• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penentuan Calon terpilih dalam Pemilu 2009

Dalam dokumen PENYELENGGARAAN PEMILU DI INDONESIA (Halaman 70-74)

SEJARAH PEMILU DI INDONESIA II.1. Pemilu 1955

III.3. Penentuan Calon terpilih dalam Pemilu 2009

Pemilu 2009 kita dituntut untuk mendukung dan menciptakan situasi dan kondisi yang kondusif guna suksesnya Pemilu dimaksud. Kondisi ini juga mengisyaratkan agar kita melakukan upaya-upaya persiapan pemilu 2009 secara konsepsional, terencana dan terprogram dengan tetap bersandar pada semangat konstitusi sehingga setiap langkah kebijakan kita tetap berjalan sesuai dengan mekanisme peraturan perundang-undangan dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. Selain itu, dalam kebijakan umum pemerintah, pemerintah berkewajiban mendorong implementasi secara maksimal UU bidang Politik oleh Parpol, Masyarakat, KPU dan Bawaslu. Guna mendukung kelancaran proses penyelenggaraan Pemilu, salah satu upaya yang dilakukan pemerintah adalah akan membentuk Desk Pemilu. Dengan demikian diharapkan Pemilu dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien berdasarkan asas langsung, umum, bebas dan rahasia, jujur dan

Mahkamah Konstitusi menganulir mekanisme penetapan calon anggota legislatif terpilih yang dianut UU No 10/2008 dan menggantinya dengan sistem suara terbanyak. Kedaulatan rakyat dipulihkan. Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) No. 22 dan 24/PUU-VI/2008 hanya membatalkan pasal 214 UU Pemilu. Putusan itu tidak membatalkan pasal tentang affirmatif action terhadap perempuan. Pasal 55 ayat (2) UU Pemilu tetap berlaku dengan memberikan keistimewaan yang menempatkan perbandingan 3: 1 bagi bakal calon perempuan. Setiap 3 orang bakal calon terdapat sekurang-kurangnya 1 orang perempuan. Namun putusan MK tentang suara terbanyak tidak membedakan keberlakuannya, baik bagi caleg perempuan maupun laki-laki. Keduanya memiliki dimensi yang

Sudawirrahmi : Penyelenggaraan Pemilu Di Indonesia Studi Kasus Perbandingan Undang-Undang NO. 12 Tahun 2003 Dengan Undang-Undang NO. 10 Tahun 2008, 2009.

berbeda. Ketentuan affirmatif berlaku terbatas pada penetapan bakal caleg. Pasal 55 ayat (2) secara eksplisit menyebutkan bahwa ketentuan ini berlaku untuk “bakal caleg” dan bukan caleg terpilih. Kewajiban partai politiklah untuk memenuhi quota 30% keterwakilan perempuan. Sedangkan penetapan suara terbanyak adalah hak bagi pemilih untuk menentukan keterwakilannya di legislatif.

Maka dengan keputusan MK ini, para caleg no 1 dalam DCT saat ini merupakan korban pertama yang paling keras menangis dan hanya bisa pasrah. Dengan demikian parpol yang terlanjur pasang harga untuk nomor ‘jadi’ pasti menuai protes para caleg ini. KPU pun langsung menjalankan keputusan MK ini. Sehingga tidak ada pilihan lain untuk para caleg no 1 tetap harus berjuang sama kerasnya dengan caleg lain untuk mendapatkan suara terbanyak.

Inilah wajah demokrasi Indonesia sesungguhnya, di tahun 2009 rakyat mendapatkan wakilnya berdasarkan pilihan mereka, apakah mau pilih caleg perempuan atau laki-laki. Bandingkan dengan Pemilu 2004, mereka yang duduk di parlemen adalah semua yang mendapatkan ‘blessing’ dengan mendapat no. urut ‘1′. Dari sekitar 560 orang hanya 2 orang bisa tembus angka BPP.23

Keputusan MK adalah kemenangan bagi demokrasi. Suara rakyat yang menghendaki wakilnya yang meraih suara terbanyak duduk di parlemen dapat Bahkan kalau KPU tetap bertahan dengan angka 30 % BPP sesuai dengan UU Pemilu no 10 tahun 2008, dengan simulasi data Pemilu 2004, hanya ada 13 orang anggota DPR lolos! Artinya rakyat tetap dapat kucing yang lain walau sudah memilih kucingnya sendiri dari karung yang sama.

23

Sudawirrahmi : Penyelenggaraan Pemilu Di Indonesia Studi Kasus Perbandingan Undang-Undang NO. 12 Tahun 2003 Dengan Undang-Undang NO. 10 Tahun 2008, 2009.

diwujudkan putusan MK itu menjadi kontribusi penting bagi pertumbuhan demokrasi di Indonesia. Fakta politik menunjukkan, orang baru sulit masuk ke lembaga legislatif karena nomor urut dikuasai orang itu-itu saja. Putusan MK itu menanggapi permohonan uji materi yang diajukan Mohammad Sholeh, Sutjipto, Septi Notariana, dan Jose Dima S. Sholeh adalah caleg dari PDI-P untuk DPRD Jawa Timur. Sutjipto dan Septi adalah caleg dari Partai Demokrat untuk DPR. Jose adalah warga negara biasa. MK hanya mengabulkan permohonan mereka yang terkait penentuan caleg terpilih. MK menyatakan, Pasal 214 bertentangan dengan makna substantif kedaulatan rakyat. Pasal 214 Huruf a-e menyatakan, ”Calon terpilih adalah calon yang mendapatkan suara di atas 30 persen bilangan pembagi pemilih, atau menempati nomor urut kecil jika tidak memperoleh 30 persen BPP, atau menempati nomor urut kecil jika memperoleh BPP.”

Menurut MK, ketentuan Pasal 214 inkonstitusional karena bertentangan dengan makna substantif kedaulatan rakyat dan bertentangan dengan Pasal 28 D Ayat 1 UUD 1945. Penetapan caleg terpilih berdasarkan nomor urut adalah pelanggaran kedaulatan rakyat jika kehendak rakyat tidak diindahkan dalam penetapan caleg. MK menilai kedaulatan rakyat dan keadilan akan terganggu. Jika ada dua caleg yang mendapatkan suara yang jauh berbeda ekstrem, terpaksa caleg yang mendapatkan suara terbanyak dikalahkan caleg yang mendapatkan suara kecil, tetapi nomor urut lebih kecil. MK juga menyatakan, memberi hak kepada caleg terpilih sesuai nomor urut sama artinya dengan memasung suara rakyat untuk memilih caleg sesuai pilihannya dan mengabaikan tingkat legitimasi caleg terpilih berdasarkan suara terbanyak.

Sudawirrahmi : Penyelenggaraan Pemilu Di Indonesia Studi Kasus Perbandingan Undang-Undang NO. 12 Tahun 2003 Dengan Undang-Undang NO. 10 Tahun 2008, 2009.

Putusan Mahkamah Konstitusi yang mengabulkan permohonan pengujian pasal 214 UU No 10 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum Anggota DPR, DPD dan DPRD, mengubah sistem Pemilu legislatif dari sistem proporsional terbuka (Pasal 5 ayat 1 UU No 10 Tahun 2008) ke sistem distrik. Sistem pemilu untuk anggota DPR dan DPRD sekarang sama dengan sistem Pemilu untuk anggota DPD yang menggunakan sistem distrik (Pasal 5 ayat 2). Adapun bunyi Pasal 5 sebagai berikut:

(1) Pemilu untuk memilih anggota DPR, DPRD provinsi, dan DPRD kabupaten/kota dilaksanakan dengan sistem proporsional terbuka.

(2) Pemilu untuk memilih anggota DPD dilaksanakan dengan sistem distrik berwakil banyak.

Keputusan Mahkamah Konstitusi ini membatalkan penetapan anggota DPR dan DPRD melalui nomor urut menjadi suara terbanyak. Tetapi membatalkan Pasal 214 tanpa membatalkan Pasal 218 tentang Penggantian Calon Terpilih, tidak akan efektif terhadap calon-calon yang memiliki loyalitas pada partai, atau partai-partai yang mampu mengontrol seluruh calon anggota legislatifnya. Dalam ayat 1 Pasal 218 ini diatur tentang pengunduran diri calon terpilih. Calon dengan suara terbanyak tapi tidak di posisi nomor urut jadi, bisa dengan sukarela atau diminta partai untuk mengundurkan diri kemudian posisinya digantikan dengan calon yang lain.

Pasal 218 berbunyi sebagai berikut:

“(1) Penggantian calon terpilih anggota DPR, DPD, DPRD provinsi, dan DPRD kabupaten/kota dilakukan apabila calon terpilih yang bersangkutan:

a. meninggal dunia; b. mengundurkan diri;

c. tidak lagi memenuhi syarat untuk menjadi anggota DPR, DPD, DPRD provinsi, atau DPRD kabupaten/kota;

Sudawirrahmi : Penyelenggaraan Pemilu Di Indonesia Studi Kasus Perbandingan Undang-Undang NO. 12 Tahun 2003 Dengan Undang-Undang NO. 10 Tahun 2008, 2009.

d. terbukti melakukan tindak pidana Pemilu berupa politik uang atau pemalsuan dokumen berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap.

III.4. Implikasi Penerapan Penentuan Calon Terpilih Melalui Suara

Dalam dokumen PENYELENGGARAAN PEMILU DI INDONESIA (Halaman 70-74)

Dokumen terkait