• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV LOKASI PENELITIAN

4.5 Program Kegiatan Kecamatan

4.5.3 Bidang Kemasyarakatan

Adapun program pembinaan kemasyarakatan yang dilakukan pihak Pemerintah Kecamatan Medan Helvetia adalah sebagai berikut :

1.Kesehatan

a. Bekerjasama dengan pimpinan puskesmas untuk mengaktifkan posyandu-posyandu yang ada di lingkungan

b. Kemudian melakukan pelatihan terhadap siswa-siswi sekolah dari berbagai tingkatan untuk menjadi dokter kecil dan dokter remaja serta meningkatkan pembinaan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS).

c. Pengobatan gratis di puskesmas-puskesmas bagi masyarakat yang kurang mampu hanya dengan menunjukkan Kartu Keluarga atau KTP Medan Helvetia dan juga Kartu Sehat yang telah diterbitkan oleh Dinas Kesehatan Kota Medan dan diketahui oleh Lurah dan Camat.

d. Mendorong masyarakat untuk berpartisipasi memfasilitasi pengobatan-pengobatan gratis dan khitanan massal baik melalui individu maupun lembaga-lembaga kesehatan seperti klinik, praktek-praktek dokter dan lain-lain.

e. Mengadakan sosialisasi pencegahan terhadap penyakit HIV – AIDS, Demam Berdarah Dengue dan Penyakit Menular lainnya.

f. Dalam rangka mengantisipasi berjangkitnya penyakit menular, diare, munmen yang diakibatkan oleh banjir yang melanda beberapa wilayah di

Kecamatan Medan Helvetia pada bulan September-Desember 2004, telah dibentuk Posko Banjir mulai dari tingkat lingkungan, kelurahan dan kecamatan, yang melalui koordinasi dengan Dinas Kesehatan Kota Medan dan disiagakannya satu unit ambulans agar dapat segera melakukan langkah-langkah pertolongan lebih cepat di lapangan. Akibat dari timbulnya banjir ini telah disalurkan bantuan berupa beras, telur, mie instan dan uang.

Khusus untuk menghadapi wabah demam berdarah, melalui koordinasi dengan Dinas Kesehatan dalam hal ini Puskesmas yang ada di Kecamatan Medan Helvetia, Muspika Medan Helvetia dan bekerjasama dengan masyarakat dan instansi lainnya melalui Gerakan Kebersihan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) di seluruh lingkungan dan di kantor-kantor pemerintah serta sekolah-sekolah di wilayah Kecamatan Medan Helvetia yang dilaksanakan secara bergiliran seperti kegiatan pemogingan/penyemprotan serta gotong royong khususnya di setiap lokasi endemik

2. Keagamaan

Suksesnya pelaksanaan MTQ Nasional ke 43 Tahun 2010 Tingkat Kota Medan adalah berkat peran serta masyarakat Instansi Pemerintah/ Swasta serta lembaga pengembangan Tilawatil Qur’an Kecamatan Medan Helvetia.

Guna lebih mendekatkan diri ke tengah-tengah masyarakat selalu menghadiri setiap kegiatan keagamaan yang diadakan oleh masyarakat dengan menyampaikan program-program Pemerintah Kota Medan dan pesan-pesan yang menyejukkan hati, demi tercapainya masyarakat yang harmonis dan dinamis dalam pembangunan.

3. Pendidikan

Dalam bidang pendidikan secara intern Camat Medan Helvetia selalu memacu setiap pegawai kecamatan dan kelurahan untuk terus meningkatkan pengetahuan baik formal maupun informal, serta mendorong untuk mengikuti kursus maupun pelatihan yang diadakan Pemerintah Kota Medan guna peningkatan kemampuan Sumber Daya Manusia.

Fungsi pengawasan terhadap penyaluran bantuan BP3 Terarah dilaksanakan dengan menghadiri upacara bendera hari Senin di sekolah secara bergiliran, seklaigus melakukan pendekatan agar sekolah-sekolah turut berperan aktif dalam menjaga kebersihan.

4. Kebersihan dan Gotong Royong

Program kebersihan di Kecamatan Medan Helvetia diarahkan untuk menyadarkan masyarakat berperan serta aktif dalam menjaga kebersihan lingkungan/halaman masing-masing, yang dilakukan melalui penyuluhan, spanduk dan brosur.

Gotong royong juga tetap dilakukan secara berkala di setiap lingkungan guna mengantisipasi penyebaran penyakit, banjir dengan membersihkan parit yang tersumbatnya got dan mengadakan penyuluhan tentang pentingnya kebersihan bekerjasama dengan instansi terkait dan Lembaga Swadaya Masyarakat lainnya.

BAB V ANALISI DATA

Dari hasil penelitian yang telah dilakukan di lapangan melalui teknik wawancara mendalam dengan informan.Peneliti berhasil mengumpulkan informan sebanyak 8 informan. Dari wawancara tersebut diperoleh latar belakang, data umum tentang latar belakang informan melalui nama, jenis usaha yang ditekuni, beserta pandangan ataupun pendapat informan mengenai perumusan masalah yang diteliti.

Berdasarkan hasil penelitian melalui wawancara mendalam dan observasi langsung ke lapangan itu juga diperoleh berbagai data-data untuk dapat dianalisi melalui pendekatan kualitatif.Untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas dari data yang telah terkumpul, penulis coba membagi dalam beberapa bagian point-point terkait isu yang ingin diuraikan dengan memasukkan petikan wawancara dari informan serta narasi penulis tentang data-data tersebut.

5.1 Semangat lahirnya Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera Kecamatan Medan Helvetia

Kelahiran program Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera Kecamatan Medan Helvetia yang resmi terbentuk pada 1 Januri 2010, pada dasarnya berawal dari respon para masyarakat pemilik usaha kecil dan beberapa masyarakat yang berkeinginan membuat usaha rumah tangga di Kecamatan Medan Helvetia untuk menjawab persoalan-persoalan yang sangat kompleks didalam hal meningkatkan mutu dan kualitas usaha serta modal usaha. Hal ini tercermin dari

masih banyaknya masyarakat kecil yang kekurangan modal usaha untuk mempertahankan usaha atau meningkatkan usaha yang sudah ada untuk dapat bersaing dengan usaha-usaha yang lebih besar yang memiliki modal lebih besar, baik dalam hal tenaga kerja, hasil produksi serta peralatan yang lebih memadai dan canggih.

Kondisi masyarakat yang khususnya bertempat tinggal didaerah Kecamatan Medan Helvetia yang masi banyak terdapat warga dengan perekonomian dibawah berkecukupan serta memiliki banyak jumlah penduduk karena merupakan daerah padat penduduk dan berada pada usia produktif untuk bekerja. Maka Kartika Eka Sari yang pada saat ini menjadi ketua kelompok UPPKS Kartika, dahulu melakukan pengorganisiran masyarakat sekitar Kecamatan Medan Helvetia yang sebelumnya tidak memiliki pekerjaan tetap dan modal usaha untuk meningkatkan usaha rumahan ataupun yang ingin membuat usaha rumahan. Seperti juga yang disampaikan oleh Kartika Eka Sari ( Ketua Kelompok UPPKS Kartika medan Helvetia ), yaitu :

“Kelompok UPPKS Kartika 5 Maret 2010. Pada awalnya kelompok

ini kita bentuk atas dasar kesulitan ekonomi yang kami rasakan warga

Kecamatan Medan Helvetia Kelurahan Helvetia dalam hal modal usaha,

Maka dengan ada nya program pemerintah melalui Badan

Pemberdayaan Wanita dan Keluarga Berencana Kota Medan yang

disosialisasikan oleh Kecamatan Medan Helvetia mengenai bantuan

modal usaha dengan tidak memiliki bunga pinjaman , dengan itu kami

mendapatkan bantuan modal usaha untuk mengembangkan usaha rumah

tangga yang kami geluti. Kami sepakat mengajak teman-teman kami

untuk gabung dan membentuk pengurus kelompok UPPKS Kartika.”

Atas dasar kesamaan permasalahan dalam mengembangkan usaha atau pun membuat usaha baru dimasyarakat Kecamatan Medan Helvetia, maka membawa tujuan yang sama oleh para masyarakat di Kecamatan Medan Helvetia lainnya untuk membuat kelompok-kelompok UPPKS lainnya . Hal ini menjelaskan bahwa telah terjadi proses pengorganisasian masyarakat atau sering juga disebut dengan

Community Organizing didalam proses terbentuknya kelompok UPPKS Di

Kecamatan Medan Helvetia. Selain itu, tujuan bersama yang lahir tersebut merupakan buah kesadaran baru yang terlahir atas dasar pentingnya memiliki informasi tentang usaha yang digeluti, baik dari cara meningkatkan produksi, tempat pemasaran hasil usaha serta mengetahui alternafif usaha yang lebih menjanjikan hasil yang maksimal.

Berdasarkan kesadaran baru tersebut juga yang membawa beberapa rumah tangga yang tergabung dalam kelompok UPPKS di Kecamatan Medan Helvetia, dengan begitu banyak anggota kelompok UPPKS yang mencoba mengembangkan usaha yang sudah ada ataupun membuat usaha baru dalam rangka meningkat pendapat ekonomi keluarga, seperti apa yang disampaikan oleh Hairina ( Ketua kelompok UPPKS Mawar VI ), yaitu :

“ Sebelum saya bergabung dengan program Usaha Peningkatan

Mawar VI, usaha saya tidak berkembang karena kesulitan modal dan

informasi mengenai cara meningkatkan produksi serta pemasaran yang

lebih menguntungkan . Setelah saya mendapatkan sosialisasi dari

Kecamatan dengan adanya bantuan untuk usaha kecil saya tertarik dan

ingin ikut serta , oleh karena itu saya membentuk kelompok yang

beranggotakan tetangga sekitar lingkungan tempat tinggal saya dengan

harapan mendapat bantuan dari pemerintah. Sekarang saya telah

merasakan manfaat dari program UPPKS dengan majunya usaha yang

saya geluti, demikian juga dengan teman satu kelompok saya juga

merasakan perkembangan yang lebih baik dari sebelum mengikuti

program UPPKS ini”.

5.2 Penerapan Prinsip-Prinsip Community Development (Pengembangan Masyarakat) Dalam Mencapai Tujuan Program Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera

5.2 1 Pemberdayaan Berbasis Kelompok Usaha.

Pada era kekinian, modal merupakan faktor yang sangat menentukan dalam menjalankan suatu usaha serta dibarengi dengan memiliki keterampilan dan pengetahuan dan kekuasaaan yang cukup untuk mempengaruhi kehidupannya dan kehidupan orang lain yang menjadi perhatiannya ( Parson dalam Suharto, 2009:58 ). Sasaran utama pemberdayaan masyarakat adalah masyarakat yang terpinggirkan, termasuk kaum perempuan, demikian pula masyarakat lain yang terabaikan. Hal ini

tidak menutupi kemungkinan bagi orang lain untuk mengikuti kegiatan-kegiatan pemberdayaan. Pemberdayaan masyarakat meningkatkan untuk menganalisis kondisi dan potensi serta masalah-masalah yang perlu diatasi dalam menjalankan suatu usaha. Masyarakat berperan serta dalam proses pengambilan proses keputusan mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan dan sampai tahap penilaian kegiatan yang dikembangkan oleh dan untuk mereka. Seperti apa yang disampaikan oleh Lister Pasaribu ( Kordinator Pendamping Lapangan Keluarga Berencana UPPKS Kecamatan Medan Helvetia ), yaitu :

“Kecamatan Medan Helvetia merupakan kawasan padat penduduk dan

memiliki sumber daya manusia yang berada pada usia produktif untuk

bekerja, oleh karena itu perlu kiranya masyarakat mendapat arahan dan

bantuan dari pemerintah untuk mengembangkat usaha rumah tangga

dalam rangka meningkatkan perekonomian keluarga.Hal ini tentu

kiranya perlu bantuan semua pihak terkait untuk mewujutkan

pengembangan masyarakat yang berorientasi pada peningkatan

perekonomian dengan usaha-usaha yang digeluti masyarakat.

Pemberdayaan masyarakat merupakan pekerjaan yang membutuhkan

waktu, energi dan komitmen serta hasilnya belum tentu memuaskan, oleh

karena itu tidak bisa dalam waktu yang singkat , akan tetapi diperlukan

koordinasi dari pihak yang terlibat aktif dalam proses perdayaan itu

sendiri. Sejauh ini kelompok UPPKS di Kecamatan Helvetia mengalami

mereka yang semangkin baik serta usaha mereka semangkin berkembang

, hal ini tidak lepas dari hasil pantauan dari kami selaku pendamping

mereka yang dengan sabar membimbing dan mendengarkan keluh kesah

yang mereka hadapi dalam meningkatkan usaha mereka, akan tetapi ada

juga anggota dari beberapa kelompok yang usahanya tidak berkembang ,

hal ini disebabkan oleh kesalahan dalam mengelola usaha seperti

menggunakan modal untuk kebutuhan sehari-hari dan tidak memiliki

pandangan yang maju untuk meningkatkan usaha yang digeluti”.

Dasar proses pemberdayaan adalah pengalaman dan pengetahuan tentang keberadaan nya sangat luas dan berguna serta kemauan mereka untuk menjadi lebih baik. Proses pemberdayaan ini bertitik tolak untuk memandirikan masyarakat agar dapat meningkatkan taraf hidupnya, mengoptimalkan sumber daya setempat sebaik mungkin, baik sumber daya alam maupun sumber daya manusia. Melalui proses pemberdayaan masyarakat diharapkan akan dikembangkan lebih jauh pola pikir yang kritis dan sistematis.

Pemberdayaan dalam aspek ekonomi dimaksutkan untuk memperkuat akses dan pengendalian atas pendapatan bagi perempuan, upaya ini perlu dilakukan mengingat akses dan pengendalian atas pendapatan bagi perempuan merupakan hal yang sangat penting.Sebagai ungkapan Friedmannyang dikutip Onny S Priyono (1996:2011) bahwa seseorang yang mendapat gaji memiliki kewenangan, keistimewaan lebih besar dan kebebasan untuk bertindak lebih besar.Pemberdayaan ekonomi bagi kaum perempuan hingga kini masi belum berjalan sesuai dengan yang

diharapkan.Hal ini ada beberapa faktor yang mempengaruhi, pertama, perempuan dalam bekerja sering terganggu karena mengalami masalah kehamilan atau menghadapi keadaan darurat yang menuntut kehadirannya dirumah, misalnya ketika anak-anak sedang sakit.Kedua, banyak pekerjaan yang memprioritaskan laki-laki yang memperoleh bayaran tinggi sehingga perempuan hanya memperoleh bayaran kerja yang lebih rendah.Dapat disimpulkan bahwa perempuan didalam keluarga juga sudah memiliki peran sentral untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga, baik bekerja ataupun membuat usaha sendiri sesuai dengan keahlian yang dimiliki. Seperti apa yang disampaikan oleh Lisbet Sitinjak ( Ketua kelompok UPPKS Sintia Karya Kecamatan Medan Helvetia ), yaitu :

“Kami perempuan juga sudah memiliki tanggungjawab untuk mencari

nafkah agar keluarga dapat terpenuhi kebutuhannya, kami perempuan

dapat membuat usaha rumahan seperti yang saya lakukan bersama

teman-teman satu kelompok saya ini yaitu kami membuka usaha menjahit

dan bordir .kami merasa sangat terbantu dengan adanya bantuan dari

pemerintah melalui program Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga

Sejahtera karena kami dapat mengembangkan usaha kami dan

meningkatkan taraf hidup keluarga anggota kelompok UPPKS Sintia

Karya. Akan tetapi tidak sedikit juga kendala yang kami hadapi dalam

menjalankan usaha menjahit kelompok UPPKS Sintia Karya ini,

diantaranya larangan dari suami-suami para anggota untuk mengikuti

anak-anak dan rumah tangga tidak dapat terurus dengan baik, namun hal

ini tidak mengganggu kinerja kelompok kami karena kami sudah mencari

jalan keluar dengan menentukan jam kerja sehingga tidak mengganggu

aktivitas rumah tangga”

Sejalan dengan Lisbet Sitinjak, apa yang dijelaskan ibu Nursani Saragih ( Pendamping Lapangan Keluarga Berencana Kelurahan Tanjung Gusta), yaitu ibu-ibu yang menjadi anggota kelompok UPPKS Sintia Karya sudah mengalami peningkatan kehidupan, hal ini ditandai dengan membaiknya perekonomian keluarga karena banyaknya pesanan yang diterima kelompok UPPKS Sintia Karya, namun terkadang ada juga saat pesanan sepi, namun mereka tidak merasa khawatir untuk mengembalikan pinjaman, karena keuntungan setiap bulan sudah disisihkan untuk melunasi angsuran pinjaman yang diberikan oleh pemerintah.

Berdasarkan keterangan yang diperoleh dari beberapa informan tentang prinsip pemberdayaan masyarakat yang terdapat dalam pelaksanaan program UPPKS di Kecamatan Medan Helvetia berjalan dengan baik , hal ini ditunjukkan dengan peningkatan perekonomian keluarga para anggota kelompok UPPKS dan berkembangnya usaha yang dijalani oleh para anggota kelompok UPPKS di Kecamatan Medan Helvetia.

5.2.2 Kemandirian Dalam Menjalankan Usaha

Suatu kemandirian adalah salah satu syarat adanya kemerdekaan.Hal tersebut merupakan suatu hal yang dimiliki dari suatu bangsa.Tidak berbeda jauh dengan

konsep pengembangan masyarakat, disini masyarakat diharapkan mampu memanfaatkan dan mengelola setiap aspek yang dimiliki untuk kemajuan usaha dengan berinovasi dan menggabungkan setiap kelebihan yang dimiliki dan menutupi setiap kekurangan yang dihadapi dengan maksut agar dapat menghasilkan usaha yang kuat dan sukses.

Masyarak hendaknya mencoba memanfaatkan secara mandiri terhadap sumber daya yang dimiliki, seperti : keuangan, teknis, sumber daya manusia dan sumber daya alam dari pada menggantungkan diri terhadap bantuan dari luar. Melalui Program Pengembangan Masyarakat diupayakan agar para warga mampu mengidentifikasi dan memanfaatkan sumber daya yang ada dalam masyarakat semaksimal mungkin. Kemandirian masyarakat secara total diera industri tidak akan dapat terwujut tampa adanya kepercayaan diri semaksimal mungkin. Kemandirian ini merupakan arah yang realistis yang perlu diwujutkan.

Kemandirian tumbuh dan berkembang karena ada 2 faktor yang menjadi prasyarat bagi kemandirian, yaitu disiplin dan komitmen terhadap kelompok. Oleh sebab itu individu yang mandiri adalah individu yang berani mengambil keputusan yang dilandasi oleh pemahaman akan segala konsekwensi dari tindakannya sehingga kemandirian merupakan suatu kekuatan internal individu yang diperoleh melalui proses individualisasi yaitu proses realisasi kedirian dan proses menuju kesempurnaan ( Bahara,2008). Seperti juga yang disampaikan oleh Sumina ( Ketua Kelompok UPPKS Loundry 24 hours ), yaitu :

“Program UPPKS ini memang sangat membantu kehidupan kami , hal

ini tidak dapat dipungkiri memiliki peranan yang sangat vital

dikehidupan kami, akan tetapi hal ini dapat terwujud oleh karena jerih

payah kami dalam mengelola dana yang diberikan untuk kemajuan usaha

yang kami jalani, dengan adanya kreaktivitas dari kami dalam

mengembangkan usaha loundry ini mengakibatkan perputaran uang yang

kami dapatkan terus mengalami peningkatan, dengan banyaknya anggota

sehingga setiap cucian dapat terselesaikan dengan tepat waktu sehingga

para pelanggan merasa puas , hal ini juga terbantu dengan sumber daya

alam yang kami miliki yaitu air yang gratis , karena kami menggunakan

pompa air yang kualitas airnya jernih dan bersih . Dalam pembagian

tugas kami juga menerapkan sistem yang sudah disepakati, sehingga

semua anggota memiliki tugas dan peran yang saling melengkapi”

Berdasarkan kutipan diatas, dapat diketahui bahwa tampa kemandirian dari setiap anggota UPPKS dalam mengelola dana pinjaman, usaha yang digeluti tidak akan mengalami peningkatan, justru malah mengalami kemunduran . Jadi dapat dipastikan sangat penting adanya kerja sama oleh setiap anggota kelompok dalam memanfaatkan setiap sumber daya alam maupun sumber daya manusia serta modal yang dimiliki setiap kelompok dengan memiliki peraturan yang jelas serta komitmen yang kuat dari setiap anggotanya. Seperti yang dikatakan oleh ibu Desmi Hutapea , Pendamping Lapangan Keluarga Berancana Kelurahan Helvetia bahwa :

“setiap anggota kelompok UPPKS memiliki tanggung jawab yang

sama terhadap pengelolaan dana bantuan yang diberikan pemerintah,

jadi ketua maupun anggota memiliki tanggung jawab yang sama

mengenai dana pinjaman, bukan berarti bila ada masalah hanya ketua

yang bertanggungjawab, akan tetapi seluruh anggota kelompok harus

melunasi dana pinjaman yang diberikan pemerintah sesuai dengan waktu

yang telah disepakati. Oleh karena itu diharapkan setiap anggota

memiliki peran yang maksimal agar dana yang dikelola dapat

berkembang dan membantu perekonomian seluruh anggota untuk

menjalani kehidupan yang baik dengan tercukupinya kebutuhan hidup

anggota keluarga”.

Ciri-ciri sikap mandiri salah satunya adalah mampu mengambil inisiatif, dalam hal ini diharapkan setiap kelompok mampu mengambil inisiatif untuk kemajuan usaha yang digeluti agar lebih maju lagi dan mampu bersaing dengan usaha-usaha lainnya mengingat ketatnya persaingan dalam dunia usaha yang menuntut setiap pelaku usaha untuk memberikan yang terbaik dibidangnya.Oleh karena itu setiap kelompok dituntut untuk memiliki keterampilan diatas rata-rata agar dapat bersaing dengan pelaku usaha lainnya yang memiliki modal lebih besar dan jumlah tenaga kerja yang lebih banyak. Seperti apa yang disampaikan ibu Kartika Eka Sari ( Ketua Kelompok UPPKS Kartika ) yaitu :

“Produk kami sudah tersebar diberbagai wilayah , baik pusat

dapat dicapai karena produk keripik olahan kami memiliki cita rasa yang

khas, yaitu pedas manis . Produk olahan ini tentunya memiliki resep yang

kami ciptakan sendiri sehingga tidak sama dengan keripik yang ada

dipasaran sehingga kami percaya produk yang kami hasilkan dapat

bertahan dan digemari oleh konsumen”

Berdasarkan pernyataan tersebut dapat diketahui bahwa kelompok UPPKS dapat bersaing dengan pelaku usaha lainnya dalam menjalankan usahanya, setiap anggota mengalami peningkatan taraf hidup menjadi lebih baik dari sebelumnya . Perlu kiranya kemandirian dapat lebih ditonjolkan dalam setiap usaha yang digeluti agar tidak mengalami ketergantungan kepada bantuan saja, tetapi sudah dapat membiayai usaha sendiri agar lebih berkembang lagi tampa harus mendapatkan bantuan.

5.2.3 Proses dan hasil dalam kegiatan Kelompok.

Kesejahteraan keluarga merupakan tujuan dari setiap usaha yang dilakukan, hal ini merupakan hasil yang ingin dicapai oleh setiap individu dalam menjalankan suatu usaha. Tentunya memiliki proses yang diharapkan berjalan sesuai dengan rencana , hal ini tentunya harus memiliki persiapan dan komitmen dalam menjalankannya. Oleh sebab itu proses yang digunakan untuk mencapai tujuan dalam hal ini hasil harus menyesuaikan dengan pengharapan dari hasil yang berkenaan dengan isu kesinambungan, keadilan sosial dan lain-lain. Jika pengembangan masyarakat bisa menggunakan proses yang didalamnya mencerminkan cita-cita ini,

maka lebih memungkinkan untuk dapat mewujudkan hasil yang lebih berjangka panjang.

Dengan demikian proses pekerjaan masyarakat selalu membutuhkan penelitian secara lebih dekat untuk menjamin bahwa integritas proses tetap terpelihara, mereka perlu menjadi subjek yang menekankan prinsip-prinsip keadilan sosial dan lingkungan. Penelitian tentu berarti pengalaman yang berulang-ulang tentang usaha yang digeluti, harus pandai membaca pasar dan permintaan pasar agar tidak mengalami kerugian. Hal sesuai dengan penyataan ibu Lister Pasaribu ( Kordinator Pendamping Lapangan Keluarga Berencana Kecamatan Medan Helvetia ), yaitu :

“Dalam Menjalankan Usaha, setiap kelompok diharapkan mampu

menghasilkan produk atau jasa yang dapat bersaing dipasaran, karena

tingkat kepuasan konsumen selalu meningkat dan tidak pernah

mengalami kepuasan, oleh karena itu para pelaku usaha dalam hal ini

kelompok UPPKS diharapkan mampu meningkatkan setiap kinerjanya

agar dapat menghasilkan kepuasan konsumen yang secara langsung

dapat meningkatkan perekonomian setiap anggota kelompok., dalam

menjalankan usahanya kami selaku pendamping terus mengawasi usaha

setiap kelompok UPPKS agar hasil yang mereka capai semangkin baik

dari bulan ke bulan dan kendala-kendala yang mereka hadapi dapat kami

hasil yang dicapai oleh setiap kelompok UPPKS di Kecamatan Medan

Helvetia”.

Begitu juga yang disampaikan oleh ibu Hairina ( Ketua Kelompok UPPKS Mawar VI ), yaitu :

“Dalam Setiap permasalahan yang dihadapi oleh kelompok usaha , semua

anggota dimintai pendapatnya, jadi tidak hanya ketua yang mengambil keputusan,

proses ini menggunakan musyawarah dalam mencari setiap solusi dari

permasalahan yang dihadapati oleh kelompok usaha, diharapkan dengan

Dokumen terkait