BAB III : PERTANGGUNGJAWABAN DIREKSI BANK MENGENA
B. Prinsip Fiduciary Duty Terhadap Pertanggungjawaban
2. Penerapan Prinsip Kehatian-hatian (Prudential Banking)
Sebagaimana diketahui bahwa kegiatan usaha bank selain berbentuk simpan pinjam ada juga yang berbentuk jasa pelayanan, salah satunya ialah pemberian fasilitas
Letter of Credit. Pembayaran Letter of Credit terdiri dari empat cara yaitu pembayaran
atas unjuk (by sight payment), pembayaran yang ditangguhkan (by deferred payment), pembayaran akseptasi (payment by acceptance), pembayaran negosiasi (payment by
negotiation). Setiap penerbitan L/C harus ditentukan pembayarannya berdasarkan salah
satu dari empat cara pembayaran tersebut. Masing-masing cara pembayaran L/C ini memiliki karakteristik tersendiri yang berbeda satu terhadap yang lainnya. 210
Pada keempat cara pembayaran L/C di atas, sebelum bank menentukan pembayaran terlebih dahulu bank wajib memeriksa semua dokumen yang diajukan kepadanya untuk menentukan kesesuaiannya dengan persyaratan L/C. Batas waktu bank melakukan penelitian dokumen adalah paling lama 5 (lima) hari kerja perbankan setelah
209
Ibid.
210
hari presentasi dokumen kepada bank. UCP 600, Artikel 14 huruf b menyatakan sebagai berikut:
“A nominated bank acting on its nomination, a confirming bank, if any, and the issuing bank must examine a presentation to determine, on the basis of the documents alone, whether or not the documents appear on their face to constitute a complying presentation.” (Nominated bank yang bertindak sesuai nominasinya,
confirming bank, jika ada issuing bank masing-masing memiliki waktu maksimum lima hari kerja perbankan setelah hari presentasi untuk menentukan jika presentasi sesuai. Jangka waktu ini tidak dikurangi atau sebaliknya dipengaruhi oleh terjadinya setiap tanggal jatuh tempo atau hari terakhir untuk presentasi pada atau setelah tanggal presentasi).
Bertitik tolak dari batasan waktu pemeriksaan dokumen bank menentukan pembayaran L/C. Pembayaran L/C didasarkan pada hasil pemeriksaan dokumen- dokumen yang diajukan beneficiary kepada bank. Bila bank menetapkan bahwa dokumen-dokumen yang diajukan beneficary telah memenuhi persyaratan L/C, maka bank wajib melakukan pembayaran L/C. Namun, pelaksanaan pembayaran L/C secara aktual tergantung pada cara pembayaran yang ditetapkan dalam L/C. Untuk cara pembayaran atas unjuk, bank melakukan pembayaran kepada beneficary segera setelah bank menyatakan bahwa dokumen-dokumen yang diajukan beneficiary telah memenuhi persyaratan L/C. Demikian juga halnya pada pada pembayaran negosiasi, bank melakukan pembayaran kepada beneficiary setelah bank menyatakan bahwa dokumen- dokumen yang diajukan beneficary telah memenuhi persyaratan L/C. Sebaliknya, pada pembayaran yang ditangguhkan dan pembayaran akseptasi, bank melakukan pembayaran L/C kepada beneficiary pada saat instrumen pembayaran jatuh tempo.
Berdasarkan Artikel 13 b UCP 500, bank dalam meneliti dokumen-dokumen dan menentukan sikap mengambil alih atau menolak dokumen-dokumen serta memberitahu
pihak pengirim dokumen-dokumen hanya memliki waktu maksimum 7 (tujuh) hari kerja perbankan setelah hari penerimaan dokumen-dokumen dimaksud. Akan tetapi, dalam era persaingan perbankan yang sangat kompetitif sekarang ini bank terkait akan berupaya melaksanakan dan menyelesaikan tugasnya untuk meneliti dokumen-dokumen lebih cepat dari batas waktu 7 (tujuh) hari kerja perbankan tersebut. Namun dalam keadaan
force majeur karena tindakan pemerintah atau akibat-akibat alam, jangka waktu 7
(tujuh) hari dimaksud dapat dilampaui.211
Sementara, sesuai Artikel 14 b UCP 600, bank dalam meneliti dokumen- dokumen hanya memiliki waktu maksimum 5 (lima) hari kerja perbankan setelah hari presentasi untuk menentukan presentasi yang sesuai. Dan, Artikel 15 UCP 600 mengatakan bahwa bank penerbit dan bank pengkonfirmasi wajib melakukan honour atau negotiete atas presentasi yang sesuai. Artinya, begitu bank penerbit atau bank pengkonfirmasi telah menetapkan presentasi yang sesuai berdasarkan Artikel 14 b UCP 600 maka berdasarkan Artikel 15 UCP 600 bank penerbit atau bank pengkonfirmasi memasuki proses settlement untuk honour atau negotiate. Inti Artikel 15 UCP 600 adalah ‘bayar ketika presentasi sesuai’. Namun, Artikel 15 UCP 600 tidak mengatur kapan realisasi honour atau negotiate itu.
Melalui pendekatan kasus, pembobolan bank BNI misalnya, penyalahgunaan L/C sebagai cara pembayaran dalam dunia perbankan yang berdampak yuridis, di mana dalam hal ini identik dengan perbuatan pidana (korupsi/penipuan) yang muncul ke permukaan setelah terjadinya beberapa kasus mengenai pembobolan BNI senilai Rp 1,7
211
triliun. Jika proses perbankan yang normal dan menganut prinsip-prinsip kehati-hatian (prudential banking practice) diterapkan oleh BNI dalam memberikan fasilitias usance L/C kepada Gramarindo dan Petindo, tentunya hal ini akan melalui proses yang panjang.
Skema yang digunakan dalam pembobolan BNI diawali dengan permintaan pembukaan L/C oleh para pengusaha yang diduga sebagai pembobol itu kepada bank- bank di luar negeri. Untuk menambah keyakinan bank BNI atas L/C yang akan dibuka ini, para pengusaha pun meminta bank-bank lain untuk melakukan konfirmasi atau turut menjamin penerbitan L/C ini. Berdasarkan L/C inilah kemudian perusahaan ini meminta Bank BNI mencairkan kredit ekspornya. Bank BNI tentu dengan mempertimbangkan kelayakan L/C tersebut berani memberikan kredit ekspornya. Apa yang terjadi kemudian adalah dana yang diperoleh dari kredit ekspor ini tidak digunakan untuk ekspor, bahkan digunakan untuk pembayaran utang–utang perusahaan itu.
Dalam memberikan kredit ekspor tentu di samping melihat kualitas bank penerbit L/C, seharusnya Bank BNI menganalisa creditworthiness (kelayakan kredit) dari debitornya. Dari mulai meneliti barang yang akan diekspor sampai kompetensi debitor di dalam bisnis yang akan dibiayai. Limit kredit cabang Kebayoran seperti diberitakan adalah sebesar Rp 1,5 miliar. Artinya pemberian kredit di atas jumlah tersebut harus dengan persetujuan kantor wilayah atau kantor pusat. Mengherankan apabila kredit senilai Rp 1,7 Triliun bisa dieksekusi di tingkat cabang. Pemberian kredit sebesar itu hampir dipastikan diketahui tidak hanya sekedar pejabat cabang. Di dalam praktik bank di mana pun, bagian yang melakukan proses approval (persetujuan),
analisa kredit, dan yang melaksanakan penerbitan L/C adalah bagian- bagian yang terpisah. Sehingga keterlibatan banyak pihak adalah bagian inherent di dalam prosses pemberian kredit yang besar.212
Kasus ini dapat menunjukkan betapa sistem pengendalian intern yang dimiliki oleh Bank BNI patut dipertanyakan karena tidak dapat menangkap isyarat awal akan terjadinya skandal yang demikian besar secara hitungan rupiah. Padahal di dalam ketentuan- ketentuan tentang prinsip kehati- hatian, risk management, dan compliance
system yang dikeluarkan Bank Indonesia jelas-jelas disebut bahwa direksi bertanggung
jawab atas tersedia dan terlaksananya system internal control yang mumpuni, identifikasi risiko setiap transaksi, dan terpenuhinya ketentuan- ketentuan yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia. Dalam kejadian kasus ini, seharusnya Direksi Bank BNI dapat digolongkan telah melakukan kesalahan atau pun kelalaian.
Apabila meninjau pada prinsip-prinsip kehati-hatian (prudential banking
principles) sebelum menerbitkan kemudian melakukan pembayaran Letter of Credit
kepada perusahaan, maka sekurang-kurangnya terdapat lima (5) prinsip kehati-hatian yang dimaksud, yang telah dikenal secara umum dalam dunia perbankan.213 Dalam melakukan penilaian terhadap calon debitor, maka bank harus berpedoman terhadap faktor-faktor, seperti :
212
Cepi J. Malik, op.cit.
213
Lihat Rizky Harta Cipta, “Strategi Bank Atas Efektivitas Penerapan Prudential Banking Principles Dalam Rangka Pembiayaan” dalam http://www.hukumpositif.com/blog/5, diakses 19 September 2010.
1. Watak (character), yang berarti, bank harus dapat menilai calon debitor memiliki pembawaan, karakter, dan sifat-sifat yang baik dalam melaksanakan kewajiban- kewajibannya (kewajiban dalam membayar pinjaman).
2. Kemampuan (capacity), yang berarti, bank harus dapat menilai calon debitor Memiliki kemampuan-kemampuan secara ekonomis (pada masa sekarang dan masa mendatang) dalam melakukan pembayaran pinjamannya.
3. Modal (capital), yang berarti, bank harus dapat menilai calon debitor memiliki aset-aset ekonomis yang dapat dijadikan sarana calon debitor melaksanakan kewajiban-kewajibannya (melakukan pembayaran pinjaman).
4. Jaminan (collateral), yang berarti, bank harus dapat menilai aset calon debitor yang dijaminkan memiliki nilai ekonomis yang proposional dengan jumlah pinjaman (pembiayaan) yang diberikan bank kepada calon debitor.
5. Kondisi ekonomi (condition of economy), yang berarti bank harus dapat menilai stabilitas kondisi ekonomi dan keuangan calon debitor, pada saat peminjaman dan perkiraan pada masa mendatang.
Jaminan secara yuridis mempunyai fungsi untuk mengkover hutang. Oleh karena itu, jaminan di samping faktor-faktor lain (watak, kemampuan, modal, jaminan dan kondisi ekonomi), dapat dijadikan sebagai sarana perlindungan untuk para kreditur dalam kepastian atau pelunasan utang calon debitur atau pelaksanaan suatu prestasi oleh debitur.214
214
Djumhaendah Hasan, “Aspek Hukum Jaminan Kebendaan dan Perorangan” dalam Jurnal Hukum Bisnis volume II, hal. 16.
Apabila meninjau lebih mendalam pada fungsi jaminan (Collateral), maka jaminan sangat dibutuhkan untuk menanggung kegagalan kredit. Oleh karena itu dalam praktik, calon debitur diwajibkan memberikan jaminan kepada bank dengan nilai yang sama atau lebih tinggi dari pinjaman (pembiayaan) yang diberikan oleh bank. Selain itu, dalam praktik bank selalu menilai jaminan calon debitor lebih rendah dari nilai pasar, sebagai nilai penyusutan yang harus ditanggung oleh calon debitor. Penerapan prinsip kehati-hatian, seperti menggunakan metode 5 C Analisis, dapat diperkuat dengan penerapan skim asuransi kredit. Sehingga dengan diterapkannya skim asuransi, dapat memberikan penurunan kegagalan resiko kredit yang terjadi di masa mendatang.
3. Akibat Hukum Bila Direksi Bank Tidak Menerapkan Prinsip Kehati-hatian (Prudential Banking) Dalam Pembayaran Letter of Credit
Kelanjutan dari uraian di atas yakni perlu pendapat yang lebih terarah memahami arti kata “kesalahan” dan “kelalaian” dan ukuran yang dipakai sebagai tolak ukur untuk menilai apakah kebijakan Direksi tergolong salah atau lalai.
a. Pengertian kesalahan dan kelalaian
Sebagaimana diketahui bahwa pasal 136 KUH Perdata mensyaratkan adanya unsur kesalahan (schuld) terhadap suatu perbuatan melawan hukum. Sudah merupakan tafsiran umum dalam ilmu hukum bahwa unsur kesalahan tersebut dianggap ada jika memenuhi salah satu diantara 3 (tiga) syarat sebagai berikut:
a. ada unsur kesengajaan, atau
b. ada unsur kelalaian (negligence, culpa)215 ;dan
c. tidak ada alasan pemaaf (rechtvaardigings-grond), atau keadaan overmacht, membela diri, tidak waras, dan lain-lain.216
Ditinjau dari segi berat ringannya derajat kesalahan dari pelaku perbuatan melawan hukum, maka dibandingkan dengan perbuatan melawan hukum yang dilakukan dengan unsur kelalaian, maka perbuatan melawan hukum yang dilakukan dengan unsur kesengajaan derajat kesalahannya lebih tinggi. Jika seseorang yang dengan sengaja merugikan orang lain (baik untuk kepentingannya sendiri atau bukan), berarti dia telah melakukan perbuatan yang melanggar hukum tersebut dalam arti yang sangat serius ketimbang dilakukannya hanya sekedar kelalaian belaka.217
b. Ukuran (bench mark) dari kelalaian dan kelalaian.
Dari definisi di atas bahwa dibalik kata kesalahan atau kelalaian itu terkandung pengertian bahwa ada suatu perbuatan melanggar hukum. Hukum dalam konteks industri perbankan harus ditafsirkan secara luas mengingat begitu banyak aturan yang diberlakukan pada industri perbankan. Selanjutnya akan diidentifikasi ketentuan- ketentuan yang harus dipatuhi oleh Direksi Bank. Ada beberapa ketentuan-ketentuan di atas dunia perbankan yang harus dipedomani Direksi dalam menjalankan tugasnya antara lain:
215
Pasal 367 KUH Perdata berbunyi “Setiap orang bertanggung jawab, bukan hanya atas kerugian yang disebabkan perbuatan-perbuatan, melainkan juga atas kerugian yang disebabkan kelalaian atau kesembronoannya.
216
Munir Fuady, Perbuatan Melawan Hukum, Pendekatan Kontemporer, (Bandung : PT.Citra Aditya Bakti, 2005). 40.
217
a. Undang-undang yang berlaku dan ketentuan-ketentuan di bawahnya; b. Seluruh ketentuan yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia;
c. Komitmen dengan bank Indonesia. Komitmen biasanya diminta oleh Bank Indonesia setelah melakukan pemeriksaan dan pembinaan terhadap Bank, Komitmen berisi langkah-langkah perbaikan yang harus dilakukan Bank; d. Anggaran Dasar perusahaan. Di dalam anggaran dasar biasanya tercantum
hak, kewajiban, wewenang Direksi , bisi dan misi perusahaan;
e. Standar operasional dan prosedur (SOP) yang mengatur langkah-langkah yang harus ditempuh dalam memproses suatu pekerjaan sejak awal sampai pekerjaan selesai;
f. Pendapat yang dikeluarkan oleh Direktur Kepatuhan atas hasil uji kebijakan yang akan dikeluarkan oleh Direksi;
g. Kesepakatan-kesepakatan yang sudah diratifikasi baik bilateral maupun multilateral;
h. Kelaziman dan kebiasaan yang berlaku dan sudah diakui sebagai best
practice.218
Dengan demikian gambaran ruang lingkup dan aspek itikad baik dan tanggung jawab penuh (fiduciary duty) yang wajib dilaksanakan anggota direksi mengurus perseroan. Jika anggota direksi lalai melaksanakan kewajiban itu atau melanggar apa yang dilarang atas pengurusan itu, dan kelalaian atau pelanggaran itu menimbulkan kerugian terhadap perseroan, maka anggota direksi itu bertanggung jawab secara pribadi atas kerugian perseroan tersebut.
Dalam hal ketentuan perbankan yang mana anggota direksi bank terdiri atas 2 (dua) orang atau lebih, Pasal 97 ayat (4) UUPT menegakkan prinsip penerapan tanggung jawab secara tanggung renteng. Dengan demikian apabila salah seorang anggota direksi lalai atau melanggar kewajiban pengurusan secara itikad baik dan penuh tanggung jawab sesuai dengan lingkup aspek-aspek itikad baik dan pertanggungjawaban pengurusan
218
yang disebut di atas, maka setiap anggota direksi sama-sama ikut memikul tanggung jawab secara tanggung renteng terhadap kerugian yang dialami perseroan.
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Dari uraian dan analisis dalam bab-bab sebelumnya, maka penulis menarik kesimpulan sebagai berikut:
1. Ketentuan prinsip fiduciary duty dalam UUPT yakni sesuai Pasal 97 ayat (2) yang menyebutkan bahwa “Pengurusan sebagaimana ayat (1), wajib dilaksanakan setiap anggota Direksi dengan itikad baik dan penuh tanggung jawab.” Dengan demikian, kata “wajib” merupakan termasuk dalam melaksanakan pengurusan perseroan dengan “itikad baik” meliputi aspek duty of
care, sementara “tanggung jawab” meliputi aspek duty of loyality yang
merupakan tolok ukur dari ketentuan prinsip fiduciary duty. Relevansinya terhadap pertanggungjawaban direksi bank yakni bahwa secara konsep sederhana dalam ketentuan khusus perbankan adanya kewajiban prinsip kehati-hatian (prudential banking) merupakan wujud implementasi prinsip fiduciary duty di pundak direksi bank. Hal ini sebab uang yang dikelolanya bukan merupakan uang dirinya semata, melainkan uang nasabah (masyarakat) yang sebagian tentunya modal pemegang saham. Dengan demikian tanggung jawab direksi bank tidak hanya kepada shareholder tetapi juga meliputi stakeholder.
2. Berkaitan dengan mekanisme pembayaran Letter of Credit, direksi bank seharusnya bertindak dengan melaksanakan prinsip kehatian-hatian (prudential
banking) dalam menjaminkan L/C kemudian menyalurkannya sebagai bentuk
pembayaran. Jika hal itu tidak dilaksanakan dan seketika itu pula terjadi kerugian aset bank berupa pembobolan melalui L/C fiktif tersebut, direksi dapat dianggap mengabaikan sikap prudential banking dan terjadinya pelanggaran prinsip
fiduciary duty. Dengan demikian, sesuai ketentuan khusus perbankan yang mana
anggota direksi bank diharuskan terdiri atas 2 (dua) orang atau lebih, maka sesuai dengan Pasal 97 ayat (4) UUPT berlaku prinsip penerapan tanggung jawab secara tanggung renteng. Artinya apabila salah seorang anggota direksi lalai atau melanggar kewajiban pengurusan secara itikad baik dan penuh tanggung jawab sesuai dengan lingkup aspek-aspek fiduciary duty, maka setiap anggota direksi sama-sama ikut memikul tanggung jawab secara tanggung renteng terhadap kerugian yang dialami perseroan. Dengan demikian tanggung jawab direksi yang semulanya terbatas menjadi tidak terbatas lagi yang dalam hal ini dapat diberlakukan doktrin piercing the corporate veil.
B. Saran
Sehubungan dengan urian kesimpulan di atas, penulis mengajukan beberapa saran sebagai berikut:
1. Diharapkan adanya keberanian bagi aparat penegak hukum khususnya para hakim untuk memperberat sanksi bagi direksi bank yang telah melakukan penyelewengan tugas dan kewenangannya menyebabkan kerugian aset bank
yang berdampak pada kepentingan pemegang saham khususnya kepentingan para nasabah.
2. Diharapkan agar peran Direktur Kepatuhan lebih meningkatkan fungsi pengawasannya terhadap hasil uji kebijakan yang akan dikeluarkan oleh Direksi yang didalamnya mengandung unsur penyimpangan/pelanggaran terhadap ketentuan kehati-hatian terutama dalam mengontrol transaksi pembayaran L/C sebagai fasilitas layanan devisa luar negeri.
DAFTAR PUSTAKA
A. Buku
Ali, Chidir. Badan Hukum: Rechtspersoon. Bandung: Alumni, 1991.
Andhibroto, Soepriyono. Letter of Credit dalam Teori dan Praktek, edisi revisi. Semarang: Dahara Prize, 1997.
Asikin, Zainal. Pokok-pokok Hukum Perbankan di Indonesia. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1995.
Black, Henry Campbell. Black Law Dictionary, Sixth Edition. Minn: West Publishing Co, 1990.
Budiarto, Agus. Kedudukan Hukum dan Tanggung Jawab Pendirian Perseroan
Indonesia. Bogor: Ghalia Indonesia, 2002.
Cain, T.E. Charlesworth’s Company Law, ninth edition. London: Steven & Sons, 1968. Chatamarrasjid. Menyingkap Tabir Perseroan: Piercing the Corporete Veil, Kapita
Selekta Hukum Perseroan. Bandung: Citra Aditya Bakti, 2000.
D.Schaffmeister, N. Keijzer, PH.Sutorius, Hukum Pidana. Bandung: Citra Aditya Bakti, 2007.
Dine, Janet. Company Law. London : Sweet & Maxweel, 1998.
Djumhana, Muhammad. Hukum Perbankan di Indonesia. Bandung: Citra Aditya Bakti, 1996.
Dunford, Campbell. ed., The Handbook of International Trade. Cambridge: Woodhead- Faulkner Publisher, Ltd., 1991.
Fuady, Munir. Doktrin-doktrin dalam Corporate Law dalam Eksistensi Hukum di
Indonesia. Bandung: Citra Aditya Bakti, 2002.
____________. Hukum Perbankan Modern Berdasarkan Undang-Undang Tahun 1998. Bandung: Citra Aditya Bakti, 1999.
____________. Hukum Perusahaan dalam Paradigma Hukum Bisnis. Bandung: Citra Aditya Bakti, 1999.
____________. Perbuatan Melawan Hukum: Pendekatan Kontemporer. Bandung: PT.Citra Aditya Bakti, 2005.
____________. Perseroan Terbatas Paradigma Baru. Jakarta: Citra Aditya Bakti, 2003. Gautama, Sudargo. dkk. Ikhtisar Hukum Perseroan Berbagai Negara yang Penting bagi
Indonesia. Bandung: Citra Aditya, 1991.
Ginting, Ramlan. Letter of Credit: Tinjauan Aspek Hukum dan Bisnis. Jakarta: Universitas Trisakti, 2007.
_____________. Metode Pembayaran Perdagangan Internasional, (Jakarta: Universitas Trisakti, 2009), hal. 13. Lihat juga Ramlan Ginting, Transaksi Bisnis dan
Perbankan Internasional, (Jakarta: Salemba Empat, 2007.
_____________. Transaksi Bisnis dan Perbankan Internasional, (Jakarta: Salemba Empat, 2007.
Griffin, Stephen. Company Law: Fundamental Principles, Third Edition. United Kingdom: Pearson Education Limited, 2000.
Harahap, M. Yahya. Hukum Perseroan Terbatas. Jakarta: Sinar Grafika, 2009.
Hadisoeprapto, Hartono. Kredit Berdokumen (Letter of Credit): Cara Pembayaran
dalam Jual Beli Perniagaan. Yogyakarta: Liberti, 1991.
Hasanuddin AF, dkk. Pengantar Ilmu Hukum. Jakarta: Pustaka Al Husna Baru, 2004. Hasibuan, Malayu S.P. Kredit Berdokumen (L/C) dan Lalu Lintas Pembayaran
Penunjang Globalisasi Perekonomian. Bandung: Tarsito, 1983.
Hengkelmen, Edward G. A Short Course in International Payments terj. Hesti Widyaningrum. Jakarta: Penerbit PPM, 2002.
Hermansyah. Hukum Perbankan Nasional Indonesia. Jakarta: Kencana, 2005. ICC. Decisions (1975-1979) of the ICC Banking Commision. Paris: ICC, 1980.
Ivamy, E.R. Hardy and Paul Latimer. Casebook on Commercial Law. London: Butterworth & Co., 1979.
Jack, Raymond. Documentary Credit. London: Butterworth, 1993.
Kansil, C.S.T. Pokok-pokok Hukum Dagang Indonesia: Perbankan dan Permodalan di
Indonesia, buku kedua. Jakarta: Sinar Grafika, 2003.
Kansil, C.S.T. dan Christine Kansil. Pokok-pokok Pengetahuan Hukum Dagang
Indonesia, cet. Kedua. Jakarta: Sinar Grafika, 2004.
Kartono, Komentar tentang: Surat Kreditt (L/C, Letter of Credit), Konosemen (B/L, Bill
of Lading), Wesel (B/E, Bill of Exchange), Dokumen-dokemn Lainnya, cet. I.
Jakarta: Pradnya Paramita, 1980.
Khairandy, Ridwan. Pengantar Hukum Dagang. Jakarta: FH UI Press, 2006.
Lipton, Philip and Abraham Herzberg. Understanding Company Law. Brisbane: The Law Book Company, Ltd., 1992.
Lubis, Irsyad. Bank dan Lembaga Keuangan Lain. Medan: USU Press, 2010.
M.S, Amir. Letter of Credit dalam Bisnis Ekspro Impor. Jakarta: Penerbit PPM, 2003. Marzuki, Peter Mahmud . Penelitian Hukum. Jakarta: Kencana, 2007.
McCullough, Burton V. Esq. Letter of Credit. New York: Matthew Bander, 1992. Moeljatno, Asas-asas Hukum Pidana. Jakarta: PT, Renika Cipta, 2008.
Moerono, Agoes. Melangkah Menuju Ekspor: Suatu Petunjuk Praktis. Jakarta: IBI, 1993.
Monks, Robert A. G. and Nell Minow. Corporate Governance. Victoria : Blackwell Publishing, 2004.
Muhammad, Abdul Kadir dan Rilda Murniati. Segi Hukum Lembaga Keuangan dan
Pembiayaan. Bandung: Citra Aditya Bakti, 2000.
Muhammad, Abdul Kadir. Pengantar Hukum Perusahaan Indonesia. Bandung: Citra Aditya Bakti, 1991.
Nasution, Bismar. Keterbukaan Dalam Pasar Modal. Jakarta: Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Program Pasca Sarjana, 2001.
O’Kelley, Charles Jr., Robert B.Thompson, Corporation and Other business
Oliver M.C., and EA Marshal, Company Law, Eleventh Edition. The M & E Handbook Series, 1991.
Pang, Jhonson. Financing and Practice of Domestic and International Trade, (Kuala Lumpur: Planduk Publication (M), Sdn. Bhd., 1992.
____________. Banking & You. Malaysia: Planduk Publication, 1991.
Pennington, Robert R. Directors’ Personal Liability. Collin: Professional Books, 1997. Prasetya, Rudi. Kedudukan Mandiri Perseroan Terbatas. Bandung: Citra Aditya Bakti,
1999.
Prodjikoro, Wirjono. Asas-asas Hukum Pidana di Indonesia. Bandung: Refika Aditama, 2003.
Purwosutjipto, H.M.N. Pengertian Pokok Hukum Dagang Indonesia, Jilid 2. Jakarta: Djambatan, 1991.
_________________. Hukum Perkumpulan Perseroan dan Koperasi di Indonesia. Jakarta: Dian Rakyat, 1985.
Regar, Moenaf H. Dewan Komisaris: Peranannya sebagai Organ Perseroan. Jakarta: Bumi Aksara, 2000.
Ridho, Ali. Badan Hukum dan Kedudukan Badan Hukum Perseroan, Perkumpulan
Koperasi, Yayasan, Wakaf. Bandung: Alumni, 1996.
Rowe, Michael. Guarantees: Standby Letters of Credit and Other Securities. London: Euromoney Publication, 1987.
Rusli, Hardijan. Perseroan Terbatas dan Aspek Hukumnya. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1996.
Rutzel MSJD, cs., Conteraporary Business Law, Fourth Edition. McGraw Hill: Publishing Company, 1990.
Seomatri, Siti KUHD & PK, Cet.VIII. Yogyakarta: Seksi Hukum Dagang Fakultas Hukum Universitas Gajah Mada, 1993.
Sianturi, E.Y.Kanter, S.R. Asas-asas Hukum Pidana di Indonesia dan Penerapannya. Jakarta: Storia Grafika, 2002.
Simanjuntak, Emmy Pangaribuan. Pembukaan Kredit Berdokumen. Yogyakarta: Seksi Hukum Dagang FH-UGM, 1989.
Sudrajat, Agus. Pengkajian Hukum tentang Masalah Hukum L/C sebagai Alat
Pembayaran dalam Perdagangan, (Jakarta: BPHN Departement Kehakiman RI,
1996.
Sunggono, Bambang. Metode Penelitian Hukum: Suatu Pengantar. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2001.
Suta, I Putu Gede Ary dan Soebowo Musa. BPPN The End. Jakarta: Yayasan Satria Bhakti, 2004.
Tianwah, Goh. Guide to Letters of Credit. Singapura: Rank Books, 1992.
Usman, Rachmadi. Dimensi Hukum Perusahaan Perseroan Terbatas. Bandung: Alumni, 2004.
Widiyono, Try. Direksi Perseroan Terbatas: Keberadaan, Tugas, Wewenang, dan
Wijaya, Gunawan. Tanggung Jawab Direksi atas Kepailitan Perseroan. Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada, 2002.
Wilamarta, Misahardi. Hak Pemegang Saham Minoritas dalam Rangka Good Corporate
Governance. Jakarta: Program Pascasarjana FHUI, 2002.
Yani, Ahmad dan Gunawan Widjaja. Seri Hukum Bisnis: Perseroan Terbatas. Jakarta: