MAKALAH TAFSIR AYAT DAN HADITS EKONOMI
TAFSIR EKONOMI HADITS “LARANGAN DUA AKAD DALAM SATU TRANSAKSI”
Dosen Pengampu: Muh.Robbul Jalil,M.E
Disusun Oleh Kelompok 7 :
WIWIK NURWENDA: (2402605361) MARGAL: (2402605339)
PRODI EKONOMI SYARIAH FAKULTAS SYARIAH
INSTITUT AGAMA ISLAM HAMZANWADI PANCOR
2024/2025
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya kepada kita semua. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga, dan para sahabatnya.
Dengan mengucapkan syukur Alhamdulillah, saya dapat menyelesaikan makalah ini yang membahas tentang hadits tentang larangan dua jual beli dalam satu jual beli. Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas dan meningkatkan pemahaman tentang hadits dan aplikasinya dalam kehidupan sehari- hari.Saya berharap makalah ini dapat memberikan manfaat dan pengetahuan baru bagi pembaca tentang pentingnya transparansi dan keadilan dalam transaksi jual beli. Saya juga berharap bahwa makalah ini dapat menjadi referensi bagi mereka yang ingin mempelajari lebih lanjut tentang hadits dan aplikasinya dalam berbagai aspek kehidupan.
Akhirnya, saya mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian makalah ini. Saya menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu saya mengharapkan kritik dan saran yang konstruktif untuk perbaikan di masa depan.
Semoga makalah ini dapat memberikan manfaat dan keberkahan bagi kita semua. Amin.
Pancor ,10 juni 2025
Penyusun
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI... ii
BAB I...1
PENDAHULUAN... 1
A. Latar belakang...1
B. rumusan masalah...1
C. Tujuan...1
BAB II...2
PEMBAHASAN...2
A. Analisis Nahwu dan Sharaf Hadist Dua Akad Dalaam Satu Transaksi...2
B. Apa Makna Dan Tafsir Global Hadits Tentang Larangan Dua Akad Dalam Satu Transaksi...4
C. Apa implikasi hadist tentang larangan dua akad dalam satu transaksi dalam konteks ekonomi dan transaksi jual beli... 6
BAB III... 9
PENUTUP...9
A. Kesimpulan... 9
B. Saran...9
DAFTAR PUSTAKA... 11
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Dalam sistem ekonomi Islam, transaksi jual beli merupakan salah satu aspek yang sangat penting. Islam sangat memperhatikan keadilan dan transparansi dalam transaksi ekonomi, sehingga setiap transaksi harus dilakukan dengan jelas dan adil. Salah satu hadits yang berkaitan dengan transaksi jual beli adalah hadits tentang larangan dua jual beli dalam satu jual beli.
Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA, yang menyatakan bahwa Rasulullah SAW melarang dua jual beli dalam satu jual beli. Larangan ini bertujuan untuk mencegah penipuan, menjaga transparansi, dan menghindari ketidakadilan dalam transaksi ekonomi.
Dalam makalah ini, kita akan membahas tentang kajian hadits tentang larangan dua jual beli dalam satu jual beli, termasuk analisis nahwu dan sharaf, makna per kata, tafsir global hadits, dan implikasi hadits dalam kehidupan sehari-hari. Dengan memahami makna dan tafsir hadits ini, kita dapat meningkatkan kesadaran akan pentingnya ekonomi yang sehat dan berkeadilan.
B. rumusan masalah
1. Bagaimana analisis nahwu dan sharaf hadits tentang larangan dua akad dalam satu transaksi?
2. Apa makna dan tafsir global hadits tentang larangan dua akad dalam satu transaksi?
3. Apa implikasi hadits tentang larangan dua akad dalam satu transaksi dalam konteks ekonomi dan transaksi jual beli?
C. Tujuan
1. Memahami Makna dan Tafsir Hadits: Untuk memahami makna dan tafsir hadits tentang larangan dua akad dalam satu jual transaksi.
2. Menganalisis Implikasi Hadits: Untuk menganalisis implikasi hadits tentang larangan dua akad dalam satu transaksi dalam konteks ekonomi dan transaksi jual beli.
3. Meningkatkan Kesadaran: Untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya transparansi dan keadilan dalam transaksi jual beli.
BAB II PEMBAHASAN
A. Analisis Nahwu dan Sharaf Hadist Dua Akad Dalaam Satu Transaksi
Dalam hadist ini rasulullah melarang adanya dua akad (transaksi) dalam satu transaksi artinya seseorang tidak boleh melakukan dua transaksi jual beli yg berbeda dalam satu waktu dan satu kesepakatan, bunyi hadistnya sebagai berikut:
يبِأَ نْعَ
نْيْتَعَيْبِ نْعَ مَلَّسَوَ هِيْلَّعَ هِلَّلا ىلَّصَ هِلَّلا لُوسَرَ ىهَنَ لُاقَ هِنْعَ هِلَّلا يضِرَ ةَرَيْرَهُ :
$ةٍعَيْبِ يفِ
Artinya: “ dari abu Hurairoh RA, beliau berkata : Rasulullah SAW melarang dua jual beli (akad) dalam satu jual beli (transaksi).
a. Analisis nahwu
o نْعَ (huruf jar) - menunjukkan asal
بارَعَإ: huruf jar, mabni pada sukun o يبِأَ (mudhaf + jar majrur) - nama sahabat Nabi
بارَعَإ: mudhaf ilaih, majrur dengan tanda jar kasrah o ةَرَيْرَهُ (mudhaf ilaih) - nama sahabat Nabi
بارَعَإ: mudhaf ilaih, majrur dengan tanda jar kasrah o يضِرَ (fi'il madhi) - ridha
بارَعَإ: fi'il madhi, mabni pada fathah o هِلَّلا (lafdzul jalalah) - Allah
بارَعَإ: fa'il, marfu' dengan tanda dhammah o هِنْعَ (huruf jar + dhomir) - tentang dia
بارَعَإ: huruf jar, mabni pada sukun; dhomir mutakallim, majrur dengan tanda sukun
o لُاقَ (fi'il madhi) - berkata
بارَعَإ: fi'il madhi, mabni pada sukun o ىهَنَ (fi'il madhi) - melarang
بارَعَإ: fi'il madhi, mabni pada sukun o لُوسَرَ (fa'il) - Rasul
بارَعَإ: fa'il, marfu' dengan tanda dhammah
o هِلَّلا (lafdzul jalalah) - Allah
بارَعَإ: mudhaf ilaih, majrur dengan tanda jar kasrah o ىلَّصَ (fi'il madhi) - bershalawat
بارَعَإ: fi'il madhi, mabni pada sukun o هِلَّلا (lafdzul jalalah ) - Allah
بارَعَإ: fa'il, marfu' dengan tanda dhammah o هِيْلَّعَ (huruf jar + dhomir) - atas dia
بارَعَإ: huruf jar, mabni pada sukun; dhomir mutakallim, majrur dengan tanda sukun
o مَلَّسَوَ (fi'il madhi) - memberi salam
بارَعَإ: fi'il madhi, mabni pada sukun o نْعَ (huruf jar) - tentang
بارَعَإ: huruf jar, mabni pada sukun o نْيْتَعَيْبِ (maf'ul bih) - dua jual beli
بارَعَإ: maf'ul bih, manshub dengan tanda yah o يفِ (huruf jar) - dalam
بارَعَإ: huruf jar, mabni pada sukun o $ةٍعَيْبِ (majrur) - jual beli
بارَعَإ: majrur, majrur dengan tanda kasrah b. Analisis shorof
نْعَ - dari
Huruf: نْعَ adalah huruf jar yang menunjukkan asal o يبِأَ - ayahku
Wazan: لعَفِ
Ism: بأَ adalah ism yang berarti "ayah"
Tashrif: *ءٌابِآ نِاوبِأَ بأَ - - o ةَرَيْرَهُ - Hurairah
Wazan: ليْعَفِ
Ism: ةَرَيْرَهُ adalah ism yang berarti "Hurairah"
o يضِرَ - ridha
Wazan: لعَفِ
Fi'il: يضِرَ adalah fi'il madhi yang berarti "ridha"
Tashrif: ا.ضِرَ ىضِرَيْ يضِرَ - - o هِلَّلا - Allah
Ism: هِلَّلا adalah ism jalalah yang berarti "Allah"
o هِنْعَ - tentang dia
Huruf: نْعَ adalah huruf jar yang menunjukkan asal o لُاقَ - berkata
Wazan: لعَفِ
Fi'il: لُاقَ adalah fi'il madhi yang berarti "berkata"
Tashrif: *لُوقَ لُوقُيْ لُاقَ - - o ىهَنَ - melarang
Wazan: لعَفِ
Fi'il: ىهَنَ adalah fi'il madhi yang berarti "melarang"
Tashrif: *يهَنَ ىهَنْيْ ىهَنَ - - o لُوسَرَ - Rasul
Wazan: لُوعَفِ
Ism: لُوسَرَ adalah ism yang berarti "Rasul"
Tashrif: *لسَرَ لُوسَرَ - o هِلَّلا - Allah
Ism: هِلَّلا adalah ism jalalah yang berarti "Allah"
o ىلَّصَ - bershalawat
Wazan: لعَفِ
Fi'il: ىلَّصَ adalah fi'il madhi yang berarti "bershalawat"
Tashrif: *ةَلَاصَ ي1لَّصَيْ ىلَّصَ - - o هِيْلَّعَ - atas dia
Huruf: ىلَّعَ adalah huruf jar yang menunjukkan tempat o مَلَّسَوَ - memberi salam
Wazan: لعَفِ
Fi'il: مَلَّسَ adalah fi'il madhi yang berarti "memberi salam"
Tashrif: *مٌلَاسَ مَ1لَّسَيْ مَلَّسَ - - o نْعَ - tentang
Huruf: نْعَ adalah huruf jar yang menunjukkan asal o نْيْتَعَيْبِ - dua jual beli
Wazan: ةٍلَّعَفِ
Ism: ةٍعَيْبِ adalah ism yang berarti "jual beli"
Tashrif: *تٌاعَيْبِ نِاتَعَيْبِ ةٍعَيْبِ - - o يفِ - dalam
Huruf jar yang menunjukkan tempat
B. Apa Makna Dan Tafsir Global Hadits Tentang Larangan Dua Akad Dalam Satu Transaksi
Hadits tentang larangan dua akad dalam satu transaksi berarti bahwa seseorang tidak boleh melakukan dua transaksi dalam satu kesepakatan jual beli. Hal ini karena dapat menyebabkan ketidakjelasan dan penipuan dalam transaksi.Makna dan tafsir global dari hadits ini adalah : -Makna:
تٌلَاماعَملا يفِ عادخلاوَ ةٍلاهَجلاوَ رَرَغلا نْم كلذ يفِ امل ،دحاوَ عيْبِ يفِ نْيْتَعَيْبِ نْعَ يهَنْلا.
"Larangan dua jual beli dalam satu jual beli, karena hal itu dapat menyebabkan ketidakjelasan, kejahilan, dan penipuan dalam transaksi."
-Tafsir Global:
رَرَغلا مٌرَحيْوَ ،ةٍيْلاملا تٌلَاماعَملا يفِ حوضِولاوَ ةٍيْفِافشلا ىلَّعَ ثحيْ مٌلَاسَلإا نِأَ ىلَّعَ لُديْ ثيْدحلا اذهُ
ءٌارَشلاوَ عيْبلا يفِ عادخلاوَ ةٍلاهَجلاوَ.
"Hadits ini menunjukkan bahwa Islam mendorong transparansi dan kejelasan dalam transaksi keuangan, dan mengharamkan ketidakjelasan, kejahilan, dan penipuan dalam jual beli."
- Pencegahan Penipuan: Hadits ini bertujuan untuk mencegah penipuan dan ketidakjelasan dalam transaksi jual beli.
- Transparansi: Dengan melakukan satu transaksi dalam satu kesepakatan, pembeli dan penjual dapat memahami dengan jelas apa yang sedang terjadi.
- Keadilan: Hadits ini juga menekankan pentingnya keadilan dalam transaksi jual beli.
Contoh kasus yang dilarang dalam hadits ini adalah:
o حضِاوَ رَيْغ رَعَسَبِ ةَدحاوَ ةٍقُفصَ يفِ ثاثأَ وَ تيْبِ عيْبِ ( Menjual rumah dan perabotan dalam satu transaksi dengan harga yang tidak jelas ).
- Seseorang menjual rumah kepada pembeli dengan harga Rp 500 juta, dan dalam transaksi yang sama, pembeli juga diminta untuk membeli perabotan rumah tangga dengan harga yang tidak jelas.
o ىرَخأَ ةٍعَلَّسَ ءٌارَش طرَشبِ ةٍعَلَّسَ عيْبِ ( Menjual barang dengan syarat membeli barang lain ).
- Menjual barang dengan syarat membeli barang lain: Seseorang menjual sepeda motor kepada pembeli dengan syarat pembeli juga membeli helm dengan harga tertentu.
o ىرَخلأا ةٍقُفصَلا بسَح فلَّتَخم رَعَسَبِ ةٍعَلَّسَ عيْبِ (Menjual barang dengan harga yang berbeda-beda tergantung pada transaksi lain ).
- Menjual barang dengan harga yang berbeda-beda tergantung pada transaksi lain: Seseorang menjual barang dengan harga Rp 100 ribu jika pembeli membeli barang lain dengan harga Rp 500 ribu, tetapi jika pembeli tidak membeli barang lain, harga barang tersebut menjadi Rp 150 ribu ).
o لبقُتَسَملا يفِ ىرَخأَ ةٍقُفصَ ءٌارَجإ طرَشبِ ةٍعَلَّسَ عيْبِ ( Menjual barang dengan syarat melakukan transaksi lain di masa depan ).
- Menjual barang dengan syarat melakukan transaksi lain di masa depan:
Seseorang menjual barang kepada pembeli dengan syarat pembeli harus membeli barang lain dari penjual tersebut dalam waktu tertentu.
Para ulama memiliki perbedaan pendapat tentang tafsiran hadits ini :
- Imam Syafi'i: Berpendapat bahwa jual beli seperti ini tidak sah karena mengandung unsur penipuan.
- Imam Malik: Berpendapat bahwa jual beli seperti ini sah, namun dengan syarat adanya khiyar (hak untuk menentukan pilihan).
- Al-Ahnaf: Berpendapat bahwa jual beli seperti ini fasid (dinyatakan rusak) karena harganya masih majhul ( belum diketahui ).
C. Apa implikasi hadist tentang larangan dua akad dalam satu transaksi dalam konteks ekonomi dan transaksi jual beli
1. Meningkatkan Transparansi:
ضومغلاوَ شغلا بنْجتَل ةٍحضِاوَوَ ةٍفِافش قرَطبِ تٌلَاماعَملا ءٌارَجإ نْيْيْداصَتَقَلاا نْيْلَّعَافلا ىلَّعَ بجيْ.
"Para pelaku ekonomi harus melakukan transaksi dengan cara yang transparan dan jelas untuk menghindari penipuan dan ketidakjelasan." (9/344،بذهَملا حرَش عومجملا ،يوَونْلا مٌاملإا)
Transparansi dalam transaksi dapat membantu mengurangi risiko penipuan dan ketidakjelasan, sehingga para pelaku ekonomi dapat melakukan transaksi dengan lebih aman dan percaya diri.
2. Mengurangi Risiko:
ةٍيْرَاجتَلا تٌلَاماعَملا يفِ شغلاوَ ةَرَاسَخلا رَطاخم نْم للَّقُيْ دحاوَ عيْبِ يفِ نْيْتَعَيْبِ نْعَ يهَنْلا.
"Larangan dua akad dalam satu transaksi dapat mengurangi risiko kerugian dan penipuan dalam transaksi jual beli." (4/211،ينْغملا ،ةٍمادقَ نْبِا مٌاملإا)
Dengan melarang dua akad dalam satu transaksi, hadits ini dapat membantu mengurangi risiko kerugian dan penipuan dalam transaksi jual beli, sehingga para pelaku ekonomi dapat melakukan transaksi dengan lebih aman.
3. Meningkatkan Kepercayaan:
تٌاعَازنْلا نْم للَّقُتوَ يرَتَشملاوَ عئابلا نْيْبِ ةٍقُثلا ديْزت ةٍفِافشلا تٌلَاماعَملا.
"Transaksi yang transparan dapat meningkatkan kepercayaan antara penjual dan pembeli serta mengurangi konflik." (2/73،نْيْدلا مٌولَّعَ ءٌايْحإ ،يلازغلا مٌاملإا)
Transparansi dalam transaksi dapat membantu meningkatkan kepercayaan antara penjual dan pembeli, sehingga dapat mengurangi konflik dan meningkatkan stabilitas dalam transaksi.
4. Mendorong Praktik Bisnis yang Adil:
تٌلَاماعَملا عيْمج يفِ ةٍقَداصَلاوَ ةٍلداعَلا ةٍيْرَاجتَلا تٌاسَرَامملا ىلَّعَ ثحيْ.
"Hadits ini mendorong praktik bisnis yang adil dan jujur dalam semua transaksi." (،ةٍيْميْت نْبِا مٌاملإا
،مٌلَاسَلإا يفِ ةٍبسَحلا
1/43 )
Hadits ini mendorong para pelaku ekonomi untuk melakukan praktik bisnis yang adil dan jujur dalam semua transaksi, sehingga dapat menciptakan lingkungan bisnis yang sehat dan kompetitif.
5. Mengurangi Konflik:
تٌلَاماعَملا يفِ رَارَقُتَسَلاا ققُحتوَ يرَتَشملاوَ عئابلا نْيْبِ تٌاعَازنْلا نْم للَّقُت ةٍحضِاولا تٌلَاماعَملا.
"Transaksi yang jelas dapat mengurangi konflik antara penjual dan pembeli serta mencapai stabilitas dalam transaksi." (3/33،مٌلأا ،يعَفِاشلا مٌاملإا)
Transaksi yang jelas dan transparan dapat membantu mengurangi konflik antara penjual dan pembeli, sehingga dapat mencapai stabilitas dalam transaksi.
Implikasi dalam Konteks Ekonomi Modern 1. Mengurangi Risiko Sistemik:
يلاملا رَارَقُتَسَلاا ققُحتوَ داصَتَقَلاا يفِ ةٍيْماظنْلا رَطاخملا نْم للَّقُت ةٍفِافشلا تٌلَاماعَملا.
"Transaksi yang transparan dapat mengurangi risiko sistemik dalam perekonomian dan mencapai stabilitas keuangan." (ةٍيْلاملا تٌلَاماعَملاوَ يملَاسَلإا هِقُفلا ،رَكاش دمحم رَوتَكدلا)
Transparansi dalam transaksi dapat membantu mengurangi risiko sistemik dalam perekonomian, sehingga dapat mencapai stabilitas keuangan.
2. Meningkatkan Efisiensi:
ةٍيْرَوَرَضلا رَيْغ فيْلاكتَلا نْم للَّقُتوَ داصَتَقَلاا يفِ ةَءٌافكلا ديْزت ةٍحضِاولا تٌلَاماعَملا.
"Transaksi yang jelas dapat meningkatkan efisiensi dalam perekonomian dan mengurangi biaya yang tidak perlu." (فرَاصَملاوَ يملَاسَلإا هِقُفلا ،حيْلَّسَملا زيْزعَلا دبعَ نْبِ هِلَّلا دبعَ رَوتَكدلا)
Transaksi yang jelas dan transparan dapat membantu meningkatkan efisiensi dalam perekonomian, sehingga dapat mengurangi biaya yang tidak perlu.
3. Mendorong Inovasi:
رَامثتَسَلاا صرَفِ نْم ديْزتوَ داصَتَقَلاا يفِ رَاكتَبِلاا عجشت ةٍفِافشلا تٌلَاماعَملا.
"Transaksi yang transparan dapat mendorong inovasi dalam perekonomian dan meningkatkan peluang investasi." (يملَاسَلإا داصَتَقَلااوَ يملَاسَلإا هِقُفلا ،ءٌارَضخلا سنَأَ دمحم رَوتَكدلا)
Transparansi dalam transaksi dapat membantu mendorong inovasi dalam perekonomian, sehingga dapat meningkatkan peluang investasi.
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan
Hadits larangan dua akad dalam satu transaksi merupakan bentuk perhatian Islam terhadap kejelasan, keadilan, dan transparansi dalam aktivitas ekonomi, khususnya transaksi jual beli. Larangan ini bertujuan untuk mencegah munculnya penipuan, ketidakpastian, dan praktik ekonomi yang merugikan salah satu pihak. Dari analisis nahwu, sharaf, dan tafsir global hadits, dapat dipahami bahwa Islam sangat menekankan prinsip kejelasan (transparansi), kejujuran, dan keadilan dalam setiap transaksi. Dalam konteks ekonomi modern, prinsip ini berimplikasi pada perlunya sistem transaksi yang terbuka, terukur, dan adil untuk semua pihak. Implikasi praktis dari hadits ini juga mampu mendorong terciptanya lingkungan bisnis yang sehat, mengurangi konflik, serta meningkatkan efisiensi dan kepercayaan dalam pasar.
Dalam pembahasan makalah, dijelaskan pula bahwa bentuk transaksi yang dilarang dapat berupa:
menjual dua barang dengan satu harga yang tidak jelas, menjual dengan syarat membeli barang lain, hingga menetapkan harga berbeda tergantung pada kelengkapan transaksi lainnya. Semua ini termasuk bentuk-bentuk transaksi yang dapat mengandung unsur penipuan dan tidak jelas, yang pada akhirnya bisa merugikan pihak pembeli atau penjual.
Hadits ini juga menunjukkan fleksibilitas dalam hukum Islam karena terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama. Misalnya, Imam Syafi’i menganggap akad semacam ini tidak sah, sedangkan Imam Malik masih membolehkannya dengan syarat adanya kejelasan (khiyar). Ini menunjukkan bahwa para ulama juga mempertimbangkan konteks dan implikasi hukum dalam menjawab dinamika ekonomi yang terus berkembang.
B. Saran
Berdasarkan pemahaman dan pembahasan terhadap hadits larangan dua akad dalam satu transaksi, berikut beberapa saran yang dapat disampaikan:
1. Bagi Pelaku Ekonomi dan Dunia Usaha
Para pelaku bisnis hendaknya mematuhi prinsip-prinsip syariah dalam menjalankan usahanya.
Dalam setiap transaksi, kejelasan, keterbukaan informasi, dan kesepakatan bersama yang tanpa paksaan menjadi keharusan. Akad-akad yang mengandung syarat tersembunyi atau berpotensi membingungkan konsumen hendaknya dihindari. Hal ini akan meningkatkan kepercayaan pasar dan menjadikan bisnis lebih berkelanjutan.
2. Bagi Pemerintah dan Regulator Keuangan Syariah
Penting bagi pemerintah atau otoritas keuangan syariah seperti DSN-MUI atau OJK Syariah untuk memberikan regulasi yang jelas terhadap bentuk-bentuk akad yang sah dan dilarang dalam Islam. Sosialisasi kepada masyarakat luas, khususnya pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM), harus dilakukan secara terus-menerus agar mereka dapat memahami serta menerapkan prinsip muamalah secara benar.
3. Bagi Akademisi dan Mahasiswa
Hadits ini membuka ruang kajian lebih lanjut mengenai implementasi fiqh muamalah dalam dunia modern. Mahasiswa dan peneliti dapat melakukan analisis mendalam mengenai bentuk- bentuk akad kontemporer seperti kredit, leasing, bundling product, serta akad-akad yang muncul dalam dunia digital. Diharapkan muncul solusi atau formulasi baru yang sesuai dengan semangat Islam dan kebutuhan zaman.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Ghazali, Abu Hamid Muhammad bin Muhammad. Ihya’ Ulumuddin, Juz II. Beirut: Dar al- Ma’rifah, 2005.
Ibn Qudamah. Al-Mughni. Beirut: Dar al-Fikr, 1994.
Al-Nawawi, Yahya bin Syaraf. Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, Juz IX. Kairo: Dar al-Hadits, 2002.
Al-Shafi’i, Muhammad bin Idris. Al-Umm. Beirut: Dar al-Ma’rifah, 2011.
Ibn Taymiyyah, Taqiyuddin Ahmad. Al-Hisbah fi al-Islam. Kairo: Maktabah al-Sunnah, 1992.
Adiwarman A. Karim. Ekonomi Mikro Islami, Edisi Revisi. Jakarta: Rajawali Pers, 2020.
Muhammad Syafi’i Antonio. Bank Syariah: Dari Teori ke Praktik. Jakarta: Gema Insani, 2011.
Agus Hasan. Prinsip-Prinsip Ekonomi Islam. Jakarta: Rajagrafindo Persada, 2017.
Mardani. Fikih Ekonomi Syariah: Teori dan Praktik Kontemporer. Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2018.
Wahbah az-Zuhaili. Fiqh Islam wa Adillatuhu, Jilid IV. Damaskus: Dar al-Fikr, 1985.