BAB III PERKEMBANGAN DAN ANALISIS PELAKSANAAN APBN TINGKAT REGIONAL…
3.2. PENDAPATAN PEMERINTAH PUSAT TINGKAT
3.2.1. Penerimaan Perpajakan…
Secara agregat, realisasi miliar yang dibagi menjadi persen dan Pajak Perdagangan Kontributor utama Pajak D disusul PPN sebesar 34,5
Migas, Pajak lainnya dan Cukai.
KAJIAN FISKAL REGIONAL TAHUN Kementerian Pertahanan naik sebesar 28,36 miliar dengan kenaikan pada Belanja Pegawai dan Belanja Barang.
an pada tahun 2019 mencapai Rp5.211,3 miliar penerimaan pajak sebesar Rp4.879,7 miliar dan PNBP sebesar
Capaian penerimaan pajak sampai akhir tahun 2019 tercatat mencapai 90,6 persen dari target. Meskipun penerimaan pajak tahun 2019 secara nominal menurun sebesar Rp69,80 miliar jika dibandingkan tahun 2018, namun dari sisi capaian terhadap target, penerimaan pajak tahun 2019 mengalami peningkatan sebesar 5,8 persen. K
PPh sebesar 52,0 persen atau sebesar Rp2,54 triliun.
sampai akhir tahun 2019 turun 2,3 persen terhadap realisasi PNBP tahun 2018, dengan penurunan terjadi pada PNBP dari BLU Rumah Sakit Bhayangkara
Dari sisi belanja, kinerja penyerapan tahun 2019 mencapai 96
rendah dibanding tahun 2018. Penurunan tingkat penyerapan ini terjadi pada belanja Transfer ke Daerah dan Dana Desa sedangkan pada belanja Pemerintah Pusat tingkat penyerapan naik 1,99 persen. Namun demikian, secara nominal penyerapan belanja Transfer ke Daerah dan Dana Desa maupun be Pemerintah Pusat meningkat, dengan peningkatan sebesar Rp772,5 miliar atau 3,4 persen dibanding tahun 2018, dengan realisasi belanja Transfer ke Daerah dan Dana
01,2 miliar atau 96,8 persen dari pagu, sedangkan usat sebesar Rp6.226,9 miliar atau 95,4 persen dari pagu
Apabila dibandingkan dengan capaian secara nasional, penerimaan pajak rovinsi Kalimantan Tengah hanya menyumbang 0,32 persen dan PNBP hanya berkontribusi 0,08 persen. Sedangkan penyerapan belanja di provinsi Kalimantan Tengah hanya 1,03 persen dari realisasi belanja negara secara nasional (data secara nasional sesuai realisasi APBN tahun 2019 yang dirilis Kantor Pusat DJPb pada website djpb.kemenkeu.go.id per 30 Januari 2020).
ENDAPATAN PEMERINTAH PUSAT TINGKAT REGIONAL
3.2.1. Penerimaan Perpajakan
Secara agregat, realisasi penerimaan pajak tahun 2019 sebesar Rp4. miliar yang dibagi menjadi Pajak Dalam Negeri sebesar Rp4,781,3 miliar
erdagangan Internasional sebesar Rp98,4 miliar atau 2,02 persen. Dalam Negeri bersumber dari PPh Non Migas 5
5 persen, PBB sebesar 11,4 persen dan sisanya dari PPh dan Cukai. Penyumbang Pajak Perdaganga
KAJIAN FISKAL REGIONAL TAHUN 2019
gan kenaikan pada Belanja
miliar, berasal dari dan PNBP sebesar Rp331,6 miliar. mencapai 90,6 persen dari target. Meskipun penerimaan pajak tahun 2019 secara nominal menurun sebesar Rp69,80 miliar jika dibandingkan tahun 2018, namun dari sisi capaian terhadap target, 5,8 persen. Kontribusi persen atau sebesar Rp2,54 triliun. Capaian PNBP sampai akhir tahun 2019 turun 2,3 persen terhadap realisasi PNBP tahun 2018, dengan penurunan terjadi pada PNBP dari BLU Rumah Sakit Bhayangkara
6,4 persen, yang Penurunan tingkat penyerapan ini terjadi pada belanja Transfer ke Daerah dan Dana Desa sedangkan pada belanja . Namun demikian, secara nominal penyerapan belanja Transfer ke Daerah dan Dana Desa maupun belanja Pemerintah Pusat meningkat, dengan peningkatan sebesar Rp772,5 miliar atau 3,4 Transfer ke Daerah dan Dana dari pagu, sedangkan belanja
dari pagu.
Apabila dibandingkan dengan capaian secara nasional, penerimaan pajak persen dan PNBP hanya rovinsi Kalimantan Tengah hanya 1,03 persen dari realisasi belanja negara secara nasional (data secara nasional sesuai realisasi APBN tahun 2019 yang dirilis Kantor Pusat DJPb pada
REGIONAL
sebesar Rp4.879,7 miliar atau 97,98 atau 2,02 persen. bersumber dari PPh Non Migas 53,1 persen, persen dan sisanya dari PPh erdagangan Internasional
KAJIAN FISKAL REGIONAL TAHUN terbesar adalah Bea Keluar seperti tergambar pada grafik I
Komposisi Penerimaan Pajak Pemerintah Pusat TA 201
Sumber : OM SPAN Kemenkeu
Penerimaan Pajak Dalam Negeri tahun 2019 mengalami penurunan sebesar 1,4 persen dari tahun sebelumnya, dengan perkembangan masing
sesuai grafik III.2.
Penerimaan PPh Non Migas relatif stagnan, hanya turun 0,05% yang dipengaruhi oleh penurunan pada PPh Pasal 22 Impor 92,9 persen, PPh Pasal 25/29 Badan 20,6 persen, dan PPh Non Migas Lainnya 32 persen. Namun PPh Pasal 21 PPh Pasal 23, PPh Pasal 25/29 Orang Pribadi dan PPh Final mengalami pertumbuhan masing dan 8,3 persen. Adapun penerimaan 21 menyumbang Rp915,9
miliar dan PPh Final sebesar Rp4 98.4
50 1,050 2,050 3,050
Pajak Perdagangan Internasional 2,02 %
Pajak Dalam Negeri 97,98 %
KAJIAN FISKAL REGIONAL TAHUN 2019
Bea Keluar 89,8 persen dan dari Bea Masuk sebesar 1 rafik III.1.
Grafik III.1
Komposisi Penerimaan Pajak Pemerintah Pusat TA 2019 (dalam miliar
Sumber : OM SPAN Kemenkeu
Penerimaan Pajak Dalam Negeri tahun 2019 mengalami penurunan sebesar 1,4 persen dari tahun sebelumnya, dengan perkembangan masing-masing jenis pajak
PPh Non relatif stagnan, hanya turun 0,05% yang dipengaruhi oleh urunan pada PPh Pasal PPh 6 dan PPh Non Migas Lainnya 32 persen. 21, PPh 25/29 Orang Final
Grafik III.2
Realisasi Penerimaan Pajak Dalam Negeri 2019 (dalam miliar rupiah)
Sumber : OMSPAN Kemenkeu
mengalami pertumbuhan masing-masing sebesar 9,9 persen, 15,2 persen
dan 8,3 persen. Adapun penerimaan terbesar dalam PPh Non Migas adalah PPh pasal 9 miliar, diikuti PPh Pasal 25/29 Badan sebesar Rp miliar dan PPh Final sebesar Rp455,2 miliar. Selanjutnya, penerimaan PBB tumbuh
4,781.4 4,050 5,050 Pajak Perdagangan Internasional 2,02 % 10.0 - 10.0 20.0 30.0 40.0 50.0 60.0 70.0 80.0 90.0 100.0 Bea Masuk 3.7 2,537.7 545.3 1,648.3 0 500 1,000 1,500 2,000 2,500 3,000 PPh Mig as PPh Non Mig as PBB PPN
asuk sebesar 10,2 persen,
9 (dalam miliar rupiah)
Penerimaan Pajak Dalam Negeri tahun 2019 mengalami penurunan sebesar masing jenis pajak
Dalam Negeri TA 2018 -
,2 persen, 16,8 persen terbesar dalam PPh Non Migas adalah PPh pasal asal 25/29 Badan sebesar Rp629,0 enerimaan PBB tumbuh 88.4 Bea Keluar 1,648.3 0.3 46.1 PPN Cukai Paja k Lai nnya
mencapai 36,14 persen, dengan realisasi penerimaan tahun 2019 untuk Perkebunan mencapai Rp2
dibanding tahun 2018, disusul
persen dengan realisasi sebesar Rp195,1 miliar atau 35,79 persen dan Kehutanan meningkat 6,33 persen dengan realisasi sebesar Rp59,4 m
persen. Penerimaan Cukai mengalami pertumbuhan lebih dari 2.500 persen menjadi sebesar Rp306,6 juta, hampir seluruhnya (97,7 persen) berasal dari denda administrasi cukai. Penerimaan
11,44 persen dibanding tahun 2018
PPN Impor turun 69,25 persen menjadi Rp570,9 juta, sedangkan PPN Dalam Negeri turun Rp209,8 miliar atau 11,32 persen menjadi sebesar Rp1.644,3 miliar
Berdasarkan data penerimaan pajak per kabupaten/kota dari Kanwil Direktorat Jenderal Pajak Kalselteng, realisasi penerimaan pajak di
adalah sebesar Rp4.303,6 miliar. Kontribusi penerimaan pajak tahun 2019 di Kalimantan Tengah yang tertinggi berasal dari
sebesar Rp1,04 triliun yang mencapai 24,08 persen dari total penerimaan pajak seluruh kabupaten/kota, menurun 14,1 persen dibanding tahun 2018. Di susul Kota Palangkaraya yang menyumbang 23,5
Tengah atau sebesar Rp1,01 triliun. Realisasi penerimaan pajak per Pemda di Kalimantan Tengah tergambar dalam
Realisasi Penerimaan Pajak Dalam Negeri
Sumber : Kanwil DJP Kalselteng
KAJIAN FISKAL REGIONAL TAHUN , dengan realisasi penerimaan tahun 2019 untuk Rp290,7 miliar atau 53,32 persen tumbuh sebesar 20,96 persen dibanding tahun 2018, disusul PBB Pertambangan Mineral dan Batubara
dengan realisasi sebesar Rp195,1 miliar atau 35,79 persen dan 33 persen dengan realisasi sebesar Rp59,4 m
Penerimaan Cukai mengalami pertumbuhan lebih dari 2.500 persen menjadi sebesar Rp306,6 juta, hampir seluruhnya (97,7 persen) berasal dari denda administrasi cukai. Penerimaan PPN pada tahun 2019 mengalami penurunan
dibanding tahun 2018. Penurunan PPN terjadi pada semua jenis PPN, PPN Impor turun 69,25 persen menjadi Rp570,9 juta, sedangkan PPN Dalam Negeri turun Rp209,8 miliar atau 11,32 persen menjadi sebesar Rp1.644,3 miliar
Berdasarkan data penerimaan pajak per kabupaten/kota dari Kanwil Direktorat Jenderal Pajak Kalselteng, realisasi penerimaan pajak di provinsi Kalimantan Tengah adalah sebesar Rp4.303,6 miliar. Kontribusi penerimaan pajak tahun 2019 di
engah yang tertinggi berasal dari Kab.Kotawaringin Barat
sebesar Rp1,04 triliun yang mencapai 24,08 persen dari total penerimaan pajak seluruh kabupaten/kota, menurun 14,1 persen dibanding tahun 2018. Di susul Kota Palangkaraya yang menyumbang 23,50 persen penerimaan pajak di Kalimantan Tengah atau sebesar Rp1,01 triliun. Realisasi penerimaan pajak per Pemda di Kalimantan Tengah tergambar dalam grafik III.3.
Grafik III.3
Realisasi Penerimaan Pajak Dalam Negeri per Pemda (dalam milar
KAJIAN FISKAL REGIONAL TAHUN 2019
, dengan realisasi penerimaan tahun 2019 untuk PBB 2 persen tumbuh sebesar 20,96 persen dan Batubara tumbuh 87,07 dengan realisasi sebesar Rp195,1 miliar atau 35,79 persen dan PBB 33 persen dengan realisasi sebesar Rp59,4 miliar atau 10,89 Penerimaan Cukai mengalami pertumbuhan lebih dari 2.500 persen menjadi sebesar Rp306,6 juta, hampir seluruhnya (97,7 persen) berasal dari denda penurunan sebesar terjadi pada semua jenis PPN, PPN Impor turun 69,25 persen menjadi Rp570,9 juta, sedangkan PPN Dalam Negeri turun Rp209,8 miliar atau 11,32 persen menjadi sebesar Rp1.644,3 miliar.
Berdasarkan data penerimaan pajak per kabupaten/kota dari Kanwil Direktorat rovinsi Kalimantan Tengah adalah sebesar Rp4.303,6 miliar. Kontribusi penerimaan pajak tahun 2019 di provinsi Kab.Kotawaringin Barat (Kobar) sebesar Rp1,04 triliun yang mencapai 24,08 persen dari total penerimaan pajak seluruh kabupaten/kota, menurun 14,1 persen dibanding tahun 2018. Di susul Kota 0 persen penerimaan pajak di Kalimantan Tengah atau sebesar Rp1,01 triliun. Realisasi penerimaan pajak per Pemda di
KAJIAN FISKAL REGIONAL TAHUN Penerimaan pajak di Kobar
PPh Pasal 25/29 Badan, sedangkan untuk K sebagian besar diperoleh dari PPN
Pemda dengan kontribusi pajak terendah adalah Kab. hanya berkontribusi 1,07 persen
Pisau menurun sebesar Rp31,09 miliar atau 40,3 persen dari tahun sebelumnya. Berbeda dengan tahun 2018 di
bendahara dana desa dan bendahara SOPD agar mentaati ketentuan perpajakan dalam pembayaran dan pelaporan
Pada tahun 2019 ini penurunan penerimaan pajak di Kab. menjadikannya sebagai p
provinsi Kalimantan Tengah. Perkembangan pajak
2019 relatif stagnan dibanding tahun sebelumnya. Sejak tahun 2015 sa tahun 2018 ekspor dan impor
Sedangkan pada tahun 2019, ekspor masih meningkat, namun terjadi penurunan impor. Hal tersebut berpengaruh pada perkembangan pajak perdagangan internasional di provinsi Kalimantan Tengah sebagaimana
Grafik I
Realisasi Penerimaan Pajak Perdagangan TA 2015 – 201
Sumber : OMSPAN Kemenkeu
sebagian besar bersumber dari ekspor bahan bakar mineral (batubara), lemak dan minyak nabati (CPO kelapa
kontribusi 10,16 persen atau 48,72 persen dari tahun 201 Kalimantan Tengah. Adapun impor komoditas untuk komponen mesin
KAJIAN FISKAL REGIONAL TAHUN 2019
Penerimaan pajak di Kobar sebagian besar bersumber dari PPN Dalam Negeri , sedangkan untuk Kota Palangkaraya penerimaan pajhak diperoleh dari PPN Dalam Negeri dan PPh Pasal 21.
Pemda dengan kontribusi pajak terendah adalah Kab. Pulang Pisau yang hanya berkontribusi 1,07 persen atau Rp46 miliar. Penerimaan pajak di kab. Pulang Pisau menurun sebesar Rp31,09 miliar atau 40,3 persen dari tahun sebelumnya. Berbeda dengan tahun 2018 dimana Kab. Pulang Pisau melalui pendampingan kepada bendahara dana desa dan bendahara SOPD agar mentaati ketentuan perpajakan dalam pembayaran dan pelaporan telah dapat meningkatkan penerimaan pajaknya.
ada tahun 2019 ini penurunan penerimaan pajak di Kab.
pemda dengan penurunan penerimaan pajak terbesar di rovinsi Kalimantan Tengah.
ajak Perdagangan Internasional di Kalimantan Tengah 2019 relatif stagnan dibanding tahun sebelumnya. Sejak tahun 2015 sa
tahun 2018 ekspor dan impor provinsi Kalimantan Tengah terus meningkat. Sedangkan pada tahun 2019, ekspor masih meningkat, namun terjadi penurunan impor. Hal tersebut berpengaruh pada perkembangan pajak perdagangan internasional
imantan Tengah sebagaimana grafik.III.4.
Grafik III.4
Realisasi Penerimaan Pajak Perdagangan Internasional 2019 (dalam miliar rupiah)
Pendapatan Bea Keluar mengalami peningkatan 11,76 persen atau senilai Rp88,4 miliar
berkontribusi sebesar 89,84 persen dari total penerimaan sebesar Rp98,4 miliar. Pendapatan Bea Keluar
sebagian besar bersumber dari ekspor bahan bakar mineral (batubara), lemak dan kelapa sawit). Sedangkan penerimaan bea masuk memberi persen atau senilai Rp10 miliar. Bea masuk mengalami pe
persen dari tahun 2018 seiring dengan menurunnya impor di Provinsi Adapun impor provinsi Kalimantan Tengah terutama
untuk komponen mesin mekanik.
Dalam Negeri dan penerimaan pajhak
Pulang Pisau yang Penerimaan pajak di kab. Pulang Pisau menurun sebesar Rp31,09 miliar atau 40,3 persen dari tahun sebelumnya. pendampingan kepada bendahara dana desa dan bendahara SOPD agar mentaati ketentuan perpajakan ningkatkan penerimaan pajaknya. Pulang Pisau emda dengan penurunan penerimaan pajak terbesar di
nternasional di Kalimantan Tengah tahun 2019 relatif stagnan dibanding tahun sebelumnya. Sejak tahun 2015 sampai dengan rovinsi Kalimantan Tengah terus meningkat. Sedangkan pada tahun 2019, ekspor masih meningkat, namun terjadi penurunan impor. Hal tersebut berpengaruh pada perkembangan pajak perdagangan internasional
Pendapatan Bea Keluar mengalami peningkatan 11,76 persen atau senilai Rp88,4 miliar dan berkontribusi sebesar 89,84 persen dari total penerimaan sebesar Rp98,4 miliar. Pendapatan Bea Keluar
sebagian besar bersumber dari ekspor bahan bakar mineral (batubara), lemak dan masuk memberi miliar. Bea masuk mengalami penurunan 8 seiring dengan menurunnya impor di Provinsi terutama berupa impor
Salah satu parameter untuk mengukur kinerja perpajakan diukur dengan
ratio. Tax ratio dihitung berdasarkan jumlah penerimaan pajak dibagi dengan PDRB.
Rata-rata tax ratio provinsi Kalimantan Tengah d
PDRB provinsi Kalimantan Tengah sejak tahun 2015 selalu mengalami
Hal tersebut menunjukkan nilai tambah barang dan jasa yang dihasilkan dari semua kegiatan perekonomian di Kalimantan Tengah selalu meningkat
terhadap membaiknya tingkat pertumbuhan ekonomi. Secara ideal, semakin tinggi tingkat pertumbuhan ekonomi suatu daerah seharusnya merupakan potensi penerimaan bagi daerah tersebut. Apabila dihubungkan dengan
ekonomi seharusnya berkorelasi positif terhadap peningkatan kinerja perpajakan.
Sesuai grafik III.5, tax
ratio wilayah Kalimantan
Tengah mengalami penurunan sejak 2015. Pada tahun 2015 tax
ratio 4,4 persen, terus
menurun terakhir pada tahun 2019 tax ratio Kalimantan Tengah di angka 3,2 persen. Dalam masa lima tahun
tax ratio mengalami penurunan 1,2 persen. Dengan kondisi tersebut, a
potensi perpajakan dalam perekonomian masyarakat yang belum tersentuh pajak
melaporkan kewajiban perpajakan melalui Surat Pemberitahuan Pajak (SPT) Sebagaimana uraian di atas,
Rp4.879,7 merupakan pencatatan realisasi pendapatan pajak berdasarkan pendapatan pajak yang diterima di wilayah setempat sesuai pencatatan Ditjen Perbendaharaan selaku Kuasa BUN. Sedangka
fiskus, realisasi pajak berdasarkan kode NPWP dalam lingkup KPP di Provinsi Kalimantan Tengah mencapai Rp4.303,6 miliar. Hal tersebut menggambarkan adanya potensi-potensi ekonomi di
menghasilkan pendapatan namun belum dapat berkontribusi pada penerimaan di Kalimantan Tengah. Terdapat lebih dari Rp576,1 miliar potensi penerimaan pajak yang seharusnya dapat tercatat sebagai penerimaan
KAJIAN FISKAL REGIONAL TAHUN Salah satu parameter untuk mengukur kinerja perpajakan diukur dengan
dihitung berdasarkan jumlah penerimaan pajak dibagi dengan PDRB. rovinsi Kalimantan Tengah dalam lima tahun terakhir 3,
imantan Tengah sejak tahun 2015 selalu mengalami
Hal tersebut menunjukkan nilai tambah barang dan jasa yang dihasilkan dari semua kegiatan perekonomian di Kalimantan Tengah selalu meningkat sehingga berpengaruh terhadap membaiknya tingkat pertumbuhan ekonomi. Secara ideal, semakin tinggi tingkat pertumbuhan ekonomi suatu daerah seharusnya merupakan potensi penerimaan bagi daerah tersebut. Apabila dihubungkan dengan tax ratio
omi seharusnya berkorelasi positif terhadap peningkatan kinerja perpajakan.
Grafik III.5
Perkembangan Tax Ratio Kalimantan Tengah
Sumber : OMSPAN Kemenkeu
mengalami penurunan 1,2 persen. Dengan kondisi tersebut, artinya masih ada potensi perpajakan dalam perekonomian masyarakat di provinsi Kalimantan Tengah yang belum tersentuh pajak, termasuk juga terkait ketaatan para wajib pajak untuk melaporkan kewajiban perpajakan melalui Surat Pemberitahuan Pajak (SPT)
aimana uraian di atas, realisasi penerimaan pajak tahun 201
merupakan pencatatan realisasi pendapatan pajak berdasarkan pendapatan pajak yang diterima di wilayah setempat sesuai pencatatan Ditjen Perbendaharaan selaku Kuasa BUN. Sedangkan sesuai catatan Ditjen Pajak selaku fiskus, realisasi pajak berdasarkan kode NPWP dalam lingkup KPP di Provinsi Kalimantan Tengah mencapai Rp4.303,6 miliar. Hal tersebut menggambarkan adanya
potensi ekonomi di provinsi Kalimantan Tengah yang telah
menghasilkan pendapatan namun belum dapat berkontribusi pada penerimaan di Kalimantan Tengah. Terdapat lebih dari Rp576,1 miliar potensi penerimaan pajak yang seharusnya dapat tercatat sebagai penerimaan provinsi Kalimantan Tengah, sehingga
KAJIAN FISKAL REGIONAL TAHUN 2019
Salah satu parameter untuk mengukur kinerja perpajakan diukur dengan tax dihitung berdasarkan jumlah penerimaan pajak dibagi dengan PDRB. alam lima tahun terakhir 3,7 persen. imantan Tengah sejak tahun 2015 selalu mengalami peningkatan. Hal tersebut menunjukkan nilai tambah barang dan jasa yang dihasilkan dari semua sehingga berpengaruh terhadap membaiknya tingkat pertumbuhan ekonomi. Secara ideal, semakin tinggi tingkat pertumbuhan ekonomi suatu daerah seharusnya merupakan potensi
tax ratio pertumbuhan
omi seharusnya berkorelasi positif terhadap peningkatan kinerja perpajakan.
Kalimantan Tengah
rtinya masih ada rovinsi Kalimantan Tengah ketaatan para wajib pajak untuk melaporkan kewajiban perpajakan melalui Surat Pemberitahuan Pajak (SPT).
pajak tahun 2019 sebesar merupakan pencatatan realisasi pendapatan pajak berdasarkan pendapatan pajak yang diterima di wilayah setempat sesuai pencatatan Ditjen n sesuai catatan Ditjen Pajak selaku fiskus, realisasi pajak berdasarkan kode NPWP dalam lingkup KPP di Provinsi Kalimantan Tengah mencapai Rp4.303,6 miliar. Hal tersebut menggambarkan adanya rovinsi Kalimantan Tengah yang telah dapat menghasilkan pendapatan namun belum dapat berkontribusi pada penerimaan di Kalimantan Tengah. Terdapat lebih dari Rp576,1 miliar potensi penerimaan pajak yang rovinsi Kalimantan Tengah, sehingga
KAJIAN FISKAL REGIONAL TAHUN
dapat menambah bagi hasil pajak di
pajak tersebut tentunya dapat direalisasikan, salah satunya melalui sinergi antara instansi DJP bersama p
kebijakan khusus terhadap w