BAB III PRINSIP PERTANGGUNGJAWABAN PENGURUS
A. Penerapan Prinsip Fiduciary Duty terhadap Pengurus
Tanggung jawab pengurus yayasan 1
26
dalam menjalankan tugasnya,
berlandaskan pada 3 (tiga) prinsip, yaitu:
a. Prinsip yang lahir karena tugas dan kedudukan yang dipercaya oleh yayasan kepadanya (fiduciary duty).127
b. Prinsip yang merujuk kepada kemampuan serta kehati-hatian tindakan pengurus (duty of skill and care).
c. Prinsip yang berkaitan dengan kekuasaan dan wewenang serta tanggung jawab pengurus yayasan (statutory duty).
Ketiga prinsip ini menuntut pengurus untuk bertindak secara hati-hati dan disertai dengan iktikad baik semata-mata untuk kepentingan dan tujuan yayasan.128
126
Tanggung jawab pengurus timbul apabila pengurus yang memiliki wewenang atau menerima kewajiban untuk melaksanakan pekerjaan mengurus yayasan telah mulai menggunakan wewenangnya. Pengurus sebagai orang yang sehari-hari mengurus tanggung jawab berarti kewajiban seseorang individu untuk melaksanakan aktivitas-aktivitas yang ditugaskan kepadanya sebaik mungkin sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. Idealnya, jika wewenang dilaksanakan sesuai dengan tanggung jawabnya dan sebaliknya tanggung jawab harus diberikan sesuai dengan wewenang yang dimilikinya. Dikutip dalam Winardi, Asas-asas Manajemen, (Bandung: Alumni, 1983), hlm. 144.
127
Yang dimaksud dengan tugas fiduciary duties dari seorang pengurus yayasan adalah tugas yang terbit secara hukum (by the operation of law) dari suatu hubungan fiduciary antara pengurus dengan yayasan yang dipimpinnya, yang menyebabkan pengurus berkedudukan sebagai trustee dalam pengertian hukum trust, sehingga seorang pengurus haruslah mempunyai kepedulian dan kemampuan (duty of care and skill), itikad baik, loyalitas dan kejujuran terhadap yayasan dengan derajad yang tinggi (high degree). Baca Munir Fuady, Perseroan Terbatas-Paradigma Baru, (Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 2003), hlm. 81.
Sebagai “artificial person” yayasan tidak bertindak sendiri dalam menjalankan segala kegiatannya. Untuk itu diperlukan orang-orang yang memiliki kehendak yang akan menjalankan yayasan tersebut sesuai dengan maksud dan tujuan pendirian yayasan. Orang-orang yang akan menjalankan, mengelola dan mengurus yayasan dalam UUY disebut dengan istilah organ yayasan.129
Fiduciary (fidusia) dalam bahasa latin dikenal sebagai fiduciaries yang berarti kepercayaan. Kepercayaan yang dipegang seseorang untuk kepentingan orang lain.
Black’s Law Dictionary mengartikan fiduciary duty sebagai a duty to act with the highest degree of honesty and loyalty toward another person and in the best interests of the other person (such as the duty that one partner owes to anotherenis).130 Dari definisi tersebut dapat dikatakan bahwa hubungan fiduciary timbul ketika satu pihak berbuat sesuatu bagi kepentingan pihak lain dengan mengesampingkan kepentingan pribadi sendiri.
Fiduciary duty adalah tugas yang dijalankan oleh pengurus dengan penuh
tanggung jawab untuk kepentingan (benefit) orang atau pihak lain (yayasan). Seseorang memiliki kapasitas fiduciary jika bisnis yang ditransaksikannya, harta
128
Yang dimaksud dengan tugas fiduciary duties dari seorang pengurus adalah tugas yang terbit secara hukum (by the operation of law) dari suatu hubungan fiduciary antara pengurus dengan yayasan yang dipimpinnya, yang menyebabkan pengurus berkedudukan sebagai trustee dalam pengertian hukum trust, sehingga seorang pengurus haruslah mempunyai kepedulian dan kemampuan (duty of care and skill), itikad baik, loyalitas dan kejujuran terhadap yayasan dengan derajad yang tinggi (high degree). Baca Munir Fuady, Perseroan Terbatas-Paradigma Baru, (Bandung; PT. Citra Aditya Bakti, 2003), hlm. 81.
129
Pasal 2 UUY No. 16 Tahun 2001 menyatakan bahwa yayasan mempunyai organ yang terdiri atas pembina, pengurus, dan pengawas.
130
Bryan A. Garner, et.al, ed, Black’s Law Dictionary, Eight Edition, (Paull, Minn: West Publishing Cost, 2004), hlm. 545.
benda atau kekayaan yang dikuasainya bukan untuk kepentingan dirinya sendiri, tetapi untuk kepentingan orang lain. Orang yang memberikan kewenangan tersebut, memiliki kepercayaan yang besar kepadanya. Sebagai pemegang amanah, wajib memiliki itikad baik dalam menjalankan tugasnya.131
Berdasarkan fiduciary duty, pengurus suatu yayasan diberikan kepercayaan yang tinggi oleh pendiri yayasan untuk mengelola suatu yayasan. Sehingga, pengurus harus memiliki standar integritas dan loyal yang tinggi, tampil serta bertindak untuk kepentingan yayasan, secara bona fides.132 Untuk kepentingan yayasan secara keseluruhan dan bukan untuk kepentingan pribadi organ yayasan, serta harus sesuai dengan tujuan dan maksud yayasan.
Pengurus bersalah baik karena kesengajaan maupun lalai dalam menjalankan kewajibannya (melakukan pelanggaran terhadap kewajiban fidusia) berakibat pada timbulnya tanggung jawab pribadi bagi pengurus. Hal ini ditegaskan dalam Pasal 35 ayat (5) Undang-Undang Yayasan No. 16 Tahun 2001 menentukan, bahwa setiap pengurus bertanggung jawab penuh secara pribadi apabila yang bersangkutan dalam menjalankan tugasnya tidak sesuai dengan ketentuan anggaran dasar, yang mengakibatkan kerugian yayasan atau pihak ketiga.
Berdasarkan kewenangan yang ada (proper purposes), pengurus harus mampu mengekspresikan dan menjalankan tugasnya dengan baik, agar yayasan selalu
131
Munir Fuady, Op.Cit, hlm. 33. 132
Bonafide berarti: in or with good faith, honestly; openty, and sincerely; without deceit or fraud; etc. (Black’s Law Dictionary).
berjalan pada jalur yang benar atau layak. Hal ini ditegaskan dalam Undang-Undang Yayasan No. 16 Tahun 2001 Pasal 35, yaitu:
(1) Pengurus yayasan bertanggung jawab penuh atas kepengurusan yayasan untuk kepentingan dan tujuan yayasan serta berhak mewakili yayasan, baik di dalam maupun di luar Pengadilan.
(2) Setiap pengurus menjalankan tugas dengan itikad baik dan penuh tanggung jawab untuk kepentingan dan tujuan yayasan.
(3) Dalam menjalankan tugas sebagaimana dimaksud dalam ayat (2), pengurus dapat mengangkat dan memberhentikan pelaksanaan kegiatan yayasan.
(4) Ketentuan mengenai syarat dan tata cara pengangkatan dan pemberhentian pelaksana kegiatan yayasan diatur dalam anggaran dasar yayasan.
(5) Setiap pengurus bertanggung jawab penuh secara pribadi apabila yang bersangkutan dalam menjalankan tugasnya tidak sesuai dengan ketentuan anggaran dasar, yang mengakibatkan kerugian yayasan atau pihak ketiga. Ketentuan dalam Pasal 35 ayat (1) artinya, kegiatan yang dilakukan dan keputusan yang diambil harus dilakukan demi kepentingan dan tujuan yayasan dan pengurus tidak boleh mengatasnamakan yayasan untuk melakukan segala sesuatu di luar kepentingan dan tujuan yayasan, kepentingan pribadi dan atau orang lain.133 Dengan demikian pengurus harus mampu menghindarkan yayasan dari tindakan- tindakan ilegal, bertentangan dengan peraturan dan kepentingan umum serta bertentangan dengan kesepakatan yang dibuat dengan organ yayasan lain.
Ada 2 (dua) prinsip standar yang harus dipenuh oleh pengurus dalam membuat keputusan. Pertama, ia harus dilakukan dengan iktikad baik untuk
133
Wahyono Darmabrata, “Implementasi Good Corporate Governance Menyikapi Bentuk- bentuk Penyimpangan Fiduciary Duty Direksi dan Komisaris Perseroan Terbatas” Jurnal Hukum Bisnis, Vol 22 No. 6, Tahun 2003, hlm. 31.
kepentingan yayasan, dan kedua, harus dibuat untuk tujuan yang benar sesuai dengan tujuan yayasan.
Selain prinsip di atas, pengurus juga berpedoman pada prinsip-prinsip dalam doktrin fiduciary duty, yaitu:134
a. Pengurus dalam melakukan tugasnya tidak boleh melakukannya untuk kepentingan pribadi ataupun kepentingan pihak ketiga, tanpa persetujuan dan atau sepengetahuan yayasan (the conflict rule).
b. Pengurus tidak boleh memanfaatkan kedudukannya sebagai pengurus untuk memperoleh keuntungan, baik untuk dirinya sendiri maupun pihak ketiga, kecuali atas persetujuan yayasan (the profit rule).
c. Pengurus tidak boleh menggunakan atau menyalahgunakan milik yayasan untuk kepentingan sendiri dan atau pihak ketiga (the misappropriation rule).
Berdasarkan konsep tersebut, pengurus harus menghindari konflik kepentingan. Tidak seorang pengurus pun boleh melibatkan diri dalam suatu kontrak di mana ia memiliki kepentingan pribadi, yang dapat menimbulkan kemungkinan terjadinya konflik kepentingan dengan kepentingan perusahaan yang harus dilindunginya. Kontrak yang melibatkan konflik kepentingan seperti ini disebut “voidable”. Di dalam fiduciary duty juga terdapat kewajiban bagi pengurus untuk melaporkan setiap keuntungan pribadi yang dimilikinya atau dimiliki keluarga,
134
Chatamarrasjid Ais, Penerobosan Cadar Perseroan dan Soal-soal Aktual Hukum Perusahaan, (Bandung: Citra Aditya Bakti, 2004), hlm. 196-197.
ketentuan ini dimaksud untuk mendeteksi kemungkinan adanya self dealing (yaitu. mengetahui keuntungan yang dimiliki pengurus atau keluarga karena posisi yang dijabatnya dengan melakukan transaksi antara yayasan ataupun mengambil kesempatan memperoleh keuntungan yang seharusnya untuk yayasan, dilaksanakan sendiri bagi kepentingan sendiri).135
Prinsip umum dalam hukum yayasan/perseroan menyatakan bahwa fiduciary duty bagi pengurus berlaku dalam kedudukannya baik untuk menjalankan fungsi manajemen maupun fungsi representasi,136 yaitu:
1. Fungsi manajemen, dalam arti pengurus melakukan tugas memimpin perusahaan/yayasan.
2. Fungsi representasi, dalam arti pengurus mewakili yayasan di dalam dan di luar Pengadilan.
Yayasan sebagai badan hukum terikat dengan transaksi atau kontrak-kontrak yang dibuat oleh pengurus atas nama dan untuk kepentingan yayasan.
Hubungan fiduciary timbul ketika satu pihak berbuat sesuatu bagi kepentingan pihak lain dengan mengesampingkan kepentingan pribadinya sendiri.
Pengurus tidak hanya bertanggung jawab terhadap ketidakjujuran yang disengaja (dishonesty), tetapi juga bertanggung jawab secara hukum terhadap tindakan kesalahan manajemen, kelalaian, kegagalan atau tidak melakukan sesuatu
135
Chatamarrasjid Ais, Op.Cit, hlm. 108. 136
yang penting bagi yayasan/perseroan.137 Dengan demikian, pengurus bertanggung jawab penuh atas pengurusan yayasan, artinya secara fiduciary harus melaksanakan standard of care.
Sepanjang pengurus bertindak dengan iktikad dan tindakan tersebut semata- mata untuk kepentingan yayasan, tetapi ternyata yayasan tetap menderita kerugian, maka pengurus tidak serta merta bertanggung jawab secara pribadi atas kerugian tersebut. Sehubungan dengan hal ini Pasal 39 ayat (2) Undang-Undang Yayasan No. 16 Tahun 2001 menyatakan bahwa pengurus tidak dapat dipertanggung jawabkan atau kerugian tersebut, apabila dapat membuktikan:
a. Kerugian tersebut bukan karena kesalahan atau kelalaiannya;
b. Telah melakukan pengurusan dengan iktikad baik dan kehati-hatian untuk kepentingan dan sesuai dengan maksud yayasan;
c. Tidak mempunyai benturan langsung maupun tidak langsung atas tindakan pengurusan yang mengakibatkan kerugian; dan
d. Telah mengambil tindakan untuk mencegah timbul atau berlanjutan kerugian tersebut.
Ketentuan di atas memperlihatkan bahwa pengurus tidak boleh menimbulkan kerugian bagi yayasan, yang disebabkan ketidakcakapannya ataupun kelalaiannya.
Pengurus yayasan dalam menjalankan tugasnya berdasarkan prinsip fiduciary duties, harus melakukan tugasnya sebagai berikut:138
a. Dilakukan dengan itikad baik (Bona Fides);
b. Dilakukan dengan proper purposes (tujuan yang benar);
c. Dilakukan dengan kebebasan yang tidak bertanggung jawab (unfettered discretion); dan
d. Tidak memiliki benturan kepentingan (conflict of duty and interest).
137
Munir Fuady, Perseroan Terbatas Paradigma Baru, (Bandung: Citra Aditya Bakti, 2003), hlm. 82.
138
Apabila terjadi conflict of duty dan benturan kepentingan pada saat menjalankan yayasan, pengurus harus mampu mengelola secara bijak berbagai pertentangan sebagai akibat adanya perbedaan kepentingan para pendiri. Dalam pelaksanaannya, conflict of interest dapat terjadi dalam hal personal interest pihak lain yang diwakilinya dalam hubungan agent versus principal.
Conflict of interest tidak diperkenankan karena dapat mempengaruhi independency dan fairness dalam suatu persoalan atau transaksi seseorang untuk mengetahui apakah seorang pengurus telah melakukan tugasnya secara baik dengan menggunakan kemampuan dan kepeduliannya (duties of care and skill), maka standar yuridis yang umum diterima adalah bahwa pengurus harus menunjukkan derajat kepedulian (care) dan kemampuan (skill) seperti yang diharapkan secara reasonable dari orang yang memiliki pengetahuan (knowledge) dan pengalaman (experience). Dengan demikian, fiduciary duty dapat dikatakan sebagai tugas yang diemban oleh pengurus dengan penuh tanggung jawab dalam kapasitas dan fungsinya demi kepentingan yayasan. Pengurus berkewajiban untuk mengelola yayasan dengan iktikad baik dan penuh tanggung jawab, serta mengutamakan kepentingan yayasan di atas kepentingan pribadi atau bahkan kepentingan organ yayasan sekalipun.