• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penerapan Tema dalam Rancangan

BAB III ELABORASI TEMA

3.4 Penerapan Tema dalam Rancangan

Penerapan tema Green Architecture pada bangunan yang dirancang dapat dilakukan melalui berbagai cara sebagai berikut :

Mewujudkan suatu kawasan dengan perbandingan antara luas lahan hijau dengan lahan terbangun

Sesuai dengan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No.06/PRT/M/2007 tanggal 16 Maret 2007 tentang Pedoman Umum Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan dijelaskan bahwa perbandingan antara lahan hijau dengan lahan terbangun adalah 40 % : 60 %. Hal tersebut tercantum dalam KDH ( Koefisien Daerah Hijau ) yaiitu angka persentase perbandingan antara luas seluruh ruang terbuka di luar bangunan gedung diperuntukkan bagi pertamanan/penghijauan dan luas tanah perpetakan/daerah perencanaan yang dikuasai.

Dengan perencanaan sedemikian, diharapkan kualitas udara dan lingkungan yang tercipta akan asri dan sehat bagi pengguna bangunan. Selain itu, jumlah air yang kembali ke tanah akan lebih banyak.

Mengembangkan tata vegetasi yang baik

Tata vegetasi suatu kawasan juga sangat mempengaruhi kondisi lingkungan bangunan yang terdapat pada kawasan tersebut. Dengan adanya tata vegetasi yang baik diharapkan dapat memperbaiki iklim mikro dan mengurangi polusi udara terutama pada bangunan tempat manusia beraktivitas. Dengan adanya tata vegetasi yang baik dapat mengurangi emisi gas karbondioksida yang akan mengurangi dampak pemanasan global.

Mengembangkan bangunan hijau ( green building )

Dalam konsep Green Building terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu: a. Terintegrasi dengan alam,

b. Memperhatikan ekosistem lokal dengan perencanaan jangka panjang

c. Produk dari tindakan manusia dengan mempertimbangkan kualitas lingkungan baik fisik maupun sosial

d. Memenuhi kriteria LEED ( Leadership in Energy and Environtmental Design ) e. Menyelamatkan energi sekaligus memenuhi kebutuhan.

Melakukan Proses Recycle dan Reuse untuk air dan limbah

Untuk mewujudkan konsep green architecture perlu dilakukan proses pendaurulangan dan pemanfaatan kembali air dan limbah. Air yang di pakai pada bangunan akan di daur ulang kembali melalui proses water treatment dan di pakai kembali sehingga kita tidak perlu menggunakan air bersih dalam jumlah yang banyak. Begitu juga dengan limbah. Air limbah hasil buangan bangunan dapat ditreatment kembali dan dipakai untuk keperluan taman. Selain itu juga bisa dilakukan sistem penampungan air hujan yang kemudian akan digunakan untuk keperluan lanskap.

Strategi dalam menerapkan konsep green building pada desain bangunan yaitu sebagai berikut:

a. Pemanfaatan material yang berkelanjutan, b. Keterkaitan dengan ekologi lokal,

c. Keterkaitan antara transit dengan tempat tinggal, bekerja dan rekreasi, d. Efisiensi penggunaan air,

e. Mengedepankan kondisi lokal, baik secara fisik maupun sosial, f. Pendidikan sustainability melalui desain,

g. Memperkuat keterkaitan dengan alam, dan

h. Pemakaian kembali/renovasi bangunan Ketahanan bangunan melalui layout yang fleksibel.

Dalam mewujudkan konsep green building pada bangunan dapat dilakukan berbagai cara sebagai berikut :

Membuat atap hijau ( roof – garden atau green roof )

Green roof adalah atap bangunan yang ditanami oleh vegetasi atau media tanaman, dapat berupa taman, tempat rekreasi, ataupun kegiatan lainnya. Green roof membantu mengoptimalkan suhu udara sekitar bangunan dan mengurangi nilai suhu yang akan masuk ke dalam bangunan. Selain itu green roof juga menjadi media untuk mengembalikan air ke dalam tanah terbangun.

Gambar 38. Beberapa Bangunan yang Menggunakan Green Roof (Sumber: www.greenroofs.org)

Gambar 39. Lapisan Green Roof (Sumber: www.greenroofs.org)

Pencahayaan alami dengan menyediakan skylight, bukaan besar pada dinding.

Gambar 40. Skylight dan Bukaan Pada Dinding (Sumber: www.google.com)

 Pengudaraan alami

Ventilasi satu sisi:

Ruangan dengan jendela hanya di satu sisi. Udara dingin akan masuk, dan udara panas akan keluar dari jendela yang sama. Jenis ventilasi ini adalah jenis yang normal dan sering diterapkan, tetapi ini hanya berguna untuk kedalaman ruangan tertentu.

Gambar 41. Ventilasi Satu Sisi (Sumber: www.wikipedia.com)

Ventilasi satu sisi dengan dua bagian bukaan: Ventilasi ini lebih efisien dibandingkan dengan ventilasi satu sisi.

Gambar 42. Ventilasi Satu Sisi dengan Dua Bukaan (Sumber: www.wikipedia.com)

Ventilasi silang:

Untuk ventilasi silang, jendela terbuka di dua sisi yang saling berhadapan. Perbedaan tekanan digunakan dengan bangunan menghadap kearah angin

Gambar 43. Ventilasi Silang (Sumber: www.wikipedia.com)

Balok lantai dapat menyerap panas selama siang hari. Pada malam hari, suhu di luar bangunan berubah, pada saat inilah balok lantai mengeluarkan panas yang telah diserap, jadi pada siang hari, bangunan terasa sejuk. Ini yang dinamakan passive cooling.

Menggunakan teknologi photovoltaic, dan water filtration PHOTOVOLTAIC

 Penyaringan air (Water Filtration) Gambar 44. Stack Ventilation (Sumber: www.wikipedia.com)

Gambar 45. Passive Cooling (Sumber: www.wikipedia.com)

Gambar 46. Photovoltaic (Sumber: www.wikipedia.com)

Gambar 47. Bangunan yang Menggunakan Photoviltaic sebagai Fasad (Sumber: www.wikipedia.com)

Sumber air berasal dari air hujan. Air hujan sebelumnya akan ditampung kemudian disaring dan akan digunakan untuk keperluan penyiraman tanaman, mencuci, penyiraman pada kamar mandi, kolam hias, dan lainnya.

 Menggunakan material bangunan yang ramah lingkungan

Gambar 49. Bahan-bahan yang Ramah Lingkungan (Sumber: www.wikipedia.com)

Gambar 48. Diagram Sistem Penyaringan Air (Sumber: www.rainwaterharvesting.org)

Material yang akan digunakan untuk pembangunan sekolah ini adalah material yang ramah lingkungan dan memiliki dampak paling minimal terhadap lingkungan, seperti bambu, cat yang tidak mengandung zat beracun, dan lainnya. Material yang termasuk material ramah lingkungan adalah material yang tahan lama dan dapat didaur-ulang, material juga dapat berupa material yang member efek positif terhadap lingkungannya, seperti pada udara, tanah, dan air.

 Melakukan penanganan limbah bangunan secara efektif

Mengalihkan atau menggunakan kembali air limbah sebelum memasuki saluran limbah sentral akan meminimalisir beban dari utilitas pengolahan limbah sentral. Sebagai fungsi tambahan, limbah padat yang dihasilkan dapat digunakan langsung pada site sebagai sumber irigasi yang mengandung nutrisi yang berharga bagi tumbuhan atau sebagai bagian dari fitur desain di dalam tapak yang menarik. Air yang dialihkan dari saluran limbah, baik graywater maupun blackwater, yang memerlukan penanganan langsung yang berbeda. Graywater adalah air limbah yang dihasilkan dari penggunaan indoor seperti air cucian, shower, dan sink, dan dapat digunakan kembali dalam penyiraman toilet atau irigasi untuk membantu meminimalkan beban sistem pengolahan limbah dan untuk mengurangi total konsumsi air. Untuk memanfaatkan graywater, sistem pemipaan ganda harus diinstal untuk memisahkannya dengan blackwater, yang merupakan air limbah yang dihasilkan dari penyiraman toilet. Blackwater dapat diolah di tempat melalui sistem konvensional ataupun alternatif.

 Menggunakan perabot dalam bangunan yang hemat energi dan hemat pemakaian air Seiring teknologi yang berkembang, pada saat ini banyak perabot bangunan yang menggunakan konsep eco-friendly, dimana konsep ini adalah meminimalkan penggunaan, bahan dan material perabot terhadap lingkungan. Hal ini berarti bahwa perabot eco-friendly cocok digunakan untuk bangunan dengan tema Green Architecture.

Gambar 50. Perabot dengan Konsep Green (Sumber: www.wikipedia.com)

3.5 Studi Banding Tema Sejenis