• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Proses Produksi White tea Pada PPTK Gamboeng

PPTK Gamboeng memproduksi 3 jenis white tea yaitu white tea premium yang merupakan jenis white tea yang paling tinggi kualitasnya, white tea KW I merupakan kualitas menengah, KW berasal dari kata kuwalitas yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia merupakan kualitas, dimana semakin tinggi angka kualitas tersebut maka semakin rendah kualitas yang dihasilkan, dan jenis yang ketiga adalah white tea Unsorted. Ketiga jenis white tea tersebut dibedakan berdasarkan jenis bahan baku yang digunakan. White tea premium merupakan jenis white tea yang memiliki harga paling mahal, hal tersebut dikarenakan kualitas yang dihasilkan produk lebih baik dari segi warna dan aroma. Bahan baku white tea premium menggunakan pucuk peko teh varietas assamica yang masih menggulung dengan memiliki bulu-bulu halus di sekitar permukaan pucuk. White tea premium memiliki kategori tersendiri untuk bahan bakunya yaitu pucuk daun yang masih menggulung dengan ukuran panjang 2-3 cm, sedangkan untuk KW I bahan baku yang digunakan adalah pucuk peko teh varietas sinensis dapat berupa pucuk teh yang setengah terbuka yang memiliki ukuran panjang daun kurang dari 2 cm, dan untuk white tea unsorted merupakan jenis white tea gabungan dari white tea premium dan KW I dimana dalam proses produksinya tidak melewati tahapan penyortiran sehingga produk yang dihasilkan merupakan sisa dari produk kering white tea premium dan KW I yang tidak lolos dalam tahapan penyortiran.

61 Perbedaan bahan baku yang digunakan untuk memproduksi white tea premium dengan KW I terletak pada varietas yang digunakan. Varietas Asamica merupakan varietas terbaik dibandingkan dengan varietas sinensis. Perbedaan jenis bahan baku untuk memproduksi white tea premium dengan white tea KW I dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Tabel 6. Perbedaan Bahan Baku White Tea Premium dengan KW I Uraian Assamica (white tea

premium) Sinensis (KWI)

Warna pucuk peko Putih Putih keemasan

Kandungan

polifenol Lebih tinggi Lebih rendah

Aroma Lebih kuat Lebih lemah

Proses produksi white tea yang dilakukan oleh PPTK Gamboeng tidak jauh berbeda, baik itu dari alat maupun mesin yang digunakan. Perbedaannya terletak pada jenis pucuk daun teh yang digunakan, untuk jenis unsorted terdapat

62 satu tahapan proses produksi yang membedakan dengan produk premium maupun KW I yaitu tidak adanya proses penyortiran. Bagan tahapan proses produksi white tea di PPTK Gamboeng dapat dilihat dalam lampiran 3 dengan penjelasan sebagai berikut:

1. Penjemuran

Penjemuran merupakan tahapan ke 3 dalam proses produksi white tea, pada tahapan ini pucuk peko yang sudah diangkut akan dimasukan ke dalam pabrik lalu pucuk tersebut ditimbang dan dicatat berat basah yang diperoleh dari bahan baku. Pucuk peko yang telah ditimbang kemudian diletakan dan dibeberkan ke dalam wadah berupa bakul/ayakan kayu yang kemudian diletakan di atas rak penjemuran. Penjemuran dilakukan dengan memanfaatkan energi matahari selama 1 hari (24 jam) hal ini bertujuan agar kadar air yang ada di dalam pucuk dapat menguap dan melebur. Penjemuran white tea hanya mengandalkan sinar matahari yang terik dimana penjemuran ini dilakukan dilantai 2 pabrik yang terbuat seperti green house dengan atap dari atap plastik elastis dan dinding kaca.

2. Pelayuan

Proses produksi selanjutnya adalah pelayuan yang dilakukan selama 1 hari (24 jam), pada proses ini bahan baku yang berupa pucuk peko yang telah melewati proses penjemuran akan dimasukan ke dalam ruangan yang memiliki suhu kelembaban ruangan yang baik. Bahan baku yang telah ditaruh di nampan alumunium akan diletakan dirak pelayuan, dimana disetiap bagian rak terdapat lampu sinar ultraviolet, hal ini bertujuan untuk membunuh

63 bakteri pada pucuk peko. Cahaya dari lampu ultraviolet sangat efektif dalam melakukan deaktifasi mikroorganisme, misalnya seperti virus, protozoa dan bakteri, selain itu terdapat juga alat dehumidifier (pengatur kelembaban), alat ini merupakan pengatur jumlah uap air di udara dalam suatu ruangan.

Ruangan yang terasa basah memiliki tingkat kelembaban yang relatif tinggi, dengan alat ini dapat membuat kelembaban ruangan yang relatif ideal, alat ini dapat mengurangi kelembaban hinga 35%

3. Pengeringan I

Proses pengeringan I adalah proses pengeringan pucuk peko dengan menggunakan mesin oven blower. Pucuk peko yang telah melewati proses pelayuan kemudian dimasukan ke dalam mesin oven blower bersuhu 100°C.

Proses ini dilakukan selama 30 menit berguna untuk menurunkan kadar air hingga menjadi 5% tanpa merusak aroma.

4. Sortir

Proses produksi selanjutnya adalah kegiatan sortir. Proses ini bertujuan untuk memisahkan jenis mutu yang memiliki kualitas yang baik (pucuk yang berwarna putih perak) yang belum terbuka gulungannya dengan pucuk yang berwana kuning kehitaman dan juga untuk memisahkan kontaminasi benda asing lainnya. Proses sortir ini harus higienis dimana pekerja diwajibkan untuk mencuci tangannya terlebih dahulu sebelum menggunakan sarung tangan, menggunakan masker dan penutup kepala.

Tenaga kerja di dalam pabrik white tea diwajibkan untuk menggunakan jas lab dan sandal laboratorium.

64 5. Pengeringan II

Proses pengeringan I tidak jauh berbeda dengan proses pengeringan dua hanya waktu lamanya pengeringan dan juga suhu mesin oven. Pada proses pengeringan 2 dilakukan selama 1 setengah jam dengan suhu 60°C.

6. Penyinaran ultraviolet

Proses penyinaran sinar ultraviolet juga tidak jauh berbeda dengan proses pelayuan, yang membedakan adalah lama waktu penyinaran yaitu 50 menit dan juga pada tahap ini alat dehumidifier sudah tidak lagi digunakan.

7. Pengemasan

Proses produksi selanjutnya adalah proses pengemasan. Proses pengemasan dilakukan setelah pucuk peko yang telah melewati proses penyinaran uv dan lolos tahap sortasi akan ditimbang sebanyak 1 kg yang kemudian dimasukan ke dalam plastik alumunium dan ditutup atau dirapatkan dengan mesin pengemas. Pada proses ini produk diberikan label tanggal produksi dan tanggal kadaluarsa. Pada proses ini semua pekerja harus menggunakan sarung tangan agar tidak menimbulkan kontaminasai dan juga kerusakan pada produk.

8. Penyimpanan dan pendistribusian

Proses terakhir adalah proses penyimpanan dan pendistribusian, pada proses ini produk white tea yang telah dikemas akan disimpan di dalam gudang penyimpanan yang dilengkapi dengan alat dehumidifier sehingga kelembaban yang ada di ruangan dapat terkontrol. Pada proses penjualan atau pendistribusian dilakukan dengan sistem FIFO (first in first out) yang artinya

65 produk pertama kali yang di produksi dan dimasukan ke dalam gudang adalah produk yang diutamakan yang akan dijual atau didistribusikan.

Pendistribusian dilakukan dengan menggunakan mobil pick up, dimana PPTK Gamboeng hanya akan mengantar pesanan di daerah Bandung, untuk daerah selain Bandung biasanya produk akan dikirim melalui JNE, selain itu distributor atau konsumen juga dapat membeli langsung di PPTK Gamboeng.