PENGATURAN PERSYARATAN PENANAMAN MODAL YANG TERKAIT DENGAN PERDA GANGAN (TRADE RELATED
A. Trade Related Investment Measures (TRIMs) dalam Perdagangan Internasional Internasional
a. Sejarah Trade Related Investment Measures
Dalam perkembangan awalnya, penanaman modal asing secara langsung mulai tampak di masa penjajahan (kolonialisme). Penanaman modal pada waktu itu berlangsung dalam bentuk pergerakan manusia (investor) bersama modalnya dari Eropa ke negara-negara di Asia, Afrika dan Amerika Selatan. Umumnya modal yang ditanamkan tersebut ditujukan untuk mengeksploitasi kekayaan melimpah di negara-negara tersebut. 29 Dalam masa ini terjadi suatu masa baru di mana para investor dan pemerintah negara-negara baru tersebut membuat kesepakatan-kesepakatan mengenai penanaman modal yang tertuang di dalam suatu perjanjian. Dalam hal ini, para investor asing mulai berupaya mencari
29 Huala Adolf, Perjanjian Penanaman Modal dalam Hukum Perdagangan Internasional (WTO), ( Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2004) hlm 22
aturan-aturan yang mengatur penanaman modal asing di tingkat bilatera, regional, dan internasional.
Upaya pertama di dalam menerapkan aturan hukum internasional bagi penanaman modal asing terjadi sebelum Perang Dunia II. Pada masa itu Amerika Serikat dan beberapa negara Eropa menetapkan standar-standar internasional untuk perlindungan penanaman modal asing. Negara-negara maju tersebut berpendapat bahwa pengaturan-pengaturan seperti ini harus ditaati oleh semua negara. Mereka menyebut pengaturan-pengaturan tersebut sebagai standar minimum yang harus diterapkan secara internasional (international minimum standard). Standar-standar perlakuan tersebut juga dimasukkan di dalam perjanjian-perjanjian di bidang perdagangan. 30 Standar nasional ini diikuti, antara lain oleh Indonesia selama tahu 1960-an di dalam sengketa nasionalisasi perusahaan-perusahaan perkebunan Belanda di Sumatera. Dalam sengketa ini pemerintah Indonesia menyandarkan pada hukum nasionalnya untuk membayar
ganti rugi kepada pemerintah Belanda. 31
Isu penanaman modal mendapat suatu tempat khusus dan serius dalam agenda suatu konferensi internasional terjadi ketika masyarakat internasional menandatangani the Final Act of the Havana Charter for International Trade Organization. Final Act (Piagam Havana) ini mengatur di dalamnya upaya penggalakan aliran modal internasional untuk penanaman modal yang produktif di antara tujuan dari The International Trade Organization (ITO) (Article 1:2).
Piagam Havana tidak meletakkan persyaratan terhadap negara-negara anggotanya
30 Ibid, hlm 23 31 Ibid, hlm 25
untuk mempraktikkan perlakuan nondiskriminatif atau perlakuan nasioal terhadap PMA.32 Para negara anggota berpendapat bahwa perlu adanya peraturan yang khusus untuk mengatur masalah penanaman modal. Pandangan ini kemudian melahirkan suatu bentuk perjanjian yang baru yang khusus di bidang penanaman modal yaitu perjanjian penanaman modal bilateral ( The Bilateral Investment Treaty atau BIT).
Dalam perkembangannya, negara-negara telah menggunakan perjanjian seperti BIT ini sebagai salah satu upaya untuk mengadakan perjanjian dengan negara lainnya.33 Upaya negara sedang berkembang untuk merumuskan kepentingan dan kebutuhan mereka untuk meningkatkan pembangunannya melalui PMA dilakukan antara lain melalui PBB. Hasil yang cukup penting dari upaya ini adalah dikeluarkannya resolusi Majelis Umum PBB mengenai the Permanent Sovereignty over Natural Resources pada tahun 1962. Resolusi pertama (the Permanent Sovereignty Resolution) mengakui hak setiap negara untuk secara bebas memanfaatkan kekayaan alamya sesuai dengan kepentingan nasionalnya.34 Namun aturan ini ditentang oleh negara maju dan dianggap tidak memiliki kekuatan hukum tetap.
Sejarah pembentukan perjanjian-perjanjian internasional penting dalam hukum internasional. Hal tersebut menunjukkan bahwa tanpa danya dukungan dari negara maju perjanjian tersebut akan sangat sulit untuk dapat berlaku. Sejalan dengan itu, keengganan negara-negara sedang berkembang secara umum untuk mengatur masalah ini berdasarkan GATT merupakan alasan lainnya mengapa
32 Ibid, hlm 27 33 Ibid, hlm 30 34 Ibid, hlm 32
pengaturan penanaman modal khusus-nya TRIMs juga lambat untuk
berkembang. 35
Peranan Bank Dunia di dalam mengembangkan aturan-aturan internasional mengenai penanaman modal juga cukup besar. Perjanjian multilateral pertama yang berhasil dibuat adalah the Convention on the Establishment of an International Centre for the Settlement of Investment Disputes between States and Nationals of Other States (ICSID) yang mengatur prosedur penyelesaian sengketa penanaman modal. Perjanjian multilateral kedua yang dibuat oleh Bank Dunia adalah the Convention Establishing the Multilateral Investment Guarantee Agency (MIGA). Tujuan utama MIGA adalah untuk memberikan jaminan kepada investor terhadap resiko nonekonomis khususnya di negara sedang berkembang. 36 Pembahasan lebih lanjut mengenai peraturan multilateral mengenai penanaman modal dilakukan kembali setelah dirampungkannya putaran (perundingan) Tokyo
tahun 1979. 37
Kemajuan penting mengenai upaya pengaturan penanaman modal di dalam kerangka GATT terjadi di tahun 1982. Waktu itu timbul sengketa antara Amerika Serikat dan Canada mengenai keabsahan UU PMA Kanada yang terkenal bernama the Administration of the Foreign Investment Review Act (FIRA). Sebelum UU ini disahkan, Amerika Serikat menikmati kebebasan berusaha dalam bentuk penanaman modal di Kanada tanpa adanya syarat-syarat yang membebaninya. Namun di tahun 1973, Kanada mengundangkan FIRA yang menyaratkan para investor asing untuk membeli barang-barang atau produk
35 Ibid, hlm 34 36 Ibid, hlm 36 37 Ibid, hlm 40
Kanada dibandingkan dengan produk impor dari negara lain. Amerika Serikat yang terkena banyak dampak oleh UU ini, menganggap bahwa FIRA melanggar Pasal III:4, III:5, XI dan XVI:1 (c) GATT.
Sebelum GATT menangani kasus ini, negara-negara sedang berkembang yang diwakili oleh Argentina sempa mempermasalahkan yurisdiksi atau kewenangan GATT untuk mengadili sengketa penanaman modal. Negara sedang berkembang berpendapat GATT tidak memiliki yurisdiksi untuk menangani sengketa mengenai perundingan PMA.38 Meskipun ada keberatan Dewan GATT (GATT Council) ternyata memberi lampu hijau kepada panel GATT untuk memeriksa kasus tersebut. Panel GATT memutuskan, upaya atau persyaratan untuk membeli produk-produk asli Kanada dibandingkan dengan produk impor dari negara lain secara jelas menunjukkan bahwa Kanada telah memberikan perlakuan yang lebih „favourable‟ (menguntungkan) daripada yang diberikan kepada produk-produk sejenis dari negara lainnya. Panel juga menyatakan bahwa kebijakan PMA Kanada yang termuat dalam FIRA adalah bertentangan dengan Pasal III.4 GATT. Pasal III.4 menyatakan bahwa produk-produk impor harus diberikan perlakuan yang tidak boleh kurang daripada perlakuan yang diberikan kepada produk yang sa,a dalam hubungannya dengan persyaratan-persyaratan yang memengaruhi jual beli, penawaran, pembelian, pengangkutan, distribusi atau penggunaannya secara lintas batas (internasional). 39
Panel berpendapat, upaya-upaya yang menyaratkan agar membeli produk Kanada tidak mencegah masuknya produk-produk impor, dan
38 Ibid, hlm 41 39 Ibid, hlm 42
persyaratan yang dikenakan oleh Kanada bahwa investor harus membuat pernyataan secara tertulis bahwa mereka akan mengekspor produksinya dalam jumlah tertent. Dan karenanya tidak bertentangan dengan pasal XI:1 GATT
mengenai larangan restriktif kuantitatif. 40 Putusan Dewan GATT yang merestui panel untuk melanjutkan penyelidikannya dalam menangani kasus ini merupakan terobosan hukum dan langkah inovatif Panel. Namun, persetujuan Dewan GATT tersebut dianggap agak berlebihan. Pokok sengketa dalam kasus ini bukanlah masalah perdagangan atau sengketa mengenai tarif, suatu wilayah yurisdiksi GATT. Jelas bahwa pokok sengketa sebenarnya adalah penanaman modal. Oleh karena itu sangatlah sulit untuk diterima bahwa GATT sebagai suatu organisasi internasional yang mengatur masalah perdagangan dan tarif harus menangani masalah atau sengketa penanaman modal.
Fakta bahwa terdapat banyak negara yang mempraktikkan TRIMs yang memiliki pengaruh langsung dengan perdagangan telah menjadi pendorong penting bagi Amerika Serikat untuk memasukkan masalah TRIMs ini ke dalam agenda perundingan GATT di Uruguay Round. 41 Tampak bahwa pembentukan aturan-aturan multilateral di bidang ini masih jauh dari kenyataan. Alasan utamanya, adanya pandangan yang berbeda antara negara maju dengan negara sedang berkembang sehubungan dengan tetap adanya dua kepentingan yang
berbeda mengeni penanaman modal. 42
Perkara lain yang berkaitan dengan hambatan perdagangan multiateral adalah perkara “screwdriver case” antara Jepang dengan European Communities
40 Ibid, hlm 43 41 Ibid, hlm 44 42 Ibid, hlm 46
(EC) pada tahun 1988. Dalam perkara ini Pemerintah Jepang keberatan atas tindakan Pemerintah EC yang menerapkan bea anti dumping terhadap produk dari suatu pabrik screwdriver asal Jepang. Keberatan yang paling mendasar bagi Pemerintah Jepang adalah kebijakan tersebut telah menimbulkan kerugian bagi perdagangan Jepang karena kewajiban bea anti dumping tersebut tidak dapat diterapkan bagi investor asing di EC asalkan investor yang bersangkutan setuju untuk membatasi penggunaan peralatan-peralatan dan komponen perlatan yang berasal dari Jepang. 43 Panel dalam perkara “screwdriver case” ini juga menetapkan bahwa kebijakan EC bertentangan dengan Article III.4 GATT tentang perlakuan sama (national treatment). Meskipun dalam perkara ini tindakan investor untuk membatasi penggunaan barang-barang buatan Jepang merupakan suatu tindakan sukarela (tidak diwajibkan), akan tetapi disediakannya sejumlah keuntungan besar dari pembebasan bea anti dumping dapat mendorong para investor untuk menyetujui kebijakan yang ditetapkan EC.
Dalam perkara ini, insentif yang ditawarkan EC bagi para investor berupa pembebasan bea anti dumping sangat tergantung pada kesediaan investor untuk tidak menggunakan produk impor (buatan Jepang). Dengan kata lain keuntungan EC untuk menarik investor diperoleh dari kerugian Jepang berupa pembatasan impor komponen-komponen asal Jepang. Dengan itu, Panel menemukan adanya pelanggaran terhadap Article III.4 GATT. Meskipun EC tidak mewajibkan harus menggunakan produk buatan mereka tetapi dalam hal ini EC telah memberikan
43 Mahmul Siregar, Perdagangan dan Penanaman Modal: Tinjauan terhadap Kesiapan Hukum di Indonesia dalam Menghadapi Persetujuan Perdagangan Multilateral yang Terkait dengan Peraturan Penanaman Modal (Medan: Universitas Sumatera Utara Sekolah Pascasarjana, 2005) hlm 48
tindakan diskriminatif terhadap produk-produk buatan Jepang. Tindakan yang demikian secara meyakinkan bertentangan dengan kewajiban EC untuk menerapkan perlakuan sama (national treatment) terhadap barang-barang impor
tanpa harus memandang asal negara. 44
Upaya lama Amerika Serikat untuk menempatkan isu atau agenda penanaman modal dalam GATT cukup berhasil ketika perundingan putaran Uruguay diluncurkan. Namun demikian konflik antara negara maju dan negara sedang berkembang kembali berlangsung selama perundingan GATT Uruguay mengenai masalah TRIMs ini. Konflik utama yang terjadi adalah adanya perbedaan pandangan di antara dua kelompok negara ini mengenai sifat TRIMs.
Beberapa negara maju beranggapan, TRIMs bertentangan dengan berbagai aturan atau pasal GATT. Sedangkan negara sedang berkembang pada umumnya berpendapat, upaya-upaya penanaman modal atau TRIMs bukan atau tidak dibuat untuk merintangi perdagangan. Upaya penanaman modal ini semata-mata ditujukan untuk memenuhi tujuan pembangunan negara (sedang berkembang) termasuk untuk tujuan industrialisasi dan pembangunan. 45 Perundingan sejak awal berjalan lambat. Hal ini memang dapat dipahami mengingat pada waktu itu belum pernah ada pembahasan mengenai hal ini.
Selama proses perundingan, pandangan bahwa TRIMs tidak diciptakan untuk menganggu perdagangan masih mendominasi perundingan. Para perunding percaya, TRIMs dibuat sebagai suatu kebijakan yang sah guna memenuhi
44 Ibid, hlm 49
45 Huala Adolf, Op Cit hlm 86
pembangunan suatu negara seperti industrialisai atau pembangunan.46 Pada tahun 1988, beberapa negara anggota GATT mengemukakan proposalnya. Amerika Serikat misalnya, mengusulkan agar beberapa prinsip aturan GATT, seperti prinsip nondiskriminasi, prinsip transparansi dan penyelesaian sengketa dapat diterapkan terhadap TRIMs. Amerika Serikat mengusulkan perlunya tambahan aturan-aturan GATT supaya upaya-upaya penanaman modal TRIMs yang dapat merugikan perdagangan dapat dicegah. Negara sedang berkembang menentang usulan di atas. Mereka berpendapat bahwa negosiasi harus dibatasi hanya kepada TRIMs. Negara ini juga dengan tepat menyatakan bahwa aturan mengenai perlakuan yang lebih menguntungkan dan berbeda bagi negara sedang berkembang perlu dicantumkan.
Selama pembahasan di sepanjang tahun 1989, usulan-usulan kembali diserahkan oleh berbagai negara peserta. Swiss dan Jepang misalnya mengusulkan beberapa prinsip yang mempertimbangkan dmpak-dampak dari perdagangan yang restriktif terhadap upaya-upaya penanaman modal. 47 Masyarakat Eropa (EC) dan negara-negara Skandinavia beranggapan, perundingan selayaknya tidak menyinggung hal-hal yang mengganggu kebijakan penanaman modal nasional.
EC memisahkan masalah penanaman modal langsung (foreign direct investment) dan masalah mengenai upaya-upaya penanaman modal yang terkait dengan perdagangan. 48 Usulan negara sedang berkembang yang disponsori oleh India dan Brazil berpendapat tujuan dari negosiasi adalah mengklarifikasi pasal-pasal GATT dan membuat aturan pasal baru apabila memang diperlukan.
46 Ibid, hlm 90 47 Ibid, hlm 92
48 Ibid, hlm 95
negara berkembang juga menekankan perlunya perlakuan yang berbeda dan lebih menguntungkan kepada mereka. 49 Selain itu beberapa negara berkembang juga berpendapat bahwa posisi beberapa negara maju tidak mempertimbangkan faktor pembangunan di dalam membahas TRIMs. Negara sedang berkembang berpendapat bahwa negosiasi TRIMs tidak boleh terlepas dari aturan-aturan atau
pasal-pasal GATT. 50
Negara-negara maju menanggapi pendapat atau seruan negara berkembang di atas dengan positif. Namun mereka kemudian menyatakan bahwa perlu dibuat aturan-aturan lebih lanjut guna menghindari adanya dampak-dampak yang merugikan terhadap perdagangan.51 Meskipun terdapat pandangan yang berbeda antara negara maju dan sedang berkembang terdapat sedikitnya pandangan yang sama. Kedua kelompok negara sepakat bahwa terdapat dua bentuk TRIMs yaitu persyaratan kandungan lokal (local content requirement) dan persyaratan pelaksanaan (performance requirement), yang memengaruhi perdagangan dan kedua bentuk TRIMs ini layak untuk dibahas lebih lanjut (legitimate subjects for discussion). Mengingat terdapat perbedaan kepentingan yang tajam antara negara maju dan negara sedang berkembang serta tuga dari perundingan ini yang cukup sulit, hasil dari perundingan Uruguay sebagaimana tercantum dalam perjanjian TRIMs, masih jauh dari komprehensif. 52
b. Pengertian dan bentuk - bentuk Trade Related Investment Meaures
49 Ibid, hlm 97
50 Ibid, hlm 98
51 Ibid, hlm 99 52 Ibid, hlm 103-104
TRIMs adalah suatu kesepakatan sebagai rangkaian dari kesepakatan GATT 1994/WTO yang dicapai pada putaran GATT di Marakesh bulan Februari 1994. Yang merupakan singkatan TRIMs yaitu Agreement on Trade Related of Investment (perjanjian tentang tindakan-tindakan investasi yang berhubungan dengan perdagangan). Latar belakang pembentukan TRIMs ini adalah untuk mengembangkan secepat mungkin ketentuan-ketentuan lebih lanjut yang penting untuk mencegah efek pengaruh terhadap perdagangan bebas yang disetujui dalam pasal-pasal GATT 1994. Di samping itu, pembentukan TRIMs dimaksudkan juga untuk meningkatkan eksvansi dan liberalisasi perdagangan dunia yang progresif dan untuk mempermudah investasi menembus batas-batas persaingan internasional. Sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi seluruh mitra dagang, terutama para anggota negara sedang berkembang sembari menjamin
persaingan bebas. 53
Agreement on TRIMs atau persetujuan tentang perdagangan yang terkait dengan Peraturan Penanaman Modal adalah kesepakatan hasil Putaran Uruguay yang mengatur tentang berbagai tindakan di bidang penanaman modal yang berkaitan dengan masalah perdagangan, dalam arti bahwa tindakan tersebut dapat mempengaruhi kebebasan arus perdagangan barang. 54 Bahwa Agreement on TRIMs tidak ditujukan terhadap semua bentuk tindakan di bidang penanaman modal. Perjanjian ini hanya ditujukan bagi tindakan-tindakan di bidang penanaman modal yang terkait dan potensial mengganggu pasar perdagangan
53 Sutiarnoto, Op Cit hlm 43
54 Mahmul Siregar, Op Cit hlm 29
barang-barang. 55 Agreement on Trade Related Investment Measures mengupayakan terciptanya kelancaran perdagangan internasional melalui pengaturan sejumlah performance requirement dalam persyaratan penanaman modal yang bertentangan dengan peraturan perdagangan internasional.56
Bentuk-bentuk Trade Related Investment Measures:
Agreement on TRIMs pada Article 2 pada prinsipnya melarang semua persyaratan penanaman modal yang tidak konsisten dengan Article III GATT 1994 tentang national treatment, namun tidak dijelaskan secara tegas bentuk-bentuk persyaratan penanaman modal yang dipandang konsisten dengan prinsip national treatment. Hanya saja dalam Article 2.2 Agreement on TRIMs disebutkan bahwa persyaratan penanaman modal yang dilarang adalah tindakan-tindakan yang melanggar kewajiban negara-negara peserta berdasarkan Article III.4 GATT 1994 yaitu keharusan untuk memberikan perlakuan sama terhadap produk impor.
Oleh karena itu diperolehnya suatu kesepakatan tentang bentuk yang pasti dari persyaratan penanaman modal yang dianggap tidak konsisten dengan Article III.4 GATT 1994, Dirjen GATT memberikan illustrative list yang berisi gambaran tentang tindakan persyaratan penanaman modal yang dilarang tersebut, sebagai berikut:
a. Local Content Requirement
Pembelian atau penggunaan produk-produk yag berasal dari dalam negeri atau dari sumber dalam negeri lainnya dirinci menurut produk-produk
55 Ibid hlm 16
56 Hendrik Budi Untung, Hukum Investasi, (Jakarta: Sinar Grafika, 2010), hlm 117
tertentu, volume atau nilai barang produk atau menurut perbandingan dari volume atau nilai produksi lokal. 57
Ad.a. Persyaratan Kandungan Lokal
Paragraf 1.a illustrative list dari Agreement on TRIMs melarang negara-negara anggota WTO menerapkan kebijakan local content requirement yang dijadikan sebagai salah satu syarat bagi investor untuk dapat melakukan kegiatan penanaman modal. Dalam ketentuan Paragraf 1.a tersebut terdapat dua bentuk kegiatan yang dapat dikategorikan sebagai local content requirement yaitu mewajibkan investor membeli atau menggunakan produk-produk buatan dalam negeri dalam jumlah atau presentase tertentu atau keharusan bagi investor untuk menggunakan sumber-sumber dalam negeri lainnya dalam hal pengadaan barang-barang impor. Local content requirement dilarang karena tindakan tersebut merupakan bentuk perlakuan diskriminatif terhadap barang impor.
Melalui persyaratan kandungan lokal sebenarnya Pemerintah host country telah membatasi akses pasarnya bagi barang-barang yang sama dari negara-negara anggota lain. Pelanggaran terhadap prinsip national treatment. 58 Yang dilanggar ialah pasal 2 TRIMs. Yaitu pasal yang merupakan penegasan kembali prinsip-prinsip pokok yaitu National Treatment dan larangan penggunaan restriksi kuantitatif.
b. Trade Balancing Policy
Pembelian atau penggunaan produk impor oleh perusahaan dibatasi
57 Mahmul Siregar, Op Cit hlm 76 58 Ibid, hlm 77
sampai jumlah tertentu dikaitkan dengan volume atau nilai produksi lokal yang diekspor. 59
Ad. b. Kebijakan Keseimbangan Perdagangan
Kebijakan trade balancing dilarang berdasarkan Paragraf 1(b) Agreement on TRIMs. Suatu tindakan dikategorikan sebagai trade balancing policy dalam perspektif Agreement on TRIMs apabila dalam kegiatan penanaman modal negara tuan rumah mempersyaratkan pembatasan pembelian atau penggunaan produk impor sampai jumlah tertentu yang dikaitkan dengan volume atau nilai produk lokal yang diekspor oleh perusahaan penanaman modal asing. 60Ada dua unsur penting dalam kebijakan trade balancing, berdasarkan Paragraf 1 (b) ilustrative list dari Agreement on TRIMs, yakni: A. penggunaan atau pembelian barang impor oleh perusahaan penanaman modal asing hanya dibenarkan jika perusahaan tersebut telah melakukan impor produk yang menggunakan produk buatan dalam negeri. B. jumlah barangimpor yang boleh dipergunakan oleh perusahaan penanaman modal asing terbatas sampai jumlah tertentu, pembatasan mana ditetapkan berdasarkan volume atau nilai produk lokal yang telah diekspor oleh perusahaan penanaman modal asing yang bersangkutan.
Perusahaan penanaman modal asing hanya dibenarkan membeli barang impor yang sudah berada di pasar domestik negara host country. Dalam kebijakan yang demikian terdapat tindakan diskriminasi terhadap barang impor oleh pemerintah host country. Oleh karena itu trade balancing policy dilarang karena
59 Ibid, hlm 77
60 Ibid, hlm 84
bertentangan dengan Article III.4 GATT 1994.61 Dalam trade balancing policy unsur yang harus dipenuhi untuk dapat dikatakan melanggar Article III.4 GATT adalah hanya apabila barang-barang impor sudah berada di dalam pasar domestik negara host country. Karena jika barang impor belum berada di pasar domestik negara host country maka pelanggaran yang terjadi lebih tertuju pada Article XI GATT 1994 tentang general prohibition on quatitative restriction. 62 Praktek pembatasan kuantitatif dilarang dalam Agreement on TRIMs apabila pembatasan kuantitatif tersebut menjadi syarat untuk mendapatkan fasilitas penanaman modal. Paragraf 2 ilustrative list dari Agreement on TRIMs dalam pelarangan quantitative restriction hanya mengacu pada Article XI.1.
GATT 1994. Dalam kaitannya dengan kegiatan penanaman modal, Paragraf 2 mengidentifikasikan 3 bentuk kegiatan yang dipandang tidak konsisten dengan Article IX.1. GATT yakni apabila untuk memperoleh fasilitas penanaman modal dipersyaratkan hal-hal berikut:
a) Pembatasan impor produk-produk yang dipakai dalam proses produksi atau terkait dengan produksi lokalnya secara umum atau senilai produk yang diekspor oleh perusahaan yang bersangkutan (trade balancing policy);
b) Pembatasan impor produk-produk yang dipakai dalam atau terkait produksi lokal dengan membatasi aksesnya terhadap devisa luar negeri sampai jumlah yang terkait dengan devisa yang dimasukkan oleh perusahaan yang bersangkutan (foreign exchange limitation);
61 Ibid, hlm 85
62 Ibid, hlm 88-89
c) Pembatasan ekspor atau penjualan untuk ekspor apakah dirinci menurut produk-produk khusus, menurut volume atau nilai produk-produk atau menurut perbandingan volume atau nilai dari produksi lokal perusahaan yang bersangkuatan (export restriction);63
Ad.a. Barang-barang Impor Harus Seimbang dengan Ekspor
Terdapat perbedaan mendasar antara kedua model trade balancing policy.
Model pertama, membatasi pembelian atau penggunaan barang impor, bertentangan dengan prinsip national treatment sebagaimana diatur dalam Article III.4 GATT jo. Paragraf 1 (b) ilustrative list dari Agreement on TRIMs.
Sedangkan model kedua, pembatasan impor langsung, bertentangan dengan Article XI.1.GATT 1994 jo. Paragraf 2 (a) ilustrative list dari Agreement on TRIMs. Perbedaan prinsip dari kedua model ini terletak pada terjadi atau tidaknya diskriminasi internal dari kebijakan tersebut.64
Ad.b. Pembatasan Akses Devisa Asing
Bentuk tindakan restriktif ini dilakukan dengan membatasi impor produk-produk yang dipergunakan dalam proses produk-produksi dengan membatasi akses perusahaan penanaman modal asing terhadap devisa luar negeri yang dibutuhkan sampai pada satu jumlah atau nilai yang sebanding dengan devisa yang dimasukkan oleh perusahaan asing yang bersangkutan. Larangan terhadap foreign exchange limitation bisa membawa dampak yang sangat signifikan bagi negara-negara yang masih lemah, karena apabila tidak ada pembatasan dalam
Bentuk tindakan restriktif ini dilakukan dengan membatasi impor produk-produk yang dipergunakan dalam proses produk-produksi dengan membatasi akses perusahaan penanaman modal asing terhadap devisa luar negeri yang dibutuhkan sampai pada satu jumlah atau nilai yang sebanding dengan devisa yang dimasukkan oleh perusahaan asing yang bersangkutan. Larangan terhadap foreign exchange limitation bisa membawa dampak yang sangat signifikan bagi negara-negara yang masih lemah, karena apabila tidak ada pembatasan dalam