• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENYELENGGARAAN PEMILU DI INDONESIA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENYELENGGARAAN PEMILU DI INDONESIA"

Copied!
88
0
0

Teks penuh

(1)

Sudawirrahmi : Penyelenggaraan Pemilu Di Indonesia Studi Kasus Perbandingan Undang-Undang NO. 12 Tahun 2003 Dengan Undang-Undang NO. 10 Tahun 2008, 2009.

SKRIPSI

PENYELENGGARAAN PEMILU DI INDONESIA

STUDI KASUS PERBANDINGAN UNDANG-UNDANG NO. 12 TAHUN 2003 DENGAN UNDANG-UNDANG NO. 10 TAHUN 2008

Disusun Oleh

SUDAWIRRAHMI 030906002

DEPARTEMEN ILMU POLITIK

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(2)

Sudawirrahmi : Penyelenggaraan Pemilu Di Indonesia Studi Kasus Perbandingan Undang-Undang NO. 12 Tahun 2003 Dengan Undang-Undang NO. 10 Tahun 2008, 2009.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

FAKULTAS ILMU SOSOAL DAN ILMU POLITIK DEPARTEMEN ILMU POLITIK

HALAMAN PERSETUJUAN

Skripsi ini disetujui untuk dipertahankan dan diperbanyak:

Nama : Sudawirrahmi

NIM : 030906002

Departemen : Ilmu Politik

Judul : Penyelenggaraan Pemilu di Indonesia (Studi Kasus

Perbandingan Undang-Undang No. 12 Tahun 2003 dengan Undang-Undang No. 10 Tahun 2008

Ketua Departemen NIP. 196410061998031000 Drs. Heri Kusmanto, MA Dosen Pembimbing NIP. 197408062006041003 Warjio, SS, MA Dosen Pembaca NIP. 195801151986011000 Drs. Zakaria Thaher, M.SP

Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

NIP. 196207031987111001 Prof. Dr. M. Arif Nasution, MA

(3)

Sudawirrahmi : Penyelenggaraan Pemilu Di Indonesia Studi Kasus Perbandingan Undang-Undang NO. 12 Tahun 2003 Dengan Undang-Undang NO. 10 Tahun 2008, 2009.

PERNYATAAN

JUDUL : Penyelenggaraan Pemilu di Indonesia (Studi Kasus Perbandingan Undang-Undang No. 12 Tahun 2003 dengan Undang-Undang No. 10 Tahun

2008

SKRIPSI

Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk kesarjanaan di suatu perguruan tinggi. Dari sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis, kecuali yang tertulis dalam naskah ini disebut dalam daftar pustaka.

Medan,

(4)

Sudawirrahmi : Penyelenggaraan Pemilu Di Indonesia Studi Kasus Perbandingan Undang-Undang NO. 12 Tahun 2003 Dengan Undang-Undang NO. 10 Tahun 2008, 2009.

ABSTRAKSI

Regulasi dalam Pemilihan Umum merupakan salah satu faktor yang menentukan berhasil tidaknya pelaksanaan Pemilu tahun 2009. Pemilu yang sukses mengindikasikan bahwa pembangunan dalam suatu negara berhasil dilaksanakan dengan sukses pula. Ini berarti bahwa negara tersebut berhasil mengantisipasi perubahan dalam proses pengelolaan pembangunan, sekaligus mengoreksi kelemahan-kelemahan yang ada, dan sanggup membawa pembangunan pada sasaran dalam jangka waktu yang sudah ditetapkan. Di Indonesia, kesemuanya itu bertumpu pada 4 (empat) pilar, yaitu Dasar Negara Pancasila sebagai idiologi bangsa, Undang-Undang Dasar Negara RI Tahun 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI.

Pelaksanaan pemilihan umum secara langsung oleh rakyat merupakan sarana perwujudan kedaulatan rakyat guna menghasilkan pemerintahan negara yang demokratis berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia dan diselenggarakan pada setiap lima tahun sekali, serta dilaksanakan di seluruh wilayah NKRI sebagai satu kesatuan. Pemungutan suara dilaksanakan secara serentak pada hari libur atau hari yang diliburkan. Pemilu Presiden dan Wakil Presiden dilaksanakan setelah pelaksanaan Pemilu anggota DPR, DPD, dan DPRD. Skripsi ini berjudul: Penyelenggaraan Pemilu di Indonesia: Studi Kasus Perbandingan Undang-Undang No. 12 Tahun 2003 dengan Undang-Undang No. 10 Tahun 2008 menyangkut masalah penetapan calon terpilih pasca keputusan Mahkamah Konstitusi No. 22-24/PUU-VI/2008 pada tanggal 23 Desember 2008 yang berdasarkan suara terbanyak kemudian skripsi ini hanya membahas mengenai penentuan calon terpilih berdasarkan keputusan Mahkamah Konstitusi No. 22-24/PUU-VI/2008 pada tanggal 23 Desember 2008 berdasarkan suara terbanyak beserta implikasinya.

Tujuan dari penelitian ini adalah Menjelaskan elemen-elemen dan variabel-variabel dalam pemilu di Indonesia serta manfaat nya adalah Penelitian ini diharapkan mampu meningkatkan pemahaman dan kemampuan berfikir secara akademis dan ilmiah dalam memandang pemilihan umum sebagai suatu elemen yang sangat penting dalam demokrasi dan sistem politik suatu negara.

(5)

Sudawirrahmi : Penyelenggaraan Pemilu Di Indonesia Studi Kasus Perbandingan Undang-Undang NO. 12 Tahun 2003 Dengan Undang-Undang NO. 10 Tahun 2008, 2009.

DAFTAR ISI HALAMAN PERSETUJUAN HALAMAN PENGESAHAN KATA PENGANTAR i ABSTRAK iii DAFTAR ISI iv

DAFTAR TABEL viii

BAB I PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang Masalah 1

I.2. Perumusan Masalah 4

I.3. Pembatasan Masalah 4

I.4. Tujuan dan Manfaat Penelitian 5

I.4.1. Tujuan Penelitian 5

I.4.2. Manfaat Penelitian 5

I.5. Kerangka Teori 6

I.5.1. Perbandingan 6

a. Pendekatan Tradisional (Traditional Approach) 7 b. Pendekatan Perilaku (Behavioral Approach) 8

c. Pendekatan Pasca Behavioral 10

I.5.2. Pemilihan Umum 12

(6)

Sudawirrahmi : Penyelenggaraan Pemilu Di Indonesia Studi Kasus Perbandingan Undang-Undang NO. 12 Tahun 2003 Dengan Undang-Undang NO. 10 Tahun 2008, 2009.

I.5.2.2. Sistem Pemilihan Umum 13

a. Sistem Perwakilan Distrik 14

b. Sistem Perwakilan Proporsional 16

b.1. Sistem Proporsional Daftar Tertutup 18 b.2. Sistem Proporsional Daftar Terbuka 18 b.3. Sistem Proporsional Daftar Bebas 19

I.5.2.3 Fungsi Pemilihan Umum 19

a. Sebagai Sarana Legitimasi Politik 19

b. Fungsi Perwakilan Politik 20

c. Pemilihan Umum Sebagai Mekanisme Bagi Pergantian Elit atau Sirkulasi Elit

Penguasa 20

d. Sebagai Sarana Pendidikan Politik Bagi

Rakyat 21

I.6. Definisi Konsep 21

I.6.1 Perbandingan 21

I.6.2 Pemilihan Umum 22

a. Pemilihan Umum Indonesia 2004 22

b. Pemilihan Umum Indonesia 2009 22

I.7. Metodologi Penelitian 22

I.7.1. Bentuk Penelitian 22

I.7.2 Teknik Pengumpulan Data 23

I.7.3. Teknik Analisis Data 23

(7)

Sudawirrahmi : Penyelenggaraan Pemilu Di Indonesia Studi Kasus Perbandingan Undang-Undang NO. 12 Tahun 2003 Dengan Undang-Undang NO. 10 Tahun 2008, 2009.

BAB II SEJARAH PEMILU DI INDONESIA

II.1. Pemilu 1955 25 II.2. Pemilu 1971 31 II.3. Pemilu 1977 34 II.4. Pemilu 1982 35 II.5. Pemilu 1987 36 II.6. Pemilu 1992 37 II.7. Pemilu 1997 38 II.8. Pemilu 1999 39 II.9. Pemilu 2004 46

BAB III PEMBAHASAN

III.1. Regulasi Pemilihan Umum 54

III.2. Pemilu dan Perkembangannya 56

III.3. Penentuan Calon Terpilih dalam Pemilu 2009 61

III.4. Implikasi Penerapan Penentuan Calon Terpilih Melalui Suara

Terbanyak 65

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN

IV.1. Kesimpulan 75

IV.2. Saran 77

(8)

Sudawirrahmi : Penyelenggaraan Pemilu Di Indonesia Studi Kasus Perbandingan Undang-Undang NO. 12 Tahun 2003 Dengan Undang-Undang NO. 10 Tahun 2008, 2009.

KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmannirrahim…

Puji dan syukur penulis ucapkan kepada ALLAH SWT atas berkat dan rahmadnya. Sehingga penulis dapat menyelesaikan Skripsi ini dengan baik, tidak lupa juga pada sang Idola Muhammad SAW yang menjadi suri tauladan penulis dalam aktivitas kesehariannya.

Dalam menyelesaikan penelitian skripsi ini penulis berusaha semaksimal mungkin agar hasil yang diperoleh nantinya sesuai dengan apa yang diharapkan. Namun penulis menyadari skripsi ini masih jauh sempurna dari yang diharapkan dan masih banyak terdapat kekurangan, penulis mengharapkan masukan dari berbagai pihak. Pada kesempatan ini penulis banyak mengucapkan Terima kasih kepada :

1. Bapak Prof. Chairudin P. Lubis, selaku Rektor Universitas Sumatera Utara.

2. Bapak Prof. Arif Nasution, selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Poltik USU.

3. Bapak Heri Kusmanto, MA, selaku Ketua Departemen Ilmu Politik FISIP USU.

4. Bapak Warjio, SS, selaku dosen Pembimbing, yang telah memberikan masukan berharga dan membimbing penulis hingga terselesaikannya skripsi ini.

5. Bapak Drs. Zakaria Thaher, M.SP selaku Dosen Pembaca yang telah meluangkan waktu dan masukan yang berharga buat penulis.

(9)

Sudawirrahmi : Penyelenggaraan Pemilu Di Indonesia Studi Kasus Perbandingan Undang-Undang NO. 12 Tahun 2003 Dengan Undang-Undang NO. 10 Tahun 2008, 2009.

6. Ayahanda Syahrul Razi dan Ibunda Azizah tercinta yang telah memberikan dukungan moril maupun materil bagi penulis, mengajarkan makna kesabaran dalam segala hal, bersabar dalam setiap kesusahan baik selama perkuliahan hingga selesainya penelitian skripsi ini, terima kasih yang tak terhinga penulis ucapkan kepada Ayah dan Mama, I Love You….

7. Dosen, staf Departemen Ilmu Politik, khususnya kak Uci dan bang

Ibnu yang selalu berbaik hati membantu aku melengkapi berkas-berkas

yang di perlukan , dan juga buat bang Rusdi yang baik banget membantu keperluan wat persiapan meja hijau, thank’s ya bang.

(10)

Sudawirrahmi : Penyelenggaraan Pemilu Di Indonesia Studi Kasus Perbandingan Undang-Undang NO. 12 Tahun 2003 Dengan Undang-Undang NO. 10 Tahun 2008, 2009.

BAB I Pendahuluan

I.1. Latar belakang masalah

Pemilu adalah sebuah kegiatan yang sering disebut sebagai indikator demokrasi. Pemilu menjadi parameter dalam menilai demokrasi sebuah negara. Hal itu karena dalam pemilu masyarakat dapat memilih wakil-wakil mereka yang akan duduk di parlemen sebagai anggota legislatif atau pemimpin-pemimpin eksekutif. Pemilu yang berjalan lancar, damai dan transparan yang kemudian menghasilkan pemimpin yang terpilih oleh suara mayoritas menandakan bahwa negara tersebut adalah negara demokratis. Namun sebaliknya jika pemilu yang diadakan kemudian membawa negara kedalam kekacauan baik vertikal maupun horizontal, maka negara tersebut tidak dapat dikatakan sebuah negara yang demokratis. Meskipun harus diakui pemilu tidak dapat memuaskan semua pihak.

Indonesia adalah salah satu negara yang menganut sistem demokrasi dalam menjalankan pemerintahannya. Pemilu sebagai wadah regenerasi kepemimpinan juga bukanlah hal yang baru bagi bangsa Indonesia. Indonesia telah mengadakan pemilu sejak tahun 1955 dan yang terakhir kali adalah tahun 2009 ini. Pemilihan umum di Indonesia diadakan lima tahun sekali sejalan dengan masa jabatan presiden.

Indonesia menganut sistem multi partai sebagai sistem kepartaiannya. Oleh karena itu sejak tahun 1955 pemilu di Indonesia selalu diikut i oleh sedikitnya tiga partai politik.

(11)

Sudawirrahmi : Penyelenggaraan Pemilu Di Indonesia Studi Kasus Perbandingan Undang-Undang NO. 12 Tahun 2003 Dengan Undang-Undang NO. 10 Tahun 2008, 2009.

Pada pemilu tahun 2004, sistem pemilihan umum Indonesia mengalami perubahan yang signifikan. Pada pemilu tahun 2004 para pemilih dapat memilih presiden dan wakil presiden secara langsung untuk pertama kalinya. Pada pemilu ini juga rakyat Indonesia dapat memilih anggota DPD (senat) yang juga untuk pertama kalinya.

Sistem pemilihan umum yang dipakai dalam pemilihan umum tahun 2004 ini adalah sebuah terobosan baru dalam mengatur mekanisme bagaimana proses pergantian kepemimpinan nasional dilaksanakan. Pelaksanaan pemilihan umum tahun 2004 tertuang dalam Undang-Undang No 13 Tahun 2003 Pasal 1, tentang pemilihan umum Anggota DPR RI, DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota:

...adalah sarana pelaksanaan kedaulatan rakyat dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945, untuk memilih anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, Presiden dan Wakil Presiden, Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten/Kota.

Pada tanggal 3 Maret 2008, DPR-RI telah merampungkan pembahasan rancangan Undang-Undang Pemilihan Umum (RUU Pemilu) yang akan digunakan sebagai aturan main yang baru pada penyelenggaraan Pemilihan Umum tahun 2009.

Terdapat beberapa perubahan penting dalam kedua undang-undang tersebut. Point-point penting tersebut harus melalui proses perdebatan dan negosiasi yang alot sebelum akhirnya disetujui oleh semua fraksi di DPR, bahkan ada point yang harus diselesaikan dengan cara voting. Terdapat lima point penting yang menjadi bahan perdebatan alot di DPR, kelima point

(12)

Sudawirrahmi : Penyelenggaraan Pemilu Di Indonesia Studi Kasus Perbandingan Undang-Undang NO. 12 Tahun 2003 Dengan Undang-Undang NO. 10 Tahun 2008, 2009.

tersebut adalah: pertama, mengenai penetapan jumlah/alokasi kursi di DPR RI. Jika pada UU No. 12/2003 tentang Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah pada pasal 47 dinyatakan jumlah kursi DPR sebanyak 550 kursi, maka pada Undang-undang No. 10 tahun 2008 jumlah kursi yang tersedia di DPR adalah sebanyak 560 kursi.

Kedua, alokasi (jatah) kursi pada tiap daerah pemilihan. Pada UU No.

12/2003 besaran alokasi kursi pada tiap daerah pemilihan 3 – 12 kursi. Dalam Undang-undang Pemilu yang baru jumlah tersebut menjadi berkurang yakni 3 – 10 kursi untuk tiap daerah pemilihan.

Ketiga, penentuan parliamentary threshold sebesar 2,5 persen.

Parliamentary threshold adalah hal baru ada dalam Undang-undang ini. Penetapan parliamentary threshold ini membuat partai-partai kecil yang memperoleh kurang dari 2,5% suara sah secara nasional tidak berhak menduduki kursi di DPR RI.

Keempat, penghitungan sisa suara. Penghitungan sisa suara dilakukan

dengan cara melakukan pembagian jumlah sisa kursi kepada parpol yang

memperoleh sekurangnya 50 persen BPP, dan jika masih ada kursi yang tersisa maka penghitungan dilakukan dengan seluruh sisa suara parpol dikumpulkan ke provinsi untuk menentukan BPP baru.

Kelima, penentuan calon terpilih. Pada saat Undang-undang ini disahkan

penentuan calon terpilih yang tidak memenuhi 30 persen BPP masih sama dengan Undang-undang No. 12/2003 yaitu melalui nomor urut yang paling kecil. Namun, berdasarkan putusan Mahkamah Konstitusi No.

(13)

22-24/PUU-Sudawirrahmi : Penyelenggaraan Pemilu Di Indonesia Studi Kasus Perbandingan Undang-Undang NO. 12 Tahun 2003 Dengan Undang-Undang NO. 10 Tahun 2008, 2009.

VI/2008 pada tanggal 23 Desember 2008 penentuan calon terpilih berubah menjadi berdasarkan suara terbanyak.

Berdasarkan ketertarikan penulis terhadap Undang-Undang Pemilu yang baru ini dan ingin mengetahui implikasinya terhadap masyarakat, penulis mencoba mengangkat masalah ini kedalam penelitian yang berjudul: “Penyelenggaraan Pemilu di Indonesia: Studi Kasus Perbandingan Undang-Undang No. 12 Tahun 2003 dengan Undang-Undang-Undang-Undang No. 10 Tahun 2008 menyangkut masalah penetapan calon terpilih pasca keputusan Mahkamah Konstitusi No. 22-24/PUU-VI/2008 pada tanggal 23 Desember 2008 yang berdasarkan suara terbanyak”.

I.2. Perumusan masalah

Agar penelitian ini tetap terarah dan tidak kehilangan fokus, maka permasalahan ini harus dirumuskan secara jelas. Berdasarkan judul di atas maka pokok masalah pada penelitian ini adalah: “bagaimanakah perbandingan undang-undang pemilu No.12 tahun 2003 dengan undang-undang pemilu No.10 tahun 2008 dalam hal penetapan calon terpilih dan implikasinya terhadap penerapan putusan Mahkamah Konstitusi tersebut”.

I.3. Pembatasan masalah

Untuk menjaga agar penelitian ini tidak melebar dan kehilangan arah, maka penulis membuat pembatasan masalah penelitian sebagai berikut:

(14)

Sudawirrahmi : Penyelenggaraan Pemilu Di Indonesia Studi Kasus Perbandingan Undang-Undang NO. 12 Tahun 2003 Dengan Undang-Undang NO. 10 Tahun 2008, 2009.

1. Penelitian ini adalah penelitian yang bersifat perbandingan dua objek, yaitu Undang-Undang No.12 tahun 2003 dengan Undang-Undang No.10 tahun 2008.

2. Penelitian ini dibatasi hanya pada penentuan calon terpilih berdasarkan keputusan Mahkamah Konstitusi No. 22-24/PUU-VI/2008 pada tanggal 23 Desember 2008 berdasarkan suara terbanyak.

3. Pemilihan Umum Indonesia yang dimaksud adalah Pemilihan Umum Anggota Legislatif (DPR RI, DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota).

I.4. Tujuan dan Manfaat Penelitian I.4.1. Tujuan Penelitian

1. Menjelaskan elemen-elemen dan variabel-variabel dalam pemilu di Indonesia

2. Merumuskan dan menjelaskan perbedaan-perbedaan yang terdapat dalam undang-undang No.12 tahun 2003 dan undang-undang No. 10 tahun 2008.

I.4.2.Manfaat Penelitian

1. Penelitian ini diharapkan mampu meningkatkan pemahaman dan kemampuan berfikir secara akademis dan ilmiah dalam memandang pemilihan umum sebagai suatu elemen yang sangat penting dalam demokrasi dan sistem politik suatu negara.

2. Menambah khasanah ilmu pengetahuan terutama di bidang politik, dan khususnya mengenai masalah pemilihan umum.

(15)

Sudawirrahmi : Penyelenggaraan Pemilu Di Indonesia Studi Kasus Perbandingan Undang-Undang NO. 12 Tahun 2003 Dengan Undang-Undang NO. 10 Tahun 2008, 2009.

3. Sebagai literatur yang baru bagi daftar bagi kepustakaan untuk yang tertarik dan konsentrasi dengan bidang dan permasalahan yang serupa.

I.5. Kerangka teori

Dalam sebuah tulisan ilmiah kerangka teori adalah hal yang sangat penting, karena dalam kerangka teori tersebut akan dimuat teori-teori yang relevan dalam menjelaskan masalah yang sedang diteliti. Kemudian kerangka teori ini digunakan sebagai landasan teori atau dasar pemikiran dalam penelitian yang dilakukan. Karena itu adalah sangat penting bagi seorang peneliti untuk menyusun kerangka teori yang memuat pokok-pokok pemikiran yang akan menggambarkan dari sudut mana suatu masalah akan disoroti1

Teori merupakan seperangkat preposisi yang terintegrasi secara sintaksis (yaitu yang mengikuti aturan tertentu yang dapat dihubungkan secara logis atau dengan lainnya dengan data dasar yang dapat diamati) dan berfungsi sebagai wahana untuk meramalkan dan menjelaskan fenomena yang diamati

.

2

I.5.1. Perbandingan

. Berikut ini akan dikemukakan beberapa teori yang akan digunakan dalam penelitian ini:

Pendekatan perbandingan dalam studi ilmu politik sudah setua ilmu politik itu sendiri. Selama berabad-abad telah banyak perbandingan sistem politik yang dilakukan oleh pada teoritisi dunia, termasuk membandingkan antara negara dan negara, monarki/oligarki dengan demokrasi, pemerintahan

1

H. Nawawi, Metode penelitian bidang sosial, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta, 1995. Hal. 39-40

2

(16)

Sudawirrahmi : Penyelenggaraan Pemilu Di Indonesia Studi Kasus Perbandingan Undang-Undang NO. 12 Tahun 2003 Dengan Undang-Undang NO. 10 Tahun 2008, 2009.

konstitusional dengan tirani dan sebagainya3. Definisi sederhana dari perbandingan adalah suatu kegiatan untuk mengadakan identifikasi persamaan/perbedaan antara dua gejala tertentu atau lebih4. Walaupun sederhana, akan tetapi dalam implementasi sebuah analisis ataupun studi perbandingan, definisi ini tetap menjadi acuan dalam perbandingan dua gejala tertentu atau lebih. Lebih lanjut Lijphart mengemukakan bahwa metode komparatif (Comparative Method) atau perbandingan lebih ditekankan kepada suatu metode penemuan hubungan empiris antara berbagai variabel, dan metode ini bukan merupakan metode pengukuran. Karena metode komparatif bukan merupakan metode pengukuran, maka metode komparatif melibatkan analisis kualitatif, bukan kuantitatif5

a. Pendekatan Tradisional (Traditional Approach).

.

Dalam studi Perbandingan Politik terdapat tiga pendekatan yang dapat dilakukan, dan telah sering digunakan dalam telaah komparatif. Adapun ketiga pendekatan tersebut adalah:

Secara historis pendekatan ini menghubungkan fakta dan nilai dalam studi politik perbandingan. Selama awal abad ke-20, meski demikian orientasinya bergeser pada studi institusi-institusi negara-negara individual. Secara intrinsik, pendekatan tradisional menjadi nonkomparatif, deskriptif, sempit dan statis. Pendekatan ini cenderung menggambarkan institusi-institusi politik tanpa mencoba untuk memperbandingkannya, bukannya

3

M. Mas’oed, Perbandingan Sistem Politik, Gajah Mada University Press. Hal. 21.

4

S. Soekanto, Perbandingan Hukum, Alumni, Bandung, 1979. Hal.10.

5

Ronald Chillcote, Teori Perbandingan Politik, Penelusuran Paradigma.,PT Rajagrafindo Persada, Jakarta, 2003. Hal. 30.

(17)

Sudawirrahmi : Penyelenggaraan Pemilu Di Indonesia Studi Kasus Perbandingan Undang-Undang NO. 12 Tahun 2003 Dengan Undang-Undang NO. 10 Tahun 2008, 2009.

mengidentifikasi tipe-tipenya, misalnya institusi parlementer terhadap institusi presidensil6

b. Pendekatan Perilaku (Behavioral Approach).

.

Pendekatan ini merupakan sebuah reaksi terhadap spekulasi teori yang memberikan uraian penjelasan, kesimpulan dan penilaian berdasarkan norma-norma atau aturan-aturan dan standar-standar kekuasaan maupun etnosentrisme, formalisme, dan deskripsi barat yang menjadi karakteristik pendekatan tradisional kontemporer7

Kecenderungan riset behavioral dalam politik telah menuju pada pembentukan model-model yang konsisten secara logika, dimana

. Sebuah laporan Asosiasi Ilmu Politik Amerika (American Political Science Association) tahun 1944 mengkritik bidang perbandingan Ilmu Politik sebagai bersifat sempit dalam melakukan analisis deskriptif menyangkut institusi-institusi luar negeri dan memaksakan suatu campuran metoda dan disain untuk mencapai suatu ilmu rekayasa sosial “total”. Sebuah laporan lain dalam satu dekade berikutnya menyerukan suatu pendekatan empiris yang sistematis termasuk perluasan skema-skema yang bersifat klasifikasi, konseptualisasi pada beragam tingkat abstraksi, penyusunan hipotesis dan pengujian hipotesis melalui data empiris. Laporan-laporan ini menjadi basis pendekatan behavioral dalam studi politik yang mendampingi kebanyakan riset bidang perbandingan politik yang berkembang pesat selama tahun 1950-an dan 1960-an. 6 Ibid, Hal. 78 7 Ibid.

(18)

Sudawirrahmi : Penyelenggaraan Pemilu Di Indonesia Studi Kasus Perbandingan Undang-Undang NO. 12 Tahun 2003 Dengan Undang-Undang NO. 10 Tahun 2008, 2009.

“kebenaran” diturunkan secara deduktif. Bayang-bayang kenyataan empiris menggerogoti teori murni model-model politik formal tertentu, dan kelompok behavioralis biasanya mencari beberapa campuran pengalaman dan teori, sambil berupaya memadukan studi politik dengan kecermatan disiplin ilmiah yang menjadi model dari metode-metode ilmu alam8

1. Keteraturan atau keragaman perilaku politik, yang dapat diungkapkan dalam generalisasi atau teori.

.

Dalam upaya untuk membedakan antara penelaahan model-model behavioral dan tradisional, telah diidentifikasi adanya doktrin utama “kredo behavioral”. Doktrin-doktrin tersebut adalah:

2. Verifikasi atau pengujian validitas generalisasi atau teori tersebut. 3. Teknik-teknik pencarian atau interpretasi data.

4. Kuantifikasi dan pengukuran dalam rekaman data.

5. Nilai-nilai yang membedakan antara dalil-dalil yang berhubungan dengan evaluasi etis yang berkaitan dengan penjelasan empiris

6. Sistematisasi riset

7. Ilmu murni atau pencarian pemahaman dan penjelasan perilaku sebelum menggunakan pengetahuan sebagai solusi permasalahan sosial.

8. Integrasi riset politik dengan riset-riset ilmu sosial lainnya9.

8

Ibid, Hal. 80.

9

(19)

Sudawirrahmi : Penyelenggaraan Pemilu Di Indonesia Studi Kasus Perbandingan Undang-Undang NO. 12 Tahun 2003 Dengan Undang-Undang NO. 10 Tahun 2008, 2009.

c. Pendekatan Pasca Behavioral

Pendekatan ini berorientasi ke masa depan menuju “relevansi” dan “tindakan”. Kredo pasca behavioral terdiri dari sejumlah doktrin, yaitu: 1. Substansi mendahului teknik, sehingga permasalahan sosial yang

mendesak menjadi lebih penting daripada peralatan investigasi.

2. Behavioralisme sendiri secara ideologi bersifat konservatif dan terbatas pada abstraksi, bukannya kenyataan saat-saat krisis.

3. Ilmu tidak dapat bersifat netral ketika dilakukan evaluasi. Fakta tidak dapat dipisahkan dari nilai, dan alasan-alasan nilai harus dikaitkan dengan pengetahuan.

4. Kaum intelektual harus mengemban tanggung jawab masyarakat mereka, mempertahankan nilai-nilai kemanusiaan dalam peradaban, dan tidak semata-mata menjadi sekelompok teknisi yang terisolasi dan terlindungi dari isu-isu dan permasalahan yang mengcopy pekerjaan mereka.

5. Para intelektual harus menerapkan pengetahuan dan terlibat dalam pembentukan ulang masyarakat.

6. Para intelektual harus memasuki kancah perjuangan mutakhir dan berpartisipasi dalam politisasi institusi-institusi profesi dan akademis10

Beberapa definisi tentang perbandingan seperti yang diuraikan di atas maka dapat disimpulkan bahwa perbandingan adalah kegiatan yang .

10

(20)

Sudawirrahmi : Penyelenggaraan Pemilu Di Indonesia Studi Kasus Perbandingan Undang-Undang NO. 12 Tahun 2003 Dengan Undang-Undang NO. 10 Tahun 2008, 2009.

bersifat mengidentifikasi persamaan/perbedaan antara dua objek atau lebih.

Definisi sederhana dari perbandingan adalah suatu kegiatan untuk mengadakan identifikasi persamaan atau perbedaan antara dua gejala tertentu atau lebih. Agar proses perbandingan dalam penelitian ini bersifat sistematis, maka penulis merujuk pada konsepsi dari Samuel Beer, Adam Ulam serta Roy Macridis yang merumuskan tahapan-tahapan telaah komparatif atau tahapan-tahapan perbandingan, tahapan-tahapan deskriptif, klasifikasi, penjelasan serta konfirmasinya meliputi, pertama, tahapan pengumpulan dan pemaparan deskripsi fakta yang dilakukan berdasarkan skema atau tata cara penggolongan (klasifikasi) tertentu. Tahapan kedua yaitu, berbagai kesamaan dan perbedaan dikenali dan dijelaskan. Tahapan ketiga yaitu, hipotesa-hipotesa sementara tentang saling keterkaitan dalam proses politiknya diformulasikan. Tahapan keempat yaitu, hipotesa-hipotesa tersebut diverifikasi (diuji dan diperiksa melalui observasi empiris atau pengamatan lapangan secara cermat). Sedangkan tahapan kelima ialah temuan-temuan yang didapat dipertanggung jawabkan harus ditetapkan11

11

Ibid. Hal. 21.

(21)

Sudawirrahmi : Penyelenggaraan Pemilu Di Indonesia Studi Kasus Perbandingan Undang-Undang NO. 12 Tahun 2003 Dengan Undang-Undang NO. 10 Tahun 2008, 2009.

I.5.2. Pemilihan Umum

I.5.2.1 Pengertian Pemilihan Umum

Di dalam studi politik, pemilihan umum dapat dikatakan sebagai sebuah aktivitas politik dimana pemilihan umum merupakan lembaga sekaligus juga praktis politik yang memungkinkan terbentuknya sebuah pemerintahan perwakilan.12 Seperti yang telah dituliskan di atas bahwa di dalam negara demokrasi, maka pemilihan umum merupakan salah satu unsur yang sangat vital, karena salah satu parameter mengukur demokratis tidaknya suatu negara adalah dari bagaimana perjalanan pemilihan umum yang dilaksanakan oleh negara tersebut. Demokrasi adalah suatu bentuk pemerintahan oleh rakyat.13

Implementasi dari pemerintahan oleh rakyat tersebut adalah dengan memilih wakil rakyat atau pemimpin nasional melalui mekanisme yang dinamakan dengan pemilihan umum. Jadi pemilihan umum adalah satu cara untuk memilih wakil rakyat.14

Sebagai suatu bentuk implementasi dari demokrasi, pemilihan umum selanjutnya berfungsi sebagai wadah yang menyaring calon-calon wakil rakyat ataupun pemimpin negara yang memang benar-benar memiliki kapasitas dan kapabilitas untuk dapat mengatasnamakan rakyat. Selain daripada sebagai suatu wadah yang menyaring wakil rakyat ataupun pemimpin nasional, pemilihan umum juga terkait dengan prinsip negara hukum (Rechtstaat), karena melalui pemilihan umum rakyat dapat memilih wakil-wakilnya yang berhak menciptakan produk hukum dan melakukan

12

Syamsuddin Haris, Menggugat Pemilihan Umum Orde Baru, Sebuah Bunga Rampai. Yayasan Obor Indonesia dan PPW-LIPI, Jakarta. 1998. Hal. 7.

13

G. Sorensen, Demokrasi dan Demokratisasi, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2003. Hal. 1.

14

Mashudi, Pengertian-Pengertian Mendasar Tentang Kedudukan Hukum Pemilihan Umum di

(22)

Sudawirrahmi : Penyelenggaraan Pemilu Di Indonesia Studi Kasus Perbandingan Undang-Undang NO. 12 Tahun 2003 Dengan Undang-Undang NO. 10 Tahun 2008, 2009.

pengawasan atau pelaksanaan kehendak-kehendak rakyat yang digariskan oleh wakil-wakil rakyat tersebut. Dengan adanya pemilihan umum, maka hak asasi rakyat dapat disalurkan, demikian juga halnya dengan hak untuk sama di depan hukum dan pemerintahan.15

Pemilihan umum ternyata telah menjadi suatu jembatan dalam menentukan bagaimana pemerintahan dapat dibentuk secara demokratis. Rakyat menjadi penentu dalam memilih pemimpin maupun wakilnya yang kemudian akan mengarahkan perjalanan bangsa. Pemilihan umum menjadi seperti transmission of belt, sehingga kekuasaan yang berasal dari rakyat dapat berubah menjadi kekuasaan negara yang kemudian menjelma dalam bentuk wewenang-wewenang pemerintah untuk memerintah dan mengatur rakyat. Dalam sistem politik, pemilihan umum bermakna sebagai saran penghubung antara infrastruktur politik dengan suprastruktur politik, sehingga memungkinkan terciptanya pemerintahan dari oleh dan untuk rakyat.16

1. Sistem Perwakilan Distrik/ single member constituencies

I.5.2.2 Sistem Pemilihan Umum.

Pada hakekatnya pemilu merupakan cara dan sarana yang tersedia bagi rakyat untuk menentukan wakil-wakilnya yang akan duduk dalam Badan-Badan Perwakilan Rakyat guna menjalankan kedaulatan rakyat, maka dengan sendirinya terdapat berbagai sistem pemilihan umum. Dalam ilmu politik dikenal bermacam-macam sistem pemilihan umum dengan berbagai variasinya, akan tetapi umumnya berkisar pada dua prinsip pokok yaitu:

15

M. Mahfud, Didalam Buku Hukum dan Pilar-Pilar Demokrasi, Gama Media, Yogyakarta, 1999. Hal. 221-222.

16

(23)

Sudawirrahmi : Penyelenggaraan Pemilu Di Indonesia Studi Kasus Perbandingan Undang-Undang NO. 12 Tahun 2003 Dengan Undang-Undang NO. 10 Tahun 2008, 2009.

2. Sistem Perwakilan Proporsional.

a. Sistem Perwakilan Distrik

Karakter utama dari sistem perwakilan distrik dimana wilayah negara dibagi dalam distrik-distrik pemilihan/daerah-daerah pemilihan yang jumlahnya sama dengan jumlah kursi yang diperebutkan di badan perwakilan rakyat yang dikehendaki.

Misalnya anggota DPR ditentukan 500 orang maka wilayah negara dibagi dalam 500 distrik pemilihan/constituencies, sehingga setiap distrik pemilihan akan diwakili satu orang wakil, yang mengumpulkan suara mayoritas di distriknya, tidak perlu mayoritas mutlak, cukup mayoritas relatif. Pemilihan dilakukan sekali sejalan, karena suara-suara yang tidak terpilih dari suatu distrik pemilihan lain tidak dapat digabungkan dengan suara-suara yang tidak terpilih menjadi hilang.

Ciri pokok sistem pemilihan distrik yang membedakan dengan sistem pemilihan proporsional adalah bahwa yang menjadi fokus pemilihan bukanlah organisasi politik/ tanda gambar partai, melainkan individu yang mewakili atau dicalonkan oleh parpol di suatu distrik. Orang yang dicalonkan biasanya orang distrik tersebut atau orang dari distrik lain, tetapi yang pasti orang tersebut dikenal secara baik oleh warga distrik yang bersangkutan. Dengan demikian hubungan antara para pemilih dengan calon sangat akrab/dekat, sebab logikanya para pemilih tentu akan memilih calon yang paling dikenal reputasinya dan kredibilitasnya. Karena calon yang dipilih biasanya warga distrik atau pernah cukup lama tinggal di distrik tersebut, maka ia akan dapat lebih mengetahui dan

(24)

Sudawirrahmi : Penyelenggaraan Pemilu Di Indonesia Studi Kasus Perbandingan Undang-Undang NO. 12 Tahun 2003 Dengan Undang-Undang NO. 10 Tahun 2008, 2009.

akan memperjuangkan dengan sungguh-sungguh kepentingan, kebutuhan dan aspirasi dari distrik yang diwakilinya.

Kebaikan yang lain karena dalam sistem distrik tidak ada penggabungan suara antar distrik pemilihan, maka sistem ini mempunyai kecenderungan untuk terjadinya penyederhanaan kepartaian. Hal ini dimungkinkan karena bagi partai politik yang kalah dalam suatu distrik akan memperhitungkan kekuatannya pada pemilu yang akan datang. Apabila jumlah suara dengan partai calon y6ang terpilih sangat jauh, maka partai politik tersebut terpaksa mencari penggabungan atau berkoalisi dengan partai lain yang relatif memiliki persamaan ideologi atau program, guna meraih kemenangan dalam distrik yang bersangkutan. Walaupun demikian, beberapa ilmuwan politik menyangsikan kecenderungan itu, karena banyaknya indikator yang menentukan penggabungan itu baik faktor UU, kepribadian partai, sosio budaya, serta kondisi dan kepentingan sosial, ekonomi, keagamaan maupun profesi.

Disamping kebaikan-kebaikan diatas, sistem distrik mengandung keburukan antara lain, wakil-wakil yang terpilih memungkinkan hanya memperjuangkan aspirasi distriknya yang diwakilinya. Keburukan lain manakala kontestan pemilu cukup banyak, suara akan terpecah kedalam banyak partai politik, akibatnya kalau dihitung yang dinamakan suara mayoritas hakekatnya minoritas dari seluruh jumlah yang masuk. Disamping itu karena satu distrik satu wakil dan perhitungan suara secara mayoritas dengan tidak memungkinkan parpol yang besar tidak akan menguasai secara mayoritas pada Badan Perwakilan rakyat.

Sistem distrik ini dapat berjalan dengan baik pada kondisi masyarakat yang telah mencapai tahap kedewasaan tertentu. Nazarudin menentukan dua tolak

(25)

Sudawirrahmi : Penyelenggaraan Pemilu Di Indonesia Studi Kasus Perbandingan Undang-Undang NO. 12 Tahun 2003 Dengan Undang-Undang NO. 10 Tahun 2008, 2009.

ukur tentang tingkat kedewasaan masyarakat; pertama, tingkat rasionalitas menentukan kemampuan rakyat didalam menjalankan dan menjatuhkan pilihan terhadap berbagai calon yang saling bersaing di distrik mereka. Dengan tingkat rasionalitas yang tinggi, masyarakat dapat memilih diantara program-program partai yang ditawarkan oleh masing-masing calon. Kedua, ditentukan oleh tingkat kesadaran politik yang tinggi, dengan tingkat kesadaran politik yang tinggi akan dapat memilih ikatan-ikatan ideologis, melainkan karena program yang ditawarkan disamping kemampuan menilai perilaku partai yang diwakili oleh seorang calon.

b. Sistem Perwakilan Proporsional.

Dalam sistem perwakilan proporsional tidak ada pembagian wilayah pemilihan, karena pemilihan bersifat nasional. Pembagian kursi di Badan Perwakilan Rakyat didasarkan pada jumlah presentase suara yang diperoleh masing-masing parpol.

Dalam sistem perwakilan proporsional dikenal dengan dua sistem yakni,

hare system dan list system. Dalam hare system atau single transferable vote

pemilih diberi kesempatan untuk memilih pilihan utama, kedua dan seterusnya dari distrik pemilihan yang bersangkutan. Jumlah imbangan suara yang diperlukan untuk pemilih ditentukan dan segera jumlah keutamaan pertama dipenuhi, dan apabila ada sisa suara, maka kelebihan ini dapat dipindahkan kepada calon berikutnya dan seterusnya. Penggabungan atau pengalihan suara ini memungkinkan parpol yang kecil mendapat kursi dibadan legislatif, yang semula mungkin tidak dapat imbangan suara yang ditentukan. Konsekuensi dari sistem ini

(26)

Sudawirrahmi : Penyelenggaraan Pemilu Di Indonesia Studi Kasus Perbandingan Undang-Undang NO. 12 Tahun 2003 Dengan Undang-Undang NO. 10 Tahun 2008, 2009.

perhitungan suara agak berbelit-belit dan butuh kecermatan. Berbeda dengan lity

system pemilih diminta memilih diantara daftar calon yang berisi sebanyak

mungkin nama-nama wakil rakyat yang akan dipilih dalam pemilu

Kebaikan dari sistem ini pertama, tidak ada suara yang terbuang karena perhitungan yang dilakukan secara nasional. Kedua sering dianggap lebih demokratis dibanding sistem distrik, karena partai minoritas pasti ada wakilnya dibadan legislatif. Ketiga, karena semua parpol memperoleh kursi dibadan legislatif yang tidak ditentukan secara distrik, maka sistem tersebut akan mewujudkan badan legislatif yang bersifat nasional.

Disamping kebaikan diatas terdapat pula keburukan-keburukan yakni;

pertama, perhitungan suara berbelit-belit karena digabungkan secara nasional

maka dapat dipastikan akan membutuhkan biaya yang sangat besar. Kedua; karena yang dipilih bukan orang tapi tanda gambar parpol, akibatnya hubungan antara pemilih dengan yang dipilih tidak erat, boleh jadi aspirasi, kebutuhan dan kepentingan rakyat pemilih bukan urusannya tapi urusan parpol. Ketiga; kekuasaan parpol sangat besar, karena parpollah yang menentukan siap-siapa yang akan diajukan sebagai calon, akibatnya wakil-wakil yang duduk dilembaga legislatif bukan lagi wakil rakyat, tetapi tak lebih wakil parpol. Keeempat; sistem ini memiliki kecendrungan partai akan bertambah, hal ini mungkin karena partai minoritas pasti terwakili karena adanya penggabungan suara, disamping karena ambisi seseorang ingin duduk sebagai pimpinan parpol.

Dr. Pipit R Kartawijaya, ketua KIPP eropa dan LSM Watch Indonesia dalam tulisan kontroversi sistem proporsional daftar tertutup, menyebut tiga sistem pemilihan didalam sistem pemilihan proporsional yaitu terdiri dari :

(27)

Sudawirrahmi : Penyelenggaraan Pemilu Di Indonesia Studi Kasus Perbandingan Undang-Undang NO. 12 Tahun 2003 Dengan Undang-Undang NO. 10 Tahun 2008, 2009.

1. sistem proporsional daftar tertutup 2. sistem proporsional daftar terbuka dan 3. sistem proporsional daftar bebas.

b.1. Sistem Proporsional Daftar Tertutup.

Dalam sistem ini, pemilih datang ke bilik suara dan kemudian memilih tanda gambar partai yang dianggap bisa memperjuangkan kepentingan pemilih. Partisipasi pemilih dalam menentukan wakilnya sangat rendah. Pemilih sama sekali tak pernah mengetahui sosok calon yang akan dipilihnya.

b.2 Sistem Proporsional Daftar Terbuka

Dalam sistem proporsional, lewat daftar terbuka pemilih yang memiliki satu suara dapat memilih satu nama dari sederat nama wakil rakyat yang ditawarkan parpol itu. Disebut pemilih bukan memilih orang dan bukan gambar partai. Disebut terbuka sebab sang pemilih bisa memilih salah satu caleg yang dijajakan secara transparan. Setiap pemilih akan memilih nama wakilnya di legislatif pusat, Provinsi, Kabupaten/Kota dan Dewan Perwakilan Daerah (DPD). Dalam sistem ini, partai politik tak lagi sepenuhnya berkuasa. Kertas suara yang akan dipilih dalam pemilu tidak hanya berisi nama dan gambar partai tetapi juga berisi nama calon anggota legislatif. Dengan sistem ini, seorang calon pada urutan nomor besar, bisa saja terpilih mengalahkan calon pada nomor urutan kecil. Ini akan terjadi jika pemilih tak hanya memilih tanda gambar partai, namun juga memilih nama caleg favoritnya, yang mungkin saja berada pada nomor-nomor besar.

(28)

Sudawirrahmi : Penyelenggaraan Pemilu Di Indonesia Studi Kasus Perbandingan Undang-Undang NO. 12 Tahun 2003 Dengan Undang-Undang NO. 10 Tahun 2008, 2009.

b.3. Sistem Proporsional Daftar Bebas.

Sistem proporsional dengan daftar bebas, sang pemilih memiliki banyak suara, sehingga ia bisa royal memilih beberapa nama caleg. Bahkan lebih dari itu sang pemilih boleh memilih calon legislatif berbeda dari satu partai politik peserta pemilu.

Dari ketiga sistem ini Indonesia menggunakan/ menganut sistem proporsional dengan stelsel daftar sejak pemilu 1971 sampai pemilu 1999. Sedangkan untuk pemilihan umum tahun 2004 Indonesia menggunakan sistem proporsional dengan daftar calon terbuka (pasal 6 ayat 1 UU No 12 tahun 2003). Kemudian pemilu untuk memilih anggota DPD dilaksanakan dengan sistem distrik berwakil banyak (pasal 6 ayat 2 UU No 12 tahun 2003).

I.5.2.3 Fungsi Pemilihan Umum.

Sebagai sebuah aktivitas politik, pemilihan umum pastinya memiliki fungsi-fungsi yang saling berkaitan atau interdependensi. Adapun fungsi-fungsi dari pemilihan umum itu sendiri adalah:

a. Sebagai Sarana Legitimasi Politik

Fungsi legitimasi ini terutama menjadi kebutuhan pemerintah dan sistem politik. Melalui pemilihan umum, keabsahan pemerintahan yang berkuasa dapat ditegakkan, begitu pula program dan kebijakan yang dihasilkannya. Dengan begitu, pemerintah berdasarkan hukum yang disepakati bersama tak hanya memiliki otoritas untuk berkuasa, melainkan juga memberikan sanksi berupa hukuman dan ganjaran bagi siapapun yang melanggarnya. Menurut Ginsberg,

(29)

Sudawirrahmi : Penyelenggaraan Pemilu Di Indonesia Studi Kasus Perbandingan Undang-Undang NO. 12 Tahun 2003 Dengan Undang-Undang NO. 10 Tahun 2008, 2009.

fungsi legitimasi politik ini merupakan konsekuensi logis dari pemilihan umum. Paling tidak ada tiga alasan kenapa pemilihan umum dapat menjadi suatu legitimasi politik bagi pemerintahan yang berkuasa. Pertama, melalui pemilihan umum, pemerintah sebenarnya bisa meyakinkan atau setidaknya memperbaharui kesepakatan-kesepakatan politik dengan rakyat. Kedua, melalui pemilihan umum pemerintahan dapat pula mempengaruhi perilaku rakyat atau warga negara. Dan ketiga, dalam dunia modern para penguasa dituntut untuk mengadakan kesepakatan dari rakyat ketimbang pemaksaan (coercion) untuk mempertahankan legitimasinya. Gramsci (1971) menunjukkan bahwa kesepakatan (Consent) yang diperoleh melalui hegemoni oleh penguasa ternyata lebih efektif dan bertahan lama sebagai sarana kontrol dan pelestarian legitimasi dari otoritasnya ketimbang penggunaan kekerasan dan dominasi.

b. Fungsi Perwakilan Politik.

Fungsi ini terutama menjadi kebutuhan rakyat, baik untuk mengevaluasi maupun mengontrol perilaku pemerintahan dan program serta kebijakan yang dihasilkannya. Pemilihan umum dalam kaitan ini merupakan mekanisme demokratis bagi rakyat untuk menentukan wakil-wakil yang dapat dipercaya yang akan duduk dalam pemerintahan.

c. Pemilihan Umum Sebagai Mekanisme Bagi Pergantian atau Sirkulasi Elit Penguasa.

Keterkaitan pemilihan umum dengan sirkulasi elit didasarkan pada asumsi bahwa elit berasal dari dan bertugas mewakili masyarakat luas atau rakyat. Secara teoritis, hubungan pemilihan umum dengan sirkulasi elit dapat dijelaskan dengan melihat proses mobilitas kaum elit atau non elit yang menggunakan jalur

(30)

Sudawirrahmi : Penyelenggaraan Pemilu Di Indonesia Studi Kasus Perbandingan Undang-Undang NO. 12 Tahun 2003 Dengan Undang-Undang NO. 10 Tahun 2008, 2009.

institusi politik, dan organisasi kemasyarakatan untuk menjadi anggota elit tingkat nasional, yakni sebagai anggota kabinet dan jabatan yang setara. Dalam kaitan itu, pemilihan umum merupakan saran dan jalur langsung untuk mencapai posisi elit penguasa. Dengan begitu maka melalui pemilihan umum diharapkan bisa berlangsung pergantian atau sirkulasi elit penguasa secara kompetitif dan demokratis.

d. Sebagai Sarana Pendidikan Politik Bagi Rakyat

Pemilihan umum merupakan salah satu bentuk pendidikan politik bagi rakyat yang bersifat langsung, terbuka dan massal, yang diharapkan bisa mencerdaskan pemahaman politik dan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang demokrasi17

I.6. Definisi Konsep

.

Konsep adalah suatu istilah dan definisi yang digunakan untuk menggambarkan secara abstrak kejadian, keadaan, kelompok ataupun individu yang menjadi pusat perhatian ilmu sosial18

Perbandingan adalah kegiatan pengidentifikasian persamaan/perbedaan antara dua objek atau lebih. Perbandingan yang dimaksudkan di sini adalah kegiatan pengidentifikasian persamaan/perbedaan antara undang-undang No.

.

Berikut beberapa konsep beserta definisinya yang digunakan didalam penelitian ini yang berfungsi untuk memberikan batasan yang tepat terkait dengan fenomena yang akan diteliti:

I.6. 1. Perbandingan

17

Syamsuddin Haris. loc.cit.

18

(31)

Sudawirrahmi : Penyelenggaraan Pemilu Di Indonesia Studi Kasus Perbandingan Undang-Undang NO. 12 Tahun 2003 Dengan Undang-Undang NO. 10 Tahun 2008, 2009.

10 tahun 2003 dengan undang-undang 12 tahun 2008 dalam hal penetapan calon terpilih.

I. 6. 2. Pemilihan Umum

Pemilihan umum adalah saran pelaksanaan kedaulatan rakyat untuk memilih anggota Dewan Perwakilan Rakyat atau Parlemen, Presiden dan Wakil Presiden secara berkala berdasarkan peraturan perundang-undangan.

a. Pemilihan Umum Indonesia Tahun 2004

Pemilihan umum Indonesia tahun 2004 adalah pemilihan umum yang dilaksanakan pada tahun 2004 untuk memilih presiden dan wakil presiden serta memilih Dewan Perwakilan Rakyat.

b. Pemilihan Umum Indonesia Tahun 2009

Pemilihan umum Indonesia tahun 2009 adalah pemilihan umum yang dilaksanakan pada tahun 2009 untuk memilih presiden dan wakil presiden serta memilih Dewan Perwakilan Rakyat.

I.7. Metodologi Penelitian I.7.1. Bentuk Penelitian

Penelitian yang akan dilakukan ini menerapkan metode penelitian Komparatif yang bersifat membandingkan variabel yang lebih dari satu atau dalam waktu yang berbeda. Pembandingan yang dilakukan tersebut kemudian diikuti dengan pemberian interpretasi sehingga dapat ditarik suatu kesimpulan dari pembandingan tersebut.

(32)

Sudawirrahmi : Penyelenggaraan Pemilu Di Indonesia Studi Kasus Perbandingan Undang-Undang NO. 12 Tahun 2003 Dengan Undang-Undang NO. 10 Tahun 2008, 2009.

I.7.2. Teknik Pengumpulan Data

Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik pengumpulan data kepustakaan, dengan mengumpulkan informasi sebanyak mungkin yang berkaitan dengan judul dan permasalahan penelitian dari berbagai literatur, seperti buku, situs internet, jurnal, laporan, artikel dan bentuk literatur lainnya yang terkait.

I.7.3. Teknik Analisis Data

Adapun teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis data kualitatif, dimana teknik ini melakukan analisa atas masalah yang ada sehingga diperoleh gambaran yang jelas tentang objek yang akan diteliti dan kemudian dilakukan penarikan kesimpulan.

I.7.4. Sistematika Penulisan

BAB I: Pendahuluan

Bab ini berisikan latar belakang masalah, perumusan masalah, pembatasan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, landasan teori, metodologi penelitian dan sistematika penulisan.

BAB II: Pelaksanaan Pemilu di Indonesia

Bab ini memberikan penjelasan mengenai pelaksanaan pemilu di Indonesia sejak pemilu tahun 1955 sampai dengan pemilu tahun 2009.

(33)

Sudawirrahmi : Penyelenggaraan Pemilu Di Indonesia Studi Kasus Perbandingan Undang-Undang NO. 12 Tahun 2003 Dengan Undang-Undang NO. 10 Tahun 2008, 2009.

BAB III: Pembahasan

Bab ini menjelaskan tentang perbedaan-perbedaan antara undang-undang No.12 tahun 2003 dengan Undang-undang-undang No.10 tahun 2008 tentang penentuan calon terpilih serta implikasinya kepada masyarakat dan pengaruhnya terhadap proses demokrasi di Indonesia.

BAB IV: Kesimpulan dan Saran

Bab ini berisikan kesimpulan dari hasil penelitian dan saran-saran yang berhubungan dengan penelitian.

(34)

Sudawirrahmi : Penyelenggaraan Pemilu Di Indonesia Studi Kasus Perbandingan Undang-Undang NO. 12 Tahun 2003 Dengan Undang-Undang NO. 10 Tahun 2008, 2009.

BAB II

SEJARAH PEMILU DI INDONESIA II.1. Pemilu 1955

Ini merupakan pemilu yang pertama dalam sejarah bangsa Indonesia. Waktu itu Republik Indonesia berusia 10 tahun. Kalau dikatakan pemilu merupakan syarat minimal bagi adanya demokrasi, apakah berarti selama 10 tahun itu Indonesia benar-benar tidak demokratis? Tidak mudah juga menjawab pertanyaan tersebut. Yang jelas, sebetulnya sekitar tiga bulan setelah kemerdekaan diproklamasikan oleh Soekarno dan Hatta pada 17 Agustus 1945, pemerintah waktu itu sudah menyatakan keinginannya untuk bisa menyelenggarakan pemilu pada awal tahun 1946. Hal itu dicantumkan dalam Maklumat X, atau Maklumat Wakil Presiden Mohammad Hatta tanggal 3 Nopember 1945, yang berisi anjuran tentang pembentukan par-tai-partai politik. Maklumat tersebut menyebutkan, pemilu untuk memilih anggota DPR dan MPR akan diselenggarakan bulan Januari 1946. Kalau kemudian ternyata pemilu pertama tersebut baru terselenggara hampir sepuluh tahun setelah kemudian tentu bukan tanpa sebab.

Tetapi, berbeda dengan tujuan yang dimaksudkan oleh Maklumat X, pemilu 1955 dilakukan dua kali. Yang pertama, pada 29 September 1955 untuk memilih anggota-anggota DPR. Yang kedua, 15 Desember 1955 untuk memilih anggota-anggota Dewan Konstituante. Dalam Maklumat X hanya disebutkan bahwa pemilu yang akan diadakan Januari 1946 adalah untuk memilih anggota DPR dan MPR, tidak ada Konstituante.

(35)

Sudawirrahmi : Penyelenggaraan Pemilu Di Indonesia Studi Kasus Perbandingan Undang-Undang NO. 12 Tahun 2003 Dengan Undang-Undang NO. 10 Tahun 2008, 2009.

Keterlambatan dan penyimpangan tersebut bukan tanpa sebab pula. Ada kendala yang bersumber dari dalam negeri dan ada pula yang berasal dari faktor luar negeri. Sumber penyebab dari dalam antara lain ketidaksiapan pemerintah menyelenggarakan pemilu, baik karena belum tersedianya perangkat perundang-undangan untuk mengatur penyelenggaraan pemilu maupun akibat rendahnya stabilitas keamanan negara. Dan yang tidak kalah pentingnya, penyebab dari dalam itu adalah sikap pemerintah yang enggan menyelenggarakan perkisaran (sirkulasi) kekuasaan secara teratur dan kompetitif. Penyebab dari luar antara lain serbuan kekuatan asing yang mengharuskan negara ini terlibat peperangan.

Tidak terlaksananya pemilu pertama pada bulan Januari 1946 seperti yang diamanatkan oleh Maklumat 3 Nopember 1945, paling tidak disebabkan 2 (dua) hal:

1. Belum siapnya pemerintah baru, termasuk dalam penyusunan perangkat UU Pemilu;

2. Belum stabilnya kondisi keamanan negara akibat konflik internal antar kekuatan politik yang ada pada waktu itu, apalagi pada saat yang sama gangguan dari luar juga masih mengancam. Dengan kata lain para pemimpin lebih disibukkan oleh urusan konsolidasi.

Namun, tidaklah berarti bahwa selama masa konsolidasi kekuatan bangsa dan perjuangan mengusir penjajah itu, pemerintah kemudian tidak berniat untuk menyelenggarakan pemilu. Ada indikasi kuat bahwa pemerintah punya keinginan politik untuk menyelenggarakan pemilu. Misalnya adalah dibentuknya UU No. UU No 27 tahun 1948 tentang Pemilu, yang kemudian diubah dengan UU No. 12 tahun 1949 tentang Pemilu. Di dalam UU No 12/1949 diamanatkan bahwa

(36)

Sudawirrahmi : Penyelenggaraan Pemilu Di Indonesia Studi Kasus Perbandingan Undang-Undang NO. 12 Tahun 2003 Dengan Undang-Undang NO. 10 Tahun 2008, 2009.

pemilihan umum yang akan dilakukan adalah bertingkat (tidak langsung). Sifat pemilihan tidak langsung ini didasarkan pada alasan bahwa mayoritas warganegara Indonesia pada waktu itu masih buta huruf, sehingga kalau pemilihannya langsung dikhawatirkan akan banyak terjadi distorsi.

Kemudian pada paruh kedua tahun 1950, ketika Mohammad Natsir dari Masyumi menjadi Perdana Menteri, pemerintah memutuskan untuk menjadikan pemilu sebagai program kabinetnya. Sejak itu pembahasan UU Pemilu mulai dilakukan lagi, yang dilakukan oleh Panitia Sahardjo dari Kantor Panitia Pemilihan Pusat sebelum kemudian dilanjutkan ke parlemen. Pada waktu itu Indonesia kembali menjadi negara kesatuan, setelah sejak 1949 menjadi negara serikat dengan nama Republik Indonesia Serikat (RIS).

Setelah Kabinet Natsir jatuh 6 bulan kemudian, pembahasan RUU Pemilu dilanjutkan oleh pemerintahan Sukiman Wirjosandjojo, juga dari Masyumi. Pemerintah ketika itu berupaya menyelenggarakan pemilu karena pasal 57 UUDS 1950 menyatakan bahwa anggota DPR dipilih oleh rakyat melalui pemilihan umum.

Tetapi pemerintah Sukiman juga tidak berhasil menuntaskan pembahasan undang-undang pemilu tersebut. Selanjutnya UU ini baru selesai dibahas oleh parlemen pada masa pemerintahan Wilopo dari PNI pada tahun 1953. Maka lahirlah UU No. 7 Tahun 1953 tentang Pemilu. UU inilah yang menjadi payung hukum Pemilu 1955 yang diselenggarakan secara langsung, umum, bebas dan rahasia. Dengan demikian UU No. 27 Tahun 1948 tentang Pemilu yang diubah dengan UU No. 12 tahun 1949 yang mengadopsi pemilihan bertingkat (tidak langsung) bagi anggota DPR tidak berlaku lagi.

(37)

Sudawirrahmi : Penyelenggaraan Pemilu Di Indonesia Studi Kasus Perbandingan Undang-Undang NO. 12 Tahun 2003 Dengan Undang-Undang NO. 10 Tahun 2008, 2009.

Patut dicatat dan dibanggakan bahwa pemilu yang pertama kali tersebut berhasil diselenggarakan dengan aman, lancar, jujur dan adil serta sangat demokratis. Pemilu 1955 bahkan mendapat pujian dari berbagai pihak, termasuk dari negara-negara asing. Pemilu ini diikuti oleh lebih 30-an partai politik dan lebih dari seratus daftar kumpulan dan calon perorangan.

Yang menarik dari Pemilu 1955 adalah tingginya kesadaran berkompetisi secara sehat. Misalnya, meski yang menjadi calon anggota DPR adalah perdana menteri dan menteri yang sedang memerintah, mereka tidak menggunakan fasilitas negara dan otoritasnya kepada pejabat bawahan untuk menggiring pemilih yang menguntungkan partainya. Karena itu sosok pejabat negara tidak dianggap sebagai pesaing yang menakutkan dan akan memenangkan pemilu dengan segala cara. Karena pemilu kali ini dilakukan untuk dua keperluan, yaitu memilih anggota DPR dan memilih anggota Dewan Konstituante, maka hasilnya pun perlu dipaparkan semuanya.

(38)

Sudawirrahmi : Penyelenggaraan Pemilu Di Indonesia Studi Kasus Perbandingan Undang-Undang NO. 12 Tahun 2003 Dengan Undang-Undang NO. 10 Tahun 2008, 2009.

Tabel 1 Hasil pemilu 1955 No Partai Jumlah Suara % Jumlah Kursi

1. Partai Nasional Indonesia (PNI) 8.434.653 22,32 57

2. Masyumi 7.903.886 20,92 57

3. Nahdlatul Ulama (NU) 6.955.141 18,41 45

4. Partai Komunis Indonesia (PKI) 6.179.914 16,36 39

5. Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII) 1.091.160 2,89 8

6. Partai Kristen Indonesia (Parkindo) 1.003.326 2,66 8

7. Partai Katolik 770.740 2,04 6

8. Partai Sosialis Indonesia (PSI) 753.191 1,99 5

9. IPKI 541.306 1,43 4

10. Pergerakan Tarbiyah Islamiyah (Perti) 483.014 1,28 4

11. Partai Rakyat Nasional (PRN) 242.125 0,64 2

12. Partai Buruh 224.167 0,59 2

13. Gerakan Pembela Panca Sila (GPPS) 219.985 0,58 2

14. Partai Rakyat Indonesia (PRI) 206.161 0,55 2

15. Persatuan Pegawai Polisi RI (P3RI) 200.419 0,53 2

16. Murba 199.588 0,53 2

17. Baperki 178.887 0,47 1

18. PIR Wongsonegoro 178.481 0,47 1

19. Grinda 154.792 0,41 1

20. Persatuan Rakyat Marhaen Indonesia 149.287 0,40 1

21. Persatuan Daya (PD) 146.054 0,39 1

22. PIR Hazairin 114.644 0,30 1

23. Partai Politik Tarikat Islam (PPTI) 85.131 0,22 1

24. AKUI 81.454 0,21 1

25. Persatuan Rakyat Desa (PRD) 77.919 0,21 1

26. Partai Republik Indonesis Merdeka (PRIM) 72.523 0,19 1

27. Angkatan Comunis Muda (Acoma) 64.514 0,17 1

28. R.Soedjono Prawirisoedarso 53.306 0,14 1

29. Lain-lain 1.022.433 2,71 -

Sumber: http//www.id.wikipedia.org/pemilu_1955

Periode Demokrasi Terpimpin

Sangat disayangkan, kisah sukses Pemilu 1955 akhirnya tidak bisa dilanjutkan dan hanya menjadi catatan emas sejarah. Pemilu pertama itu tidak berlanjut dengan pemilu kedua lima tahun berikutnya, meskipun tahun 1958 Pejabat Presiden Sukarno sudah melantik Panitia Pemilihan Indonesia II.

(39)

Sudawirrahmi : Penyelenggaraan Pemilu Di Indonesia Studi Kasus Perbandingan Undang-Undang NO. 12 Tahun 2003 Dengan Undang-Undang NO. 10 Tahun 2008, 2009.

Yang terjadi kemudian adalah berubahnya format politik dengan keluarnya Dekrit Presiden 5 Juli 1959, sebuah keputusan presiden untuk membubarkan Konstituante dan pernyataan kembali ke UUD 1945 yang diperkuat angan-angan Presiden Soekarno menguburkan partai-partai. Dekrit itu kemudian mengakhiri rezim demokrasi dan mengawali otoriterianisme kekuasaan di Indonesia, yang meminjam istilah Prof. Ismail Sunny -- sebagai kekuasaan negara bukan lagi mengacu kepada democracy by law, tetapi democracy by decree.

Otoriterianisme pemerintahan Presiden Soekarno makin jelas ketika pada 4 Juni 1960 ia membubarkan DPR hasil Pemilu 1955, setelah sebelumnya dewan legislatif itu menolak RAPBN yang diajukan pemerintah. Presiden Soekarno secara sepihak dengan senjata Dekrit 5 Juli 1959 membentuk DPR-Gotong Royong (DPR-GR) dan MPR Sementara (MPRS) yang semua anggotanya diangkat presiden.

Pengangkatan keanggotaan MPR dan DPR, dalam arti tanpa pemilihan, memang tidak bertentangan dengan UUD 1945. Karena UUD 1945 tidak memuat klausul tentang tata cara memilih anggota DPR dan MPR. Tetapi, konsekuensi pengangkatan itu adalah terkooptasi-nya kedua lembaga itu di bawah presiden. Padahal menurut UUD 1945, MPR adalah pemegang kekuasaan tertinggi, sedangkan DPR sejajar dengan presiden.

Sampai Presiden Soekarno diberhentikan oleh MPRS melalui Sidang Istimewa bulan Maret 1967 (Ketetapan XXXIV/MPRS/ 1967) setelah meluasnya krisis politik, ekonomi dan sosial pasca kudeta G 30 S/PKI yang gagal semakin luas, rezim yang kemudian dikenal dengan sebutan Demokrasi Terpimpin itu tidak pernah sekalipun menyelenggarakan pemilu. Malah tahun 1963 MPRS yang

(40)

Sudawirrahmi : Penyelenggaraan Pemilu Di Indonesia Studi Kasus Perbandingan Undang-Undang NO. 12 Tahun 2003 Dengan Undang-Undang NO. 10 Tahun 2008, 2009.

anggotanya diangkat menetapkan Soekarno, orang yang mengangkatnya, sebagai presiden seumur hidup. Ini adalah satu bentuk kekuasaan otoriter yang mengabaikan kemauan rakyat tersalurkan lewat pemilihan berkala.

II.2. Pemilu 1971

Ketika Jenderal Soeharto diangkat oleh MPRS menjadi pejabat Presiden menggantikan Bung Karno dalam Sidang Istimewa MPRS 1967, ia juga tidak secepatnya menyelenggarakan pemilu untuk mencari legitimasi kekuasaan transisi. Malah Ketetapan MPRS XI Tahun 1966 yang mengamanatkan agar Pemilu bisa diselenggarakan dalam tahun 1968, kemudian diubah lagi pada SI MPR 1967, oleh Jenderal Soeharto diubah lagi dengan menetapkan bahwa Pemilu akan diselenggarakan dalam tahun 1971.

Sebagai pejabat presiden Soeharto tetap menggunakan MPRS dan DPR-GR bentukan Bung Karno, hanya saja ia melakukan pembersihan lembaga tertinggi dan tinggi negara tersebut dari sejumlah anggota yang dianggap berbau Orde Lama.

Pada prakteknya Pemilu kedua baru bisa diselenggarakan tanggal 5 Juli 1971, yang berarti setelah 4 tahun Soeharto berada di kursi kepresidenan. Pada waktu itu ketentuan tentang kepartaian (tanpa UU) kurang lebih sama dengan yang diterapkan Presiden Soekarno.

UU yang diadakan adalah UU tentang pemilu dan susunan dan kedudukan MPR, DPR, dan DPRD. Menjelang pemilu 1971, pemerintah bersama DPR GR menyelesaikan UU No. 15 Tahun 1969 tentang Pemilu dan UU No. 16

(41)

Sudawirrahmi : Penyelenggaraan Pemilu Di Indonesia Studi Kasus Perbandingan Undang-Undang NO. 12 Tahun 2003 Dengan Undang-Undang NO. 10 Tahun 2008, 2009.

tentang Susunan dan Kedudukan MPR, DPR dan DPRD. Penyelesaian UU itu sendiri memakan waktu hampir tiga tahun.

Hal yang sangat signifikan yang berbeda dengan Pemilu 1955 adalah bahwa para pejabat negara pada Pemilu 1971 diharuskan bersikap netral. Sedangkan pada Pemilu 1955 pejabat negara, termasuk perdana menteri yang berasal dari partai bisa ikut menjadi calon partai secara formal. Tetapi pada prakteknya pada Pemilu 1971 para pejabat pemerintah berpihak kepada salah satu peserta Pemilu, yaitu Golkar. Jadi sesungguhnya pemerintah pun merekayasa ketentuan-ketentuan yang menguntungkan Golkar seperti menetapkan seluruh pegawai negeri sipil harus menyalurkan aspirasinya kepada salah satu peserta Pemilu itu.

Dalam hubungannya dengan pembagian kursi, cara pembagian yang digunakan dalam Pemilu 1971 berbeda dengan Pemilu 1955. Dalam Pemilu 1971, yang menggunakan UU No. 15 Tahun 1969 sebagai dasar, semua kursi terbagi habis di setiap daerah pemilihan. Cara ini ternyata mampu menjadi mekanisme tidak langsung untuk mengurangi jumlah partai yang meraih kursi dibandingkan penggunaan sistem kombinasi. Tetapi, kelemahannya sistem demikian lebih banyak menyebabkan suara partai terbuang percuma.

Jelasnya, pembagian kursi pada Pemilu 1971 dilakukan dalam tiga tahap, ini dalam hal ada partai yang melakukan stembus accoord. Tetapi di daerah pemilihan yang tidak terdapat partai yang melakukan stembus acccord, pembagian kursi hanya dilakukan dalam dua tahap.

Tahap pembagian kursi pada Pemilu 1971 adalah sebagai berikut. Pertama, suara partai dibagi dengan kiesquotient di daerah pemilihan. Tahap

(42)

Sudawirrahmi : Penyelenggaraan Pemilu Di Indonesia Studi Kasus Perbandingan Undang-Undang NO. 12 Tahun 2003 Dengan Undang-Undang NO. 10 Tahun 2008, 2009.

kedua, apabila ada partai yang melakukan stembus accoord, maka jumlah sisa suara partai-partai yang menggabungkan sisa suara itu dibagi dengan kiesquotient. Pada tahap berikutnya apabila masih ada kursi yang tersisa masing-masing satu kursi diserahkan kepada partai yang meraih sisa suara terbesar, termasuk gabungan sisa suara partai yang melakukan stembus accoord dari perolehan kursi pembagian tahap kedua. Apabila tidak ada partai yang melakukan stembus accoord, maka setelah pembagian pertama, sisa kursi dibagikan langsung kepada partai yang memiliki sisa suara terbesar.

Namun demikian, cara pembagian kursi dalam Pemilu 1971 menyebabkan tidak selarasnya hasil perolehan suara secara nasional dengan perolehan keseluruhan kursi oleh suatu partai. Contoh paling gamblang adalah bias perolehan kursi antara PNI dan Parmusi. PNI yang secara nasional suaranya lebih besar dari Parmusi, akhirnya memperoleh kursi lebih sedikit dibandingkan Parmusi. Untuk lebih jelasnya lihat tabel di bawah ini.

Tabel 2 Hasil Pemilu 1971

No. Partai Jumlah

Suara Persentase

Jumlah Kursi

1. Partai Katolik 603.740 1,10 3

2. Partai Syarikat Islam Indonesia 1.308.237 2,39 10

3. Partai Nahdlatul Ulama 10.213.650 18,68 58

4. Partai Muslimin Indonesia 2.930.746 5,36 24

5. Golongan Karya 34.348.673 62,82 236

(43)

Sudawirrahmi : Penyelenggaraan Pemilu Di Indonesia Studi Kasus Perbandingan Undang-Undang NO. 12 Tahun 2003 Dengan Undang-Undang NO. 10 Tahun 2008, 2009.

7. Partai Musyawarah Rakyat Banyak 48.126 0,08 0

8. Partai Nasional Indonesia 3.793.266 6,93 20

9. Partai Islam PERTI 381.309 0,69 2

10. IPKI 338.403 0,61 0

Jumlah 54.669.509 100 360

Sumber: data pemilu 1971 (LPU); daftar pembagian kursi hasil pemilihan umum anggota DPR RI 1971.

II.3. Pemilu 1977

Pemungutan suara Pemilu 1977 dilakukan 2 Mei 1977. Cara pembagian kursi masih dilakukan seperti dalam Pemilu 1971, yakni mengikuti sistem proporsional di daerah pemilihan. Dari 70.378.750 pemilih, suara yang sah mencapai 63.998.344 suara atau 90,93 persen. Dari suara yang sah itu Golkar meraih 39.750.096 suara atau 62,11 persen. Namun perolehan kursinya menurun menjadi 232 kursi atau kehilangan 4 kursi dibandingkan Pemilu 1971.

Pada Pemilu 1977 suara PPP naik di berbagai daerah, bahkan di DKI Jakarta dan DI Aceh mengalahkan Golkar. Secara nasional PPP berhasil meraih 18.743.491 suara, 99 kursi atau naik 2,17 persen, atau bertambah 5 kursi dibanding gabungan kursi 4 partai Islam dalam Pemilu 1971. Kenaikan suara PPP terjadi di banyak basis-basis eks Masyumi. Ini seiring dengan tampilnya tokoh utama Masyumi mendukung PPP. Tetapi kenaikan suara PPP di basis-basis Masyumi diikuti pula oleh penurunan suara dan kursi di basis-basis NU, sehingga kenaikan suara secara nasional tidak begitu besar.

PPP berhasil menaikkan 17 kursi dari Sumatera, Jakarta, Jawa Barat dan Kalimantan, tetapi kehilangan 12 kursi di Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur dan Sulawesi Selatan. Secara nasional tambahan kursi hanya 5.

(44)

Sudawirrahmi : Penyelenggaraan Pemilu Di Indonesia Studi Kasus Perbandingan Undang-Undang NO. 12 Tahun 2003 Dengan Undang-Undang NO. 10 Tahun 2008, 2009.

PDI juga merosot perolehan kursinya dibanding gabungan kursi partai-partai yang berfusi sebelumnya, yakni hanya memperoleh 29 kursi atau berkurang 1 kursi di banding gabungan suara PNI, Parkindo dan Partai Katolik. Selengkapnya perolehan kursi dan suara tersebut bisa dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 3 Hasil Pemilu 1977

No Partai Perolehan Suara Perolehan Kursi

1 PPP 18.743.491 99

2 Golkar 39.750.096 232

3 PDI 5.504.757 29

Jumlah 63.998.344 360

Sumber: data pemilu 1977 (LPU); daftar pembagian kursi hasil pemilihan umum anggota DPR RI 1977.

II. 4. Pemilu 1982

Pemungutan suara Pemilu 1982 dilangsungkan secara serentak pada tanggal 4 Mei 1982. Pada Pemilu ini perolehan suara dan kursi secara nasional Golkar meningkat, tetapi gagal merebut kemenangan di Aceh. Hanya Jakarta dan Kalimantan Selatan yang berhasil diambil Golkar dari PPP. Secara nasional Golkar berhasil merebut tambahan 10 kursi dan itu berarti kehilangan masing-masing 5 kursi bagi PPP dan PDI Golkar meraih 48.334.724 suara atau 242 kursi. Adapun cara pembagian kursi pada Pemilu ini tetap mengacu pada ketentuan Pemilu 1971.

(45)

Sudawirrahmi : Penyelenggaraan Pemilu Di Indonesia Studi Kasus Perbandingan Undang-Undang NO. 12 Tahun 2003 Dengan Undang-Undang NO. 10 Tahun 2008, 2009.

Tabel 4 Hasil pemilu 1982

No Partai Perolehan Suara Perolehan Kursi

1 PPP 20.871.880 94

2 Golkar 48.334.724 242

3 PDI 5.919.702 24

Jumlah 75.126.306 364

Sumber: data pemilu 1982 (LPU); daftar pembagian kursi hasil pemilihan umum anggota DPR RI 1982.

II. 5. Pemilu 1987

Pemungutan suara Pemilu 1987 diselenggarakan tanggal 23 April 1987 secara serentak di seluruh tanah air. Dari 93.737.633 pemilih, suara yang sah mencapai 85.869.816 atau 91,32 persen. Cara pembagian kursi juga tidak berubah, yaitu tetap mengacu pada Pemilu sebelumnya.

Hasil Pemilu kali ini ditandai dengan kemerosotan terbesar PPP, yakni hilangnya 33 kursi dibandingkan Pemilu 1982, sehingga hanya mendapat 61 kursi. Penyebab merosotnya PPP antara lain karena tidak boleh lagi partai itu memakai asas Islam dan diubahnya lambang dari Ka'bah kepada Bintang dan terjadinya penggembosan oleh tokoh- tokoh unsur NU, terutama Jawa Timur dan Jawa Tengah.

Sementara itu Golkar memperoleh tambahan 53 kursi sehingga menjadi 299 kursi. PDI, yang tahun 1986 dapat dikatakan mulai dekat dengan kekuasaan, sebagaimana diindikasikan dengan pembentukan DPP PDI hasil Kongres 1986 oleh Menteri Dalam Negeri Soepardjo Rustam, berhasil menambah perolehan kursi secara signifikan dari 30 kursi pada Pemilu 1982 menjadi 40 kursi pada Pemilu 1987 ini.

(46)

Sudawirrahmi : Penyelenggaraan Pemilu Di Indonesia Studi Kasus Perbandingan Undang-Undang NO. 12 Tahun 2003 Dengan Undang-Undang NO. 10 Tahun 2008, 2009.

Tabel 5 Hasil Pemilu 1987

No Partai Perolehan Suara Perolehan Kursi

1 PPP 13.701.428 61

2 Golkar 62.783.680 299

3 PDI 9.384.708 40

Jumlah 85.869.816 400

Sumber: data pemilu 1987 (LPU); daftar pembagian kursi hasil pemilihan umum anggota DPR RI 1987.

II. 6. Pemilu 1992

Cara pembagian kursi untuk Pemilu 1992 juga masih sama dengan Pemilu sebelumnya. Hasil Pemilu yang pemungutan suaranya dilaksanakan tanggal 9 Juni 1992 ini pada waktu itu agak mengagetkan banyak orang. Sebab, perolehan suara Golkar kali ini merosot dibandingkan Pemilu 1987. Kalau pada Pemilu 1987 perolehan suaranya mencapai 73,16 persen, pada Pemilu 1992 turun menjadi 68,10 persen, atau merosot 5,06 persen. Penurunan yang tampak nyata bisa dilihat pada perolehan kursi, yakni menurun dari 299 menjadi 282, atau kehilangan 17 kursi dibanding pemilu sebelumnya.

PPP juga mengalami hal yang sama, meski masih bisa menaikkan 1 kursi dari 61 pada Pemilu 1987 menjadi 62 kursi pada Pemilu 1992 ini. Tetapi di luar Jawa suara dan kursi partai berlambang ka?bah itu merosot. Pada Pemilu 1992 partai ini kehilangan banyak kursi di luar Jawa, meski ada penambahan kursi dari Jawa Timur dan Jawa Tengah. Malah partai itu tidak memiliki wakil sama sekali di 9 provinsi, termasuk 3 provinsi di Sumatera. PPP memang berhasil menaikkan perolehan 7 kursi di Jawa, tetapi karena kehilangan 6 kursi di Sumatera, akibatnya partai itu hanya mampu menaikkan 1 kursi secara nasional.

(47)

Sudawirrahmi : Penyelenggaraan Pemilu Di Indonesia Studi Kasus Perbandingan Undang-Undang NO. 12 Tahun 2003 Dengan Undang-Undang NO. 10 Tahun 2008, 2009.

Yang berhasil menaikkan perolehan suara dan kursi di berbagai daerah adalah PDI. Pada Pemilu 1992 ini PDI berhasil meningkatkan perolehan kursinya 16 kursi dibandingkan Pemilu 1987, sehingga menjadi 56 kursi. Ini artinya dalam dua pemilu, yaitu 1987 dan 1992, PDI berhasil menambah 32 kursinya di DPR RI.

Tabel 6 Hasil Pemilu 1992

No Partai Perolehan Suara Perolehan Kursi

1 PPP 16.624.647 62

2 Golkar 66.599.331 282

3 PDI 14.565.556 56

Jumlah 97.789.534 400

Sumber: data pemilu 1992 (LPU); daftar pembagian kursi hasil pemilihan umum anggota DPR RI 1992.

II. 7. Pemilu 1997

Sampai Pemilu 1997 ini cara pembagian kursi yang digunakan tidak berubah, masih menggunakan cara yang sama dengan Pemilu 1971, 1977, 1982, 1987, dan 1992. Pemungutan suara diselenggarakan tanggal 29 Mei 1997. Hasilnya menunjukkan bahwa setelah pada Pemilu 1992 mengalami kemerosotan, kali ini Golkar kembali merebut suara pendukungnya. Perolehan suaranya mencapai 74,51 persen, atau naik 6,41. Sedangkan perolehan kursinya meningkat menjadi 325 kursi, atau bertambah 43 kursi dari hasil pemilu sebelumnya.

PPP juga menikmati hal yang sama, yaitu meningkat 5,43 persen. Begitu pula untuk perolehan kursi. Pada Pemilu 1997 ini PPP meraih 89 kursi atau meningkat 27 kursi dibandingkan Pemilu 1992. Dukungan terhadap partai itu di Jawa sangat besar.

(48)

Sudawirrahmi : Penyelenggaraan Pemilu Di Indonesia Studi Kasus Perbandingan Undang-Undang NO. 12 Tahun 2003 Dengan Undang-Undang NO. 10 Tahun 2008, 2009.

Sedangkan PDI, yang mengalami konflik internal dan terpecah antara PDI Soerjadi dengan Megawati Soekarnoputri setahun menjelang pemilu, perolehan suaranya merosot 11,84 persen, dan hanya mendapat 11 kursi, yang berarti kehilangan 45 kursi di DPR dibandingkan Pemilu 1992.

Tabel 7 Hasil Pemilu 1997

No Partai Perolehan Suara Perolehan Kursi

1 PPP 84.187.907 325

2 Golkar 25.340.028 89

3 PDI 3.463.225 14

Jumlah 112.991.150 425

Sumber: data pemilu 1997 (LPU); daftar pembagian kursi hasil pemilihan umum anggota DPR RI 1997.

Pemilu kali ini diwarnai banyak protes. Protes terhadap kecurangan terjadi di banyak daerah. Bahkan di Kabupaten Sampang, Madura, puluhan kotak suara dibakar massa karena kecurangan penghitungan suara dianggap keterlaluan. Ketika di beberapa tempat di daerah itu pemilu diulang pun, tetapi pemilih, khususnya pendukung PPP, tidak mengambil bagian.

II. 8. Pemilu 1999

Setelah Presiden Soeharto dilengserkan dari kekuasaannya pada tanggal 21 Mei 1998 jabatan presiden digantikan oleh Wakil Presiden Bacharuddin Jusuf Habibie. Atas desakan publik, Pemilu yang baru atau dipercepat segera dilaksanakan, sehingga hasil-hasil Pemilu 1997 segera diganti. Kemudian ternyata bahwa Pemilu dilaksanakan pada 7 Juni 1999, atau 13 bulan masa kekuasaan Habibie. Pada saat itu untuk sebagian alasan diadakannya Pemilu adalah untuk

Gambar

Tabel 1  Hasil pemilu 1955
Tabel 2  Hasil Pemilu 1971
Tabel 3   Hasil Pemilu 1977
Tabel 4  Hasil pemilu 1982
+6

Referensi

Dokumen terkait

Make sure that the products or services that you will be offering are desired, do not just decide to open up a store with out doing any market research is like playing craps,

If poker is your game it is a little different, most games depend on luck and all you really need to know if the basics, but poker is totally different because you are playing

Berdasarkan hasil di atas dapat disimpulkan bahwa dari empat variabel independen yang dimasukan dalam model dengan signifikansi 5% terdapat dua variabel (tindak

dilakukan memerlukan biaya yang cukup besar, maka pengeluaran tersebut diperlakukan sebagai pengeluaran modal dan harus dikapitalisasi dengan menghapuskan harga perolehan

Dari ulasan antara teori dan hasil yang didapatkan oleh peneliti bahwa tidak sesuai dengan teori, banyak teori dan hasil penelitian yang lain mengatakan bahwa depresi

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa : 1) telah dilakukan analisis desain proses bisnis yang digunakan untuk memberikan gambaran

Dengan perubahan indikator kegiatan untuk efektifitas sumber daya, Penyusunan Perubahan Ketiga Renstra Dinas Kesehatan Kota Depok untuk tahun 2016-2021 dimaksudkan untuk

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa 1) variabel estetika, kenyamanan, kebersihan, dan tata letak memiliki pengaruh yang