• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III PAPARAN DATA DAN TEMUAN PENELITIAN

B. Temuan Penelitian

1. Penerapan Metode Wahdah

Al-Qur’an Pondok Pesantren Al-Muntaha

Pendidikan al-Qur‟an merupakan program utama dari pesantren ini, maka dari itu pondok tersebut menginginkan santri yang lulus dari pesantren tersebut menjadi hafizh yang fasih dalam bacaan al-Qur‟annya. Setiap santri di Pondok Pesantren Al-Muntaha sebelum mulai untuk menghafal ada beberapa syarat yang diberikan oleh pengasuh yang harus dipenuhi. Syarat tersebut bertujuan agar didalam

43

proses menghafal santri tidak merasa sulit dan menghasilkan mutu hafalan yang baik (Hj. Siti Zulaecho, AH, 2016).

a. Syarat Sebelum Menghafal

1) Izin dari orang tua 2) Menguasai ilmu tajwid 3) Baik makharij al-huruf

4) Sudah khatam al-Qur‟an bin-nadhar

Setiap santri yang belum memenuhi syarat-syarat tersebut di atas, pengasuh akan membimbingnya langsung, dengan mempelajari kitab-kitab yang berhubungan dengan hal tersebut. Setelah santri menguasai ilmu-ilmu tersebut, santri mengaji bin-nadhar sampai khatam baru memulai dengan menghafal. Seperti yang diungkapkan SB salah satu santri pesantren Al-Muntaha sebagai berikut:

“setiap santri yang ingin menghafal di pesantren ini memang harus memenuhi semua syarat yang sudah ditentukan mbak. Jika ada santri yang ingin menghafal tetapi belum pernah khatam bin-nadhar, dia akan dibimbing langsung oleh ibu nyai untuk mengkhatamkan al-Qur‟an secara bin-nadhar dan tidak lupa pula untuk memenuhi syarat yang lainnya. Selain syarat diatas, seorang santri yang ingin menghafal juga harus mempersiapkan apa yang harus dipersiapkan sebelum menghafal, seperti: Al-Qur‟an pojok dan niat yang tulus serta kuat, supaya dalam menghafal tidak mudah menyerah (SB, 17/03/2016).”

Setiap santri yang ingin menghafal al-Qur‟an selain memenuhi syarat diatas, santri juga harus mempunyai persiapan menghafal al-Qur‟an yaitu sebagai berikut:

44

1) Niat yang kuat untuk menghafal 2) Menyiapkan al-Qur‟an pojok 3) Target hafalan

4) Mengatur waktu

Ungkapan santri tentang persiapan menghafal al-Qur‟an sebagai berikut:

1. MF adalah santri yang sudah khatam, dia menghafal al-Qur‟an sambil menempuh pendidikan formal yaitu kuliah. Dia mempersiapakan diri sebelum menghafal dengan selalu mentargetkan hafalan dan mengatur waktu dengan baik seperti ungkapannya berikut ini:

“saya menghafal al-Qur‟an yang penting ada target setiap harinya dan pandai mengatur waktu. Karena saya nyambi kuliah mbak, jadi mau tidak mau ya harus sanggup membagi waktu antara muroja‟ah, hafalan baru dan juga tugas kuliah (MF, 17/03/2016).”

2. ST adalah salah satu santri yang juga sudah khatam dan menempuh pendidikan formal, bagi ST, kunci menghafal al-Qur‟an adalah selalu berinteraksi dengan al-Qur‟an. Jadi sebelum menghafal al-Qur‟an harusnya sudah sering membaca al-Qur‟an. Berikut ungkapannya:

“Menurut saya yang terpenting untuk dipersiapakan sebelum mulai untuk menghafal adalah khatam bin-nadhar

secara berulang-ulang, karena seringnya kita berinteraksi dengan ayat-ayat al-Qur‟an kita akan mudah dalam menghafal dikarenakan tidak merasa asing dengan ayat-ayat tersebut (ST, 19/03/2016).”

45

3. FH merupakan santri yang khusus menghafal al-Qur‟an tanpa menempuh pendidikan formal lainnya.

“yang terpenting bagi saya adalah niat yang tulus, karena kalau niat kita bukan untuk mendapatkan RidhoNya pasti kita akan merasa kesulitan dalam menghafal mbak (FH, 20/03/2016).”

Dari ketiga informan diatas, dapat disimpulkan bahwa setiap santri memiliki persiapan masing-masing dalam memulai hafalan, akan tetapi tidak meninggalkan persyaratan dan persiapan menghafal yang telah diterapkan di pesantren Al-Muntaha.

b. Sistem Pembelajaran Pondok Pesantren Al-Muntaha

Pondok pesantren Al-Muntaha merupakan pondok yang memfokuskan diri mencetak santri yang menghafalkan al-Qur‟an. Adapun waktu menghafalkan al-Qur‟an kepada ibu nyai adalah sehabis subuh dan isya‟, sedangkan setelah dzuhur lebih sering dengan ustadzah pondok atau dengan mbak-mbak yang sudah khatam bil-ghoib. Untuk malam jum‟at sorogan al-Qur‟annya libur.

Dalam pembelajaran menghafal al-Qur‟an dengan cara tatap muka kepada ibu nyai setiap kali setoran, kecuali ibu nyai sedang ada udzur tertentu. Metode pembelajarannya ada 2 yaitu: undakan

(tambahan hafalan) dan deresan (mengulang hafalan). Untuk sorogan undakan biasanya 1 halaman atau sesuai kemampuan dan waktuna adalah pagi hari mulai pukul 06.00-selesai, serta untuk deresan dibatasi minimal 5 halaman atau seperempat juz dan

46

waktunya setelah dzuhur dan isya‟. Adapun al-Qur‟an yang digunakan adalah al-Qur‟an cetakan menara kudus (Qur‟an pojok).

Adapun tingkatan-tingkatan dalam pembelajaran al-Qur‟an ada tiga tingkatan yaitu:

1) Tingkatan juz Amma yaitu menghafal juz 30

2) Tingkatan Bin-nadhar yaitu membaca keseluruhan al-Qur‟an serta menghafalkan surat-surat pilihan seperti surat yasin, ar-rahman, al-mulk, al-waqi‟ah dan lain-lain.

3) Tingkatan Bil-ghoib yaitu menghafal seluruh al-Qur‟an beserta doa khotmil qur‟an

c. Pelaksanaan Tahfizh al-Qur’an

Dipesantren al-Muntaha ini diberlakukan kegiatan harian, mingguan, bulanan juga tahunan. Pesantren al-Muntaha bertujuan untuk membentuk santri hafizh al-Qur‟an dengan kualitas hafalan yang bagus. Untuk itu pesantren ini memberikan materi Tahfizh

dalam beberapa kegiatan yaitu: 1) Kegiatan harian

a) Selesai sholat dzuhur : mengulang hafalan b) Selesai sholat isya‟ : mengulang hafalan c) Selesai sholat subuh : menambah hafalan 2) Kegiatan mingguan

47

3) Kegiatan bulanan

Setiap minggu legi diadakan sima‟an 30 juz yang dibaca secara bil-ghoib oleh santri secara bergilir menurut juz yang ditentukan seksi pendidikan.

4) Kegiatan tahunan

Diadakan khatmil qur‟an, setiap malam khatmil qur‟an diadakan sima‟an 30 juz untk para peserta khatmil Qur‟a.

d. Cara Menghafal Dengan Metode Wahdah

Cara menghafal dengan mentode wahdah yang diterapkan dipesantren Al-Muntaha merujuk pada teori-teori yang menjelaskan tatacara menghafal dengan metode tersebut. Sebelum menghafal ada beberapa yang harus santri perhatikan yaitu:

1) Penggunaan al-Qur‟an pojok

Yaitu setiap akhir halaman diakhiri dengan ayat dan satu halaman bersisi 15 baris serta satu juz terdiri dari 10 lembar atau 20 halaman.

2) Hafalan dilakukan dengan satu persatu ayat, kemudian mengulangnya hingga benar-benar hafal, lalu menambahkan ayat selanjutnya, hingga mencapai satu halaman.

3) Upayakan membuat target hafalan perhari. Membuat target sesuai kemampuan, jangan terlalu banyak supaya tidak memberatkan dalam menghafal.

48

4) Memperdengarkan hafalannya, sebelum disetorkan kepada ibu nyai, sebaiknya di perdengarkan dengan teman.

5) Berusaha membenarkan ucapan dan bacaan.

Dari hasil wawancara terhadap beberapa santri, mereka menerapkan metode wahdah dengan cara sebagai berikut:

a) HI adalah santri yang menghafal al-Qur‟an dengan metode wahdah. Berikut ungkapannya:

“saya menghafalnya tanpa membaca satu halaman penuh dulu mbak, tetapi saya mulai langsung menghafal dengan membaca ayat perayat baru saya gabungkan.” (HI, 12/12/2015) b) MR adalah santri yang baru saja mulai menghafal dan dia

menggunakan metode wahdah.

“sebenarnya saya tidak tahu metode apa yang saya gunakan, tetapi saya menghafal dengan cara menghafalkan perayat lalu saya sambung.” (MR, 15/12/2015)

c) AZ mengungkapkan cara yang dia gunakan untuk menghafal al-Qur‟an sebagai berikut:

“buat saya yang penting hafal, entah bagaimana caranya, saya sering menggunakan metode-metode menghafal tetapi metode yang paling saya sukai adalah metode menghafal perayat lalu digabungkan dengan mengulangi perayat lebih dai 10x.” (AZ, 15/12/1015)

d) ST adalah santri yang telah merampungkan hafalannya.

“saya menghafal dengan cara membaca ayat hingga membentuk bayangan didalam pikiran saya.” (ST, 15/12/2015) e) FH, mengungkapkan bahwa ia selalu menghafal dengan

49

f) UA adalah santri yang termasuk lambat dalam menghafal berikut ungkapannya:

“hehe, saya itu termasuk lambat dalam menghafal mbak, tetpi setelah saya menerapkan metode yang diberikan bue (ibu nyai) yaitu dengan mengulang-ulang ayat sebanyak 10-20x sekarang sudah lumayan cepat mbak.”(UA, 17/12/2015).

g) MM, menurut MM, hafalannya menjadi lebih kuat dan mudah saat menghafal dengan mengulang bacaan berkali-kali (MM, 17/12/2015).

h) MA, mengungkapkan bahwa dirinya menggunakan metode wahdah, akan tetapi ia belum istiqomah dalam hafalannya (MA,17/12/2015)

i) DK adalah santri yang menghafalkan al-Qur‟an dengan cara membaca berulang-ulang sebanyak-banyaknya sampai benar-benar hafal (DK, 18/12/2015).

j) ZF adalah salah satu santri yang menghafal dengan metode wahdah, berikut ungkapannya:

“saya tergolong santri yang malas dalam menghafal, seringnya muroja‟ah tetapi kalau tidak sanggup seperempat juz, saya muroja‟an satu halaman hehe, biar dikira setoran hafalan baru. Saya menghafal menggunakan metode yang kebanyakan santri disini gunakan yaitu dengan mengulang bacaan berulang-ulang dan sebanyak-banyaknya.” (ZF, 18/12/2015).

Dari beberpa sample diatas dapat disimpulkan bahwa mereka menggunakan metode wahdah sesuai dengan teori yang ada. Meskipun kebanyakan dari santri tidak mengetahui nama metode

50

yang ia gunakan, tetapi dari ungkapan diatas telah jelas, bahwa metode yang digunakan adalah metode wahdah.

2. Efektivitas Metode Wahdah dalam Meningkatkan Hafalan

Al-Qur’an Pondok Pesantren Al-Muntaha

Efektivitas suatu metode dapat dilihat dengan membandingkan satu metode dengan metode yang lainnya. Metode yang digunakan mayoritas santri Al-Muntaha adalah menghafal al-Qur‟an dengan menggunakan metode wahdah, metode yang direkomendasikan oleh pengasuh, ketika mengetahui santri-santri mengeluh akan susahnya membentuk bayangan pada pikirannya saat menghafal serta melihat santri-santri yang muroja‟ahnya tidak memenuhi target.

Sejak berdirinya Pesantren Al-Muntaha sampai saat ini, pesantren telah mencetak banyak seorang hafizh Qur‟an yang memiliki mutu dan kualitas bagus. Ini terbukti santri-santri yang mengikuti MHQ, selalu mendapat juara, dan siap bersaing dengan hafizh-hafizh jebolan pesantren lainnya. Pesantren ini memang tidak mewisudakan santri yang hafizh Qur‟an tiap tahunnya, dikarenakan sedikitnya santri yang minat untuk menghafal dan kebanyakan santri adalah santri yang menempuh pendidikan formal diluar pondok. Berdasarkan data yang diperoleh pesantren baru mewisudakan hafizh Qur‟an dua kali secara besar-besaran/ pegajian akbar. Meskipun demikian santri yang dicetak menjadi hafizh dan tidak diwisudakan secara resmi telah banyak, berdasarkan wawancara dengan alumni-alumni pesantren yang

51

ditemui. Santri yang telah diwisudakan dengan akbar pada tahun 2009 dan 2014, total santri yang khatam ada 11 santri, tahun 2009 ada 2 santri dan tahun 2014 ada 9 santri yang berhasil menjadi hafizh.

Berdasarkan hasil wawancara dengan para alumni, mayoritas dari mereka menggunakan metode wahdah dalam menghafalkan al-Qur‟an serta sebagai upaya dalam meningkatkan mutu hafalan mereka. Dari 11 santri, hanya 8 yang berhasil diwawancarai, dan berikut ungkapannya:

a. SB adalah santri yang berhasil menghafal al-Qur‟an dalam waktu 2 tahun, termasuk salah satu santri yang khusus dalam menghafal al-Qur‟an artinya tidak menempuh pendidikan formal diluar pondok. Ia mengungkapkan:

“saya kira metode yang saya gunakan adalah metode yang pas buat saya, karena berkat metode wahdah ini saya bisa menyelesaikan hafalan dengan waktu 2 tahun saja. Metode ini sangat efektif digunakan untuk santri yang benar-benar ingin menghafal al-Qur‟an (SB, 22/03/1016).”

b. MF adalah santri yang berhasil menghatamkan al-Qur‟an dalam waktu kurang lebih 4 tahun, ia menghafal al-Qur‟an sejak ia masuk kuliah.

“saya memnggunkan metode campur-campur yang penting hafal, tetapi saya lebih sering menggunakan metode pengulangan ayat-ayat sebanyak-banyaknya alias metode wahdah karena saya merasa itu lebih efektif (MF, 22/03/2016).”

c. FH adalah santri yang fokus untuk menghafalkan al-Qur‟an, ia tidak menempuh pendidikan formal selama menghafal dipesantren tersebut.

52

“efektif atau tidaknya metode yang digunakan sebenarnya tergantung dari santri itu sendiri, tetapi kalau saya lebih suka dengan metode pengulangan penuh atau pengulangan perayat saat menghafal (FH, 25/03/2016).”

d. TM, santri yang menghafal al-Qur‟an kurang dari 2 tahun.

“yang penting niat menghafal ki tulus mbak, terus gunakan cara menghafal yang menurutmu paling nyaman, kalau saya menggunakan cara menghafal perayat, tak baca terus menerus sampai benar-benar hafal, kalau sudah satu muka baru saya minta teman untuk menyimakkan (TM, 26/03/2016).”

e. SU, menghafal al-Qur‟an slama kurang lebih 5,5 tahun. Meskipun ia hanya menghafal al-Qur‟an saja tanpa pendidikan diluar pondok ia termasuk lama dalam mengkhatamkan al-Qur‟an. Menurut ungkapannya :

“saya lama mbak, hampir 5,5 tahun baru khatam, saya dulu menghafal al-Qur‟an dengan pengulangan penuh, membaca satu halaman full secara berkali-kali dan itu membuat pikiran saya menjadi berat dalam menghafal. Karena saya merasa sulit untuk menghafal saya mandek berbulan-bulan tidak setor hafalan baru. Saya merasa cara saya menghafal sangat tidak efektif (27/03/2016).”

f. NA santri yang menghafal selama 3 tahun ini meskipun sambil menempuh pendidikan diluar pondok, ia tetap semangat dalam hafalannya.

“yang penting bagi saya adalah niat, kalau kita suliat menghafal tetapi kita niat pasti kita akan merasa dimudahkan, dan saya menghafal dengan ayat perayat secara berulang-ulang (NA, 21/05/2016).”

g. ER, salah satu santri yang menghafal al-Qur‟an lebih dari 5 tahun. “saya menghafal al-Qur‟an lebih dari 5 tahu, ya 5 tahun lebih sedikit hehe. Saya menggunakan metode pengulangan penuh, yaitu membaca satu halaman penuh sampai saya hafal, dan itu membuat saya awang-awangen, saat mau menambah hafalan

53

yang ada diingatan saya hanyalah sulitnya menghafal ayat yang kemarin. Setelah saya sampai di juz 28 saya baru menemukan cara yang enteng untuk digunakan yaitu metode wahdah. Dan baru saya merasa metode yang saya gunakan selama ini tidak efektif untuk saya (ER, 21/05/2016).”

h. ST, mengkhatamkan al-Qur‟an selama 4 tahun. Ia juga menempuh pendidikan formal diluar pondok.

“saya menggunakan metode wahdah, karena saudara -saudara saya yang dulu menghafal al-Qur‟an juga menggunakan ini dan terbukti berhasil menghatamkan al-Qur‟an kurang dari 3 tahun bahkan ada yang 2 tahun kurang tetapi mereka fokus menghafal saja. Dan sebelum saya menghafal, saya sudah banyak diceritakan sama saudara-saudara saya metode yang banyak digunakan mayoritas santri dan sangat efektif (ST, 21/05/2016).” Dari 8 santri yang berhasil diwawancarai, ada 6 santri yang menggunakan metode wahdah dalam menghafal al-Qur‟an dan ada 2 santri yang menggunakan metode pengulangan penuh. Dari dat adi atas telah jelas terlihat bahwa metode wahdah sangat efektif dalam segi hafalan dan segi efisiensi waktu.

Menghafal al-Qur‟an bukan sekedar hafal, akan tetapi juga menyangkut kualitas hafalan setiap hafizh. Kualitas hafalan yang baik mencakup makhorijul huruf, tajwid, dan ketepatan dalam melafadzkan. Serta hafalan yang selalu melekat sempurna dihati dan pikiran seorang

hafizh. Dari hasil wawancara dengan beberapa santri terkait mutu hafalan mereka, kebanyakan dari santri memanfaatkan metode menghafal sebagai sarana penunjang mutu hafalan mereka. Salah satu santri mengungkapkan“jika metode yang digunakan efektif makan hasilnya juga akan berkualitas”.

54

Setiap santri mempunyai cara tersendiri dalam menjaga kualitas hafalannya, termasuk dalam pembagian waktu yang harus sesuai dengan kegiatannya, mengingat kebanyakan santri di pesantren ini adalah mahasiswi dan pelajar. Untuk mendapatkan hafalan yang bagus ia harus berusaha keras dalam muroja‟ah hafalannya. Semakin sering diulang makan akan semakin melekat pula hafalan tersebut. Membaca al-Qur‟an dengan tartil, dan membaca ayat dalam shalat, juga salah satu cara agar hafalan terjaga kualitasnya.

Dipesantren ini diadakan sima‟an setiap 1 bulan sekali, dan setiap hari minggu diadakan tartilan berpasangan adalah salah satu bagian dari meningkatkan kualitas hafalan santri yang diadakan oleh pesantren dengan tujuan setiap santri memiliki hafalan yang kuat serta kokoh.

55 BAB IV

PEMBAHASAN

A. Penerapan Metode Wahdah dalam Meningkatkan Hafalan al-Qur’an Santri di Pondok Pesantren Al-Muntaha

Bentuk penelitian ini adalah menggunakan deskriptif kualitatif yaitu mendeskripsikan data yang dikumpulkan berupa kata-kata, gambar dan bukan angka. Data yang berasal dari naskah, wawancara, catatan lapangan, dokumen dan sebagainya kemudian dideskripsikan sehingga dapat memberikan kejelasan terhadap kenyataan atau realitas.

Proses menghafal al-Qur‟an pada pondok pesantren ini dilakukan dengan proses membaca terlebih dahulu. Penghafal mengandalkan kecermatan, memperhatikan bunyi ayat-ayat yang hendak dihafalkan. Artinya setelah bisa membaca dengan baik sesuai dengan tajwid mulailah ia menghafal al-Qur‟an.

Di pesantren ini metode yang digunakan adalah metode wahdah, meskipun tidak semua menggunakan metode ini, hanya mayoritas santri menggunakan metode ini karena merasa lebih mudah untuk menghafal, dan disarankan oleh pengasuh. Pelaksanaan menghafal dengan metode wahdah adalah dengan cara menghafal satu persatu terhadap ayat-ayat yang hendak dihafalnya. Untuk mencapai hafalan awal, setiap ayat dibaca sebanyak sepuluh kali atau dua puluh kali atau lebih, sehingga proses ini mampu membentuk sebuah pola dalam bayangannya. Setelah benar-benar hafal barulah dilanjutkan pada ayat-ayat berikutnya dengan cara yang

56

sama, demikian seterusnya hingga mencapai satu muka dengan gerak reflek pada lisannya. Setelah itu dilanjutkan membaca dan mengulang-ulang lembar tersebut hingga benar-benar lisan mampu memproduksi ayat-ayat dalam satu muka tersebut secara alami, atau reflek dan akhirnya akan membentuk hafalan yang representative.

Setiap santri di Pondok Pesantren Al-Muntaha sebelum mulai untuk menghafal ada beberapa syarat yang diberikan oleh pengasuh yang harus dipenuhi. Syarat tersebut bertujuan agar didalam proses menghafal santri tidak merasa sulit dan menghasilkan mutu hafalan yang baik (Hj. Siti Zulaecho, AH, 2016).

1. Syarat Sebelum Menghafal Al-Qur’an

a. Izin dari orang tua

Izin dari orang tua juga merupakan modal dalam keberhasilan menghafal al-Qur‟an. Kerelaan dan do‟a orang tua inilah yang membawa dampak pengaruh “batiniyah” sehingga proses menghafal menjadi mudah. Ketika seorang santri mendapatkan izin dari orang tua untuk menghafalkan al-Qur‟an, orang tua akan senantiasa mendo‟akan anaknya agar dipermudah dalam segala urusannya untuk menghafal al-Qur‟an. Sehingga santri mendapatkan kekuatan “batiniyah” tidak hanya dari diri sendiri melainkan juga dari dorongan dan do‟a orang tua.

57

b. Menguasai ilmu tajwid

Sebelum menghafal al-Qur‟an hendaknya kita menguasai ilmu-ilmu membaca al-Qur‟an atau ilmu tajwid. Ilmu tajwid sangat membantu kita dalam proses menghafal, ketika kita menguasai tajwid sudah tentu membaca al-Qur‟an bisa dengan mudah begitu juga menghafalnya. Hafal al-Qur‟an tidak serta merta hafal lafadz nya saja melainkan juga harus sesuai dengan tajwid dan makhorijul huruf.

c. Baik makharij al-huruf

Ketika seseorang sudah hafal al-Qur‟an tentu pengucapan hurufnya harus sesuai dengan tempat-tempat keluarnya huruf. Untuk itu diperlukan adanya persiapan sebelum menghafal al-Qur‟an untuk mempelajari makharijul huruf. Belajar makharijul huruf dan tajwid adalah salah satu trik untuk memperbaiki bacaan dalam membaca al-Qur‟an.

d. Sudah khatam al-Qur‟an bin-nadzar

Seringnya khatam bin-nadzar dapat menjadi salah satu kemudahan dalam menghafal al-Qur‟an. Karena sudah seringnya berinteraksi dengan al-Qur‟an akan sangat memudahkan untuk menjadikan seseorang hafal al-Qur‟an. Menghafal al-Qur‟an tidak hanya mengandalkan kecepatan dalam menghafal ayat tetapi juga sangat diperlukan seringnya berinteraksi dengan al-Qur‟an supaya dalam menghafal tidak merasa ada ayat yang asing.

58

Setiap santri yang belum memenuhi syarat-syarat tersebut di atas, pengasuh akan membimbingnya langsung, dengan mempelajari kitab-kitab yang berhubungan dengan hal tersebut. Setelah santri menguasai ilmu-ilmu tersebut, santri mengaji bin-nadhar sampai khatam baru memulai dengan menghafal (Badriyah, 2016).

2. Sistem pembelajaran Pondok Pesantren Al-Muntaha

Metode pembelajarannya ada 2 yaitu: undakan (tambahan hafalan) dan deresan (mengulang hafalan). Untuk sorogan undakan biasanya 1 halaman atau sesuai kemampuan dan waktunya adalah pagi hari mulai pukul 06.00-selesai, serta untuk deresan dibatasi minimal 5 halaman atau seperempat juz dan waktunya setelah dzuhur dan isya‟. Adapun al-Qur‟an yang digunakan adalah al-Qur‟an cetakan menara kudus (Qur‟an pojok).

Pada dasarnya sistem pembelajaran sehebat apapun jika dari santri itu sendiri tidak menekankan pada dirinya serta tidak istqomah dalam muroja‟ah ataupun menghafal maka sistem itu tidak akan bekerja secara maksimal. Sehingga disini dibutuhkan kerjasama antara sistem dan santri agar tujuan pesantren dalam mencetak muslim penghafal al-Qur‟an yang berakhlak karimah dapat terwujud.

Kesuksesan menghafal al-Qur‟an terletak pada keistiqomahan santri dalam muroja‟ah hafalannya. Pada bab II telah dijelaskan bahwa pekerjaan apapun jika sering diulangi maka hasilnya adalah hafal (Abdul Ra‟uf, 2004: 49) sehingga telah jelas bahwa ketika santri

59

sering mengulangi hafalannya maka akan membentuk pola dalam bayangannya hingga akhirnya santri dapat benar-benar mampu memproduksi ayat-ayat dengan gerak reflek pada lisannya dan

Dokumen terkait