• Tidak ada hasil yang ditemukan

Institut Pertanian Bogor

DAFTAR PUSTAKA 56 LAMPIRAN

4. Kualitas/ Mutu

2.8. Uji Reabilitas

2.9.1 Penentuan Koefisien Kanonik

Johnson and Wichern (2007) Hubungan antara gugus peubah y1 , y2 , …, yq dinotasikan dengan vektor peubah acak Y, dengan gugus peubah x1 , x2 , …, xp yang dinotasikan dengan vektor peubah acak X. Dalam hal ini q ≤ p. Misalkan, karakteristik dari vektor peubah acak X dan Y adalah sebagai berikut :

E(Y) = μY Var(Y) = ΣYY ………(4) E(X) = μX Var(X) = ΣXX...(5) Cov(X,Y) = ΣXY= Σ’YX

Kombinasi linear dari kedua kedua gugus peubah tersebut dapat dituliskan sebagai berikut:

Sehingga

Koefesien a dan b

…(7) dapat diperoleh dengan rumus berikut :

Korelasi kanonik diperoleh dengan memaksimumkan nilai :

………..(8) Dengan : i =1,2,…, k

Pasangan pertama dari peubah kanonik didefinisikan sebagai kombinasi linear (V1,W1) yang memiliki ragam satu dan korelasinya terbesar; pasangan kedua dari peubah kanonik adalah kombinasi linear (V2,W2) yang memiliki ragam satu dan korelasi terbesar kedua serta tidak berkorelasi dengan peubah kanonik yang pertama dan pasangan ke - k dari peubah kanonik adalah kombinasi linear (Vk,Wk ) yang memiliki ragam satu dan korelasinya terbesar ke-k serta tidak berkorelasi dengan peubah kanonik 1, 2, …, k-1.

Dengan demikian dapat dituliskan sebagai berikut : • Fungsi kanonik pertama :

V1 = a

W1= b'1Y Var (W1) =1 ……….(10)

'1X Var(V1) = 1 ………...(9)

Maksimum Corr(V1 , W1) =

ρ

1

• Fungsi Kanonik kedua : V2

= a

W2= b'2Y Var (W2) =1 Cov(W1 ,W2) = 0………(12)

'2X Var(V2) = 1 Cov(V1 ,V2) = 0 ……….(11)

Fungsi Kanonik ke- k

Vk = a

Wk = b'k Y Var (Wk) = 1 Cov (W1. WK) = 0 ………...(14)

'k X Var(Vk ) = 1 Cov (V1, VK) = 0 …………..(13)

Cov(V 1 ,Wk ) = Cov(Vk ,W1 ) = 0, k≠1 dan maksimum Corr(Vk ,Wk ) =

ρ

k 2.9.2. Uji Hipotesis

Ada dua hipotesis yang akan diujikan dalam analisis korelasi kanonik yaitu uji korelasi kanonik secara bersama dan uji korelasi kanonik secara parsial (Rencher 2002).

a. Uji korelasi secara bersama Hipotesis :

H0 : ρ1 = ρ2 = …. = ρk = 0 ( semua korelasi tidak nyata) H1 : ada ρi ≠ 0 ( paling tidak ada satu korelasi yang nyata) Statistik Uji :

…………(15)

Dengan: n = banyak pengamatan p = banyak gugus peubah X q = banyak gugus peubah Y k = min (p,q)

Kriteria keputusan : hipotesis nol ditolak pada taraf nyata α jika F > Fα. Jika uji korelasi kanonik secara bersama nyata, maka terdapat minimal korelasi kanonik yang pertama nyata.

b. Uji korelasi secara parsial

Uji ini dilakukan jika minimal korelasi kanonik yang pertama pada uji korelasi kanonik secara bersama adalah nyata. Sehingga uji individu dilakukan terhadap korelasi kanonik yang kedua, ketiga dan seterusnya sampai ke-k (Rencher 2002).

Hipotesis : H0 : ρr = 0 H1 : ρr ≠ 0 Statistik uji :

……(16) dengan: n = banyak pengamatan

p = banyak gugus peubah X q = banyak gugus peubah Y 2.9.3. Interpretasi Fungsi Kanonik

Interpretasi yang dapat dianalisis dalam analisis kanonikal, yaitu : bobot kanonik, muatan kanonik, dan muatan silang kanonik.

a. Bobot kanonik adalah koefesien kanonik yang telah dibakukan, dapat diintepretasikan sebagai besarnya keeratan peubah asal terhadap peubah kanonik. Semakin besar nilai koefisien ini menyatakan semakin tinggi tingkat keeratan peubah yang bersangkutan terhadap peubah kanonik. Bila tanda dari bobot suatu peubah berlawanan dengan peubah kanoniknya maka menunjukkan hubungan yang terbalik dengan peubah yang lain.

b. Muatan kanonik, dapat dihitung dari korelasi sederhana antara peubah asal dengan masing-masing peubah kanoniknya. Semakin besar muatan kanoniknya mencerminkan semakin dekat hubungan peubah kanonik yang bersangkutan dengan peubah asal.

c. Muatan silang kanonik, dapat dihitung dari perkalian nilai korelasi kanonik dengan muatan kanonik. Penghitungan ini mencakup korelasi tiap gugus peubah Y dengan peubah kanonik dari gugus peubah X dan juga sebaliknya. Semakin besar muatan silang kanonik mencerminkan semakin dekat hubungan peubah kanonik yang bersangkutan dengan peubah lawan.

2.9.4. Redudansi

Redundansi merupakan sebuah nilai yang menunjukkan besar proporsi keragaman yang dapat dijelaskan oleh peubah kanonik yang dipilih, baik dari gugus peubah kanonik Y maupun gugus peubah kanonik X. Untuk menentukan fungsi kanonik yang dianggap cukup dalam menerangkan struktur hubungan gugus peubah X dan gugus peubah Y dilihat dari koefisien R-square. Nilai ini didapat dengan mengkuadratkan korelasi kanonik atau dapat dinotasikan sebagai berikut:

R2k =ρ2 k ………..………….(17)

Besarnya nilai proporsi keragaman menunjukkan baik atau tidaknya jumlah peubah kanonik dipilih. Semakin tinggi nilai proporsi keragamannya menandakan semakin baik peubah – peubah kanonik yang pilih menerangkan keragaman data asal

2.10. Fungsi Borda

Fungsi borda merupakan metode yang dipakai untuk menetapkan urutan peringkat preferensial (Marimin,2004). Unsur bauran produk dengan posisi peringkat atas diberi nilai paling tinggi dengan unsur bauran produk pada posisi peringkat berikutnya dalam suatu perbandingan berpasangan.

2.11. Hasil Penelitian Terdahulu yang Relevan

Rari (2011) dalam penelitian yang berjudul “Analisis Hubungan Bauran Produk Terhadap Brand switching Pepsodent Reguler” menjelaskan bahwa alasan berpindah merek dari segi bauran produk adalah mutu. Alasan berpindah merek dari unsur non bauran produk harga menjadi alasan konsumen dalam beralih ke merek pasta gigi lain.

Pepsodent Reguler merupakan merek yang secara umum memiliki brand awareness terbaik dibandingkan merek yang lainnya, sehingga menjadi merek Top of Mind akibat dikenal konsumen mayoritas melalui media televisi, misalnya kesan pertama terhadap pasta gigi pepsodent reguler adalah kesan bermutu terhadap produk. Hubungan bauran produk pepsodent reguler terhadap peralihan merek dengan analisis korelasi kanonik, menunjukkan bahwa unsur bauran produk mutu (khususnya rasa) adalah unsur bauran produk yang memiliki hubungan terkuat dengan peralihan merek konsumen.

Septiani (2010) dalam penelitiannya yang berjudul “Analisis Hubungan Bauran Produk terhadap Brand switching pada produk Indomie Reguler Goreng “ menjelaskan dari sisi bauran produk bahwa mutu adalah alasan utama mahasiswa melakukan perpindahan merek, sedangkan dari luar lingkup bauran produk, harga menjadi alasan kuat bagi mahasiswa untuk melakukan peralihan merek. Berdasarkan uji cochran Brand image Indomie goreng meliputi rasa enak dan gurih, aroma khas mie goreng, dapat diandalkan keinstanannya, mie goreng bermutu, mereknya mudah diucapkan, mereknya mudah dikenali, mereknya mudah dingat, mereknya meiliki kesan positif, kemasannya praktis, memiliki kelengkapan informasi pada kemasan, nama merek dicantumkan pada kemasan, memiliki label Departemen kesehatan Republik Indonesia (Depkes RI) dan memiliki label halal Majelis Ulama Islam (MUI), Sedangkan Analisis Korelasi Sperman menunjukkan mutu,bentuk, merek, kemasan, dan ukuran merupakan unsur-unsur bauran produk yang memiliki hubungan dengan peralihan merek.

III. METODE PENELITIAN

3.1. Kerangka Pemikiran

Perkembangan teknologi dan informasi dewasa ini mengalami kemajuan yang sangat pesat. Salah satu alat komunikasi yang mempunyai peran vital dalam memenuhi kebutuhan dan kecepatan untuk mendapatkan informasi adalah handphone. Menghadapi selera yang semakin beragam, perusahan- perusahan handphone dituntut untuk selalu meningkatkan inovasi dan peka terhadap keinginan pasar, dengan demikian mampu memberikan derajat kepuasan yang memenuhi harapan pelanggan.

Melihat peluang itu produsen handphone berusaha melakukan inovasi produk agar dapat menarik konsumen baru dan mempertahankan kosumen yang sudah ada. Persaingan yang ketat dalam industri handphone menuntut Nokia untuk selalu melakukan perbaikan produk dan strategi pemasaran agar penjualan meningkat, sekaligus menjadi bisa merebut posisi sebagai pemimpin pasar. Strategi pemasaran terdiri dari empat komponen bauran pemasaran, yaitu : produk, promosi, harga, dan distribusi.

Unsur-unsur bauran produk adalah keanekaragaman produk, mutu, desain, bentuk, merek, kemasan dan lebel, ukuran, pelayanan, jaminan, dan pengembalian. Semua itu akan dianalisa dengan persepsi konsumen (mahasiswa) terkait kecenderungan peralihan merek, dengan menggunakan uji korelasi kanonikal. Setelah itu terlihat hubungan antara bauran produk dengan kecenderungan peralihan merek. Memelihara kesadaran dan loyalitas konsumen melalui penciptaan produk yang bermutu akan memberikan citra positif terhadap merek produk bersangkutan yang pada akhirnya akan membuat konsumen untuk melirik produk kompetitor.

Gambar 3. Kerangka pemikiran penelitian

Hubungan bauran produk dengan Brandswitching handphone Nokia Perkembangan Teknologi dan Informasi yang semakin cepat

Peluang pasar

Produsen handphone berusaha untuk memenuhi keinginan dan kebutuhan konsumen

Strategi Pemasaran

Bauran Pemasaran

Harga PRODUK Promosi Tempat

Atribut bauran produk :

1.Keanekaragaman 6. Bentuk 2. Kemasan, Label 7. Ukuran

3.Merek 8. Pelayanan 4. Mutu 9. Garansi 5. Desain 10. Pengembalian Tingkat Kecenderungan Peralihan Merek Persepsi Konsumen terhadap Handphone Nokia

Uji Korelasi Kanonik

3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di kampus Institut Pertanian Bogor (IPB) yang berlokasi di Dramaga, Bogor. Pemilihan lokasi penelitian ditentukan oleh kriteria-kriteria yang telah ditetapkan, waktu penelitan dilaksanakan pada bulan Mei 2012.

3.3. Jenis dan Sumber Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer merupakan data yang diperoleh langsung dari mahasiswa strata satu (S1) IPB yang pernah menggunakan handphone merek Nokia. Data tersebut dikumpulkan dengan teknik wawancara yang sesuai dengan kelengkapan kuesioner penelitian yang dapat dilihat pada Lampiran 1.

Data sekunder merupakan data yang dikumpul oleh pihak lain untuk tujuan lain, peneliti hanya menggunakan data yang sudah ada untuk mendukung penelitian. Data sekunder yang digunakan pada penelitian ini antara lain seperti data penjualan handphone dunia, usia pengguna handphone di Indonesia, serta sumber data lain berupa literatur fisik maupun internet yang dapat mendukung penelitian ini.

3.4. Jumlah Sampel dan Metode Pengambilan Sampel

Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa S1 IPB yang pernah menggunakan handphone Nokia. Penelitian ini menggunakan 100 responden dari jumlah populasi mahasiswa S1 IPB, yaitu sebesar 15798.

Penetapan contoh dapat dilakukan dengan rumus Slovin : ...(19)

Keterangan :

n = jumlah sampel yang dipilih N = ukuran populasi

e = persen kelonggaran ketidaktelitian karena kesalahan pengambilan yang masih dapat ditolerir atau diinginkan (10%)

Berdasarkan rumus Slovin di atas maka perhitungan jumlah contoh yang diteliti :

Metode pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitan ini adalah Non- Probability Sampling dengan teknik Purposive Sampling (pengambilan sampel memiliki ciri-ciri spesifik yang dimiliki sampel). Pada metode ini semua populasi tidak memiliki peluang yang sama untuk dipilih menjadi sampel.

3.5. Metode Pengumpulan Data

Pengumpulan data primer dilakukan dengan wawancara menggunakan kelengkapan kuesioner yang sudah diuji validitas dan reliabilitasnya. Uji validitas menggunakan metode korelasi Product Momen Pearson dengan menggunakan software SPSS versi 17.0 didapatkan hasil bahwa seluruh butir soal dalam kuesioner memiliki nilai berkisar antara ( 0.379 - 0,865 ) untuk 30 orang. Hasil tersebut menunjukkan ada yang menunjukkan nilai lebih kecil dari r table 0,361 (tingkat error 5%) dan dapat dikatakan bahwa seluruh pernyataan dalam kuesioner dinyatakan valid dan dapat digunakan lebih lanjut.

Metode yang digunakan untuk menguji reliabilitas dalam penelitian ini adalah teknik Cronbach’s Alpha dengan software SPSS versi 17.0. Hasil pengujian ini menunjukkan bahwa nilai alpha berkisar antara ( 0,749 – 0,957) untuk 30 responden. Nilai alpha tersebut lebih besar dari 0,60 yang mengandung pengertian bahwa seluruh butir soal dalam kuesioner tersebut dapat dikatakan reliable atau sudah teruji keandalannya. Hasil pengujian validitas dan realiabilitas kuesioner dapat dilihat pada lampiran 2.

3.6. Metode Pengolahan dan Analisis Data

Pengolahan data dilakukan dengan bantuan komputer dengan menggunakan Statistical Analytic System ( SAS) versi 9.1.

3.6.1 Analisis Deskriptif

Analisis deskriptif digunakan untuk data yang bersifat kulitatif. Analisis deskriptif adalah bentuk analisis data penelitian untuk menguji generalisasi hasil penelitian berdasarkan satu contoh. Analisis deskriptif digunakan untuk mengalisis data yang diperoleh dari kuesioner. Data dikelompokkan berdasarkan jawaban yang sama ke dalam tabel. Setelah data dikelompokkan ke dalam tabel, selanjutnya jawaban- jawaban dipresentasekan berdasarkan jumlah konsumen. 3.6.2. Fungsi Borda

Penelitian ini juga menunjukkan peringkat unsur bauran produk yang paling mempengaruhi dalam kecenderungan terkait peralihan merek handphone dikalangan konsumen (mahasiswa). Data yang didapat kemudian diolah dengan metode fungsi borda.

Peneliti memberi bobot (0-9) pada tiap unsur bauran produk yang telah diperingkatkan oleh konsumen. Nilai 9 adalah unsur yang paling terpenting, nilai 8 adalah untuk unsure bauran produk terpenting kedua, dan begitu seterusnya hingga peringkat 10 yang mendapat bobot 0. Bobot tiap unsur bauran produk dijumlahkan untuk mengetahui unsure bauran produk yang paling berpengaruh dalam kecenderungan peralihan merek handphone yang dilakukan oleh konsumen (mahasiswa).

3.6.3 Uji Korelasi Kanonikal

Uji korelasi dilakukan oleh sekelompok X dan sekelompok peubah Y. peubah X terdiri dari 34 pernyataan yang merupakan penjabaran persepsi konsumen terhadap 10 bauran produk handphone Nokia. Berikut persepsi konsumen (mahasiswa) mengenai bauran produk handphone Nokia : Keanekaragaman diwakili oleh persepsi

handphone Nokia memiliki beragam tipe atau series sesuai dengan keingainan dan kebutuhan konsumen (X1).

Kemasan dan label diwakili oleh persepsi; Kemasan handphone Nokia mampu melindungi produk dari kerusakan fisik (X2), Desain kemasan handphone Nokia menarik(X3), Warna kemasan

handphone Nokia sangat menarik (X4). Bentuk kemasan

handphone Nokia sangat menarik(X5), Bahan kemasan handphone Nokia sangat menarik (X6), Ukuran kemasan handphone Nokia dapat menjawab kebutuhan konsumen (X7), Kemasan handphone Nokia sangat praktis (X8). Kemasan handphone menunjukkan bahwa Nokia adalah handphone bermutu (X9), Tercantum logo Nokia pada kemasan handphone Nokia (X10), Tercantum label model dan nomor seri produk Nokia pada kemasan (X11), informasi (operating system, connectivity, video, memory) pada kemasan lengkap (X12). Merek diwakili oleh persepsi; Nama merek dicantumkan pada kemasan (X13), Merek handphone Nokia memiliki kesan yang positif (X14), Merek handphone Nokia mudah diingat (X15). Merek handphone Nokia mudah diucapkan (X16), Merek handphone Nokia memiliki ciri khas (unik) (X17), Mereknya memperkuat citra produk (X18).

Mutu atau Kualitas diwakili oleh persepsi; handphone Nokia memiliki resolusi layar yang bagus (X 19), handphone Nokia memiliki kualitas suara yang jernih (X20). handphone Nokia memiliki Fitur yang banyak (X21), handphone Nokia memiliki kualitas kamera yang bagus (X22), handphone Nokia menyediakan memori internal yang beragam (X23). Desain diwakili oleh persepsi; handphone Nokia Desain bentuk yang menarik (X24), handphone Nokia Desain warna sesuai yang diharapkan (X25), handphone Nokia memiliki desain keypad yang menarik (X26). Handphone Nokia memeberikan desain aksesoris yang menambah nilai indah pada handphone (X27), handphone Nokia memberikan kesan mewah dan nyaman untuk menggenggamnya (X28). Bentuk diwakili oleh persepsi handphone Nokia memiliki bentuk produk menarik (X29), handphone Nokia bentuk produk proporsional (X30), Ukuran

handphone Nokia telah menjawab kebutuhan konsumen

handphone Nokia menyediakan fasilitas layanan konsumen(X32), Garansi diwakili oleh persepsi handphone Nokia memiliki jaminan garansi atas produknya (X33), Pengemabalian diwakili oleh persepsi adanya penggantian untuk setiap produk yang cacat (X34). Keseluruhan pernyataan yang merupakan indikator persepsi konsumen terhadap bauran produk handphone Nokia (X1-X34). Uji korelasi kanonikal dilakukan dengan menggunakan bantuan SAS 9.1

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1Gambaran Umum Perusahaan

GSM (Global System for Mobile communications) diadopsi sebagai standar Eropa untuk teknologi mobile digital pada tahun 1987. Kualitas panggilan suara yang bagus, roaming internasional dan dukungan untuk pesan teks, berhasil membawa sebuah revolusi untuk mobile global. Pada tanggal 1 Juli 1991, Perdana Menteri Finlandia Harri Holkeri melakukan panggilan pertama di dunia GSM menggunakan handphone Nokia. Dan pada tahun 1992, Nokia meluncurkan ponsel pertama digital genggam GSM, Nokia tipe 1011.

Pada tahun yang sama, Presiden dan CEO Nokia yang baru bernama Jorma Ollila membuat keputusan strategis penting, yaitu: fokus secara eksklusif pada manufaktur ponsel dan sistem telekomunikasi sedangkan usaha karet, kabel dan divisi elektronik yang dulu dirintis secara bertahap dijual. Keputusan strategis Nokia adalah fokus pada sistem telekomunikasi, ditambah dengan investasi awal pada GSM. Pada tahun 1996 dan 2001, omset Nokia meningkat hampir lima kali lipat dari EUR 6,5 miliar EUR 31 miliar.

Misi Nokia cukup sederhana yaitu “Connecting People”. Tujuan Nokia adalah untuk membangun produk ponsel terbaik yang memungkinkan miliaran orang di seluruh dunia untuk menikmati kehidupan yang lebih dari apa yang ditawarkan. Tantangan Nokia adalah dapat bertahan dalam lingkungan yang semakin dinamis dan kompetitif.

Pada ponsel smartphone, Nokia telah membentuk kemitraan strategis dengan Microsoft yang akan merebut kembali pasar ponsel smartphone. Ekosistem Nokia-Microsoft akan memberikan produk berbeda dan inovatif dengan skala yang tidak tertandingi dalam hal luas produk, jangkauan geografis dan identitas merek. Pada ponsel fitur,

strategi Nokia adalah memanfaatkan inovasi dan kekuatan di pasar pertumbuhan untuk menghubungkan lebih banyak orang ke internet dan pengalaman aplikasi. memberikan pengalaman mobile yang menarik dan terjangkau, terutama untuk pasar negara berkembang.

Nokia adalah pemimpin global dalam komunikasi mobile yang produknya telah menjadi bagian integral dari kehidupan orang di seluruh dunia. Setiap hari, lebih dari 1,3 miliar orang menggunakan Nokia mereka untuk menangkap dan berbagi pengalaman, akses informasi.

Struktur Organisasi Nokia

Gambar 4. Struktur Organisasi Nokia Corporate governance

Nokia memiliki tata kelola perusahaan dengan berbagai tujuan dalam pikiran, yaitu: untuk membentuk struktur hak-hak dan tanggung jawab yang tepat dibagikan diantara anggota dewan, manajemen dan pemegang saham, untuk memastikan bahwa kepentingan kedua manajemen dan pemegang saham yang selaras, membuat manajemen bertanggung jawab atas pengelolaan keuangan dengan terus meninjau hasil usaha dan pilihan strategis, menjaga integritas bisnis dan praktek bisnis

yang bertanggung jawab, mempromosikan transparansi bagi para pemegang saham dan pemangku kepentingan lainnya

General meeting of Shareholder

External auditor Board of Directors Internal Audit

Nokia Leadership Team

Gambar 5. Corporate Governance Nokia 4.2 Karakteristik Responden

Karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin didominasi oleh perempuan sebayak 57% atau 57 responden, sedangkan responden berjenis kelamin laki-laki sebanyak 43% atau 43 responden.

Gambar 6. Karakteristik respoden berdasarkan jenis kelamin

Karakteristik responden berdasarkan usia dapat dilihat pada gambar 5. Persentase tertinggi usia responden berada pada rentang usia 21- 22 tahun, yakni sebanyak 53% atau 53 responden. Sementara itu rentang usia 19-20 tahun sebanyak 29% atau 29 responden, lalu usia diatas 22

43%

57%

Jenis Kelamin

Laki-laki Perempuan

tahun sebanyak 11% atau 11 responden. Dan terakhir usia 17-18 tahun sebanyak 7% atau 7 responden.

Gambar 7. Karakteristik responden berdasarkan usia

Persentase terbesar karakteristik responden berdasarkan timpat tinggal: sebanyak 90% atau 90 responden bertempat tinggal di rumah kos, asrama, kontrakan; 9% atau 9 responden tinggal bersama orang tua dan 1% atau 1 responden tinggal bersama teman.

Gambar 8. Karakteristik responden berdasarkan tempat tinggal

Karakteristik responden berdasarkan uang saku per bulan: di bawah Rp. 500.000 sebanyak 11% atau 11 responden; rentang Rp 500.001- Rp 750.000 sebanyak 34% atau 34 responden; rentang Rp 750.001- Rp 1.000.000 sebanyak 31% atau 31 responden; rentang Rp1.000.0001-Rp 1.250.000 sebanyak 11% atau 11 responden; rentang Rp

7% 29% 53% 11% Usia 17-18 tahun 19-20 tahun 21-22 tahun >22 tahun

9%

90%

1%

Tempat Tinggal Keluarga Kos/Kontrak/ Asrama Teman

1.250.001- Rp 1.500.000 sebanyak 9% atau 9 responden dan 2% atau 2 responden yang memiliki uang saku lebih besar dari Rp 1.500.000.

Gambar 9. Karakteristik responden berdasarkan uang saku per bulan Karakteristik responden berdasarkan pengeluaran total per bulan: di bawah Rp 500.000 sebanyak 13% atau 13 responden; rentang Rp 500.001-Rp 750.000 sebanyak 34% atau 34 responden; rentang Rp.750.001-Rp.1.000.000 sebanyak 39% atau 39 responden; rentang Rp 1.000-001 – Rp 1.250.000 sebanyak 7% atau 7 responden; rentang Rp 1.250.001 – Rp 1.500.000 sebanyak 6% atau 6 responden dan 1% atau 1 responden yang jumlah pengeluarannya perbulan lebih besar dari Rp 1.500.000.

Gambar 10. Karakteristik responden berdasarkan jumlah pengeluaran perbulan 11% 31% 36% 11% 9% 2% Uang Saku <= 500.000 500.001-750.000 750.001-1.000.000 1.000.001-1.250.000 1.250.000-1.500.000 >1500.000

13%

34%

39%

7%

6% 1%

Jumlah Pengeluaran <= 500.000 500.001-750.000 750.001-1000.000 1.000.001- 1.250.000

4.2.1 Tabulasi silang antara karakteristik responden terhadap kecenderungan peralihan merek

Selain penjelasan atas lima karakteristik responden tersebut, di bawah ini dilakukan analisis tabulasi silang antara karakteristik responden terhadap kecenderungan peralihan merek yang dilakukan oleh konsumen (mahasiswa), yaitu pertama produk handphone Nokia tidak memenuhi kebutuhan sehingga anda berniat untuk membandingkan produk nokia dengan merek lain, kedua produk handphone Nokia tidak memenuhi kebutuhan sehingga anda berniat untuk beralih menggunakan merek handphone yang lain, ketiga produk handphone Nokia tidak memenuhi kebutuhan sehingga anda merekomendasikan orang lain utuk menggunakan merek lain. Analisis ini menggunakan skala 1 – 5, yaitu dari sangat tidak setuju, tidak setuju, netral, setuju, dan sangat setuju. Tujuannya adalah untuk melihat apakah kecendrungan peralihan merek yang dilakukan oleh konsumen (mahasiswa) memiliki pengaruh terhadap karakteristik konsumen.

Tabulasi silang antara kecenderungan peralihan merek diwakili oleh pernyataan “produk handphone Nokia tidak memenuhi kebutuhan sehingga anda berniat untuk membandingkan produk nokia dengan merek lain” dengan karakteristik responden hasilnya tidak signifikan dengan nilai asymp. Sig (P-value) dari persamaan chi square, likehood ratio dan linear by-linear association lebih kecil dari taraf nyata 10% (0,1). Uraian lebih jelas dapat dilihat pada lampiran 7.

Tabulasi silang antara kecenderungan peralihan merek yang diwakilkan oleh pernyataan “produk handphone Nokia tidak memenuhi kebutuhan sehingga anda berniat untuk beralih menggunakan merek handphone yang lain” dengan karakteristik responden hasil yang signifikan atau dengan nilai asymp. Sig (P-value) dari persamaan chi square, likehood ratio, dan linear by linear association lebih kecil dari taraf nyata 10% (0,1), yaitu uang saku, usia dan tempat tinggal.

Tabel 4. Hasil tabulasi silang antara uang saku dengan beralih merek handphone lain

Uang saku Beralih merek handphone lain Total

2 3 4 5 <=500000 0 8 3 0 11 500001-750000 6 11 9 5 31 750001-1000000 11 11 11 3 36 1000001-1250000 0 5 6 0 11 1250000-1500000 2 5 2 0 9 >1500000 0 2 0 0 2 Total 19 42 31 8 100 Likehood Ratio 0,030

Berdasarkan hasil tabulasi silang di atas, yaitu antara uang saku dengan kecenderungan beralih menggunakan merek handhpone lain, nilai likehood rationya 0,030. Artinya adalah ada hubungan antara uang saku dengan beralih menggunakan merek lain yang dilakukan oleh konsumen (mahasiswa).

Tabel 5. Hasil tabulasi silang antara Usia dengan beralih menggunakan merek handphone lain.

Usia Beralih merek handphone lain Total

2 3 4 5 17-18 tahun 0 4 2 1 7 19-20 tahun 8 6 12 3 29 21-22 tahun 11 23 15 4 53 >22 tahun 0 9 2 0 11 Total 19 42 31 8 100

Pearson Chi- Square 0,078

Tabel 5. Nilai Pearson chi square 0,078. Artinya terdapat hubungan antara usia dengan kecenderungan beralih menggunakan merek handphone lain yang dilakukan oleh konsumen (mahasiswa).

Tabel 6. Hasil tabulasi silang antara tempat tinggal dengan beralih menggunakan merek handphone lain

Tempat Tinggal

Beralih menggunaka

handphone lain Total

2 3 4 5

Keluarga 0 7 1 1 9

Kos/Kontrak/Asrama/

Teman 19 35 30 7 91

Total 19 42 31 8 100

Person chi- square 0,099

Tabel 6. Nilai Pearson chi square 0,099. Artinya terdapat hubungan antara tempat tinggal dengan kecenderungan beralih merek dengan menggunakan merek handphone lain yang dilakukan oleh konsumen (mahasiswa).

Tabulasi silang antara kecenderungan peralihan merek yang diwakili oleh pernyataan “produk handphone Nokia tidak memenuhi kebutuhan sehingga anda merekomendasikan orang lain untuk menggunakan merek lain” dengan karakteristik responden. Hasil yang signifikan atau sama dengan nilai asymp. Sig (P-value) dari persamaan chi square, likehood ratio, dan linear by linear associationnya lebih kecil dari taraf nyata 10% (0,1) adalah usia.

Tabel 7. Hasil tabulasi silang antara usia dengan merekomendasikan

Dokumen terkait