2.1 Kajian Teori
2.1.9 Penerapan Model Time Token Berbantuan Audiovisual pada
Tahapan pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran Time Token berbantuan audiovisual pada pembelajaran IPS, yaitu:
1) siswa memperhatikan penjelasan guru tentang tujuan pembelajaran; 2) siswa mengamati slide dan video yang berhubungan dengan materi; 3) siswa dan guru melakukan tanya jawab mengenai slide suara dan
video yang ditayangkan;
4) siswa berkelompok, sebelum kelompok memulai tugasnya, setiap siswa dalam masing-masing kelompok mendapatkan dua atau tiga buah kupon bicara dengan waktu ±30 detik per kupon (jumlah kupon bergantung pada sukar tidaknya tugas yang diberikan);
5) setiap kali seorang siswa berbicara atau mengeluarkan pendapat, siswa harus menempelkan kupon bicara pada papan Time Token; 6) jika kupon yang dimiliki seorang siswa habis, dia tidak boleh bicara
lagi sampai semua temannya juga menghabiskan kupon mereka; 7) jika semua kupon telah habis, sedangkan tugas belum selesai,
kelompok boleh mengambil kesempatan untuk membagi kupon lagi dan mengulangi prosedur kembali;
8) siswa mengamati PPT yang berisikan tentang materi diskusi;
9) guru memberi sejumlah nilai sesuai waktu yang digunakan tiap siswa. Penggunaan model Time Token berbantuan audiovisual dapat meningkatkan minat dan motivasi belajar siswa dengan penggunaan kupon berbicara sehingga
siswa dapat lebih aktif selama proses pembelajaran berlangsung, maka pembelajaran akan lebih bermakna dan diharapkan siswa mampu mencapai nilai diatas KKM.
2.2 Kajian Empiris
Penelitian ini didasarkan pada jurnal hasil penelitian yang sudah dilakukan terhadap model Time Token berbantuan audiovisual dalam meningkatkan pembelajaran. Adapun hasil penelitian tersebut adalah:
1) Bilgin, yang berjudul: “The Effect of Cooperative Learning Approach Based on Conceptual Change Condition on Students' Understanding of Chemical Equilibrium Concepts (Pengaruh Pendekatan Pembelajaran Kooperatif Berbasis Konseptual untuk Merubah Pemahaman Siswa terhadap Konsep Kesetimbangan Kimia”. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa: siswa dalam kelompok eksperimen memiliki pemahaman, hasil belajar tentang konsep kesetimbangan kimia, dan keterampilan proses dalam memecahkan masalah yang lebih baik dibandingkan hasil dari kelompok kontrol. Jadi, penerapan pembelajaran kooperatif meningkatkan pemahaman, hasil belajar dan keterampilan proses pada siswa, sehingga penelitian tersebut dapat dijadikan pendukung penelitian ini.
2) Miranti, yang berjudul: “Peningkatan Partisipasi dan Hasil Belajar Siswa Kelas IV pada Pembelajaran IPS melalui Model Time Token di SDN 04
Kinawai Batusangkar”. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa: (1)
penerapan model Time Token pada pembelajaran IPS dapat meningkatkan partisipasi siswa dalam menjawab pertanyaan yaitu dari 45,83% pada siklus I
meningkat menjadi 75% pada siklus II; (2) penerapan model Time Token pada pembelajaran IPS dapat meningkatkan partisipasi siswa dalam mengemukakan pendapat yaitu dari 45,83% pada siklus I meningkat menjadi 75% pada siklus II; (3) penerapan model Time Token pada pembelajaran IPS dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada aspek kognitif(pemahaman) yaitu dari 38,78% pada siklus I meningkat menjadi 83,33% pada silklus II. Jadi, penerapan model Time Token dapat meningkatkan partisipasi siswa dalam menjawab pertanyaan, mengemukakan pendapat, dan hasil belajar siswa pada aspek kognitif, sehingga penelitian tersebut dapat dijadikan pendukung penelitian ini.
3) Nurhayati, yang berjudul: “Peningkatan Aktivitas Belajar melalui Model Time Token IPS kelas IV SD Negeri 06 Pontianak”. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa: Hasil observasi bahwa pada visual activities pada siklus I 64,29%, Siklus II 78,58%, siklus III 91,07% kategori “sangat tinggi”. Oral Activities siklus I 50%, siklus II 69,05%, siklus III 86,90% kategori “sangat
tinggi”. Listening Activities siklus I 62,50%, siklus II 83,93%, siklus III
94,64% kategori “sangat tinggi”. Mental Activities siklus I 42,85%, siklus II
66,67%, dan siklus III 85,71% kategori “sangat tinggi”. Emosional Activities
siklus I 67,86%, siklus II 85,72%, siklus III 98,21% kategori “sangat tinggi”.
Jadi, penerapan model Time Token dapat meningkatkan visual activities, oral activities, listening activities, mental activities dan emosional activities, sehingga penelitian tersebut dapat dijadikan pendukung penelitian ini.
4) Wahyuni, yang berjudul: “Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Time Token Arends untuk Meningkatkan Pemahaman Tentang Globalisasi”. Berdasarkan hasil penelitian, dapat dilihat meningkatnya persentase pemahaman siswa pada siklus I dan siklus II. Peningkatan pemahaman dibuktikan dengan diperoleh nilai rata-rata sebelum tindakan (prasiklus) yaitu 63.54 dengan ketuntasan klasikal 37%. Pada siklus I nilai rata-rata kelas meningkat mencapai 71,3 dengan ketuntasan klasikal 63%. Setelah tindakan pada siklus II nilai rata-rata kelas meningkat menjadi 78,8 dengan ketuntasan klasikal 85%. Sehingga dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Time Token Arends dapat meningkatkan pemahaman tentang globalisasi. Jadi, penerapan model Time Token Arends dapat meningkatkan pemahaman siswa yang ditandai kenaikan ketuntasan klasikal dari siklus I ke siklus II, sehingga penelitian tersebut dapat dijadikan pendukung penelitian ini.
5) Setiawan, yang berjudul: “Penggunaan Media Audio Visual pada
Pembelajaran IPS Siswa Kelas IV SD”. Berdasarkan hasil penelitian, terjadi
peningkatan aktivitas belajar siswa, dapat dilihat dari rata-rata persentase keaktifan belajar siswa secara klasikal pada siklus I yaitu (53,84%) dan pada siklus II (76,91%), peningkatan dari siklus I ke siklus II sebesar (23,07%). Sementara itu meningkatnya hasil belajar siswa dapat dilihat dari rata-rata hasil belajar siswa pada siklus I yaitu (65,42) dan pada siklus II (79,11), terjadi peningkatan rata-rata hasil belajar siswa dari siklus I ke siklus II sebesar (13,69). Begitu pula dengan persentase ketuntasan belajar siswa secara
klasikal juga mengalami peningkatan, pada siklus I (53,84%) dan pada pada siklus II (76,92%), terjadi peningkatan ketuntasan hasil belajar siswa secara klasikal dari siklus I ke siklus II sebesar (23,08%). Jadi, penerapan media audiovisual dapat meningkatkan aktivitas belajar, hasil belajar siswa, dan ketuntasan klasikal, sehingga penelitian tersebut dapat dijadikan pendukung penelitian ini.
6) Perwitasari, yang berjudul “Peningkatan Kualitas Pembelajaran PKN melalui Model Time Token Arends dengan Media Audio Visual”. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa: (1) keterampilan guru pada siklus I memperoleh skor 21 dengan kategori cukup, siklus II memperoleh skor 24 dengan kategori baik dan pada siklus III memperoleh skor 29 dengan kategori sangat baik; (2) aktivitas siswa pada siklus I memperoleh rata-rata skor 16,05 dengan kategori cukup, pada siklus II memperoleh rata-rata skor 20,76 dengan kategori baik dan pada siklus III memperoleh rata-rata skor 24,64 dengan kategori baik; (3) hasil belajar Kognitif siswa ketuntasan klasikal hasil belajar siswa adalah 71,41%. Pada siklus II meningkat menjadi 79,48%. Dan pada silkus III hasil belajar siswa menjadi 89,74%.pada siklus I memperoleh rata-rata skor 16,05 dengan kategori cukup, pada siklus II memperoleh rata-rata skor 20,76 dengan kategori baik dan pada siklus III memperoleh rata-rata skor 24,64 dengan kategori baik. Jadi penerapan model Time Token Arends dengan media Audio Visual berhasil meningkatkan kualitas pembelajaran, ditandai dengan peningkatan secara klasikal dari siklus I sampai siklus III, sehingga penelitian tersebut dapat dijadikan pendukung penelitian ini.
7) Astrini, yang berjudul: “Penerapan Model Kooperatif Tipe Snowball Throwing dengan Media Audio Visual dalam Peningkatan Hasil Belajar IPS
Pada Siswa Kelas V SD Negeri Dondong 02 Tahun Ajaran 2013 / 2014”.
Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa: terjadi peningkatan hasil belajar siswa pada siklus I diperoleh data bahwa ketuntasan hasil belajar siswa mencapai 56,1%. Pada siklus II, persentase meningkat menjadi 88,5%. Pada siklus III, ketuntasan hasil belajar meningkat menjadi 97,2%. Jadi penerapan media Audio Visual berhasil meningkatkan hasil belajar siswa, ditandai dengan peningkatan ketuntasan klasikal dari siklus I sampai siklus III, sehingga penelitian tersebut dapat dijadikan pendukung penelitian ini.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dengan menggunakan model pembelajaran Time Token dan media audiovisual menunjukkan adanya peningkatan kualitas pembelajaran. Selanjutnya kajian empiris tersebut menjadi landasan peneliti untuk memperkuat peneliti melakukan penelitian tindakan kelas
dengan judul “Penerapan Model Time Token Berbantuan Audiovisual untuk Meningkatkan Kualitas Pembelajaran IPS Siswa Kelas VC SDN Purwoyoso 03
Kota Semarang”
2.1Kerangka Berfikir
Hasil refleksi dengan kolaborator di kelas VC SDN Purwoyoso 03 Kota Semarang menunjukkan bahwa kualitas pembelajaran IPS yang berlangsung belum optimal. Guru belum menerapkan model pembelajaran yang menuntut siswa untuk berkontribusi secara merata. Di sisi lain guru belum memanfaatkan media yang mampu menarik perhatian siswa sehingga pembelajaran IPS dianggap
sebagai pelajaran yang membosankan, sehingga siswa kurang memahami materi pelajaran IPS yang telah disampaikan guru. Sebagian siswa tidak ikut memberikan kontribusi baik saat diberikan kesempatan oleh guru maupun saat diskusi kelompok.
Peneliti berusaha mencari pemecahan masalahnya yaitu dengan menggunakan model pembelajaran Time Token berbantuan audiovisual pada pembelajaran IPS. Model pembelajaran Time Token memastikan bahwa setiap siswa mendapat kesempatan yang sama untuk berperan serta dalam kelompoknya. Sedangkan media audiovisual adalah media yang mengandung unsur suara dan unsur gambar, dapat memperjelas penyajian pesan agar tidak terlalu bersifat verbalistis (dalam bentuk kata-kata, tertulis atau lisan belaka) sehingga memudahkan siswa untuk menyerap materi yang disajikan guru. Dengan penggunaan model pembelajaran yang tepat dan media pembelajaran yang efektif dapat terjadi perubahan keaktifan dan hasil belajar siswa khususnya pada siswa kelas VC SDN Purwoyoso 03 Kota Semarang.
Bagan 2.1 Bagan Kerangka Berfikir Kondisi Awal Pelaksanaan Tindakan Kondisi Akhir
Kualitas pembelajaran IPS belum optimal, ditandai dengan: 1. Keterampilan guru dalam pembelajaran IPS:
1) Kemampuan guru dalam menerapkan model pembelajaran masih kurang serta kesulitan dalam pengelolaan kelas
2) kurang optimal dalam memanfaatkan media.
3) Belum ada pemerataan kesempatan kepada siswa untuk ikut berkontribusi pada saat pembelajaran berlangsung.
2. Aktivitas siswa dalam pembelajaran IPS:
1) Siswa tidak aktif bertanya
2) Partisipasi siswa dalam diskusi masih kurang
3) Sebagian besar siswa tidak memperhatikan saat pembelajaran
3. Hasil Belajar IPS:
Belum tercapainya KKM (< 70) dan ketuntasan klasikal siswa hanya 48%
Penerapan Model Pembelajaran Time Token Berbantuan Audiovisual dalam Pembelajaran IPS:
1) Siswa mengamati slide dan video yang berhubungan dengan materi. 2) Siswa dan guru melakukan tanya jawab mengenai slide suara/video
yang ditayangkan.
3) Siswa berkelompok, sebelum kelompok memulai tugasnya, setiap siswa dalam masing-masing kelompok mendapatkan dua atau tiga buah kupon bicara dengan waktu ±30 detik per kupon (jumlah kupon bergantung pada sukar tidaknya tugas yang diberikan).
4) Setiap kali seorang siswa berbicara atau mengeluarkan pendapat, siswa harus meletakkan di tengah-tengah meja kelompok.
5) Jika kupon yang dimiliki seorang siswa habis, dia tidak boleh bicara lagi sampai semua temannya juga menghabiskan kupon mereka.
6) Jika semua kupon telah habis, sedangkan tugas belum selesai, kelompok boleh mengambil kesempatan untuk membagi kupon lagi dan mengulangi prosedur kembali.
7) Siswa mengamati PPT yang berisikan tentang materi diskusi.
Kualitas pembelajaran IPS meningkat, ditandai dengan: 1. Keterampilan guru dalam pembelajaran IPS:
1) Kemampuan guru dalam menerapkan model pembelajaran tertentu sudah meningkat serta dapat mengelola kelas dengan baik. 2) Sudah optimal dalam memanfaatkan media.
3) Sudah ada pemerataan kesempatan kepada siswa untuk ikut berkontribusi pada saat pembelajaran berlangsung.
2. Aktivitas siswa dalam pembelajaran IPS:
1) Siswa menjadi aktif bertanya
2) Partisipasi siswa dalam diskusi sudah meningkat
3) Sebagian besar siswa sudah memperhatikan saat pembelajaran
3. Hasil belajar IPS:
2.2Hipotesis Tindakan
Berdasarkan dari kajian teori, kajian empiris, dan kerangka berpikir yang telah dikemukakan, hipotesis tindakan dalam penelitian ini adalah: dengan menerapkan model pembelajaran Time Token berbantuan audiovisual, maka keterampilan guru, aktivitas siswa, dan hasil belajar dalam pembelajaran IPS kelas VC SDN Purwoyoso 03 Kota Semarang meningkat.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1
PROSEDUR PENELITIAN TINDAKAN KELAS
Rancangan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK) yang terdiri atas tiga siklus. Penelitian tindakan kelas ini terdiri atas empat tahapan, yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi (Arikunto, 2014: 16)
Bagan 3.1 Bagan Langkah-Langkah PTK
Rancangan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan tahapan sebagai berikut.
SIKLUS II Observasi Refleksi Pelaksanaan ? SIKLUS I Perencanaan Observasi Refleksi Pelaksanaan Perencanaan 71
3.1.1 Perencanaan
Tahap perencanaan merupakan tahap awal dimana peneliti menentukan titik atau fokus peristiwa yang perlu mendapatkan perhatian khusus untuk diamati, kemudian membuat sebuah instrumen pengamatan untuk membantu peneliti merekam fakta yang terjadi selama tindakan berlangsung.
Tahap menyusun rancangan ini, peneliti menentukan titik atau fokus peristiwa yang perlu mendapatkan perhatian khusus untuk diamati, kemudian membuat sebuah instrumen pengamatan untuk membantu peneliti merekam fakta yang terjadi selama tindakan berlangsung (Arikunto, 2014: 18).
Tahap perencanaan dalam penelitian ini meliputi:
1) Menelaah kurikulum IPS kelas V semester II dan merumuskan indikator pembelajaran yang akan dicapai.
2) Menyusun perangkat pembelajaran berupa silabus, rencana pelaksanaan pembelajaran, materi ajar, media pembelajaran, lembar kerja siswa (LKS), kisi-kisi evaluasi, soal evaluasi, soal pengayaan dan perbaikan kunci jawaban penyekoran, sesuai dengan indikator yang telah ditetapkan dengan menerapkan model Time Token.
3) Membuat lembar observasi keterampilan mengajar guru dan aktivitas belajar siswa, hasil belajar siswa ranah afektif dan psikomotorik dalam pembelajaran melalui model pembelajaran Time Token berbantuan audiovisual.
3.1.2 Pelaksanaan Tindakan
Arikunto (2014:18), penelitian tindakan adalah pelaksanaan yang merupakan implementasi atau penerapan isi rancangan, yaitu mengenakan tindakan di kelas. Sebagai pelaksana guru harus ingat dan berusaha menaati apa yang dirumuskan dalam rancangan, tetapi harus pula berlaku wajar, tidak dibuat-buat.
Pelaksanaan tindakan dilaksanakan dalam tiga siklus dengan menggunakan model pembelajaran Time Token berbantuan audiovisual, masing- masing siklus terdiri dari satu pertemuan. Pelaksanaan tindakan penelitian pada siklus pertama peneliti akan melaksanakan pembelajaran IPS dengan materi usaha dalam mempersiapan kemerdekaan Indonesia. Pada siklus kedua peneliti membahas tentang peran PPKI dan BPUPKI dalam persiapan kemerdekaan Indonesia serta proses perumusan dasar negara. Sedangkan pada siklus ketiga materinya adalah mempelajari tokoh-tokoh serta perannya dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia dan cara menghargai jasa para pahlawan yang ikut berperan dalam kemerdekaan Indonesia.
3.1.3 Observasi
Observasi adalah suatu teknik yang dilakukan dengan mengamati dan mencatat secara sistematik apa yang tampak dan terlihat sebenarnya (Hamdani, 2011: 312). Tahap observasi peneliti melakukan pengamatan dan mencatat semua hal yang diperlukan dan terjadi selama pelaksanaan tindakan berlangsung. Tahap ini berjalan bersamaan dengan saat pelaksanaan. Pengamatan dilakukan pada waktu tindakan sedang berjalan, jadi keduanya berjalan dalam waktu yang sama.
Peneliti menggunakan lembar observasi keterampilan guru, aktivitas siswa, hasil belajar siswa ranah afektif dan psikomotorik, catatan lapangan, dokumentasi serta lembar soal dalam pengumpulan data di lapangan. Kegiatan observasi dilakukan secara kolaboratif dengan guru pengamat untuk mengamati keterampilan guru dan aktivitas siswa selama melasanakan pembelajaran Time Token berbantuan audiovisual.
3.1.4 Refleksi
Refleksi merupakan kegiatan untuk mengemukakan kembali apa yang sudah dilakukan (Arikunto, 2014: 19). Kegiatan refleksi ini dilaksanakan secara kolaboratif dengan kolaborator, yaitu untuk menganalisis data hasil penelitian. Setelah mengkaji hasil belajar siswa dan hasil pengamatan pengelolaan pembelajaran yang dilakukan oleh guru, serta melihat ketercapaian indikator kinerja maka peneliti melakukan perbaikan pada siklus dua agar pelaksanaannya lebih efektif. Peneliti juga melihat apakah indikator kinerja yang telah ditetapkan sebelumnya telah tercapai. Bila belum tercapai maka peneliti melanjutkan siklus berikut sampai mencapai indikator penelitian.
Kegiatan refleksi penelitian ini untuk mengkaji keterampilan guru, aktivitas siswa dan hasil belajar dalam pelaksanaan pembelajaran IPS dengan menggunakan model pembelajaran Time Token berbantuan audiovisual. Selain itu, peneliti juga mengkaji kekurangan yang ditemui pada siklus sebelumnya yang digunakan sebagai dasar penyusunan rencana tindakan pada siklus berikutnya. Demikian seterusnya, sehingga siklus berikutnya akan berjalan lebih baik dari pada siklus sebelumnya.
3.2 SIKLUS PENELITIAN
Siklus adalah putaran secara berulang dari kegiatan penelitian tindakan kelas yang terdiri dari perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi (Arikunto, 2014: 16). Secara rinci perencanaan siklus dalam pembelajaran IPS melalui model Time Token berbantuan audiovisual siswa kelas VC SDN Purwoyoso 03 dapat dijelaskan sebagai berikut.
3.2.1. Siklus I 3.6.1.1.Perencanaan
Dalam tahap perencanaan peneliti membuat perencanaan sebagai berikut. 1. Menelaah kurikulum IPS kelas V semester II dan merumuskan indikator
pembelajaran yang akan dicapai.
2. Menyusun perangkat pembelajaran berupa silabus, rencana pelaksanaan pembelajaran, materi ajar, media pembelajaran, lembar kerja siswa (LKS), kisi-kisi evaluasi, soal evaluasi, soal pengayaan dan perbaikan kunci jawaban penyekoran, dengan Kompetensi Dasar 2.2 Menghargai jasa dan peranan tokoh perjuangan dalam mempersiapkan kemerdekaan Indonesia. Indikator:
2.2.1. Menjelaskan beberapa usaha dalam rangka mempersiapkan kemerdekaan.
2.2.2 Mendeskripsikan peristiwa persiapan kemerdekaan. 2.2.3 Mendeskripsikan peristiwa Rengasdengklok
3. Membuat lembar observasi keterampilan mengajar guru dan aktivitas belajar siswa, hasil belajar siswa ranah afektif dan psikomotorik dalam
pembelajaran melalui model pembelajaran Time Token berbantuan audiovisual.
4. Menyiapkan lembar catatan lapangan. 3.6.1.1.Pelaksanaan Tindakan
1. Kegiatan Awal (±10menit)
1) Mempersiapkan peserta didik dengan salam, berdoa, presensi, dan mempersiapkan media pembelajaran.
2)
Guru mengajak siswa menyanyikan lagu “Hari Kemerdekaan” (terlampir).3)
Guru bertanya kepada siswa: “Apa saja persiapan untuk menyongsong kemerdekaan? mari kita pelajari bersama - sama”4) Guru menyampaikan tujuan pembelajaran.
5) Memotivasi peserta didik agar dapat berkonsentrasi dalam kegiatan belajar yang akan dilaksanakan.
2. Kegiatan Inti (±70 menit)
1) Siswa mengamati materi yang ditampilkan guru menggunakan audiovisual tentang persiapan kemerdekaan Indonesia (eksplorasi). 2) Siswa bersama guru melakukan tanya jawab tentang materi yang telah
dijelaskan (eksplorasi).
3) Siswa diminta untuk berkelompok, terdiri dari 4–5 siswa perkelompok. 4) Siswa mendengarkan penjelasan guru tentang model pembelajaran Time
5) Siswa menerima kupon bicara dan lembar kerja siswa untuk dikerjakan secara berkelompok sesuai dengan ketentuan model Time Token, yang telah dijelaskan oleh guru (elaborasi).
6) Siswa berdiskusi dalam kelompoknya untuk menyelesaikan lembar kerja siswa yang diberikan guru tentang persiapan kemerdekaan Indonesia dan peristiwa Rengasdengklok (elaborasi).
7) Masing-masing siswa diminta menulis hasil diskusi pada lembar kerja siswa dan buku catatannya (elaborasi).
8) Siswa membacakan hasil diskusi secara bergantian, kemudian kelompok lain memberi tanggapan terhadap presentasi kelompok tersebut (konfirmasi).
9) Siswa mengamati PPT tentang pembenaran soal diskusi (konfirmasi). 10)Guru memberikan pembenaran atau klarifikasi atas jawaban siswa yang
kurang tepat (konfirmasi).
11)Siswa diberi kesempatan untuk menanyakan materi yang belum dipahami (konfirmasi).
3. Kegiatan Akhir (±10 menit)
1) Guru bersama siswa menyimpulkan materi yang telah dibahas. 2) Pelaksanaan evaluasi.
3) Tindak lanjut:
guru meminta siswa mempelajari materi tentang peranan BPUPKI dan PPKI dalam perumusan dasar Negara serta tokoh-tokoh yang berperan dalam
mempersiapkan kemerdekaan Indonesia dan memberikan soal perbaikan/ pengayaan kepada siswa.
4) Berdoa bersama. 3.6.1.1.Observasi
Tahap observasi dilakukan dengan mengamati proses pembelajaran. Aspek-aspek yang diamati meliputi:
1) melakukan pengamatan keterampilan guru dalam pembelajaran; 2) melakukan pengamatan aktivitas siswa dalam pembelajaran;
3) melakukan pengumpulan data hasil belajar siswa setelah menggunakan model pembelajaran Time Token berbantuan audiovisual di kelas;
4) mencatat kejadian yang terjadi dalam pembelajaran di catatan lapangan. 3.6.1.1.Refleksi
Refleksi dalam penelitian ini dilakukan dengan menelaah kembali apa yang telah diamati dalam kegiatan pembelajaran seperti keterampilan guru, aktivitas siswa dan kemampuan siswa dalam mengerjakan soal-soal evaluasi IPS. Setelah melaksanakan siklus I, peneliti menganalisis tes hasil belajar siswa dan lembar observasi. Apakah sudah mencapai indikator keberhasilan dalam penelitian. Dalam tahap refleksi ini peneliti melakukan kegiatan sebagai berikut.
1) Menelaah pelaksanaan pembelajaran siklus pertama.
2) Mengidentifikasi dan mengkaji daftar permasalahan yang terjadi pada siklus pertama.
4) Membuat pengelompokkan siswa didasarkan pada hasil yang didapatkan siswa pada evaluasi yang dilakukan. Kelompok siswa yang tuntas KKM dan belum tuntas KKM.
5) Merencanakan tindak lanjut untuk siklus kedua. 3.2.2. Siklus II
3.6.1.1.Perencanaan
Setelah melaksanakan refleksi pada siklus I kemudian dilakukan perencanaan pelaksanaan pada siklus II. Peneliti melakukan:
1) Identifikasi masalah pada siklus I dan penetapan alternatif pemecahan masalah.
2) Menelaah kurikulum IPS kelas V semester II dan merumuskan indikator pembelajaran yang akan dicapai.
3) Menyusun perangkat pembelajaran berupa silabus, rencana pelaksanaan pembelajaran, materi ajar, media pembelajaran, lembar kerja siswa (LKS), kisi-kisi evaluasi, soal evaluasi, soal pengayaan dan perbaikan kunci jawaban penyekoran, dengan Kompetensi Dasar 2.2 Menghargai jasa dan peranan tokoh perjuangan dalam mempersiapkan kemerdekaan Indonesia. Indikator:
2.2.4. Menyebutkan peran BPUPKI dalam persiapan kemerdekaan Indonesia
2.2.5 Menyebutkan peran PPKI dalam persiapan Kemerdekaan Indonesia 2.2.6 Menjelaskan proses perumusan dasar negara
4) Membuat lembar observasi keterampilan mengajar guru dan aktivitas belajar siswa, hasil belajar siswa ranah afektif dan psikomotorik dalam pembelajaran melalui model pembelajaran Time Token berbantuan audiovisual.
5) Menyiapkan lembar catatan lapangan. 3.6.1.1.Pelaksanaan Tindakan
1. Kegiatan Awal (±10 menit)
1) Mempersiapkan peserta didik dengan salam, berdoa, presensi, dan mempersiapkan media pembelajaran.
2) Guru mengajak siswa menyanyikan lagu “Garuda Pancasila” (terlampir). 3) Guru bertanya tentag isi lagu, “Anak-anak, dasar Negara Indonesia disebut
apa? Bagaimana isi dari dasar Negara tersebut? Apakah kalian tahu bagaimana proses perumusan dasar Negara?
4) Guru menyampaikan tujuan pembelajaran.
5) Memotivasi peserta didik agar dapat berkonsentrasi dalam kegiatan belajar yang akan dilaksanakan.
2. Kegiatan Inti (±70 menit)
1) Siswa mengamati materi yang ditampilkan guru menggunakan audiovisual tentang peranan BPUPKI dan PPKI dalam persiapan kemerdekaan Indonesia serta proses perumusan dasar Negara Indonesia (eksplorasi).
2) Siswa bersama guru melakukan tanya jawab tentang materi yang telah dijelaskan (eksplorasi).
4) Siswa mendengarkan penjelasan guru tentang model pembelajaran Time Token, yang meliputi peraturan dan kententuannya. (eksplorasi).
5) Siswa menerima kupon bicara dan lembar kerja siswa untuk dikerjakan secara berkelompok sesuai dengan ketentuan model Time Token, yang telah dijelaskan oleh guru (elaborasi).