• Tidak ada hasil yang ditemukan

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.3 Penentuan Kesesuaian Lahan Budidaya Kerapu Macan

Penentuan kesesuaian wilayah untuk dijadikan lokasi budidaya kerapu dengan keramba jaring apung (KJA) dilakukan dengan analisis spasial pada data raster yang merupakan dasar dari operasi Cell Based Modelling karena memiliki nilai sel tertentu untuk memudahkan dalam analisis spasial. Penentuan kesesuaian wilayah budidaya KJA memerlukan suatu model yang dapat mengintegrasikan seluruh parameter yang mempengaruhi kriteria budidaya KJA. Pemodelan kesesuaian wilayah budidaya KJA dilakukan dengan menspasialkan parameter- parameter yang diturunkan melalui transformasi citra dan interpolasi point-point atau line yang telah diklasifikasi ulang menjadi kelas-kelas kesesuaian. Setelah didapatkan klasifikasi baru, dilakukan pengkodean sel menurut nilai setiap selang kelas yang ditentukan. Seluruh informasi spasial di overlay dengan menggunakan metode terapan dari Cell Based Modelling yaitu sistem pembobotan (weighted overlay).

Berdasarkan hasil overlay semua informasi spasial, dihasilkan peta tingkat kesesuaian lahan untuk kegiatan budidaya ikan kerapu dengan KJA yang terbagi dalam 3 kelas kesesuaian yaitu: S1 untuk kategori sangat sesuai (highly suitable), S2 untuk kategori sesuai (suitable), dan N untuk kategori tidak sesuai (not

suitable).

Peta kesesuaian wilayah budidaya kerapu dengan KJA di perairan Pulau Panggang, Kepulauan Seribu – Jakarta dapat dilihat pada Gambar 26. Berdasarkan gambar terlihat spot-spot zona potensial yang direpresentasikan dengan warna hijau.

68 Gambar 26. Kesesuaian Lahan Keramba Jaring Apung Kerapu Macan di Pulau Panggang

Hasil penentuan kesesuaian lokasi budidaya laut di perairan Pulau

Panggang menunjukan bahwa sumberdaya wilayah perikanan budidaya laut yang potensial dikembangkan untuk budidaya ikan dalam karamba jaring apung (S1) seluas 0,94 Km2, terletak di sebelah barat Pulau Panggang. Luas lahan budidaya yang termasuk dalam kelas sesuai (S2) mencapai 2,32 Km2, sedangkan wilayah budidaya yang termasuk dalam kelas tidak sesuai (N) mencapai luas 3,20 Km2.

70 5.1 Kesimpulan

Pemilihan lokasi budidaya laut yang dilakukan dengan benar merupakan langkah awal keberhasilan budidaya. Hasil analisis parameter-parameter substrat dasar, kedalaman perairan, keterlindungan, suhu, salinitas, oksigen terlarut, kecerahan, kecepatan arus permukaan, pH, dan amonia menunjukkan bahwa seluruh parameter tersebut memenuhi syarat untuk kegiatan budidaya laut.

Sumberdaya wilayah perikanan budidaya laut yang potensial

dikembangkan untuk budidaya Kerapu Macan dalam KJA di perairan Pulau Panggang dengan klasifikasi Sangat Sesuai (S1) seluas 0,94 Km2, Sesuai (S2) seluas 2,32 Km2, sedangkan wilayah budidaya yang termasuk dalam klasifikasi Tidak Sesuai (N) seluas 3,20 Km2.

5.2 Saran

Perlu dilakukan pengkajian lebih lanjut mengenai aspek sosial dan ekonomi, infrastruktur, serta parameter kualitas perairan lain yang berpengaruh pada penentuan kesesuaian lahan keramba jaring apung kerapu macan misalnya klorofil. Penelitian lanjutan mengenai kerapu macan di wilayah Pulau Panggang juga disarankan untuk dilakukan berdasarkan perbedaan musim dan secara berkala (time series).

71

Antoro, S., E. Widiastuti dan P. Hartono. 1998. Pembenihan Kerapu Macan (Epinephelus fuscogutattus). Departemen Kelautan dan Perikanan, Direktorat Jendral Perikanan, Balai Budidaya Laut. Bandar Lampung. Arief, M. dan W.L. Laksmi. 2006. Analisis Kesesuaian Perairan Tambak di

Kabupaten Demak Ditinjau Dari Nilai Klorofil-a, Suhu Permukaan Perairan, dan Muatan Padatan Tersuspensi Menggunakan Data Citra Satelit Landsat ETM 7+. Jakarta. Jurnal Penginderaan Jauh dan Pengolahan Data Citra Digital. 3(1): 108-118.

Boyd, C. E. 1982. Water Quality Management for Pond Fish Culture. Elsevier Scientific Publishing Company. New York

Budiyanto, E. 2002. Sistem Informasi Geografis: Menggunakan ArcView GIS. Penerbit Andi. Yogyakarta.

Dahuri, R. 1997. Pendayagunaan Sumberdaya Kelautan Untuk Kesejahteraan Rakyat (Kumpulan Pemikiran Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS.). LISPI. Jakarta. Dinas Hidro-Oseanografi. 2009. Peta Pulau-Pulau Seribu, Pulau Pramuka hingga

Pulau Kotok Kecil. Skala 1 : 20.000. 416-KK. Jakarta.

Effendi, H. 2003. Telaah Kualitas Air Bagi Pengelolaan Sumberdaya dan Lingkungan Perairan. PT. Kanisius. Yogyakarta.

Evalawati., M. Meiyana dan T. W. Aditya. 2001. Pembesaran Kerapu Macan (Epinephelus fuscogutattus) Dan Kerapu Tikus (Epinephelus altivelis) di Keramba Jaring Apung. Departemen Kelautan dan Perikanan, Direktorat Jendral Perikanan Budidaya, Balai Budidaya Laut. Bandar Lampung. Ghufran, M. H. 2010. Pemeliharaan Ikan Napoleon di Keramba Jaring Apung.

Akademia. Jakarta.

Green, E. P., P. J. Mumby dan A. J. Edwards. 2000. Mapping bathimetry. In A. J. Edwards (Ed.), Remote Sensing Handbook for Tropical Coastal

Management. Coastal Management Sourcebook 3. UNESCO, Paris.

Gunawan, I. 1998. Typical Geographic Information System (GIS) Aplication for Coastal Resources Management Indonesia. Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Lautan Indonesia, I (1) : 1 – 12.

Hartami, P. 2008. Analisis Wilayah Perairan Teluk Pelabuhan Ratu Untuk Kawasan Budidaya Perikanan Sistem Keramba Jaring Apung. Tesis. Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Haryono, T., N. Sari dan Muawanah. 2009. Kualitas Air Media Pemeliharaan LarvaKerapu Bebek (Cromileptes altivelis) dengan Sistem Sirkulasi. Buletin Teknik Litkayasa Akuakultur, 2 (8) : 137 – 141.

Haswanto, A. I. 2006. Studi Konstruksi Kelembagaan Pengelolaan Sea Farming (Kasus di Pulau Panggang Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu). Tesis. Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Hendiarti, N. 2003. Investigation on Ocean Color Remote Sensing in Indonesian Waters Using SeaWIFS. (Dissertation). The Faculty of Mathematics and Natural Sciences. Rostock University. Rostock.

Ismail, A. W., Sastrawijaya dan Sindu S. 2001. Kajian Teknis Pembesaran Ikan Kerapu Sunu dalam Keramba Jaring Apung di Lahan Petani. Pusat

Penelitian dan Pengembangan Eksplorasi Laut dan Perikanan. Departemen Perikanan dan Kelautan Bekerjasama dengan Japan International

Cooporation Agency. Jakarta.

Kartasasmita, M. 1999. Beberapa Pemikiran Operasionalsasi Aplikasi Teknologi Penginderaan Jauh Untuk Penangkapan Ikan. Makalah in Prosiding.

Hendiarti, N., et al. 1999. Seminar Validasi Data Inderaja Untuk Bidang Perikanan. Direktorat Teknologi Inventarisasi Sumberdaya Alam, BPPT. Jakarta.

Lillesand, T. M. dan R. W. Kiefer. 1997. Penginderaan Jauh dan Interprestasi Citra. Diterjemahkan oleh Dulbahri, Prapto Suharsono, Hartono, Suharyadi ; Sutanto (penyunting). Gajah Mada University Press. Yogyakarta.

Lo, C. P. 1995. Penginderaan Jauh Terapan. Diterjemahkan oleh Bambang Purbowaseso ; Sutanto (penyunting). Universitas Indonesia Press. Jakarta. Meaden, G. J. dan J. M. Kapetsky. 1991. Geographical Information System and

Remote Sensing in Inland Fisheries and Aquaculture. FAO Fisheries Technical Paper No. 318. Rome.

Mudztahid, A. 2005. Penentuan Kesesuaian Lahan Tambak Menggunakan Teknologi Penginderaan Jauh Dan Sistem Informasi Geografis (SIG) Di Wilayah Pesisir Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Skripsi. Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Nontji, A. 2007. Laut Indonesia. Cetakan kelima (Edisi Revisi). Penerbit Djambatan. Jakarta.

Prahasta, E. 2001. Konsep-konsep Dasar Sistem Informasi Geografi. Penerbit Informatika Bandung. Bandung.

Purwadhi, F. S. H. 2001. Interpretasi Citra Digital. Gramedia Widiasarana Indonesia. Jakarta.

Ruslan dan Istiqomah. 2009. Pengamatan Pembesaran Kerapu Macan

(Epinephelus fuscoguttatus) pada Keramba Jaring Apung dengan Dasar Bertingkat. Buletin Teknik Litkayasa Akuakultur, 1 (8) : 33 – 36.

Siregar, V. 1995. Pemetaan Terumbu Karang dengan Menggunakan Kombinasi Citra Satelit SPOT-1 Kanal XS1 dan XS2. Aplikasi pada Karang Congkak dan Karang Lebar di Kepulauan Seribu, Jakarta Utara. Bulletin PSP, 1 (1): 1 – 9.

Sensusiwati, S. W. 2002. Pola Pengelolaan Penangkapan Ikan Karang Berbasis Partisipasi Masyarakat di Kelurahan Pulau Panggang, Kabupaten

Administrasi Kepulauan Seribu. Tesis. Program Pasca Sarjana, Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Sulma, S., B. Hasyim, A. Susanto dan A. Budiono. 2005. Pemanfaatan

Penginderaan Jauh Untuk Penentuan Kesesuaian Lokasi Budidaya Laut di Kepulauan Seribu. Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

(LAPAN). Jakarta.

Taranamulia., A. Mustafa dan A. Hanafi. 2001. TeknologiBudidaya Laut Dan Pengembangan Sea Farming Di Indonesia. Pusat Penelitian dan

Pengembangan Eksplorasi Laut dan Perikanan bekerja sama dengan Japan International Cooperational Agency. Jakarta.

Widodo, J. dan Suadi. 2008. Pengelolaan Sumberdaya Perikanan Laut. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

www.forum.o-fish.com/archive/index.php/thread-2341-7.html [diunduh pada tanggal 20 Juni 2011 pukul 10.25 WIB].

www.pulauseribu.net/modules/news [diunduh pada tanggal 14 Januari 2011 pukul 15.56 WIB].

Dokumen terkait