• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENETAPAN ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DESA

DATA DAN ANALISIS GAMBARAN UMUM

PENETAPAN ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DESA

Dokumen APB-DESA sangat penting bagi kegiatan di desa karena menurut Kepala Desa, APB-DESA digunakan dalam rangka penyelenggaraan pemerintah desa untuk mencerminkan keberpihakan kepada kebutuhan masyarakat. Menurut PLT Sekertaris Desa APB-DESA juga sebagai pedoman keuangan untuk tahun berjalan. APB-DESA menjadi peran yang sangat vital menurut Anggota BPD berikut ini.

“Tanpa APB-DESA tidak mungkin kegiatan bisa berjalan. Juga penting untuk pendanaan administratif desa dan untuk masyarakat seperti pembangunan infrastruktur maupun kegiatan lainnya APB-DESA menjadi peran yang sangat vital terutama bagi desa kecil karena dana dari swadaya maupun PAD tidak memungkinkan.”

39 Penyusunan APB-DESA dimulai dengan musyawarah anggaran penyusunan APB-DESA oleh Tim Anggaran Desa yang terdiri dari PLT Sekertaris desa bersama dengan Ka Ur Pembangunan (pembantu Ka Ur Keuangan). Pada tahap persiapan sama halnya dengan Musrenbang Desa akan menentukan jadwal, peserta, agenda, peralatan dan distribusi undangan. Penentuan peserta musyawarah tersebut tidak melibatkan masyarakat atau kelompok-kelompok masyarakat. Seperti yang disampaikan oleh semua responden dari 2 RW dan 4 RT, menyatakan tidak dilibatkan dalam proses penyusunan APB-DESA karena akan mendapatkan informasi setelah anggaran ditetapkan sebagai Peraturan Desa tentang APB-Desa. Proses musyawarah anggaran penyusunan APB-DESA dilakukan dengan diskusi bersama angtara kepala desa dengan perangkan desa dan akan menghasilkan rancangan APB-DESA.

Rancangan APB-DESA yang telah dibuat pada musyawarah anggaran penyusunan APB-DESA, akan dibahas bersama-sama dengan BPD untuk menetapkan rancangan DESA. Pada tahap penetapan rancancangan APB-DESA menurut Anggota BPD akan membahas besarnya nominal dana yang akan digunakan dengan menentukan anggaran berdasarkan prioritas program. Setelah pembahasan bersama dengan BPD, Rancanagan APB-DESA yang telah disepakati bersama, akan disampaikan kepada Bupati untuk dievaluasi. Menurut Kepala Desa, hasil evaluasi dari Bupati selalu tepat waktu dan akan ditindaklanjuti untuk dijadikan Peraturan Desa tentang APB-DESA. Kendala yang selama ini dihadapi adalah perbedaan format seperti yang dinyatakan oleh Kepala Desa.

“Pemerintah Desa mengalami kesulitan untuk membuat APBDesa yang sesuai. Karena setelah diajukan akan ada banyak perubahan dalam penulisan APBDesa. Karena belum ada petunjuk teknis penulisan dari pemerintah dan pihak kecamatan yang hanya membuka layanan pertanyaan. Pihak Kecamatan Ambarawa membuka layanan untuk bertanya ataupun mengalami kesulitan dalam penyusunan karena keterbatasan Desa Bejalen adalah sumber daya manusia yang masih terbatas, sehingga belum mampu untuk menggunakan sistem yang baru.”

Pemerintah Desa Bejalen melakukan upaya-upaya untuk mewujudkan prinsip-psinsip penyusunan APB-DESA. Prinsip anggaran berbasis kinerja upaya

40 yang dilakukan dengan menentukan target penganggaranya dilakukan dengan menentukan target secara output atau otucome bukan hanya sekedar input. Fokus penyusunan APB-DESA akan menentukan hasil dari suatu kegiatan atau program. Menutur Ka Ur Pembangunan, dalam menentukan anggaran tidak hanya memperhatikan jumlah dana tetapi yang ditentukan dengan jumlah dana yang ada akan digunakan untuk suatu kegiatan atau program. Outcome ditunjukkaan dengan dampak yang dihasilkan dari suatu pembangunan sehingga manfaat dari pembangunan dapat dirasakan oleh masyarakat.

Prinsip Keadilan anggaran dilakukan dengan penganggaran untuk semua bidang dan penggaran yang mempertimbangkan wilayah. Penganggaran untuk semua bidang ditunjukkan dengan mengalokasikan anggaran belanja sesuai dengan Peraturan Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2014, anggaran ditunjukkan tidak hanya belanja rutin tetapi juga belanja pembangunan dalam berbagai bidang seperti pada tabel 9 berikut ini.

Tabel 9

Perkiraan Anggaran Masing-Masing Bidang Tahun 2015

NO Uraian Jumlah

(%) Sumber

1 Belanja Rutin 30 Total Belanja Desa setelah

dikurangi belanja pegawai

2 Belanja Pembangunan: 1. Bidang Penyelenggaraan 2. Bidang Pembangunan 3. Bidang Pembinaan Masyarakat 4. Bidang Pemberdayaan Masyarakat

70 Total Belanja Desa setelah dikurangi belanja pegawai 32,84 Total Pendapatan Desa 52,67 Total Pendapatan Desa 0,007 Total Pendapatan Desa

13,75 Total Pendapatan Desa Sumber: RKP Desa Bejalen 2015

Penganggaran juga dilakukan dengan mempertimbangkan wilayah. Menurut Ketua RT 06, jika pada tahun anggaran sebelumnya wilayah desa sebelah timur lebih banyak program yang dilakukan, untuk tahun anggaran berikutnya jika sudah dirasa cukup maka prioritas program akan dilakukan pada wilayan desa sebelah barat.

41 Prinsip Efektivitas dan efisiensi dilakukan dalam berbagai upaya. Upaya untuk mewujudkan prinsip efektivitas dilakukan dengan mengoptimalkan pemanfaatan anggaran yang tersedia dalam rangka pengingkatan kualitas layanan kepada masyarakat. Seperti pada tabel 10, untuk mengoptimalkan pemanfaatan anggaran dilihat dari anggaran pendapatan desa yang meningkat sebesar Rp 255.624.000,00.

Tabel 10

Perbedaan Pendapatan dan Belanja Desa Bejalen

Tahun 2014 Anggaran Tahun 2015 Anggaran

Pendapatan Desa Rp 424.946.000 Pendapatan Desa Rp 680.570.000 Belanja Desa: 1. Belanja Langsung 2. Belanja Tidak Langsung Rp 141.096.000 Rp 283.850.000 Belanja Desa: 1. Belanja Langsung 2. Belanja Tidak Langsung Rp 507.570.000 Rp 173.000.000

Sumber: RPJM Desa Bejalen Tahun 2015-2019 dan APB-DESA Bejalen Tahun 2015

Berdasarkan total anggaran pendapatan desa sebesar Rp 680.570.000,00 bantuan dari pemerintah provinsi dan kabupaten/ kota serta pendapatan transfer (Dana Desa, bagian dari hasil pajak dan retribusi daerah kabupeten/ kota, serta Alokasi Dana Desa) hanya sebesar Rp 560.570.000,00 yang tidak mencapai satu miliar rupiah seperti pada berita-berita selama ini. Hal ini terjadi karena berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 43 tahun 2014, pemberian ADD berdasarkan jumlah penduduk, angka kemiskinan desa, luas wilayah dan tingkat kesulitan geografis (Lihat lampiran 2). Sehingga akan mengoptimalkan anggaran tersebut sesuai dengan prioritas program yang telah ditentukan. Sedangkan prinsip efisiensi, upaya yang dilakukan adalah dengan penghematan anggaran. Menurut PLT Sekertaris Desa karena sudah ada ketentuan peraturan yang ada dan batas anggaran yang telah ditetapkan seperti pada tabel 9, bahwa anggaran untuk

42 belanja rutin sebesar 30% dan untuk anggaran belanja pembangunan sebesar 70% sudah disesuaikan dengan aturan yang ada.

Prinsip surplus dan defisit dilakukan dengan berusaha menyeimbangkan antara pendapatan desa dan belanja desa pada APB-DESA dilakukan dengan format I-Account. Sedangkan dalam pembiayaan desa berdasarkan RKP Desa Bejalen tahun 2015, pemerintah desa belum dapat menyusun kebijakan pembiayaan yang disebabkan sistem baru sehingga masih menunggu peraturan dan petunjuk teknis dari pemerintah pusat dan daerah.

Prinsip disiplin anggaran upaya yang dilakuakan dilakukan dengan menggunakan pendapatan dan belanja untuk kegiatan yang sesuai dengan batas anggaran yang sudah ditetapkan seperti pernyataan Kepala Desa bahwa kegiatan harus sesuai dengan yang ditentukan dalam rancangan anggaran. Alokasi anggaran telah sesuai dengan pos yang ditetapkan seperti pernyataan Anggota BPD sebagai berikut.

“Dana yang diberikan telah sesuai dengan usulan yang telah disetujui sehingga tidak ada proyek yang dilaksanakan di luar batas anggaran yang sudah ditetapkan dan pengeluaran telah sesuai dengan jumlah yang cukup dalam APB-DESA maupun perubahan APB-DESA.”

Prinsip taat asas dilakukan upaya bahwa pendapatan, belanja dan pembiayaan desa sesuai dengan peraturan perundang-undangan. ABP-DESA telah sesuai dengan Peraturan Bupati Semarang Nomor 4 Tahun 2015 yang terdiri dari belanja langsung dan tidak langsung seperti pada tabel 11 berikut ini.

43 Tabel 11

Belanja Desa Tahun Anggaran 2015

URAIAN JUMLAH ( Rp )

a. Belanja Tidak langsung 173.000.000,00

1. Penghasilan Tetap dan Tunjangan 159.500.000,-

2. Insentif RT dan RW 5.040.000,-

3. Honorarium Pengelola Keuangan Desa 5.310.000,- 4. Jaminan Kesehatan Kades dan Perangkat Desa 3.150.000,-

b. Belanja Langsung 507.570.000,-

1. Operasional Perkantoran 17.631.000,-

2. Peningkatan Sarana Kerja Pemerintah 28.900.000,-

3. Operasional BPD 4.000.000.-

4. Bidang Pelaksanaan Pembangunan 358.487.000,-

5. Bidang Pembinaan Kemasyarakatan 4.970.000,-

6. Bidang Pemberdayaan Masyarakat 93.582.000,-

Jumlah perkiraan Belanja 680.570.000,-

Sumber: RKP Desa Bejalen Tahun 20115

Prinsip transparansi dan akuntabilitas anggaran upaya yang dilakukan denagan cara memberikan informasi yang terbuka mengenai APB-DESA untuk diberikan kepada masyarakat melalui Ketua RT. Menurut Ketua PKK, menyatakan bahwa pemerintah desa telah transparan dalam memberikan informasi terkait dana yang akan diterima oleh kelompok PKK. Seperti untuk tahun 2015, pemerintah desa menganggarkan sebesar Rp 10.000.000 untuk kegiatan kelompok PKK dan sudah diketahui pengurus PKK dan anggota. Menurut Ka Ur Pembangunan, dengan informasi yang APB-DESA diberikan kepada masyarakat, sehingga banyak masyarakat dapat mengerti dengan jelas APB-DESA yang ada (lihat lampiran 2). Meskipun dalam penyusunan dan penetapan APB-DESA tidak ada informasi yang dapat diberikan kepada masyarakat, tetapi melalui rancangan anggaran dalam Musrenbang Desa masyarakat dapat jelas memahami informasi APB-DESA. APB-DESA juga dapat diakses oleh masyarakat mengenai tujuan, sasaran dan sumber pendanaan pada setiap objek belanja melalui informasi RKP Desa dan RAB yang diberikan kepada masyarakat. Meskipun masyarakat tidak meminta pertanggungjawaban atas

44 penyusunan dan penetapan APB-DESA, seperti yang dinyatakan oleh Anggota BPD berikut ini.

“Masyarakat tidak pernah meminta tanggungjawab anggaran karena kemungkinan besar ketidaktahuan masyarakat, jika pemerintah desa tidak menginformasikan kepada masyarakat, maka masyarakat tidak akan mengetahuinya.”

Bagi masyarakat yang terpenting adalah anggaran tersebut dapat direalisasikan dalam kegiatan yang telah diprioritaskan. Namun pemerintah desa juga membuat laporan pertanggungjawaban agar akuntabilitas dapat dilakukan. Dalam RAB, pemerintah desa juga melakukan akuntabilitas untuk mempertanggungjawabkan bidang kegiatan pembangunan yang secara rinci diperhitungkan menurut volume, satuan dan belanja sehingga dapat dilakukan verifikasi agar terjadi kontrol publik (lihat lampiran 2).

Prinsip partisipasi masyarakat dilakukan dengan upaya melibatkan masyarakat pada saat pembahasan bersama rancangan anggaran dan biaya dalam pelaksanaan Musrenbang Desa yang akan diusulkan dalam Musrenbang Kecamatan dan termuat dalam RKP Desa. Masyarakat dalam hal ini dibutuhkan. Sedangkan dalam partisipasi penyusunan dan penetapan APB-DESA tidak melibatkan masyarakat. Masyarakat akan mengetahui APB-DESA setelah ditetapkan menjadi peraturan desa. Secara keuangan, partisipasi dari masyarakat sangat minim sehingga dalam pemberian untuk peningkatan pendapatan asli desa tidak banyak dilakukan hal ini terlihat dalam swadaya, partisipasi dan gotong royong dalam pendapatan Desa Bejalen tahun 2015 tidak ada (Lihat lampiran 2).

Prinsip kemandirian dilakukan dengan upaya menggali potensi sumber daya yang dimiliki desa. Namun upaya tersebut masih terbatas pada penerimaan pendapatan dari kegiatan pariwisata Kampoeng Rawa dan hasil dari tanah kas desa yang berupa sawah. Sesuai dengan perjanjian antara pemerintah desa dengan pengelola Kampoeng Rawa, setiap bulannya pengelola Kampoeng Rawa akan memberikan sebagian penghasilan yang diterima untuk menjadi pendapatan bagi desa. Seperti pada rincian Pendapatan Desa Bejalen dalam APB-DESA 2015, PAD sebesar 18% (Rp 120.000.000,00) yang terdiri dari hasil usaha 1,6% (Rp

45 2.000.000,00) dan hasil aset desa 15% (Rp 18.000.000,00). Sedangkan sebanyak 82% (Rp 560.570.000,00) berupa dana dari luar yaitu pendapatan transfer dan bantuan keuagan dari pemerintah provinsi dan kabupaten/ kota (Lihat Lampiran 2). Sementara kegiatan penunjang pariwisata di Desa Bejalen hanya berupa kegiatan live-in bagi sekolah-sekolah belum mampu meningkatkan pendapatan bagi desa. Pembentukan BUMDES sebagai sumber pendapatan desa belum dapat dilakukan sampai dengan tahun 2015 ini.

Dari berbagai responden menyatakan bahwa dokumen APB-DESA adalah dokumen penting untuk menjalankan pembangunan di desa. Pada musyawarah anggaran penyusunan APB-DESA, secara tahapan sesuai dengan Panduan Penyelenggaraan Musrenbang Desa, namun dalam praktiknya terdapat kekurang pahaman. Pada tahap musyawarah anggaran penyusunan APB-DESA, tidak melibatkan masyarakat dalam menyusun APB-DESA sehingga masyarakat akan mengetahui ketika APB-DESA telah menjadi peraturan desa. Kurangnya sosialisasi dan informasi yang dimiliki, sehingga sering terjadi perbedaan penulisan dokumen APB-DESA.

Tabel 12

Upaya Melakukan Prinsip-Prinsip APB-DESA

Prinsip Upaya Desa

Anggaran Berbasis Kinerja

Menentukan target output dalam penganggaran.

Keadilan Anggaran

1. Penganggaran untuk semua bidang.

2. Penganggaran mempertimbangkan wilayah. Efektivitas dan

Efisiensi

1. Mengoptimalkan pemanfaatan anggaran sesuai prioritas program dan kemampuan anggaran desa. 2. Penghematan anggaran dengan menerapkan sesuai

peraturan yang berlaku dan sesuai dengan besaran yang ditetapkan.

Surplus dan

Defisit Anggaran

Menerapkan anggaran dengan format I-Account.

Disiplin Anggaran 1. Besarnya belanja sesuai dengan batas anggaran yang ditetapkan.

2. Alokasi anggaran sesuai dengan pos yang ditetapkan. Taat Asas Penyusunan APB-DESA mengikuti anggaran yang berlaku. Transparansi dan 1. Informasi APB-DESA terbuka, dapat jelas dipahami

46 Akuntabilitas

Anggaran

dan dapat diakses oleh masyarakat.

2. Pertanggungjawaban dilakukan dengan membuat laporan pertanggungjawaban.

Partisipasi Masyarakat

Proses penyusunan dan penetapan APB-DESA tidak melibatkan masyarakat.

Kemandirian Sebanyak 82% pendapatan desa berupa pendapatan dari luar desa seperti pendapatan transfer dan bantuan.

Maka dari itu menurut Panduan Penyelenggaraan APB-DESA harus melibatkan masyarakat dalam merumuskan APB-DESA karen akan menentukan kepentingan masyarakat. Diperlukan pelatihan dan sosialisasi dari pemerintah ataupun pihak kecamatan untuk dapat meningkatakan kemampuan penyusunan APB-DESA baik terhadap pemerintah desa maupun masyarakat. Berdasarkan Badan Pendidikan dan Pelatihan Provinsi Kalimantan Pengambilan keputusan dalam proses penyusunan APB-DESA sedapat mungkin melibatkan masyarakat sehingga masyarakat tahu mengenai hak dan kewajibannya dalam APB-DESA. Masyarakat harus dilibatkan dalam menentukan sumber pendapatan dan pengeluaran pada APB-DESA. Pemerintah desa harus mampu meningkatkan pendapatan asli desa dengan menggali sumber pendapatan desa secara optimal dengan menggali potensi desa dalam hal pariwisata sehingga menambah pendapatan desa serta membentuk BUMDES untuk meningkatkan perekonomian masyarakat sehingga mengurangi ketergantuangan bantuan pemerintah.

SIMPULAN

Berdasarkan deskripsi tentang perencanaan keuangan di Desa Bejalen menunjukkan bahwa Musrenbang Desa dan dokumen APB-DESA sangat penting dilakukan untuk menentukan kegiatan dan anggaran dalam pembangunan desa. Secara tahapan penyusunan RPJM Desa, RKP Desa serta APB-DESA telah sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Tetapi dalam pelaksanaannya terdapat beberapa hal yang belum sesuai yaitu:

a. Pada Musrenbang Desa penyusunan RPJM Desa terdapat beberapa kelompok yang tidak dilibatkan. Masyarakat yang terlibat sebagai peserta dalam Musrenbang Desa sudah aktif berpartisipasi mengusulkan program atau

47 permasalahan tetapi sebagian peserta tidak aktif dalam diskusi pembahasan dan penentuan program. Tim Delegasi Desa untuk Musrenbang Kecamatan tidak melibatkan masyarakat dan tanpa musyawarah. RPJM Desa melewati batas yang ditentukan karena keterbatasan jumlah SDM yang menyusunnya. b. Transparansi dilakukan dengan pemberian informasi tertulis melalui Ketua

RT. Keadilan dengan melakukan pemerataan di semua bidang dan wilayah. Pengawasan kinerja perangkat desa tidak efektif. Selama ini desa cenderung berfokus pada anggaran fisik.

c. Pada Musrenbang Desa penyusunan RKP Desa, tahun 2015 tidak dilakukan Tim Penyusuan Anggaran karena keterbatasan waktu yang disebabkan keterlambatan penyelesaikan dokumen-dokumen perencanaan serta perencanan RKP Desa yang kurang matang dan Tim Pemandu hanya berkoordinasi dengan ketua RT/ RW. Hanya sebagian peserta yang mampu untuk menyampaikan pendapat karena keterbatasan informasi. Tim Delegasi Desa untuk Musrenbang Kecamatan tidak melibatkan masyarakat dan tanpa musyawarah serta tidak adanya pembekalan bagi tim delegasi.

d. Musyawarah anggaran penyusunan APB-DESA tidak melibatkan masyarakat dan kurangnya sosialisasi dan informasi sehingga terjadi perbedaan format penyusunan penulisan APB-DESA. Sudah mengupayakan untuk mewujudkan prinsip-pirinsip APB-DESA.

Dokumen terkait