BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
TEORETIS PENDIDIKAN NILAI ISLAMI A.Pendidikan Nilai Islami
H. Nilai Budaya Islami Masyarakat Aceh
I. Penerapan Nilai-nilai Pendidikan Islami dalam Masyarakat Aceh
a. Islam dan Akulturasi Budaya Masyarakat Aceh
Sebagai suatu norma, aturan, maupun segenap aktivitas masyarakat Indonesia, ajaran Islam telah menjadi pola anutan masyarakat. Dalam konteks inilah Islam sebagai agama sekaligus telah menjadi budaya masyarakat Indonesia. Di sisi lain budaya-budaya lokal yang ada di masyarakat, tidak otomatis hilang dengan kehadiran Islam. Budaya-budaya lokal ini sebagian terus dikembangkan dengan mendapat warna-warna Islam. Perkembangan tersebut kemudian yang menurut Mark Woodward melahirkan yang dinamakan “akulturasi budaya”, antara budaya lokal dan Islam.
118Abdullah bin Muhammad, Tafsir Ibnu Katsir, hlm. 205-206.
119 Rusdi Sufi, Aneka Budaya Aceh (Banda Aceh: Badan Perpustakaan Aceh, 2004), hlm.5.
Kerajaan Lamuri (Rumbli/Lumbli) di ujung pulau Sumatera berdiri satu zaman dengan Kerajaan Sriwijaya di ujung Selatan Sumatera.120 Berdasarkan keterangan tersebut, dapat diambil kesimpulan bahwa Kerajaan Lamuri adalah Kerajaan Hindu/Budha. Sementara itu, Kamaruzaman Bustamam Ahmad mengatakan ada empat agama besar yang muncul di Aceh pada mulanya, yakni Islam, Kong Hucu atau Tao, Kristen, dan Hindu. Dapat dipastikan pula bahwa keempat agama besar itu pernah bertapak di Aceh, walaupun kemudian “dimenangkan” oleh agama Islam. Namun, pengaruh Cina, Kristen, dan Hindu tetap dapat dijumpai di dalam kebudayaan masyarakat Aceh sampai hari ini. Lebih jauh lagi, menurut Kamaruzzaman budaya Aceh sendiri adalah hasil perkawinan atau percampuran antara tradisi-tradisi Hindu dengan beberapa nilai-nilai Islam.121
Ketika Islam masuk ke beberapa wilayah Nusantara, terdapat berbagai budaya yang telah wujud. Di Jawa misalnya, proses pembentukan budaya telah berlangsung dalam waktu yang sangat panjang. Kewujudan budaya tersebut menyebabkan Islam sebagai pendatang baru harus selaras dengan budaya yang telah ada sebelumnya. Akibatnya, terjadilah proses saling menerima dan mengambil, sehingga terbentuklah Islam tradisional, yaitu Islam yang sudah menyesuaikan dengan budaya dan kepercayaan asal.122
Julius Jacobs, seorang ahli kesehatan yang pernah bertugas di Aceh tahun 1878 sampai menjelang akhir abad XIX, menulis
“Besarnya pengaruh Hindu atas penduduk asli setidaknya dapat
diteguhkan oleh kenyataan tentang penggunaan nama-nama tempat
120M. Yunus Jamil, Tawarikh Raja-Raja Kerajaan Aceh (Banda Aceh: Ajdam Kodam Iskandar Muda, 1986), hlm.28.
121
Kamaruzzaman Bustamam Ahmad, Acehnologi (Banda Aceh: Bandar Publishing, 2012), hlm.112.
122Hammis Syafaq, Bid’ah Dalam Praktek Keagamaan Masyarakat Islam Tradisional, (Jakarta: Al Maarif, 2009),hlm.86.
93 dalam bahasa Hindu dimana istilahnya terdapat dalam bahasa Aceh. Pengaruh Hindu juga terhadap adat istiadat mereka juga tidak perlu diragukan lagi, terutama sekali bahwa kerajaan Hindu telah terbangun kuat hingga pertengahan abad pertama XVI ketika umat Islam menggantikan tempatnya dan benih-benih bulan sabit bertebaran luas terutama di atas runtuhan kerajaan Hindu tersebut.123
Sebelum Islam bertapak di Aceh, kebudayaan di sana dipengaruhi oleh kebudayaan Hindu dari India yang dibawa oleh para pedagang dari sana melalui jalur laut. Karena itu antara India dengan masyarakat Aceh telah terbangun hubungan kebudayaan sekaligus hubungan etnik yang cukup lama. Sejarah menuliskan bahwa terdapat sejumlah pedagang dari India yang bermigrasi ke Aceh dengan membawa serta bersama mereka budaya dan kesenian yang kemudian dipraktekkan di Aceh. Kebudayaan impor tersebut berkembang di Aceh dengan melakukan penyesuaian diri dengan karakteristik budaya dan tradisi setempat. Karena itu terdapat beberapa adat dan kebudayaan yang diadopsi daripada kebudayaan Hindu.124
Kontrol sosial merupakan hal penting untuk memelihara kehidupan sosial. Di dalam masyarakat Aceh filsafat berikut ini merupakan alat kendali sosial (control mechanism) yaitu Adat bak po teu meuruhom, Hukom bak syiah kuala (Adat dijaga oleh raja, hukum dijaga oleh Syiah Kuala, seorang ulama terkenal). Raja dalam hadih maja ini merujuk pada Sultan Iskandar Muda (wafat pada tahun 1637). Syiah Kuala merujuk pada Tengku Syech di Kuala. Implikasi terbesar dari pernyataan tersebut ialah bahwa yang disebut hukom adalah hukum (syariat) Islam. Setiap
123 Jacob, Het Familie en Kompongleven op Groot Atjeh, (Leiden:t. p. 1894), hlm.1.
124Samsul Rijal, Dinamika Pemikiran Islam di Aceh; Mendedah Toleransi, Kearifan Lokal dan Kehidupan Sosial di Aceh (Banda Aceh: Badan Arsip dan Perpustakaan Aceh, 2011), hlm.90.
dengan adat akan mendapat hukuman. Namun, bagaimanapun, hukum Islam yang diberlakukan di Aceh telah disesuaikan dengan adat. Oleh karena itu adat pada hakikatnya mempunyai peran yang lebih besar dari hukum Islam tersebut.125
Bagi masyarakat Aceh, adat adalah ketentuan hukum yang terbabit dengan kehidupan kemasyarakatan dan ketatanegaraan duniawi yang berada di tangan raja sebagai khadam adat. Sedangkan hukom adalah ketentuan hubungan manusia dengan tuhan dan dengan sesama insan yang bersumber dari ajaran Islam. Otoritas hukom terletak pada ulama. Qanun adalah adat dan budaya kaum perempuan dalam berbagai upacara kemasyarakatan. Adapun Reusam menyangkut tata krama bagi laki-laki dalam melaksanakan adat dan budaya dalam kehidupan sehari-hari.126
Adagium ini menggambarkan latar belakang yang berpengaruh pada keseharian kehidupan sosial masyarakat Aceh. Keunikan Islam Aceh menurut Woodward itu dapat dijelaskan dengan karakteristik dari dua segi yaitu penekananannya pada aspek batin dan melaksanakan ritus-ritus tertentu sebagai manifestasi dari penekanan pada aspek batin. Dalm hal ini Woodward memandang bahwasanya Islam di Aceh lebih cenderung menekankan aspek
“isi” (dalam bentuk mistik) dari pada wadah (kesalehan normatif/syariah). Persepsi mereka tentang yang dimaksud “isi” adalah Allah, sultan, batin, dan mistik. Sedangkan “isi” mistik itu sendiri meliputi keberadaan wahyu, kasekten, kramat dan kesatuan mistik.127
Manusia, di mana pun ia berada, sangat berkaitan erat dengan
125
Frank M Lebar, Ethnic Group of Insulator Southeast Asia, vol. 1, (New Haven: HRAF Press,1972), hlm.80.
126Taufik Adnan Amal, Politik Syariat Islam dari Indonesia sampai Nigeria, (Jakarta: Pustaka Alvabet, 2004), hlm.15.
127
M. Murtadho, Islam Aceh; Keluar dari Kemelut Santri vs Abangan (Yogyakarta: Lapera, 2002), hlm. 32.
95 adat dan budaya di lingkungannya. Manusia menciptakan budaya dan budaya juga membentuk karakter manusia itu sendiri. Kebudayaan menempati posisi sentral dalam seluruh tatanan hidup manusia. Seluruh bangunan hidup manusia dan masyarakat berdiri di atas landasan kebudayaan.128
Realitas keragaman umat Islam Nusantara mengindikasikan bahwa di segala penjuru negeri kepulauan ini pemahaman tentang ajaran-ajaran Islam sangat bervariasi yang terpengaruh oleh budaya pra Islam. Sebelum Islam datang, berbagai macam adat kuno dan kepercayaan lokal banyak dipraktekkan sehingga sangat menyatu dengan struktural sosial. Sebagian besar tempat, kedatangan Islam dengan jalan damai bukan penaklukan dan secara umum dapat dikatakan bahwa Islam tidak menggantikan atau menghancurkan tradisi budaya yang sudah lama ada terutama Hindu dan Budha tetapi memadukan dengan tradisi yang sudah ada.129
Sebelum agama Islam berkembang di Aceh, dapat diketahui dari sejarah bahwa daerah ini sudah berabad-abad lamanya dipengaruhi oleh tradisi agama Hindu dan Budha terutama di daerah lautan yang terletak di antara benua. Sedangkan di pedalaman pengaruh animisme dan dinamisme masih sangat kuat.130 Lebih dari itu, diperkirakan kebudayaan dan agama penduduk dipengaruhi oleh ajaran Hindu dan Budha, malah ada yang beranggapan bahwa di Aceh telah berdiri beberapa buah kerajaan Hindu yaitu Kerajaan Indra Patra, Kerajaan Indra Purwa, dan Kerajaan Indra Puri (walaupun berupa kerajaan-kerajaan kecil). Para pemeluk agama Hindu dan Budha saat itu mendiami kawasan pesisir pantai, sedangkan di pedalaman masih dipengaruhi oleh kepercayaan animisme dan dinamisme.131
128Rafael Raga Maran, Manusia dan Kebudayaan dalam Perspektif Ilmu Budaya Dasar (Jakarta: Rineka Cipta, 2000), hlm.18.
129
Erni Budi Wati, Islam Sasak (Yogyakarta: LKiS, 2000), hlm.86.
130
Zakaria Ahmad, Sekitar Kerajaan Aceh (Medan: Manora, 1992), hlm.26.
131
adat atau yang dikenal sebagai adat istiadat merupakan peraturan nilai-nilai dan keyakinan sosial budaya telah tumbuh dan berurat akar dalam kehidupan masyarakat Aceh. Sehubungan dengan itu, dalam masyarakat Aceh selanjutnya telah termaktub dalam suatu hadih maja “Hukom ngon adat lagei zat ngon Sifeut”. Artinya, hukum agama Islam dan hukum adat tidak ubahnya seperti zat dengan sifat yang tak dapat dipisahkan.
Aboe Bakar Aceh dalam makalahnya pada seminar Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) II menulis bahwa pada awalnya adat dan budaya Aceh sangat kental dengan pengaruh Hindu. Ia merujuk kepada beberapa buku sebelumnya yang ditulis oleh ahli ketimuran. Hal itu terjadi karena sebelum Islam masuk ke Aceh, kehidupan masyarakat Aceh sudah dipengaruhi oleh unsur Hindu. Setelah Islam masuk, tidak semua unsur-unsur Hindu yang bertentangan dengan Islam dapat dihilangkan sama sekali. Hal ini terjadi oleh karena unsur-unsur Hindu tersebut sudah sangat lama membudaya dan mengakar dalam kehidupan adat dan budaya masyarakat Aceh, bahkan sebelum Islam muncul di Aceh.132
Semua kota Hindu yang pernah berdiri di Aceh dihancurkan sama sekali ketika Islam sudah kuat. Bekas-bekas kerajaan Hindu itu masih ada di Aceh walau sudah tertimbun, seperti di kawasan Paya Seutui, Kecamatan Ulim, reruntuhan di Ladong Aceh Besar. Bahkan menurut M. Zainuddin, Masjid Indrapuri dibangun di atas reruntuhan candi. Pada tahun 1830, Haji Muhammad, yang lebih dikenal sebagai Tuanku Tambusi juga meruntuhkan candi-candi dan batunya kemudian dimanfaatkan untuk membangun masjid dan benteng-benteng pertahanan.
pada Forum University Kebangsaan Malaysia, Agustus 1995), hlm. 333.
132 Aboe Bakar Aceh, “Aceh Dalam Lintasan Sejarah”, Makalah dipresentasikan pada Seminar Pekan Kebudayaan Aceh ke II., (Banda Aceh: t.p, 1972), hlm.5.
97 Asimilasi adat dan budaya itulah kemudian melahirkan budaya adat dan budaya Aceh sebagaimana yang berlaku sekarang. Sebuah ungkapan bijak dalam hadih maja disebutkan, “Mate aneuk meupat jeurat, gadoh adat pat tamita.” Artinya: “Jika meninggal anak, kita tahu kuburannya; jika hilang adat dan budaya, kita tidak tahu harus mencari kemana”. Ungkapan ini bukan hanya untuk pepatah semata. Pernyataan berisi penegasan tentang pentingnya melestarikan adat dan budaya sebagai pranata sosial dalam kehidupan bermasyarakat di Aceh. Mengenai kuatnya rakyat Aceh berpegang teguh pada adat yang berlaku, pernah dipraktekkan oleh Raja Iskandar Muda manakala putra dia yang dituduh melakukan kesalahan juga dihukum sesuai dengan adat yang berlaku masa itu.
Di sisi lain, ternyata tradisi dan budaya Aceh tidak hanya memberikan warna dalam percaturan kenegaraan, tetapi juga berpengaruh dalam keyakinan dan praktek-praktek keagaman. Masyarakat Aceh memiliki tradisi dan budaya yang banyak dipengaruhi ajaran dan kepercayaan Hindu dan Budha terus bertahan hingga sekarang, meskipun mereka sudah memiliki keyakinan atau agama yang berbeda, namun demikian, masyrakat Aceh dalam beberapa perkara tertentu masih merujuk kepada hal-hal yang bertentangan dengan nilai-nilai islami seperti terlihat dalam beberapa perkara yang berlawanan dengan aliran Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah, di antaranya rah ulee atau mencuci muka di kuburan ulama dengan air yang dicampuri sejumlah bunga-bunga, jeruk purut, dan bahan tertentu lainnya, dilanjutkan dengan salat hajat dua rakaat yang diyakini bisa menjadi perantaraan dalam menyampaikan sesuatu maksud untuk mencari berkat dalam mengharapkan semua keinginan mereka akan segera tercapai.
Hal ini dalam istilah teologis lebih dikenal dengan tawasul. Tawasul adalah suatu isu kontroversial di kalangan umat Islam yang justru amalannya dianggap berdasarkan pada akidah Islam yang berdasarkan al-Quran dan al-Sunnah. Isunya adalah berdoa
meninggal dunia sebagaimana kepada Nabi Muhammad Saw. atau para wali-wali Allah yang salihin yang terdiri dari para ulama yang telah dikenal pasti melalui keilmuan dan kewarakan mereka.133 Tawasul seringkali muncul secara fenomenal dalam suatu fenomena sosial, termasuk di kalangan umat Islam, dengan mendatangi kuburan yang dipandang mulia dan berwasilah kepadanya untuk mencapai tujuan yang diinginkan, seperti kekayaan, kedudukan, jodoh, dan lain-lain.134
Upaca-upacara itu semula dilakukan dalam rangka untuk menangkal pengaruh buruk yang akan membahayakan bagi kelangsungan hidup manusia, dengan mengadakan sesajen atau semacam korban yang disajikan kepada daya-daya kekuatan gaib tertentu. Tentu dengan upacara itu harapan pelaku adalah agar hidup senantiasa dalam keadaan selamat.135
Menurut Roberston Smith, walaupun kepercayaan sebuah masyarakat itu berubah, namun sebagian upacara keagamaannya masih dilestarikan demi mengukuhkan kesatuan sosialnya. Justru upacara keagamaan tersebut dilakukan bukan sekadar untuk berbakti kepada Tuhan dan mendekatkan diri kepada-Nya, akan tetapi juga dilakukan untuk menunaikan kewajiban sosial.136 Bagi Emile Durkheim, sistem kepercayaan tercipta oleh ritual menjadi kebiasaan dan dipraktikkan oleh sebuah masyarakat.
133 Mohd Fakhrudin Abdul Mukti, “Tawasul dalam Pemikiran Islam: Pro dan Kontra,” Makalah dipresentasikan pada Seminar Pemikiran Islam Peringkat Kebangsaan, Jabatan Akidah dan Pemikiran Islam, Akademi Pengajian Islam, University Malaya, 20-22 Julai 2010.
134
Azyumardy Azra, Ensiklopedi Tasawuf, (Bandung: Angkasa, 2008), hlm.132.
135 Puwardi, Upacara Tradisional Jawa, Menggali Untaian Kearifan Lokal, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007), hlm.93.
136
Bustanuddin Agus, Agama Dalam Kehidupan Manusia Pengantar Antropologi Agama, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2007), hlm.140.
99 Dalam kehidupan sehari-hari, kebiasaan masyarakat Aceh amat taat dalam menjalankan upacara keagamaan, bahkan amat fanatik terhadap agamanya. Hal ini, memberikan gambaran bahwa Islam sudah terbina dan telah bertapak kukuh dalam diri masyarakat Aceh. Walau bagaimanapun, tidaklah semua masyarakat Aceh melaksanakan semua ajaran Islam yang sejati dan murni. Tetapi, agama Islam telah menjadi turun temurun daripada nenek moyangnya, maka apabila lahir dengan sendirinya sudah menjadi seorang Muslim, karena orang tuanya telah menjadi seorang Muslim terlebih dahulu.
Dari beberapa penjelasan di atas maka dapat diambil pemahaman bahwasanya Islam sama sekali tidak menolak tradisi atau budaya yang berkembang di tengah-tengah masyarakat Aceh. Dalam penetapan hukum Islam dikenal salah satu cara melakukan ijtihād yang disebut ‘urf, yakni penetapan hukum dengan mendasarkan pada tradisi yang berkembang dalam masyarakat. Dengan cara ini maka berarti tradisi dapat dijadikan dasar penetapan hukum Islam dengan syarat tidak bertentangan dengan ajaran Islam yang tertuang dalam al-Qur’ān dan al-Hadīth Nabi Saw. Budaya Islam adalah suatu budaya yang merupakan hasil cipta, rasa dan karsa manusia dalam hidup bermasyarakat dengan menjalankan nilai-nilai Islam sesuai apa yang diperintahkan oleh Allah dan Rasulnya.
Benturan dan resistensi dengan kebudayaan-kebudayaan setempat memaksa Islam untuk mendapatkan simbol yang selaras dengan kemampuan penangkapan kultural dari masyarakat setempat. Kemampuan Islam untuk beradaptasi dengan budaya setempat, memudahkan Islam masuk ke lapisan paling bawah dari masyarakat. Akibatnya, kebudayaan Islam sangat dipengaruhi oleh kebudayaan petani dan kebudayaan pedalaman, sehingga kebudayaan Islam mengalami transformasi bukan saja karena jarak geografis antara Arab dan Indonesia, tetapi juga karena ada jarak-jarak kultural. Proses kompromi kebudayaan seperti ini tentu
seringkali mentoleransi penafsiran yang mugkin agak menyimpang dari ajaran Islam yang murni. Kompromi kebudayaan ini pada akhirnya melahirkan, apa yang di pulau Jawa dikenal sebagai sinkretisme atau Islam Abangan, sementara di pulau Lombok dikenal dengan istilah Islam Wetu Telu.137
Hal ini karena, masyarakat memerlukan amalan ritual yang berfungsi menekankan kepentingan masyarakat. Oleh karena itu, walaupun sesuatu kepercayaan tidak bersifat kekal dan sering berubah, amalan ritual terus dilakukan karena fungsi sosial dalam ritual agama bersifat konsisten.138
Islam yang datang dari Timur Tengah menjadi sebuah agama yang dianut oleh masyarakat Aceh yang disesuaikan dengan budaya dan tradisi setempat. Dikatakan contohnya, Islam di Jawa banyak dianuti oleh tradisi pra-Islam yang dikenal dengan istilah kejawen. Hal ini juga terjadi di Aceh sehingga Islam di kawasan ini diberi label Islam pinggiran, sinkretis.139 Keadaan ini dipandang sering menimbulkan konflik antara adat dan hukum Islam, di mana di kenal pasti bahwa adat cendrung lebih dominan.140 Inilah yang telah mendorong pakar sejarah seperti Ira M. Lapidus, menegaskan bahwa budaya asli Asia Tenggara pra-Islam merupakan landasan bagi peradaban Islam yang datang berikutnya.141
Proses islamisasi yang berlangsung di Nusantara pada dasarnya berada dalam proses akulturasi. Seperti telah diketahui bahwa
137 Muhammad Harifin Zuhdi, Parokialitas Adat Terhadap Pola Keberagamaan Komunitas Islam Wetu Teludi Bayan Lombok, (Jakarta: Lemlit UIN Jakarta, 2009), hlm.111.
138 Bustanuddin Agus, Agama Dalam Kehidupan Manusia Pengantar Antropologi Agama, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2007), hlm.140.
139 Anthony H. Johns, Sufisme in Southeast Asia: Reflection and Reconsiderations.( JSEAS 26, 1995) hlm. 172.
140 Amirul Hadi, Aceh, Sejarah, Budaya, dan Tradisi, (Yogyakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2010),hlm. 245.
141
Ira M. Lapidus, A History of Muslim Societies, (Cambridge: Cambridge University Press, 1989),hlm. 467.
101 Islam disebarkan ke Nusantara sebagai kaedah normatif di samping aspek seni budaya. Sementara itu, masyarakat dan budaya di mana Islam itu disosialisasikan adalah sebuah alam empiris. Dalam konteks ini, sebagai makhluk berakal, manusia pada dasarnya beragama dan dengan akalnya pula mereka paling mengetahui dunianya sendiri. Pada alur logika inilah manusia, melalui perilaku budayanya senantiasa meningkatkan aktualisasi diri. Karena itu, dalam setiap akulturasi budaya, manusia membentuk, memanfaatkan, mengubah hal-hal paling sesuai dengan kebutuhanya.142
Adanya kemungkinan akulturasi timbal balik antara Islam dan budaya lokal diakui dalam suatu kaidah atau ketentuan dasar dalam ilmu Usūl Fiqh, bahwa “Adat itu dihukumkan”. Lebih lengkapnya
“Adat adalah syariah yang dihukumkan”. Ini bermakna bahwa adat
dan kebiasaan suatu masyarakat, yaitu budaya lokalnya, adalah sumber hukum dalam Islam.143
Islam mengakui keberadaan adat kebiasaan masyarakat karena adat kebiasaan merupakan bagian dari kehidupan sosial masyarakat tersebut. Islam datang mengakui dan mengakomodir nila-nilai kebudayaan dan adat-kebiasaan suatu masyarakat yang dianggap baik dan tidak bertentangan dengan ideologi Islam. Hal inilah yang pernah dipraktikkan oleh imam-imam dalam Islam seperti Imām
Syāfi’ī, Imām Mālikī, Imām Ḥanafī dan Imām Ḥanbalī. Dalam
menetapkan hukum fikih, para imam mazhab tersebut banyak mengadopsi dan mengakomodir adat kebiasaan masyarakat setempat. Inilah yang mendasari sikap universalisme Islam sebagai agama rahmatan lil ‘Ālamīn. Walau bagaimanapun, Islam menentang sikap tradisionalisme yaitu sikap yang secara apriori memandang bahwa tradisi leluhur selalu lebih baik dan harus
142 Hasan Muarif Anbary, Menemukan Peradaban: Jejak Arkeologis dan Historis Islam Indonesia, (Jakarta: Logos, 2001),hlm. 251.
143 Murtadla al-Muthahari, al-Islam wa Iran, (Teheran: Qism al-Alaqat, 1985), hlm.14.
menjadi unsur terjadinya transformasi sosial suatu masyarakat yang mengalami perkenalan dengan Islam.
Agama dapat menjadi sumber moral dan etika serta bersifat absolut, tetapi pada sisi lain dapat menjadi sistem kebudayaan, yakni ketika wahyu itu direspon oleh manusia atau ketika mengalami proses transformasi dalam kesadaran dan proses kognisi manusia. Dalam konteks ini agama disebut sebagai sistem kebudayaan. Sebagai sistem kebudayaan, agama menjadi estabilishment dan kekuatan mobilisasi yang sering memicu timbulnya konflik. Di sinilah ketika agama (sebagai kebudayaan) difungsikan dalam masyarakat secara nyata maka akan melahirkan realitas yang serba paradoks.144
Dari pendapat diatas dapat diketahui bahwa Budaya Masyarakat Aceh tidak bisa dipisahkan dari Islam, nilai-nilai islam terkandung dalam budaya masyarakat Aceh, itu dapat dilihat dari kehidupan masyarakat Aceh sehari-hari sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh ajaran Islam.
b. Budaya pendidikan Masyarakat Aceh
1) Memilih Pasangan hidup
Pendidikan dalam budaya masyarakat Aceh juga melingkupi tatacara memilih pasangan hidup dalam berumah tangga. Proses adat perkawinan di kalangan masyarakat Aceh merupakan serangkaian kegiatan yang tidak saja menjadi urusan pribadi atau keluarga, tetapi juga menjadi urusan masyarakat terutama masyarakat gampong tempat ia tingga. Umumnya urusan mencari jodoh untuk seorang pemuda dan anak gadis dilakukan oleh orang
144 Nur Achmad, Pluralitas Agama: Kerukunan Dalam Keragaman, (Jakarta: Kompas, 2001), hlm.20.
103 tuanya berdasarkan perkembangan usia, kemampuan si pemuda untuk berumah tangga.145
Urusan mencari jodoh dilanjutkan dengan prosesi meminang atau khitbah. Meminang artinya menyatakan permintaan untuk menikah dari seorang laki-laki kepada seorang perempuan atau sebaliknya dengan perantaraan seseorang yang dipercayainya.146 Selanjutnya, tujuan perkawinan menurut Undang-Undang Perkawinan adalah sebagai teman sehidup dalam berbagi kebahagiaan, untuk saling berdampingan selama hidup, serta bersama-sama mengembangkan anak-anak yang memiliki masa depan.147
2) Masa Kehamilan
Menurut tradisi, dara baro yang telah memasuki masa hamil 3 bulan dikunjungi mak tuan (mertua perempuan) dengan beberapa orang perempuan lain ke rumah meulintei (menantu) untuk membawa boh kayee (buah-buahan). Orang-orang yang turut serta dengan mertua dalam proses mengantar buah-buahan tersebut adalah termasuk keluarga dekat atau famili (kawom), yakni perempuan yang telah nikah. Banyak atau sedikit pengiring mertua menunjukkan tinggi rendahnya derajat keluarga. Biasanya iringan untuk mengantar buah-buahan tidak sama banyaknya dengan iringan ketika mengantar nasi.148
Upacara me bu atau ba bu dalam tradisi masyarakat Aceh dilakukan pada saat dara baro (istri) telah memasuki masa hamil
145 Badruzzaman Ismail dan Sjamsuddin Daud, Romantika Warna -Warni Adat Perkawinan Etnis-Etnis Aceh,(Majelis Adat Aceh Provinsi Aceh, 2012),hlm.161.
146 Sulaiman Rasjid, Fiqh Islam, (Hukum Fiqh Lengkap),(Sinar Baru Algensindo, 2001), hlm.380.
147 Hamid Sarong, Hukum Perkawinan Islam di Indonesia praktek dan prospeknya, (Banda Aceh,GEI,2004) hlm.41.