HASIL DAN PEMBAHASAN
5.2 Biaya Produksi
5.3.3 Penetapan HPP Metode Full Costing
Metode full costing memperhitungkan semua unsur biaya produksi baik yang bersifat variabel maupun tetap. Pada perhitungan harga pokok produksi,
Jenis biaya Biaya (Rp/tahun)
1. Biaya Upah 5. Biaya Tenaga Kerja tidak
langsung Rp. 32.720.000
6. Pajak Penjualan Rp. 82.159.000 Jumlah Biaya Produksi Rp. 878.844.486 Jumlah Produksi 1.354,78 kg Hpp white tea (Rp/kg) Rp. 648.699
77 perusahaan tidak memisahkan biaya produksi untuk masing-masing jenis white tea, tetapi biaya tersebut disatukan untuk ketiga jenis white tea. Mertode full costing
mengalokasikan biaya produksi menggunakan dasar pembebanan berdasarkan kuantitas produk.
Alokasi pembebanan biaya ke setiap jenis produk yang dihasilkan, didasarkan pada persentase jumlah produksi yang diperoleh dengan cara membagi jumlah biaya produksi masing-masing jenis white tea dengan total produksi yang dihasilkan oleh semua jenis white tea dalam periode analisis.
Persentase jumlah produk jenis white tea premium adalah sebesar 73,31 % dengan jumlah produksi sebanyak 993,18 kg/tahun, persentase white tea KW I adalah sebesar 12,82 % dengan jumlah produksi sebanyak 173,72 kg/tahun, dan persentase white tea unsorted adalah sebesar 13,87 % dengan jumlah produksi sebanyak 187,88 kg/tahun. Total produksi dari ketiga jenis white tea selama periode analisis adalah sebesar 1354,78 kg. Data produksi PPTK Gamboeng dijabarkan pada Tabel 12 di bawah ini:
Tabel 12. Persentase Data Produksi White Tea PPTK Gamboeng Tahun 2017
Tahap awal perhitungan harga pokok produksi dengan metode full costing adalah menjumlahkan biaya langsung (biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja
Jenis Produk white
white tea premium 993,18 73,31%
white tea KW I 173,72 12,82%
white tea unsorted 187,88 13,87%
Jumlah 1.354,78 100%
78 langsung) dan biaya tidak langsung (biaya overhead). Biaya langsung dan biaya tidak langsung yang dihitung berdasarkan persentase masing-masing produk white tea di PPTK Gamboeng adalah sebagai berikut:
1. Bahan baku
Biaya bahan baku untuk white tea premium adalah Rp.259.219.980 berasal dari banyaknya bahan baku dikali dengan harga bahan baku pucuk peko per kg. Sedangkan, untuk white tea KW I adalah Rp 45.340.800 dan untuk white tea unsorted adalah sebesar Rp. 49.036.200
2. Biaya tenaga kerja langsung
Biaya tenaga kerja langsung terdiri atas gaji karyawan pabrik dan upah lembur, untuk white tea premium adalah Rp 134.793.937,- dari 73,31% total biaya tenaga kerja langsung, sedangkan untuk white tea KW I adalah Rp 23.571.931,- dari 12,82% total biaya tenaga kerja langsung dan untuk white tea unsorted adalah 25.502.550 dari 13,87 % total biaya tenaga kerja. Tenaga kerja langsung di PPTK Gamboeng berjumlah 8 orang tenaga kerja pabrik tetap.
3. Biaya tenaga kerja tidak langsung
Tenaga kerja tidak langsung pabrik terdiri dari 1 orang yang bertugas untuk mengantarkan pesanan ke pelanggan. Tenaga kerja langsung ini sekaligus bertugas untuk 4 macam produk yaitu white tea, green tea, black tea, dan AMDK (air mineral ). Selama 1 tahun biaya yang dikeluakan sebanyak Rp.
15.813.684 yang dibebankan ke masing masing produk, dalam perhitungannya tenaga kerja tidak langsung hanya dibebankan 10% untuk white tea, sehingga hanya Rp.1.581.368 yang dimasukan ke dalam perhitungan biaya, untuk white
79 tea premium sebesar Rp 1.159.301 dari 73,31% total biaya tenaga kerja tidak langsung. White tea KW I adalah Rp 202.731 dari 12.82% total biaya tenaga kerja tidak langsung dan Rp. 213.336 dibebankan untuk white tea unsorted dari total 13,87% total biaya tenaga kerja tidak langsung.
4. Biaya peralatan
Biaya mesin dan peralatan yang dikeluarkan untuk memproduksi white tea selama 1 tahun terdiri dari alumunium foil, rajut, kardus, plastik, mesin oven, mesin through dan lain lain mencapai Rp. 61.148.670. Biaya mesin dan peralatan untuk white tea premium adalah sebesar Rp. 44.828.090 dari 73,31% total biaya mesin dan peralatan, white tea KW I adalah sebesar Rp. 7.839.529 dari 12,82%
total biaya mesin dan peralatan, dan white tea unsorted adalah sebesar Rp.
8.481.321 dari 13,87% total biaya mesin dan peralatan.
5. Biaya listrik
Biaya listrik yang dikeluarkan pabrik untuk memproduksi white tea selama 1 tahun yaitu tahun 2017 sebesar Rp. 6.463.480. Biaya listrik untuk white tea premium Rp. 4.738.477 dari 73,31% total biaya listrik, white tea KW I Rp.
828.618 dari 12,82% total biaya listrik, dan Rp. 896.485 dari 13,87% total biaya listrik selama 1 tahun
6. Biaya penyusutan
Biaya Penyusutan yang dikeluarkan oleh PPTK Gamboeng untuk memproduksi ketiga jenis white tea selama 1 tahun yaitu sebesar Rp.
23.041.551, biaya penyusutan diperoleh dari metode garis lurus. Biaya penyusutan untuk white tea premium dibebankan sebesar Rp. 16.891.761 dari
80 73,31% total biaya penyusutan, white tea KW I sebesar Rp. 2.953.927 dari 12,82% total biaya penyusutan dan white tea unsorted sebesar Rp. 3.195.863 dari 13,87 total biaya penyusutan selama tahun 2017. Biaya penyusutan dilampirkan secara lengkap pada lampiran 4.
7. Biaya pemasaran
Biaya pemasaran yang dikeluarkan oleh PPTK Gamboeng untuk memproduksi ketiga jenis white tea selama tahun 2017 sebesar Rp. 90.460.000 yang digunakan untuk biaya souvenir, dan brosur. Biaya untuk white tea premium sebesar Rp. 66.316.226 dari 73,31% total biaya pemasaran, white tea KW I sebesar Rp. 11.596.972 dari 12,82% total biaya pemasaran, dan untuk white tea unsorted sebesar Rp. 12.546.802 dari 13,87% total biaya pemasaran.
8. Biaya bahan bakar
Biaya bahan bakar bensin yang digunakan untuk proses distribusi selama selama 1 tahun sebanyak Rp. 7.200.000 yang dibebankan ke masing masing produk, dalam perhitungannya biaya bahan bakar bensin hanya dibebankan 10%
untuk white tea, sehingga hanya Rp.720.000 yang dimasukan ke dalam perhitungan biaya, untuk white tea premium dibebankan sebesar Rp. 527.832 dari 73,31% total biaya bahan bakar bensin, white tea KW I sebesar 92.304 dari 12,82% total biaya bahan bakar bensin, dan untuk white tea unsorted sebesar Rp.
99.864 dari 13,87 total biaya bahan bakar bensin.
5.3.3.1 HPP Metode Full Costing White tea Premium
Perhitungan harga pokok produksi white tea premium dengan menggunakan metode full costing dihasilkan dari pengakumulasian seluruh
81 pengeluaran biaya produksi. Biaya-biaya yang dimasukan ke dalam perhitungan HPP full costing white tea premium yaitu seluruh biaya yang digunakan baik biaya langsung maupun biaya tidak langsung. Biaya-biaya tersebut dijumlahkan secara keseluruhan lalu dibagi dengan jumlah produk yang dihasilkan.
Perhitungan hpp full costing white tea premium dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 13. Harga Pokok Produksi Metode Full Costing White Tea Premium PPTK Gamboeng Tahun 2017
BIAYA Biaya (Rp)
Biaya Langsung
I. Biaya Bahan Baku 259.219.980
II. Biaya Tenaga Kerja Langsung
1. Gaji Karyawan Pabrik 128.439.683
2. Upah lembur karyawan 6.354.254
Total Biaya Langsung (Rp) 394.013.917
Biaya Tidak Langsung
I. Biaya Mesin dan Peralatan 44.828.090
II. Biaya Listrik 4.738.477
III. Biaya Tenaga Kerja Tidak Langsung 1.159.300
IV. Biaya Overhead Pabrik (Panyusutan) 16.891.761
V. Biaya Pemasaran (Souvenir) 66.316.226
VI. Biaya Kendaraan 9.163.750
VII. Biaya Bahan Bakar (Bensin) 527.832
Total Biaya Tidak Langsung (Rp)
143.625.436
Jumlah biaya produksi white tea premium (Rp) 537.639.353
Produksi (Kg) 993,18
HPP white tea premium (Rp/Kg) 541.331
Biaya langsung white tea premium terdiri dari biaya bahan baku dan juga biaya tenaga kerja langsung. Biaya bahan baku sebesar Rp. 259.219.980 diperoleh dari bahan baku white tea premium dikali dengan harga per kg bahan
82 baku, sedangkan biaya tenaga kerja langsung sebesar Rp.134.793.937/Tahun yang terdiri dari gaji karyawan pabrik sebesar Rp. 128.439.683/Tahun dan upah lembur sebesar Rp. 6.354.254/Tahun, untuk jenis white tea premium dibebankan biaya tenaga kerja langsung sebesar Rp. 134.793.937dari 73,31 % konsumsi terhadap total biaya tenaga kerja langsung yang terdiri dari gaji karyawan pabrik, dan juga upah lembur tenaga kerja
Biaya tidak langsung terdiri dari biaya mesin peralatan, biaya listrik, biaya tenaga kerja tidak langsung, biaya penyusutan, biaya pemasaran, biaya kendaraan dan biaya bahan bakar kendaraan. Biaya biaya tersebut dihasilkan dari jumlah persentase konsumsi terhadap produksi white tea premium yaitu 73,31 % sehingga biaya mesin peralatan sebesar Rp. 44.828.090, Rp 4.738.477 untuk biaya listrik, Rp 1.159.300 biaya tenaga kerja tidak langsung yang teridiri dari 1 orang, Rp. 16.891.761 biaya penyusutan, Rp. 66.316.226 biaya pemasaran, Rp. 8.430.650 biaya kendaraan sebesar Rp. 9.163.750 dan biaya bensin sebesar Rp. 527.832, sehingga harga pokok produksi white tea premium dengan menggunakan full costing sebesar Rp. 541.331 yang diperoleh dari total biaya produksi sebesar Rp. 537.639.353 dibagi jumlah produksi 993,18 kg selama satu tahun 2017.
5.3.3.2 HPP Metode Full Costing White tea KW I
Perhitungan harga pokok produksi white tea KW I dengan menggunakan metode full costing dihasilkan dari pengakumulasian seluruh pengeluaran biaya produksi. Biaya-biaya yang dimasukan ke dalam perhitungan HPP full costing white tea KW I yaitu seluruh biaya yang digunakan baik biaya langsung maupun
83 biaya tidak langsung. Biaya-biaya tersebut dijumlahkan secara keseluruhan lalu dibagi dengan jumlah produk yang dihasilkan. Perhitungan hpp full costing white tea KW I dapat dilihat pada tabel 14 di bawah ini:
Tabel 14. Harga Pokok Produksi Metode Full Costing White Tea KW I PPTK Gamboeng Tahun 2017
Biaya langsung white tea KW I terdiri dari biaya bahan baku dan juga biaya tenaga kerja langsung. Biaya bahan baku Rp. 45.340.800/Tahun diperoleh dari jumlah bahan baku white tea KW I dikali dengan harga per kg bahan baku, sedangkan biaya tenaga kerja langsung sebesar Rp.23.571.931/Tahun yang terdiri dari gaji karyawan pabrik sebesar Rp. 22.460.738/Tahun dan upah lembur sebesar Rp. 1.111.193/Tahun. Jenis white tea KW I dibebankan biaya tenaga
BIAYA Biaya (Rp)
Biaya Langsung
I. Biaya Bahan Baku 45.340.800
II. Biaya Tenaga Kerja Langsung
1. Gaji Karyawan Pabrik 22.460.738
2. Upah lembur karyawan 1.111.193
Total Biaya Langsung (Rp) 68.912.731
Biaya Tidak Langsung
I. Biaya Mesin dan Peralatan 7.839.529
II. Biaya Listrik 828.618
III. Biaya Tenaga Kerja Tidak Langsung 202.731
IV. Biaya Overhead Pabrik (Panyusutan) 2.953.927
V. Biaya Pemasaran (Souvenir) 11.596.972
VI. Biaya Kendaraan 1.602.500
VII. Biaya Bahan Bakar (Bensin) 92.304
Total Biaya Tidak Langsung (Rp)
84 kerja langsung sebesar Rp. 23.571.931dari 12,82% konsumsi terhadap total biaya tenaga kerja langsung yang terdiri dari upah petik, gaji karyawan pabrik, dan juga upah lembur tenaga kerja
Biaya tidak langsung white tea KW I terdiri dari biaya mesin peralatan, biaya listrik, biaya tenaga kerja tidak langsung, biaya penyusutan, biaya pemasaran, biaya kendaraan dan biaya bahan bakar kendaraan. Biaya biaya tersebut dihasilkan dari jumlah persentase konsumsi terhadap produksi white tea KW I yaitu 12,82 % sehingga biaya mesin peralatan sebesar Rp.7.839.529, Rp 828.618 untuk biaya listrik, Rp 202.731 biaya tenaga kerja tidak langsung yang teridiri dari 1 orang, Rp. 2.953.927 biaya penyusutan, Rp. 11.596.972 biaya pemasaran, Rp. 1.602.500 biaya kendaraan dan biaya bensin sebesar Rp.92.304, sehingga harga pokok produksi white tea KW I dengan menggunakan full costing sebesar Rp. 541.269 yang diperoleh dari total biaya produksi sebesar Rp.
94.029.312 dibagi jumlah produksi 173,72 kg selama satu tahun yaitu tahun 2017.
5.3.3.3 HPP Metode Full Costing White tea Unsorted
Perhitungan harga pokok produksi white tea KW I dengan menggunakan metode full costing dihasilkan dari penjumlahan seluruh pengeluaran biaya produksi. Biaya-biaya yang dimasukan ke dalam perhitungan HPP full costing white tea unsorted yaitu seluruh biaya yang digunakan baik biaya langsung maupun biaya tidak langsung. Biaya-biaya tersebut dijumlahkan secara keseluruhan lalu dibagi dengan jumlah produk
85 yang dihasilkan. Perhitungan hpp full costing white tea unsorted dapat dilihat pada tabel 15 di bawah ini:
Tabel 15. Harga Pokok Produksi Metode Full Costing White Tea Unsorted PPTK Gamboeng Tahun 2017
Biaya langsung white tea unsorted terdiri dari biaya bahan baku dan juga biaya tenaga kerja langsung. Biaya bahan baku sebesar Rp. 49.036.200 diperoleh dari banyaknya bahan baku white tea unsorted dikali dengan harga per kg bahan baku, sedangkan biaya tenaga kerja langsung sebesar Rp.25.502.550/Tahun yang terdiri dari gaji karyawan pabrik sebesar Rp.
24.300.347/Tahun dan upah lembur sebesar Rp. 1.202.203/Tahun. Jenis white
BIAYA Biaya (Rp)
Total Biaya Langsung (Rp) 74.538.750
Biaya Tidak Langsung
I. Biaya Mesin dan Peralatan 8.481.321
II. Biaya Listrik 896.485
III. Biaya Tenaga Kerja Tidak Langsung 213.336
IV. Biaya Overhead Pabrik (Panyusutan) 3.195.863
V. Biaya Pemasaran (Souvenir) 12.546.802
VI. Biaya Kendaraan 1.733.750
VII. Bahan Bakar (Bensin) 99.864
Total Biaya Tidak Langsung (Rp)
27.167.421
Jumlah Biaya Produksi white tea (Rp)
101.706.171
Produksi (Kg) 187,88
HPP white tea unsorted (Rp/Kg) 541.336
86 tea unsorted dibebankan biaya tenaga kerja langsung sebesar Rp. 25.502.550 dari 13,87% konsumsi terhadap total biaya tenaga kerja langsung yang terdiri dari upah petik, gaji karyawan pabrik, dan juga upah lembur tenaga kerja.
Biaya tidak langsung white tea unsorted terdiri dari biaya mesin peralatan, biaya listrik, biaya tenaga kerja tidak langsung, biaya penyusutan, biaya pemasaran, biaya kendaraan dan biaya bahan bakar kendaraan. Biaya biaya tersebut dihasilkan dari jumlah persentase konsumsi terhadap produksi white tea unsorted yaitu 13,87 % sehingga biaya mesin peralatan sebesar Rp
.
8.481.321, Rp 896.485 untuk biaya listrik, Rp 213.336 biaya tenaga kerja tidak langsung yang teridiri dari 1 orang, Rp. 3.195.863 biaya penyusutan, Rp.
12.546.802 biaya pemasaran, Rp