C. Prosedur Penelitian
2. Penentuan Kadar Air
1. Gelas beaker yang telah bersih dikeringkan menggunakan oven selama 15 menit dengan suhu 1050C, kemudian didinginkan selama 15 menit
2. Gelas beaker yang sudah kering lalu ditimbang (W1)
3. Sampel ditimbang sebayak 20 gram ke dalam gelas beaker (W2) 4. Gelas beaker yang telah berisi sampel dimasukkan ke dalam oven
selama 1 jam dalam suhu 1050C
5. Setelah di oven, didinginkan dalam desikator selama 15 menit
6. Timbang gelas beaker dan sampel yang sudah kering sampai bobot konstan (W3)
Perhitungan : %
Dimana W1 : berat wadah sampel W2 : berat sampel
W3 : berat sampel dan wadah kering 3. Penentuan Kadar Kotoran (Marunduri, 2009)
1. Ditimbang gooch crucible yang sudah dioven (W1)
2. Ditimbang sampel sebanyak 20 ml kedalam Beaker glass(W2) 3. Tambahkan 100 ml n-hexane
4. Tuangkan cairan kedalam gooch crucible dan dihisap menggunakan
vacum pump
5. Bilas menggunakan n-hexane sampai CPO tidak menempel pada
gooch crucible
yang bersih
7. Keringkan dalam oven selama 30 menit dengan suhu 1050c
8. Dingingkan gooch crucible kedalam desikator dan timbang (W3)
Perhitungan : %
Dimana W1 : berat gooch crucible W2 : Berat Sampel
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
Penelitian ini telah dilaksanakan di Laboratorium Pabrik Kelapa Sawit (PKS) di PT. Sasana Yudha Bhakti (SYB) Satria Oil Mill (SOM). Adapun hasil analisa Karakteristik mutu CPO selama penyimpan di tangki timbun terhadap Asam lemak bebas, Kadar Air dan Kadar Kotoran dapat dilihat pada tabel 4.1
Tabel 4.1 Kandungan Kadar Asam Lemak Bebas, Kadar Air dan Kadar
Kotoran pada Storage Tank 1 di PT. Sasana Yudha Bhakti (SYB) Satria Oil Mill (SOM).
Tanggal Hari Ke Kadar ALB (%) Kadar Air (%) Kadar Kotoran (%)
30-Mar-16 1 3,08 0,20 0,02 31-Mar-16 2 3,09 0,21 0,03 01-Apr-16 3 3,10 0,22 0,04 02-Apr-16 4 3,16 0,28 0,05 03-Apr-16 5 3,18 0,33 0,07 04-Apr-16 6 3,21 0,35 0,08 Total 18,22 1,59 0,29
Sumber : Data primer setelah diolah, 2016.
Gambar 1. Grafik Kadar Asam Lemak Bebas (ALB) pada tangki
timbun (Storage Tank) di PT. Sasana Yudha Bhakti (SYB) Satria Oil Mill (SOM).
3,08 3,09 3,10 3,16 3,18 3,21 3 3,05 3,1 3,15 3,2 3,25 1 2 3 4 5 6 Hari
Grafik Asam Lemak Bebas Pada CPO
Gambar 2. Grafik Kadar Air pada Tangki Timbun (Storage Tank) di
PT. Sasana Yudha Bhakti (SYB) Satria Oil Mill (SOM).
Gambar 3. Grafik Kadar Kotoran pada Tangki Timbun (Storage Tank)
di PT. Sasana Yudha Bhakti (SYB) Satria Oil Mill (SOM)
B. Pembahasan
Mutu CPO akan menjadi tinggi bila kadar asam lemak bebas, kadar air dan kadar kotoran di dalam CPO rendah. Sebaliknya, jika kadar asam lemak bebas, kadar air dan kadar kotoran pada CPO tinggi maka mutu CPO akan menurun atau berkualitas rendah.
0,20 0,21 0,22 0,28 0,33 0,35 0,00 0,05 0,10 0,15 0,20 0,25 0,30 0,35 0,40 1 2 3 4 5 6 Hari
Grafik Kadar Air Pada CPO
Kadar air 0,02 0,03 0,04 0,05 0,07 0,08 0 0,01 0,02 0,03 0,04 0,05 0,06 0,07 0,08 0,09 1 2 3 4 5 6 Hari
Grafik Kadar Kotoran Pada CPO
Hasil analisa di atas terlihat bahwa semakin lama waktu penyimpanan maka asam lemak bebas, kadar air dan kadar kotoran yang di hasilkan semakin tinggi, dimana asam lemak bebas terendah didapatkan pada hari pertama sebesar 3,08% dan tertinggi didapatkan pada hari ke enam sebesar 3,21%. Untuk kadar air terendah didapatkan pada hari pertama sebesar 0,20% dan tertinggi didapatkan pada hari ke enam sebesar 0,35%, untuk kadar kotoran terendah didapatkan pada hari pertama sebesar 0,02%, dan tertinggi didapatkan pada hari ke enam sebesar 0,08%.
Hasil tersebut menunjukan bahwa kadar asam lemak bebas, kadar air dan kadar kotoran telah menenuhi standar mutu CPO (SNI 01-2901-2006), dimana untuk standar SNI asam lemak bebas max 5 %, kadar air max 0,5 % dan kadar kotoran max 0,5 %.
Hasil data yang diperoleh terlihat bahwa kadar air dalam minyak sawit
(CPO) sangat berpengaruh terhadap asam lemak bebasnya. Hal ini dapat
ditandai dengan meningkatnya kadar air, maka kadar ALB akan semakin meningkat. Kenaikan ALB ini disebabkan karena terjadi reaksi hidrolisa terhadap minyak karena terdapatnya sejumlah air dalam minyak tersebut yang akan mengubah minyak menjadi asam lemak bebas.
Kenaikan kadar air dipengaruhi oleh penimbunan di tangki timbun
(Storage Tank) dan kematangan buah. Buah yang terlalu matang akan
mengandung air yang lebih banyak. jika air yang terbentuk pada proses hidrolisa maka akan menyebabkan kenaikan asam lemak bebas pada minyak sawit. Pada saat disimpan ditangki timbun suhu tangki kurang maksimal dimana untuk tangki timbun suhu yang digunakan 500C 550C apabila suhunya kurang maksimal maka akan meningkatkan kadar air.
Hasil kadar kotoran terjadi kenaikan disebabkan pada saat proses penyaringan/ Vibrating Screen dalam proses tersebut kotoran yang berukuran besar dapat tersaring, akan tetapi kotoran atau serabut yang berukuran kecil tidak bisa disaring hanya melayang-layang di dalam Minyak CPO.
Hal tersebut sesuai dengan Marunduri, (2009) yang menyatakan bahwa asam lemak bebas dalam konsentrasi tinggi yang terikut dalam minyak sawit sangat merugikan. Tingginya asam lemak bebas ini mengakibatkan rendemen minyak turun. Untuk itulah perlu dilakukan usahan pencegahan terbentunknya asam lemak bebas dalam minyak sawit. Kenaikan ALB ini disebabkan adanya reaksi hidrolisa pada minyak. Hasil reaksi hidrolisa minyak sawit adalah gliserol dan ALB. Reasksi ini akan dipercepat dengan adanya faktor-faktor panas, air, keasaman dan katalis (enzim). Semakin lama reaksi berlansung, maka semakin banyak kadar ALB yang terbentuk.
Air dalam minyak kelapa sawit hanya dalam sejumlah kecil, hal ini terjadi karena proses alami sewaktu pembuahan dan akibat perlakuan di pabrik serta pengaruh penimbunan. Jika air yang terbentuk pada proses hidrolisa besar maka akan menyebabkan kenaikan asam lemak bebas pada minyak sawit. Kadar asam lemak bebas dan air yang tinggi akan menyebabkan kerusakan minyak yang berupa bau tengik pada minyak tersebut, (Naibaho, 1996)
Menurut Gunawan E, (2004) dalam Hutahaean (2008) Kadar air yang terkandung dalam minyak kelapa sawit tergantung pada efektivitas pengolahan kelapa sawit menjadi CPO dan juga tergantung pada kematangan buah. Buah yang terlalu matang akan mengandung air yang lebih banyak. Untuk itu perlu pengaturan panen yang tepat dan pengolahan yang sempurna
untuk mendapatkan produk yang mutunya tinggi. adapun peyebab meningkatnya kadar air yaitu terjadinya proses oksidasi dari minyak itu sendiri. Proses oksidasi ini dapat terjadi dengan adanya oksigen di udara baik pada suhu kamar yang akan menyebabkan minyak mempunyai bau tidak enak (ketengikan), Akibatnya mutu minyak menjadi turun.
Kadar kotoran adalah keseluruhan bahan bahan asing yang tidak larut dalam minyak. Pada umumnya di pabrik pengolahan kelapa sawit, penyaringan CPO dilakukan dalam rangkaian proses pengendapan dan disentrifugasi. Dalam proses tersebut kotoran yang berukuran besar dapat tersaring, akan tetapi kotoran atau serabut yang berukuran kecil tidak bisa disaring, hanya melayang layang di dalam CPO Marunduri dkk, (2009) dalam Alfiah dkk (2015)
V. KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
1. Mutu CPO pada tangki timbun di PT. Sasana Yudha Bhakti Satria Oil Mill pada periode 30 Maret 04 April 2016. Sebagai berikut : kadar asam lemak bebas tertinggi yaitu 3,21%, kadar air tertinggi sebesar 0,35% dan kadar kotoran tertinggi sebesar 0,08%. yaitu dengan semakin lama penyimpanan CPO pada storage tank maka asam lemak bebas, kadar air dan kadar kotoran akan semakin tinggi.
2. Mutu CPO di PT. Sasana Yudha Bakti Satria Oil Mill untuk asam lemak bebas, kadar air, dan kadar kotoran telah memenuhi standar mutu yang di tentukan dimana standar mutu CPO (SNI 01-2901-2006), untuk asam lemak bebas max 5%, kadar air max 0,5% dan Kadar Kotoran max 0,5%.
B. Saran
1. Buah yang telah dipanen diharapkan tidak ditimbun dalam waktu yang lama sebaiknya langsung diolah, karena dapat mempengaruhi kualitas redemen minyak yang dihasilkan.
2. Suhu di tangki timbun (Storage Tank) harus diperhatikan antara 500C 550C, karena adanya mikroorganisme jamur dan bakteri yang dapat hidup pada suhu dibawah 500C.
DAFTAR PUSTAKA
Alfiah, dan Susanto WH. 2015. Penanganan Pasca Panen Kelapa Sawit.
Universitas Brawijaya. Malang.
Fauzi Y, Widyastuti Y, Satyawibawa I dan Hartono. 2002 Kelapa Sawit. Edisi
Revisi. Cetakan XIV. Penerbit Swadaya. Jakarta.
Fauzi, Y. 2002. Kelapa Sawit. Edisi Revisi. Cetakan XIV. Pnerbit Swadaya.
Jakarta
Fauzi Y, Widyastuti Y, Satyawibawa I, dan Hartono R, 2008. Kelapa sawit
Budidaya Pemanfaatan Hasil Dan Limbah Analisi Usaha Dan Pemasaran, Edisi Revisi. Penerbit swadaya. Jakarta
Fauzi. Yustina EW. Iman S. Dan Rudi Hartono. 2005. Kelapa Sawit: Budidaya,
Pemanfaatan Hasil dan Limbah, Analisi Usaha Dan Pemasaran. Penerbar swadaya. Jakarta.
Hutahaean, 2008. Pengaruh Proses Pengolahan Terhadap Mutu Crude Palm Oil
(CPO) yang Dihasilkan di PTPN IV PKS Adolina Perbaungan. Universitas Sumatera Utara. Medan.
Ida Yunia Soependi,Yanuar Arianto. 2014. Buku Statistik Komoditas Kelapa
Sawit. Direktorat Jenderal Perkebunan. Jakarta.
Ketaren, S. 1986. Pengantar Teknologi Minyak dan Lemak Pangan. Edisi
Pertama, UI-Press. Jakarta.
Mustafa, Hadi. 2004. Teknik Berkebun Kelapa Sawit. Edisi Pertama. Cetakan
Pertama. Adicita Karya Nusa
Mangoensoekarjo S, Semangun H, Siregar I, Tojib A, dan Pulungan S, 2008.
Manejemen Agrobisnis Kelapa Sawit. Gajah Mada University Press. Yogyakarta.
Manggoensoekarjo S dan H. Semangun. 2005. Manajemen Agrobisnis Kelapa
Sawit. Gajah Mada University Press. Yogyakarta.
Mangoensoekarjo, S. 2003. Manejemen Agrobisinis Kelapa Sawit. Cetaakan I
Gajah Mada University Press. Yogyakarta.
Marunduri F.J., 2009,
Terhadap Kadar Asam Lemak Bebas, Kadar Air Dan Kadar Kotoran di PTPN IIITerbing Tinggi PKS Kebun Rabutan, Fakultas MIPA, Universitas Sumatera Utara,Medan.
Naibaho, P. 1998. Teknologi Pengolahan Kelapa Sawit. Pusat Penelitian Kelapa
Naibaho, P. M.1996. Tekhnologi Pengolahan Kelapa Sawit. Medan: Pusat
Penelitian Kelapa Sawit.
Pahan I. 2008. Manajemen Pengolahan dan Pengolahan Kelapa Sawit. Penerbit
Swadaya. Jakarta.
Pahan I, 2010. Kelapa Sawit Manejemen Agribisnis dari Hulu Hingga Hilir.
Cetakan VII. Penebar Swadaya. Jakarta
Pardamean M, 2008. Panduan Lengkap Pengelolaan Kebun dan Pabrik Kelapa
Sawit. Cetakan Pertama. PT. Agro Media Pustaka. Jakarta.
Semangun H, Siregar I, Tojib A, dan Pulungan S, 2008. Manejemen Agrobisnis
Lampiran 1. Tabel Hasil Perhitungan Penentuan Kadar Asam Lemak Bebas, Kadar Air dan Kadar Kotoran
Tanggal Waktu
Penyimpanan
Ulangan %
Rata - rata
1 2
30-Mar-16 Hari Ke-1 3,07 3,10 3,08
31-Mar-16 Hari ke-2 3,08 3,10 3,09
01-Apr-16 Hari Ke-3 3,10 3,10 3,10
02-Apr-16 Hari Ke-4 3,10 3,22 3,16
03-Apr-16 Hari Ke-5 3,21 3,16 3,18
04-Apr-16 Hari ke-6 3,29 3,14 3,21
Tabel 3. Hasil Perhitungan Penentuan Kadar Asam Lemak Bebas
Tanggal Waktu
Penyimpanan
Ulangan %
Rata - rata
1 2
30-Mar-16 Hari Ke-1 0,20 0,21 0,20
31-Mar-16 Hari ke-2 0,21 0,22 0,21
01-Apr-16 Hari Ke-3 0,25 0,20 0,22
02-Apr-16 Hari Ke-4 0,29 0,27 0,28
03-Apr-16 Hari Ke-5 0,4 0,27 0,33
04-Apr-16 Hari ke-6 0,37 0,33 0,35
Tabel 4. Hasil Perhitungan Penentuan Kadar Air
Tanggal Waktu
Penyimpanan
Ulangan %
Rata - rata
1 2
30-Mar-16 Hari Ke-1 0,02 0,03 0,02
31-Mar-16 Hari ke-2 0,03 0,03 0,03
01-Apr-16 Hari Ke-3 0,05 0,04 0,04
02-Apr-16 Hari Ke-4 0,05 0,05 0,05
03-Apr-16 Hari Ke-5 0,07 0,07 0,07
04-Apr-16 Hari ke-6 0,09 0,08 0,08
Lampiran 2. Cara Perhitungan Penentuan Asam Lemak Bebas, Kadar Air dan Kadar Kotoran
1. Perhitungan Asam Lemak Bebas
1). Ulangan 1 ALB
=
3,07 Ulangan 2 ALB=
3,10 2). Ulangan 1 ALB=
3,08 Ulangan 2 ALB=
3,010 3). Ulangan 1 ALB=
3,10 Ulangan 2 ALB=
3,10 4). Ulangan 1 ALB=
3,10Ulangan 2 ALB
=
3,22 5). Ulangan 1 ALB=
3,21 Ulangan 2 ALB=
3,16 6). Ulangan 1 ALB=
3,29 Ulangan 2 ALB=
3,142. Perhitunga Kadar Air
1). Ulangan 1 Kadar Air
=
0,20Ulangan 2 Kadar Air
2). Ulangan 1 Kadar Air
=
0,21Ulangan 2 Kadar Air
=
0,223). Ulangan 1 Kadar Air
=
0,25Ulangan 2 Kadar Air
=
0,204). Ulangan 1 Kadar Air
=
0,29=
0,205). Ulangan 1 Kadar Air
=
0,40Ulangan 2 Kadar Air
=
0,276). Ulangan 1 Kadar Air
=
0,37Ulangan 2 Kadar Air