PEMIDANAAN TERHADAP PELAKU MALPRAKTIK MEDIK
D. Penerapan Ajaran Culpa pada Malpraktik Medik
Sikap batin dalam malpraktik medik pada umumnya adalah sikap batin kealpaan (kesalahan dalam arti sempit) yang dalam doktrin dilawankan dengan sengaja (dolus atau opzet), yang dalam rumusan kejahatan undang-undang acapkali ditulis dengan kesalahan (schuld).
Seperti pada rumusan Pasal 351 dan Pasal 360 KUHP yang secara
106 Alfitra, Hapusnya Hak Menuntut & Menjalankan Pidana, Jakarta (Raih Asa Sukses, 2012), hlm. 35
107 Meril Tiameledau, Jurnal Lex Administratum: “Percobaan Sebagai Alasan Diperingankannya Pidana Bagi Pelaku Tindak Pidana Menurut KUHP”, Vol. IV, No. 3, Maret 2016, hlm. 156-157
108 Ibid, hlm.157
konvensional selalu didakwakan JPU atas setiap kasus dugaan malapraktik medik. Meskipun doktrin hukum mengenai kealapaan beragam, namun dapat disimpulkan ke dalam dua ajaran besar, yakni:109
1. Ajaran culpa subjektif;
2. Ajaran culpa objektif.
1. Ajaran Culpa Subjektif
Pandangan ajaran culpa subjektif dalam usahanya menerangkan tentang culpa bertitik tolak pada syarat-syarat subjektif pada diri si pembuat. Untuk mengukur adanya culpa, dalam menilai sikap batin orang sebagai lalai dapat dilihat pada beberapa unsur, yaitu:110
1) wujud perbuatan, alatnya dan cara melakukannya;
2) sifat tercelanya perbuatan;
3) objek perbuatan;
Keharusan untuk menyadari atau membayangkan tentang terlarangnya perbuatan beserta akibatnya merupakan kewajiban hukum tenaga kesehatan, dan bila karena kecerobohannya menyebabkan diabaikannya kewajiban hukum tersebut, maka disini terdapat sikap batin lalai terhadap sifat melawan hukumnya perbuatan.111
Sikap batin lalai terhadap sifat melawan hukumnya perbuatan, adalah sikap batin yang seharusnya menyadari tentang terlarang atau dilarangnya suatu perbuatan. Jika karena keteledorannya, kekurangpengetahuannya, kekurang perhatiannya menyebabkan tidak
109 Chazawi, Adami, Op. Cit, hlm. 79
110 Ibid, hlm. 79
111 Ibid, hlm. 80
sadar (khilaf) bahwa perbuatannya adalah terlarang, yang karena kedudukannya seharusnya menyadari tentang keadaan terlarangnya itu.112
a. Sikap Batin Lalai Pertama
Mengenai sikap batin pertama, seorang melakukan kelalaian terhadap akibat apabila sebelum melakukan perbuatan tidak sedikitpun terdapatnya kesadaran/pemikiran bahwa dari perbuatan yang hendak diwujudkannya dapat menimbulkan suatu akibat yang terlarang. Padahal karena kedudukannya itu. (misalnya dokter) scharusnya memikirkan kemungkinan timbulnya akibat.113
b. Sikap Batin Lalai Kedua
Sikap batin yang kedua, yakni sikap batin lalai mengenai akibat perbuatan, dimana kesalahannya terletak pada sikap batin telah mengindahkan/memikirkan tentang akibat yang dapat timbul, namun karena keadaan-keadaan tertentu yang ada ketika perbuatan hendak diwujudkan (misalnya kepintarannya, pengalamannya, peralatannya atau syarat-syarat objektif lainnya), sehingga timbul kepercayaan bahwa akibat itu "tidak akan timbul". Namun setelah perbuatan diwujudkan, ternyata akibat itu benar-benar terjadi. Jadi dalam hal ini, orang itu telah salah dalam berpikir. Keadaan pikiran yang salah demikian ini disebut dengan kealpaan yang disadari (bewuste culpa).
2. Ajaran Culpa Objektif
112 Ibid, hlm 81
113 Ibid, hlm. 82
Pandangan objektif yang meletakkan syarat lalai dari suatu perbuatan ialah pada kewajaran dan kebiasaan yang berlaku umum.
Pandangan culpa objektif dalam menilai sikap batin lalai pada seseorang, dengan cara membandingkan antara perbuatan pelaku pada perbuatan yang dilakukan orang lain yang berkualitas sama dalam keadaan-keadaan yang sama pula.114
Demikian juga Mahkamah Agung dalam putusan terhadap kasus Dr. Setianingrum. Secara samar telah menganut ajaran culpa objektif.
Terbukti dari pertimbangan hukum yang menyatakan bahwa "dari terdakwa sebagai dokter yang baru berpengalaman kerja selama 4 (empat) tahun yang sedang bertugas di Puskesmas yang serba terbatas sarananya tidaklah mungkin untuk diharapkan melakukan hal-hal yang seperti dikehendaki saksi dr. Imam Parsudi, misalnya melakukan penyuntikan adrenalin langsung ke jantung atau pemberian cairan infus, pemberian zat asam dan lain tindakan yang memerlukan sarana yang lebih rumit".115
Berdasarkan analisis dari sudut yang lain dalam putusan MA dalam perkara Dr. Setianingrum, dapat dilihat dari sudut pertimbangan pada kalimat sebelumnya, ternyata MA juga menganut ajaran culpa subjektif, karena melihat sikap batin culpa dari apa yang telah diperbuat dokter.
Perhatikan pula pertimbangan MA dalam kasus itu yang menyatakan:
"bahwa ...., Mahkamah Agung menyimpulkan tindakan terdakwa menanyakan kepada pasiennya apakah sudah pernah mendapatkan
114 Ibid, hlm. 83
115 R. Soeparmono, Keterangan Ahli & Visum et Repertum Dalam Aspek Hukum Acara Pidana, Bandung (Mandar Maju, 2011), hlm. 292
suntikan streptomycin dan kemudian berturut-turut memberikan suntikan cortizon, delladryl dan adrenalin setelah melihat tanda-tanda penderita mengalami alergi terhadap streptomycin... " Dari pertimbangan ini sebenarnya MA hendak menerangkan ada tidaknya sikap batin culpa pada diri dokter dengan melihat apa yang telah diperbuat dokter. Di sini MA menerangkan tentang apa yang telah diperbuat dokter. Jadi tampak MA juga secara samar mengikuti ajaran culpa subjektif.116
Meskipun dasar pendekatan sama dari sudut ajaran subjektif, namun pada kesimpulan akhir mendapatkan putusan yang berbeda dengan putusan judex facti. Perbedaan ini dapat dimengerti sepenuhnya, karena stressing perbuatan yang menjadi ukuran adanya sikap batin lalai berbeda antara dua judex facti dengan MA. Pengadilan Negeri dan Pengadilan Tinggi menilai sikap batin pada perbuatan atau perlakuan terapi (yang dinilai salah) ialah pada perbuatan memberikan suntikan streptomycin pada pasien. Adapun MA menilai sikap batin culpa dari apa yang diperbuat setelah perlakuan terapi penyuntikan dengan streptomycin.
Kedua tingkat judex facti mempertimbangkan dengan menilai pada langkah terapi in casu memberikan suntikan streptomycin pada pasien.
Sebaliknya judex jurist menilai dan mempertimbangkan pada apa yang dilakukan terdakwa untuk menghindari akibat kematian yang gejala-gejala menuju kearah kematian pasien timbul akibat dari kesalahan perlakuan terapi tadi dapat dibenarkan (berdasarkan kondisi Rumah Sakit dan kondisi Tenaga Kesehatan yang baru berpraktik). Jadi objek pertimbangan atau
116 Ibid, hlm. 291
apa yang dipertimbangkan sangat berbeda. Tentu saja hasil penilaian akan berbeda pula.117
E. Penerapan Pasal 351, 359, 360, 344, 346, 347, dan 348 KUHP Pada