisi demi posisi untuk menemukan rumusan perubahan-perubahan diakronis kedua bahasa itu. Perpadanan fonem yang ditelaah itu meliputi vokal, deret vokal, konsonan, dan gugus konsonan seperi berikut ini.
6.2.1.1 Penemuan dan Pembuktian Protofonem Vokal PMdKrTw 1) PMdKrTw *i (i- -i- -i) PMdKr, Tw i
Posisi awal kata
PMdKrTw */i/ pada psosisi awal kata dapat ditemukan pada perangkat kata seasal berikut.
PMdKrTw PMdKr Tw
*/iga/ */iga/ /iga/ ‘sembunyi’ */isar/ */isar/ /isar/ ‘garam’ */is/ */is/ /is/ ‘burung puyuh’ */ibaki/ */ibaki/ /ibaki/ ‘jendela’ */ipil/ */ipil/ /ipil/ ‘minyak’
Data di atas memperlihatkan bahwa fonem vokal /i/ sebagai bunyi distingtif dengan ciri-ciri vokal depan, tinggi atas tak bulat dalam posisi awal kata pada bahasa Md, bahasa Kr, dan bahasa Tw berasal dari PMdKrTw */i/. Artinya, fonem PMdKrTw */i/ pada awal kata tetap bertahan atau mengalami retensi bersama pada bahasa Md, Kr dan Tw. Karena dapat ditemukan dalam kelompok bahasa tersebut dan korespondensinya dapat dijelaskan secara sistematis, maka fonem-fonem vokal tersebut direkonstruksi sebagai PMdKrTw */i/#-.
Posisi tengah kata
PMdKrTw */i pada psosisi tengah kata dapat ditemukan pada perangkat kata seasal berikut.
PMdKrTw PMdKr Tw
*/gemasik/ */gemasik/ /gemasik/ ‘suami’ */saχiŋ/ */saχiŋ/ /saχiŋ/ ‘induk binatang’
*/meliwar/ */meliwar/ /meliwar/ ‘cuci selain pakaian’ */gumiku/ */gumiku/ /gumiku/ ‘mengecup’
Data di atas memperlihatkan bahwa fonem vokal /i/ sebagai bunyi distingtif dengan ciri-ciri vokal depan, tinggi atas tak bulat dalam posisi tengah kata pada bahasa Md, bahasa Kr dan bahasa Tw berasal dari PMdKrTw */i/. Artinya, fonem PMdKrTw */i/ pada tengah kata tetap bertahan atau mengalami retensi bersama pada bahasa Md, Kr dan Tw. Karena dapat ditemukan dalam kelompok bahasa tersebut dan korespondensinya dapat dijelaskan secara
sistematis, maka fonem-fonem vokal tersebut direkonstruksi sebagai PMdKrTw */i/K-K.
Posisi akhir kata
PMdKrTw */i/ pada posisi akhir kata dapat ditemukan pada perangkat kata seasal berikut.
PMdKrTw PMdKr Tw
*/kiki/ */kiki/ /kiki/ ‘kecil’ */totoki/ */totoki/ /totoki/ ‘perut’ */kiri/ */kiri/ /kiri/ ‘tulang’
*/getuni/ */getuni/ /getuni/ ‘daun jendela’ */deki/ */deki/ /deki/ ‘difa’
Data di atas memperlihatkan bahwa fonem vokal /i/ sebagai bunyi distingtif dengan ciri-ciri vokal depan, tinggi, tak bulat dalam posisi akhir kata pada bahasa Md, bahasa Kr, dan bahasa Tw berasal dari PMdKrTw */i/. Artinya, fonem PMdKrTw */i/ pada akhir kata tetap bertahan atau mengalami retensi bersama pada bahasa Md, Kr dan Tw. Karena dapat ditemukan dalam kelompok bahasa tersebut dan korespondensinya dapat dijelaskan secara sistematis, maka fonem-fonem vokal tersebut direkonstruksi sebagai PMdKrTw */i/-#.
Di samping itu, ditemukan juga PMdKrTw */i/ pada posisi awal dan tengah kata berubah menjadi /a/ pada bahasa Teiwa.
PMdKrTw PMdKr Tw
*/iris/ */iris/ /aris/ ‘biawak’ */pilat/ */pilat/ /palat/ ‘batu asah’ */χapis/ */χapis/ /χapas/ ‘benang’ */mudiŋ/ */mudiŋ/ /midan/ ‘penanaman’
Data di atas memperlihatkan fonem /i/ sebagai bunyi distingtif yang memiliki ciri-ciri vokal depan, tinggi atas tak bulat pada posisi awal dan tengah kata pada PMdKrTw telah mengalami perubahan pada bahasa Tw. Fonem vokal
/i/#- dan /i/K-K pada PMdKrTw tersebut ditemukan fakta telah terjadi perubahan fonem dalam bentuk perengkahan (split) bunyi pada Tw menjadi fonem /i/ sebagai bunyi distingtif yang memiliki ciri-ciri vokal depan, tinggi atas tak bulat dan menjadi fonem /a/ sebagai bunyi distingtif yang memiliki ciri-ciri vokal tengah, rendah tidak bulat. Sementara itu fonem vokal /i/ sebagai bunyi distingtif yang memiliki ciri-ciri vokal depan, tinggi atas tak bulat pada subkelompok MdKr tetap bertahan. Perubahan fonem vokal /i/ menjadi /a/ di awal kata dan di akhir kata pada Tw pada hakikatnya adalah perubahan bunyi akibat disimilasi vokal berbeda dari vokal distingtif bercirikan vokal tinggi menjadi distingtif bercirikan vokal rendah. Meskipun data yang ditampilkan tidak terlalu banyak, tetapi cukup memberi fakta bahwa proses perengkahan bunyi memang umum terjadi bahasa Tw. Fenomena arah perubahan bunyi dalam bentuk perengkahan tersebut memberi petunjuk yang mengindikasikan bahwa jika ditemukan beberapa fonem vokal Tw /i/ dan /a/#-, K-K dan keduanya dapat dijelaskan korespondesinya, maka fonem-fonem vokal tersebut layak direkonstruksi sebagai PMdKrTw */i/#-, K-K
2) PMdKrTw *u (u- -u- -u) PMdKr, Tw u. Posisi awal kata
PMdKrTw */u/ pada posisi awal dapat ditemukan pada perangkat kata seasal berikut.
PMdKrTw PMdKr Tw
*/umba */umba/ /umba/ ‘bulan terbenam’
*/unda/ */unda/ /unda/ ‘bulan terbit’
*/ut/ */ut/ /ut/ ‘empat’
*/uhor/ */uhor/ /uhor/ ‘hati kayu’
Data di atas memperlihatkan bahwa fonem vokal /u/ sebagai bunyi distingtif dengan ciri-ciri vokal belakang, tinggi, bulat dalam posisi awal kata pada bahasa Md, bahasa Kr, dan Tw berasal dari PMdKrTw */u/. Artinya, fonem PMdKrTw */u/ pada awal kata tetap bertahan atau mengalami retensi bersama pada bahasa Md, Kr, dan Tw. Dengan demikian jika fonem-fonem vokal itu ditemukan dalam kelompok bahasa tersebut dan korespondensinya dapat dijelaskan secara sistematis maka fonem-fonem vokal tersebut direkonstruksi sebagai PMdKrTw */u/#-.
Posisi tengah kata
PMdKrTw */u/ pada posisi tengah kata dapat ditemukan pada perangkat kata seasal berikut.
PMdKrTw PMdKr Tw
*/tewinuŋ/ */tewinuŋ/ /tewinuŋ/ ‘ari-ari’
*/kawatuk/ */kawatuk/ /kawatuk/‘mebakar belangan’ */munisa/ */munisa/ /munisa/ ‘berbau busuk’
*/mud/ */mud/ /mud/ ‘bulu’
*/bulang/ */bulang/ /bulang/ ‘dunia atas’
Data di atas memperlihatkan bahwa fonem vokal /u/ sebagai bunyi distingtif dengan ciri-ciri vokal belakang, tinggi, bulat dalam posisi tengah kata pada bahasa Md, bahasa Kr dan Tw berasal dari PMdKrTw */u/. Artinya, fonem PMdKrTw */u/ pada tengah kata tetap bertahan atau mengalami retensi bersama pada bahasa Md, Kr, dan Tw. Dengan demikian jika fonem-fonem vokal itu ditemukan dalam kelompok bahasa tersebut dan korespondensinya dapat dijelaskan secara sistematis, maka fonem-fonem vokal tersebut direkonstruksi sebagai PMdKrTw */u/K-K.
Posisi akhir kata
PMdKrTw */u/ pada posisi akhir kata dapat ditemukan pada perangkat kata seasal berikut.
PMdKrTw PMdKr Tw
*/tu/ */tu/ /tu/ ‘ambing’
*/polu/ */polu/ /polu/ ‘botak’
*/blolu/ */blolu/ /blolu/ ‘bumbung’ */gamiku/ */gamiku/ /gamiku/ ‘cium’ */olu/ */olu/ /olu/ ‘ikan marah’
Data di atas memperlihatkan bahwa fonem vokal /u/ sebagai bunyi distingtif dengan ciri-ciri vokal belakang, tinggi, bulat dalam posisi akhir kata pada bahasa Md, bahasa Kr, dan Tw berasal dari PMdKrTw */u/. Artinya, fonem PMdKrTw */u/ pada akhir kata tetap bertahan atau mengalami retensi bersama pada bahasa Md, Kr, dan Tw. Karena dapat ditemukan dalam kelompok bahasa tersebut dan korespondensinya dapat dijelaskan secara sistematisb maka fonem-fonem vokal tersebut direkonstruksi sebagai PMdKrTw*/u/-#.
Di samping itu ditemukan juga PMdKrTw */u pada posisi tengah, dan akhir berubah secara korespondensi menjadi /i/, /a/, /o/ pada bahasa Teiwa.
PMdKrTw PMdKr Tw
*mudal *mudal modal ‘bekal’
*tuput *tuput tufat‘paha’
*pasu *pasu pasa ‘belanga’
*mudiŋ *mudiŋ midan ‘penanaman’’
*turui *turui tarui ‘urat’
Data di atas memperlihatkan fonem /u/ sebagai bunyi distingtif yang memiliki ciri-ciri vokal belakang, tinggi, atas, bulat pada posisi tengah dan akhir kata pada PMdKrTw telah mengalami perubahan pada bahasa Tw. Dari fonem
/u/K-K dan /u/-# pada PMdKrTw tersebut ditemukan fakta telah terjadi perubahan fonem dalam bentuk perengkahan (split) bunyi pada Tw menjadi fonem /u/ sebagai bunyi distingtif yang memiliki ciri-ciri vokal belakang, tinggi, atas, bulat, fonem /i/ sebagai bunyi distingtif yang memiliki ciri-ciri vokal depan, tinggi, atas, tak bulat menjadi fonem /a/ sebagai bunyi distingtif yang memiliki ciri-ciri vokal tengah, rendah, tidak bulat dan menjadi fonem /o/ sebagai bunyi distingtif yang memiliki ciri-ciri vokal belakang, tengah, atas, bulat. Sementara itu fonem vokal /u/ sebagai bunyi distingtif yang memiliki ciri-ciri vokal belakang, tinggi, atas, bulat pada subkelompok MdKr tetap bertahan. Meskipun data yang ditampilkan tidak terlalu banyak, cukup memberikan fakta bahwa proses perengkahan bunyi memang umum terjadi dalam bahasa Tw. Fenomena arah perubahan bunyi dalam bentuk perengkahan tersebut memberikan petunjuk yang mengindikasikan bahwa jika ditemukan beberapa fonem vokal Tw /u/ dan /i/, /a/, /o/ K-K, #- dan keempatnya dapat dijelaskan korespondesinya, maka fonem-fonem vokal tersebut layak direkonstruksi sebagai PMdKrTw */u/ K-K, -#
3) PMdKrTw *e (e- -e- -e) PMdKr, Tw e Posisi awal kata
PMdKrTw */e/ pada posisi awal kata dapat ditemukan pada perangkat kata seasal berikut.
PMdKrTw PMdKr Tw
*/eduŋ/ */eduŋ/ /eduŋ/ ‘perawan’ */etaŋ/ */etaŋ/ /etaŋ/ ‘tempo hari’ */eweŋ/ */eweŋ/ /eweŋ/ ‘ipar (lk) */egu/ */egu/ /egu/ ‘itu’
Data di atas memperlihatkan bahwa fonem vokal /e/ sebagai bunyi distingtif dengan memiliki ciri-ciri vokal depan, tengah, tidak bulat dalam posisi awal kata pada bahasa Md, bahasa Kr, dan Tw berasal dari PMdKrTw */e/. Artinya, fonem PMdKrTw */e/ pada awal kata tetap bertahan atau mengalami retensi bersama pada bahasa Md, bahasa Kr, dan Tw. Karena dapat ditemukan dalam kelompok bahasa tersebut dan korespondensinya dapat dijelaskan secara sistematis, maka fonem-fonem vokal tersebut direkonstruksi sebagai PMdKrTw */e/#-.
Posisi tengah kata
PMdKrTw */e/ pada posisi tengah kata dapat ditemukan pada perangkat kata seasal berikut.
PMdKrTw PMdKr Tw
*/wresek/ */wresek/ /wrese/ ‘menyebar benih’ */nareta/ */nareta/ /nareta/ ‘nenek (pr) */wes/ */wes/ /wes/ ‘pangkalan’ */beleta/ */beleta/ /beleta/ ‘pelayan’ */ketel/ */ketel/ /ketel/ ‘poci’
Data di atas memperlihatkan bahwa fonem vokal /e/ sebagai bunyi distingtif dengan memiliki ciri-ciri vokal depan, tengah, tidak bulat dalam posisi tengah kata pada bahasa Md, bahasa Kr dan Tw berasal dari PMdKrTw */e/. Artinya, fonem PMdKrTw */e/ pada tengah kata tetap bertahan atau mengalami retensi bersama pada bahasa Md, bahasa Kr, dan Tw. Karena dapat ditemukan dalam kelompok bahasa tersebut dan korespondensinya dapat dijelaskan secara sistematis, maka fonem-fonem vokal tersebut direkonstruksi sebagai PMdKrTw*/e/K-K.
Posisi akhir kata
PMdKrTw */e/ pada posisi akhir kata dapat ditemukan pada perangkat kata seasal berikut.
PMdKrTw PMdKr Tw
*/we/ */we/ /we/ ‘tuma’
*/dewake/ */dewake/ /dewake/ ‘kantong saku */bere/ */bere/ /bere/ ‘kuburan’
*/ade/ */ade/ /ade/ ‘pasang api’
Data di atas memperlihatkan bahwa fonem vokal /e/ sebagai bunyi distingtif dengan memiliki ciri-ciri vokal depan, tengah, tidak bulat dalam posisi akhir kata pada bahasa Md, bahasa Kr, dan Tw berasal dari PMdKrTw */e/. Artinya, fonem PMdKrTw */e/ pada akhir kata tetap bertahan atau mengalami retensi bersama pada bahasa Md, bahasa Kr, dan Tw. Karena dapat ditemukan dalam kelompok bahasa tersebut dan korespondensinya dapat dijelaskan secara, sistematis maka fonem-fonem vokal tersebut direkonstruksi sebagai PMdKrTw */e/-#.
Di samping itu ditemukan juga PMdKrTw */e/ pada posisi tengah dan akhir berubah secara korespondensi menjadi /a/ pada bahasa Teiwa.
PMdKrTw PMdKr Tw
*/egat/ */egat/ /agat/ ‘semua’
*/meniŋ/ */meniŋ/ /maniŋ/ ‘atap alang-alang
*/tema/ */tema/ /tama/ ‘lemak’
Data di atas memperlihatkan fonem /e/ sebagai bunyi distingtif dengan memiliki ciri-ciri vokal depan, tengah, atas, tidak bulat pada posisi awal dan tengah kata pada PMdKrTw telah mengalami perubahan pada bahasa Tw. Dari fonem e/#- dan /e/K-K pada PMdKrTw tersebut ditemukan fakta telah terjadi
perubahan fonem dalam bentuk perengkahan (split) bunyi pada Tw menjadi fonem /e/ sebagai bunyi distingtif yang memiliki ciri-ciri vokal depan, tengah, atas, tidak bulat dan fonem /a/ sebagai bunyi distingtif yang memiliki ciri-ciri vokal tengah, rendah, tidak bulat. Sementara itu fonem vokal /e/ sebagai bunyi distingtif yang memiliki ciri-ciri vokal depan, tengah, tidak bulat pada subkelompok MdKr tetap bertahan. Meskipun data yang ditampilkan tidak terlalu banyak, cukup memberikan fakta bahwa proses perengkahan bunyi memang umum terjadi dalam bahasa Tw. Fenomena arah perubahan bunyi dalam bentuk perengkahan tersebut memberikan petunjuk yang mengindikasikan bahwa jika ditemukan beberapa fonem vokal Tw /e/ dan / a / -# dan K-K, dan keduanya dapat dijelaskan korespondesinya, maka fonem-fonem vokal tersebut layak direkonstruksi sebagai PMdKrTw */u/ #-, K-K.
4) PMdKrTw *o (o- -o- -o) PMdKr, Tw o Posisi awal kata
PMdKrTw */o/ pada posisi awal kata dapat ditemukan pada perangkat kata seasal berikut.
PMdKrTw PMdKr Tw
*/olak/ */olak/ /olak/ ‘besi’
*/ogas/ */ogas/ /ogas/ ‘tempat minum’ */odudut/ */odudut/ /odudut/ ‘tiarap’ */olu/ */olu/ /olu/ ‘ikan merah’ */odor/ */odor/ /odor/ ‘mengetuk’
Data di atas memperlihatkan bahwa fonem vokal /o/ sebagai bunyi distingtif dengan memiliki ciri-ciri vokal belakang, tengah, bulat dalam posisi awal kata pada bahasa Md, bahasa Kr, dan Tw berasal dari PMdKrTw */o/.
Artinya, fonem */o/ PMdKr pada awal kata tetap bertahan atau mengalami retensi bersama pada bahasa Md, bahasa Kr, dan Tw. Karena dapat ditemukan dalam kelompok bahasa tersebut dan korespondensinya dapat dijelaskan secara sistematis, maka fonem-fonem vokal tersebut direkonstruksi sebagai PMdKrTw */o/#-.
Posisi tengah kata
PMdKrTw *o pada posisi tengah kata dapat ditemukan pada perangkat kata seasal berikut.
PMdKrTw PMdKr Tw
*/polaŋka/i */polaŋkai/ /polaŋkai/ ‘malang/rugi */simopal/ */simopal/ /simpopal/ ‘lembab’ */molos/ */molos/ /molos/ ‘harus’ */gerod/ */gerod/ /gerod/ ‘menjunjung’
Data di atas memperlihatkan bahwa fonem vokal /o/ sebagai bunyi distingtif dengan memiliki ciri-ciri vokal belakang, tengah, bulat dalam posisi tengah kata pada bahasa Md, bahasa Kr dan Tw berasal dari PMdKrTw */o/. Artinya, fonem MdKr */o/ pada tengah kata tetap bertahan atau mengalami retensi bersama pada bahasa Md, bahasa Kr, dan Tw. Karena dapat ditemukan dalam kelompok bahasa tersebut dan korespondensinya dapat dijelaskan secara sistematis, maka fonem-fonem vokal tersebut direkonstruksi sebagai PMdKrTw */o/K-K.
Posisi akhir kata
PMdKrTw *o pada posisi akhir kata dapat ditemukan pada perangkat kata seasal berikut.
PMdKrTw PMdKr Tw
*/moso/ */moso / /moso/ ‘kelewang’
*/brako/ */brako/ /brako/ ‘menuai benih’
*/molo/ */molo/ /molo/ ‘pantas’
*/kiro/ */kiro/ /kiro/ ‘parut’
*/χuno/ */χuno/ /χuno/ ‘pandai’
Data di atas memperlihatkan bahwa fonem vokal /o/ sebagai bunyi distingtif dengan memiliki ciri-ciri vokal belakang, tengah, bulat dalam posisi akhir kata pada bahasa Md, bahasa Kr dan Tw berasal dari PMdKrTw */o/. Artinya, fonem MdKr */o/ pada akhir kata tetap bertahan atau mengalami retensi bersama pada bahasa Md, bahasa Kr, dan Tw. Karena dapat ditemukan dalam kelompok bahasa tersebut dan korespondensinya dapat dijelaskan secara sistematis, maka fonem-fonem vokal tersebut direkonstruksi sebagai PMdKrTw */o/-#.
Selain data tersebut, ditemukan fonem /o/ berubah secara sporadis menjadi fonem /a/ seperti pada data berikut ini.
PMdKrTw PMdKr Tw
*/sompol/ */sompol/ /sampol/ ‘lembab’ */daroso/ */daroso/ /daraso/ ‘bernyanyi’ */bog/ */bog/ /bag/ ‘biji untuk bibit’ */piliko/ */piliko/ /pilika/ ‘berguling’
Data di atas memperlihatkan fonem /o/ sebagai bunyi distingtif dengan memiliki ciri-ciri vokal belakang, tengah, bulat pada posisi tengah dan akhir kata ketiga bahasa PMdKrTw telah mengalami perubahan pada bahasa Tw. Dari fonem /o/K-K dan /o/-# pada ketiga bahasa PMdKrTw tersebut ditemukan fakta telah terjadi perubahan fonem dalam bentuk perengkahan (split) bunyi pada Tw menjadi fonem /a/ sebagai bunyi distingtif yang memiliki ciri-ciri vokal tengah,
rendah, tidak bulat. Sementara itu fonem vokal /o/ sebagai bunyi distingtif yang memiliki ciri-ciri vokal belakang, tengah, bulat pada subkelompok MdKr tetap bertahan. Meskipun data yang ditampilkan tidak terlalu banyak, cukup memberikan fakta bahwa proses perengkahan bunyi memang umum terjadi dalam bahasa Tw. Fenomena arah perubahan bunyi dalam bentuk perengkahan tersebut memberikan petunjuk yang mengindikasikan bahwa jika ditemukan beberapa fonem vokal Tw /o/ dan /a/ K-K, #- dan keduanya dapat dijelaskan korespondesinya, maka fonem-fonem vokal tersebut layak direkonstruksi sebagai PMdKrTw */o/ K-K, -#
5) PMdKrTw *a (a- -a- -a) PMdKr, Tw a Posisi awal kata
PMdKrTw */a/ pada posisi awal dapat ditemukan pada perangkat kata seasal berikut.
PMdKrTw PMdKr Tw
*/arag/ */arag/ /arag/ ‘periuk’
*/as/ */as/ /as/ ‘kotoran pada manusia (tahi)’ */agu/ */agu/ /agu/ ‘buka mulut’
*/amur/ */amur/ /amur/ ‘buku mantar’ */ari/ */ari/ /ari/’janda’
Data di atas memperlihatkan bahwa fonem vokal /a/ sebagai bunyi distingtif dengan memiliki ciri-ciri vokal tengah, rendah, tidak bulat dalam posisi awal kata pada bahasa Md, bahasa Kr, dan Tw berasal dari PMdKrTw */a/. Artinya, fonem MdKr */a/ pada awal kata tetap bertahan atau mengalami retensi bersama pada bahasa Md, bahasa Kr, dan Tw. Karena dapat ditemukan dalam kelompok bahasa tersebut dan korespondensinya dapat dijelaskan secara
sistematis, maka fonem-fonem vokal tersebut direkonstruksi sebagai PMdKrTw */a/#-.
Posisi tengah kata
PMdKrTw */a/ pada posisi tengah kata dapat ditemukan pada perangkat kata seasal berikut.
PMdKrTw PMdKr Tw
*/taχ/ */taχ/ /taχ/ ‘buah pelir’ */melewar/ */melewar/ /melewar/ ‘musuh’ */meraŋ/ */meraŋ/ /meraŋ/ ‘pondok’ */gar/ */gar/ /gar/ ‘puki’ */sraŋ/ */sraŋ/ /sraŋ/ ‘sahabat’
Data di atas memperlihatkan bahwa fonem vokal /a/ sebagai bunyi distingtif dengan memiliki ciri-ciri vokal tengah, rendah, tidak bulat dalam posisi awal kata pada bahasa Md, bahasa Kr, dan Tw berasal dari PMdKrTw */a/. Artinya, fonem MdKr */a/ pada tengah kata tetap bertahan atau mengalami retensi bersama pada bahasa Md, bahasa Kr, dan Tw. Karena dapat ditemukan dalam kelompok bahasa tersebut dan korespondensinya dapat dijelaskan secara sistematis, maka fonem-fonem vokal tersebut direkonstruksi sebagai PMdKrTw */a/K-K.
Posisi akhir kata
PMdKrTw */a/ pada posisi akhir kata dapat ditemukan pada perangkat kata seasal berikut
PMdKrTw PMdKr Tw
*/goramana/ */goramana/ /goramana/ ‘roh’ */egala/ */egala/ /egala/ ‘sekarang’
*/lepa/ */lepa/ /lepa/ ‘tampar dengan tangan’ */tupa/ */tupa/ /tupa/ ‘ujung’
Data di atas memperlihatkan bahwa fonem vokal /a/ sebagai bunyi distingtif dengan memiliki ciri-ciri vokal tengah, rendah, tidak bulat dalam posisi awal kata pada bahasa Md, bahasa Kr, dan Tw berasal dari PMdKrTw */a/. Artinya, fonem PMdKrTw */a/ pada akhir kata tetap bertahan atau mengalami retensi bersama pada bahasa Md, bahasa Kr, dan Tw. Karena dapat ditemukan dalam kelompok bahasa tersebut dan korespondensinya dapat dijelaskan secara sistematis, maka fonem-fonem vokal tersebut direkonstruksi sebagai PMdKrTw */a/#-.
Di samping itu ditemukan juga PMdKrTw */a/ pada posisi tengah dan akhir berubah secara sporadis menjadi /i/, /e/, /u/, /o/ pada bahasa Teiwa.
PMdKrTw PMdKr Tw
*/bati/ */bati/ /beti/ ‘jarum’
*/parak/ */parak/ /furak/ ‘alat timba di perahu’ */ribat/ */ribat/ /rebut/ ‘putting beliung’ */kalambasi/ */χalambasi/ /kesambi/ ‘pohon asam’ */panat/ */panat/ /penat/ ‘kirim’
*/batan/ */batan/ /betan/ ‘luka’
*/lapo/ */lapo/ /lopo/ ‘lumbung padi’ */patil/ */patil/ /petil/ ‘mencicipi’ */sai/ */sai/ /sei/ ‘sarung’ */bresak/ */bresak/ /bresek/ ‘semaian’ */gisika/ */gisika/ /gisiko/ ‘menuai’ */ereha/ */ereha/ /ereho/ ‘pengecut’ */sika/ */sika/ /siko/ ‘putus tali’
Data di atas memperlihatkan fonem /a/ sebagai bunyi distingtif dengan memiliki ciri-ciri vokal tengah, rendah, tidak bulat pada posisi tengah dan akhir kata ketiga bahasa PMdKrTw telah mengalami perubahan pada bahasa Tw. Dari fonem /a/#- /a/ K-K dan /a/-# pada ketiga bahasa PMdKrTw tersebut ditemukan fakta telah terjadi perubahan fonem dalam bentuk perengkahan (split) bunyi pada
Tw menjadi fonem /a/ sebagai bunyi distingtif yang memiliki ciri-ciri vokal tengah, rendah, tidak bulat menjadi fonem /i/ sebagai bunyi distingtif yang memiliki ciri-ciri vokal depan, tinggi atas tak bulat, menjadi fonem /o/ sebagai bunyi distingtif yang memiliki ciri-ciri vokal belakang, tengah, atas, bulat, fonem /e/ sebagai bunyi distingtif yang memiliki ciri-ciri vokal depan, tengah, atas, tidak bulat, dan fonem /u/ sebagai bunyi distingtif yang memiliki ciri-ciri vokal belakang, tinggi atas . Sementara itu fonem vokal /a/ sebagai bunyi distingtif yang memiliki ciri-ciri vokal tengah, rendah, tidak bulat pada subkelompok MdKr tetap bertahan.
Meskipun data yang ditampilkan tidak terlalu banyak, cukup memberikan fakta bahwa proses perengkahan bunyi memang umum terjadi dalam bahasa Tw. Fenomena arah perubahan bunyi dalam bentuk perengkahan tersebut memberikan petunjuk yang mengindikasikan bahwa jika ditemukan beberapa fonem vokal Tw /a/ dan /i/, /e/, /o/, /u/#- K-K, -# dan kelimanya dapat dijelaskan korespondesinya, maka fonem-fonem vokal tersebut layak direkonstruksi sebagai PMdKrTw */a/ K-K, -#.
Di samping, itu ditemukan pula perubahan fonem vokal pada bahasa turunan selain pada bahasa Tw. Bahasa turunan yang dimaksud adalah bahasa Kr dan bahasa Md. Perubahan ini terjadi secara sporadik pada bahasa turunannya. Data perubahan fonem dari PMdKrTw ini menguatkan hasil rekonstruksi pada tahap sebelumnya. Perubahan-perubahan tersebut dapat dilihat pada uraian berikut ini.
PMdKrTw PMdKr Md Kr Tw
*/deku/ */dek(u,o)/ /deko/ /deku/ /deku/ ‘celana’ */aki/ */ak(u,i)/ /aku/ /aki/ /aki/ ‘jangan’
*/tombenu/ * /t(o,i)mbenu/ /timbenu/ /tombenu/ /tombenu/ ‘kesedihan’ */togaŋ/ */t(o,i)gaŋ/ /tigaŋ/ /togaŋ/ /togaŋ/ ‘menyalak’ */aŋ/ */(a,o) ŋ/ /oŋ/ /aŋ/ /aŋ/ ‘pasar’
*/wara/ */war(a,o)/ /wara/ /waro/ /wara/ ‘bengkak’ */tara/ */tar(a,o)/ /tara/ /taro/ /tara/ ‘berenang’ */por/ */p(a,o)r/ /por/ /par/ /por/ ‘bumi’ */moliŋ/ */mol(i,e)ŋ/ /moliŋ/ /moleŋ/ /moliŋ/ ‘lemah’ */ana/ */an(a,o)/ /ana/ /ano/ /ana/ ‘gali’ */agi/ */ag(i,o)/ /agi/ /ago/ /agi/ ‘panjat’
*/tol/ */t(o,u)l/ /tol/ /tul/ /tol/ ‘rajnau bambu’ */bira/ */bir(a,o)/ /bira/ /biro/ /bira/ ‘rata’
*/misipo/ */misip(o,u)/ /misipo/ /misipu/ /misipo/ ‘rasa sepat’ *sera *ser(a,o)/ /sera/ /sero/ /sera/ ‘turun’
Berdasarkan data di atas dapat dijelaskan bahwa fonem-fonem pada PMdKrTw */u/ sebagai bunyi distingtif dengan memiliki ciri-ciri vokal belakang, tinggi, bulat berubah menjadi /o/ dengan realisasi sebagai bunyi distingtif