• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN LITERATUR

C. Penerbitan Buku Islam Indonesia 1990-2000

Tradisi keilmuan Islam ini terus bergulir seiring dengan perjalanan waktu. Penerbitan buku Islam terus mengalami peningkatan pada tahun 1990-an. Bahkan makin marak pada awal tahun 2000. Penerbitan buku Islam di Indonesia telah berkembang baik dari sisi kuantitas dan kualitas isi dari pengetahuan sesuai konteks tersebut sejak tahun 1998. Buku terjemahan dalam konteks Islam seperti Marx tentang agama, karya Karen Amstrong mengenai Allah SWT dan Rasul-Nya, Muhammad SAW, buku-buku tentang sufisme dan lainnya melaju sesuai dengan publikasi dari pengembangan originalitas buku-buku Islam seperti Negara Tuhan: A thematic Encyclopedia oleh A.Maftuh Abegebriel, Sufism in Java: The role of the pesantren in the maintenance of Sufis in Java oleh Zulkifli. Judul-judul buku tersebut mengekspresikan isi pada tiap karya yang mencoba meraih pengembangan pengetahuan Islam seperti Sufisme atau Tassawuf. Bidang ilmu

dalam Islam ini pernah dilarang untuk diperbincangkan di depan publik sebelum tahun 1998 sampai pada pergantian rezim kekuasaan pemerintahan (Lawanda, 2006).

Keadaan ini amat berbeda dibandingkan pada jaman Orde Baru, ketika para pemikir dan aktivis Islam terpaksa diam-diam menerbitkan buku mereka. Dalam ulasan tentang perbukuan Islam di Indonesia, Peeters (1998) menyatakan, yang dikutip Pendit (2007), bahwa sejak 1980-an sebenarnya sudah ada upaya dari para intelektual yang baru pulang dari belajar di Timur Tengah untuk menerjemahkan karya-karya penulis Islam bagi kepentingan dakwah. Penerbit Ishlahy yang didirikan oleh Abdi Sumaithi (kini dikenal dengan sebutan Abu Ridho), seorang aktivis dakwah Islam, menerbitkan karya-karya Hasan Al Banna, Musthafa Masyhur, dan Sa’id Hawwa. Karya Sayyid Quthb, Ma’alim fit Thariq diterjemahkan sebagai Petunjuk Jalan oleh Rahman Zainuddin dan diterbitkan oleh Media Dakwah. Banyak dari buku ini kemudian masuk ke kampus dan menjadi buku bacaan inti dari para pendakwah yang berbasis di kampus.

Ketika pemerintahan Orde Baru menganggap gerakan-gerakan dakwah ini mengganggu ketertiban, penerbitan buku-buku Islam sempat terganggu dan oplah mereka pun terbatasi. Ketika Orde Baru tumbang, penerbit-penerbit buku Islam bermunculan kembali. Salah satu yang sukses dan bertahan sejak dulu adalah Penerbit Mizan dari Bandung.

Analisa mengenai perbukuan Islam Indonesia yang terkait dengan kondisi politik, sosial budaya dan ekonomi dengan dapat dilihat dari hal-hal di bawah ini:

Pertama, Era Reformasi juga menyentuh bidang informasi yang terlihat pada konteks kekuasaan penyelenggara negara. Pemerintahan pasca reformasi di Indonesia didominasi oleh para alim ulama (Kyai/Mullah), cendikiawan Muslim dan kelompok penganut demokrasi. Tampuk kekuasaan demikian mengubah pendekatan pemerintah dalam mendidik masyarakatnya. Dengan demikian, tingkat pendidikan semakin maju dan masyarakat semakin sadar kebutuhannya akan ilmu di era informasi kini. Tak hanya itu, situasi ini dapat ditunjukkan dengan adanya kebebasan dalam pengembangan serta akses ke sumber pengetahuan Islam. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya terbitan yang terkait dengan ataupun mengenai Islam telah diterbitkan sejak Era Reformasi dan pada saat itulah menjadi masa berkembangnya penerbitan buku Islam.

Kedua, masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama Islam semakin meningkat dalam hal kesadaran beragama. Masyarakat Muslim Indonesia mulai menunjukkan minat mereka untuk membaca buku-buku agama. Hal ini dikarenakan orang Indonesia ingin menemukan akar budayanya, yaitu Islam. Sejak dulu mereka beragama Islam tetapi belum sempat mendalaminya.14 Bukan saja buku-buku agama yang memuat petunjuk dan ajaran agama, tetapi segala macam buku yang berkaitan dengan Islam pun mulai mendapat tempat di pasaran. Kebebasan dalam menerbitkan buku dengan segala jenis isi ini ikut dipromosikan pula oleh majalah-majalah khusus Islam yang dapat mengalahkan kepopuleran majalah umum. Contohnya adalah majalah Sabili sebuah majalah yang diterbitkan pada tahun 1989 tetapi diberangus di masa Orde Baru, namun pada tahun

14

2000 bisa mencapai oplah 120.000 menyaingi majalah Tempo atau majalah populer Gadis. (Damanik: 2002)

Ketiga, penerjemahan buku-buku Islam menjadi kegiatan yang semarak dan digemari hasilnya oleh pembaca. Buku-buku Islam terjemahan menjadi populer dikarenakan pada masa Orde Baru masyarakat tidak dapat leluasa menuruti selera intelektualnya. Atas dasar itu, banyak penerbit memanfaatkan kesempatan ini menerbitkan buku-buku terjemahan. Hal ini dimaksudkan tidak hanya sebagai lahan bisnis yang menguntungkan, buku juga dianggap sebagai jembatan untuk mengetahui informasi atau perkembangan Islam di negara-negara lain. Buku-buku terjemahan yang dipasarkan di Indonesia sebagian besar berasal dari negeri-negeri Arab juga dari akademisi atau orientalis Barat. Tak hanya itu, ternyata buku-buku terjemahan juga menyemai lahirnya buku-buku Islam yang ditulis asli dalam bahasa Indonesia oleh para akademisi dan penulis di Indonesia. Kemudian pada akhirnya buku Islam menjadi media atas kebebasan belajar ilmu-ilmu Islam baik dalam format buku tercetak maupun format elektronik yang dikenal dengan sebutan electronic book atau e-book. (Lawanda: 2006)

2.4 Buku Islam pada Bibliografi Nasional Indonesia

Terbitan yang didaftar ke dalam Bibliografi Nasional Indonesia adalah buku, laporan penelitian, buku teks, bacaan anak-anak, terbitan pemerintah (pusat maupun daerah), risalah konferensi, terbitan berkala, dan peta, yang tidak dimasukkan adalah komik, poster, majalah hiburan dan karya lain yang tidak atau kurang memiliki nilai informasi atau sejarah. Semua publikasi tersebut diperoleh

dari hasil Undang Undang RI No. 4 tahun 1990, program hadiah, pembelian, dan tukar-menukar.

BNI mencatat cantuman informasi buku-buku yang terbit di Indonesia dan didaftarkan oleh penerbitnya dari seluruh subjek. Subjek-subjek buku tersebut didasarkan pada sistem klasifikasi yang digunakan ialah Dewey Decimal Classification, edisi ke 21. Selain itu, dipakai juga Perluasan dan Penyesuaian Notasi untuk beberapa bagian dalam Dewey Decimal Classification yang khusus berkaitan dengan Indonesia. 15

Penambahan jumlah penerbit Islam tentu berbanding lurus dengan pertambahan produksi buku-buku Islam, baik buku-buku terjemahan maupun karya-karya asli penulis Indonesia. Kemunculan buku-buku Islam tersebut semakin memperkaya khazanah intelektual muslim khususnya dan masyarakat Indonesia pada umumnya. Khazanah tersebut seharusnya terekam dan terkontrol secara baik melalui pengawasan bibliografi.

Dengan demikian, BNI juga meliputi pencatatan atau pengawasan bibliografi buku Islam yang terbit di Indonesia. Hal ini dikarenakan buku-buku Islam adalah produk budaya masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama Islam.

15

BAB III

Dokumen terkait