DAFTAR LAMPIRAN
TOTAL KREDIT BPR (KBPR)
VI. HASIL DAN PEMBAHASAN
6.1. Keragaan Model Ekonomi Usaha Kecil
6.1.5. Penerimaan Usaha
Penerimaan Usaha (PENU) adalah penerimaan usaha kecil yang merupakan nilai penjualan hasil produksi (kuantitas hasil dikalikan harga jual produk) yang dihasilkan oleh usaha kecil dalam periode satu tahun dan dihitung dalam satuan rupiah. Besarnya nilai penjualan hasil produksi rata-rata untuk setiap usaha kecil adalah sekitar Rp 384 890 000 , dengan nilai rata-rata ini menunjukkan nilai penjualan tahunan dari usaha ini tersebut termasuk dalam kategori usaha kecil (UU. No.20 Tahun 2008 Tentang UMKM), yaitu menghasilkan nilai penjualan tahunan diatas Rp 300 000 000 . Penerimaan usaha yang menunjukkan nilai penjualan tahunan ini diperoleh dari penerimaan usaha
setiap kali proses produksi dikalikan jumlah hari produksi dalam satu tahun. Nilai penjualan ini dipengaruhi oleh harga jual produk dan kuantitas produk, dengan asumsi bahwa harga jual produk sangat bersaing di pasar, maka harga jual produk menjadi relatif stabil karena lebih banyak ditentukan oleh pasar, sehingga nilai penjualan tahunan ini sangat dipengaruhi oleh kuantitas produk yang dihasilkan. Kuantitas produk yang dihasilkan dalam setiap kali siklus produksi pada setiap usaha kecil umumnya relatif tetap, kecuali pada saat menjelang hari raya. Karena itu pengembangan wilayah pemasaran untuk memperoleh pangsa pasar baru sehingga menambah kuantitas penjualan tahunan juga diperlukan. Beberapa variabel yang meliputi harga jual produk, total biaya produksi dan dummy wilayah pemasaran produk, diduga akan mempenguruhi penerimaan usaha.
Gambaran hasil dugaan parameter persamaan penerimaan usaha kecil, dapat dilihat pada tabel 20. berikut.
Tabel 20. Hasil Pendugaan Parameter Persamaan Penerimaan Usaha (PENU) No Variabel Parameter Dugaan Prob > │t│ Elastisitas 1 Intersep -13 490 000 0.4144
2 Peng. Bahan Baku (PBM) 1.03637 0.0001 * 0.6354 3 Peng. Bahan Bakar (PBB) 1.49155 0.0080 * 0.0669 4 Peng. Tenaga Kerja (PTK) 2.99643 0.0001 * 0.2142 5 Harga Produk (PO) 2 714.44 0.0082 * 0.0693 6 Dummy Pemasaran Produk (DPP) 35 448 025 0.0501 *
R2 = 0.9558 F Hitung = 363.28 Prob > F = 0.0001
Keterangan: * = Parameter dugaan berbeda nyata pada taraf nyata (α) 0.10
Hasil pendugaan parameter persamaan Penerimaan Usaha (PENU), menunjukkan nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 0.9558. Ini menunjukkan masing-masing 95.58 persen variasi dari variabel endogen Penerimaan Usaha (PENU) dijelaskan oleh variabel-variabel Penggunaan Bahan Baku (PBM), Penggunaan Bahan Bakar (PBB), Penggunaan Tenaga Kerja (PTK), Harga Jual
Produk (PO), dan Dummy Pemasaran Produk (DPP), dan secara signifikan pada taraf nyata (α) 10 persen yang ditunjukkan nilai Prob > F sebesar 0.0001.
Penggunaan Bahan Baku (PBM) berpengaruh nyata dan responsif terhadap Penerimaan Usaha (PENU) dengan nilai elastisitas sebesar 0.6354. Artinya setiap kenaikan pengeluaran untuk penggunaan bahan baku sebesar 1 persen akan menaikkan penerimaan usaha sebesar 0.6354 persen. Respon penerimaan usaha oleh perubahan pengeluaran untuk penggunaan bahan baku ini menunjukkan bahwa penggunaan bahan baku menentukan besarnya penerimaan usaha, dimana kenaikan penggunaan bahan baku akan menaikkan penerimaan usaha. Respon ini terjadi karena kenaikan pengeluaran untuk penggunaan bahan baku akan menyebabkan bertambahnya penggunaan bahan baku untuk memproduksi produk usaha kecil, sehingga kuantitas produk meningkat yang pada akhirnya akan menaikkan penerimaan usaha. Nilai elastisitas yang cukup besar ini juga bisa menunjukkan tingkat efisiensi produksi yang cukup tinggi, dimana jumlah barang yang terbuang atau tersisa dari proses produksi relatif kecil.
Penggunaan Bahan Bakar (PBB) juga berpengaruh nyata dan responsif terhadap Penerimaan Usaha (PENU) dengan nilai elastisitas sebesar 0.0669. Respon penerimaan usaha oleh perubahan pengeluaran untuk penggunaan bahan bakar ini menunjukkan, bahwa kenaikan penggunaan bahan bakar akan menaikkan penerimaan usaha. Respon ini walaupun kecil, menunjukkan bahwa kenaikan pengeluaran untuk penggunaan bahan bakar akan menyebabkan bertambahnya kuantitas produk meningkat sehingga menaikkan penerimaan usaha. Penggunaan bahan bakar yang sesuai dengan jenis kegiatan produksi yang dilakukan oleh usaha kecil, akan menyebabkan efisiensi dalam proses produksi
sehingga kuantitas produksi meningkat. Bahan bakar dan bahan baku merupakan input produksi yang secara komplementer mempengaruhi output produksi.
Sedangkan Penggunaan Tenaga Kerja (PTK) juga berpengaruh nyata dan responsif terhadap Penerimaan Usaha (PENU) dengan nilai elastisitas sebesar 0.2142. Respon ini menunjukkan bahwa kenaikan pengeluaran untuk penggunaan tenaga kerja akan menyebabkan bertambahnya kuantitas dan kualitas produk yang dihasilkan meningkat sehingga menaikkan penerimaan usaha. Penggunaan tenaga kerja yang sesuai dengan jenis kegiatan produksi yang dilakukan oleh usaha kecil dan kualitas produk yang diinginkan oleh pasar, akan menyebabkan efisiensi sehingga kuantitas dan kualitas produk akan meningkat sehingga penerimaan usaha juga meningkat. Keuntungan yang spesifik dari penggunaan tenaga kerja ini adalah meningkatnya kualitas produk sesuai yang diinginkan dan berkurangnya bahan baku yang terbuang. Hal ini karena pada usaha kecil makanan olahan, kualitas produk berupa: bentuk, rasa dan ukuran, sangat ditentukan juga oleh jumlah dan ketrampilan tenaga kerja yang digunakan.
Harga Jual Produk (PO) berpengaruh nyata terhadap Penerimaan Usaha (PENU) dengan nilai elastisitas sebesar 0.0693. Respon yang relatif kecil dari penerimaan usaha oleh perubahan tingkat harga jual produk ini diduga karena tingkat harga jual produk di pasar sangat bersaing dan masing-masing produk telah memiliki segmen pasar dan wilayah pasar yang tersendiri. Namun setiap produk masih bisa kompetitif, sehingga cukup signifikan dalam memberikan kontribusi terhadap penerimaan usaha kecil. Karena itu upaya-upaya untuk memperkuat kegiatan produksi dan pemasaran produk, terutama: ketrampilan tenaga kerja, sarana pemasaran dan cara pembayaran, sangatlah diperlukan agar
diperoleh tingkat harga yang lebih tinggi. Selain itu struktur pasar yang cenderung bersaing dari produk-produk ini perlu diperhatikan oleh usaha kecil, sehingga mampu menghasilkan produk yang spesifik, unik dan unggul serta dapat bersaing pada pasar yang sangat kompetitif ini, seperti terlihat pada usaha kecil penghasil produk soun dan kripik tempe. Untuk itu peningkatan ketrampilan tenaga kerja juga perlu mendapat perhatian.
Dummy Pemasaran Produk (DPP) yaitu: 0 adalah meliputi wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta, dan 1 adalah meliputi hingga wilayah Jawa Timur, Jawa Barat, serta Jakarta dan sekitarnya, berpengaruh nyata terhadap Penerimaan Usaha (PENU). Luasnya wilayah pemasaran produk menembus luar wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta, secara nyata mampu meningkatkan penerimaan usaha dimana usaha kecil dengan wilayah pemasaran yang lebih luas memiliki tingkat penerimaan usaha yang lebih tinggi. Walaupun secara spesifik setiap jenis produk memiliki wilayah pemasarannya sendiri, namun pada beberapa jenis produk pelaku usaha kecil yang memiliki wilayah pemasaran ke Jakarta, Jawa Barat, dan Jawa Timur. Ini terlihat pada usaha kecil yang memproduksi ceriping (pisang, ketela, dan getuk), dan slondok ketela di wilayah Kabupaten Magelang, serta usaha kecil yang memproduksi soun di Kecamatan Ngawen, Kabupaten Klaten. Sementara usaha kecil lainnya memasarkan produknya ke wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta.
Dari nilai koefisien elastisitas dari persamaan penerimaan usaha ini, ada beberapa catatan yang menarik untuk diperhatikan. Pertama, pengeluaran untuk total biaya produksi mampu mendorong kenaikan penerimaan usaha secara responsif, Kedua, penerimaan usaha kecil juga dipangaruhi secara nyata oleh
harga jual produk. Karena itu apabila terjadi kenaikan biaya produksi, sementara harga jual produk relatif tetap, maka akan sangat memberatkan usaha kecil.
Ketiga, pelaku usaha yang memiliki wilayah pemasaran produk di Yogyakarta dan luar Jawa Tengah mempunyai penerimaan usaha yang lebih tinggi.
6.1.6. Tabungan
Tabungan (TABS) adalah jumlah uang yang disisihkan untuk disimpan oleh usaha kecil baik di bank dan lembaga lainnya (koperasi atau kelompok simpan pinjam) atau disimpan di rumah dalam satu tahun dan dihitung dalam satuan rupiah. Besarnya nilai tabungan rata-rata per tahun oleh setiap usaha kecil adalah sekitar Rp 4 870 000 , nilai ini berarti setiap bulan nilai yang disisihkan untuk ditabung masih kurang dari setengah juta rupiah.
Hasil pendugaan parameter persamaan Tabungan (TABS), menunjukkan nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 0.5678. Ini menunjukkan 56.78 persen variasi dari variabel endogen Tabungan (TABS) dijelaskan oleh variabel-variabel Pendapatan Usaha (PEND), Jumlah Anggota Keluarga (JAK), Tingkat Pendidikan (TP), dan Dummy Kelembagaan Tabungan (DJST), dan secara signifikan pada taraf nyata (α) 10 persen yang ditunjukkan nilai Prob > F sebesar 0.0001.
Pendapatan Usaha (PEND) berpengaruh nyata terhadap Tabungan (TABS) dengan nilai elastisitas sebesar 0.1315. Artinya setiap kenaikan pendapatan usaha sebesar 1 persen akan menaikkan tabungan sebesar 0.1315 persen. Rendahnya respon tabungan oleh perubahan pendapatan usaha ini menunjukkan bahwa perilaku menabung pada pelaku usaha kecil ini masih rendah sehingga perlu ditingkatkan lagi. Disamping itu akses pelaku usaha kecil untuk menabung juga masih belum baik, akibat ketersediaan fasilitas lembaga keuangan
(bank) di wilayah sentra-sentra usaha kecil juga masih sedikit. Bank ataupun lembaga keuangan formal lainnya, umumnya hanya tersedia di tingkat kecamatan yang pada umumnya berjarak cukup jauh dari lokasi usaha kecil.
Tabel 21. Hasil Pendugaan Parameter Persamaan Tabungan (TABS) No Variabel Parameter Dugaan Prob > │t│ Elastisitas 1 Intersep 2 205 311 0.0140
2 Pendapatan Usaha (PEND) 0.00615 0.0182 * 0.1315 3 Jumlah Anggota Keluarga(JAK) -282 239 0.1053 ** -0.2401 4 Tingkat Pendidikan (TP) 664 601.6 0.0014 * 0.4517 5 Dummy Kelemb.Tabungan (DJST) 3 583 772 0.0001 *
R2 = 0.5678 F Hitung = 27.92 Prob > F = 0.0001
Keterangan: * = Parameter dugaan berbeda nyata pada taraf nyata (α) 0.10 ** = Parameter dugaan berbeda nyata pada taraf nyata (α) 0.20 Jumlah Anggota Keluarga (JAK) berpengaruh nyata terhadap Tabungan (TABS) dengan nilai elastisitas sebesar -0.2401. Artinya setiap pertambahan jumlah anggota keluarga sebesar 1 persen akan menurunkan tabungan keluarga sebesar 0.2401 persen. Respon tabungan oleh perubahan jumlah anggota keluarga, menunjukkan bahwa jumlah anggota keluarga menentukan besarnya jumlah tabungan. Dengan tingkat pendapatan usaha yang relatif tidak tetap mengikuti fluktuasi usaha, maka prioritas pelaku usaha kecil akan lebih mendahulukan pengeluaran untuk anggota keluarga yang sebagian besar merupakan pengeluaran tetap (autonomus expenditure). Sehingga apabila jumlah anggota keluarga bertambah maka akan membuat pelaku usaha kecil mengurangi jumlah tabungan.
Tingkat Pendidikan (TP) berpengaruh nyata terhadap Tabungan (TABS) dengan nilai elastisitas sebesar 0.4517. Nilai elastisitas yang cukup tinggi ini menunjukkan bahwa tingkat pendidikan menentukan besarnya tabungan, dimana peningkatan tingkat pendidikan akan mampu mendorong peningkatan tabungan. Respon ini diduga terjadi karena pada pelaku usaha kecil yang berpendidikan
lebih tinggi, lebih mampu membuat prioritas; Pertama, menabung adalah bentuk perilaku ekonomi jangka panjang yang menguntungkan bagi kegiatan usaha apabila tersedia kelebihan likuiditas dari usahanya. Kedua, pelaku usaha kecil yang berpendidikan lebih tinggi mempunyai akses informasi tentang perbandingan antara tingkat bunga tabungan dengan hasil lainnya. Ketiga, pelaku usaha kecil yang berpendidikan lebih tinggi umumnya juga lebih terbiasa dengan urusan bank (bank minded).
Dummy Kelembagaan Tabungan (DJST) berpengaruh nyata dan positif terhadap Tabungan (TABS). Semakin formal lembaga tabungan yang digunakan oleh usaha kecil, maka semakin besar dorongan pelaku usaha kecil untuk menyisihkan pendapatan dalam bentuk tabungan, serta tidak menyimpan di rumah atau bahkan menggunakannya untuk keperluan konsumtif.
Beberapa hal yang dapat disimpulkan dari hasil ini adalah. Pertama, pendapatan usaha yang diperoleh usaha kecil berpengaruh positif terhadap tabungan. Kedua, kemampuan pelaku usaha kecil untuk menabung masih dipengaruhi oleh beban pengeluaran yang ditimbulkan oleh bertambahnya jumlah anggota keluarga, semakin banyak jumlah anggota keluarga akan semakin berkurang jumlah tabungan, karena itu perlu upaya untuk tetap menjaga dan mendorong kebiasan dan perilaku menabung bagi pelaku usaha kecil. Ketiga, tingkat pendidikan yang dimiliki oleh usaha kecil berpengaruh positif terhadap tabungan. Keempat, berkenaan dengan kebiasaan menabung yang masih rendah diantara pelaku usaha kecil, maka sudah mendesak saatnya untuk mendorong lembaga keuangan formal yang juga mempunyai komitmen besar dalam memobilisasi tabungan secara efektif.
6.1.7. Konsumsi
Konsumsi (PKON) merupakan pengeluaran untuk kebutuhan makanan dan listrik dalam periode satu tahun dan dihitung dalam satuan rupiah. Nilai konsumsi rata-rata per tahun pada usaha kecil ini sekitar Rp 22 350 000 , berarti setiap bulan rata-rata diatas satu juta rupiah. Tabel 22 menunjukkan hasil dugaan parameter persamaan pengeluaran konsumsi. Hasil pendugaan parameter persamaan PKON, menunjukkan nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 0.8387. Ini menunjukkan bahwa 83.87 persen variasi dari variabel endogen pengeluaran Konsumsi (PKON) dijelaskan oleh variabel-variabel Pendapatan Usaha (PEND), Jumlah Anggota Keluarga (JAK), Tingkat Pendidikan (TP) dan Konsumsi Tenaga Kerja (KTK), dan secara signifikan pada taraf nyata (α) 10 persen dengan nilai Prob > F sebesar 0.0001.
Tabel 22. Hasil Pendugaan Parameter Persamaan Konsumsi (PKON) No Variabel Parameter Dugaan Prob > │t│ Elastisitas 1 Intersep 4 479 184 0.0643
2 Pendapatan Usaha (PEND) 0.01883 0.0654 * 0.0877 3 Jumlah Anggota Keluarga (JAK) 1 483 237 0.0021 * 0.2749 4 Tingkat Pendidikan (TP) -553 154 0.3219 -0.0819 5 Konsumsi Tenaga Kerja (KTK) 1.31575 0.0001 * 0.5190 R2 = 0.8387 F Hitung = 110.51 Prob > F = 0.0001
Keterangan: * = Parameter dugaan berbeda nyata pada taraf nyata (α) 0.10 Pendapatan Usaha(PEND) berpengaruh nyata terhadap Konsumsi (PKON) dengan nilai elastisitas sebesar 0.0877. Artinya setiap kenaikan pendapatan usaha sebesar 1 persen akan menaikkan pengeluaran konsumsi sebesar 0.0877 persen. Respon pengeluaran untuk konsumsi oleh perubahan pendapatan bersih usaha ini menunjukkan bahwa pendapatan usaha menentukan besarnya konsumsi, dimana
kenaikan pendapatan usaha akan menaikkan konsumsi. Rendahnya respon ini diduga karena jenis-jenis pengeluaran untuk konsumsi yang dikeluarkan adalah merupakan konsumsi untuk kebutuhan dasar dan rutin yang berkaitan dengan kebutuhan sehari-hari dan kebutuhan yang berkaitan dengan kegiatan usaha, sehingga tidak terlalu terpengaruh dengan besarnya pendapatan bersih usaha.
Jumlah Anggota Keluarga (JAK) berpengaruh nyata terhadap Konsumsi (PKON) dengan nilai elastisitas sebesar 0.2749. Respon dari konsumsi karena perubahan jumlah anggota keluarga ini memperlihatkan bahwa jumlah anggota keluarga menentukan besarnya konsumsi, dimana kenaikan jumlah anggota keluarga akan menaikkan konsumsi. Respon ini juga menunjukkan bahwa berbagai jenis pengeluaran konsumsi adalah merupakan konsumsi untuk kebutuhan dasar, sehingga apabila jumlah anggota keluarga yang merupakan tanggungan bertambah, maka pengeluaran untuk konsumsi juga akan meningkat.
Variabel Tingkat Pendidikan (TP) bertanda negatif namun secara statistik tidak nyata, ini menunjukkan bahwa pengeluaran konsumsi tidak secara nyata dipengaruhi oleh tingkat pendidikan. Hal ini diduga karena pengeluaran konsumsi merupakan pengeluaran untuk kebutuhan dasar dan rutin bulanan, yang lebih merupakan pengeluaran untuk kebutuhan pokok bagi individu dalam keluarga tersebut (outonomous expenditure) , sehingga tidak terlalu terpengaruh tingkat pendidikan.
Sedangkan Konsumsi Tenaga Kerja (KTK) berpengaruh nyata terhadap pengeluaran untuk Konsumsi (PKON) yang dikeluarkan oleh usaha kecil, dengan nilai elastisitas sebesar 0.5190. Respon yang cukup dari konsumsi karena adanya pengeluaran untuk konsumsi tenaga kerja ini juga menunjukkan bahwa jenis
pengeluaran untuk konsumsi tenaga kerja adalah merupakan hal yang cukup penting bagi keberlangsungan kegiatan produksi pada usaha kecil makanan olahan. Hal ini diduga karena selama ini usaha kecil masih menyediakan sendiri konsumsi bagi tenaga kerja yang bekerja di tempat usaha yang pada umumnya adalah merupakan tempat tinggal. Walaupun tidak semua jenis usaha dan tidak seluruh tenaga kerja diberikan konsumsi berupa makanan dan minuman secara penuh, namun pada umumnya seluruh usaha kecil mengalokasikan pengeluaran untuk konsumsi bagi tenaga kerja di tempat usahanya.
Hal menarik dari hasil ini adalah. Pertama, pendapatan bersih usaha mempunyai pengaruh nyata terhadap konsumsi namun dengan respon yang relatif rendah. Kedua, jumlah anggota keluarga berpengaruh nyata terhadap konsumsi dengan respon yang cukup tinggi, sehingga kenaikan jumlah anggota keluarga akan menyebabkan tambahan pengeluaran yang terkait dengan pengeluaran konsumsi. Ketiga, konsumsi tenaga kerja berpengaruh nyata terhadap pengeluaran konsumsi oleh usaha kecil dengan respon yang cukup tinggi.