Seseorang tidak boleh menggabungkan akad Ijarah dengan akad Mudharabah dalam satu waktu dan dalam satu objek.
Seperti misalkan ada orang yang berkata “apabila kamu memiliki karyawan di toko itu, bolehlah kamu berikan dia upah dan nisbah dari keuntungan penjualan” karena dalam contoh ini sudah ter
gabung antara akad upah dengan bagi hasil.
Berbeda halnya bila setiap dari mereka bekerja sendiri, maka dibolehkan. Seperti misalkan ia bekerja di waktu pagi sampai siang untuk mendapatkan upah. Kemudian di waktu setelah dzuhur ia menjual barang di toko itu dan kemudian mengambil nis bah keuntungan dari benda yang terjual setelah dzuhur. Dalam contoh ini diperbolehkan karena waktunya berbeda. Atau juga karena sebabnya berbeda, seperti seseorang yang mau mengambil nisbah dari hasil karena ia investor, dan juga boleh mengambil upah karena ia telah mengerjakan pekerjaan karyawan149.
Adapun upah dan nisbah keuntungan yang diambil da
lam satu pekerjaan, satu waktu dan satu aspek maka tidak boleh.
Adapun apabila aspeknya berbeda maka diperbolehkan seper
ti seseorang yang memiliki mobil yang sedang ia sewakan,
148 Dari suatu pemahaman ini dapat disimpulkan bahwa Ijarah muntahiyah bi al tamlik diperbolehkan dan sah. Seperti mobil yang pada akad awal disewakan, kemudian di penghujung akad, tatkala jumlah bayaran dari sewa itu sudah cukup maka mobil berpindah menjadi milik yang menyewa.
Karena pada dasarnya antara menjual dengan menyewakan suatu benda memiliki perbedaan dari maksud transaksinya walaupun akadnya terjadi pada orang yang sama. Hanya saja kerugian yang akan terjadi adalah apabila benda yang disewakan itu rusak sebelum jatuh menjadi kepemilikan penyewa.
Kerugian itu akan ditanggung oleh pemilik yang pertama
149 Abdurrahman Ibn Nashir Al Sa’diy, Syarh Mandzumat Al Qawaid Al Fiqhiyah, (Idarah Masajid Muhafadzah Al Hajra’, 2008), h. 165.
170
Kaidah Fiqhiyah Dalam Ekonomi Dan Bisnis Islam
kemudian mobil itu ia jual kepada orang lain, maka yang demi
kian itu diperbolehkan.
Karena kedua akad tidak berasal dari satu maksud dan tidak berlawanan, begitu juga bila akadnya terjadi pada dua masa yang berlainan. Seperti jual beli urbun. Bila seseorang memberikan uang dua ratus ribu rupiah kepada tukang jahit dan berkata “ambil uang ini, apabila aku setuju dengan hasil baju yang engkau jahit maka akan aku sempurnakan pembayarannya, tapi bila aku tidak setuju maka uang itu aku hibahkan kepadamu”. Akad seperti ini sah apabila dikehendaki akad yang pertama berupa jual beli (bai’) dan akad yang kedua berupa hibah. Namun, agar tidak menjadi jual beli yang terlarang hendaknya customer mengakadkan hibah itu (maksudnya melakukan akad yang kedua) tatkala ia tidak setuju dengan hasil yang dijahit, agar tidak termasuk jual beli yang dilarang oleh nabi.
Benda yang diwakafkan dengan tujuan fi sabilillah tidak boleh dimanfaatkan kepada akad yang lain, seperti dijual atau disewakan.bagi nadzir yang mengemban amanah harus menjaga harta wakaf dengan baik. Apabila ingin diproduktifkan maka sebaiknya nadzir wakaf memproduktifkannya dengan cara menambahkan fasilitasnya seperti dengan tambahan alat atau bahan150.
Benda yang sedang digadaikan tidak boleh digunakan untuk keperluan lain dengan tujuan untuk menambah penghasi
lan, seperti dijual atau disewakan151. Demikian juga tidak diper
boleh kan mengambil manfaat dari segala yang berkaitan dengan
150 Shalih Ibn Muhammad Al Asmuri Al Qahthani, Majmu’ah Al Fawa’id Al Bahiyah ‘ala Mandzumat Al Qawa’id Al Fiqhiyah (Saudi, Dar Alshumai’i, 2000), h. 119
151 Kecuali disewakan kepada orang yang menerima barang gadaian, maka diperbolehkan karena salah satu dari kedua akad tidak tertuju pada objek akad yang lainnya. Dan karena maksud dari kedua akad itu berbeda, gadai dimaksudkan untuk memberikan jaminan agar terwujud suatu kepercayaan, sedangkan sewa menyewa dimaksudkan untuk mengambil manfaat (intifa’) atas suatu benda.
171
Kaidah Fiqhiyah Dalam Ekonomi Dan Bisnis Islam
benda itu, seperti tanahmisalnya ketika digadaikana maka surat tanah yang dimiliki juga tidak boleh digadaikan kepada yang lain, sehingga tidak terjadi gadai di dalam gadai.
Benda yang sudah dijual tidak boleh dijual lagi kepada orang lain152
152 Muhammad Musthafa Al Zuhaili, Al Qawaid Al fiqhiyah wa tathbiqatuha fi madzahibi al arba’ah,(Damsyiq, Dari Al Fikr, cet. 1, 2006) j. 1, h. 359
172
Kaidah Fiqhiyah Dalam Ekonomi Dan Bisnis Islam
173
Kaidah Fiqhiyah Dalam Ekonomi Dan Bisnis Islam
Bab Kedua Belas Kaidah Keena m
مهنيَب طورشملاك راَّجُّتلا نيَب فوُر ْعَمْلا
Sesuatu Yang Telah Menjadi Kebiasaan Di Kalangan
Pedagang Seperti Syarat Yang Berlaku Bagi Mereka
174
Kaidah Fiqhiyah Dalam Ekonomi Dan Bisnis Islam
A. Dalil Kaidah
1. Dalil dari Al Quran, Surat AlA’raf : 199
َنيِلِهاَجْلا ِنَع ْضِرْع َ
أَو ِفْرُع ْ لاِب ْرُم ْ
أَو َوْفَع ْ لا ِذُخ
Artinya : Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh 2. Dalil dari Hadis
hadis riwayat Hakim dari Abdullah r.a.
اًئِّيَس َنوُمِلْسُم ْلا ُهآَر اَمَو ،ٌنَسَح َِّللا َدْنِع َوُهَف اًنَسَح َنوُمِلْسُمْلا ىَأَر اَم
ٌء ِّيَس َِّللا َدْنِع َوُهَف
Artinya : Apa yang dipandang baik bagi kaum muslimin maka baik juga di sisi Allah, apa yang dipandang buruk bagi kaum muslimin maka buruk juga di sisi Allah153. Hadis riwayat imam Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas
:وٌرْمَع َلاَق ،ىَيْحَيِل ُظْفَّللاَو ،ُدِقاَّنلا وٌرْمَعَو ،ىَيْحَي ُنْب ىَيْحَي اَنَثَّدَح ْنَع ، ٍحيِجَن يِب َ
أ ِنْبا ِنَع ، َةَنْيَيُع ُنْب ُناَيْفُس اَنَرَبْخَأ :ىَيْحَي َلاَقَو ،اَنَثَّدَح ُّيِبَّنلا َمِدَق : َلاَق ، ٍساَّبَع ِنْبا ِنَع ،ِلاَهْنِمْلا يِبَأ ْنَع ،ٍريِثَك ِنْب ِللا ِدْبَع ، ِنْيَتَنَّسلاَو َةَنَّسلا ِراَمِّثلا يِف َنوُفِلْسُي ْمُهَو ،َةَنيِدَمْلا َمَّلَسَو ِهْيَلَع ُللا ىَّلَص ىَلِإ ،ٍمو ُلْعَم ٍنْزَوَو ،ٍموُلْعَم ٍلْيَك يِف ْفِلْسُيْلَف ،ٍرْمَت يِف َفَلْسَأ ْنَم« :َلاَقَف
» ٍموُلْعَم ٍلَج َ أ
153 Abu Abdillah Alhakim Muhammad, Mustadrak Ala Shahihain, hadis ke4465 (Beirut, Dar Al Kutub Al Ilmiyah, cet. 1, 1990), j. 3, h. 83
175
Kaidah Fiqhiyah Dalam Ekonomi Dan Bisnis Islam
Artinya : Dari Ibnu Abbas ra. keduanya. berkata; ketika Nabi SAW.
datang ke Madinah, 0rang-orang Madinah men ceng-kerami pada buah-buahan untuk waktu sa tu tahun atau dua tahun. Kemudian Rasulullah SAW. ber sab-da: Barangsiapa mencengkerami pada buah- buahan, maka cengkeramilah pada takaran tertentu, tim ba ngan tertentu dan waktu yang tertentu154.
B. Penjelasan Kaidah.
Secara singkat, kaidah ini menjelaskan bahwa suatu ke
giatan muamalah yang sudah biasa dilakukan oleh kalangan pe dagang di suatu pasar, apabila muamalah itu sudah terbiasa bagi mereka, sudah dimaklumi dan sudah memiliki kedudukan yang kuat bagi mereka, maka kegiatan bermuamalah yang mereka lakukan itu memiliki kekuatan hukum yang setara dengan mua
malah yang memiliki syarat bagi mereka.
Banyak kita temui di beberapa tempat dan beberapa kesem
patan praktek transaksi yang sudah terbiasa diamalkan dan sudah menjadi lazim di kalangan pedagang di pasar. Seperti pedagang yang menjual sembakonya kepada pemilik restaurant, tidak ada transaksi seperti menanyakan harga atau bahkan tawar menawar di antara mereka, yang terjadi hanyalah proses mencatat barang yang diambil lalu sembako itu pun dibawa pulang. Hal yang seperti ini terjadi karena sudah terbiasa terjadi pada mereka yang sudah sepakat mengenai harga barang yang tentunya sudah diberikan harga termurah dan mengenai metode pembayaran dengan cara bayar setengah terlebih dahulu dan selebihnya bayar cash saat mau ambil barang lagi.
Kejadian serupa yang kita dapati antara pedagang pupuk dan segala alat bahan pertanian dengan petani. Transaksi yang
154 Muslim Ibn Al Hajjaj Al Naisaburiy, Shahih Muslim, hadis ke127 (Beirut, Dar Ihya’ Al Turats Al Arabiy), J. 3, h. 1226.
176
Kaidah Fiqhiyah Dalam Ekonomi Dan Bisnis Islam
sering terjadi di antara mereka yaitu membeli pupuk terlebih dahulu dengan cara membayar saat masa panen tiba. Membeli pupuk dengan bayaran padi yang dihasilkan saat panen, ataupun membeli pupuk dengan cara mencicil tiap kali petani memetik buah. Semuanya itu menunjukkan adat yang sudah terbiasa terjadi di kalangan pedagang, dan boleh diamalkan selama tidak menya lahi dalil.
Syarat kaidah ini adalah :
1. Kebiasaan (adat) yang terjadi di kalangan pedagang itu bukan merupakan kebiasaan yang menyalahi aturan dalam Al Quran dan Hadis.
2. Kebiasaan (adat) yang terjadi pada pedangang itu tidak diiri
ngi dengan maksud menyalahi aturan yang telah biasa terjadi pada mereka, atau kehendak untuk membuat kebiasaan baru (dengan membatalkan kebiasaan lama) di kalangan mereka.