• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

A. Penerapan Sustainable Finance pada BPR

Untuk menjawab rumusan masalah mengenai penerapan Sustainable Finance pada BPR, penulis menggunakan dua kuesioner. Kedua kuesioner tersebut akan terbagi menjadi dua pokok bahasan yaitu, gambaran umum BPR akan aktivitas Sustainable Finance dan penerapan aktivitas Sustainable Finance berdasarkan tahap persiapan dan implementasi awal Sustainable Finance.

a. Gambaran Umum Penerapan Sustainable Finance

Bagian ini akan dibahas menggunakan kuesioner bagian A. Berdasarkan kuesioner tersebut, akan didapatkan dan dijelaskan mengenai poin-poin gambaran umum pada setiap BPR mengenai penerapan Sustainable Finance, yaitu:

1) Pemahaman, pandangan dan ketertarikan BPR terhadap penerapan Sustainble Finance yang akan diwakili melalui jawaban pada nomor satu, dua dan tiga

2) Kapasitas BPR dalam menerapkan Sustainable Finance yang akan diwakilkan melalui jawaban pada nomor empat dan lima

3) Kendala penerapan Sustainable Finance yang akan diwakilkan melalui jawaban pada nomor enam

4) Pandangan BPR terhadap regulasi mengenai penerapan

Sustainable Finance yang akan diwakilkan melalui jawaban pada

nomor tujuh dan delapan.

Berikut hasil yang diperoleh melalui kuesioner bagian A mengenai gambaran umum penerapan Sustainable Finance:

Tabel 6: Tabel Gambaran Umum Penerapan Sustainable Finance

No. Pertanyaan Jawaban

BPR Bank Sleman BPR CMA

1

Apakah anda sudah memahami mengenai apa itu Sustainable Finance yang saat ini diterapkan di Indonesia?

Sudah Belum

2

Apakah anda

menganggap Sustainable Finance sebagai area bisnis yang menjanjikan?

Sangat Menjanjikan Agak Menjanjikan

3

Apakah bank anda berencana untuk meningkatkan aktivitas pada Sustainable Finance?

Ya, akan menjadi

prioritas Ya, sedikit

4

Apakah bank anda memiliki pengalaman dalam memberikan kredit pada proyek-proyek lingkungan? (contoh: pendanaan di bidang agrikultur, pendanaan dalam pengelolaan energi terbarukan, dsb). Ya Belum 5

Sektor apa sajakah yang seringkali mendapatkan pendanaan dari BPR anda? UMKM, Industri, Pertanian, Infrastruktur, Energi Terbarukan, Jasa UMKM, Industri, pariwisata

Tabel 6: Tabel Gambaran Umum Penerapan Sustainable Finance (lanjutan)

No. Pertanyaan Jawaban

BPR Bank Sleman BPR CMA

6

Menurut anda, apa penyebab Sustainable Finance masih sulit dilakukan pada BPR? a. Terlalu berisiko b. Kurangnya permintaan (demand) pada kegiatan Sustainable Finance c. Kurangnya pengetahuan atau pengalaman dengan proyek ramah lingkungan a. Kurangnya sosialisasi dari OJK 7

Apakah menurut anda kerangka kebijakan mengenai Sustainable Finance sudah cukup membantu dalam mengembangkan investasi berkelanjutan?

Sangat membantu Sedikit membantu

8

Dukungan dari otoritas perbankan seperti apa yang dibutuhkan untuk membantu bank anda untuk meningkatkan partisipasi bank anda dalam kegiatan Sustainable Finance?

Pembangunan kapasitas

Sosialisasi secara terus menerus dan

pendampingan

Dari jawaban kedua BPR tersebut, lalu akan dibahas sesuai dengan poin-poin pembahasan tentang gambaran umum pada setiap BPR mengenai penerapan Sustainable Finance, sebagai berikut:

1) Pemahaman, pandangan dan ketertarikan BPR terhadap penerapan Sustainable Finance

Bagian ini akan dibahas mengenai pemahaman, pandangan dan ketertarikan BPR terhadap penerapan Sustainable Finance. Dalam melakukan pembahasan bagian ini, penulis menggunakan jawaban nomor satu, dua dan tiga yang tercantum pada kuesioner.

Pada pertanyaan nomor satu, PT BPR Bank Sleman menjawab bahwa BPR sudah memahami apa itu Sustainable Finance. Walaupun belum ada sosialisasi dari pihak OJK, PT BPR Bank Sleman sudah memiliki inisiatif untuk mencari informasi mengenai Sustainable Finance. Sedangkan BPR Chandra Muktiartha (BPR CMA) belum memahami mengenai Sustainable Finance. Melalui proses wawancara, pihak direksi mengatakan bahwa BPR baru mengetahui istilah tersebut karena belum adanya sosialisasi dari pihak Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengenai Sustainable Finance dan juga belum mengakses laman OJK yang berkaitan dengan Sustainable Finance.

Berdasarkan jawaban pada nomor dua, Sustainable Finance ini juga dipandang sebagai kegiatan yang akan sangat menjanjikan oleh PT BPR Bank Sleman. Sektor ekonomi makro akan menjadi kuat karena adanya sinergisitas antara aspek ekonomi, sosial dan lingkungan. Sustainable Finance ini juga akan membuat BPR Bank Sleman lebih efisien dalam penggunaan energi dan akan sangat berdampak positif bagi kelestarian alam. Pada BPR CMA,

Sustainable Finance dianggap sebagai suatu hal yang agak menjanjikan, khususnya dibidang pendanaan bagi UMKM. Berdasarkan hasil wawancara, BPR CMA memang sangat berfokus pada kegiatan UMKM masyarakat dengan menyediakan kredit bagi UMKM sebesar Rp 2.000.000,00 hingga Rp 500.000.000,00. Persentase dana yang diberikan untuk UMKM juga dapat terbilang sangat besar yaitu sekitar 98%.

Pada pertanyaan nomor tiga, PT BPR Bank Sleman akan meningkatkan kegiatan Sustainable Finance dan menjadikannya sebagai prioritas karena BPR Bank Sleman merupakan perusahaan milik Kabupaten Sleman, yang mana rogram kerja yang dilakukan oleh PT BPR Bank Sleman harus disesuaikan dengan program kerja Pemerintah Daerah. PT BPR Bank Sleman berencana untuk meningkatkan pendanaan pada sektor UMKM. Sedangkan BPR CMA akan meningkatkan sedikit aktivitas pada kegiatan Sustainable Finance. BPR CMA akan lebih berfokus dalam pemberian kredit pada kegiatan UMKM karena hingga saat ini kredit pada bidang UMKM dirasa lebih menguntungkan dan banyak peminatnya dibandingnkan dengan kegiatan usaha lainnya seperti agrikultur yang risikonya sangat tinggi.

Dari pertanyaan nomor satu, dua, dan tiga yang telah dibahas, dapat dikatakan bahwa PT BPR Bank Sleman sudah memahami apa itu Sustainable Finance. PT BPR Bank Sleman juga memandang

Sustainable Finance sebagai kegiatan yang menjanjikan serta akan meingkatkan aktivitas dan menjadikan Sustainable Finance sebagai prioritas dalam kegiatan usaha bank. Sedangkan BPR CMA belum memahami betul mengenai Sustainable Finance dan memandang hal tersebut sebagi hal yang agak menjanjikan apabila dijadikan kegiatan usaha bank. BPR CMA akan sedikit meningkatkan aktivitas Sustainable Finance dan terus berfokus dalam pendanaan UMKM.

2) Kapasitas BPR dalam menerapkan Sustainable Finance

Kapasitas BPR dalam menerapkan Sustainable Finance sendiri dilihat dari pengalaman BPR dalam kegiatan yang berkaitan dengan Sustainable Finance khususnya dalam hal pemberian dana atau kredit pada sektor-sektor yang ditetapkan dalam Roadmap to Sustainable Finance. Bagian ini akan dilihat dari jawaban nomor 4 dan 5 yang

Berdasarkan jawaban pada nomor empat, PT BPR Bank Sleman telah memiliki pengalaman dalam meberikan kredit dalam kegiatan Sustainable Finance seperti pemberian fasilitas kredit bagi petani salak, dan juga dalam bidang peternakan dan perikanan. Berbeda dengan PT BPR Bank Sleman, BPR CMA belum pernah melakukan pendanaan kepada proyek lingkungan. Menurut hasil wawancara, pendanaan pada kegiatan berbasis lingkungan khususnya agrikultur memiliki risiko kerugian yang tinggi karena kegiatan tersebut bergantung pada alam, sehingga pendapatan petani tidak tetap dan sulit untuk melakukan pengembalian kredit.

Berdasarkan jawaban nomor lima, PT BPR Bank Sleman banyak memberikan pendanaan pada sektor UMKM, industri, pertanian, infrasturktur, proyek energi terbarukan, serta pada sektor jasa. Sedangkan BPR CMA banyak memberikan pendanaan pada sektor UMKM, Industri khususnya industri kerajinan, serta sektor lain yaitu sektor pariwisata.

Dari hasil jawaban pertanyaan nomor empat dan lima yang sudah dibahas, dapat dikatakan bahwa PT BPR Bank Sleman telah memiliki pengalaman dalam memberikan pendanaan pada proyek-proyek berbasis lingkungan serta 6 sektor prioritas Sustainable Finance. BPR CMA belum memiliki pengalaman dalam memberikan pendanaan pada proyek-proyek lingkungan serta sudah melakukan pendanaan pada 3 sektor prioritas Sustainable Finance.

3. Kendala penerapan Sustainable Finance

Bagian ini akan membahas mengenai risiko atau kendala yang dihadapi oleh BPR akan kegiatan Sustainable Finance. Pembahasan mengenai hal tersebut dilihat dari jawaban pada pertanyaan nomor enam.

Berdasarkan jawaban pada nomor enam, BPR Bank Sleman memilih 3 opsi yang menjadikan Sustainable Finance ini sulit dilakukan di Indonesia. BPR Bank Sleman memilih opsi pertama, yaitu terlalu berisiko dengan alasan rentannya kepastian akan pengembalian kredit. Kedua, kurangnya permintaan (demand) pada

kegiatan Sustainable Finance dengan alasan bahwa mayoritas pelaku UMKM telah mendapatkan KUR dengan tingkat bunga yang rendah. Ketiga, kurangnya pengetahuan atau pengalaman dengan proyek ramah lingkungan dikarenakan banyak kegiatan atau proyek-proyek yang berskala besar sudah mendapatkan pendanaan dari bank-bank umum.

BPR CMA menjawab kurangnya sosialisasi dari OJK. Menurut hasil wawancara, narasumber menjelaskan bahwa OJK kurang melakukan sosialisasi mengenai peraturan-peraturan terbaru. Narasumber juga menceritakan bahwa tidak ada jadwal rutin untuk kegiatan sosialisasi dari OJK. Dalam wawancara narasumber juga mengatakan bahwa ini pertama kalinya beliau megetahui istilah Sustainable Finance yang sudah mulai ditetapkan peraturannya sejak tahun 2017.

Berdasarkan jawaban dari pertanyaan nomor empat, dapat dikatakan bahwa kendala dalam melakukan aktivitas Sustainable Finance pada BPR adalah terlalu berisiko, kurangnya permintaan (demand) pada kegiatan Sustainable Finance, kurangnya pengetahuan atau pengalaman dengan proyek ramah lingkungan, serta kurangnya sosialisasi dari OJK.

4) Pandangan dan masukkan BPR terhadap regulasi mengenai regulasi penerapan Sustainable Finance

Bagian ini akan membahas mengenai pandangan atau tanggapan BPR terhadap regulasi mengenai aktivitas Sustainable Finance, serta masukkan BPR bagi regulator LJK agar aktivitas Sustainable Finance ini dapat dilakukan oleh BPR. Bagian ini akan dijawab melalui jawaban dari pertanyaan nomor tujuh dan delapan.

Berdasarkan pada jawaban nomor tujuh, PT BPR Bank Sleman memilih opsi ketiga, yakni kerangka kebijakan Sustainable Finance yang ada saat ini sangat membantu BPR dalam mengembangkan investasi keberlanjutan. PT BPR Bank Sleman berpendapat bahwa kebijakan mengenai penerapan Sustainable Finance ini membantu BPR dalam mengakomodir aktivitas Lembaga Jasa Keuangan agar tidak hanya bertumpu dalam satu elemen saja (bidang ekonomi) namun juga dengan elemen lingkungan dan sosial. Pada BPR CMA, narasumber memilih opsi bahwa kerangka kebijakan mengenai Sustainable Finance yang diberlakukan saat ini sedikit membantu. Menurut hasil wawancara, hal tersebut dikarenakan kurangnya sosialisasi rutin yang dilakukan oleh OJK terkait peraturan-peraturan yang ada.

Berdasarkan pada jawaban nomor delapan, PT BPR Bank Sleman memilih opsi pertama yaitu, dilaksanakannya pembangunan kapasitas baik dalam bentuk pelatihan, seminar, dan lainnya sebagai bentuk dukungan dari otoritas jasa keuangan yang dapat membantu PT BPR

Bank Sleman dalam melaksanakan kegiatan Sustainable Finance ini. Menurut narasumber, OJK maupun Bank Indonesia sudah menyediakan cukup informasi mengenai Sustainable Finance dengan adanya laman web resmi dengan memberikan berbagai informasi dan peraturan-peraturan LJK yang berlaku saat ini. Di sisi lain, Lembaga Jasa Keuangan juga sangat membutuhkan pendampingan dalam menerapkan Sustainable Finance, khususnya bagi LJK yang kurang memiliki pengalaman yang berkaitan dengan hal sosial maupun lingkungan. Oleh sebab itu, berbagai macam pendalaman dan pengembangan sosftskills bagi para pelaku kegiatan di LJK khususnya dalam kegiatan Sustainable Finance ini sangatlah dibutuhkan.

BPR CMA membutuhkan sosialisasi rutin serta pendampingan bagi para pelaku LJK. BPR CMA juga memberi masukkan bagi OJK untuk memberlakukan kegiatan sosialisasi serta pengembangan kapasitas BPR secara rutim dan teratur setiap tahunnya agar bank dapat sama-sama berkembang sesuai dengan peraturan yang ditetapkan saat ini.

Berdasarkan jawaban dari pertanyaan nomor tujuh dan delapan, dapat diketahui bahwa PT BPR Bank Sleman menganggap regulasi mengenai Sustainable Finance yang ada saat ini sangat membantu bank dalam mengembangkan praktik Sustainable Finance. Sedangkan BPR CMA menganggap bahwa regulasi yang ada sudah cukup membantu. Fasilitas yang diperlukan BPR untuk meningkatkan

pemahaman mengenai Sustainable Finance adalah dengan adanya peningkatan kapasitas bagi anggota dan juga sosialisi rutin oleh OJK.

b. Penerapan Sustainable Finance

Pada bagian ini, peneliti ingin melihat perbandingan aktivitas terkait Sustainable Finance yang dibagi menjadi dua bagian yaitu Tahap Persiapan dan Tahap Implementasi Awal.

1) Tahap Persiapan

Tahap persiapan merupakan masa dimana bank melakukan kegiatan-kegiatan persiapan pada bagian internal menjalankan implementasi kegiatan Sustainable Finance secara penuh. Kegiatan persiapan yang sudah maupun yang belum dilakukan oleh PT BPR Bank Sleman dan BPR CMA akan disajikan dalam tabel berikut:

No. Pernyataan Sudah Belum Rencana Pelaksanaan (Bila Belum) Sudah Belum Rencana Pelaksanaan (Bila Belum) 1. Melakukan penyesuaian Visi dan Misi, Tata

Kelola, Standar Prosedur dan Operasional, serta Program yang Mendukung Sustainable Finance.

a. Visi dan Misi √ 2021 √

b. Tata Kelola √ 2021 √ -

c. Standar Prosedur Operasiona (SPO) √ 2021 √ - d. Program yang mendukung

Sustainable Finance √ √

2. Penyusunan Rencana Aksi Keuangan

Berkelanjutan (RAKB) √ √ -

a) Penyesuaian Visi dan Misi, Tata Kelola, Standar Prosedur dan Operasional, serta Program yang Mendukung

Sustainable Finance.

Dari Tabel Tahap Persiapan Kegiatan Sustainable

Finance, dapat dilihat bahwa PD BPR Bank Sleman belum

melakukan pembaharuan atau penyesuaian Visi dan Misi, Tata Kelola, serta Standar Prosedur Operasional (SPO). Ketiga hal tersebut direncanakan akan dilakukan pada tahun 2021. PD BPR Bank Sleman sudah memiliki gambaran mengenai ketiga hal tersebut namun belum bisa dipublikasikan karena bersifat rahasia. PD BPR Bank Sleman telah memiliki program yang mendukung kegiatan Sustainable Finance, yaitu dengan meningkatkan aktivitas yang mendukung program paperless dengan cara meningkatkan Teknologi Informasi (TI).

Pada BPR CMA, Tata Kelola dan SPO belum dilakukan penyesuaian dan tidak menjawab kapan hal tersebut akan dilakukan. Berdasarkan hasil wawancara, BPR CMA masih belum memiliki gambaran terkait kegiatan Sustainable Finance karena belum adanya sosialisasi dari OJK. BPR CMA menjawab telah menyesuaikan Visi dan Misi serta telah memiliki program yang mendukung kegiatan Sustainable Finance. Terkait Visi dan Misi, walaupun belum dalam konteks Sustainable Finance, namun terdapat poin yang sudah

menjurus dalam aktivitas mendukung Sustainable Finance yaitu dengan memberikan fasilitas dan pelayanan keuangan yang mendukung kegiatan UMKM.

Dalam hal program yang mendukung Sustainable Finance juga masih dalam kegiatan CSR. BPR CMA sangat berfokus pada kegiatan sosial dengan memberikan edukasi bagi masyarakat sekitar mengenai pentingnya mengatur keuangan.

b) Penyusunan Rencana Aksi Keuangan Berkelanjutan (RAKB)

Berdasarkan Tabel Tahap Persiapan Kegiatan

Sustainable Finance, PT BPR Bank Sleman belum

menyusun menyusun RAKB secara rutin, namun PT BPR Bank Sleman telah menyusun RAKB untuk tahun 2020 dan sudah disampaikan kepada seluruh pemegang saham dan jenjang organisasi pada bank tersebut. PT BPR Bank Sleman juga sudah berencana untuk membuat RAKB secara rutin dimulai pada tahun 2021 dan waktu pelaksanaan untuk RAKB yang sudah dibuat untuk tahun 2020 di tahun 2021 juga.

BPR CMA belum menyusun RAKB jangka panjang maupun jangka pendek. BPR CMA juga belum memiliki rencana kapan akan mulai menyusun RAKB.

Di dalam RAKB juga mencakup pembuatan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL). Dana TJSL kedua BPR diperoleh dari laba setelah pajak. PT BPR Bank Sleman menganggarkan dana TJSL sebesar 5% dari laba setelah pajak, sedangkan BPR CMA tidak menetapkan berapa persentase dana yang akan disalurkan untuk kegiatan TJSL. Secara garis besar, TJSL yang dilakukan oleh kedua BPR lebih condong kepada kegiatan sosial ketimbang kegiatan lingkungan.

c) Pengembangan Kapasitas Internal

Dari tabel Tabel Tahap Persiapan Kegiatan

Sustainable Finance, dapat dilihat bahwa kedua BPR belum

melakukan pengembangan kapasitas internal dan juga belum memiliki rencana kapan kegiatan tersebut akan dilakukan. Hal tersebut dikarenakan belum adanya sosialisasi dan tindak lanjut dari OJK sendiri terkait Sustainable Finance pada BPR.

Secara umum, dapat dikatakan bahwa BPR Bank Sleman telah melakukan dua aktivitas yaitu; Melakukan penyesuaian Visi dan Misi, Tata Kelola, Standar Prosedur dan Operasional, serta Program yang Mendukung Sustainable Finance khususnya pada penyesuaian program yang mendukung Sustainable Finance; serta sudah menyusun RAKB. BPR CMA juga telah melakukan dua

aktivitas yaitu; Melakukan penyesuaian Visi dan Misi, Tata Kelola, Standar Prosedur dan Operasional, serta Program yang Mendukung Sustainable Finance khususnya pada visi misi dan penyesuaian program yang mendukung Sustainable Finance.

2) Tahap Implementasi Awal

Dalam tahap implementasi awal, bank mulai membangun sistem Sustainable Finance dalam organisasi perusahaannya. Tahap ini dimulai sejak tahun pertama periode yang ditetapkan dan dilakukan secara bertahap sesuai dengan kondisi keuangan, struktur, dan kompleksitas masing-masing bank. Penerapan yang sudah maupun yang belum dilakukan oleh PT BPR Bank Sleman dan BPR CMA akan disajikan dalam tabel berikut:

No. Pernyataan

PT BPR Bank Sleman BPR Candra Muktiartha

Sudah Belum Rencana Pelaksanaan (Bila Belum) Sudah Belum Rencana Pelaksanaan (Bila Belum) 1. Pengembangan Sumber Daya Manusia

(SDM) √ √ -

2.

Penyesuaian SPO pada divisi yang sudah ada atau divisi khusus terkait Sustainable Finance.

√ 2021 √ -

3. Penyesuaian sistem teknologi informasi

dan pelaporan √ √ (dalam tahap pembuatan)

4. Pengelolaan lingkungan internal yang

ramah lingkungan hidup √ √

5.

Penyesuaian klasifikasi kegiatan usaha bank dengan kriteria dan kategori kegiatan usaha berkelanjutan

√ - √ -

6.

Desain, Pengembangan, dan Inovasi Produk dan/atau Jasa Keuangan Berkelanjutan

√ √ (dalam tahap

pembuatan)

7. Inisiasi Portofolio √ √ -

a) Pengembangan SDM

Berdasarkan hasil analisis pada Tabel Tahap Implementasi Awal Kegiatan Sustainable Finance, kedua BPR belum melakukan pengembangan kapasitas terhadap Sumber Daya Manusia yang dimiliki karena belum adanya tindak lanjut dari regulator Lembaga Jasa Keuangan, sehingga pengembangan SDM juga belum dilakukan pada tahap implementasi awal ini.

b) Penyesuaian SPO pada divisi yang sudah ada atau divisi khusus terkait Sustainable Finance.

Berdasarkan hasil analisis pada Tabel Tahap Implementasi Awal Kegiatan Sustainable Finance, kedua BPR belum melakukan penyesuaian SPO untuk bagian/unit yang sudah ada atau pada bagian/unit yang dikhususkan terkait kegiatan Sustainable Finance. Sebagai informasi tambahan, kedua BPR tersebut belum memiliki unit yang benar-benar dikhususkan untuk kegiatan Sustainable Finance, namun kedua BPR memiliki unit yang dikhususkan untuk melakukan penilaian kualitas kredit untuk UMKM. Dikarenakan penyesuaian SPO pada Tahap persiapan belum dilakukan, maka penyesuaian SPO pada divisi yang ada juga belum dilakukan.

c) Penyesuaian sistem teknologi informasi dan pelaporan Berdasarkan Tabel Tahap Implementasi Awal Kegiatan Sustainable Finance, PT BPR Bank Sleman telah melakukan penyesuaian sistem teknologi informasi dan pelaporan. PT BPR Bank Sleman sudah memiliki website resmi yang digunakan sebagai layanan informasi bagi masyarakat. PT BPR Bank Sleman juga melakukan publikasi pada laman website yang dimiliki dan bisa diunduh oleh siapa saja. Informasi keuangan maupun non-keuangan lainnya juga dapat diakses pada website resmi milik OJK. PT BPR Bank Sleman telah menggunakan Account Officer (AO) Mobile Bank Sleman sebagai aplikasi yang dapat digunakan oleh masyarakat dalam mengajukan kredit. Aplikasi Mobile Collection juga digunakan untuk mempermudah para petugas dalam melakukan input setoran melalui smartphone dan EDC.

Pada bagian internal, PT Bank Sleman menggunakan aplikasi Core Banking System serta didukung oleh sistem Disaster Recovery System yang merupakan sistem back up data untuk meminimalisir dampak dari gangguan sistem, maupun kerusakan lainnya yang disengaja ataupun yang tidak disengaja.

Berdasarkan hasil wawancara, BPR CMA masih menggunakan Microsoft Excel dalam setiap pelaporan, namun saat ini BPR CMA sudah dalam proses membangun sebuah aplikasi yang saling terintegrasi yang dikhususkan untuk bagian internal perusahaan untuk mempermudah dalam penyampaian informasi baik keuangan maupun non-keuangan serta untuk mengurangi penggunaan kertas. BPR CMA juga telah dalam proses pembuatan aplikasi yang dikhususkan untuk mempermudah nasabah dalam pengajuan kredit. Untuk mempermudah akses informasi mengenai BPR, BPR CMA telah memiliki website dan akun instagram, namun pelaporan keuangan BPR CMA tidak dapat diakses pada website tersebut melainkan kita dapat mengaksesnya pada website resmi milik OJK.

d) Pengelolaan lingkungan internal yang ramah lingkungan hidup

Dari Tabel Tahap Implementasi Awal Kegiatan

Sustainable Finance, PD BPR Bank Sleman telah

menggunakan peralatan atau perlengkapan kantor yang ramah lingkungan. Penggunaan listrik khususnya untuk penerangan juga menggunakan lampu hemat energi, serta sudah adanya pencahayaan yang cukup karena banyak

jendela. Halaman luar maupun dalam ruangan tersedia tanaman.

Pada BPR CMA, kantor sudah dilengkapi dengan peralatan dan perlengkapan yang ramah lingkungan. Berdasarkan hasil wawancara, BPR CMA telah menggunakan Air Conditioner (AC) dan energi listrik secukupnya.

e) Penyesuaian klasifikasi kegiatan usaha bank dengan kriteria dan kategori kegiatan usaha berkelanjutan

Berdasarkan Tabel Tahap Implementasi Awal Kegiatan Sustainable Finance, PT BPR Bank Sleman belum mengklasifikasikan sesuai dengan sektor atau kegiatan usaha yang didanai, namun sudah melakukan pengklasifikasian kegiatan usaha untuk UMKM dan non-UMKM. Pemisahan tersebut dilakukan karena kegiatan usaha non-UMKM cukup berisiko.

Sama halnya dengan PT BPR Bank Sleman, BPR CMA juga belum melakukan klasifikasi kegiatan usaha yang telah didanai. BPR CMA hanya melakukan klasifikasi untuk pendanaan UMKM dan non-UMKM.

f) Desain, Pengembangan, dan Inovasi Produk dan/atau Jasa Keuangan Berkelanjutan

Berdasarkan Tabel Tahap Implementasi Awal Kegiatan Sustainable Finance , PT Bank Sleman sudah memiliki desain, pengembangan, dan inovasi produk, dan/atau jasa keuangan berkelanjutan. Berdasarkan informasi pada Annual Report 2019, PT BPR Bank Sleman saat ini sedang mengembangkan Cardless ATM yang bekerjasama dengan Bank Mandiri Syariah dengan menggunakan sistem host to host yang disesuaikan dengan regulasi yang sudah ada. Hal tersebut ditujukan untuk mempermudah nasabah dalam melakukan transaksi dan juga untuk upaya mendukung program paperless.

Dokumen terkait