BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
J. Penetapan Kadar Abu Tidak Larut Asam
l. Penetapan kadar sari larut etanol
m. Uji kandungan kimia senyawa identitas ekstrak secara kualitatif dan kuantitatif
B. Definisi Operasional
1.Karakterisasi ekstrak adalah pengukuran kondisi ekstrak etanolik daun jati belanda mengikuti Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat yang ditetapkan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan meliputi organoleptik ekstrak, identitas ekstrak, kadar air, kadar abu total, kadar abu larut air, kadar abu tidak larut asam, kadar sari larut air, kadar sari larut etanol, dan uji kandungan kimia senyawa identitas ekstrak secara kualitatif dan kuantitatif.
2.Ekstrak kental etanolik daun jati belanda adalah ekstrak yang diperoleh melalui proses maserasi serbuk daun jati belanda dengan etanol 95 % selama 3 x 24 jam, kemudian dilakukan penguapan dengan penguap vakum dilanjutkan dengan menggunakan oven hingga diperoleh ekstrak kental.
3.Senyawa identitas ekstrak adalah senyawa tertentu yang menjadi petunjuk spesifik terhadap ekstrak tersebut, dalam penelitian ini senyawa friedelin-3β-ol sebagai senyawa identitas ekstrak kental daun jati belanda.
4.Uji kandungan kimia senyawa identitas ekstrak meliputi uji kualitatif untuk mengetahui adanya kandungan senyawa friedelin-3β-ol menggunakan metode Kromatografi Lapis Tipis (KLT) serta uji kuantitatif sebagai gambaran mengenai kadar senyawa friedelin-3β-ol di dalam ekstrak menggunakan metode Kromatografi Lapis Tipis (KLT) densitometri.
C. Alat
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
Blender (Retsch bv), Furnace / pemijar (Carbolite), Vacuum rotary evaporator (Janke & Kunkel Ika Labortechnik), oven (Memmert), TLC Scanner (Camag TLC Scanner 3), timbangan analitik (Model AB-204, Mettler Toledo), krus platina, penjepit, hot plate (Heidolph MR 2002), pompa vacuum (Robinair High Vacuum Pump Model 15110 seri 11026), corong Buchner, eksikator, penangas air, alat-alat gelas (pyrex).
D. Bahan
Bahan baku pembuatan ekstrak kental etanolik daun jati belanda adalah daun jati belanda yang diambil dari Kebun Tanaman Obat Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma saat pagi hari pada bulan Juni 2009.
Bahan-bahan kimia yang digunakan meliputi asam klorida p.a (Merck), heksan p.a (Merck), etil asetat p.a (Merck), etanol p.a (Merck), kloroform p.a (Merck), standar friedelin (Sigma-Aldrich) dan plat KLT (Merck). Bahan lain berupa kertas saring bebas abu, dan aquades diperoleh dari Laboratorium Farmakognosi Fitokimia Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
E. Jalannya Penelitian 1. Determinasi tanaman
Determinasi tanaman jati belanda dilakukan di Laboratorium Farmakognosi-Fitokimia Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, secara makroskopik dengan cara membandingkan tanaman jati belanda dengan yang ada di buku acuan untuk mendeterminasi. Determinasi dilakukan dengan cara membandingkan ciri-ciri morfologi tanaman jati belanda yang digunakan dengan buku acuan (Backer dan Bakhuizen van den Brink, 1963). 2. Pengumpulan bahan
Daun jati belanda diambil dari satu pohon di kebun tanaman obat Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma pada bulan Juni 2009. Waktu pengambilan daun dilakukan antara pukul 9 hingga 10 pagi. Daun yang diambil adalah daun tua atau yang telah membuka sempurna, kurang lebih daun ke-4 sampai ke-8 dari pucuk daun.
3. Pembuatan serbuk daun
Daun jati belanda dicuci dengan air mengalir lalu ditiriskan dan diangin-anginkan. Kemudian daun dikeringkan menggunakan oven dengan suhu 45ºC selama 2 hari. Daun yang telah kering dibuat serbuk dengan blender hingga diperoleh serbuk kering daun jati belanda. Selanjutnya, serbuk daun jati belanda diayak dengan ayakan nomor mesh 12/50.
4. Pembuatan ekstrak kental daun jati belanda
Ekstrak kental dibuat dengan cara maserasi menggunakan etanol 95%. Satu bagian serbuk kering daun jati belanda, yaitu sebanyak 15,0 g dimasukkan ke
dalam erlenmeyer, kemudian ditambah 10 bagian etanol 95% yaitu 150,0 ml, direndam selama 6 jam sambil diaduk, kemudian didiamkan sampai 24 jam. Maserat dipisahkan dan proses diulangi dua kali dengan jenis dan jumlah pelarut yang sama. Semua maserat dikumpulkan dan diuapkan dengan penguap vakum kemudian dilanjutkan menguapkan sisa pelarut menggunakan oven hingga diperoleh ekstrak kental. Rendemen yang diperoleh ditimbang dan dicatat.
5. Uji organoleptik ekstrak
Dilakukan dengan penggunaan pancaindera, meliputi deskripsi bentuk, warna, bau, dan rasa ekstrak.
6. Identitas ekstrak
Dilakukan dengan studiliteratur meliputi deskripsi tata nama ekstrak dan senyawa identitas ekstrak.
7. Penetapan kadar air
Kurang lebih 2,0 g ekstrak kental etanolik daun jati belanda ditimbang saksama dalam wadah yang telah ditara. Dikeringkan pada suhu 105oC selama 5 jam dalam oven, didinginkan lalu ditimbang. Pengeringan dilanjutkan dan ditimbang pada pada jarak 1 jam sampai perbedaan antara dua penimbangan berturut-turut tidak lebih dari 0,25%.
8. Penetapan kadar abu total
Kurang lebih 2,0 g ekstrak kental etanolik daun jati belanda yang telah ditimbang seksama dimasukkan dalam krus platina atau krus silikat yang telah dipijarkan dan ditara, kemudian diratakan. Dipijarkan perlahan-lahan hingga
arang habis, didinginkan, dan ditimbang sampai bobot konstan. Jika dengan cara ini arang tidak dapat dihilangkan, maka ditambahkan air panas, disaring melalui kertas saring bebas abu. Dipijarkan sisa dan kertas saring dalam krus, diuapkan, dipijarkan hingga bobot tetap, ditimbang. Dihitung kadar abu terhadap bahan yang dikeringkan di udara.
9. Penetapan kadar abu larut air
Abu yang diperoleh pada penetapan kadar abu, dididihkan dengan 25,0 ml aquades selama 5 menit, bagian yang larut air dikumpulkan, disaring melaui krus kaca masir atau kertas saring bebas abu, kemudian dipijarkan selama 1 jam pada suhu tidak lebih dari 450oC, hingga bobot tetap, ditimbang. Dihitung kadar abu yang larut dalam air terhadap bahan yang telah dikeringkan di udara.
10. Penetapan kadar abu tidak larut asam
Abu yang diperoleh pada penetapan kadar abu, dididihkan dengan 25,0 ml asam klorida selama 5 menit, bagian yang tidak larut dalam asam dikumpulkan, disaring melalui krus kaca masir atau kertas saring bebas abu, kemudian dicuci dengan air panas dan dipijarkan selama 1 jam pada suhu tidak lebih dari 4500C, hingga bobot tetap, ditimbang. Dihitung kadar abu yang tidak larut dalam asam terhadap bahan yang telah dikeringkan di udara.
11. Penetapan kadar sari larut air
Sebanyak 2,0 g ekstrak kental etanolik daun jati belanda dimaserasi dengan 40,0 ml air kloroform P, menggunakan labu bersumbat sambil berkali-kali dikocok selama 6 jam pertama kemudian dibiarkan selama 18 jam. Saring, uapkan
30,0 ml filtrat hingga kering dalam cawan dangkal berdasar rata yang telah ditara, panaskan sisa pada suhu 105oC hingga bobot tetap. Hitung kadar dalam persen sari yang larut dalam air, dihitung terhadap bahan yang telah dikeringkan di udara.
12. Penetapan kadar sari larut etanol
Sebanyak 2,0 g ekstrak kental etanolik daun jati belanda dimaserasi dengan 40,0 ml etanol 95%, menggunakan labu bersumbat sambil berkali-kali dikocok selama 6 jam pertama kemudian dibiarkan selama 18 jam. Saring cepat untuk menghindarkan penguapan etanol (95%), uapkan 20,0 ml filtrat hingga kering dalam cawan dangkal berdasar rata yang telah ditara, panaskan sisa pada suhu 105oC hingga bobot tetap. Hitung kadar dalam persen sari yang larut dalam etanol, dihitung terhadap bahan yang telah dikeringkan di udara.
13. Uji kandungan kimia senyawa identitas ekstrak etanolik daun jati belanda secara kualitatif dan kuantitatif
Uji kandungan kimia senyawa identitas ekstrak berupa analisa kualitatif dan kuantitatif. Analisa kualitatif dilakukan dengan metode Kromatografi Lapis Tipis (KLT) sedangkan analisa kuantitatif dilakukan dengan perhitungan kadar kandungan kimia senyawa identitas ekstrak etanolik daun jati belanda yaitu friedelin-3β-ol dengan metode KLT densitometri.
a. Analisis kualitatif dilakukan dengan menotolkan larutan standar dan larutan sampel ekstrak pada plat kromatografi lapis tipis.
1. Preparasi standar
Sebanyak 15,0 mg friedelin-3β-ol dilarutkan dalam 0,5 ml kloroform. Seri larutan standar ditotolkan sebanyak 10, 15, 20, 25, 30 μl.
2. Preparasi sampel
Sebanyak 4,0 g ekstrak disari dengan 40,0 ml etanol 95 % menggunakan labu bersumbat sambil berkali-kali dikocok selama 6 jam pertama kemudian dibiarkan selama 18 jam. Larutan sampel ditotolkan untuk masing-masing replikasi ( 3 replikasi) sebanyak 20 μl.
Komponen yang digunakan dalam analisis kualitatif meliputi : fase diam : silika gel GF254
fase gerak : heksan : etil asetat (3:2 v/v)
Deteksi : (1) pengamatan di bawah UV 254 nm dan UV 365 nm
(2) disemprot dengan larutan antimon (III) klorida 20 % dalam kloroform (pereaksi Carr Price) kemudian dipanaskan selama 5-6 menit menggunakan oven pada suhu 100oC.
b. Analisis kuantitatif dilakukan dengan cara : hasil KLT yang diperoleh dari uji kualitatif baik standar maupun sampel diukur kadarnya dengan menggunakan alat densitometer.
1. Penentuan panjang gelombang maksimum
Panjang gelombang maksimum diperoleh dengan cara menelusuri bercak pada panjang gelombang 200 nm sampai 380 nm. Panjang gelombang maksimum dicapai pada saat terjadi serapan maksimum yang ditunjukkan dengan terbentuknya puncak kurva. Pada penentuan panjang gelombang ini digunakan friedelin-3β-ol murni.
2. Pembuatan kurva baku
dalam kloroform. Larutan tersebut ditotolkan pada plat fase diam silika gel GF254 sebanyak 10 μl, 15 μl, 20 μl, 25 μl, 30 μl menggunakan pipet mikroliter dan dikembangkan dalam bejana KLT yang telah jenuh dengan uap fase gerak heksan:etil asetat (3:2 v/v), selanjutnya dilakukan elusi hingga jarak rambatan fase gerak 10,0 cm dari totolan. Keringkan lempeng dan deteksi dengan lampu UV pada panjang gelombang 254 nm dan 365 nm. Apabila bercak tidak terdeteksi, dilakukan penyemprotan dengan antimon (III) klorida (pereaksi Carr Price). Kemudian dilakukan pengukuran dengan TLC Scanner sehingga diperoleh data AUC. Berdasarkan data AUC dihitung secara regresi linier sehingga diperoleh nilai a, b, r. Nilai r menunjukkan kelinieritasan garis yang terbentuk ( korelasi liniear antara x dan y). Nilai a dan b tersebut kemudian dimasukkan ke dalam persamaan y = bx + a, dimana y adalah area di bawah kurva (AUC), a adalah koefisien regresi dan b adalah tetapan regresi, sedangkan x adalah konsentrasi zat yang ingin diketahui.
3. Penetapan kadar sampel secara KLT densitometri
Dilakukan penotolan ketiga replikasi sampel ekstrak di samping totolan kelima seri standar friedelin-3β-ol pada lempeng KLT yang digunakan untuk pembuatan kurva baku di atas. Setelah mendapatkan hasil deteksi, dibandingkan jarak rambat (Rf) dan warna bercak standar friedelin-3β-ol dengan bercak ketiga replikasi sampel ekstrak. Bercak sampel yang memiliki nilai Rf dan warna yang mendekati dengan bercak standar friedelin-3β-ol merupakan bercak yang mengandung friedelin-3β-ol. Bercak tersebut kemudian diukur intensitasnya dengan TLC Scanner.
Dari hasil pengukuran diperoleh harga AUC dari sampel ekstrak yang selanjutnya dimasukkan ke dalam persamaan regresi linier yang diperoleh pada pembuatan kurva baku. Kadar masing-masing kandungan kimia dihitung menggunakan persamaan kurva baku tersebut, sehingga diperoleh harga x (konsentrasi sampel).
F. Analisis Hasil
Hasil yang diperoleh dari karakterisasi ekstrak etanolik daun jati belanda dianalisis dengan metode deskriptif dan deskriptif komparatif. Analisis dilakukan dengan memaparkan nilai-nilai hasil pengukuran yang diperoleh dari penelitian. Pada analisis deskriptif akan dipaparkan hasil pengujian identitas ekstrak, nilai pengukuran kadar abu larut air, kadar sari larut air, kadar sari larut etanol, dan hasil uji kandungan kimia senyawa identitas friedelin-3β-ol secara kuantitatif dalam ekstrak kental etanolik daun jati belanda. Sedangkan pada analisis deskriptif komparatif akan dipaparkan hasil pengujian organoleptik ekstrak, kadar air, kadar abu total, kadar abu tidak larut asam, serta hasil uji kandungan kimia senyawa identitas friedelin-3β-ol secara kualitatif dalam ekstrak etanolik daun jati belanda dan membandingkan hasil penelitian tersebut dengan nilai standar yang telah ditetapkan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia yang tercantum dalam Monografi Ekstrak Tumbuhan Obat Indonesia Vol.I.
30 BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Determinasi Tanaman
Determinasi tanaman perlu dilakukan untuk memperoleh kepastian bahwa tanaman yang digunakan dalam penelitian merupakan tanaman yang ingin diuji yaitu Guazuma ulmifolia Lamk., sehingga dapat menghindari kesalahan pemilihan bahan tanaman yang digunakan dalam penelitian.
Determinasi tanaman dilakukan di Laboratorium Farmakognosi-Fitokimia, Fakultas Farmasi, Universitas Sanata Dharma, secara makroskopik dengan cara membandingkan ciri-ciri morfologi tanaman jati belanda yang digunakan dengan buku acuan yang ada. Buku acuan yang digunakan yaitu Flora of Java edisi I karangan Backer dan Backhuizen van den Brink (1963).
Berdasarkan hasil determinasi dapat dipastikan tanaman yang digunakan dalam penelitian ini adalah benar-benar tanaman jati belanda dengan nama latin Guazuma ulmifolia Lamk. (Lampiran 1).
B. Pengumpulan Bahan
Daun jati belanda dipetik dari pohon jati belanda di Kebun Tanaman Obat Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma pada bulan Juni 2009, yaitu saat pohon jati belanda tersebut sedang berbunga. Menurut acuan (Samuelsson, 1999) waktu pengumpulan bahan yang tepat untuk bagian daun adalah saat tanaman tersebut sedang berbunga tapi tidak sedang mulai berbuah. Waktu pengambilan daun setiap harinya diseragamkan yaitu saat pagi hari antara pukul 9
hingga 10. Pengambilan daun jati belanda dilakukan pada pagi hari agar daun yang diambil masih segar karena turgor daun yang paling tinggi terjadi saat dua jam sebelum matahari tinggi atau sebelum matahari bersinar paling terik. Daun yang diambil adalah daun yang telah membuka sempurna, kurang lebih pada posisi daun ke-4 sampai ke-8 dari pucuk daun. Pemilihan ini karena untuk tanaman jati belanda yang dipanen adalah daun yang tua, yaitu pada saat kandungan kimia atau senyawa aktif yang diinginkan berada pada kadar maksimal di dalam daun. Daun yang dipetik adalah daun ke-4 hingga ke-8 dari pucuk daun karena bagian ini merupakan bagian yang memiliki usia yang tua (matang). Bila daun yang dipetik berada pada posisi kurang dari daun ke-4 dari pucuk daun dikhawatirkan usia daun masih muda sehingga belum memiliki kandungan kimia yang maksimal. Demikian pula bila dipetik daun pada posisi lebih dari daun ke-8 dari pucuk daun dikhawatirkan usia daun terlalu tua sehingga kadar kandungan kimia tidak maksimal.
C. Pembuatan Serbuk Daun
Daun jati belanda yang telah dipetik kemudian dibersihkan dan dicuci dengan air mengalir. Pencucian dimaksudkan untuk menghilangkan kotoran yang melekat pada daun seperti debu dan tanah. Daun yang telah benar-benar bersih ditiriskan dan diangin-anginkan untuk menghilangkan air, lalu dikeringkan menggunakan oven dengan suhu 45ºC selama 2 hari. Suhu ini dipilih karena suhu tersebut tidak merusak kandungan kimia yang terdapat di dalam daun. Pengeringan bertujuan untuk mengurangi kadar air yang terdapat dalam daun agar mengurangi resiko tumbuhnya jamur selama penyimpanan, sehingga daun tidak
mudah rusak dan lebih tahan lama dalam penyimpanan.
Daun jati belanda yang telah kering dibuat serbuk dengan blender hingga diperoleh serbuk kering daun jati belanda. Tujuan pembuatan serbuk adalah memperkecil ukuran partikel agar luas permukaan partikel menjadi semakin besar, sehingga kontak serbuk dengan penyari akan semakin besar. Hal ini menyebabkan kandungan kimia tersari lebih cepat dan lebih banyak sehingga penyarian berlangsung efektif dan efisien.
Pada umumnya penyarian akan bertambah baik bila permukaan serbuk simplisia yang bersentuhan dengan cairan penyari makin luas. Hal ini berarti bahwa semakin halus serbuk simplisia seharusnya penyarian akan semakin baik. Namun ternyata tidak selalu demikian dalam pelaksanaanya, karena penyarian masih tergantung juga pada sifat fisik dan kimia simplisia yang bersangkutan. Simplisia yang terlalu halus akan menyulitkan proses penyaringan, karena butir-butir halus akan membentuk suspensi yang sulit dipisahkan dengan hasil penyarian yang menyebabkan hasil penyarian menjadi tidak murni lagi tetapi tercampur dengan partikel-partikel halus. Pembuatan serbuk yang terlalu halus akan menyebabkan banyak dinding sel yang pecah, padahal dinding sel merupakan saringan, sehingga zat yang tidak larut masih terdapat di dalam sel. Apabila banyak dinding sel yang pecah, maka tidak ada lagi saringan yang mampu menahan zat yang tidak larut, sehingga zat yang tidak diinginkan tersebut dapat bercampur dengan hasil penyarian. Oleh sebab itu, perlu ditetapkan derajat halus serbuk yang paling tepat untuk memperoleh hasil penyarian yang baik.
derajat halus serbuk adalah 4/18. Jenis pengayak yang digunakan dinyatakan dengan nomor mesh, dan nomor mesh diperoleh melalui konversi angka derajat halus 4/18 dikali dengan 2, 54 (1 inchi). Hasil konversi menunjukkan nomor mesh yang seharusnya digunakan adalah 10/45, namun karena terbatasnya alat yang tersedia maka pada penelitian ini digunakan ayakan nomor 12/50.
Setelah serbuk diayak dengan ayakan 12/50 diperoleh serbuk yang homogen. Pembuatan serbuk homogen sesuai derajat halus serbuk dimaksudkan untuk mendapatkan ukuran butiran serbuk daun yang optimal sehingga penarikan kandungan kimia dalam butiran serbuk daun oleh pelarut pada proses maserasi yang akan dilakukan dapat berlangsung maksimal. Ukuran butiran serbuk menentukan keefektifan maserasi karena dibutuhkan luas permukaan yang optimum agar pelarut mampu menembus butiran serbuk dan menarik kandungan kimia yang terdapat di dalamnya. Semakin besar luas permukaan serbuk semakin besar luas permukaan kontak serbuk dengan cairan pelarut, maka semakin banyak kandungan kimia yang dapat terlarut.
D. Pembuatan Ekstrak Kental Etanolik Daun Jati Belanda
Ekstrak kental etanolik daun jati belanda dibuat dengan cara maserasi (merendam) serbuk daun jati belanda menggunakan larutan penyari etanol 95%. Cara maserasi lebih dipilih untuk penelitian ini daripada cara penyarian lainnya seperti infundasi atau sokletasi karena pertimbangan sifat zat yang akan dimaserasi. Kandungan kimia yang terdapat dalam daun jati belanda tidak tahan dengan pemanasan suhu tinggi, maka dipilih cara penyarian yang kemungkinan akan terjadi kontak antara zat dengan pemanasan suhu tinggi baik langsung
maupun tidak langsung seminimal mungkin. Hal ini dapat ditemukan pada proses maserasi, karena serbuk simplisia hanya mengalami perendaman dalam jangka waktu tertentu tanpa perlakuan pemanasan.
Pada proses maserasi serbuk daun jati belanda digunakan larutan penyari etanol 95 % karena etanol merupakan pelarut universal yang dapat menarik hampir sebagian besar senyawa kimia yang terkandung di dalam daun jati belanda. Dalam proses maserasi ini dilakukan perendaman selama 6 jam sambil terus digojog dengan bantuan shaker. Proses perendaman dengan etanol bertujuan agar etanol sebagai larutan penyari dapat menembus dinding sel dan masuk ke dalam rongga sel yang mengandung zat aktif (kandungan kimia), sehingga zat aktif akan terlarut dan berdifusi keluar sel. Hal ini karena adanya perbedaan konsentrasi antara larutan zat di dalam sel dan di luar sel. Larutan yang konsentrasi zat aktifnya lebih tinggi atau lebih pekat, yaitu yang berada di dalam sel akan terdesak ke luar sel yang konsentrasinya lebih rendah. Penggojogan terus-menerus selama 6 jam dimaksudkan untuk memberikan gaya dorong bagi larutan penyari agar lebih mudah menembus dinding sel dan untuk menjaga agar selalu terjadi perbedaan konsentrasi antara larutan zat di dalam dan di luar sel sehingga proses difusi terus berlangsung. Larutan tersebut didiamkan selama 18 jam untuk memaksimalkan proses difusi. Rangkaian proses tersebut diulangi sebanyak dua kali dengan menggunakan larutan penyari yang baru agar seluruh kandungan kimia yang ada di dalam sel benar-benar tersari keluar hingga diperkirakan kandungan kimia yang ada di dalam sel sudah tinggal sedikit. Selain itu perendaman selama waktu tertentu diperlukan untuk mengendapkan zat-zat
yang tidak diperlukan tetapi ikut terlarut dalam cairan penyari.
Dari hasil penyarian diperoleh ekstrak cair etanolik daun jati belanda yang dikentalkan menggunakan vacuum rotary evaporator pada suhu 50°C. Tujuan ekstrak cair dikentalkan adalah untuk mendapatkan ekstrak berbentuk kental sesuai dengan bentuk ekstrak yang terdapat pada Monografi Ekstrak Tumbuhan Obat Indonesia. Penurunan tekanan di bawah tekanan normal akan menurunkan titik didih etanol sehingga dengan pemanasan yang tidak terlalu tinggi proses penguapan etanol dapat berlangsung cepat. Suhu pengentalan yang tinggi dikhawatirkan dapat membuat kandungan kimia yang terdapat dalam ekstrak menjadi tidak stabil bahkan rusak. Hasil pengentalan kemudian dilanjutkan dengan menguapkan cairan pengekstraksi yang tersisa menggunakan oven dengan suhu 45°C hingga diperoleh ekstrak kental dengan konsistensi yang liat dan tidak dapat dituang. Ekstrak inilah yang dinamakan ekstrak kental etanolik daun jati belanda. Dari hasil penelitian diperoleh ekstrak kental etanolik daun jati belanda dengan rendemen sebesar 24, 32 %.
Gambar hasil ekstrak cair dan ekstrak kental etanolik daun jati belanda dari penelitian ditunjukkan pada gambar berikut.
(a) (b)
E. Uji Organoleptik Ekstrak
Uji organoleptik bertujuan untuk pengenalan awal secara sederhana dan seobjektif mungkin. Uji ini dilakukan dengan menggunakan indera untuk dapat mendeskripsikan bentuk, warna, bau, dan rasa ekstrak.
Dari hasil pengujian ekstrak cair etanolik daun jati belanda memiliki bentuk cair, berwarna hijau tua, berbau khas etanol, dan rasa agak kelat. Sedangkan ekstrak kental etanolik daun jati belanda memiliki bentuk kental, berwarna coklat tua kehitaman, tidak berbau, dan rasa agak kelat. Hasil uji organoleptik ini memberikan manfaat bagi peneliti untuk mengenali ekstrak tersebut sebagai ekstrak kental etanolik daun jati belanda. Hal ini karena setelah diuji dan dibandingkan dengan Monografi Ekstrak Tumbuhan Obat Indonesia ciri-ciri yang telah diperoleh di atas sesuai dengan yang telah ditetapkan untuk ekstrak kental daun jati belanda, yaitu berbentuk kental, berwarna cokelat tua, tidak berbau, dan rasa agak kelat.
F. Identitas Ekstrak 1. Deskripsi tata nama
a. Nama ekstrak :Ekstrak Kental Daun Jati Belanda (Extractum Guazumae ulmifoliae Folii Spissum)
b. Nama latin tanaman : Guazuma ulmifolia Lamk. c. Bagian tanaman yang digunakan : daun
d. Nama Indonesia tanaman : jati belanda 2. Senyawa identitas ekstrak : friedelin-3β-ol
Tujuan dilakukan penentuan identitas ekstrak adalah untuk memperoleh identitas objektif dan spesifik dari ekstrak. Ekstrak dapat mengandung senyawa identitas artinya senyawa tertentu yang menjadi petunjuk spesifik dengan metode