KAIDAH FIQHIYAH
Dalam Ekonomi dan Bisnis Islam
KAIDAH FIQHIYAH
Dalam Ekonomi dan Bisnis Islam
Dr. Muhammad Yafiz, M. Ag
M. Iqbal, Lc., M. Ag
KAEDAH FIQHIYAH
Dalam Ekonomi dan Bisnis Islam
Penulis :
Dr. Muhammad Yafiz, M. Ag M. Iqbal, Lc., M. Ag
Editor : Dr. Marliyah, M. Ag
Cover dan Layout : Alfaruq Grafika
Diterbitkan Oleh:
FEBI UIN-SU Press
Gedung Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) Univesitas Islam Negeri Sumatera Utara (UIN-SU) Jl. Williem Iskandar Pasar V Medan Estate 20371
Telp./HP. 0813 6116 8084 Email: [email protected]
Anggota IKAPI
No. 058/Anggota Luar Biasa/SUT/2021
Cetakan Pertama, November 2022
ISBN : 978-602-6903-74-7
Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Dilarang memperbanyak karya tulis ini dalam bentuk dan dengan cara apapun tanpa izin penulis dan penerbit.
i
Kaidah Fiqhiyah Dalam Ekonomi dan Bisnis Islam
PENGANTAR PENULIS
Segala puji bagi Allah SWT yang telah menganugerahkan nikmat dan rahmat-Nya, sehingga kita dapat menjalankan aktifitas kita sesuai dengan peran dan fungsi kita masing-masing dengan sebaik-baiknya. Shalawat dan salam atas junjungan Nabi Besar Muhammad SAW sebagai uswatun hasanah dalam kehidupan keseharian kita, khususnya dalam memerankan tugas kita sehari- hari.
Salah satu kepuasan tertinggi seorang akademisi/ilmuwan adalah ketika berhasil melahirkan karya yang memberikan manfaat bagi masyarakat dan pengembangan ilmu. Buku yang tersaji di depan pembaca saat ini dengan judul “Kaidah Fiqhiyah dalam Ekonomi dan Bisnis Islam” merupakan persembahan (karya) akademik berikutnya yang berhasil dilahirkan. Hadirnya buku ini setidaknya memiliki 3 (tiga) makna strategis, yaitu;
pertama, buku ini berusaha untuk mengisi ruang kosong dari kajian ekonomi dan bisnis Islam, khususnya pada dimensi kajian kaidah fiqhiyah yang menjadi salah satu bahasan yang tidak bisa dilepaskan darinya, terutama di tengah berkembangnya berbagai persoalan ekonomi dan bisnis Islam di tengah-tengah masyarakat.
ii
Kaidah Fiqhiyah Dalam Ekonomi dan Bisnis Islam
Sejauh ini sudah banyak buku yang ditulis terkait kaidah fiqhiyah, baik secara umum maupun pada bidang mua’malah. Namun, buku-buku tersebut belum sepenuhnya menukik pada tema-tema yang lebih spesifik berkaitan dengan ekonomi dan bisnis. Dalam buku ini, akan dijelaskan berbagai kaidah-kaidah turunan yang secara spesifik terkait dengan persoalan-persoalan praktik dan aktivitas ekonomi dan bisnis, baik akad maupun lainnya.
Kedua, kehadiran buku ini merupakan bentuk dari imple- men tasi desain keilmuan UIN Sumatera Utara Medan yang berbasis integrasi-transdisipliner dengan paradidgma wadatul ulum. Salah satu konsekuensi dari integrasi ilmu tersebut adalah keniscayaan bidang ilmu tertentu yang saling menyapa dan bersentuhan dengan ilmu lainnya. Dan pada konteks itulah ilmu itu akan terus berkembang dan semakin kaya serta dapat mengisi keterbatasannya untuk menjawab berbagai persoalan yang ada.
Buku ini sesugguhnya hadir untuk ikut memberikan berbagai penjelasan atas praktik dan aktivitas ekonomi dan bisnis dengan sudut pandang kaidah fiqhiyah yang menjadi dasar dan acuan bagi praktek ekonomi dan bisnis yang lebih teknis dan uapaya pengembangannya.
Ketiga, Buku ini menjadi tambahan referensi dan rujukan yang tepat bagi penguatan kajian kaidah fiqhiyah dalam konteks ekonomi dan bisnis Islam. Belum banyak (untuk tidak menga- takan tidak ada sama sekali) buku dan referensi yang secara khusus disiapkan dan ditulis untuk menjelaskan kaidah fiqhiyah dalam dimensi ekonomi dan bisnis Islam. Kehadiran Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) di berbagai daerah di Indonesia, khususnya di UIN Sumatera Utara Medan, memiliki tanggung jawab moral dan kelembagaan tersendiri untuk melahirkan karya-karya seputar ekonomi dan bisnis Islam sehingga dapat memperkuat dan menambah instrumen publikatif keilmuan ekonomi dan bisnis Islam dan menjadi rujukan masyarakat, baik akademisi maupun praktisi. Dukungan terhadap kegiatan pembelajaran dan pengembangan keilmuan inilah yang perlu
iii
Kaidah Fiqhiyah Dalam Ekonomi dan Bisnis Islam
didukung dengan melahirkan karya-karya seputar ekonomi dan bisnis Islam secara integratif.
Akhirnya kami ingin menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dan membantu penulis hingga buku ini dapat diterbitkan. Sebagai penulis kami berharap bahwa buku ini dapat menjadi perangsang bagi lahirnya karya- karya berkualitas lainnya serta menjadi identitas bagi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Sumatera Utara sebagai lembaga pendidikan tinggi ekonomi Islam yang mempunyai komitmen ilmiah. Dengan berbagai kekurangan yang dimilikinya, kami berharap semoga buku ini dapat menjadi persembahan bermanfaat dan menjadi amal saleh dan mendapat perkenan Allah SWT. Amin.
Medan, Oktober 2022
Penulis,
Muhammad Yafiz & M. Iqbal
iv
Kaidah Fiqhiyah Dalam Ekonomi dan Bisnis Islam
v
Kaidah Fiqhiyah Dalam Ekonomi dan Bisnis Islam
PENGANTAR EDITOR
Puji Syukur kepada Allah Swt. akhirnya buku dengan judul “Kaidah Fiqhiyah dalam Ekonomi dan Bisnis Islam” dapat diterbitkan. Tidak lupa juga ucapan sholawat dan salam untuk baginda Rasulullah Saw. yang menjadi inspirasi untuk selalu berkarya dan memberikan manfaat sebanyak-banyaknya bagi orang lain.
Buku ini merupakan buku penting terutama dalam meng- kaji dan mengembangkan ilmu ekonomi dan bisnis Islam. Buku yang ditulis oleh dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Sumatera Utara Medan ini setidaknya menjadi alternatif untuk menambah dan memperkaya khazanah literatur yang mengkaji tentang ekonomi dan bisnis Islam dari aspek kaidah fiqhiyah. Beberapa tema-tema yang dijelaskan dalam buku ini menjadikannya layak untuk dibaca dan dijadikan referensi oleh masyarakat umum, khususnya mahasiswa, dalam memahaami kaidah fiqhiyah dalam aspek ekonomi dan bisnis Islam. Buku ini menjelaskan tentang kaidah fiqhiyah dan ruang lingkupnya. Di samping itu, buku ini juga menjelaskan tentang beberapa kaidah dasar yang menjadi pijakan dalam melahirkan kaidah-kaidah
vi
Kaidah Fiqhiyah Dalam Ekonomi dan Bisnis Islam
turunan lainnya. Secara lebih khusus, buku ini menjelaskan secara lebih spesifik sejumlah kaidah turunan yang terkait langsung dengan permasalahan dan aktivitas ekonomi dan bisnis dalam Islam.
Buku ini penting dan memiliki posisi yang strategis dalam mengisi kekosongan referensi yang secara khusus menjelaskan berbagai kaidah fiqhiyah dalam bidang ekonomi dan bisnis Islam.
Dengan berbagai kelebihan dan kekurangan yang dimilikinya, buku ini diharapkan dapat memberikan ilmu dan informasi berkaitan dengan tema di atas. Upaya penulis untuk melihat sisi yang perlu diisi dalam mengembangkan kajian ekonomi dan bisnis Islam dari sudut pandang kaidah fiqhiyah menjadi nilai lebih dari buku ini bila dibandingkan dengan buku-buku lainnya yang telah ada. Secara tidak langsung, buku ini juga mengisyaratkan perlunya keberanian untuk melihat sisi-sisi lain bagi pengembangan keilmuan yang sudah ada pada saat ini.
Semoga kehadiran buku ini dapat menjadi sumbangan keilmuan yang bermanfaat sekaligus menjadi amal jariyah dari ilmu yang disampaikan melalui karya ilmiah yang disajikan.
Sebagai editor saya mengucapkan permohonan maaf kalau sentuhan akhir terhadap buku ini menjadikanya sebagai “sajian yang kurang lezat untuk disantap”. Semoga semua kekurangan yang terdapat pada buku ini menjadi catatan untuk dapat melahirkan karya yang lebih baik di masa-masa mendatang.
Akhirnya kita berharap semoga buku ini dapat menjadi persembahan bermanfaat dan menjadi amal saleh dan mendapat perkenan Allah SWT. Amin.
Medan, Oktober 2022
Editor,
Marliyah
vii
Kaidah Fiqhiyah Dalam Ekonomi dan Bisnis Islam
DAFTAR ISI
Pengantar Penulis ... i Pengantar Editor ... v
BAB PERTAMA :
Kaidah Fiqh dan Ruang Lingkupnya
A. Defenisi Kaidah Fiqhiyah ... 2 B. Perbedaan antara kaidah fiqhiyah Dengan kaidah
Ushuliyah ... 7 C. Persamaan antara kaidah fiqhiyah Dengan kaidah
Ushuliyah ... 9 D. Urgensi Ilmu Kaidah Fiqh ... 10 E. Jenis kaidah fiqhiyah ... 13 F. Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan kaidah
fiqhiyah ... 16 G. Metode penyampaian kaidah fiqhiyah ... 27 H. Beberapa Kitab Kaidah Penting Dalam Empat
Madzhab ... 28
viii
Kaidah Fiqhiyah Dalam Ekonomi dan Bisnis Islam
BAB KEDUA :
Kaidah Induk Pertama : Segala Perkara Tergantung Pada Niatnya
A. Dalil Kaidah ... 36 B. Penjelasan Kaidah ... 38 C. Beberapa kaidah turunan ... 44 BAB KETIGA :
Kaidah Induk Kedua : Keyakinan Tidak Bisa Dihilangkan Dengan Keraguan
A. Dalil Kaidah ... 50 B. Penjelasan Kaidah ... 52 C. Beberapa kaidah turunan ... 56 BAB KEEMPAT :
Kaidah Induk Ketiga : Kesulitan Mendatangkan Kemudahan
A. Dalil Kaidah ... 66 B. Penjelasan Kaidah ... 67 C. Beberapa kaidah turunan ... 76 BAB KELIMA :
Kaidah Induk Keempat : Kemudharatan Harus Dihilangkan
A. Dalil Kaidah ... 80 B. Penjelasan Kaidah ... 82 C. Beberapa kaidah turunan ... 84
ix
Kaidah Fiqhiyah Dalam Ekonomi dan Bisnis Islam
BAB KEENAM :
Kaidah Induk Kelima : Adat Kebiasaan Dapat Ditetapkan Sebagai Hukum
A. Dalil Kaidah ... 98
B. Penjelasan Kaidah ... 100
C. Beberapa kaidah turunan ... 104
BAB KETUJUH : Kaidah Pertama : Hukum asal dalam semua bentuk muamalah adalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya A. Dalil Kaidah ... 116
B. Penjelasan Kaidah ... 117
C. Penjelasan Muamalah ... 118
BAB KEDELAPAN : Kaidah Kedua : Suatu transaksi pada dasarnya harus dilandasi kerelaan kedua belah pihak dan hasilnya adalah sah dan mengikat kedua belah pihak terhadap diktum yang ditransaksikan. A. Dalil Kaidah ... 134
B. Penjelasan Kaidah ... 135
C. Penjelasan mengenai akad ... 136
D. Pembagian akad ... 139
E. Cacat yang dapat menghilangkan keridhoan dalam akad ... 142
F. Contoh penerapan kaidah ... 144
x
Kaidah Fiqhiyah Dalam Ekonomi dan Bisnis Islam
BAB KESEMBILAN :
Kaidah Ketiga : Hal Yang Dibolehkan Syariat Tidak Dapat Dijadikan Beban/Tanggungan.
A. Dalil Kaidah ... 148
B. Penjelasan Kaidah ... 150
C. Syarat pengamalan kaidah ... 151
D. Contoh Penerapan kaidah ... 153
E. Pengecualian kaidah ... 155
BAB KESEPULUH : Kaidah Keempat : Penilain pada semua bentuk akad berdasarkan pada tujuan dan maknanya, bukan berdasarkan lafal dan bentuknya. A. Dalil Kaidah ... 158
B. Penjelasan Kaidah ... 158
C. Penjelasan tentang tujuan akad ... 182
D. Hikmah dah berakhirnya suatu akad ... 163
E. Contoh penerapan kaidah ... 164
BAB KESEBELAS: Kaidah Kelima : Suatu Benda Yang Sedang Dalam Satu Transaksi Tidak Boleh Dijadikan Objek Transaksi Yang Lain A. Dasar Kaidah ... 166
B. Penjelasan Kaidah ... 166
C. Penjelasan tentang akad yang masygul ... 167
D. Penerapan Kaidah ... 169
xi
Kaidah Fiqhiyah Dalam Ekonomi dan Bisnis Islam
BAB KEDUABELAS :
Kaidah Keenam : Sesuatu Yang Telah Menjadi Kebiasaan Di KalanganPedagang Seperti Syarat Yang Berlaku Bagi Mereka
A. Dalil Kaidah ... 174
B. Penjelasan Kaidah ... 175
C. Penjelasan tentang Urf ... 176
D. Contoh Penerapan Kaidah ... 178
BAB KETIGABELAS : Kaidah Ketujuh : Asal dari suatu manfaat adalah halal dan asal dari suatu kemudharatan adalah haram berdasarkan hukum syara A. Dalil Kaidah ... 182
B. Penjelasan Kaidah ... 184
C. Penjelasan Manfaat dan Mudharat. ... 186
D. Contoh Penerapan Kaidah ... 188
BAB KEEMPATBELAS : Kaidah Kedelapan : Tidak Boleh Bagi Siapapun Mengolah Milik Orang Lain Tanpa Ada Izin Dari Pemiliknya. A. Dalil Kaidah ... 190
B. Penjelasan Kaidah ... 190
C. Perspektif larangan mengelola harta milik orang lain. .. 194
D. Penjelasan tasharruf. ... 195
E. Contoh Penerapan Kaidah ... 197
F. Pengecualian kaidah ... 197
xii
Kaidah Fiqhiyah Dalam Ekonomi dan Bisnis Islam
BAB KELIMABELAS :
Kaidah Kesembilan : Resiko Itu Sejalan Dengan Keuntungan
A. Dalil Kaidah ... 200
B. Penjelasan Kaidah ... 201
C. Asas Kaidah ... 202
D. Contoh penerapan kaidah. ... 204
BAB KEENAMBELAS : Kaidah Kesepuluh : Resiko Itu Sejalan Dengan Keuntungan A. Dalil Kaidah ... 208
B. Penjelasan Kaidah ... 209
C. Penjelasan tentang Kharaj ... 210
D. Penjelasan Tentang Dhaman ... 215
BAB KETUJUHBELAS : Kaidah Kesebelas : Siapa yang pada hartanya bercampur yang halal dengan yang haram, ia wajib mengeluarkan ukuran haram, lalu yang tersisa menjadi halal untuknya A. Dalil Kaidah ... 220
B. Penjelasan Kaidah ... 222
C. Beberapa pendapat ulama mengenai hukum mengembalikan harta haram ... 225
D. Contoh penerapan Kaidah ... 226
xiii
Kaidah Fiqhiyah Dalam Ekonomi dan Bisnis Islam
BAB KEDELAPANBELAS :
Kaidah Keduabelas : Setiap Utang Piutang Yang
Mendatangkan Manfaat (Bagi Yang Berpiutang) Adalah Riba Yaitu Haram
A. Dalil Kaidah ... 230
B. Penjelasan Kaidah ... 231
C. Prinsip-prinsip riba ... 232
D. Pembagian Riba. ... 234
E. Perbedaan antara riba dengan jual beli ... 238
F. Praktik riba menurut kaum modernis ... 239
G. Dampak dan hikmah pelanggaran riba ... 240
H. Contoh penerapan kaidah ... 243
DAFTAR PUSTAKA
xiv
Kaidah Fiqhiyah Dalam Ekonomi dan Bisnis Islam
Bab Perta ma
Kaidah F iqh dan Ruang Lingkupnya
2
Kaidah Fiqhiyah Dalam Ekonomi Dan Bisnis Islam
A. Defenisi Kaidah Fiqhiyah
Kata Al Qawa’id bentuk jamak dari qaidah (kaidah). Para ulama mengartikan qaidah secara etimologis (bahasa) dan termi nologis (istilah), (laughatan wa istilahan). Secara bahasa, kaidah berarti asas, dasar, atau fondasi, baik dalam arti yang konkret mau
pun yang abstrak, seperti katakata qawa’id al-bait (fondasi rumah), qawa’id al-din (dasardasar agama), qawa’id al-ilm (kaidahkaidah ilmu). Arti ini digunakan di dalam AlQur’an surat alBaqarah ayat 127 dan surat anNahl ayat 26.
َتن َ
أ َكَّنِإ ۖ اَّنِم ْلَّبَقَت اَنَّبَر ُليِعاَمْسِإَو ِتْيَبْلا َنِم َدِعاَوَقْلا ُميِهاَرْبِإ ُعَفْرَي ْذِإَو
ُميِلَعْلا ُعيِمَّسلا
Artinya : Dan ingatlah ketika Ibrahim meninggikan pondasi Baitullah bersama Ismail, seraya berdo’a Wahai Tuhan kami, terimalah amal kami, sesungguhnya engkau maha mendengar maha mengetahui.
ُمِهْيَلَع َّرَخَف ِدِعاَوَقْلا َنِّم مُهَناَيْنُب َُّللا ىَتَأَف ْمِهِلْبَق نِم َنيِذَّلا َرَكَم ْدَق
َنوُرُعْشَي َل ُثْيَح ْنِم ُباَذَعْلا ُمُهاَتَأَو ْمِهِقْوَف نِم ُفْقَّسلا
Artinya : Sungguh orang-orang yang sebelum mereka telah mem- buat tipu daya. Maka dari itu Allah menghancur kan rumah-rumah mereka mulai dari pondasinya, kemu- dian atap rumahnya menjatuhi mereka dari atas, dan siksa itu datang kepada mereka tanpa mereka sadari Dari kedua ayat tersebut bisa disimpulkan arti kaidah ada
lah dasar, asas atau fondasi, tempat yang di atasnya berdiri ba
ngunan.1
1 Ali Ahmad Al Nadwi: AlQawa’id AlFiqhiyah,(Beirut :Dar Al Qalam, 2000), h. 13
3
Kaidah Fiqhiyah Dalam Ekonomi Dan Bisnis Islam
Pengertian kaidah semacam ini terdapat pula dalam ilmu
ilmu yang lain, misalnya dalam ilmu nahwu/grammer bahasa Arab, seperti maf’ul itu mashub dan fa’il itu marfu’. Dari sini ada unsur penting dalam kaidah yaitu hal yang bersifat kulli (menyeluruh, general) yang mencakup seluruh bagianbagian
nya. Dengan demikian, maka al-qawa’id al-Fiqhiyah (kaidah
kaidah fiqh) secara etimologis adalah dasardasar atau asasasas yang bertalian dengan masalahmasalah atau jenisjenis fiqh.2
Para ulama memang berbeda dalam mendefeisikan kaidah fiqh secara istilah. Ada yang meluaskannya dan ada yang mem
persempitnya. Akan tetapi, substansinya tetap sama. Sebagai con
toh, Sa’duddin Al Taftazani, sebagaimana dikutip oleh Ali Jum’ah mendefinisikan kaidah fiqh, dengan definisi:
هنم اهماكحأ فرعتيل هتايئزج ىلع قبطني يلك مكح اهنإ
Artinya : Hukum universal yang diterapkan pada hukum parsial - nya untuk mengenal beberapa hukumnya3.
Sedangkan Muhammad Musthafa Al Zuhaili mendefinisi
kannya:
لئاسملاو عورفلاب طيحتو ،ةريثك تايئزج اهتحت لخدي ةيلك ةيضق ةقرفتملا باوبلأا نم
Artinya : Hukum menyeluruh yang di bawahnya terdapat bagian- bagian yang banyak, meliputi beberapa cabang dan kasus dalam bab fiqh yang berbeda-beda4
2 Asymuni A.Rahman,qaidahqaidah fiqh,(Jakarta:Bulan Bintang, cet.
1, 1976), h. 22
3 Ali Jum’ah Muhammad Abdul Wahab, Al Madkhal Ila Dirasah Al Madzahib Al Fiqhiyah, (Cairo, Dar Al Salam, cet. 2, 2001), h. 326.
4 Muhammad Musthafa Al Zuhaili, Al Qawaid Al fiqhiyah wa tathbiqatuha fi madzahibi al arba’ah,(Damsyiq, Dari Al Fikr, cet. 1, 2006) j. 1, h.
22.
4
Kaidah Fiqhiyah Dalam Ekonomi Dan Bisnis Islam
Dari defenisi diatas, jelas bahwa kaidah itu bersifat menye
luruh yang meliputi bagianbagiannya dalam arti bisa diterapkan kepada juz’iyat nya (bagianbagiannya).
Dengan demikian di dalam hukum Islam ada dua macam kaidah, yaitu: pertama, kaidahkaidah ushul fiqh, yang kita te
mu kan didalam kitabkitab ushul fiqh, yang digunakan untuk menge luarkan hukum (takhrij al-ahkam) dari sumbernya, Al
Qur’an atau AlHadis. Kedua, kaidahkaidah fiqh, yaitu kaidah
kaidah yang disimpulkan secara general dari materi fiqh dan kemudian digunakan pula untuk menentukan hukum dari kasus
kasus baru yang timbul, yang tidak jelas hukumnya didalam nash.
Oleh karena itu baik kaidahkaidah ushul fiqh mau pun kai dahkaidah fiqh, bisa disebut sebagai metodologi hukum islam. Hanya saja kaidahkaidah ushul sering digunakan didalam takhrij al-ahkam, yaitu mengeluarkan hukum dari dalildalilnya (AlQur’an dan AsSunnah). Sedangkan kaidahkaidah fiqh sering diguna kan di dalam tatbiq al-ahkam, yaitu penerapan hukum atas kasuskasus yang timbul didalam bidang kehidupan manusia.
Dari sisi ini tidaklah heran apabila pada masa khalifahan Turki Usmani antara tahun 18691878 mengeluarkan undangundang yang disebut Majalah al-Ahkam al-Adliyah yang merupakan penerapan hukum islam dengan menggunakan 99 kaidah fiqh dibidang muamalah,dengan 1851 pasal.
1. Objek
Adapun objek bahasan kaidahkaidah fiqh itu adalah perbuatan mukallaf sendiri, dan materi fiqh itu sendiri yang dikeluarkan dari kaidahkaidah fiqh yang sudah mapan yang tidak ditemukan nashnya secara khusus didalam AlQuran atau sunnah atau Ijma (consensus para ulama).
2. Manfaat
Adapun manfaatnya adalah memberi kemudahan didalam menemukan hukum menghubungkannya dengan materimateri
5
Kaidah Fiqhiyah Dalam Ekonomi Dan Bisnis Islam
fiqh yang lain yang tersebar di berbagai kitab fiqh serta memu
dahkan didalam memberi kepastian hukum.
3. Keutamaanya.
Orang yang ingin tafaqqah (mengetahui, mendalami, me
ngu asai) ilmu fiqh, akan mencapainnya dengan mengetahui kaidahkaidah fiqh.
4. Hubungannya dengan ilmu lain.
Kaidah fiqh adalah bagian dari ilmu fiqh, ia memiliki hu
bungan erat dengan AlQur’an, AlHadist, Akidah, dan Akhlak.
Sebab, kaidahkaidah yang sudah mapan, sudah dikritisi oleh ulama, dan diuji serta diukur dengan banyak ayat dan hadist nabi, terutama tentang kesesuaiannya dan substansinya. Apabila kaidah fiqh tadi bertentangan dengan banyak ayat AlQur’an ataupun Hadis yang bersifat dalil kulli (general) maka dia tidak akan menjadi kaidah yang mapan. Oleh karena itu, menggunakan kaidahkaidah fiqh yang sudah mapan pada hakikat nya merujuk kepada AlQur’an dan Hadis juga.
5. Perkembangan Kaidah.
Para pembangun kaidahkaidah fiqh adalah ulamaulama yang sangat dalam ilmunya di dalam ilmu fiqh (al-rasikhuna fi al-furu) sampai muncul Imam Abu Thahir alDibasi yang hidup pada akhir abad ke3 dan awal abad ke4 Hijriyah, yang baru mengumpulkan 17 kaidah fiqh. Di kalangan tiap mahzab, ada ulamaulama yang merupakan tokohtokoh didalam hal kaidah fiqh, misalnya dalam mahzab alsyafi’I, ulama besar Imam ‘Izzuddin bin abd alSalam (w.660H), telah menyusun kitab berjudul Qawa’id al-Ahkan fi Mashalih al-‘Anam (kaidah
kaidah hukum untuk kemaslahatan manusia) yang menjelaskan tentang maksud Allah mensyariatkan hukum, dan semua kaidah dikembalikan kepada satu kaidah pokok.
6
Kaidah Fiqhiyah Dalam Ekonomi Dan Bisnis Islam
Keseluruhan taklif yang tercermin didalam konsep al-ah- kam al-khamsah (wajib,sunnah,mubah,makruh,dan haram) kem
bali untuk kemaslahatan hamba Allah didunia dan akhirat. Bagai ma napun ketaatan hamba, tidak akan menambah apaapa kepada kemahakuasaan dan kemahasempurnaan Allah. Demikianlah pula sebaliknya, kemaksiatan hamba tidak akan mengurangi apapun terhadap kemahakuasaan dan kemaha sem purnaan Allah.
6. Nama Ilmu
Ada dua nama yang digunakan oleh ulama yaitu ‘Ilmu al-Qawa’id al-Fiqhiyah (kaidahkaidah fiqh) dan al-Asybah wa al-Nazhair (halhal yang serupa dan sebanding). Katakata al- Asybah wa al-Nazhair itu tercantum didalam surat khalifah Umar bin Khattab kepada Gubernurnya di Siria, Abu Musa al
Asya’ri. Umar memberi petunjuk kepada Abu Musa bagaimana cara memecahkan masalah yang diajukan rakyat kepadanya, Umar berkata :
7. Sandarannya
Pada hakikatnya sandaran kaidah fiqh seperti yang telah dijalaskan dimuka adalah AlQur’an, AsSunnah dan sering pula dari katakata hikmah dan kearifan para sahabat nabi serta para ulamaulama mujtahid yang sangat dalam ilmu fiqhnya.
8. Hukum Mempelajarinya
Seperti hukum dari ilmuilmu yang bermanfaat bagi masya
rakat, mempelajari kaidahkaidah fiqh adalah Fardhu kifayah.
Meskipun sebagian ulama mewajibkan mempelajari dan me
ngua sai kaidakaidah fiqh bagi para pemegang keputusan dan terutama bagi para hakim di pengadilan.
9. Contoh – contohnya
Di dalam perkembangannya, kaidahkaidah fiqh sekarang, apabila diperinci dari kaidah pokok, kaidah didalam setiap bab
7
Kaidah Fiqhiyah Dalam Ekonomi Dan Bisnis Islam
bab fiqh atau sering disebut dhabith, sampai memiliki cakupan yang paling besar dan ruang lingkup yang paling luas seperti kaidah ruang lingkupnya sempit dan cakupannya sedikit, seperti kaidah.
Dhabith ini ruang lingkupnya hanya berlaku dibidang fiqh jinayah (hukum pidana Islam) dan hanya berlaku bagi anak yang belum dewasa. Konsekuensinya, apabila anak yang belum dewasa melakukan kejahatan dengan sengaja, maka hukumannya tidak sama dengan hukuman yang di ancamankan kepada orang dewasa. Kalaupun diberi hukuman, maka hukumannya harus bersifat pendidikan, sebab kejahatan yang dia lakukan dengan sengaja, harus dianggap suatu kesalahan oleh hakim bukan suatu kesengajaan.
Di antara ulama ada yang lebih merinci dan membedakan antara al-qawa’id al-fiqhiyah dan al-dhabith al-fiqh. Al-qawa’id al-fiqhiyah memiliki cakupan dan ruang lingkup yang lebih luas, sedangkan dhabith al-fiqh memiliki ruang lingkup dan cakupan yang lebih sempit, seperti contoh diatas, konsekuensinya, kekecualiankekecualian didalam kaidah akan lebih banyak dan harus lebih hatihati penerapanya, sedangkan kekecualian
kekecualian didalam dhabith akan lebih sedikit.
B. Perbedaan antara kaidah fiqhiyah Dengan kaidah Ushuliyah
1. Kaidah Ushuliyah merupakan suatu ukuran dan dhabith un tuk menghasilkan hukum yang shahih, dan kaidah dari teori ini merupakan perantara antara suatu dalil dan hu
kum nya, maka ushul fiqh ini merupakan suatu teori yang darinya diambil hukum dari dalil. Adapun kaidah fiqhiyah merupakan hukum universal atau mayoritas, yang hukum parsialnya adalah kasus kasus fiqh, objek kajiannya adalah perbuatan mukallaf.
8
Kaidah Fiqhiyah Dalam Ekonomi Dan Bisnis Islam
2. Kaidah ushuliyah merupakan kaidah universal yang sesuai dengan semua bagianbagian dalam cakupan dan te man
n ya, sedagnkan kaidah fiqhiyah merupakan kaidah yang aghlabiyah, hukum yang ada padanya merupakan hukum yang paling menonjol, dan juga terjadi pengecualian padanya.
3. Kaidah ushuliyah sebagai wasilah dalam pencarian hukum yang terkandung di dalam dalil yang berupa Al Quran atau
pun Hadis, sedankan Kaidah Fiqhiyah merupakan kum pulan hukum yang serupa memiliki satu illat yang meng gabung
kannya, dan tujuannya hanyalah mendekatkan pemahaman fiqh dan mempermudahnya.
4. Berdasarkan jalurnya dalam fikiran dan terjadinya pada kasus yang real, kaidah fiqh datang lebih lambat daripada kaidah ushuliyah. Kaidah ushuliyah wajib datang terlebih dahulu daripada furu’ fiqhiyah, karena merupakan alat yang digunakan mujtahid dalam mencari hukum, seperti kan
dungan yang ada dalam Al Quran lebih utama datangnya dari pada hadis.
5. Kaidah ushuliyah merupakan beberapa kasus yang mengan
dung beberapa dalil tafshili yang mungkin mengistinbath (mengambil) hukum syariat dengannya. Sedangkan kaidah fiqh merupakan beberapa kasus yang mengandung hukum fiqh itu sendiri, yang para mujtahid dapat sampai kepadanya karena beberapa hukum yang dihasilkan dari ushul fiqh.
6. Mayoritas kaidah ushuliyah tidak mengarahkan kepada pen
dalaman hikmah dari pensyariatan dan maqashidnya. Seba
lik nya kaidah fiqhiyah menguatkan pondasi untuk sampai kepada hakikat hukum dan hikmahnya, dan kaidah fiqih juga melayani kajian maqashid syariah ammah dan khassah.
7. Kaidah fiqhiyah merupakan kumpulan dari beberapa hukum yang serupa, yang kembali kepada satu qiyas yang akan mengumpulkannya, atau dhabith fiqih yang mengikatnya.
Kaidah fiqhiyah merupakan buah dari hukum fiqih parsial
9
Kaidah Fiqhiyah Dalam Ekonomi Dan Bisnis Islam
yang bervariasi. Dan orang faqih yang menguasai beberapa kasus fiqih menghimpun semua hukum parsial itu untuk menyatukannya5.
C. Persamaan antara kaidah fiqhiyah Dengan kaidah Ushuliyah
Selain dari perbedaan antara kedua kaidah yang telah di
je las kan di atas, ada beberapa kaidah yang dapat digolongkan kepada kaidah ushuliyah dan juga dapat digolongkan kepada kaidah fikhiyah. Salah satu contohnya seperti kaidah:
ةحابلإا ءايشلأا يف لصلأا
Artinya : Hukum asal dari segala sesuatu adalah kebolehan Kaidah ini mempunyai hubungan dengan fiqh dan mem
punyai hubungan dengan ushul fiqh. Dengan demikian, dapat lah kita katakan bahwa kaidah ini merupakan kaidah fikhiyah dan kaidah ushuliyah.
Terkadang ada persamaan antara kaidah uhsuliyah dan kaidah fikhiyah itu hadir dari perbedaan pandangan terhadap suatu kaidah. Karena suatu kaidah itu dipandang dari dua sisi:
Sisi yang pertama. Dipandang dari judulnya. Bila kita pan
dang kaidah itu dengan anggapan bahwa kaidah itu meru
pa kan dalil syara’ , maka kaidah itu menjadi kaidah Ushuli
yah.
Sisi yang kedua. Bila dipandang dari hubungannya. Bila kita pandang suatu kaidah dengan melihat hubungannya de ngan perbuatan mukallaf, maka dapat kita katakan bah wa ia merupakan kaidah fikhiyah.
5 Ali Ahmad Al Nadwi: AlQawa’id AlFiqhiyah, (Beirut : Dar Al Qalam, 2000), h. 45.
10
Kaidah Fiqhiyah Dalam Ekonomi Dan Bisnis Islam
Untuk melihat suatu pandangan ini dapat kita lihat pada kaidah عئارذلا دس, bila dipandang dari judulnya, sebenarnya kai
dah ini merupakan kaidah ushuliyah. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa “dalil yang menetapkan haram menjadi penetap pengharaman semua yang berdampak padanya”. Namun, bila kita lihat dari sisi perbuatan mukallaf , dapat kita katakan bahwa sebenarnya kaidah ini juga merupakan kaidah fikhiyah. Dengan demikian dapat kita katakan bahwa “semua kebolehan yang perbuatannya mengantarkan pada keharaman akan ikut menjadi haram juga”.
Sama seperti kaidah yang berkaitan dengan urf. Bila kita melihat kaidah urf dari sisi definisinya (yaitu ijma’ amali atau maslahat mursalah), kaidah urf itu merupakan kaidah ushuliyah.
Dan bila kita melihat dari perbuatan mukallaf (yaitu perkataan atau perbuatan yang sudah terbiasa masuk kepada makna ter
tentu) akan dapat dikatakan bahwa kaidah urf merupakan kaidah fikhiyah.
D. Urgensi Ilmu Kaidah Fiqhiyah
AlQarafi menyatakan sebagai berikut: “Kaidahkaidah fiqh penting dalam masalah fiqh, manfaatnya besar, kadar keluhuran dan ketinggian seorang ahli fiqh terkait dengan kemampuannya dalam menguasai ilmu ini. Begitu juga, dengan kaidahkaidah fiqh keistimewaan fiqh akan tampak dan diketahui, di samping akan menampakkan dan membuka jalanjalan berfatwa. Siapa yang mengeluarkan masalahmasalah furu‘ (cabang) hanya dengan mencari kesesuaian antara masalahmasalah cabang tanpa menggunakan kaidahkaidah kulliyyat, maka furu‘ ter
sebut akan kontradiksi dan bertentangan. Akan tetapi, siapa yang mengikat fiqh dengan kaidahkaidahnya, maka cukuplah baginya daripada memelihara hukumhukum cabang yang sangat banyak, karena sudah masuk dalam (kaidahkaidah) kulliyyat tersebut,
11
Kaidah Fiqhiyah Dalam Ekonomi Dan Bisnis Islam
serta akan bersatu dan bersesuaian baginya apa yang bagi orang lain bertentangan6.
Tampak jelas bahwa alQarafi memandang ilmu kaidah fiqh sebagai berikut. Pertama, ilmu kaidah fiqh mempunyai kedu
dukan yang istimewa dalam deretan ilmuilmu keislaman. Hal ini karena ilmu kaidah fiqh dapat mengangkat kedudukan ahli fiqh ke posisi yang terhormat, di mana ketinggian dan pe nguasaan fiqh seorang ahli fiqh terkait erat dengan kemam puannya dalam menguasai ilmu kaidah fiqh. Kedua, ilmu kaidah fiqh dapat menunjukkan keistimewaan dan keagungan ilmu fiqh. Ketiga, ilmu kaidah fiqh menjadi salah satu jalan yang dapat mem pernudah para ahli fiqh dalam memberi fatwa. Keempat, ilmu kaidah fiqh membuat fiqh menjadi lebih teratur, sehingga mem
permudah seseorang dalam mengidentifikasi fiqh yang jumlah
nya sangat banyak.
Berikut adalah beberapa urgensi kaidah fiqhiyyah yang ungkap Ali Ahmad An Nadwi dalam kitabnya al Qawaid al Fiqhiyyah:
1. Kaidah fiqhiyyah mempermudah untuk menguasai fiqh Islam, menghimpun masalahmasalah yang berserakan, de ngan jalan menyusun furu‟-furu‟ yang banyak tersebut da lam satu alur di bawah satu kaidah.
2. Kaidahkaidah itu membantu menjaga dan menguasai per
soalan persoalan yang banyak diperdebatkan, dengan cara men jadikan kaidah itu sebagai jalan untuk meng hadirkan hukum.
3. Mempermudah ahli fiqh dalam mendekatkan analogi (ilhaq) dan takhrij untuk mengetahui hukumhukum, yang belum digariskan dalam fiqh.
6 AlQarafi, Al Furuq, (Beirut: Dar alMa‘rifat, 1990), J 1, h. 3.
12
Kaidah Fiqhiyah Dalam Ekonomi Dan Bisnis Islam
4. Mempermudah orang yang membahas fiqh dalam mengikuti (memahami) bagianbagian hukum dengan menge luar kan
nya dari tema tema yang berbedabeda serta meringkas nya dalam satu proposisi tertentu.
5. Meringkas persoalanpersoalan dalam satu ikatan yang me
nunjukkan bahwa hukum dibentuk untuk menegakkan mas
lahat yang saling berdekatan atau menegakkan maslahat yang lebih besar7.
Kegunaan kaidah fiqhiyah dalam bidang muamalah:
1. Mengetahui asasasas umum fiqh.
2. Lebih mudah menetapkan hukum bagi masalahmasalah yang dihadapi. yaitu dengan memasukkan masalah tadi atau menggolongkannya kepada salah satu kaidah fiqh yang ada.
3. Lebih arif di dalam menerapkan fiqh dalam waktu dan tem
pat yang berbeda, untuk keadaan dan adat kebiasaan yang ber lainan.
4. Memberikan jalan keluar dari berbagai perbedaan pendapat di kalangan ulama, atau setidaknya menguatkan pendapat yang lebih mendekati kepada kaidahkaidah fiqh.
5. Mengetahui rahasiarahasia dan semangat hukumhukum Islam (ruh alhukm) yang terkumpul di dalam kaidahkaidah fiqh.
6. Memiliki keluasan ilmu, dan hasil ijtihadnya akan lebih men
dekati kebenaran, kebaikan dan keindahan.
7 Ali Ahmad Al Nadwi: AlQawa’id AlFiqhiyah, (Beirut :Dar Al Qalam, 2000), h. 18.
13
Kaidah Fiqhiyah Dalam Ekonomi Dan Bisnis Islam
E. Jenis kaidah fiqhiyah
Kaidah fiqhiyah tidak terbentuk dalam satu jenis dan ting
katan, melainkan munculnya terjadi dalam beberapa jenis dan ting katan. Jenis ini terjadi karena dua sebab dasar, yaitu :
1. Berdasarkan kelengkapan, luas cakupannya terhadap cabang kasuskasus fiqh.
2. Kesepakatan atau perbedaan pendapat para fuqaha’ dan Ushuliyun terhadap isi dari kaidah.
3. Berdasarkan kelengkapan dan keluasan kaidah terbagi atas tiga tingkatan yaitu :
Tingkatan pertama, Kaidah Kulliyah Kubra yang memi
liki kelengkapan yang umum dan keluasan cakupannya terhap cabang permasalahan fiqh. Kaidah ini mengandung cakupan ter
hadap sub bab dan masalah fiqh yang sangat banyak, dan juga men cakup segala permasalahan perbuatan mukallaf walaupun tidak semuanya. Kaidah ini adalah kaidah yang lima8, yaitu :
. )اهدصاقمب روملأا( وأ )تاينلاب لامعلأا امنإ( ةدعاق .1 . )كشلاب عفتري ل وأ ،لوزي ل نيقيلا( ةدعاق .2 . )ريسيتلا بلجت ةقشملا( ةدعاق .3 . )لازي ررضلا( وأ )رارض لو ررض ل( ةدعاق .4 . )ةمَّكحم ةداعلا( ةدعاق .5
8 Muhammad Shidqiy Al Ghaziy, Al Wajiz fi Idhohi Qawaid Al Fiqh Al Kulliyah, (Beirut, Mu’assasah Al Risalah, cet. 4, 1996), h. 2628.
14
Kaidah Fiqhiyah Dalam Ekonomi Dan Bisnis Islam
Tingkatan kedua, yaitu kaidah yang sedikit lebih sempit cakupannya daripada kaidah sebelumnya (walaupn kaidahnya lengkap dan cakupannya luas). Kaidah ini mengandung beberapa cabang permasalahan fiqh dari sub bab yang berbedabeda, kaidah ini terbagi dua bentuk, yaitu :
1. Bentuk yang termasuk ke dalam bagian kaidah kubra dan menjadi cabang kaidah itu.
2. Bentuk yang tidak termasuk ke dalam kaidah apapun.
Misal dari bentuk kaidah yang pertama adalah kaidah تاروظحملا حيبت تارورضلا kaidah ini merupakan cabang dari kaidah ريسيتلا بلجت ةقشملا. dan kaidah نامزألا ريغتب ةيداهتجالا ماكحألا ريغت ركنيال yang merupakan cabang dari kaidah ةمكحم ةداعلا. َّ
Misal dari bentuk kaidah yang kedua adalah seperti kaidah هلثمب وأ داهتجالاب ضقني ال داهتجالا dan kaidah ةحلصملاب طونم ةيعرلا ىلع فرصتلا.
Tingkatan yang ketiga adalah kaidah yang ruang lingkup cakupannya sempit, dan kaidah ini bukan merupakan kaidah umum yang bisa dikhususkan (takhsish) dengan suatu bab atau beberapa sub bab fiqh. Kaidah inilah yang dinamakan dengan dhabith jamaknya adalah dhawabith. Dalam masalah ini Imam Subkiy memberikan definisi yang menjelaskan perbedaan antara kaidah dengan dhawabith. Kaidah adalah :
اهنم اهماكحأ مهفت ةريثك تايئزج هيلع قبطني يذلا يلكلا رملأا
Artinya : Hukum Universal yang mencakup semua bagian par- sial yang banyak, yang hukum parsial itu dapat difa- hami dengan adanya hukum universal.
Dan dari kaidah itu ada yang tidak terkhusus pada satu bab fiqh seperti kaidah :
كشلاب عفري ل نيقيلا
15
Kaidah Fiqhiyah Dalam Ekonomi Dan Bisnis Islam
Artinya : Suatu keyakinan tidak dapat dihilangkan dengan ke- raguan.
Dan ada yang terkhusus pada satu bab fiqh, seperti kaidah :
روفلا ىلع يهف ةيصعم اهببس ةرافك لك
Artinya : Semua kafarat yang disebabkan dari kemaksiatan ma- k a harus dibayar dengan segera.
Klasifikasi berdasarkan kesepakatan atau perbedaan ulama terhadap kaidah itu terbagi pada dua tingkatan, yaitu :
Tingkatan pertama, yaitu kaidah yang disepakati isinya di kalangan fuqaha’ dan berbagai madzhab. Bagian dari kaidah ini adalah semua kaidah kuliyah kubra dan banyak kaidah yang lainnya.
Tingkatan kedua, yaitu kaidah madzhabiyah yang terkhu
sus pada suatu madzhab, atau kaidah yang dipakai dan terkhusus bagi satu ulama dan bukan milik ulama yang lain, dengan keleng
kapan dan luas cakupannya pada banyak masalahmasalah fiqh.
kaidah pada tingkatan kedua inilah yang akan menjadi sebab bagi perbedaan pendapat di kalangan ulama, yang diiringi dengan perbedaan teori dan illat hukum.
Misal dari tingkatan kedua ini seperti kaidah لامتحالا عم ةجح ال ليلد نع ئشانلا asas dari kaidah ini adalah kaidah لعف ىلإ تقرطت اذإ ةمهتلا نإ هلعف داسفب مكح لعافلا. Kaidah digunakan dalam madzhab Hanbali dan Hanafi, namun tidak digunakan dalam madhab Syafi’i, dan terkadang digunakan dalam madzhab Maliki bila sudah terpenuhi syaratnya.
Dalam contoh lain seperti kaidah نامضلا عبتي عيبلا زاوج نأ لصألا kaidah ini masyhur dalam madzhab Hanafi. Adapun dalam madzhab Syafii kaidah yang digunakan adalah ةراهطلا عبتي عيبلا زاوج.
16
Kaidah Fiqhiyah Dalam Ekonomi Dan Bisnis Islam
F. Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan kaidah fiqhiyah
Dalam percakapan mengenai sumber dari kaidah fiqhiyah dijelaskan bahwa kaidah fiqh ada yang berasal dari teks Al Quran atau dari teks Al Hadis yang tunjukan makna tersuratnya mengaju pada kaidah sebagaimana dapat kita temui dalam beberapa teks hadis. Pada pembahasan ini akan dibagi pada tiga bahasan periode, yaitu periode lahirnya kaidah fiqh, periode kodifikasi dan periode pada masa modern:
1. Periode Lahirnya kaidah fiqh
Rasulullah yang merupakan Insan pilihan, dengan kecer
dasan, kejeniusan dan kemampuannya dalam bahasa, memba
wak an risalah Islam dan menyempurnakan ajaran para Nabi dan Rasul sebelumnya menggunakan bahasa yang singkat, tepat bermakna mencakup dan mudah difahami (Jawami’ Al Kalim).
Beberapa sabda beliau yang menuntaskan masalahmasalah yang terjadi pada masanya gampang dihafal. Di antara sabdasabda beliau seperti :
نامضلاب جارخلا
Artinya : Hasil (manfaat) itu diimbangi dengan tanggungan
ابر وهف اعفن رج ضرق لك
Artinya : Setiap utang piutang yang mendatangkan manfaat (bagi yang berpiutang) adalah riba
Sebab adanya pengaruh dari apa yang dilafazkan nabi yang ringkas dalam bentuk susunan kaidah, para sahabat banyak yang menggunakan bahasa singkat dalam bentuk kaidah dalam menyelesaikan beberapa masalah fiqh. Hal ini tergambar dalam
17
Kaidah Fiqhiyah Dalam Ekonomi Dan Bisnis Islam
beberapa ucapan mereka dalam memutuskan beberapa kasus, di antaranya9:
Perkataan Umar Ibn Al Khattab :
طورشلا دنع قوقحلا عطاقم
Artinya : Penerimaan hak berdasarkan pada beberapa syarat Perkataan Ali Ibn Abi Thalib :
هل نامض لاف حبرلا مساق نم
Artinya : Orang yang membagi keuntungan tidak harus menang - gung kerugian
Perkataan Abdullah Ibn Abbas :
لولأا وهف اودجت مل نإف ئيش كلو ريخم وهف وأ نآرقلا يف ئيش لك لولأاف
Artinya : Setiap pernyataan dalam Al Quran dengan redaksi “Aw”
bermakna pilihan, dan setiap pernyataan dengan re- daksi “fa inlam tajidu” bermakna berurutan10
Para fuqaha’ sahabat dan dan tabi’in, dan juga yang datang setelah mereka memberikan terapan kaidah dari sisi ini, ada
kalanya dalam penentuan prinsip dan adakalanya dari penen
tuan illat suatu hukum. Ibarat ini menjadi suatu dasar yang kita menyebutnya dengan Qawaid Al Fiqhiyah.
9 Toha Andiko, Ilmu Qawaid Fiqhiyah, (Bengkulu, Penerbit Teras, cet.
1, 2001), h. 8.
10 Shalih Ibn Muhammad Al Asmuri Al Qahthani, Majmu’ah Al Fawa’id Al Bahiyah ‘ala Mandzumat Al Qawa’id Al Fiqhiyah (Saudi, Dar Alshumai’i, 2000), h. 23.
18
Kaidah Fiqhiyah Dalam Ekonomi Dan Bisnis Islam
Konteks praktik yang lain dari itu, yang dihasilkan dari ijtihad para fuqaha’ dalam menerapkan illat dari hukum dan penentuannya, tidak didapati padanya kaidah fiqh dan tidak didapati pendapat yang mengatakannya. Karena kaidah ini tidak dibuat oleh satu orang, satu kelompok dan golongan, dan juga tidak dibuat dalam satu masa seperti membuat teks Undang
Undang Dasar dalam waktu tertentu dan oleh orangorang yang sudah dikenal.
Kaidah ini terbentuk pemahamannya, dan dituliskan teks
nya dengan cara berangsurangsur pada masa gemilang per
kem bangan Ilmu Fiqh dan penyebarannya di tangan fuqaha’
madzhab yang merupakan ahli dalam mentakhrij dan tarjih dengan cara mengistinbath hukum dari dalil teks syari’ah, dan mem beri kan illat pada hukum dan hikmah tasyri’ dan kaidah
kaidah pencapaian logika dalam penggalian hukum, dan makna fiqh dari kaidah ini sudah terpatri kuat di fikiran para Imam Mujtahid yang mampu memberikan illat dan mengkiyaskan hukum, dan bagi mereka praktik ini dinamakan Ushul.
Kitab Al Kharaj yang ditulis oleh Imam Abu Yusuf, murid dari Imam Abu Hanifah, dan juga yang menjadi penerus madzhab setelah wafatnya Imam Abu Hanifah, dan Imam Abu Yusuf juga merupakan seorang Hakim di suatu negeri dengan system daulat Islamiyah pada masa pemerintahan Khalifah Harun Al Rasyid.
Abu Yusuf menuliskan kitabnya itu kepada khalifah Harun Al Rasyid agar kitab itu dijadikan suatu kitab hukum dan undang
undang Negara untuk mengatur masalah perpajakan. Kitab ini mengandung beberapa kalimat di dalamnya yang berbentuk kaidah, bahkan sempat dijadikan dasar hukum bagi orang yang hidup setelahnya.
Dari tujuan pembahasan ini yang mengandung hadis, atsar dan beberapa pendapat fuqaha’, dapat diambil beberapa intisari dari makna kaidah:
19
Kaidah Fiqhiyah Dalam Ekonomi Dan Bisnis Islam
a. Kaidah fiqhiyah didapati dan berakar dalam pemikiran ula ma terdahulu pada masa ini semuanya belum dikenal de ngan istilah “kaidah” dan berlum teristilahkan dengan istilah “ilmu”
b. Bila kita ingin menuliskan gambaran yang jelas menge
nai metode penyusunan dalam bidang kaidah, maka ter
lebih dahulu kita mendalami illat dari teks yang mu’ta bar yang bertebaran di sana sini. Karena teks itu meru pa kan batu tum puan kita dalam masalah kaidah.
c. Ulama terdahulu telah lebih dahulu melafadzkan dan men des kripsikan istilah kaidah yang maksudnya sama dengan apa kaidah yang difahami oleh ulama pada masa abadabad akhir ini, terlebih lagi apa yang disebutkan Imam Syafi’I dan Imam Ahmad dengan jenis kaidah yang sama dengan yang kita fahami.
d. Telah jelas bahwa perbuatan dan perkataan ulama pada masa sahabat dan tabi’in menjadi panduan bagi ulama mutaakhirin untuk menggali kaidah, mengumpulkan dan menyusunnya dan menjadi suatu peradaban.
Setidaknya dapat kita fahami dalam contoh ini bahwa penggalian kaidah fikhiyah mulanya terjadi pada permulaan abad ketiga. Di mana telah berkembang penggunaan kaidah dan pema hamannya telah kuat dalam ingatan para ulama.walaupun tidak terlalu meluas istilahnya, karena pada masa itu penggunaan istilah kaidah tidak terlalu dibutuhkan. Inilah yang dinamakan periode pertama dalam perkembangan kaidah fiqh yang disebut dengan periode kelahiran dan pembentukan.
2. Periode perkembangan dan tadwin.
Kaidah fiqh dipandang sebagai suatu disiplin ilmu yang berdiri sendiri, datangnya belakangan pada masa abad keempat hijriyah dan abadabad setelahnya.
20
Kaidah Fiqhiyah Dalam Ekonomi Dan Bisnis Islam
Rinciannya terjadi pada masa maraknya kegiatan taqlid pada abad keempat Hijriyah. Kegiatan ijtihad pun mulai mele
mah dan semangatpun mulai berkurang pada masa itu, semen
tara pada saat itu perdebatan mengenai fiqh sangat besar ber
potensi terjadi. Keadaan itu tumbuh dari penyusunan ilmu fiqh dengan metode penulisan dalildalil, perbedaan pendapat an tar madzhab dan mentarjih pendapat yang kuat, yang sering diisti
lah kan dengan nama fiqh muwazanah atau fiqh komparatif an
tar madzhab. Para fuqaha’ meninggalkan hukum hasil ijtihad yang mengandung beberapa illat, orang yang datang setelahnya tidak membuat pergerakan dalam fiqh kecuali hanya mentakhrij produk fiqh baru dari fiqh madzhab yang terdahulu.
Dari kegiatan mentakhrij kasuskasus baru dari Ushul Ijti
had Imam mujtahid ini, berkembanglah Teori Ilmu Fiqh dan meluas lah pembahasan dan permasalahannya. Dari sini para fuqaha’ membuat metode baru untuk ilmu fiqh. metode ini yang mereka sebutkan dengan istilah qawaid atau dhawabith. Ter ka
dang dengan tema Al Furuq dan terkadang dengan tema Alghazz.
Kemudian, mereka memperluas penjelasan istilahnya seperti Al furuq Al qawaid dan Al dhawabith, dengan rincian11:
a. Dijadikan isitlah furuq karena mereka (fuqaha’) menda
pati beberapa masalah fiqh yang zahirnya terlihat serupa sedang kan pada hakikatnya berbeda. Maka dijelaskanlah bebe rapa masalah fiqh yang memiliki kemiripan dengan masalah lain dan memberikan hukum yang khusus bagi setiap masalah. Dengan ini, para fuqaha’ menulis kitab dengan tema al Furuq.
b. Adapun istilah qawaid dan dhawabith terjadi tatkala banyak nya cabang kasus fiqh yang dilatarbelakangi dari banyaknya kejadian baru, para fuqaha’ menjadikan satu buku dengan berbedabeda bab fiqh yang mengukur suatu
11 Muhammad Shidqi Al Ghazi, Al wajiz fi Idhohi Qawaid Al Fiqhiyah Al Kulliyah. (Beirut, Mu’assasah Al Risalah, cet. 4, 1996), h. 63.
21
Kaidah Fiqhiyah Dalam Ekonomi Dan Bisnis Islam
masalahmasalah cabang, menyusun kaidahnya men jadi teratur dengan tujuan agar kaidah itu tetap ter jaga dari kehilangan dan berpisahpisah. Metode ini pernah ditulis
kan oleh Abu Hasan Al Karkhi dalam kitab Risa lahnya, dan Abu Zaid Al Dabusiy dalam kitabnya bernama Ta’sisu Al Nadhar. Hanya saja bila metode itu terletak pada judul yang berbedabeda kita sebut dengan kaidah, dan bila terletak pada satu judul kita menyebut nya dhawabith.
Bukti jelas dalam metode ini ialah para fuqaha’ madzhab Hanafi yang terlebih dahulu menggunakan metode ini, dengan tujuan agar mereka dapat memperluas pembahasan hukum pada masalah furu’, dan agar mereka mengambil hukum furu’
dari Ushul yang telah ditetapkan oleh imam madzhab mere ka.
Dari sini dapat kita lihat ketika Imam Muhammad Ibn Hasan dalam kitab “Al Ashl” menjelaskan suatu masalah lalu mene
rangkan cabangcabang kasusnya yang sulit untuk dila kukan penerapannya.
Para pendahulu yang menghimpun kaidah fikhiyah dalam fiqh Hanafi, sebagaimana diriwayatkan imam Al Alla’I, Imam Jalaluddin Al Suyuthi dan Ibnu Nujaim. Bahwa Imam Abu Tohir Al Dabbas yang merupakan fuqaha’ di abad keempat Hijriyah menghimpun beberapa kaidah dalam madzhab Abu Hanifah menjadi tujuh belas kaidah asasi. Tiap malam, Imam Abu Tohir selalu mengulangi menelaah kaidah itu di masjid setelah semua orang keluar dari masjid. Abu Sa’id Al Harawi Al Syafi’i pernah mendatangi Abu Tohir dan menuqil sebagian kaidah yang dibuat oleh Imam Abu Tohir, kaidah itu seperti :
.اهدصاقمب روملأا .1
.كشلاب لوزي ل نيقيلا .2
.ريسيتلا بلجت ةقشملا .3
22
Kaidah Fiqhiyah Dalam Ekonomi Dan Bisnis Islam
.لازي ررضلا .4 .ةمَّكحم ةداعلا .5
Tidaklah mudah membatasi kaidah yang dihimpun oleh Imam Abu Tohir, atau membatasi selain kaidah yang lima ini.
Kecuali Imam Al Karkhi yang mengadopsi beberapa kaidah dari Abu Tohir dan menggabungkannya dalam tulisannya men
jadi tiga puluh Sembilan kaidah. Kemudian, Imam Abu Zaid Al Dabusiy menukil kaidah dari Imam Al Karkhi dan menulis
kannya di dalam kitabnya yang bernama Ta’sis Al Nadzar pada abad kelima. Dan kitab inilah yang dianggap sebagai kitab pemula dalam urusan penulisan kitab Kaidah Fiqh.
Pada abad keenam Hijriyah Imam Ala’uddin Al samar qandy menulis kitab yang bernama Idhahu Al Qawaid yang men j e las
kan mengenai kaidah fiqh.
Pada abad ketujuh. Di sini lah terletak masa terbesar per
kembangan ilmu kaidah fiqh walaupun belum sampai pada masa kematangan. Penulis disiplin ilmu kaidah fiqh di masa ini adalah Muhammad Ibn Ibrahim Al Jajirmi Al Suhluki, ia menulis kitab bernama Al Qawaid fi Al furu’ Al Syafi’iyah. Kemudian, Imam Izzuddin Ibn Abdi Al Salam menulis kitab yang bernama Qawaid Al Ahkam Fi Mashalih Al Anam. Penulis kaidah fiqh dalam madzhab Maliki adalah Muhammad Ibn Abdullah Ibn Rasyid Al Kubra dengan judul kitab Al Muhdzab Fi Dhabti Qawaid Al Madzhab.
Pada abad kedelapan Hijriyah dipandang sebagai masa keemasan dalam penulisan Kaidah Fiqh. terutama Ulama pada ma dz hab Syafi’i dipandang sebagai golongan yang paling berse
mangat dalam urusan disiplin kaidah fiqh ini, setelahnya mulai ikut para fuqaha’ madzhab fiqh yang lainnya. Kitab yang ditulis pada masa ini adalah :
23
Kaidah Fiqhiyah Dalam Ekonomi Dan Bisnis Islam
a. Al Asybah wa Al Nadza’ir yang ditulis oleh Ibnu Wakil Al Syafi’I pada tahun 716 H.
b. Al Qawaid ditulis oleh Muqarri Al Maliki pada tahun 758 H.
c. Al Mamu’ Al Madzhab Fi Dhabti Qawaid Al Madzhab ditulis oleh Alla’I Al Syafi’I pada tahun 761 H.
d. Al Asybah wa Al Nadza’ir oleh Tajuddin Al Subkiy pada tahun 771 H.
e. Al Asybah wa Al Nadza’ir oleh Jamaluddin Al Asnawi pada tahun 772 H.
f. Al Mantur Fi Al Qawaid oleh Badruddin Al Zarkasyi pada tahun 794.
g. Al Qawaid Fi Al Fiqhi oleh Ibnu Rajab Al Hanbali pada tahun 795
h. Al Qawaid Fi Al Furu’ oleh Ali Ibn Utsman Al Ghaziy pada tahun 799.
Kebanyakan dari kitab ini membangun kekayaan mengenai kaian kaidah dan dhabith fiqh dan juga hukum dasar lainnya.
Dan juga menjadi dalil akan kematangan pembentukan kaidah fiqh pada masa ini, walaupun berbedabeda dari segi penyusunan dan metode penulisannya.
Pada abad ke Sembilan banyak bermunculan karyakarya baru dengan menggunakan metode ulama yang sebelumnya.
Pada masa ini Ibnu Mulqin menyusun kitab yang isinya merang
kum dari beberapa karya seperti :
a. Asna Al Maqashid fi Tahrir Al Qawaid ditulis oleh Mu
ham mad bin Muhammad Al Zabiry pada tahun 808 H.
b. Al Qawaid Al Manzumah milik Ibnu Al Ha’im Al Muqad
dasi. Selain itu Ibnu Mulqin juga mengedit naskah milik Imam Al Alla’i yang bernama Al Mamu’ Al Madzhab Fi Dhabti Qawaid Al Madzhab kemudian ia menamainya
24
Kaidah Fiqhiyah Dalam Ekonomi Dan Bisnis Islam
dengan Tahrir al Qawaid Al Alla’iyah Wa Tamhid Al Masalik Al Fiqhiyah pada tahun 829.
c. Al Qawaid ditulis oleh Taqyuddin Al Hushniy pada ta
hun 829 H.
d. Nadzmu Al Dzakha’ir Fi Al Asybah Wa Al Nadza’ir ditulis oleh Abdurrahman Ibn Ali Al Muqaddasi pada tahun 876.
e. Al Kulliyatu Al Fiqhiyah Wa Al Qawaid ditulis Ibn Ghaziy Al Maliki pada tahun 901 H.
f. Al Qawaid Wa Al Dhawabith milik Ibnu Abdi Al Hadi ditulis pada tahun 909
Dari sini dapatlah kita katakana bahwa kesungguhan dalam penyusunan kaidah fiqh berkesinambungan hari demi hari, walau pun sebagiannya terbatas dan mengikuti dari apa yang sebelumnya ada pada masa abad kedelapan Hijriyah. Terlebih pada madzhab syafi’i. pada masa ini kegiatan dalam penulisan kaidah fiqh hanya sebagai penyempurna dan penyusunan dari apa yang sudah pernah ditulis oleh ulama sebelumnya.
Pada abad ke sepuluh Hijriyah kerajinan dalam penulisan kitab kaidah fiqh meningkat. Terlihat dari Imam Al Suyuthi yang menganalisis, meringkas dan menyusun kembali kaidah yang dituliskan oleh Imam Alla’i, Al Subkiy dan Zarkasyi, kemudian Imam suyuthi menggabungkannya dalam kitab yang bernama Al Asybah Wa Al Nadza’ir, walaupun kitab yang menjadi rujukannya itu adalah kitab yang berisi kaidah fiqhiyah dan kaidah ushuliyah kecuali milik imam Zarkasyi.
Imam Abu Al Hasan Al Zuqaq Al Maliki menyusun kaidah fiqh setelah meninjau dan menganalisis kitab yang terdahulu dari kitab Al Furuq milik Imam Al Qarafi dan kitab Qawaid milik Imam Al Muqarra. Dan kitab yang ditulisnya itu menjadi suatu kitab penting bagi ijtihad para fuqaha’ Maliki.
Demikian juga imam Ibnu Nujaim Al Hanafi mensyarah kitab Al Subki dan Al Suyuthi pada kitabnya yang bernama Al
25
Kaidah Fiqhiyah Dalam Ekonomi Dan Bisnis Islam
Asybah Wa Al Nadza’ir. Apa yang dilakukan Ibnu Nujaim ini dianggap sebagai langkah yang terdepan, karena setelah istira
hat yang panjang pada akhirnya muncul kitab kaidah fiqh bagi madzhab Hanafi, setelahnya bergeraklah para ulama hanafi untuk mempelajari dan mensyarahnya.
Setelah abad kesepuluh ini, mulai dari abad kesebelas dan seterusnya, kegiatan penulisan kaidah fiqh berjalan dengan cara seperti ini (seperti yang dilakukan Imam Suyuthi dan Ibnu Nu
jaim yang mengambil, menganalisa, merapikan dan meyusun kembali).
3. Periode Modern
Pada periode modern, para ahli mengkodifikasi kaidah
kaidah fiqh baik secara kelompok ataupun individu. Terlihat pada kitab Majjalah Al Ahkam Al ‘Adliyah yang memuat sembilan puluh sembilan kaidah fiqh, yang keseluruhan kaidahnya diadopsi dari kitab milik Ibnu Nujaim Al Khadimi dan disaring secara selektif, dan mengkomparasikan terapannya yang relevan dengan kondisi dan situasi yang sesuai bagi masyarakat Turki.
Mustafa Al Zarga juga telah menulis kaidahkaidah dalam kitab Al Fiqh Al Islami Fi Tsaubih Al Jadid. Selain itu, seorang mufti yang berasal dari Damaskus, yang bernama Sayyid Muhammad Hamzah telah mengkodifikasi beberapa kaidah fiqh, dan ia beri judul Al Fawaid Al BAhiyah Fi Al Qawaid Al Fiqhiyah.
Metode yang dipakai dalam menulis kaidah fiqh juga sudah mengalami banyak perubahan. Di mana bila kita lihat pada masa klasik kaidah fiqh hanya bertumpu pada kaidah madz hab nya sendiri, maka pada saat ini kita mendapati kaidah
kaidah fiqh yang terapannya mengacu pada semua pendapat madzhabmadzhab lainnya. Seperti karya Muhammad Musthafa Al Zuhaili yang menulis kitab berjudul Al Qawaid Al fiqhiyah wa tathbiqatuha fi madzahibi al arba’ah. Selain itu, ada juga kitab Kaidah fiqh yang tujuan penulisannya untuk mempermudah para pengkaji fiqh dalam memahami kaidah fiqh dan segala
26
Kaidah Fiqhiyah Dalam Ekonomi Dan Bisnis Islam
rumusan dan dhabitnya, seperti karya Abdurrahman bin Sholeh abd latif yang berjudul Al Qawa’id wa dhawabith al fiqhiah mutadhamminah li al taysir.
Di Indonesia mulai mengembangkan metode pengumpulan dan penulisan buku kaidah fiqh dengan metode maudhu’I (tema
tik). Seperti kaidahkaidah fiqh pada Bab pernikahan, kaidah
kaidah fiqh dalam Bab Jinayat ataupun dalam bab mua malat seperti yang ditulis pada buku ini. Metode semacam ini dituliskan dengan tujuan untuk mempermudah para pembaca yang fokus pada bidangnya dalam urusan akademisinya. Namun, walaupun tujuannya untuk mempermudah, faktanya generasi sekarang ini tanpak kurang perhatiannya pada disiplin ilmu ini. Sebagai mana Duski Ibrahim memberikan Alasannya dalam bukunya Kaidah
kaidah fiqh, yaitu :
Pertama : untuk memahami ilmu ini dibutuhkan kemam
puan memahami Bahasa Arab dengan baik. Hal ini karena kai
dahkaidah fiqh ini bersumber dari Bahasa Arab, bahkan peru
musan dan syarh (penjelasannya) juga menggunakan Bahasa Arab.
Kedua: kebanyakan generasi muda pada saat ini ingin men dapatkan hasil dengan cara yang instan, cenderung tidak meng
inginkan mengatasi halhal yang rumit. Padahal, kaidahkaidah fiqh ini memang cukup rumit, terutama dalam implemen tasinya pada kasuskasus yang terus berkembang dan terus tumbuh di masyarakat.
Ketiga: dilatar belakangi dari orientasi hidup para generasi muda yang cenderung selalu ingin santai, hurahura dan tidak ingin kerja keras12.
12 Duski Ibrahim, Al Qawaid Al Fiqhiyah (Kaidahkaidah Fiqih), (Palembang, CV. Amanah, cet. 1, 2019), h. 29.
27
Kaidah Fiqhiyah Dalam Ekonomi Dan Bisnis Islam
G. Metode penyampaian kaidah fiqhiyah
Sebagian pakar pada bidang kaidah fiqh mengamati metode susunan kata dalam penyampaian kaidah fiqh. mereka mendapati ada dua metode yang selalu digunakan. Yaitu metode khabar dan metode Insya’. Metode khabar adalah metode dalam penulisan di mana pembaca tidak dianggap berkomunikasi oleh penulis, sehing ga pembaca merasa mendapat informasi. Sedangkan meto
de Insya’i adalah metode penulisan di mana pembaca diha dir kan oleh suasana seakan diajak berkomunikasi oleh penu lis, sehingga akan menimbulkan rasa penasaran, pertanyaan dan selalu ikut berfikir13.
Terkadang didapati satu kaidah yang dituliskan fuqaha’
madzhab dengan metode khabar, dan dituliskan oleh fuqaha’
madzhab lain dengan metode Insya’i.
Dari pembelajaran kaidah fiqh dapat diketahui bahwa kaidah fiqh apabila dijelaskan dengan metode khabari menun
jukkan isyarat bahwa kaidah itu merupakan kaidah yang disepa
kati oleh para ulama, seperti kaidah اهدصاقمب رومألا dan kaidah نيقيلا كشلاب لازي ال. dan yang semisal dengan kaidah ini juga merupakan kaidah yang disepakati oleh para ulama dari berbagai madzhab, dan terkadang disepakati oleh beberapa ulama dalam satu madzhab tertentu. Seperti kaidah ال ىناعملاو دصاقملل دوقعلا ىف ةربعلا ىنابملاو ظافلألل dalam madzhab Hanafi dijelaskan dengan metode khabari. Ini menunjukkan bahwa kaidah ini telah disepakati dalam madzhab mereka.
Terkadang ulama bermadzhab Syafi’I menjelakan dengan teks اهيناعمب وأ دوقعلا غيصب ةربعلا له sebagaimana ulama madzhab Hanbali menggunakan kalimat
13 Muhammad Shidqiy Al Ghaziy, Al Wajiz fi Idhohi Qawaid Al Fiqh Al Kulliyah, (Beirut, Mu’assasah Al Risalah, cet. 4, 1996), h. 87.
28
Kaidah Fiqhiyah Dalam Ekonomi Dan Bisnis Islam
كلذب دقعلا دسفي لهف اهعوضوم نع اهجرخي ام دوقعلا ظافلأب ل ِصو اذإ
؟هجولا كلذ ىلع هتحص نكمي امع ةيانك لعجي وأ
Artinya : Apabila lafaz akad mengandung unsur yang dapat mengeluarkan dari tujuan akad, apakah akad akan rusak, atau perkara yang mengeluarkan dari tujuan itu dianggap kinayah atas sahnya akad dalam satu sisi?
Setelah dibaca teks tersebut, dan dibaca juga kasus yang men jadi penerapan kaidahnya, didapatilah bahwa kandungan kai dah ini tidak menjadi suatu kesepakatan di antara mereka (ulama madzhab Hanbali dan Syafii).
Dengan demikian dapatlah kita katakana bahwa suatu kaidah, bila dijelaskan dengan metode Khabari merupakan suatu pertanda bahwa kandungan kaidah itu dan dalalahnya di sepa
kati di antara ulama, baik ulama dalam satu madzhab atau di antara madzhab yang banyak. Dan apabila suatu kaidah dijelas kan dengan metode Insya’i itu merupakan pertanda bahwa kan
dungan kaidah tidak disepakati atau terjadi perbedaan pen dapat di kalangan ulama, baik dalam satu madzhab ataupun madzhab yang banyak.
H. Beberapa Kitab Kaidah Penting Dalam Empat Madzhab
Para sahabat Nabi Saw. Mengambil kaidah fikhiyah dari Al Quran dan Hadis, dan mereka mengambil hukum dan fatwa dari firman yang sangat agung dan mulia, yang terbentuk dalam susunan kaidah fiqh. para tabi’in juga mengikuti jejak para sahabat dalam masalah ini, banyak orang mengambil kaidah dari mereka dengan penyampaian melalui lisan, atau mereka menulisnya dalam satu catatan khusus, dan catatan itu tidak sampai kepada kita kecuali pada masa kodifikasi bukubuku kaidah yang dimulai pada abad kedua Hijriyah, yang demikian itu
29
Kaidah Fiqhiyah Dalam Ekonomi Dan Bisnis Islam
sewaktu dengan lahirnya beberapa madzhab fiqh. sehingga, pada setiap madzhab ada murid yang menjadi penerus madzhabnya.
Pergerakan penulisan kitab pada disiplin sastra dan Ilmu syariat terjadi pada masa permulaan kekhalifahan Abbasiyah, ter
utama pada pembahasan Fiqh dengan sebab seruan para khalifah Abbasiyah kepada para fuqaha’, dan perintah dari khalifah untuk membangun peradaban Islam yang dimulai dengan penulisan buku tentang fatwa yang dibutuhkan orang untuk mendapati jawaban dalam permasalahan Fiqh. dan kitab yang terkhusu pada disiplik kaidah fiqh akan dituliskan klasifi kasinya berdasarkan madzhab fiqh14.
1. Sumber kitab kaidah fiqh madzhab Hanafi.
Madzhab Hanafi merupakan madzhab yang paling rajin dalam merangkum kaidahkaidah fiqh. ini dikarenakan madzhab ini merupakan madzhab yang paling pertama ada, dan juga meru
pakan madzhab yang paling banyak menggunakan nalar logika dalam memecahkan permasalahan fiqh dan mengem bangkan te ori cabang fiqh. sehingga penulisan kitab kaidah fiqh sangat di per lukan dalam pengembangan madzhab ini. Kitab itu seperti :
a. Kitab Al Ashlu yang ditulis oleh Imam Abdullah Ibn Ha
san Al Karkhi. Dalam kitab ini mengandung tiga puluh enam kaidah yang dimulai dengan tema Al Ashlu.
b. Kitab Ta’sisu Al Nadzar yang ditulis oleh Ubaidullah Ibn Umar bin Isa Al Qadhi Abu Zaid Al Dabusiy, nama nya dinisbatkan kepada bangsa Dabusiyah, yaitu suatu Da
erah yang letaknya antara kota Bukhara dan Samar qand.
Isi dari kitab ini mendeskripsikan perbedaan pen dapat di kalangan fuqaha’, sehingga kitab inilah yang dianggap sebagai kitab Fiqh komparatif.
14 Muhammad Bakar Ismail, Al Qawaid Al Fiqhiyah Baina Al Ashalah Wa Al TAwjih, (Halyubuls, Dar Al Manar, 1992), h. 2026.
30
Kaidah Fiqhiyah Dalam Ekonomi Dan Bisnis Islam
c. Al Asybah Wa Al Nadzha’ir yang ditulis oleh Zainuddin Ibn Ibrahim yang dikenal dengan Ibnu Nujaim. Kitab ini sebagai perbandingan dari kitab yang ditulis oleh Imam Suyuthi dengan judul yang sama. Disyarahkan oleh syaikh Syarifuddin Ibrahim Al Ghazi dan dinamakan
“Tanwir Al Basha’ir ala Al Asybah Wa Al Nadza’ir”, juga disyarahkan oleh Syaikh Ahmad bin Muhammad Al Hamawi yang diberi nama “Ghamzu Uyun Al Basha’ir Syarh Al Asybah Wa Al Nadza’ir.
d. Khatimah Majami’ Al Haqa’iq, milik Syaikh Muhammad Ibn Musthafa Al Khadimi, pada awalnya berisi materi mengenai Kaidah Ushul Fiqih, kemudian di akhir kitab berisi tentang materi Kaidah Fiqh. kemudian disyarahkan oleh Musthafa Hashari pada kitab yang diberi nama
“Manafi’ Daqa’iq Syarh Majami’ Al Haqa’iq”.
e. Majallah Al Ahkam Al ‘Adliyah, ditulis oleh perkum
pulan ulama Daulah Utsmaniyah, pada masa pemerin
tahan Sultan Al Ghazi Abdul Aziz Khan Al Utsmani.
Para penulis menerapkan dalam penulisan mereka untuk memasukkan pendapat yang rajih dan pendapat para ulama madzhab Hanafi, kecuali beberapa masalah yang sedikit diambil dari pendapat yang tidak rajih. Kitab ma jal lah ini menempati posisi penting bagi kebu tuhan hakim dan pada bidang muamalah syar’iyah. Kebanya
kan kaidahnya disusun berdasarkan kaidah asasiyah dan far’iyah dengan bahasa yang lugas, dilengkapi dengan ketentuan kaidah yang disepakati ulama dengan perbe
daan dalam menggunakan sebagian kaidah. Syarah kitab ini dalah kitab yang bernama “Mir’atu Majallat Al Ah kam” kitab ini sebagai kitab yang menggunakan Bahasa Arab Turkiy ditulis oleh mufti Saudi Afandi Turkiy. Kemudian kitab yang bernama “Durarul Hukkam Syarh Majallat Al Ahkam” ditulis oleh Syaikh Ali Haidar, memi liki keistimewaan dengan isinya yang membahas
31
Kaidah Fiqhiyah Dalam Ekonomi Dan Bisnis Islam
mashadir fiqhiyah dan penafsiran yang mantab dalam bidang Hukum Syari’at.
2. Sumber Kaidah Fiqh Madzhab Maliki.
a. Kitab Al Furuq karya Imam Abbas Al Qarafi, dinisbatkan kepada Daerah Qarafah yang bersebelahan dengan maqam imam Syafi’i di Mesir. (W 684 H). kitab ini meru
pa kan kitab yang pembahasannya sangat men dalam.
Memi liki keistimewaan pembedaan antara satu kaidah dengan yang lainnya. Kitab ini merupakan ikhtisar dari kitab “Dzakhiroh”, hanya saja penulisnya menambahkan dan meluaskan pada masalah fiqh. dalam kitab ini ter
him pun lima ratus empat puluh delapan kaidah beser ta penjelasan isi kaidah yang menyerupainya dalam perma
sa halan furu’iyyah.
b. Kitab Al Qawa’id yang ditulis oleh Syaikh Muhammad Al Muqarra (W 758 H), dinisbatkan kepada daerah Muqarra, yaitu suatu daerah di Afrika. Kitab ini merupakan karya yang terbesar dalam madzhab Maliki, penulisnya me
leng kapi kitab ini dengan pembahasan metode ijithad Imam Malik dan mengkomparasikannya dengan imam Hanafi dan syafi’i. di dalam kitab ini terdapat seribu dua ratus kaidah dan dhabith yang sebagian besarnya merupa kan kaidah dan dhabith madzhabiyah.
c. Idhahu Al Masalik Ila Qawaid Imam Al Malik karya Syaikh Ahmad Ibn yahya bin Muhammad Al Tilmisani (W 914 H). kitab ini sudah lama tersimpan dalam per
pus takaan dalam bentuk manuskrip, hingga pada akhir nya dikeluarkan dalam waktu dekat, dicetak dan ditahqiq oleh Syaikh Ahmad Abu Tohir Al Khattabi.
Dalam kitab ini tersusun seratus delapan belas kaidah yang mayoritasnya adalah kaidah madzhabiyah dalam madzhab Malik. Penulis membandingkannya dengan
32
Kaidah Fiqhiyah Dalam Ekonomi Dan Bisnis Islam
furu’ fiqhiyah dari beberapa bab yang berbedabeda hingga sampai dua ribu masalah fiqh.
3. Sumber kaidah fiqh dalam madzhab Syafi’i.
a. Qawaid Al Ahkam Fi Mashalih Al Anam karya Syaikh Izzuddin Ibn Abdi Al Salam yang lahir di Damsyiq dan wafat di Mesir (W 660 H). tujuan dari penulisan kitab ini yaitu untuk kemaslahatan dalam ketaatan, muamalat, dan semua tasharruf yang diusahakan orang, penjelasan maqashid mukhalafat yang harus ditinggalkan orang, penjelasan mashlahat dalam bidang ibadah, menjelaskan keutamaan satu maslahat dengan maslahat lainnya, dan perbedaan satu mafasid dengan yang lainnya.
Tema terbesar dalam kaidah ini hanya berputar pada kaidah asas “menolak kerusakan dan mendatangkan kemaslahatan”. Dalam metode penulisannya tidak jauh mengikuti prinsip maqashid imam Syatibi dalam kitab
“Muwafaqat”. Dan kitab ini merupakan kitab yang sangat penting dalam madzhab syafi’i.
b. Al Asybah Wa Al Nadzha’ir yang disusun oleh Syaikh Ibnu Wakil Al Mishri (W 716 H). para muhaqqiq menjelas
kan bahwa kitab ini belum tersusun secara sempurna, sebab yang kemungkinan terjadi adalah karena kitab ini ditulis dalam suatu perjalanan. Syaikh Tajuddin Al Subkiy menjelaskan dalam kitab ini masih terdapat beberapa kesalahan yang belum diedit dan diperbaiki.
Sehingga yang menyempurnakan dan menyelesaikan penulisannya adalah keponakannya yang bernama Zainuddin (W 738 H) dengan cara menambahkan yang perlu ditambahkan dengan memberi kata “Qultu” pada tambahannya.
c. Al Asybah Wa Al Nadzha’ir milik Tajuddin Al Subkiy (w 771 H), dalam kitab ini penulis menjelaskan arah bahasan kaidah Ushuliyah dan Kaidah Fiqhiyah.