• Tidak ada hasil yang ditemukan

RT 08,09,10 Sumber: Kantor Desa Bejalen Tahun 2014

DATA DAN ANALISIS GAMBARAN UMUM

RW 04: RT 08,09,10 Sumber: Kantor Desa Bejalen Tahun 2014

Visi Desa Bejalen (RPJM Desa Bejalen Tahun 2015) adalah

“Mewujudkan Desa Bejalen yang Transparan, adil, makmur dan sejahtera.”

20 Adil dengan cara melakukan pengawasan kinerja birokrasi pada jajaran perangkatur pemerintah desa dan meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat, juga menyelenggarakan pemerintah yang bersih terbebas dari korupsi serta bentuk-bentuk penyelewengan lainnya; 2) Mewujudkan Desa Bejalen yang Makmur dan Sejahtera dengan cara meningkatkan perekonomian masyarakat melalui penciptaan lapangan kerja seluas-luasnya dengan berbasiskan pada potensi asli desa, mengelola aset yang ada untuk kepentingan masyarakat, dan menjalin kerjasama semua pihak, seperti tokoh agama, tokoh masyarakat, dan tokoh kepemudaan untuk mewujudkan keamanan dan kesejahteraan masyarakat.

Berdasarkan RPJM Desa Bejalen Tahun 2015, jumlah penduduk Desa Bejalen sebanyak 1.717 jiwa yang terdiri dari 51% (881 jiwa) penduduk perempuam dan 49% (836 jiwa) penduduk laki-laki (Lihat lampiran 2). Berdasarkan tingkat pendidikan sebanyak 30% (516) hanya lulusan SD, 20% (333) lulusan SMP, sedangkan 16% (268) orang tidak sekolah atau belum sekolah seperti yang terdapat pada tabel 2 berikut ini.

Tabel 2

Jumlah Penduduk Menurut Jenjang Pendidikan (Umur 5 Tahun Keatas) NO Jenjang Pendidikan Jumlah Persentase

(%)

1 Tidak Sekolah/ Belum Sekolah 268 16

2 Belum Tamat SD 85 5

3 Tamat SD 516 30

4 Tamat SMP 333 20

5 Tamat SMA 445 26

6 Tamat Akademik/ Perguruan Tinggi 56 3

Jumlah 1.703 100%

Sumber: RPJM Desa Bejalen Tahun 2015

Berdasarkan Bappenas 2006, salah satu kriteria kemiskinan ditentukan berdasarkan tingkat pendidikan. Sebagai indikator rendahnya kemiskinan, ditentukan dengan kualitas pendidikan di Desa Bejalen tidak terlepas dari terbatasnya sarana dan prasarana pendidikan yang ada karena saran pendidikan di Desa Bejalen baru tersedia PAUD, TK dan SD sedangkan akses menuju SMP dan

21 SMA berada di luar desa. Selain sarana dan prasarana pendidikan, masalah ekonomi menjadi hal yang paling utama karena sebagian penduduk bermata pencaharian pada sector informal seperti buruh tani, nelayan, buruh harian lepas dan petani.

Pada Tahun 2011, Desa Bejalen menjadi salah satu dari 569 desa yang direaliasasikan menjadi desa wisata (Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Tahun 2011) sehingga pencanangan sebagai desa wisata bukan keinginan dari masyarakat Desa Bejalen tetapi berdasarkan pemerintah seperti yang dikatakan oleh Kepala Desa Berikut ini.

“Sejak tahun 2011 Desa Bejalen telah menjadi desa wisata. Hal ini bukan dari keinginan masyarakat tetapi lebih kepada program dari Pemerintah Pusat bahwa setiap Kabupaten di Indonesia harus ada desa wisata. Sehingga dari Pemerintah Kabupaten Semarang, menunjuk Desa Bejalen sebagai desa wisata. Namun alasannya mengapa desa ini yang ditunjuk, dari desa tidak mengetahui.”

Pencanangan sebagai desa wisata merupakan program dari Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata tentang PNPM Mandiri Pariwisata pada tahun 2011. Program ini merupakan program penanggulangan kemiskinan yang ditujukan kepada masyarakat miskin di desa wisata, desa sekitar daya tarik wisata, dan desa sekitar usaha pariwisata. Tujuan PNPM Mandiri Pariwisata sebagai berikut: (1) Meningkatkan keberdayaan dan kemandirian masyarakat dalam menggulangi kemiskinan; (2) Meningkatkan kemampuan kreatifitas masyarakat; (3) Meningkatkan kapasitas pemerintah daerah dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat; (4) Membangun kemitraan lintas sektor untuk melakukan akselerasi pembangunan kepariwisataan. Desa Bejalen ditetapkan sebagai desa wisata karena terletak di sekitar objek wisata Kecamatan Ambarawa diantaranya Kampoeng Rawa, Museum Kereta Api Ambarawa, Monumen Palagan dan Goa Maria Kerep Ambarawa. Juga ditetapkan berdasarkan angka kemiskinan dan letak di sekitar objek wisata.

22 PENYUSUNAN RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DESA

RPJM Desa Bejalen yang berjalan dilakukan penjabaran penjabaran visi dan misi Kepala Desa terpilih pada pemilihan kepala desa tahun 2013. Menurut Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 66 Tahun 2007, visi dan misi Kepala Desa haruslah menjadi acuan pertimbangan dalam dokumen RPJM Desa Bejalen diawali dengan tahap persiapan Musrenbang Desa yang mencakup kegiatan menyusun jadwal, mengundang peserta, dan menyiapkan materi serta peralatan. Format undangan peserta yang tercantum pada RPJM Desa Bejalen Tahun 2015 adalah sebagaimana gambar di bawah ini.

Gambar 1. Undangan peserta Musrenbang Desa Tahun 2014

Penentuan peserta dalam Musrenbang Desa, menurut Kepala Desa telah mengikuti peraturan dari pemerintah yaitu Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 114 Tahun 2014. Peraturan ini menyebutkan bahwa peserta terdiri dari Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa (LPM-Desa); tokoh masyarakat; tokoh agama; Rukun Warga/ Rukun Tetangga; Kepala Dusun; serta warga masyarakat seperti (kelompok tani, kelompok nelayan, kelompok kerajinan, perwakilan sektor pendidikan, perwakilan sektor kesehatan, kelompok perempuan, kelompok pemuda, kelompok pemerhati dan perlindungan anak, kelompok masyarakat

23 miskin maupun kelompok-kelompok lain sesuai kondisi sosial budaya masyarakat desa). Daftar peserta Musrenbang Desa dapat dilihat pada dokumen RPJM Desa Bejalen Tahun 2015 (lihat lampiran 3). Namun pada tahun 2014 kelompok Karang Taruna tidak diundang karena kondisi organisasi yang tidak aktif. Menurut Kepala Dusun Bejalen Barat dan Ketua RT 10, ketidakaktifan Karang Taruna disebabkan kesibukan pekerjaan ketua Karang Taruan sehingga tidak mengurus organisasinya.

Ketua kelompok budidaya keramba yang juga sebagai ketua RT, menyatakan tidak mendapat undangan sebagai perwakilan ketua budidaya keramba namun hanya diundang sebagai ketua RT, seperti yang disampaikan oleh ketua Kelompok budidaya kerambat berikut ini.

“Saya tidak datang tahun kemarin itu bisa perwakilan dari kelompok yang lain. Kebetulan tidak dapat undangan untuk Musrenbang Desa, karena acaranya pagi hari kebetulan saya bekerja. Saya juga sebagai Ketua RT, tetapi undangannya hanya selaku Ketua RT.”

Menurut Permendagri Nomor 114 Tahun 2014, salah satu unsur masyarakat yang dilibatkan dalam Musrenbang Desa adalah kelompok masyarakat miskin. Masyarakat miskin terbentuk karena dalam Permendagri Nomor 66 Tahun 2007, menyebutkan rencana pembangunan desa harus memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi masyarakat khususnya masyarakat miskin. Seringkali kelompok miskin tidak terlibat dalam forum publik karena merasa tidak mampu berperan dalam forum. Seperti yang terjadi di Desa Bejalen bahwa kelompok masyarakat miskin tidak terbentuk secara langsung tetapi dibentuk kelompok-kelompok pemberdayaan di masyarakat untuk menampung masyarakat miskin agar dapat meningkatkan taraf kehidupannya. Sehingga dalam tahap persiapan Musrenbang Desa, secara khusus masyarakat miskin tidak termasuk dalam kelompok yang diundang karena sudah terwakili dengan kelompok-kelompok pemberdayaan bagi masyarakat maupun dengan keterwakilan dari Ketua RT/RW yang menampung atau mempertimbangkan aspirasi dari masyarakat miskin. Seperti pernyataan yang disampaikan Ketua BPD dan Kepala Desa seperti pada tabel 3 berikut ini.

24 Tabel 3

Keterlibatan Kelompok Miskin dalam Musrenbang Desa Narasumber Pernyataan

Ketua BPD Dengan adanya BPD, Ketua RT/RW, tokoh masyarakat dan tokoh agama sudah dapat mewakili aspirasi dari warga. Warga cukup dengan mengusulkan saja ke BPD atau Ketua RT masing-masing.

Kepala Desa Untuk kelompok miskin di Musrenbang Desa tidak ada, tetapi untuk program-program pasti akan dimasukkan melalui usulan dari Ketua RT/RW setempat,

Sumber: Hasil Wawancara Ketua BPD dan Kepala Desa

Setelah tahap perencanaan Muserenbang Desa, tahap berikutnya adalah pelaksanaan Musrenbang Desa penyusunan RPJM Desa. Pada tahap ini sebelum dilakukan evaluasi dan pemaparan peserta melakukan pendaftaran peserta yang dibuat dalam daftar hadir (lihat lampiran 3). Dilakukan evaluasi kegiatan periode sebelumnya dan pemaparan visi misi dari Kepala Desa sebagai narasumber Musrenbang Desa, juga pemaparan masalah dari peserta yang menghadiri Musrenbang Desa serta diskusi bersama dengan peserta untuk menentukan prioritas masalah. Dari 2 Ketua RW dan 4 Ketua RT, semuanya menyatakan terlibat aktif dalam mengusulkan kegiatan namun hanya sebagian diantaranya yang menyatakan aktif memberi masukan atau pendapat saat sesi diskusi. Menurut Kepala Desa, pihak delegasi yang dibentuk untuk menghadiri Musrenbang Kecamatan terdiri dari Kepala Desa dan Ka Ur Pembangunan. Penentuan ini tidak berdasarkan musyawarah tetapi sudah menjadi kebiasaan di Desa Bejalen bahwa pihak delegasi terdiri dari Kepala Desa dan Ka Ur Pembangunan tanpa melibatkan masyarakat.

Setelah tahap pelaksanaan Musrenbang Desa, tahap berikutnya adalah tahap pelembagaan Musrenbang Desa. Hasil Musrenbang Desa yang akan diusulkan ke Musrenbang Kecamatan berupa informasi program yang telah disepakati dan besaran dana yang akan diterima akan diinformasikan kepada masyarakat melalui Ketua RT dalam bentuk tertulis. Format penulisan dokumen RPJM Desa tidak ditentukan dari pemerintah vertikal sehingga disusun sendiri oleh Desa Bejalen

25 yang menurut Sekertaris BPD telah menjadi percontohan bagi desa-desa di lingkup Kabupaten Semarang. Penetapan dokumen RPJM Desa mengalami keterlambatan karena berdasarkan PP Nomor 43 Tahun 2014, penetapan RPJM Desa paling lambat tiga bulan sejak Kepala Desa dilantik yang seharusnya terjadi pada bulan Januari 2014, sedangkan yang terjadi di Desa Bejalen ditetapkan pada bulan Januari 2015. Hal ini terjadi karena menurut Ka Ur Pembangunan terbatas pada personil perangkat desa untuk mengerjakan dokumen RPJM Desa hanya PLT Sekertaris Desa dan Ka Ur Pembangunan sehingga mengalami keterlambatan dalam penetapan dokumen RPJM Desa. Meskipun demikian, dari Pemerintah Kabupaten Semarang dapat menerima keterlambatan tersebut.

Upaya Pemerintah Desa Bejalen dalam mewujudkan transparansi anggaran dan kegiatan adalah melalui informasi tertulis melalui Ketua RT untuk selanjutnya disampaikan dalam pertemuan di masing-masing RT sebagaimana pernyataan responden pada tabel 4 berikut ini:

Tabel 4

Upaya Transparansi Pemerintah Desa kepada Masyarakat

Narasumber Pernyataan

Kepala Desa Karena Desa Bejalen desa yang kecil jadi seluruh masyarakat dapat mengetahui informasi yang diberikan seperti program yang akan dilakukan dan anggaran yang disampaikan kepada Kepala Dusun, Ketua RT/RW yang akan disampaikan kepada masyarakat.

PLT Sekertaris Desa

Dari pemerintah desa tetap menyampaikan informasi dana yang akan diterima kepada anggota PKK. Seperti tahun ini akan mendapat bantuan dari pemerintah kabupaten sebesar sepuluh juta rupiah.

Ketua PKK Sudah transparan mengenai berapa dana yang akan diberikan, anggarannya berapa untuk kegiatan apa saja.

Ketua RT 05 Biasanya informasi mengenai kegaiatan atau besarnnya dana yang akan diterima akan disampaikan melalui Ketua RT kemudian ke warga.

Ka Dus

Bejalen Barat

Menginformasikan kepada masyarakat mengenai dana yang akan diterima dan akan digunakan untuk kegiatan apa saja. Masyarakat pasti tahu karena dari pemerintah desa sudah transparan dan terbuka kepada masyarakat.

Ketua RT 06 Pemerintah desa sudah terbuka degan anggaran atau segala macam informasi dari masyarakat sudah dapat mengetahuinya.

26 Untuk menciptakan keadilan, menurut anggota BPD keadilan diartikan bahwa pembangunan di semua bidang dalam bentuk program-program seperti pembangunan, pemerintahan, pendidikan, kesehatan, sosial, kebudayaan, agama maupun ekonomi (lihat lampiran 2). Keadilan juga diartikan sebagai pemerataan pembangunan di semua wilayah seperti pernyataan dari Ketua RT 06 berikut.

“Pemerintah desa juga melakukan pemerataan pembangunan. Misalnya tahun lalu kebanyakan program dilaksanakan untuk wilayah dusun timur, tapi jika di tahun ini wilayah dusun barat membutuhkan pembangunan dan wilayah timur dirasa sudah cukup, akan dialihkan ke wilayah barat.”

Upaya pengawasan kinerja perangkat desa dilakukan lewat pemantauan aktivitas. Namun tindak lanjut masih belum maksimal. Sebagai contoh perangkat desa seperti Ka Ur Keuangan yang tidak kompeten sehingga tetap menduduki posisinya meskipun tidak diberi pekerjaan karena tidak dikuasainnya sehingga untuk tugas-tugas yang membutuhkan sistem komputerisasi akan diserahkan kepada Ka Ur Pembangunan atas perintah Kepala Desa. Tugas-tugas yang harus diserahkan diantarannya penyusunan dokumen usulan penggunaan Dana Alokasi Umum Desa, program-program untuk pencairan dana sarana dan prasarana dari APBD Kabupaten Semarang dan APBD Provinsi Jawa Tengah.

Karena perubahan peraturan perundang-undangan, jabatan Sekertaris Desa telah kosong selama tiga tiga tahun. Dalam struktur organisasi terdapat jabatan Sekertaris Desa kosong, tetapi dalam pelaksanaannya jabatan tersebut telah dirangkan oleh Ka Ur Pemerintah sebagai PLT Sekertaris Desa yang saat ini masih menunggu untuk penganggkatan sebagai Sekertaris Desa. (Lihat lampiran 3). Jika pada Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 50 Tahun 2007, jabatan Sekertaris Desa yang kosong akan dirangkap oleh perangkat desa lainnya dan jabatan Sekertaris Desa diisi dari PNS yang ada dilingkungan Pemerintah Daerah Kabupaten/ Kota dan Kecamatan. Sedangkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2014, jabatan Sekertaris Desa adalah perangkat desa yang diangkat dari warga desa yang memenuhi persyaratan seperti keterangan dari Ketua BPD berikut ini.

27 “Jika pada saat jabatan sekdes selesai 3 (tiga) tahun yang lalu, jabatan harus diisi dari pihak kecamatan, tetapi untuk tahun lalu karena perubahan undang-undang akan diserahkan kepada desa.”

Sejumlah responden memberikan penilaian masih kurangnya kinerja perangkat desa karena kurang terlibat aktif di wilayahnya seperti pada tabel 5. Namun berbeda pendapat dari Kepala Dusun Bejalen Timur yang menyatakan tetap mengetahui masukan dari warganya walaupun tidak semua usulan diketahui di lingkungannya serta melakukan koordinasi dengan Ketua RT/RW di wilayahnya sehingga akan menampung usulan dari masing-masing Ketua RT seperti pada tabel 5 berikut ini.

Tabel 5

Pendapat Mengenai Kepala Dusun Bejalen Timur Narasumber Pernyataan

Ketua RW 03 Kalau dari Kepala Dusun, Kepala Dusunnya juga kurng aktif berbeda dengan Kepala Dusun Bejalen Barat. Dari warga sendiri juga sudah mengeluhkan bahwa Kepala Dusunnya belum menjalankan tugasnya dengan baik karena sering berada di kantor daripada aktif dengan masyarakat. Permintaan dari warga agar Kepala Dusun memperhatikan masyarakat. Selama ini Kepala Dusun tidak pernah menghadiri pertemuan-pertemuan di RT dan tidak pernah meminta usulan dari masyarakat.

Ketua RT 10 Disini Kepala Dusun memang menyampaikan informasi kepada warga tapi kurang aktif di masyarakat, untuk berkoordinasi mengenai usulan tidak ada.

Ketua RT 06 Kepala dusun kurang aktif di masyarakat, sehingga usulan-usulan langsung disampaikan ke perangkat desa.

Sumber: Hasil Wawancara Ketua RT/RW Bejalen Timur

Dalam observasi oleh penulis terlihat Kepala Dusun tersebut menunjukan ketidakaktifan di masyarakat namun selalu berada di kantor ataupun berbincang dengan perangkat desa lainnya. Namun berbeda dengan Kepala Dusun yang lainnya yang selalu aktif di lingkungannya maupun di tingkat desa. Terbukti bahwa, selain sudah melakukan koordinasi dengan warga di wilayah kerjanya dan warga juga mengungkapkan bahwa Kepala Dusun tersebut sudah aktif di masyarakatnya. Selain itu, apabila ada tugas yang diamanatkan oleh Kepala Desa

28 untuk melihat permasalahan di lapangan, Kepala Dusun tersebut sudah melakukan tugasnya dan akan melaporkan kepada Kepala Desa mengenai temuan yang terjadi di lapangan. Berdasarkan keterangan dari Ketua RT 05 menyatakan bahwa usulan-usulan dari warga akan disampaikan melalui Kepala Dusun walaupun dapat langsung diusulkan ke panitia Musrenbang Desa.

Dalam mewujudkan penyelenggaraan pemerintah yang terbebas dari korupsi, pemerintah desa selalu memberikan informasi kepada masyarakat mengenai dana yang akan diterima. Masyarakat akan membuat program-program sesuai dengan informasi dana yang akan diberikan ke desa. Seperti pada tahun 2015, menurut Ketua RW 02 Desa Bejalen akan menerima dana sejumlah Rp 500.000.000,00 sedangkan untuk terbebas dari korupsi, program yang dilaksanakan selalu sesuai dengan anggaran dan untuk melaksanakannya masyarakat membuat proposal pencairan dana sesuai dengan RPJM Desa. Cara lain menurut RW 03 akan melibatkan BPD dalam penyampaian informasi dana kepada masyarakat.

Dalam menciptakan lapangan kerja berbasis potensi asli masyarakat sudah menyadari potensi yang dimiliki tetapi masih membutuhkan pelatihan, karena program pelatihan masih kurang karena hanya dilakukan pelatihan satu kali untuk kerajinan enceng gondok seperti pernyataan Sekertaris BPD berikut ini.

“Pernah ada pelatihan dari Banyubiru yang memang sentra pengolahan kerajinan enceng gondok. Namun, hanya dilakukan sekali saja. Sementara untuk membuat kerajinan tidak cukup jika hanya dilakukan pelatihan satu kali saja.”

Perencanaan mengenai program pelatihan memang terbatas pada anggaran yang dimiliki desa, tetapi terdapat juga pelatihan yang diberikan melalui program live-in seperti yang dilakukan mahasiswa yang memberikan pelatihan penyuluhan pengolahaan sampah. Selain program pelatihan yang kurang, kecakapan dari peserta pelatihan juga belum dimiliki, karena banyaknya peserta pelatihan yang tidak dapat melanjutkan pelatihan tersebut seperti keterangan dari Ketua PKK berikut ini.

“Pernah ada pelatihan untuk pembuatan kerajinan atau kue, tetapi dar ibu-ibu sendiri tidak ada indisiatif untuk meneruskan, jadi untuk diajak ke arah lebih baik susuah. Mungkin karena mereka juga kebanyakan bekerja di sawah sehingga kalau untuk membuat kue sudah tidak ada waktu.”

29 Kecakapan yang kurang karena terkendala pada minimnya anggaran untuk pelatihan-pelatihan lainnya seperti pelatihan manajemen waktu, pelatihan pemasaran, pelatihan kemasan produk dan pelatihan inovasi produk maupun pelatihan yang lainnya masih sangat dibutuhkan masyarakat sehingga selama ini . Dalam menggali potensi, dengan memanfaatkan aset desa berupa tanah bengkok yang dikelola oleh kelompok tani dan nelayan, maka dibangun Kampoeng Rawa sebagai destinasi wisata di Kecamatan Ambarawa. Menurut Sekertaris BPD yang merupakan pengurus Kampoeng Rawa, pemanfaatan aset desa ini berdasarkan kesepakatan bersama.

“Penghasilan dari Kampoeng Rawa sebesar 12,5% akan diberikan ke Desa Bejalen. Karena dahulu telah terjadi kerjasama yang dilakukan, mengingat tanah Kampoeng Rawa merupakan tanah bengkok Desa Bejalen karena desa tidak mampu untuk mengoptimalkan sehingga diambil alih oleh kelompok-kelompok tani dan nelayan untuk membangun Kampoeng Rawa.”

Namun, masih banyaknya potensi yang belum digarap sehingga dalam mengelola aset desa terutama untuk kegiatan pariwisata, selama ini menurut PLT Sekertaris Desa hanya berupa live-in bagi sekolah-sekolah untuk mengenal lebih dalam kehidupan masyarakat di pedesaan. Sedangkan untuk kegiatan-kegiatan yang lainnya seperti acara sedekah desa belum mampu meningkatkan kunjungan wisatawan ke Desa Bejalen. Sekertaris BPD juga menambahkan, bahwa jika ada wisatawan yang menuju ke Desa Bejalen, wisatawan tidak dapat melihat keunikan dari desa karena memang tidak ada yang dapat menarik wisatawan.

Berdasarkan data-data tersebut diatas terlihat bahwa secara tahapansudah mengikuti ketentuan dari Permendagri nomor 66 Tahun 2007, namun dalam praktiknya ada kekurang pahaman terhadap ketentuan tersebut. Pada tahap perencanaan sebagian peserta sudah diundang untuk menghadiri Musrenbang Desa, tetapi ada juga yang belum dilibatkan seperti Karang Taruna dan kelompok budidaya keramba yang tidak mendapat undangan. Dengan adanya peran serta ketua RT/RW dan melalui pemberdayaan kelompok masyarakat yang menampung dan mempertimbangkan aspirasi dari masyarakat miskin. Pada tahap pelaksanaan, ketentuan prosedur telah dilaksanakan tetapi sebagian peserta menyatakan tidak

30 aktif memberikan tanggapan atau masukan saat proses diskusi berlangsung. Penentuan pihak delegasi desa kurang dari ketentuan yang ada dan telah menjadi kebiasaan di Desa Bejalen untuk tidak melibatkan masyarakat dan musyawarah. Penetapan dokumen RPJM Desa untuk periode tahun 2015-2019 melawati batas yang telah ditentukan karena keterbatasan jumlah SDM untuk membuat dokumen RPJM Desa. Kebijakan pemerintah tentang penetapan dokumen RPJM Desa yang hanya tiga bulan sejak Kepala Desa dilantik, sangat sulit diterapkan di Desa Bejalen karena terdapat perangkat desa yang merangkap jabatan seperti Kaur Pemerintahan yang juga menjadi PLT Sekertaris Desa serta Ka Ur Pembangunan yang mengerjakan sebagian tugas-tugas Ka Ur Keuangan.

Bentuk perwujudan transparansi di masyarakat dilakukan dengan pemeberian informasi tertulis kepada Ketua RT mengenai program dan anggarannya yang telah disepakati bersama. Sedangkan dalam mewujudkan keadilan dilakukan dengan pemerataan pembangunan di semua bidang dan wilayah. Terkait dengan kinerja, pengawasan kinerja perangkat desa tidak efektif, karena masih ada perangkat desa yang ditempatkan tidak sesuai dengan kemampuannya, kekosongan jabatan Sekertaris Desa dan masih ada kepala dusun yang tetap menjabat di wilayah kerjanya walaupun tidak aktif di masyarakat. Untuk menyelenggarakan pemerintahan bebas dari korupsi informasi dana yang akan diterima selalu diinformasikan kepada masyarakat juga dilakukan bersama BPD. Selama ini program desa cenderung fokus pada anggaran fisik, namun untuk non-fisik belum banyak dilakukan dalam meningkatkan potensi sebagai desa wisata. Dari program pembangunan yang termuat dalam RPJM Desa, terdapat 59% (44) program merupakan rencana program fisik dan 41% (31) program merupakan rencana program non-fisik. Demikian juga prioritas program pembangunan baik skala desa maupun skala kecamatan/ kabupaten untuk tahun 2015 sebesar 60% (12) program untuk prioritas program pembangunan fisik sedangkan 40% (8) program untuk prioritas program pembangunan secara non-fisik (lihat lampiran 2).

Belum semua masyarakat memahami pentingnya Musrenbang Desa, maka sebagaimana Panduan Penyelenggaraan Musrenbang Desa sangat diperlukan

31 sosialisasi kepada masyarakat untuk menjelaskan pentingnya Musrenbang Desa maupun dokumen-dokumen terkait agar semua peserta yang menghadiri Musrenbang Desa dapat berpartisipasi aktif. Perlunya mengundang semua pihak yang berkepentingan dalam Musrenbang Desa agar dapat memperoleh masukan dari semua komponen masyarakat. Diperlukan peningkatan peran dari Ketua RT/RW, tokoh masyarakat dan BPD untuk benar-benar menjaring aspirasi dari masyarakat miskin. Dalam Pelaksanaan Musrenbang Desa, perlu dorongan bagi peserta untuk dapat memberikan pendapat dalam diskusi. Penentuan pihak delegasi untuk Musrenbang Kecamatan harus melibatkan 3-5 orang dan ditentukan melalui musyawarah bersama dengan peserta untuk menentukan tim dan dapat melibatkan masyarakat yang mampu untuk memberikan informasi dan pengetahuan permasalahan desa. Perlunya pelatihan untuk meningkatkan kemampuan perangkat desa dalam penyusunan dokumen RPJM Desa agar tidak terjadi keterlambatan penetapan RPJM Desa. Terdapat kebijakan baik pemerintah

Dokumen terkait