BAB III PEMBAHASAN
F. Penerapan Prinsip 5C (Character, Capacity, Capital,
PT. Bank X SKC Polonia Medan melakukan mekanisme pelaksanaan analisa kredit prinsip 5C. Proses analisa kredit ini bertujuan untuk menyediakan sarana analisa kredit yang efektif dan efisien dalam rangka pengambilan keputusan kredit yang sehat. Dasar penilaian analisa kredit ini berdasarkan prinsip 5C, yaitu:
I. Character, yaitu penilaian atas karakter, integritas, kejujuran, dan itikad baik dari debitur bersangkutan. Penilaian dilakukan melalui analisa aset manajemen dan legal.
II. Capacity, yaitu penilaian atas kemampuan debitur menjalankan usahanya sehingga menghasilkan laba yang optimal. Penilaian ini dilakukan melalui analisa aspek keuangan, pemasaran, teknis produksi, dan aspek terkait lainnya.
III. Capital, yaitu penilaian atas kemampuan debitur untuk memenuhi kewajibannya atas modal sendiri. Penilaian ini dilakukan melalui analisa aspek keuangan.
IV. Collateral, yaitu penilaian atas jaminan yang diserakan oleh debitur.
Penilaian ini dilakukan melalui analisa aspek agunan.
V. Condition of economic, yaitu penilaian atas hal-hal yang berbeda di luar kontrol debitur, seperti persaingan, pengaruh tingkat suku bunga dan sebagainya. Penilaian dilakukan melalui analisa aspek lingkungan bisnis dan industri.
Pola pelaksanaaan mekanisme 5C (character, capacity, capital, collateral, condition of economic) yang dikemukakan dalam pembahasan pelaksanaan tersebut, sesuai dengan analisis kredit yang dilaksanakan pada PT. Bank SKC Polonia Medan. Pelaksanaan proses penyaluran kredit meliputi: verifikasi, analisa rating, keputusan kredit, dan proses kredit.
F1. Proses Pemberian Kredit a) Pengajuan berkas-berkas
Dalam hal ini permohonan kredit mengajukan permohonan kredit yang dituangkan dalam suatu proposal, kemudian dilampiri dengan berkas-berkas lainnya yang dibutuhkan.
b) Penyelidikan berkas pinjaman
Tujuannya adalah untuk mengetahui apakah berkas yang diajukan sudah lengkap sesuai persyaratan dan sudah benar.jiak menurut pihak perbankan belum lengkap atau cukup, maka nasabah diminta untuk segera melengkapinya dan apabila sampai batas tertentu nasabah tidak sanggup melengkapi kekurangan tersebut, maka sebaiknya permohonan kredit dibatalkan saja.
c) Wawancara 1
Merupakan penyidikan kepada calon peminjam dengan langsung berhadapan dengan calon peminjam, untuk meyakinkan apakah berkas-berkas tersebut sesuai dan lengkap seperti dengan yang diinginkan.
Wawancara ini juga untuk mengetahui keinginan dan kebutuhan nasabah yang sebenarnya.
d) On the spot
Merupakan kegiatan pemeriksaan ke lapangan dengan meninjau berbagai objek yang akan dijadikan usaha dan jaminan. Kemudian hasil on the spot dicocokkan dengan hasil wawancara I. pada saat hendak melakukan on the spot hendaknya jangan diberitahu kepada nasabah. Sehingga apa yang kita lihat di lapangan sesuai dengan kondisi yang sebenarnya.
e) Wawancara 2
Merupakan kegiatan perbaikan berkas, jika mungkin ada kekurangan-kekurangan pada saat setelah dilakukan on the spot dilapangan. Catatan yang ada pada permohonan dan pada wawancara I dicocokkan dengan pada saat on the spot apakah ada kesesuaian dan mengandung suatu kebenaran.
f) Keputusan kredit
Keputusan kredit dalam hal ini adalah menentukan apakah kredit akan diberikan atau ditolk, jiak di terima maka akan disiapkan administrasinya, biasanya keputusan kredit yang akan mencakup:
1. Jumlah uang yang diterima 2. Jangka waktu kredit
3. Biaya-biaya yang harus dibayar
Menurut Supriyono (2011:185) hasil keputusan kredit dapat bermacam-macam keputusan seperti dibawah ini:
1. Pengajuan ditolak
2. Pengajuan disetujui seluruhnya sesuai pengajuan
3. Disetujui sebagian dengan pengurangan plafon/ restruktur 4. Disetujui dengan syarat
g) Penandatanganan akad kredit/ perjanjian lainnya
Kegiatan ini merupakan kelanjutan dari diputuskannya kredit, maka sebelum kredit dicairkan maka terlebih dulu calon nasabah menandatangani akad kredit, mengikat jaminan dengan hipotek dan surat perjanjian atau pernyataan yang dianggap perlu. Penandatanganan dilaksanakan:
1. Antara bank dengan debitur secara langsung atau 2. Dengan melalui notaries
h) Realisasi kredit
Realisasi kredit diberikan setelah penandatanganan surat-surat yang diperlukan dengan membuka rekening giro atau tabungan di bank yang bersangkutan.
Penyaluran atau penarikan dana
adalah pencairan atau pengambilan uang dari rekening sebagai realisasi dari pemberian kredit dan dapat diambil sesuai ketentuan dan tujuan kredit yaitu sekaligus secara bertahap.
F2. Proses Penyaluran Kredit
Adapun proses penyalurannya yakni :
1. Pemohon mengajukan permohonan kredit (calon debitur/debitur) lalu dianalisis pada business banking, business risk administrasi kredit.
2. Permohonan masuk ke bagian Pre Screening (penilaian awal) kemudian dianalisa dibagian collect data/ verifikasi. Dari collect data dianalisis dibagi ke analisa rating (sejauh mana resiko di minamalisir).
3. Dari analisa rating data disampaikan ke pengusulan kredit (Relationship Manager/ RM) kemudian dibuat keputusan kredit. Jika tidak disetujui/
ditolak maka dibuat surat penolakan kredit. Jika disetujui maka kredit di proses melalui proses analisa dan pengusulan. Dari analisa dan pengusulan dibuatlah keputusan komite kredit. Terakhir barulah diserahkan ke administrasi dan Proses penyelesaian.
Gambar 3.1 Proses Penyaluran kredit
Sumber : Data dari PT. Bank X SKC Polonia Medan (2017)
F3. Pengusulan kredit ini meliputi proses : a. Verifikasi
Kegiatan yang dilakukan dalam collect data antara lain menyusun rencana pengumpulan data, seperti menetapkan jenis data yang diperlukan, sumber data, dan cara memperolehnya; melaksanakan pengumpulan data; meneliti atau menyeleksi berkas data yang perlu atau tidak perlu. Data yang dikumpulkan berupa pemenuhan persyaratan seperti surat-surat legalitas usaha, laporan keuangan, dokumen untuk agunan yang akan dijadikan jaminan oleh calon debitur, dan data-data pendukung seperti mutasi rekening calon debitur, bukti-bukti pembayaran, dan dokumentasi lainnya tentang usaha debitur.
b. Analisa rating
Analisa rating dilakukan dengan IRS (Internal Rating System) yang akan menghasilkan rating nasabah melalui Formulir Analisa Rating (FAR) atau Formulir Rating Nasabah (FRN). Formulir analisa rating sebagai alat dasar pengukuran Credit Risk yang terdiri atas Customer Risk Rating (CRR) dan Customer Credit Rating (CCR). Fungsinya adalah:
1. Mengukur tingkat kemungkinan suatu nasabah akan default.
2. Mengukur tingkat risiko kerugian (Profitability of Loss) yang akan dihadapi oleh bank dalam hal nasabah gagal memenuhi kewajibannya ( in the event of default ).
3. Pengusulan kredit
Pengusulan kredit dilakukan oleh RM (Relationship Manager) setelah selesai membuat PAK (Perangkat Aplikasi Kredit). Pertama RM membuat pengusulan kredit melalui Memorandum Analisa Kredit (MAK) atau
Memorandum Pengusulan Kredit (MPK) untuk menyajikan analisa secara ringkas atas penilaian kelayakan permohonan kredit yang diajukan oleh debitur / calon debitur sebagai dasar pertimbangan bagi manajemen dalam memberikan keputusan (menyetujui atau menolak).
Menurut Widoyono (2009:77) jenis permohonan kredit harus dikaitkan dengan siapa yang mengajukan kredit diantaranya permohonan: baru, peningkatan limit kredit, perpanjangan, penggantian agunan, perubahan syarat dan ketentuan dan campuran. Setelah PAK ditandatangani oleh RM dan pemimpin UKC/ Penyelia RM. Setelah itu PAK bisa diserahkan untuk diajukan ke komite untuk diputus kreditnya.
c. Keputusan Kredit
Setelah PAK diajukan dan diputus oleh pemutus kredit maka dikeluarkan Keputusan Komite Kredit dalam hal ini Nota Keputusan Komite Kredit (NK3).
Pejabat pemutus kredit dalam Komite Kredit untuk SKC adalah Pemimpin SKC, Wakil Pemimpin SKC dan Pemimpin Resiko Bisnis segmen kecil. Semua hasil keputusan komite akan dicatat oleh Sekretaris Komite yang kemudian akan menerbit kan Nota Keputusan Komite Kredit (NK3).
Hasil keputusan Komite Kredit bias berupa menyetujui kredit yang diajukan pengusul dan menolak kredit yang diusulkan. Kredit dinyatakan disetujui apabila seluruh pejabat pemutus kredit menyetujui kredit yang diajukan oleh pengusul. Apabila salah satu pejabat pemutus kredit tidak setuju dengan kredit yang diajukan, maka kredit tersebut dianggap tidak disetujui oleh Komite Kredit atau akan dilakuan tinjauan ulang terhadap kredit yang diajukan tergantung syarat yang disampaikan oleh pejabat pemutus. Apabila salah satu pejabat pemutus yang
tidak menyetujui kredit yang diusulkan dan mensyaratkan untuk perbaikan, maka akan diadakan komite ulang. Apabila salah satu pejabat komite tersebut menolak, maka kredit tersebut dinyatakan ditolak.
d. Proses Akhir Kredit
Proses akhir kredit setelah dilakukan Komite Kredit yang diterbitkan NK3 adalah pembuatan Surat Keputusan Kredit (SKK) oleh unit Administrasi Kredit segmen kecil (ADC). Jika debitur setuju, maka tahap selanjutnya adalah penandatanganan Perjanjian Kredit (PK). Setelah PK disampaikan oleh RM kepada debitur dan ditandatangani debitur maka kredit dapat dicairkan.Pembukaan rekening pinjaman debitur dilakukan oleh ADC yang ada di divisi operasional atas disposisi yang diterbitkan oleh SKC. Setelah pencairan kredit dilaksanakan, tugas yang harus dilakukan adalah memantau pemakaian dan perkembangan usaha debitur untuk tetap menjaga kualitas kredit debitur dan memitigasi risiko kerugian bank apabila sewaktu-waktu debitur default.
G. Alasan Penerapan Prinsip 5C (Character, Capacity, Capital, Collateral, Condition of Economic) dalam Pengambilan Keputusan Kredit PT.Bank
X SKC Polonia Medan
Analisis yang dilakukan PT. Bank X dengan menggunakan prinsip 5C sangat berperan dalam mengambil keputusan kredit yang akan diberikan. Karena dengan prinsip 5C ini, PT. Bank X lebih mudah menilai kemampuan dan kesediaan calon nasabah dalam pengembalian pinjaman di kemudian hari. Alasan lain dalam penerapan prinsip 5C terhadap pengambilan keputusan kredit PT. Bank X lebih menekankan prinsip character, collateral dan capital.
Sedangkan prinsip lainnya yaitu Capital, dan Condition of economy digunakan sebagai pendukung untuk menguatkan data calon nasabah. Prinsip character lebih diutamakan oleh PT. Bank X dalam mengambil keputusan kredit, karena prinsip ini berperan penting dalam menilai calon nasabah. Dengan prinsip ini pihak bank dapat mengetahui kesungguhan dari calon nasabah yang ingin mengajukan kredit.
Selain itu prinsip character merupakan salah satu prinsip yang mutlak dan tidak dapat ditawar-tawar. Apabila salah satu dari prinsip capital atau prinsip condition of economic tidak mendukung tetapi calon nasabah mempunyai character yang baik dan mempunyai collateral (jaminan) yang nilainya sesuai dengan besar kredit yang diajukan serta mempunyai capacity yang baik, maka pihak PT. Bank X masih dapat mempertimbangkan untuk membantu dalam pembiayaan ataupun pencairan kredit yang diajukan oleh calon nasabah.
H. Pembinaan, Penyelamatan, dan Penyelesaian Kredit Bermasalah
Kredit bermasalah menggambarkan situasi dimana persetujuan pengembalian kredit mengalami resiko kegagalan, bahkan menunjukkan kepada bank akan memperoleh rugi yang potensial. Oleh karena itu, pendekatan praktis bagi bank dalam pengelolaan kredit bermasalah didasarkan kepada premise, bahwa lebih dini penentuan potensial problem loan akan lebih banyak peluang atau alternatif koreksi dan prospek pencegahan kerugian bagi bank. Selain itu Rivai (2013:397) bahwa untuk mencapai tersebut diatas, pejabat bank atau account officer harus mampu untuk:
1. Menentukan kredit bermasalah itu sendiri dengan melakukan identifikasi sebab-sebab dari kredit bermasalah serta menemukannya;
2. Merumuskan strategi dan evaluasi berbagai pilihan yang ada dan melakukan pendekatan/ pembicaraan dengan debitur
3. Mengidentifikasi dan memanipulasi biaya-biaya problem loan dan memperkecil tanggung jawab, kemudian lakukan atau implementasikan problem loan strategy.
Pengelolaan kredit bermasalah harus dilakukan secara sistematis dengan biaya yang seefisien dan hasil yang seoptimal mungkin. Kegiatan bank dalam menanggulangi kredit bermasalah dikelompokkan menjadi sebagai berikut:
1. Pembinaan, yaitu upaya yang dilakukan dalam pengelolaan kredit agar dapat diperoleh hasil yang optimal sesuai dengan tujuan dari pemberian kredit tersebut. Tindakan yang dapat digolongkan kedalam upaya ini adalah penagihan oleh petugas bank.
2. Penyelamatan, yaitu upaya yang dilakukan didalam pengelolaan kredit bermasalah yang masih mempunyai prospek didalam usahanya dengan tujuan untuk meminimalkan kemungkinan timbulnya kerugian bagi bank, menyelamatkan kembali kredit yang ada agar menjadi lancar, serta usaha-usaha lainnya yang ditujukan untuk memperbaiki kualitas usaha-usaha debitur.
Tindakan yang dapat digolongkan kedalam upaya ini adalah:
a. Rescheduling b. Reconditioning c. Restructuring
d. Bimbingan manajemen e. Penyertaan bank
3. Penyelesaian, yaitu upaya yang dilakukan bank untuk menyelesaikan kredit bermasalah yang tidak mempunyai prospek setelah upaya-upaya pembinaan dan penyelamatan ternyata tidak mungkin dilakukan lagi dengan tujuan mencegah risiko bank yang semakin besar, serta mendapatkan pelunasan kembali atas kredit tersebut dari debitur dengan berbagai upaya yang dapat ditempuh oleh bank.
Tindakan yang dapat digolongkan kedalam upaya ini adalah:
a. Subrogasi b. Novasi
c. Penebusan jaminan d. Kompensasi e. Likuidasi
f. Keringanan tunggakan bunga, denda dan ongkos
Pengertian sistematis dalam penyelesaian kredit bermasalah ialah bahwa debitur yang sudah berada pada tahap penyelesaian, tidak dimungkinkan lagi untuk diberi tindakan yang tergolong kepada penyelamatan atau pembinaan, kecuali dengan pertimbangan yang sangat hati-hati dan selektif.
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Dari hasil pembahasan yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa :
1. Penerapan prinsip 5C (Character, Capacity, Capital, Collateral, Condition of Economic) pada PT. Bank X SKC Polonia Medan sudah dilakukan dengan baik, karena dalam pengambilan keputusan kredit PT. Bank X SKC Polonia Medan lebih menekankan prinsip Character, Collateral, dan Capital, sedangkan prinsip lainnya yaitu Capacity, dan Condition of economy digunakan sebagai pendukung untuk menguatkan data calon nasabah. Prinsip character lebih diutamakan oleh PT. Bank X SKC Polonia Medan dalam mengambil keputusan kredit, karena prinsip ini berperan penting dalam menilai calon nasabah.
2. Analisis kredit yang dilakukan PT. Bank X SKC Polonia Medan meliputi character, capacity, capital, collateral, dan condition of economic. Aspek- aspek yang dinilai dalam analisis kredit adalah aspek yuridis/ hukum, aspek pemasaran, aspek keuangan, aspek teknis/ operasi, aspek sosial ekonomi dan aspe amdal. Tujuan analisis ini adalah agar bank yakin bahwa kredit yang diberikan benar-benar aman.
3. Alasan diterapkannya prinsip 5C (Character, Capacity, Capital, Collateral, Condition of Economic) pada PT. Bank X untuk mengetahui kesungguhan dari calon nasabah yang mengajukan kredit. Selain itu prinsip character merupakan salah satu prinsip yang mutlak. Apabila salah satu dari prinsip capital atau prinsip condition of economic tidak
mendukung, tapi nasabah mempunyai character yang baik, dan mempunyai collateral (jaminan) yang nilainya sesuai dengan besar kredit yang diajukan dan mempunyai capacity yang baik, maka pihak PT. Bank X SKC Polonia Medan masih dapat mempertimbangkan untuk dapat membantu dalam pembiayaan ataupun pencairan kredit yang diajukan oleh calon nasabah.
B. Saran
1. Diharapkan PT. Bank X SKC Polonia Medan dapat mempertahankan penerapan prinsip kehati-hatian dalam proses pemberian kredit khususnya penerapan prinsip 5C. Dimana prinsip 5C sangat membantu dalam memberikan gambaran tentang kinerja calon-calon debitur yang akan mengajukan kredit dan menilai semua aspek yang berhubungan dengan pengajuan kredit serta berguna dalam mengurangi kredit macet.
2. Sebaiknya PT. Bank X SKC Polonia Medan lebih mengenali karakter calon nasabahnya, dimana character juga memperlihatkan komitmen debitur dalam berbisnis serta dapat meminimalisir resiko kredit macet yang terjadi pada PT. Bank X SKC Polonia Medan.
3. Pengelolaan kredit bermasalah harus dilakukan secara sistematis dengan biaya yang efisien dan hasil yang seoptimal mungkin, dengan melakukan pembinaan dan penyelamatan, serta penyelesaian. Upaya penyelesaian dilakukan setelah pembinaan dan penyelamatan tidak mungkin dilakukan lagi dengan tujuan mencegah resiko bank yang semakin besar, serta untuk mendapatkan pelunasan kembali atas kredit tersebut dari debitur dengan
berbagai upaya yang ditempuh oleh bank, untuk kemajuan PT. Bank X SKC Polonia Medan.
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, Thamrin dan Francis Tantri. 2013. Bank dan Lembaga Keuangan.
Jakarta: Rajawali Pers.
Darmawi, Herman. 2014. Manajemen Perbankan. Jakarta: Bumi Aksara.
Firdaus, Rachmat dan Maya Ariyanti. 2009. Manajemen Perkreditan Bank Umum: Teori, Masalah, Kebijakan dan Aplikasi Lengkap dengan Analisis Kredit. Bandung: Alfabeta.
Ismail. 2010. Manajemen Perbankan: Dari Teori Menuju Aplikasi. Jakarta:
Kencana.
Ikatan Bankir Indonesia. 2014. Memahami Audit Intern Bank: Modul Sertifikasi Bidang Audit Intern Bank Kualifikasi IV Untuk Auditor. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
---. 2015. Menguasai Fungsi Kepatuhan Bank: Modul Sertifikasi Compliance & Anti Money Laundering Officer. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Kasmir. 2012. Manajemen Perbankan. Edisi Revisi. Jakarta: Rajawali Pers Rivai, Veithzal dkk. 2013. Commercial Bank Management: Manajemen
Perbankan dari Teori ke Praktik. Jakarta: Rajawali Pers.
---. Credit Management Handbook Manajemen Perkreditan Cara Mudah Menganalisis Kredit: Teori, Konsep, Prosedur, dan Aplikasi serta Panduan Praktis Bankir, Mahasiswa, dan Nasabah. Edisi Revisi. Jakarta: Rajawali Pers.
Supriyono, Maryanto. 2011. Buku Pintar Perbankan. Yogyakarta: Andi.
Widoyono, Tri. 2009. Agunan Kredit dalam Financial Engineering. Jakarta:
Ghalia Indonesia.
Bank Negara Indonesia. 2017. Tersedia: http://www.bni.co.id
LAMPIRAN
Daftar Pertanyaan Hasil Wawancara
Berikut ini adalah daftar pertanyaan-pertanyaan dan hasil wawancara antara pihak peneliti dengan pihak internal perusahaan.
1. Sejarah ringkas PT. Bank X SKC Polonia Medan?
PT. Bank X SKC Polonia Medan berdiri pada tahun 2004 di Jalan Iskandar Muda no. 95, Medan Baru. Ruang lingkup kegiatan PT. Bank X SKC Polonia Medan adalah melakukan usaha di bidang perbankan (termasuk melakukan kegiatan berdasarkan prinsip syariah melalui anak usaha). Selain itu, Bank BNI juga menjalankan kegiatan usaha diluar perbankan melalui anak usahanya, antara lain: asuransi jiwa, pembiayaan, sekuritas dan jasa keuangan.
2. Apa rencana kegiatan PT. Bank X SKC Polonia Medan pada tahun 2017?
Bank X SKC Polonia Medan dalam jangka pendek, jangka menengah, maupun jangka panjang ialah peningkatan kinerja usaha, serta strategi untuk merealisasikan rencana tersebut sesuai dengan target dan waktu yang ditetapkan, dengan tetap memperhatikan pemenuhan ketentuan kehati-hatian dan penerapan manajemen risiko. Lalu rencana memperbaiki kinerja usaha yang berkaitan dengan rekening pinjaman berikut kelengkapan datanya.
Dimana di tahun 2017 ini PT. Bank X SKC Polonia Medan akan lebih meningkatkan penyaluran kredit kecil dan usaha rakyat. Terutama di daerah Binjai dan Lubuk Pakam. Dengan cara melalukan pemantauan perkembangan informasi tentang risiko dari suatu industri, pasar dan persaingan sehingga dapat memitigasi risiko yang dapat timbul. Serta memperbaiki kualitas kredit yang buruk lebih intens lagi.
3. Bagaimanakah jaringan usaha/ kegiatan PT. Bank X SKC Polonia Medan?
PT. Bank X SKC Polonia Medan menyalurkan kredit melalui program modal kerja dan kredit usaha kecil. Dengan cara me-maintenance hubungan dengan
para kreditur agar fasilitas kredit tersebut dapat kembali dengan aman tanpa terjadi kemacetan dalam pelunasannya.
4. Bagaimana bagan struktur organisasi PT. Bank X SKC Polonia Medan?
Gambar bagan struktur organisasi PT. Bank X SKC Polonia Medan
---
5. Mohon penjelasan tentang tugas dan wewenang Struktur Organisasi PT.
Bank X SKC Polonia Medan?
Tugas dan Wewenang dalam Struktur Organisasi PT. Bank X : 1. Pemimpin SKC Polonia :
a. Mendorong (memotivasi) bawahan untuk dapat bekerja dengan giat dan tekun
b. Membina bawahan agar dapat memikul tanggung jawab tugas masing-masing secara baik
c. Membina bawahan agar dapat bekerja secara efektif dan efisien d. Menciptakan iklim kerja yang baik dan harmonis
e. Menyusun fungsi manajemen secara baik
f. Menjadi penggerak yang baik dan dapat menjadi sumber kreatifitas g. Menjadi wakil dalam membina hubungan dengan pihak luar (kreditor) 2. Pemimpin kelompok resiko
a. Melaksanakan aktivitas-aktivitas bisnis segmen Usaha Kecil dalam rangka pencapaian target.
b. Mengelola proses permohonan dan aktivitas analisa kredit usaha kecil c. Mengelola hubungan dengan nasabah/calon nasabah
d. Melakukan verifikasi data/informasi mengenai debitur/calon debitur.
e. Memantau perkembangan informasi tentang risiko dari suatu industri, pasar dan persaingan sehingga dapat memitigasi risiko yang dapat timbul.
f. Melakukan pemantauan dan perjalanan kredit debitur/nasabah yang menjadi kelolaannya, termasuk pertimbangan dalam analisa kredit.
3. Compliance Officer
a. Merumuskan strategi guna mendorong terciptanya Budaya Kepatuhan Bank;
b. Mengusulkan kebijakan kepatuhan atau prinsip-prinsip kepatuhan yang akan ditetapkan oleh Pemimpin SKC;
c. Menetapkan sistem dan prosedur kepatuhan yang akan digunakan untuk menyusun ketentuan dan pedoman internal Bank;
d. Memastikan bahwa seluruh kebijakan, ketentuan, sistem, dan prosedur, serta kegiatan usaha yang dilakukan Bank telah sesuai dengan ketentuan Bank Indonesia dan peraturan perundang undangan yang berlaku.
e. Meminimalkan Risiko Kepatuhan Bank;
4. Wakil Pemimpin SKC Polonia :
a. Membantu pemimpin dalam mengoordinasikan, menjalankan, dan mengevaluasi program kerja.
b. Melaksanakan tugas sehari-hari
c. Menyusun agenda kerja dan menetapkan fokus atau prioritas kegiatan perbankan yang pelaksanaannya dipertanggungjawabkan kepada presiden.
d. Memegang kekuasaan perbankan menurut UUD (Undang – Undang Dasar)
e. Bertanggungjawab penuh membantu pemimpin SKC f. Menjalankan roda koordinasi dan komunikasi
5. Administrasi Kredit :
a.Meneliti aspek legal terhadapdokumen-dokumen yang diserahkan kepada Unit Administrasi
b. Kredit dalam rangka pembuatan dokumentasi Perjanjian Kredit (PK) dan atau perjanjian-perjanjian lainnya serta perjanjian accessoirnya.
c. Melakukan pembuatan dokumentasi kredit debitur Unit Bisnis.
d. Menatalaksanakan dokumen perkreditan debitur Unit Bisnis.
e. Melakukan aktivitas yang berkaitan dengan rekening pinjaman berikut kelengkapan datanya.
f. Melakukan aktivitas penyiapan data-data informasi debitur.
6. Analisis Kredit Standar :
a. Mengelola dan melakukan aktivitas analisa perkreditan untuk kredit standar dan kredit program.
b. Melakukan verifikasi data/informasi mengenai debitur/calon debitur.
c. Memantau perkembangan informasi tentang risiko dari suatu industri, pasar dan persaingan sehingga dapat memitigasi risiko yang dapat timbul.
d. Memastikan kepatuhan terhadap sisdur/kebijakan/peraturan perkreditan yang berlaku.
e. Melakukan pemantauan dan perjalanan kredit debitur /nasabah yang menjadi kelolaannya, termasuk sebagai pertimbangan dalam analisa kredit.
7. Unit Relationship Manager :
a. Melaksanakan aktivitas-aktivitas pemasaran bisnis segmen Usaha Kecil dalam rangka pencapaian target.
b. Mengelola proses permohonan kredit Usaha Kecil.
c. Mengelola hubungan dengan nasabah/calon nasabah.
d. Melakukan pemantauan nasabah yang menjadi kelolaannya.
e. Menjaga kualitas portofolio kredit kelolaannya dan mengupayakan nasabah kelolaannya tetap mengukur tingkat kerugian atau PL (Profitability of Loss ).
8. Unit Kredit Kecil (UKC)
a. Melaksanakan aktivitas-aktivitas pemasaran bisnis segmen usaha Kecil dalam rangka pencapaian target.
b. Mengelola proses permohonan dan aktivitas analisa kredit Usaha Kecil.
b. Mengelola proses permohonan dan aktivitas analisa kredit Usaha Kecil.