BAB III METODOLOGI PENELITIAN
B. Mahar Da‟i dalam Surat Yâsin Ayat 21
3. Penerapan Hermeneutika Double Movement Terkait Tafsir
“kan datang hari-hari saat kamu masih bodoh.
Pada hari-hari itu akan sampai kepadamu berita-berita tentang orang-orang yang tidak mencari bekal”.
Melaui penafsiran diatas, dapat dipahami bahwa dalam menafsirkan ayat al-Quran, Syekh Hamami cenderung lebih sering menggunakan peran ketokohan Nabi Muhammad SAW, sahabat, dan tabi‟in sebagai rujukan dan tolak ukur kebenaran penafsirannya. Dengan kata lain, ia menghindari pendapat-pendapat selain pendapat-pendapat tokoh-tokoh yang dekat dengan Nabi Muhammad SAW, kecuali dalam beberapa tempat ia menggunakan syair untuk menguatkan penjelasannya.
3. Penerapan Hermeneutika Double Movement Terkait Tafsir Hamami
53
menggabungan antara riwayat naqli dan kemampunnya mengolah hukum aqliyah yang dihasilkan dari pikirannya. Ketika menjelaskan mengenai upah seorang pendakwah ia mengutip riwayat dari Qatadah mengenai sorang sahabat yang mendeklarasikan kerosulan Nabi Muhammad SAW di gua Hira dan mendapatkan pertentangan dari kaumnya yang menganggap ia telah keluar dari ajaran leluhurnya dan telah berpaling pada ajaran Rosulullah SAW, terlebih kaum tersebut meminta jaminan imbalan dari risalah kerosulan Nabi Muhammad SAW. Kemudian setelah menjelaskan riwayat Qatadah tersebut, Syekh Hamami menjelaskan pendapatnya yang menyatakan bahwa ia bertauhid pada Dzat yang telah menciptakannya dan akan membalas segala kebaikan seseorang kelak di akhirat. Sikap kritis Syekh Hamami mengenai satu perstiwa tidak lantas dimakan mentah-mentah lewat pemikirannya sendiri, namun juga melalui riwayat dan referensi dari berbagai pendapat sebelumnya, baru kemudian ia memberikan kesempatan ra‟yu-nya mengenai hukum tersebut.
Kedua, „lingkaran hermeneutika‟. Sebelum melangkah pada taraf lingkaran hermeneutik dalam memahami teks, prasangka hermeneutik harus terlebih dahulu dilalui untuk memperoleh teks yag kritis. Kemudian ia akan masuk pada tahap lingkaran hermeneutik untuk “mengerti”. Selanjutnya, untuk mencapai pengertian tertentu, seseorang harus bertolak dari pengertian.54 Misalnya untuk mengerti pada suatu teks, maka seseorang
54 Kaelan, M.S, Filsafat Bahasa Masalah dan Perkembangannya (Yogyakarta: Paradigma: 1998), 208.
harus memiliki bekal pra-pengertian atau pengertin awal tentang teks yang akan dimengerti.
Step ini menjadi tahap yang paling fundamental. Lingkaran ini menandai eksistensi masnusia sendiri dalam “mengerti”. Mengerti alam semesta hanya munkin diketahui jika terdapat pra-pengertian tentang alam semesa dan diri seseorang sendiri, sehingga mewujudkan eksistensi diri seseorang itu. Ketika kedua bekal Gadamer ini diinterpretasika pada dunia penafsiran al-Qur‟an, maka seorang mufassir akan memeprsiapkan sejumlah prasangka sebelum memasuki lingkaran pemahaman teks yang sesuangguuhnya. Hamami Zadah sebagai contoh kecil melalui karya monumentalnya Tafsir Yasin yang telah populer dan banyak dikaji oleh para ilmuan, akademisi terutama orang-orang pesantren sampai sekarang menandakan kemampuannya memahami teks Arab dan ilmu Tafsir sangat mumpuni dan bisa dipertanggung jawabkan. Ketika menafsirakan ayat 21 sampai 22 tentang upah seorang da‟i tidak lantas ia akumulasikan satu ayat secara bersamaan, namun ia berusaha mensirkan kalimat per-kalimat yang menurutnya perlu dan harus dijelaskan maknanya. Ketika menjelaskan hukum upah dalam berdakwah sebagai implementasi sepenggal ayat terakhir 21 surat Yasin lewat riwayat naqli yang ia peroleh, kemudian ia menjelaskan sepenggal ayat 22 yakni “ي َ ز ط فَي ذَّناَ د ب ع أَ لاَ ي نَا ي و” dan ditutup dengan penjelasan ayat penutup 22; “َ ٌى ع ج ز تَ ه ي ن إ و”.
Ketiga, „Aku-Engkau menjadi Kami‟. Menurut Gadamer, konsep dialog seperti dialog seseorang dengan teks akan dinilai sebagai dialog yang
55
produktif jika formulasi subjek-objek “aku-engkau” telah hilang dan melebur menjadi “kami”.55 Sedapat munkin dalam memahami sebuah teks bagaikan upaya memahami dan menghayati sebuah festival yang menuntut apresiasi dan partisipasi, sehingga pokok pembahasan itu sendiri hadir pada pembaca, bukan lagi kesadaran antara subjek dan objek. Keduanya melebur menjadi satu. Pemahaman Syekh Hamami sebagai refleksi pemahaman teks Aku-Kamu menjadi Kami tergambar dalam penjelasannya pada ayat “َ ه ي ن إ و
َ ٌى ع ج ز ت”, di mana ia mendeskripsikan secara umum sebagai umat manusia yang beriman kepada Tuhan bahkan di luar keimanannya kepada Allah SWT, akan dibalas perbuatannya di yaum al-ba‟ats sebagai balasan dan timbal balik terhadap apa yang telah dilakukan di dunia. Ketika seseorang itu baik, maka ia akan mendapat pertolongan dari Allah SWT, begitu juga sebaliknya. Syekh Hamami tidak hanya mejadi “aku” sebagai pembaca teks yang mejelaskan dan menafsirkan surat Yasin ayat 21, namun ia juga berusaha menjadi “kamu” sebagai teks itu sendiri bahwa segala perbuatan yang kita lakukan akan ada balasannya, baik itu di dunia terlebih kelak di akhirat. Begitulah sunnatullah.
Keempat, „hermeneutika dialektis‟. Menurut Gadamer, setiap pemahaman seseorang merupakan perkara yang bersifat historis, peristiwa dialektis dan peristiwa kebahasaan. Karena itu akan terbuka peluang pemahaman hermeneutika yang lebih luas. Selanjutnya, hermenautika berkaitan dengan pengalaman, bukan hanya pengetahuan; akan senantiasa
55 Komaruddin Hidayat, Bahasa Agama: Sebuah Kajian Hermeneutika (Jakarta: Paramadani), 150.
berkaitan dengan dialektika, bukan metodologi. Metode menurutnya bukan merupakan jalan dan sarana untuk mencapai kebenaran. Kebenaran akan mengelak jika berporos pada metodologi. Gadamer memberi jalan terang bahwa dialektika menjadi sarana untuk melampaui kecenderungan metode yang memprastrukturkan kegiatan ilmiyah seseorang. Metode tidak mampu mengimplisitkan kebenaran yang sudah implisit di dalam metode.
Hermeneutika dialektis membimbing manusia untuk menyingkap hakikat kebenaran, serta menemukan hakikat realitas segala hal yang berkaitan dengannya secara benar dan realistis.56 Melalui dialetika ini, akan muncul penalaran yang terdiri dari tesis (pengiyaan), antithesis (pertentangan) dan sistesis (peyusunan) atau pergerakan dinamis menuju proses dan hasil terhadap peristiwa. Dalam kasus penafsiran Syekh Hamami Zadah tentang upah seorang da‟i dalam surat Yâsin ayat 21 melalui riwayat yang dikutipnya sangat jelas bahwa tidak sepatutnya seseorang mehgharap atau bahkan mematok harga dengan nominal tertentu dalam berdakwah. Pada pemaknaan yang berbeda. Para ulama mutaakhirain memperbolehkan adanya upaha terhadap seorang da‟i, sebab secara tidak langsung berdakwah di era modern telah menjadi profesi bahkan menjadi jurusan khusus di dunia perkuliahan. Lebih dari itu, terdapat pendapat ketiga yang mencoba megolaborasikan anatar pendapat yang megharamkan dan memperbolehkan, yakni ketika terdapat kesepakan di awal sebelum berdakwah, maka hukumnya tidak perlu diperdebatkan. Maksud pendapat ketiga ini ialah
56 Kaelan, M.S, Filsafat Bahasa Masalah dan Perkembangannya. 209.
57
ketika pendakwah menentukan tarif tertentu sebelum melaksanakan dakwahnya, maka hukumnya haram, namun ketika mendapat upah setelah melaksakan dakwah tanpa adanya kesepakatan di awal, maka diperbolehkan.57
Hermeneutika double movemet ini ketika diimplementasikan secara parsial ke dalam makna penafsiran ayat tentang pemahaman Surat Yasin ayat 21 mengenai mahar da‟i dalam berdakwah, maka pertama akan dibawa pada sejarah historis yang meyebabkan ayat tersebut berbicara, yakni hukum meminta upah dalam mejalankan risalah dan ajaran Rosulullah, lalu kemudian kedua, pemahaman mengenai upah seorang da‟i akan dikontekstualisasikan pada kenyataan fenomena berdakwah kekiniaan sebagaimana yang telah terjadi saat ini.
Terlepas dari implementasi teori double movement di atas, terdapat beberapa dampak yang relatif besar dari pengertian mahar da‟i ketika dipahami dan diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat, yakni dampak positif dan negatif.
Beberapa dampak positif diantaranya:
1) Meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap urgenitas kegiatan keagamaan.
Masyarakat dengan berbagai kesibukannya mencari nafkah sebagai bekal materi ketika di dunia tidak lantas melupakan bekal bathinnya menuju akhirat. Kegiatan ceramah agama seperti ini
57 Fathimatuz Zahro, “Pendapatan Da‟i dalam Perspektif Hukum Islam”, Jurnal Studi Qur‟an:
Studi Qur‟anika, Vol. 5, No.1 Juli 2020, 14-17.
http://dx.doi.org/10.21111/studiquran.v5i1.4258
yang sepatutnya digalakkan masyarakat sebagai bentuk ibadah dan pengokohan keimanannya, hal ini pula yang membuat setiap pengurus-pengurus keagamaan baik di masjid maupun mushalla berlomba-lomba membuat kegiatan-kegiatan keagamaan.
2) Meningkatnya semangat pengurus masjid dalam mengadakan kegiatan-kegiatan keagamaan.
Pengurus masjid (remas/ remaja masjid) adalah orang yang dipercaya oleh masyarakat untuk mengelola berbagai kegiatan dan semua yang berkaitan dengan masjid, termasuk kegatan keagamaan. Berbagai persiapan dan tantangan menjadi satu hal biasa dihadapi oleh pengurus masjid, uatamanya ketika mengahadapi masalah seorang da‟i yang tidak mau hadir karena upahya kecil, disamping pemasukan uang kas masjid yang sangat minim.
3) Pentingnya pengurus masjid sebagai seorang yang dipercaya untuk mengurus dan merawat masjid.
Banyak keperluan yang harus dilakukan demi merawat dan menghidupkan masjid, tentulah harus ada seseorang yang ditunjuk untuk mengurusnya, maka dari itu ditunjuklah seseorang yang dipercaya cakap dalam mengurus tempat ibadah tersebut. Dalam mengurusnya pun, kolaborasi masyarakat juga harus ditegakkan, mulai dari yang muda sampai yang tua.
Beberapa dampak negatifnya ialah:
59
1) Kesulitan pengurus masjid dalam memperoleh penceramah yang dapat dipercaya.
Kesulitan di sini tidak terbatas pada pencariannya saja, lebih dari itu keilmuan dan ideologi yang harus sesuai dengan ajaran ahlussunnah wal jama‟ah.
2) Kurangnya pemahaman pengurus masjid terhadap konsep upah atas ibadah.
3) Kurangnya kekompakan pengurus masjid dalam menghidupkan masjid karena misal sibuk mencari kerja tambahan.
60 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan
Fenomena pemberian upah dalam dunia dakwah merupakan kebiasaan yang telah mengakar di semua elemen masyarakat. Ironinya, ukuran dakwah bukan lagi level ilmu dan kemampuannya, tetapi populer atau tidaknya si penceramah. Juga bisa jadi penceramah itu malah dari kalangan mereka yang dari segi ilmunya sangat sedikit, tapi masyarakat terkadang tidak mempedulikan semua itu. Karena semangatnya mungkin bukan lagi menimba ilmu, tapi semangat popularitas, gengsi dan sejenisnya.
Pokok pembahasan dalam kajian ini menghasilkan tiga pokok permasalahan, yakni (1) Hamami Zadah dalam tafsirnya mengemukakan bawah seorang da‟i tidak diperkenankan mengambil apalagi mematok upah tertentu dalam menjalankan misi dakwahnya. (2) sistematika penafsiran Hamami Zadah dengan menggunakan metode tafsir Tahlili, yaitu beliau memberikan penafsiran dari masing masing ayat secara rinci. Sekaligus penggunaan sumber penafsiran otentik melalui al-Qur‟an, hadis, riwayat sahabat, dan syair-syair. (3) penerapan hermeneutika double movement yang menghasilkan implikasi bahwa ketika ditarik pada masa turunnya surat Yâsin 21 tentang upah seorang da‟i dengan pertimbangan seseorang yang berdakwah akan terjerumus pada upahnya saja sehingga memasjinalkan substansi dakwah yang dilakukan. Berbeda dengan konteks dakwah masa masa kini di mana dakwah telah mendarah daging dalam
61
kehidupan masyarakat dan bahkan telah menjadi salah satu bagian dari provesi di dunia pekerjaan, sehingga secara tidak sengaja akan memperoleh bayaran dari dakwah yang dilakukan, bahkan mampu menentukan harga tertentu.:
B. Saran
Bertepatan dengan selesainya penelitian mengenai mahar da‟I dalam al-Qur‟an; studi penafsiran Hamami Zadah dalam Tafsir Yâsin ayat 21 tentang mahar da‟i, tentu banyak kekurangan yang mengharap kritik dan saran terhadap penulis. Disamping itu juga terdapat saran dari penulis kepada para pembaca dengan harapan mampu diimplikasikan dalam kehidupan sehari-hari:
1. Mampu memahami substansi dakwah yang sesungguhnya
2. Senantiasa menyebarkan ilmu pengetahun kepada orang lain, baik melalui cara dakwah mapun dengan cara lain.
3. Menjadi pribada yang senantiasa berpegang teguh pada syari‟at Agama Islam, sunnah Nabi SAW, athar sahabat, tabi‟in dan para pengikut mereka di jalan kebenaran sebagaimana yang disalurkan oleh ajaran Ahlussunnah wa al-Jama‟ah.
DAFTAR PUSTAKA
Buku dan Kitab Al-Qur‟an al-Karîm
Al-Razi, Fakruddin, Mafâtih al-Ghaib, (Beirut: Dâr Ihyâ al-Turaṭ al-„Arabi, 1999) Al-Tamimi, Abu Abdirrahman bin Abdillah al-Bassam, Tauḍih al-Ahkâm min
Bulûgh al-Marâm, (Makkah: Maktabah al-Asadi, 2003).
Al-Tuwaijiri, Muhammad bin Ibrahim bin Abdillah, Mausu‟ah al-Fiqh al-Islâmi, (t.tt: Bait al-Afkâr al-Dauliyah, 2009).
Al-Zuẖaili, Wahbah, Tafsîr al-Munîr fî al-„Aqîdah wa al-Shari‟ah wa al-Manhaj, (Damaskus: Dâr al-Fikr al-Mua‟ṣir, 1997).
Amin, Samsul Munir, Ilmu Dakwah, (Jakarta: Amzah, 2013).
Antonio, Muhammad Syafi‟i, Bank Syariah: Dari Teori ke Praktik, (Jakarta:
Gema Insani, 2001).
Anshari, Hafi, Pedoman Untuk Mujahid Dakwah, (Surabaya: Al-ikhlas, 1993).
Mutahari, Murtadho, Perspektif Al-Qur‟an Tentang Manusia dan Agama, (Bandung: Pustaka Setia, 2002).
Syarif, N. Faqih, Menjadi Da‟i yang Dicintai, (Jakarta: Anggota IKAPI, Gramedia Pustaka Utama, 2011).
Syarifuddin, Amir, Garis-garis Besar Fiqh (Jakarta: Kencana, 2003).
Tarigan, Azhari Akmal, Tafsir Ayat-Ayat Ekonomi, (Bandung: Citapustaka Media Perintis, 2012).
Tim Penyusun Pedoman Penulisan Karya Ilmiyah IAIN Jember, Pedoman Penulisan Karya Ilmiyah IAIN Jember (IAIN Jember: 2020).
Zadah, Hamami, Tafsir Surah Yâsin (Cirebon: t.tp, t.tt).
Skripsi dan Tesis
Asyraf, Muhammad Amirul, “Sifat dan Kriteria Da‟i Menurut Islam” (Skripsi, UIN Ar-Raniry Aceh, 2018).
63
Hidayat, Firman, “Kompetensi Da‟i dalam Melakukan Kegiatan Dakwah di Kecamatan Rambatan Kabupaten Tanah Datar” (Sripsi, IAIN Batusangkar, 2021).
Manan, Wan Muhammad Fadli bin Wan, “Penerimaan Upah dalam Palaksanaan Ibadah Menurut Ibnu Katsir” (Skripsi, UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi, 2019).
Masitoh, Binti, ”Tinjauan Hukum Islam Tentang Upah Bagi Tokoh Agama”
(Skripsi, UIN Raden Intan Lampung, 2019).
Sairi, “Pelaksaan al-Ujrah al-Tho‟ah Menurut Pandangan Hukum Islam, Studi Kasus di Kel. Tangkerang Timur Kec. Tenayan Raya Pekanbaru” (Skripsi, UIN Sultan Syarif Kasim Riau, 2013).
Setiawan, Irwan, “Manajeman Program Pembinaan Da‟i Muda Pilihan pada Karantina di ANTV” (Skripsi, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2013).
Awwaliyah, Siti Zahrotul, “Al-Dakhil dalam Tafsir Yasin karya Hamami Zadah ” (Skripsi, UIN Sunan Ampel Surabaya, 2021)
Suherman, Yulia, ”Tinjauan Hukum Islam Tentang Menentukan Tarif Dalam Melaksanakan Ceramah”(Skripsi, UIN Raden Intan Lampung, 2019).
Jurnal, Artikel dan Wibesite
Dr. Zaprulkhan, “Teori Hermeneutika al-Qur‟an Fazlur Rahman”. Jurnal Noura, Vo. 1, No. 1. Juni 2017.
Ulya, “Hermeneutika Double Movement Farlur Rahman: Menuju Penetapan Hukum Bervisi Etis”, Jurnal Ulul Albab, Vol. 12, No. 2 2011, 117. Dalam Fazlur Rahman, Islam (New York: Anchor Books, 1966).
Vera, Susanti, “Aktualisasi Nilai Ideal Moral dalam Kehidupan Kontemporer Perspektif al-Qur‟an: Studi Interpretasi Surah al-„Alaq denfan Metode Double Movement”. Al-Taddabbur: Jurnal Ilmu al-Qur‟an dan Tafsir, P-ISSN: 2406-9582 E-P-ISSN: 2581-2564.
LAMPIRAN-LAMPIRAN Lampiran I
Foto Kitab Tafsir Yâsin Hamami Yasin