• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penerapan Aspek-aspek GRP

Praktik Kerja

1. Penerapan Aspek-aspek GRP

a. Penguasaan Pengetahuan oleh Karyawan

Pengetahuan seputar produk pangan segar dan cara penanganannya diperoleh karyawan dari berbagai seminar dan pelatihan. Kegiatan ini diselenggarakan oleh manajemen Hero Supermarket dan sesekali bekerjasama dengan pemasok atau produsen produk pangan segar, serta pemerintah melalui Kementerian Pertanian dan Kementerian Perikanan dan Kelautan. Sedangkan, informasi mengenai peluang pasar, perkembangan usaha ritel, ketentuan persyaratan produk dan aktivitas penjualan di industri ritel, serta regulasi terkait perdagangan bekerjasama dengan Kementerian Perdagangan dan Aprindo (Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia). Waktu pelaksanaan seminar dan pelatihan tidak terbatas oleh waktu tertentu atau bersifat fleksibel.

Seminar dan pelatihan juga menjadi wadah bagi karyawan untuk meningkatkan keahlian teknis terkait proses persiapan dan penyajian produk pangan segar untuk memuaskan kebutuhan konsumen. Untuk menilai keberhasilan penguasaan materi pelatihan, karyawan wajib menjalani serangkaian tes di akhir kegiatan pelatihan. Hasil tes akan disampaikan kepada manajer gerai di tempat karyawan bekerja dan menjadi pertimbangan dalam menilai kinerja karyawan sehari-hari. Karyawan yang telah lulus uji akan memperoleh sertifikat dari pihak penyelenggara pelatihan yang kebanyakan adalah pihak manajemen Hero Supermarket. Namun, hal ini dianggap belum memenuhi persyaratan menurut ABC Retail Food Inspection Guide. Sertifikat yang ada kurang dapat menjamin profesionalisme karyawan untuk menerapkan GRP karena status sertifikasi tidak memberlakukan mekanisme audit dan perbaharuan dalam jangka waktu tertentu. Untuk menilai kekonsistenan karyawan dalam menerapkan GRP, manajemen Hero Gatsu menerapkan sistem audit internal.

b. Kesehatan Karyawan dan Praktik Higiene

Manajemen Hero Gatsu sangat memperhatikan kondisi kesehatan para karyawan untuk menjaga kemungkinan tersebarnya bibit penyakit ke karyawan lain, peralatan, atau makanan. Selama bekerja, karyawan tidak memperoleh pengecekan kesehatan secara berkala dari pihak manajemen secara langsung. Karyawan yang diketahui mengidap suatu penyakit, baik menular maupun tidak, serta yang menderita luka terutama pada bagian yang mudah terpapar udara diizinkan untuk tidak bekerja. Kesehatan karyawan merupakan tanggung jawab semua pihak. Selain kesehatan karyawan, praktik higiene berperan penting pada mutu

keseluruhan produk pangan segar secara mikrobiologi. Praktik higiene meliputi upaya karyawan menjaga kondisi higiene selama bekerja dan ketaatan para karyawan untuk menggunakan seragam beserta atribut pelengkap sesuai kebutuhannya masing-masing (Gambar 9). Penggunaan atribut seperti masker, sarung tangan, topi atau hair net, apron (celemek), dan sepatu plastik perlu dilakukan untuk menghindari kontaminasi silang antara tubuh karyawan dengan peralatan dan produk. Hero Gatsu tidak menyediakan masker bagi para karyawan.

Kebiasaan karyawan yang berpotensi mengkontaminasi peralatan dan produk pangan antara lain makan, minum, dan merokok di sekitar area penanganan produk. Aktivitas makan dan minum di area “rawan kontaminasi” masih sering dilakukan oleh karyawan. Walaupun termasuk bentuk pelanggaran minor atau tidak menyebabkan bahaya kesehatan secara signifikan, namun apabila kebiasaan ini terus dilakukan dapat menimbulkan persepsi negatif bagi para pelanggan yang datang berbelanja. Selain itu, kebiasaan karyawan mengganti pakaian di dalam toilet atau tidak melepas apron dan sepatu kerja saat ke toilet semakin memperparah kemungkinan kontaminasi silang ke produk. Hal ini terjadi karena Hero Gatsu belum menyediakan fasilitas khusus untuk tempat mengganti pakaian kerja karyawan.

Gambar 9. Pakaian Kerja Karyawan

Dari semua sumber kontaminasi, karyawan merupakan sumber kontaminasi terbesar. Karyawan yang tidak mengikuti praktik-praktik higiene dapat mengkontaminasi produk yang mereka sentuh. Mikroba yang berasal dari karyawan dapat berupa mikroba pembusuk dan mikroba patogen yang terbawa pada saat bekerja dan dari lingkungan sekitar. Tangan, rambut, hidung, dan mulut merupakan “gudang” mikroba yang dapat ditransfer ke produk selama pengemasan, persiapan, dan penyajian melalui kontak langsung, serta aktivitas seperti bernapas, batuk, dan bersin. Suhu tubuh manusia yang hangat merupakan salah satu faktor penyebab mikroba berkembang biak dengan cepat dan diperparah dengan kurangnya penerapan praktik-praktik higiene. Jika setiap orang yang menangani makanan dapat menjalankan praktik higiene dengan baik, maka kontaminasi makanan juga dapat diminimalkan (Marriott dan Gravani 2006).

Penerapan praktik higiene yang ada selama ini sedikit menggambarkan pengetahuan karyawan mengenai higiene makanan dan keterkaitannya dengan keamanan pangan. Sebagai contoh, karyawan yang menangani produk perikanan segar kurang mempedulikan praktik

higiene dibandingkan karyawan pada produk daging. Padahal kedua jenis produk tersebut tergolong PHF sehingga sangat mudah mengalami kerusakan fisik maupun mikrobiologi. Dari hal ini dapat disimpulkan bahwa pengetahuan karyawan kurang memadai mengenai karakteristik produk pangan segar.

c. Pencegahan Kontaminasi oleh Tangan

Fasilitas cuci tangan berupa wastafel yang dimiliki Hero Gatsu sudah cukup memadai. Wastafel disediakan di setiap area persiapan produk pangan segar. Masing-masing wastafel dilengkapi oleh sabun antiseptik dan pasokan air bersih yang mengalir lancar. Sarana pengering tangan belum tersedia dengan baik. Hal ini memungkinkan karyawan menggunakan pakaian yang dikenakannya untuk mengeringkan tangan. Fasilitas cuci tangan yang baik diperlukan untuk mendukung kondisi yang saniter saat proses penanganan produk dan higiene karyawan.

Sarung tangan yang digunakan karyawan Hero Gatsu bersifat “sekali pakai” (single- use) sehingga penggunaannya hanya terbatas pada waktu tertentu saja, seperti saat akan melayani konsumen. Divisi yang telah menerapkan penggunaan sarung tangan yang baik adalah divisi yang menangani produk daging (Meat-Delicatesen), sedangkan divisi produk perikanan (Fish) dan hortikultura segar (Produce) masih kurang konsisten dalam penggunaan sarung tangan ini. Penggunaan sarung tangan oleh Divisi Fish yaitu pada saat penataan es di atas room showcase, sedangkan Divisi Produce yaitu pada saat mempersiapkan produk buah durian prepackaged. Praktik yang baik sebenarnya sudah ditunjukkan oleh beberapa karyawan di semua divisi, namun karena tidak diterapkan oleh seluruh karyawan, maka parameter ini dinilai sebagai pelanggaran mayor.

Salah satu cara pencegahan kontaminasi silang, yaitu dengan menjaga kebersihan tangan sebelum memulai pekerjaan. Tangan yang kotor merupakan agen pembawa mikroorganisme patogen yang menyebabkan penyakit asal pangan (Marriott dan Gravani 2006). Menurut California Retail Food Code (2011), sabun pencuci tangan harus mengandung 100-200 mg/l senyawa klorin atau 200-300 mg/l amonia kuartener.

d. Hubungan antara Waktu dan Suhu

Kegiatan pengendalian suhu sudah dilakukan pada saat produk pangan segar didistribusikan ke Hero Gatsu. Penggunaan fasilitas pendingin tergantung dari kemampuan pemasok atau distributor. Dari hasil pengamatan, tidak ada perbedaan suhu antara produk hortikultura dan hewani segar selama proses distribusi. Suhu yang digunakan berkisar antara (-5)-00

C. Pertimbangannya adalah para pemasok atau distributor mengirim produk hewani segar sudah dalam kondisi beku dan disimpan dalam kontainer yang berisi es untuk mencegah penurunan suhu secara drastis. Selama proses penerimaan, karyawan diharuskan memantau suhu produk dengan termometer. Namun, praktik ini belum berjalan dengan baik karena pemantauan suhu hanya tertuju pada kendaraan pengangkut produk. Lama proses penerimaan juga tidak boleh melebihi 15 menit agar suhu produk tidak semakin meningkat. Walaupun proses penerimaan diatur secepat mungkin, kegiatan pencatatan waktu tidak dilakukan oleh karyawan sehingga tidak dapat dipastikan apakah proses telah melebihi waktu 15 menit atau tidak. Pengendalian suhu produk pangan merupakan praktik kritis dalam menjaga keamanan pangan. Semua produk pangan berpotensi ditumbuhi mikroorganisme pada kisaran suhu tertentu, terutama yang termasuk ke dalam danger zone, yaitu 4.4-600C (Keller 2000).

e. Perlindungan terhadap Kontaminasi

Pengendalian mutu dilakukan setiap harinya di lokasi penempatan produk. Obyek pengecekan tertuju pada kondisi produk (meliputi tanggal kadaluarsa dan sifat organoleptik, seperti visual dan aroma), bahan penunjang, dan peralatan atau perlengkapan yang kontak langsung dengan produk. Kerusakan produk akibat reaksi kimia dan pertumbuhan mikroorganisme dapat memicu kerusakan di bagian lainnya. Karena itu, produk “rusak” tidak boleh diletakkan bersamaan dengan produk bermutu baik. Produk “rusak” hasil penyortiran pada saat persiapan dan pemajangan, dicatat sebagai produk broken stock. Semua proses telah terekam dan terpantau dengan baik oleh supervisor di masing-masing divisi.

Es sebagai media pendingin produk pangan segar, seperti produk perikanan berasal dari sumber air bersih dan bersifat sekali pakai. Selain itu, kemasan pangan yang kontak langsung dengan produk siap konsumsi (ready to eat) harus bersih dan bersifat food grade. Sebelum digunakan, kemasan sebaiknya masih terbungkus rapi agar tidak terpapar oleh kontaminasi lingkungan luar.

Peralatan atau perlengkapan yang kontak dengan produk dibersihkan dan disanitasi secara rutin sebelum digunakan. Peralatan yang dimiliki oleh Hero Gatsu bersifat otomatis dan semi otomatis. Peralatan yang bersifat otomatis adalah ice maker machine dan yang bersifat semi otomatis antara lain meat slicer, meat grinder, meat-bone saw, dan mesin vacuum packaging. Umumnya, peralatan atau perlengkapan terbuat dari stainless steel dan bahan plastik yang kuat. Jadwal pembersihan dan sanitasi alat terutama pisau untuk memotong buah dan trimming sayuran belum terlaksana dengan baik. Kesadaran karyawan terutama Divisi Produce masih dirasa kurang terkait pentingnya sanitasi peralatan atau perlengkapan yang kontak langsung dengan produk.

f. Produk Pangan dari Sumber yang Telah Disetujui

Produk pangan segar terdiri dari produk utuh dan yang telah dikemas menjadi produk olah minimal atau produk prepackaged. Produk yang dijual harus memenuhi standar mutu atau spesifikasi yang berfungsi sebagai parameter kelayakan jual. Standar mutu bertujuan untuk menjaga keseragaman mutu, memenuhi permintaan konsumen, melancarkan aktivitas penjualan, dan meningkatkan status keamanan dan kesehatan produk pangan (Muhandri dan Kadarisman 2008). Seluruh karyawan menjadikan mutu produk sebagai prioritas utama.

Kegiatan pembelian produk dapat dilakukan oleh manajemen Hero Supermarket melalui Divisi Merchandising dan pihak Hero Gatsu. Terdapat tiga tipe produk berdasarkan cara pembeliannya, yaitu tipe A, tipe B, dan tipe C (Tabel 9). Semua aktivitas pembelian produk memiliki catatan atau recording yang baik. Recording membantu dalam pengambilan keputusan terkait pemesanan jenis dan jumlah produk selanjutnya.

Seluruh audit pemasok atau distributor produk pangan segar dilakukan saat produk berada di HSDC, yaitu gudang terbesar milik Hero Supermarket. Audit ini dibawah pengawasan pusat Divisi Merchandising Hero Supermarket yang sekaligus menetapkan standar mutu. Standar mutu dititikberatkan pada penampakan fisik produk, praktik budidaya yang baik oleh para produsen, dan praktik penanganan produk pangan yang baik oleh para pemasok atau distributor. Produk hortikultura segar mendapat pengawasan ketat terkait penggunaan pestisida atau insektisida selama proses pembudidayaan. Produk daging telah dilengkapi dengan sertifikat halal dari LPPOM MUI dan pernyataan yang menunjukkan hewan dalam kondisi sehat dan bebas dari penyakit berbahaya. Manajemen Hero

Supermarket juga mengadakan kunjungan ke beberapa pemasok atau distributor untuk melihat langsung prosedur penanganan produk selama produksi primer.

Terkadang masih dijumpai produk yang tidak memenuhi standar mutu yang dikirim oleh pemasok atau distributor. Keputusan penolakan atas penerimaan produk menjadi hak sepenuhnya manajemen Hero Supermarket karena kasus ini dapat mengakibatkan kerugian secara finansial dan hilangnya kepercayaan konsumen terhadap mutu terbaik yang ditawarkan oleh Hero Supermarket.

Tabel 9. Tipe Produk Pangan Segar berdasarkan Cara Pembelian

Tipe Pembelian A Produk dipesan langsung oleh Divisi Merchandising Hero Supermarket.

Kemudian data pesanan akan dikirim kepada pemasok atau distributor (HSDC). Setelah prosedur pembelian terpenuhi, produk pesanan langsung dikirim ke Hero Gatsu dan dilakukan pendataan sebagai bukti penerimaan produk.

B Produk dipesan oleh pihak Hero Gatsu kepada Hero Supermarket. Kemudian data pesanan akan dikirim kepada pemasok atau distributor (HSDC). Setelah prosedur pembelian terpenuhi, produk pesanan langsung dikirim ke Hero Gatsu dan dilakukan pendataan sebagai bukti penerimaan produk.

C Produk dipesan oleh pihak Hero Gatsu langsung kepada pemasok atau distributor (HSDC). Setelah prosedur pembelian terpenuhi, produk pesanan langsung dikirim ke Hero Gatsu dan dilakukan pendataan sebagai bukti penerimaan produk.

g. Kesesuaian dengan Prosedur yang Telah Disetujui

Hero Gatsu belum mengajukan rencana HACCP (HACCP plan) dan ISO 9001, sehingga persyaratan standar keamanan pangan terbatas pada SOP internal. Seluruh prosedur baku kegiatan operasional gerai tertuang dalam SOP Hero Supermarket. Macam-macam SOP terkait penanganan produk pangan segar antara lain:

Š Fresh Receiving: prosedur penerimaan produk dari pemasok atau distributor. Fresh Ordering berisi prosedur pemesanan produk ke pemasok atau distributor.

Š Hygiene dan Sanitation of Fresh Product: prosedur panduan praktik higiene dan sanitasi karyawan maupun peralatan selama berkerja.

Š Broken Stock Control:prosedur pengendalian produk “rusak”.

Š Prepacked Fresh Product: prosedur pembuatan produk pangan segar menjadi produk prepackaged.

h. Pemberitahuan Konsumen

Pemberitahuan konsumen wajib diberikan terkait produk yang bersifat Potentially Hazardous Food (PHF). Produk PHF mencakup produk pangan segar, produk setengah matang, dan produk siap saji. Hero Gatsu menjual produk siap saji yang tergolong PHF, yaitu batagor dan burger. Keduanya menggunakan produk pangan segar sebagai bahan baku

utama. Informasi umumnya disampaikan langsung oleh karyawan mengenai tingkat kematangan produk setelah proses pemasakan. Pemasakan produk siap saji harus benar-benar matang atau disesuaikan dengan permintaan konsumen.

Sebagian besar produk pangan segar yang dibeli Hero Supermarket bersifat curah. Label produk hanya tertera pada kemasan karton yang disediakan oleh produsen, pemasok, atau distributor. Karena itu, label didesain sendiri oleh Hero Supermarket untuk mempermudah dalam pengecekan kesegaran produk dan sistem pembayaran. Label tidak mudah luntur atau hilang. Hal terpenting adalah melalui label konsumen dapat mengetahui umur produk dan batas pengkonsumsian yang baik.

i. Ketersediaan Air

Sarana penyediaan air bersih berupa kran-kran yang terhubung oleh saluran air PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum) Propinsi DKI Jakarta. Pengaliran air bersifat kontinu supaya tidak menimbulkan kondisi kekurangan air. Apabila terjadi hambatan dalam penyaluran air, maka seluruh kran mati dan tidak ada sumber air pengganti untuk keperluan konsumsi karyawan, kegiatan operasional, dan pencucian peralatan proses.

Air bersih digunakan untuk berbagai keperluan karyawan dan proses penanganan produk pangan. Fasilitas penyediaan air bersih tidak dilengkapi air panas dan air hangat. Air panas dibutuhkan untuk proses sanitasi peralatan pangan, sedangkan air hangat untuk keperluan cuci tangan. Ketidaktersediaan air panas ini menjadi faktor signifikan yang menyebabkan terjadinya pelanggaran mayor. Air bersih tidak dapat dikonsumsi langsung atau tidak bersifat potable sehingga perlu proses pemanasan lanjut. Standar air minum yang aman tercantum dalam SNI 01-3553-2006. Syarat air bersih yang dijadikan media pendingin produk perikanan (es) tercantum dalam SNI 01-4872.2-2006.

j. Pembuangan Limbah

Program pengelolaan buangan atau sampah merupakan hal terpenting dalam upaya pemeliharaan kebersihan lingkungan gerai. Produk pangan segar yang termasuk kategori broken stock (mencakup produk cacat, tidak layak jual, tidak layak konsumsi atau kadaluarsa, serta sisa hasil trimming dan proses persiapan) akan ditimbang dan dihancurkan terlebih dahulu secara manual sebelum dibuang ke tempat sampah. Proses pembuangan sampah wajib melaporkan berita acara pemusnahan barang rusak atau broken stock dan disaksikan oleh supervisor Divisi Receiving and Storage, petugas keamanan atau security, dan manajer gerai.

Produk broken stock merupakan sampah yang bersifat organik, sehingga mengalami pembusukan dengan cepat. Karena itulah, pengelolaan sampah dilakukan setiap dua kali sehari agar tidak menimbulkan bau yang kurang sedap dan menjadi sumber pencemaran bagi produk dan lingkungan. Limbah cair yang dihasilkan merupakan limbah rumah tangga, sehingga tidak diperlukan penanganan khusus dan dapat langsung dialirkan ke saluran pembuangan umum (selokan).

k. Pencegahan dan Pengendalian Hama

Hama yang umum ditemui di dalam gerai adalah serangga (lalat, kecoa, ordo Lepidoptera atau sejenis kutu, dan ordo coleoptera atau sejenis kupu-kupu) dan hewan pengerat (tikus). Upaya pencegahan hadirnya lalat dan serangga yaitu dengan pemasangan insect killer lamp di sekitar area persiapan produk, terutama produk daging dan perikanan. Penyemprotan insektisida sesekali dilakukan sebagai bentuk pengendalian hama di sekitar

lokasi produk hortikultura segar. Pencegahan hama tikus dilakukan dengan menutup semua lubang-lubang yang menjadi tempat keluar masuknya tikus dari luar area gerai. Hama tikus dan serangga cukup sulit dikendalikan akibat upaya pencegahan yang kurang maksimal dari segi kondisi bangunan. Penyebab utamanya adalah desain dan konstruksi bangunan yang masih bisa dilalui hama tikus dan jumlah insect killer lamp yang sangat terbatas.

l. Tindakan Supervisi

Karyawan termasuk supervisor disebut Person in Charge (PIC). PIC dituntut untuk menguasai pengetahuan produk, cara penanganan, dan cara penggunaan peralatan proses yang baik dan benar. Masing-masing divisi produk pangan segar di Hero Gatsu harus dijaga minimal oleh satu orang PIC. Pelanggaran yang kerap dilakukan PIC Divisi Meat- Delicatesen dan Divisi Fish adalah tidak selalu berada pada lokasi tugasnya pada saat jam kerja. Akibatnya, proses penanganan produk dan peralatan proses tidak terkendali dengan baik dan konsumen kesulitan untuk mendapatkan pelayanan saat berbelanja. Namun hal ini masih dapat ditangani oleh karyawan lain yang bertugas di divisi lain.

m. Kebersihan Personal

Kebersihan personal menjadi perhatian penting manajemen Hero Gatsu karena mencerminkan mutu pelayanan yang prima. Praktik yang dilakukan seluruh karyawan sebelum bekerja antara lain mandi, membersihkan rambut, dan memotong kuku yang mulai panjang atau kotor. Karyawan pria mencukur kumis dan jenggot agar terlihat lebih rapi. Pakaian dan perlengkapan kerja wajib terjaga kebersihannya dari noda sisa makanan, tanah, dan kotoran lain yang melekat. Selain mengurangi risiko kontaminasi silang, semua praktik tersebut dapat memberikan kenyamanan bagi karyawan lain dan pelanggan tentunya.

n. Persyaratan Umum Keamanan Pangan

Produk pangan segar beku yang telah disimpan dalam freezer cukup menyulitkan proses persiapan. Teksturnya yang padat dan keras tidak diperbolehkan langsung dijual kepada konsumen. Untuk itu, perlu perlakuan thawing untuk mengembalikan tekstur awal produk. Proses thawing berada pada suhu refrigerasi dan waktu yang dibutuhkan tidak lebih dari dua jam. Pembekuan dan pencairan yang berulang-ulang terhadap buah-buahan, sayuran, makanan olahan, es krim, ikan, dan unggas dianggap sangat merugikan (Desrosier 1988). Menurut FDA (2005), produk yang berpotensi bahaya tidak boleh didiamkan selama lebih dari empat jam pada suhu danger zone.

Keragaman produk pangan segar menuntut karyawan melakukan upaya perlindungan menurut karakteristik masing-masing jenis produk. Berbagai upaya dilakukan untuk menghindari risiko bahaya keamanan pangan. Karyawan melakukan pemisahan produk berdasarkan jenisnya agar tidak terjadi kontaminasi silang. Penempatan produk dilakukan minimal 6 inchi dari permukaan lantai. Produk perikanan segar tidak boleh direndam dalam potongan es terlalu lama untuk mencegah kerusakan dingin. Berbeda halnya dengan produk hortikultura dan daging segar. Perendaman di dalam potongan es dapat menyebabkan terserapnya air ke dalam produk, sehingga praktik penggunaan es tidak diperbolehkan.

Hero Gatsu menawarkan produk olah minimal dari buah-buahan segar. Beberapa produk, seperti mangga, apel, melon, dan papaya dicuci terlebih dahulu sebelum proses pengupasan. Pencucian menggunakan air bersih bertujuan untuk menghilangkan kotoran dan bahan kimia yang melekat pada kulit buah. Bagi produk yang mudah mengalami reaksi

pencoklatan enzimatis, dilakukan perendaman dengan larutan garam sekitar 20 menit. Menurut FDA (2009), air yang kontak langsung dengan produk pangan siap konsumsi harus bersifat potable. Namun kenyataannya, air yang digunakan dalam proses persiapan hanya sebatas air bersih dan tidak bersifat potable. Setelah pencucian atau perendaman, produk diletakkan dalam wadah stirofoam bersih dan dikemas dengan plastik polietilen elastis (produk prepackaged).

Selain produk, penggunaan dan penyimpanan bahan-bahan toksik dan berbahaya menjadi perhatian serius seluruh karyawan. Masing-masing bahan dikemas dalam wadah tertutup dan diberi label dengan jelas. Bahan toksik dipisahkan dari seluruh area penanganan produk pangan segar dan disimpan dalam lemari-lemari tertutup. Praktik ini sudah cukup efektif untuk menghindari kemungkinan bahan-bahan berbahaya masuk ke dalam produk pangan secara tidak sengaja. Bahan yang digunakan karyawan terdiri dari cairan sanitasi, desinfektan, dan bahan insektisida (Tabel 10).

Tabel 10. Jenis Bahan Toksik yang Digunakan oleh Hero Gatsu

No. Nama Produk Fungsi

1. Break Up Pembersih bekas lemak dan nabati permukaan benda keras 2. New Stream Larutan khusus pencuci peralatan dapur

3. J-80 Sanitiser Larutan sanitasi untuk menghilangkan mikroorganisme dari permukaan yang berhubungan dengan pemrosesan makanan

4. Befresh non parfume Sabun cair pencuci tangan

5. Glance glass cleaner Larutan siap pakai pembersih untuk kaca 6. Go Getter Cairan untuk pembersih toilet

7. Brite plus lemon Pembersih lantai dengan aroma lemon, mengandung desinfektan

8. Bold Cairan untuk membasmi lalat

o. Penyimpanan pangan, Pemajangan, atau Pelayanan 1) Penyimpanan

Gudang penyimpanan bahan baku yang dimiliki oleh Hero Gatsu sudah cukup memenuhi persyaratan yang diperlukan dalam proses penyimpanan produk pangan segar. Penyimpanan produk hortikultura segar yaitu di gudang dingin atau chiller yang terisolasi dengan konstruksi lantai, dinding, dan atap terbuat dari alumunium. Chiller berukuran 3x3 m2 dan bersuhu 00C. Gudang beku atau freezer yang masing-masing berukuran 2x3 m2 digunakan untuk menyimpan produk perikanan bersuhu -250C, sedangkan produk daging bersuhu -350C.

Gudang berperan penting dalam menjaga mutu dan kesegaran produk pangan

Dokumen terkait