PERSYARATAN PENANAMAN MODAL YANG
D. Penerapan Prinsip TRIMs di Perusahaan Multinasional (MNC)
142 Sayidin Abdullah, “Politik Hukum Penanaman Modal Asing Setelah Berlakunya Undang-Undang Penanaman Modal Nomor 25 Tahun 2007 dan Implikasinya terhadap Pengusaha Kecil” https:// sayidin abdullah. wordpress.com/2015/01 /06/ politik- hukum- penanaman- modal-asing- setelah- berlakunya- undang- undang penanaman- modal - nomor- 25- tahun - 2007- dan – implikasinya – terhadap -pengusaha- kecil/ diakses pada tanggal 10 Februari 20018 pukul 21:40.
Perusahaan Multinasional adalah suatu perusahaan yang berbadan hukum yang mempunyai tempat kedudukan atau kantor pusat di lebih dari satu negara penerima modal (host countries) yang menerima penanaman modal asing.
Perusahaan multinasional dapat dikatakan juga sebagai suatu perusahaan yang memiliki, mengawasi dan mengatur aktivitas-aktivitas tersebut seperti aktivitas produksi dan jasa yang melewati batas nasional dilakukan dan dibiayai dengan penanaman modal asing langsung (foreign direct investment).
Perusahaan multinasional dan penanaman modal asing merupakan sesuatu hal yang berbeda, tetapi keduanya mempunyai kaitan satu sama lain. Penanaman modal tumbuh dan berkembang dalam kepentingannya, sedangkan perusahaan penanaman modal asing tumbuh dan berkembang dalam jumlah. Perusahaan multinasional dan penanaman modal asing mempunyai cara kerja yang sama, yaitu beroperasi secara berpindah-pindah dalam mengantisipasi dan mengejar peluang yang menguntungkan mereka. Anak-anak perusahaan yang dibentuk di berbagai negara merupakan akhir produk dari penanaman modal asing dan merupakan tangan operasional dari perusahaan multinasional. 143 Proses dari penanaman modal asing dan pelaksanaannya oleh perusahaan multinasional telah mulai dikembangkan langkah-langkah secara politis sejak tahun 1970-an. Perusahaan multinasional telah mendominasi sistem ekonomi internasional seperti penguasaan produksi, teknologi, pembiayaan, perdagangan dan energi serta bahan baku. Kekuasaan dan kuatnya pembiayaan perusahaan multinasional, menjadikan perusahaan multinasional mampu menjadi perusahaan internasional yang besar yang mempunyai anak-anak perusahaan, cabang-cabang
143 An An Chandrawulan, Op Cit hlm 202
di beberapa atau banyak negara yang secara langsung melibatkan penanaman modal asing ( Foreign Direct Investment ). 144 Penataan persyaratan penanaman modal dalam bentuk kesepakatan multilateral baru terwujud dalam Putaran Uruguay, meskipun sebenarnta wacana tentang persyaratan yang demikian dalam pertemuan-pertemuan GATT sudah disinggung sejak awal masa terbentuknya GATT. 145MNC sangat menginginkan akses pasar yang lebih luas dan bebas ke pasar-pasar negara berkembang.
Keinginan ini sebenarnya dari MNC‟s tidak saja terbatas pada pelarangan tindakan penanaman modal yang terkait perdagangan, akan tetapi jauh menginginkan adanya kepastian kebebasan penanaman moda melalui mekanisme pelarangan umum terhadap setiap bentuk tindakan-tindakan yang dapat menghambat kegiatan dan ruang gerak penanaman modal asing di wilayah
negara-negara berkembang. 146
Perjanjian multilateral yang berkaitan dengan penanaman modal telah tercermin dalam Havana Charter 1948 yang pada awalnya akan membentuk suatu organisasi perdagangan internasional sebagai bagian dari tata ekonomi multilateral setelah perang dunia kedua. Dalam perkembangannya, perjanjian multilateral di bidang penanaman modal asing dan perdagangan internasional dilakukan oleh berbagai organisasi internasional (multilateral) seperti OECD, Bank Dunia dan terakhir dalam kesepakatan Perjanjian WTO yaitu Trade Related
Investment Measures. 147
144 Ibid hlm 204
145 Mahmul Siregar, Op Cit hlm 63 146 Ibid hlm 64
147 An An Chandrawulan, Op Cit, hlm 237
Perusahaan multinasional merupakan suatu bentuk asosiasi perusahaan bisnis yang paling banyak dibicarakan dalam rangka globalisasi dunia dan ekonomi. Peran globalisasi sebagai ideologi dan perkembangan kebijakan peraturan sangat terkait dengan perusahaan multinasional. Pendekatan dari aspek hukum terhadap perusahaan multinasional (MNCs) melihat MNC ini sebagai suatu perusahaan yang menciptakan beberapa nasionalitas yang mendistribusikan atau membagikan kepemilikan saham dari perusahaan tersebut di antara pemilik-pemilik saham yang kewarganegaraannya berbeda. 148 Terdapat beberapa karakteristik penting dari perusahaan multinasional yang berkaitan dengan penanaman modal internasional yang harus diterapkan oleh negara-negara tempat modal mereka ditanam, yaitu perusahaan multinasional mempunyai hak untuk mengembangkan perusahaannya untuk menanamkan modalnya di mana saja di seluruh dunia. Perusahaan multinasional juga mempunyai hak atas penerapan prinsip non diskriminasi yang artinya bahwa negara-negara tempat perusahaan multinasional beroperasi tidak boleh membedakan perlakuannya terhadap perusahaan-perusahaan yang datang dari negara yang berbeda.
Ketentuan ini harus diterapkan dalam kebijakan pemerintah dalam memperlakukan penanaman modal asing langsung dan harus bersifat terbuka (transparan). Persyaratan diatas sesuai dengan prinsip-prinsip yang termuat dalam perjanjian WTO (yang dapaat ditemukan dalam Pasal I dan Pasal III). 149 Perusahaan multinasional, pada dasarnya bukanlah subjek hukum internasional
148 Ibid, hlm 345 149 Ibid hlm 349
tetapi walaupun tidak berstatus sebagai subjek hukum internasional, berdasarkan sejarahnya perusahaan multinasional dan modal yang ditanamnya di wilayah negara lain, tunduk pada pengaturan hukum internasional.
Dalam hal ini, hukum internasional hanya mengatur dan meletakkan hak-hak dan kewajiban-kewajiban negara termasuk hak-hak dan kewajiban negara
terhadap penanam modal asing. 150
Menurut Kammingga, kemungkinan perusahaan-perusahaan multinasional bertanggung-jawab berdasarkan hukum internasional dapat terjadi karena selama ini perusahaan-perusahaan multinasional selalu melindungi kepentingan mereka melalui perjanjian internasional. Perjanjian-perjanjian tersebut misalnya instrumen perjanjian di bawah rezim Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), dan berbagai Perjanjian Penanaman Modal Bilateral (Bilateral Investment Treaties) antara negara-negara pemilik modal terhadap perusahaan multinasional. 151 Perusahaan-perusahaan multinasional ini tidak hanya kaya tetatpi secara politik juga begitu berkuasa. Apabila suatu negara memutuskan untuk mengenakan pajak atau membuat peraturan yang merugikan perusahaan multinasional, mereka akan mengancam dan memindahkan perusahaan-perusahaannya kenegara lain.152 Banyak negara berkembang lain yang akan menyambut kedatangan perusahaan-perusahaan multinasional dengan mengenakan pajak yang rendah, perizinan penanaman modal yang mudah dan tenaga kerja yang melimpah.
Sebenarnya, globalisasi dijalankan oleh suatu kekuasaan yang sang
150 Ibid hlm 352 151 Ibid hlm 353 152 Ibid hlm 355
berpengaruh besar dalam perubahan ekonomi dan perdagangan yaitu suatu perusahaan internasional yang dinamakan dengan perusahaan-perusahaan multinasional yang tidak hanya memindahkan modal dan barang-barang dari suatu negara ke negara lain tetapi juga memindahkan teknologi. Perusahaan multinasional berpengaruh sangat besar terhadap liberalisasi ketentuan-ketentuan perdagangan internasional khususnya yang terdapat dalam perjanjian Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), seperti the General Agreement on Tarrifs and Trade, the General Agreement on Trade in Services (GATS), Trade Related Aspects of Intellectual Property Rights (TRIPs), Trade Related Investment Measures
(TRIMs) dan lain-lain. 153
Pertumbuhan perusahaan multinasional di Indonesia dan dampaknya terhadap produktivitas dalam perkembangan industri atau pabrikan telah dimulai pada awal tahun 1990-an dan terus berkembang hingga Indonesia mengalami krisis moneter. Bahkan, setelah krisis moneter perusahaan multinasional ini jumlahnya semakin meningkat melalui pendirian anak-anak perusahaan atau pendirian cabang atau dengan melakukan usaha patungan dengan perusahaan swasta nasional maupun dengan badan usaha milik negara. 154 Keberadaan perusahaan multinasional di Indonesia juga meningkatkan lapangan pekerjaan. Produktivitas tenaga kerja banyak dibutuhkan terutama oleh perusahaan-perusahaan multinasional yang beroperasi pada industri berat dengan kepemilikan saham mayoritas pada perusahaan atau pabrik tersebut. Adapun kepemilikan perusahaan-perusahaan multinasionl di Indonesia selain dengan
153 Ibid hlm 356 154 Ibid hlm 366
kepemilikan 100% juga banyak yang mempunyai kepemilikan mayoritas sekitar 90%-100%, 50%-89%. 155 Bagi Indonesia dampak positif keberadaan perusahaan multinasional pada peningkatan standar kehidupan masyarakat terutama yang bekerja pada pabrik-pabrik yang dimiliki oleh perusahaan multinasional karena perusahaan itu akan cenderung membayar upah yang tinggi bagi tenaga kerja.
155 Ibid hlm 367
BAB IV
TRIMS DALAM UNDANG-UNDANG NOMOR 25 TAHUN 2007