BAB II TINJAUAN PUSTAKA
7. Penerapan Tax planning
Penerapan tax planning terhadap PPh sebagai upaya efisiensi pembayaran pajak meliputi :
a. Memperbesar Biaya Penyusutan
Menurut PSAK No. 17 Penyusutan adalah alokasi jumlah suatu aktiva yang dapat disusutkan sepanjang masa manfaat yang diestimasi. Penyusutan perlu dilakukan karena manfaat yang diberikan dan nilai dari aktiva tersebut semakin berkurang. Pengurangan nilai aktiva dibebankan secara bertahap, hal ini sesuai dengan Pasal 9 ayat (2) UU PPh Nomor 36 Tahun 2008 yang menyatakan bahwa pengeluaran untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1 (satu) tahun tidak dibolehkan untuk dibebankan sekaligus.
Berdasarkan Undang-Undang PPh Nomor 36 Tahun 2008 harta berwujud dibagi menjadi 2 golongan yaitu harta berwujud kelompok bukan bangunan dan harta berwujud kelompok bangunan. Harta berwujud kelompok bukan bangunan terdiri dari 4 kelompok yaitu kelompok 1,2 ,3,dan 4 sedangkan harta berwujud kelompok bangunan terdiri dari bangunan permanen dan bangunan tidak permanen. Berdasarkan Pasal 11 UU PPh Nomor 36 Tahun 2008 metode penyusutan yang dapat digunakan untuk melakukan penyusutan terhadap harta berwujud bukan bangunan adalah metode garis lurus atau metode saldo menurun. Sedangkan metode penyusutan untuk harta berwujud bangunan hanya dapat disusutkan dengan metode garis lurus.
Tabel 2. 1
Tarif Penyusutan Harta Berwujud
Kelompok Harta Berwujud Masa Manfaat Tarif Penyusutan Metode Garis Lurus Metode Saldo Menurun I. BukanBangunan Kelompok 1 4 tahun 25% 50% Kelompok 2 8 tahun 12,5% 25% Kelompok 3 16 tahun 6,25% 12,5% Kelompok 4 20 tahun 5% 10% II. Bangunan Permanen 20 tahun 5%
Tidak Permanen 10 tahun 10% Sumber data : Undang-Undang No. 36 Tahun 2008
Contoh kasus
PT ULI membeli aktiva tetap berupa mesin degan harga perolehan Rp. 100.000.000,00. Mesin tersebut termasuk dalam aktiva tetap kelompok 1.Besar Biaya Penyusutan dan Nilai Tunainya dengan Tingkat Diskon 20 %
Tabel 2. 2
Besar Biaya Penyusutan dan Present Value-nya dengan Discount Factor 20%
Thn
Metode Penyusutan
d.f (20%) Garis Lurus(Rp) Saldo Menurun(Rp)
Nominal PV Nominal PV 1 250,000,000.00 208,333,250.00 500,000,000.00 416,666,500.00 0.833333 2 250,000,000.00 173,611,000.00 250,000,000.00 173,611,000.00 0.694444 3 250,000,000.00 144,675,750.00 125,000,000.00 72,337,875.00 0.578703 4 250,000,000.00 120,563,250.00 125,000,000.00 60,281,625.00 0.482253 1,000,000,000.00 647,183,250.00 1,000,000,000.00 722,897,000.00
Tabel 2. 3
Besarnya Penghematan Pajak antara Metode Garis Lurus dengan Saldo Menurun
Keterangan
Garis Lurus (Rp) Saldo Menurun
Nominal PV(Tingkat Diskon 20%) Nominal PV(Tingkat Diskon 20%) Harga Perolehan 1,000,000,000.00 1,000,000,000.00 1,000,000,000.00 1,000,000,000.00 Biaya Penyusutan 1,000,000,000.00 647,183,641.98 1,000,000,000.00 722,897,376.54 PPh 30% 300,000,000.00 194,155,092.59 300,000,000.00 216,869,212.96 Penghematan Pajak 22,714,120.37
Sumber data : Erly Suandy, (2006)
Berdasarkan perhitungan di atas diperoleh besarnya penghematan pajak yang dapat dilakukan jika perusahaan memilih metode saldo menurun dalam menghitung besarnya biaya penyusutan sebesar Rp. 22,714,120.37.(Rp. 216,869,212.96 – Rp. 194,155,092.59). Tarif pajak yang digunakan adalah tarif pajak tertinggi yaitu 30%. Dengan tingkat diskon 20%
b. Pemberian Tunjangan Tidak Dalam Bentuk Natura
Pembayaran natura maupun kenikmatan kepada pegawai pada dasarnya bukan merupakan penghasilan bagi pegawai, tetapi juga bukan merupakan biaya bagi perusahaan. Namun demikian apabila pemberian natura maupun kenikmatan tersebut diberikan dalam bentuk tunjangan misalnya tunjangan pangan maupun tunjangan bersifat kenikmatan, seperti tunjangan rumah dan lainnya, maka pembayaran tersebut dapat menjadi biaya bagi perusahaan dan merupakan penghasilan bagi pegawai. Oleh karena itu untuk menambah biaya fiskal, perusahaan mentransformasi non deductible expense menjadi deductible expense.
Bagi pemberi kerja, pembayaran natura dan kenikmatan dalam bentuk tunjangan akan lebih menguntungkan atau menghemat pajak.
Gambar 2.1
Kerangka Imbalan kepada Pegawai
Jika imbalan kepada pegawai diberikan dalam bentuk uang, maka pemberian tersebut merupakan pengurang penghasilan bruto bagi perusahaan dan bagi karyawan yang bersangkutan akan dikenakan PPh pasal 21. Sebaliknya jika imbalan yang diberikan dalam bentuk kenikmatan / natura, maka pemberian tersebut tidak termasuk pengurangang penghasilan bruto dan kepada karyawan yang bersangkutan tidak dikenakan PPh pasal 21
Imbalan kepada pegawai
Imbalan diberikan dalam bentuk kenikmatan/natura Imbalan diberikan
dalam bentuk uang
Bukan pengurang penghasilan bruto (non deductible Bukan merupakan Obyek PPh 21 Merupakan pengurang penghasilan bruto (non deductible merupakan Obyek PPh 21
Tabel 2. 4
Pemberian tunjangan tidak dalam bentuk natura
Pendapatan Usaha Rp 3,825,000,000 Pendapatan Usaha Rp 3,825,000,000 Biaya usaha langsung Rp (2,805,000,000) Biaya usaha langsung Rp (2,805,000,000) Laba kotor Rp 6,630,000,000 Laba kotor Rp 6,630,000,000
Biaya usaha tidak langsung Biaya usaha tidak langsung
Biaya pemasaran Rp (19,040,000) Biaya pemasaran Rp (19,040,000) Biaya Adm & umum Rp (425,000,000) Biaya Adm & umum Rp (425,000,000) Biaya keperluan kantor Rp (136,000,000) Biaya keperluan kantor Rp (136,000,000) Biaya pemeliharaan Rp (76,500,000) Biaya pemeliharaan Rp (76,500,000) Biaya penyusutan Rp (144,500,000) Biaya penyusutan Rp (144,500,000) bentuk uang Rp (45,000,000) bentuk natura Rp 45,000,000
Total biaya usaha tidak Total biaya usaha tidak
langsung Rp (864,040,000) langsung Rp (801,040,000) laba operasi Rp 5,783,960,000 laba operasi Rp 5,828,960,000 Pendapatan- Biaya lain-lain Pendapatan- Biaya lain-lain
Pendapatan lain-lain Rp 17,850,000 Pendapatan lain-lain Rp 17,850,000 Biaya lain-lain Rp (255,000) Biaya lain-lain Rp (255,000) Total pendapatan- biaya Rp 17,595,000 Total pendapatan-biaya Rp 17,595,000
lain-lain lain-lain
Penghasilan kena pajak Rp 5,801,555,000 Penghasilan kena pajak Rp 5,846,555,000
Hutang PPh(tarif Pasal 17) Hutang PPh(tarif Pasal 17)
25%x Rp 5,801,555,000.00 Rp (1,450,388,750) 25%x Rp 5,846,555,000 Rp (1,461,638,750) Laba bersih setelah pajak Rp 4,351,166,250 Laba bersih setelah pajak Rp 4,384,916,250
Total Hutang PPh Rp 1,450,388,750 Total Hutang PPh Rp 1,461,638,750
Penghematan Pajak Rp. . 11,250.000,00
Sumber data : Erly Suandy (2006)
Berdasarkan perhitungan di atas, jika perusahaan memberikan tunjangan dalam bentuk uang sebesar Rp. 45,000,000 maka total hutang PPh yang harus ditanggung oleh perusahaan sebesar Rp 1,450,388,750 sedangkan jika perusahaan memberikan tunjangan dalam bentuk natura sebesar Rp. 45,000,000 maka biaya tersebut bukan merupakan deductible expense sehingga harus dikoreksi. Pemberian dalam bentuk natura akan menghasilkan PPh sebesar Rp.
perusahaan memberikan tunjangan dalam bentuk uang sebesar Rp. 11.250.000,00.( Rp. 1,461,638,750 - Rp 1,450,388,750). Tarif pajak yang digunakan adalah 25%.
c. Melakukan Perjanjian Leasing Untuk Pendanaan Aktiva Tetap
Definisi leasing menurut PSAK No.30 Tahun 2009 : suatu perjanjian dimana lessor memberikan hak kepada lessee untuk menggunakan suatu asset selama periode waktu yang disepakati. Sebagai imbalannya lessee melakukan pembayaran atau serangkaian pembayaran kepada lessor.
Perjanjian leasing yang dapat dimanfaatkan untuk meminimalkan pembayaran pajak ialah leasing dengan hak opsi (financial leasing). Masa leasing untuk golongan I lebih besar dari 2 tahun, golongan II & III lebih besar dari 3 tahun dan Bangunan lebih besar dari 7 tahun.
Ketentuan perpajakan untuk leasing dengan hak opsi ( bagi lessee) :
1. Tidak boleh melakukan penyusutan atas barang modal yang disewakan, sampai saat lessee menggunakan hak opsi untuk membeli barang modal tersebut. Penyusutan dilakukan mulai tahun pajak digunakan hak opsi( penyusutan capital lease merupakan non deductible expense)
2. Dasar penyusutan yang dipakai setelah lessee menggunakan hak opsi untuk membeli barang modal tersebut adalah nilai sisa barang modal yang bersangkutan
3. Pembayaran sewa yang dibayarkan atau terutang, kecuali pembebanan atas tanah, merupakan biaya yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto sepanjag transaksi sewa tersebut dapat digolongkan sebagai sewa dengan hak opsi ( pembayaran angsuran capital lease merupakan biaya menurut pajak kecuali pembayaran opsi/ pembayaran terakhir, dibebankan sebagai cost aktiva)
4. Atas pembayaran sewa yang dibayarkan atau terutang oleh lessee tidak dilakukan pemotongan PPh Pasal 23. (Waluyo, 2010 )
Perencanaan pajak untuk pendanaan aktiva tetap yang baru adalah mempertimbangkan pembelian secara langsung (tunai atau kredit) atau leasing
Contoh kasus
PT ULI untuk meningkatkan produksi merencanakan menambah mesin B, dengan harga Rp. 1.000.000.000,00. Perusahaan sedang mempertimbangkan untuk membeli langsung atau menggunakan leasing dengan hak opsi. Mesin tersebut termasuk aktiva tetap kelompok II. Diketahui bunga deposito 16%, bunga pinjaman 20%, bunga leasing 22%. Jangka waktu leasing 4 tahun dan jaminan Rp. 100.000.000,00 (10% dari nilai mesin yang dileasing)
Tabel 2. 5
Perbandingan antara Membeli langsung Aktiva dengan Leasing
Keterangan Leasing dengan bunga 22% Beli secara tunai Nominal (Rp) PV(i=20%) (Rp) Nominal (Rp)
PV(i=20%) (Rp) Harga Perolehan Biaya sewa 1,361,062,562.40 947,345,479.29 Nilai opsi 100,000,000.00 100,000,000.00 Harga mesin 100,000,000,000.00 565,903,495.73 Jumlah 1,461,062,562.40 1,047,345,479.29 100,000,000,000.00 565,903,495.73 Jumlah yang boleh dibayarkan Biaya sewa 1,361,062,562.40 947,345,479.29 Biaya Penyusutan 100,000,000.00 27,290,875.01 1,000,000,000.00 565,903,495.73 Jumlah 1,461,062,562.40 974,636,354.30 1,000,000,000.00 565,903,495.73 PPh 25 % 438,318,768.72 292,390,906.29 300,000,000.00 169,771,048.72 Penghematan Pajak 138,318,768.72 122,619,857.57
Sumber data : Olahan penulis (2011)
Besarnya penghematan pajak apabila tingkat leasing 22 % dan tingkat bunga 20 % secara nominal adalah Rp. 138,318,768.72 ( selisih antara leasing Rp. 438,318,768.72 dengan beli secara tunai Rp. 300,000,000.00.) Sedangkan penghematan berdasarkan Present ValueI (PV) adalah Rp. 122,619,857.57 (Rp. 292,390,906.29 – Rp. 169,771,048.72)
d. Memaksimalkan Biaya-Biaya Fiskal
Pemaksilan biaya-biaya fiskal adalah berupa tindakan yang dilakukan dengan meningkatkan biaya-biaya yang dapat dikurangkan atau dialihkan. Peluang ini tercantum dalam pasal 6 ayat 1 Contoh : Perusahaan mengeluarkan sejumlah biaya untuk pendidikan karyawan dengan tujuan untuk mengurangi pendapatan kena pajak
Tabel 2. 6
Biaya Pendidikan Karyawan
Pendapatan Usaha Rp 3,825,000,000 Pendapatan Usaha Rp 3,825,000,000 Biaya usaha langsung Rp (2,805,000,000) Biaya usaha langsung Rp (2,805,000,000) Laba kotor Rp 6,630,000,000 Laba kotor Rp 6,630,000,000
Biaya usaha tidak langsung Biaya usaha tidak langsung
Biaya pemasaran Rp (19,040,000) Biaya pemasaran Rp (19,040,000) Biaya Adm & umum Rp (425,000,000) Biaya Adm & umum Rp (425,000,000) Biaya keperluan kantor Rp (136,000,000) Biaya keperluan kantor Rp (136,000,000) Biaya pemeliharaan Rp (76,500,000) Biaya pemeliharaan Rp (76,500,000) Biaya penyusutan Rp (144,500,000) Biaya penyusutan Rp (144,500,000) Total biaya usaha tidak
langsung Rp (801,040,000)
Total biaya usaha tidak
langsung Rp (801,040,000)
laba operasi Rp 5,828,960,000 laba operasi Rp 5,828,960,000 Pendapatan- Biaya lain-lain6t Pendapatan- Biaya lain-lain
Pendapatan lain-lain Rp 17,850,000 Pendapatan lain-lain Rp. 17,850,000 Biaya lain-lain Rp (255,000) Biaya lain-lain Rp. ( 255,000)
Biaya pendidikan Rp. (7, 650,000)
Total pendapatan - biaya Rp. 17, 595,000 Total pendapatan - biaya Rp 9,945,000
lain-lain lain-lain
Penghasilan kena pajak Rp.5, 846, 555, 000 Penghasilan kena pajak Rp 5,838,905,000
Hutang PPh(tarif Pasal 17) Hutang PPh(tarif Pasal 17)
25%x Rp 5,846,555,000.00 Rp. (1,461,638,750) 25% x Rp5,838,905,000.00 Rp(1,459,726,250) Laba bersih setelah pajak Rp. 4,384,916,250 Laba bersih setelah pajak Rp 4,379,178,750
Total Hutang PPh Rp. 1,461,638,750 Total Hutang PPh Rp 1,459,726,250
Penghematan Pajak Rp. 1.912.500,00
Berdasarkan perhitungan di atas, jika perusahaan mengeluarkan biaya pendidikan sebesar Rp. 7, 650,000 maka total hutang PPh yang harus ditanggung oleh perusahaan sebesar Rp 1,459,726,250 sedangkan jika perusahaan tidak mengeluarkan biaya pendidikan karyawan, maka total hutang PPh yang harus ditanggung oleh perusahaan sebesar Rp. 1,461,638,750. Sehingga total penghematan pajak yang dapat diperoleh jika perusahaan mengeluarkan biaya pendidikan karyawan sebesar Rp. 1.912.500,00 (Rp. 1,461,638,750 - Rp 1,459,726,250). Tarif pajak yang digunakan yaitu 25%.