BAB II KAJIAN TEORI
A. Kerangka Teoritis
2. Penerimaan Peserta Didik Baru
a. Pengertian Penerimaan Peserta Didik Baru
Penerimaan peserta didik baru merupakan langkah awal manajemen peserta didik dalam mengelola dan memilih calon peserta didik yang unggul, mempunyai potensi dan berkualitas untuk dijadikan input sekolah melalui syarat dan seleksi yang telah di rancang oleh sekolah tersebut. Penerimaan peserta didik menurut Mustari merupakan proses pendataan dan pelayanan kepada peserta didik yang baru masuk sekolah, setelah mereka memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan sekolah menjelang tahun ajaran baru.14
Menurut Rohiat, penerimaan siswa merupakan proses pelayanan dan pencatatan siswa dalam penerimaan siswa baru, setelah melalui seleksi masuk siswa baru dengan persyaratan-persyaratan yang telah ditentukan dan terdapat beberapa kegiatan yang dilakukan seperti penetapan daya tampung, penetapan persyaratan siswa yang akan di terima, dan pembentukan panitia
14 Muhammad Rifa‟I, Manajemen Peserta Didik (Pengelolaan Peserta Didik Untuk Efektivitas Pembelajaran), (Medan: CV. Widya Puspita, 2018), h. 34
penerimaan siswa baru.15 Jadi definisi penerimaan peserta didik baru adalah suatu proses pencarian atau penarikan peserta didik sebagai input sekolah dengan melihat potensi yang dimilikinya melalui seleksi yang sudah ditetapkan oleh pihak sekolah maupun pemerintah.
Dengan adanya seleksi sekolah dapat menentukkan peserta didik mana yang dapat masuk di sekolah tersebut sesuai dengan hasil seleksi. Dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional Bab III pasal 7 yaitu penerimaan seseorang sebagai peserta didik dalam suatu satuan pendidikan harus di selenggarakan dengan tidak membedakan jenis kelamin, agama, suku, ras, kedudukan sosial dan tingkat kemampuan ekonomi dan dengan tetap mengindahkan kekhususan satu pendidikan yang bersangkutan.16
Sedangkan menurut permendiknas nomor 19 tahun 2007, penerimaan peserta didik sekolah atau madrasah dilakukan :17
1) Secara objektif, transparan dan akuntabel sebagaimana tertuang dalam aturan sekolah atau madrasah
2) Tanpa diskriminasi atas dasar pertimbangan gender, agama, etnis, status sosial, kemampuan ekonomi bagi SD/MII,
15 Rohiat, Manajemen Sekolah: Teori Dasar dan Praktik, (Bandung: PT. Refika Aditma, 2012), h. 25
16 Departemen Agama RI, Undang-Undang Tentang Sistem Pendidikan Nasional Dan Peraturan Pelaksanaannya
17 Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 19 tahun 2007 Tentang Standar Pengelolaan Pendidikan
17
SMP/MTS penerima subsidi dari pemerintah dan/atau pemerintah daerah
3) Berdasarkan kriteria hasil ujian nasional bagi SMA/SMK, MA/MAK dan kriteria tambahan bagi SMK/MAK
4) Sesuai dengan daya tampung sekolah atau madrasah
Dengan kata lain penerimaan peserta didik baru harus dilakukan tanpa adanya diskriminasi dalam hal apapun, karena setiap warga negara mempunyai hak yang sama dalam memperoleh pendidikan yang bermutu. Maka dari itu pihak sekolah memberikan kesempatan semua peserta didik untuk mendaftar dan mengikuti proses seleksi. Dengan diberikannya kesempatan kepada semua orang untuk mengikuti seleksi, maka akan memberikan peluang yang besar untuk sekolah dalam mendapatkan peserta didik yang bermutu sesuai dengan harapan sekolah.
b. Tujuan dan Prinsip Penerimaan Peserta Didik Baru
Penerimaan peserta didik diadakan untuk memberi peluang yang seluas-luasnya kepada warga negara usia sekolah agar dapat memperoleh layanan pendidikan yang sebaik-baiknya. Tujuan penerimaan peserta didik baru adalah memberikan layanan bagi anak usia sekolah atau lulusan untuk memasuki satuan pendidikan yang lebih tinggi secara tertib, terarah dan berkualitas.18 Penerimaan peserta didik ini juga bertujuan untuk mendapatkan peserta didik
18 Rifa‟I, Loc.Cit
sesuai dengan syarat yang sudah ditetapkan oleh sekolah agar calon peserta didik dapat diterima dan ditempatkan ditempat yang cocok sesuai dengan kemampuan yang dimiliki agar peserta didik dapat mengembangkan potensi tersebut di sekolah.
Adapun prinsip penerimaan peserta didik baru meliputi:
1) Semua anak usia sekolah memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan pada satuan pendidikan yang lebih tinggi
2) Tidak ada penolakan penerimaan peserta didik baru bagi yang memenuhi syarat, kecuali jika daya tampung di sekolah yang bersangkutan tidak mencukupi dan ketentuan waktu proses penerimaan peserta didik baru telah berakhir
3) Sejak awal pendaftaran calon peserta didik dapat menentukan pilihannya ke sekolah negeri atau sekolah swasta
c. Asas Penerimaan Peserta Didik Baru
Dalam penerimaan siswa baru, sekolah juga dituntut untuk memahami dan menjunjung asas-asas dalam pelaksanaan penerimaan siswa baru. Asas-asas yang harus diperhatikan oleh sekolah antara lain:19
19 Nizarman, “Manajemen Penerimaan Siswa Baru”, Manajer Pendidikan, Vol. 9, No. 2, (2015), h. 225
19
1) Objektif, artinya bahwa penerimaan peserta didik baik siswa baru maupun pindahan harus memenuhi ketentuan umum yang telah ditetapkan.
2) Transparan, artinya penerimaan peserta didik baru bersifat terbuka dan dapat diketahui oleh masyarakat termasuk orang tua siswa untuk menghindarkan penyimpangan-penyimpangan yang mungkin terjadi.
3) Akuntabel, artinya penerimaan peserta didik baru dapat dipertanggung jawabkan kepada masyarakat baik prosedur maupun hasilnya.
4) Tidak diskriminatif, artinya penerimaan peserta didik baru dilaksanakan tanpa membedakan suku, agama, ras dan golongan, kecuali sekolah dengan karakteristik yang tersendiri misalnya MI, MTs dan MA yang siswanya harus beragama Islam.
5) Kompetitif, artinya penerimaan peserta didik baru dilakukan melalui seleksi berdasarkan nilai-nilai yang diperoleh calon siswa dari setiap tahapan seleksi sesuai dengan pembobotan yang sudah ditetapkan.
Sejalan dengan Keputusan Direktur Jendral Pendidikan Islam Nomor 7292 Tahun 2020 Tentang Petunjuk Teknis Penerimaan Peserta Didik Baru pada Raudhatul Athfal, Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah dan Madrasah Aliyah
Kejuruan Tahun Pelajaran 2021/2022, bahwa dalam penerimaan peserta didik baru pada madrasah harus memenuhi asas: 20o bjektivitas, transparansi, akuntabilitas, tidak diskriminatif dan kompetitif.
d. Kriteria Penerimaan Peserta Didik Baru
Dalam penerimaan peserta didik baru terdapat kriteria untuk menentukan bisa atau tidaknya seseorang diterima sebagai peserta didik. Kriteria penerimaan peserta didik baru tersebut terdapat tiga macam yaitu: 21
1) Kriteria acuan patokan (standard criterian referenced) yaitu suatu penerimaan peserta didik yang didasarkan atas patokan-patokan yang ditentukan sebelumnya. Dalam hal ini sekolah membuat patokan terlebih dahulu yang sudah disepakati dalam rapat penerimaan peserta didik baru untuk calon peserta didik dengan kemampuan minimal setingkat dengan sekolah yang menerima peserta didik. Patokan yang dibuat pihak sekolah untuk memperoleh peserta didik yang mengacu pada tujuan dan harapan sekolah. Konsekuensi dari penerimaan peserta didik yang didasarkan pada kriteria acuan patokan adalah jika seluruh calon peserta didik yang mengikuti seleksi memenuhi
20 Keputusan Direktur Jendral Pendidikan Islam Nomor 7292 Tahun 2020 Tentang Petunjuk Teknis Penerimaan Peserta Didik Baru pada Raudhatul Athfal, Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah dan Madrasah Aliyah Kejuruan Tahun Pelajaran 2021/2022
21 Ali imron, Manajemen Peserta Didik Berbasis Sekolah, (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2016), h. 46
21
patokan minimal yang ditentukan maka peserta didik harus diterima semua. Sebaliknya jika calon peserta didik yang mendaftar kurang memenuhi patokan minimal yang telah ditentukan, maka peserta didik akan tidak diterima.
2) Kriteria acuan norma (norm criterian referenced) yaitu penerimaan calon peserta didik yang didasarkan atas keseluruhan prestasi calon peserta didik yang mengikuti seleksi. Dalam hal ini sekolah menetapkan kriteria penerimaan berdasarkan prestasi keseluruhan peserta didik. Keseluruhan prestasi peserta didik dijumlah, kemudian dicari rata-ratanya.
Calon peserta didik yang nilainya diatas rata-rata, digolongkan sebagai calon yang dapat diterima sebagai calon peserta didik.
Sementara yang berada dibawah rata-rata termasuk peserta didik yang tidak diterima. Biasanya dalam hal ini kriteria ini dipakai oleh sekolah-sekolah unggulan yang menggunakan proses seleksi ketat untuk dapat menyaring input-input yang berkualitas.
3) Kriteria yang didasarkan atas daya tampung sekolah. Dalam hal ini sekolah terlebih dahulu menentukan berapa jumlah daya tampungnya atau berapa jumlah calon peserta didik baru yang akan diterima. Kriteria yang berdasarkan daya tampung ini disesuaikan kemampuan sekolah untuk menampung calon peserta didik. Biasanya penentuan daya tampung calon peserta
didik dilakukan oleh panitia penerimaan calon peserta didik dengan melakukan analisa kebutuhan melalui analisa sarana prasarana yang tersedia, analisa guru yang ada dan rasio kelas yang tersedia. Setelah sekolah menentukan, kemudian merangking prestasi peserta didik mulai dari yang berprestasi paling tinggi sampai dengan prestasi yang paling rendah sampai daya tampung tersebut terpenuhi. Jika ditemukan kesamaan rangking pada calon peserta didik sedangkan mereka sama-sama berada dirangking kritis penerimaan, sekolah dapat mengambil kebijakan lain melalui tes ulang atas peserta didik yang rangkingnya sama tersebut atau dapat pula menangguhkan penerimaan mereka dengan menempatkan dalam cadangan, dengan catatan jika sewaktu-waktu ada calon peserta didik yang rangkingnya berada diatasnya mengundurkan diri yang bersangkutan dipanggil untuk mengisi formasi tersebut. Alternatif yang akan dipilih tentunya harus disepakati bersama dengan tenaga kependidikan di sekolah sejak awal perencanaan, sebab dengan penetapan demikian terlebih dahulu telah terdapat kesepakatan bersama antara para personalia sekolah yang lainnya. Disinilah pentingnya rapat penerimaan peserta didik baru.
23
e. Prosedur dalam Pelaksanaan Penerimaan Peserta Didik Baru Penerimaan peserta didik termasuk salah satu aktivitas penting dalam proses belajar mengajar disekolah karena penerimaan ini menentukan beberapa kualitas input yang dapat diterima oleh sekolah tersebut. Maka perlu adanya prosedur dalam pelaksanaan penerimaan peserta didik baru disekolah. Adapun kebijakan penerimaan siswa baru berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia nomor 51 Tahun 2018 penerimaan peserta didik baru pada taman kanak-kanak, sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas dan sekolah menengah kejuruan. Pada Bab II Pasal 4 bahwa kebijakan dalam pelaksanaan penerimaan siswa baru di mulai dari tahap, pengumuman pendaftaran penerimaan calon peserta didik baru pada sekolah yang bersangkutan yang dilakukan secara terbuka, pendaftaran, seleksi sesuai dengan jalur pendaftaran, pengumuman penetapan siswa baru dan daftar ulang.22
Secara umum alur seleksi penerimaan peserta didik baru yang ideal berlangsung sebagai berikut:23 (a) Pada tahap awal pihak sekolah atau lebih khusus panitia yang telah ditunjuk, menentukan banyaknya murid yang akan diterima, baik untuk kelas 1 maupun
22 Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 51 Tahun 2018 Penerimaan Peserta Didik Baru Pada Taman Kanak-kanak, Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas, Dan Sekolah Menengah Kejuruan Pada Bab II Pasal 4
23Adri Efferi, “Strategi Rekrutmen Peserta Didik Baru Untuk Meningkatkan Keunggulan Kompetitif di MA Nahdlotul Muslimin Undaan Kudus”, Jurnal Penelitian Pendidikan Islam, Vol.
14, No. 1, (2019), h. 35
kelas lainnya kalau memang dimungkinkan oleh peraturan yang berlaku, dan yang tidak kalah pentingnya ketersediaan kelas dan sarana penunjang proses pembelajaran. (b) Menentukan syarat-syarat penerimaan. (c) Mengadakan pengumuman, menyiapkan soal-soal tes untuk seleksi dan menyiapkan tempat seleksi. (d) Melaksanakan penyaringan melalui tes tertulis maupun lisan. (e) Mengadakan pengumuman penerimaan. (f) Mendaftar kembali calon siswa yang diterima. (g) Melaporkan hasil pekerjaan kepada pimpinan sekolah.
Proses penerimaan peserta didik baru (PPDB) dalam buku Juhaeti Yusuf dan Yetri secara sistematis dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:24
1) Pembentukan panitia penerimaan peserta didik baru (PPDB) atau penerimaan siswa baru (PSB) yang juga sering disebut penermiaan murid baru (PMB).
Menurut Mulyasa, kepala sekolah atau pihak yang diberi wewenang, setelah menganalisis daya tampung peserta didik membentuk satuan panitia yang bertugas menerima peserta didik baru mulai proses awal pendaftaran hingga teradaptasinya peserta didik baru yang diterima di lingkungan sekolah. Panitia bertugas membantu kepala sekolah dalam segala urusan yang berkenaan dengan proses penerimaan peserta didik baru, seperti membuat kebijakan sistem
24 Juhaeti Yusuf & Yetri, Himmah Spiritual Sebagai Alternatif Penegakan Disiplin dalam Program Manajemen Peserta Didik, (Lampung: CV. Gre Publishing, 2019), h. 59-61
25
penerimaan murid baru, yang meliputi kuota, kriteria, prosedur, dan menyiapkan perangkat tes untuk menyaring peserta didik baru. Karenanya, panitia sepenuhnya bertanggung jawab kepada kepala sekolah dan melaporkan kinerjanya kepada kepala sekolah. Untuk itu kepala sekolah menerbitkan surat keputusan (SK) yang berisikan penetapan dan pengangkatan panitia PPDB. Susunan kepanitiaan lazimnya jabatan ketua diserahkan kepada wakil kepala sekolah bidang kesiswaan.
2) Pendaftaran Calon Peserta Didik Baru
Kegiatan pendaftaran peserta didik baru dimulai dengan sosialisasi atau pengumuman yang dikeluarkan oleh panitia PPDB tentang segala informasi berkenaan akan pendaftaran peserta didik baru. Pengumuman tersebut meliputi profil lembaga, tawaran program yang disediakan, biaya pendidikan, syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh calon peserta didik baru, tempat pendaftaran, waktu pendaftaran, waktu ujian seleksi masuk, pengumuman hasil ujian, dan waktu pengumuman penetapan calon peserta didik yang diterima.
3) Penyaringan Calon Peserta Didik Baru
Penyeleksian peserta didik baru sering juga disebut dengan penyaringan peserta didik baru. Hal ini penting dilakukan untuk memberi batasan jumlah peserta didik yang
dapat ditampung berdasarkan analisis daya tampung yang sudah dilakukan sebelumnya. Selain itu penyaringan juga dilakukan untuk menyaring peserta didik yang secara kemampuan akademis adalah calon terbaik untuk belajar di suatu lembaga pendidikan. Kedua pertimbangan tersebut saling terkait. Pada sekolah-sekolah favorit hal ini benar-benar dilaksanakan secara konsekuen. Akan tetapi pada sekolah yang kurang mendapat apresiasi dari masyarakat, umumnya tidak membatasi nilai kemampuan akademis calon peserta didik baru. Pada kasus sekolah semacam ini pertimbangan utama penyaringan peserta didik baru adalah daya tampung lembaga, meskipun pertimbangan di bidang ini juga sering kali di kesampingkan. Seleksi calon peserta didik baru dilakukan dalam dua tahap yaitu, tahap pertama adalah sekelsi administratif yang meliputi standar Nilai Ujian Akhir Sekolah atau Madrasah (NUAS/M) yang didapatkan pada jenjang lembaga pendidika sebelumnya dan berkas persyaratan lain yang diperlukan sesuai dengan ketentuan masing-masing lembaga. Sedangkan tahap kedua adalah tahap pelaksanaan ujian masuk. Ditahap ini kebijakan masing-masing lembaga sangat bervariatif sesuai kondisi dan kebijakan lembaga yang terkait. Pada kebanyakan lembaga pendidikan yang kurang favorit pelaksanaan ujian masuk cenderung tidak diadakan
27
mengingat jumlah peminat calon peserta didik baru sering tidak memenuhi kuota yang disediakan.
4) Pengumuman Calon Peserta Didik Baru yang Diterima Guna melegalkan pengumuman calon peserta didik baru yang diterima di sebuah lembaga pendidikan, pemimpin lembaga tersebut menerbitkan pengumuman secara resmi dan sah secara yuridis. Pada pengumuman itu dicantumkan daftar para calon peserta didik yang diterima sebagai peserta didik tetap serta daftar calon peserta didik cadangan untuk mengantisipasi kemungkinan adanya calon peserta didik tetap yang mengundurkan diri atau tidak jadi meneruskan studinya di lembaga pendidikan terebut.
5) Pencatatan Data Peserta Didik Baru dalam Buku Klapper dan Buku Induk
Buku klapper berisi data lengkap peserta didik dalam satu tahun pelajaran berdasarkan huruf abjad nama peserta didik pada masing-masing tingkatan kelas. Sedangkan buku induk berisi data lengkap peserta didik secara keseluruhan sejak awal pendirian sebuah lembaga pendidikan.
Adapun langkah-langkah rekrutmen atau penerimaan peserta didik baru dalam buku Rifa‟i adalah sebagai berikut:25
25 Rifa‟I,Op.Cit., h. 38-40
1) Pembetukan panitia penerimaan siswa baru
Kegiatan pertama yang harus dilakukan oleh kepala sekolah dalam penerimaan peserta didik baru adalah pembentukan panitia. Panitia ini dibentuk, dengan maksud agar secepat mungkin melaksanakan pekerjaanya. Panitia yang sudah dibentuk, umumnya di formalkan dengan menggunakan Surat Keputusan (SK) Kepala Sekolah. Susunan panitia penerimaan peserta didik baru dapat mengambil alternatif sebagai berikut:
a) Ketua umum. Bertanggung jawab secara umum atas pelaksanan peserta didik baru, baik yang sifatnya ke dalam, maupun keluar
b) Ketua Pelaksana. Bertanggung jawab atas terselenggaranya penerimaan peserta didik baru sejak awal perencanaan sampai dengan yang di inginkan c) Sekretaris. Bertanggung jawab atas tersusunnya konsep
menyeluruh mengenai penerimaan peserta didik baru.
d) Bendahara. Bertanggung jawab atas pemasukan dan pengeluaran anggaran penerimaan peserta didik baru dengan sepengetahuan ketua pelaksana
e) Seksi Kesekretariatan. Membantu sekretaris dalam hal pencatatan, penyimpanan, pengadahan, pencarian kembali dan mengirim konsepkonsep,
keterangan-29
keterangan dan data-data yang diperlukan dalam penerimaan peserta didik baru.
f) Seksi Pengumuman/Publikasi. Mengumumkan penerimaan peserta didik baru sehingga dapat diketahui oleh sebanyak mungkin calon peserta didik yang dapat memasuki sekolah
g) Seksi Pendaftaran. Melakukan pendaftaran calon peserta didik baru berdasarkan ketentuan dan persyaratan yang telah di tentukan. Melakukan pendaftaran ulang atas peserta didik yang telah dinyatakan diterima
h) Seksi Seleksi. Mengadakan seleksi atas peserta didik berdasarkan ketentuan yang telah dibuat bersama.
i) Seksi Kepengawasan. Mengatur pada pengawas sehingga mereka melaksanakan tugas kepengawasan ujian secara tertib dan disiplin
2) Rapat Penerimaan Peserta didik
Rapat penerimaan peserta didik dipimpin oleh kepala sekolah atau wakil kepala sekolah urusan kesiswaan. Hal yang dibicarakan dalam rapat ini adalah keseluruhan ketentuan penerimaan peserta didik baru. Walaupun penerimaan peserta didik merupakan pekerjaan rutin yang dilakukan setiap tahun, tetapi ketentuan-ketentuan yang berkenan dengan penerimaan
harus senantiasa dibicarakan agar tidak dilupakan oleh mereka yang terlibat.
Hal ini dilakukan agar konsep penerimaan dari tahun ke tahun memiliki peningkatan yang lebih baik. Hasil rapat penerimaan peserta didik baru tersebut, dicatat dalam buku notulen rapat. Adapun hal-hal yang tercantum dalam buku notulen rapat adalah:26
a) Tanggal rapat b) Waktu rapat c) Tempat rapat d) Agenda rapat
e) Daftar hadir peserta rapat
f) Hal-hal yang menjadi keputusan rapat 3) Pembuatan Pengumuman
Pengiriman atau pemasangan pengumuman. Setelah rapat mengenai penerimaan peserta didik baru selesai selanjutnya seksi pengumuman membuat pengumuman yang berisi hal-hal sebagai berikut:27
a) Gambaran singkat mengenai sekolah
b) Persyaratan pendaftaran peserta didik baru meliputi surat keterangan tanda tamat belajar (STTB) atau surat keterangan kepala sekolah yang dinyatakan lulus,
26 Ali Imron, Op.Cit, h. 52
27 Ibid, h. 54
31
berkelakuan baik yang diperoleh dari polisi/polri atau kepala sekolah, berbadan sehat atau surat keterangan dari dokter, salinan STTB dengan daftar nilai yang dimiliki, salinan Raport Peserta didik, Membayar uang pendaftaran, melampirkan pas foto ukuran 4 x 6, batasan umur (akta kelahiran)
c) Cara pendaftaran, dalam melakukan pendaftaran peserta didik baru dapat dilakukan dengann dua cara yaitu kolektif yang dilakukan oleh kepala sekolah dan secara individual yang dilakukan oleh masing-masing calon peserta didik.
d) Waktu pendaftaran, dalam kegiatan pendaftaran waktu sangat penting dimana memuat keterangan kapan waktu diselenggarakan pendaftaran dan kapan dilakukan penutupan pendaftaran agar peserta didik dapat mendaftarkan tepat pada waktunya. Waktu pendaftaran ini meliputi hari, tanggal dan juga waktu pelayanan yang di berikan oleh panitia agar calon peserta didik mendapatkan pelayanan yang baik ketika melakukan pendaftaran.
e) Tempat pendaftaran, biasanya berada di sekolah atau ditempat yang dapat dijangkau oleh calon peserta didik.
Tempat pendaftaran ini merupakan tempat untuk calon
peserta didik untuk dapat memperoleh informasi mengenai pendaftaran, formulir dan hal-hal yang menyangkut pendaftaran.
f) Biaya pendaftaran, memuat mengenai informasi berapa yang harus di bayarkan dan juga kepada siapa pembayaran dilakukan dan bagaimana cara pembayaran dilakukan.
g) Waktu dan tempat seleksi dilakukan
h) Pengumuman hasil seleksi, dimana sekolah melakukan pengumuman hasil seleksi yang dilakukan. Biasanya sekolah memberikan pengumuman melalui pengumaman melalui surat atau di tempat pada madding sekolah.
4) Pendaftaran Calon Peserta Didik Baru
Setelah pembuatan dan pemasangan pengumuman tentang penerimaan peserta didik baru maka langkah selanjutnya adalah pendaftaran calon peserta didik baru. Dalam hal ini panitia menyiapkan perlengkapan yang harus disediakan pada saat pendaftaran penerimaan peserta didik baru adalah Loket pendaftaran, loket informasi dan formulir pendaftaran. Loket pendaftaran harus dibuka secukupnya agar para calon pendaftar tidak terlalu lama mengantri. Dan hal yang harus disiapkan diloket pendaftaran yaitu seorang petugas yang mengatur antrian calon pendaftar agar tidak terjadi hal
33
yang tidak diinginkan dan menganggu kenyamanan calon pendaftar.
Sedangkan loket informasi disediakan untuk calon peserta didik yang membutuhkan informasi mengenai hal-hal yang belum jelas dalam pengumuman PPDB. Loket ini juga berguna untuk memberi keterangan kepada calon peserta didik baik dalam kesulitan mengisi formulir pendaftaran maupun kesulitan dalam teknis penerimaan peserta didik baru lainnya.
Formulir pendaftaran hendaknya disediakan secukupnya berdasarkan rencana awal dalam rapat penentuan PPDB karena banyak atau tidaknya formulir yang tersedia dapat mempengaruhi siswa yang akan di terima. Karena semakin banyak formulir itu dikontribusikan maka peluang sekolah untuk mendapatkan siswa yang sesuai dengan keinginan sekolah semakin besar. Setelah formulir di berikan kepada calon siswa maka semua calon siswa mempunyai peluang yang sama untuk mengikuti tes seleksi yang akan menentukan diterima atau tidaknya siswa di sekolah tersebut.
Calon peserta didik harus mengetahui tentang kapan formulir boleh diambil, bagaimana cara pengisian formulir tersebut dan kapan dikembalikan formulir yang sudah terisi.
Apabila formulir pendaftaran membutuhkan penjelasan atau petunjuk dalam mengisi formulir tersebut maka sekolah harus
menerbitkan petunjuk pengisian formulir atau adanya petugas yang memberikan informasi petunjuk pengisian formulir tersebut. Panitia PPDB harus jelas memberikan batas waktu pengembalian formulir dan juga ada penjelasan mengenai konsekuensi apabila formulir dikembalikan melewati batas waktu yang di tentukan.
5) Seleksi Peserta Didik Baru
Seleksi menurut Mathis dan Jackson adalah proses pemilihan orang-orang yang memiliki kualifikasi yang dibutuhkan untuk mengisi lowongan pekerjaan di sebuah organisasi. Sedangkan menurut Hariandja, seleksi merupakan proses untuk memutuskan pegawai yang tepat dari sekumpulan calon pegawai yang didapat dari sekumpulan calon pegawai yang didapat melalui proses perekrutan baik internal maupun eksternal.28 Dari kedua pendapat diatas dapat disimpulkan bahwasanya seleksi adalah suatu kegiatan penyaringan atau pemilihan calon pegawai atau peserta didik melalui beberapa kriteria yang sudah ditetapkan agar pegawai atau peserta didik yang masuk mempunyai potensi yang diperlukan oleh lembaga.
Seleksi dalam bidang pendidikan merupakan kegiatan pemilihan calon peserta didik untuk mrnjadi peserta didik
28 Akhmad Subekhi dan Mohammad Jauhar, Pengantar Manajemen Sumber Daya Manusia, (Jakarta: Prestasi Pustakaraya, 2012), h. 140