BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
B. Penetapan Kadar Ekstrak Isoflavon Tempe
a. Penetapan panjang gelombang maksimal
Penetapan panjang gelombang maksimal (λmaks) bertujuan untuk mencari panjang gelombang yang dapat memberikan serapan secara maksimal. Penetapan
λmaks dilakukan dengan menggunakan larutan baku genistein dengan konsentrasi 5,035 µg/mL dan 10,07 µ g/mL. Penetapan panjang gelombang dilakukan dengan
menggunakan dua pelarut yaitu etanol dan buffer fosfat pH 7,4. Penetapan
panjang gelombang menggunakan pelarut etanol digunakan untuk penetapan
kadar ekstrak isoflavon tempe. Sedangkan penetapan panjang gelombang
menggunakan pelarut buffer digunakan untuk penetapan kadar sediaan dari sel
difusi Franz. Hal ini disebabkan karena adanya perbedaan pelarut maka panjang
gelombang yang dihasilkan pun berbeda.
Gambar 8. Spektra baku genistein dengan pelarut etanol
Gambar 9. Spektra baku genistein dengan pelarut buffer fosfat pH 7,4
261 nm 269 nm
Dari hasil scanning panjang gelombang maksimal (Gambar 6 dan 7 )
diketahui bahwa λmaks genistein dengan pelarut etanol adalah 261 nm dan dengan pelarut buffer fosfat pH 7,4 adalah 269 nm.
b. Pembuatan kurva baku genistein
Kurva baku genistein dibuat dengan menggunakan senyawa standar
genistein yang bertujuan untuk memperoleh persamaan regresi linear yang
selan-jutnya digunakan untuk menghitung kadar genistein dalam ekstrak isoflavon
tempe. Penggunaan genistein sebagai standar karena genistein merupakan salah
satu senyawa isoflavon yang terdapat di dalam tempe (Pramesti, 2007).
Pengu-kuran seri baku genistein dilakukan pada panjang gelombang 261 nm dan 269 nm
dengan menggunakan 5 seri konsentransi, yaitu 0,1007 µg/mL; 0,5035 µ g/mL;
1,007 µg/mL; 5,035 µ g/mL dan 10,07 µg/mL.
Gambar 10. Kurva hubungan antara konsentrasi baku genistein dengan AUC menggunakan pelarut etanol
y = 214780,720x - 16242,695 R² = 0,99950 0 100000 200000 300000 400000 500000 600000 700000 800000 900000 0 2 4 6 8 10 12 A U C Konsentrasi (µg/mL)
Gambar 11. Kurva hubungan antara konsentrasi baku genistein dengan AUC menggunakan pelarut buffer fosfat pH 7,4
Berdasarkan pengukuran tersebut, diperoleh persamaan kurva baku
genistein dengan pelarut etanol yaitu y = 214780,720x – 16242,695 dengan nilai r sebesar 0,99950 yang akan digunakan dalam penetapan kadar isoflavon dalam
ekstrak isoflavon tempe dan diperoleh persamaan kurva baku genistein dengan
pelarut buffer fosfat pH 7,4 yaitu y = 172800,318x – 12453,734 dengan nilai r sebesar 0,9991 yang akan digunakan dalam penetapan kadar isoflavon dengan
menggunakan sel difusi Franz.
c. Penetapan kadar isoflavon ekstrak tempe
Penetapan kadar isoflavon tempe dilakukan untuk mengetahui isoflavon
di dalam ekstrak tempe. Ekstrak tempe yang telah dilakukan LLE (Liquid-Liquid Extraction) kemudian dilarutkan ke dalam etanol p.a di dalam labu ukur 100,0 mL. Larutan uji diperoleh dengan mengambil sebanyak 1,0 mL larutan stok yang
kemudian diencerkan ke dalam labu 10,0 mL. Larutan uji inilah yang akan diukur
y = 172800,318x - 12453,734 R² = 0,9991 0 200000 400000 600000 800000 1000000 1200000 1400000 1600000 1800000 2000000 0 2 4 6 8 10 12 A U C Konsentrasi (µg/mL)
dengan KCKT pada panjang gelombang 261 nm. Isoflavon yang dimaksudkan
dalam penelitian ini adalah semua kandungan isoflavon yang ada di dalam ekstrak
kering tempe yang terhitung terhadap genistein karena senyawa baku yang
digunakan adalah genistein. Dari hasil penetapan kadar genistein dalam ekstrak
tempe diperoleh kadar sebesar 0,4506 % b/b.
C. Pembuatan dan Uji Sifat Fisis Sediaan Gel Anti-ageing Esktrak Isoflavon Tempe
Formula yang digunakan dalam penelitian ini yaitu carbopol 940 sebagai basis gel hidrofilik, TEA (Trietanolamin) sebagai pembasa atau netralisasi
carbopol, gliserin sebagai chemical penetration enhancer, propilenglikol sebagai humektan, akuades sebagai pelarut, parfum, pengawet, dan ekstrak isoflavon
tempe sebagai zat aktif. Carbopol 940 bersifat asam seingga dibutuhkan TEA untuk menaikkan pH karena kulit manusia mempunyai pH pada range 5,5-7. Hal
ini untuk menghindari iritasi kulit apabila pH terlalu asam atau basa. Selain itu,
pada pH netral, pada carbopol 940 terjadi proses tolak menolak antar ion pada gugus karboksil sehingga membuat gel menjadi lebih rigit (kaku) dan
mengembang (Barry, 1983).
Uji sifat fisis sediaan gel anti-ageing ekstrak isoflavon tempe dilakukan untuk mengetahui sediaan gel yang dihasilkan telah memiliki sifat fisis yang baik
yaitu dapat diterima oleh masyarakat (acceptable). Sifat fisis yang diamati dalam penelitian ini adalah daya sebar, viskositas, dan pH. Uji sifat fisis sediaan,
khususnya daya sebar dan viskositas dilakukan 48 jam setelah pembuatan gel
di-mana waktu 48 jam dianggap sudah tidak ada lagi pengaruh gaya atau energi yang
diberikan dalam proses pembuatan sediaan yang dapat mempengaruhi hasil
pen-gujian.
1. pH
Uji pH dilakukan untuk mengetahui pH tiap formula yang dibuat, sesaat
setelah pembuatan gel dengan menggunakan pH universal. Hasil uji pH menurut
Tabel V, didapatkan bahwa semua sediaan mempunyai pH 6 yang masuk ke
dalam range pH yang dingiinkan yaitu pH dengan range 5,5-7.
2. Daya sebar
Pengujian daya sebar sediaan gel bertujuan untuk mengetahui
kemampuan sediaan gel menyebar dan merata pada area yang diinginkan di
per-mukaan kulit saat diaplikasikan. Daya sebar berbanding terbalik dengan
viskositas, semakin kecil viskositas suatu sediaan semisolid maka kemampuan
menyebarnya pada permukaan kulit akan semakin besar, begitu juga sebaliknya
(Garg et al, 2002). Daya sebar yang optimum untuk sediaan semistiff adalah 3-5 cm.
Pengujian daya sebar dilakukan dengan menimbang 1 g sediaan
ke-mudian ditimpa dengan kaca bundar dengan total berat 125 g, ditunggu selama
satu menit, setelah itu diukur daya sebarnya. Berdasarkan data daya sebar pada
Tabel V, semua sediaan masuk ke dalam range daya sebar yaitu 3-5 cm sehingga
termasuk dalam sediaan semistiff. Daya sebar adalah karakteristik yang berguna untuk memperhitungkan kemudahan saat digunakan, pengeluaran dari wadah
serta mempengaruhi penerimaan konsumen (Garg et al., 2002). Dilihat secara vis-ual, sediaan gel ini tidak terlalu cair dan tidak terlalu kental sehingga dapat
diap-likasikan di kulit dengan mudah dan dapat menyebar rata di kulit.
3. Viskositas
Pengujian viskositas dilakukan untuk mengetahui tingkat kekentalan gel.
Viskositas dapat diartikan sebagai tahanan untuk mengalir. Viskositas berbanding
terbalik dengan kemampuan alir dimana semakin besar viskositas maka
kemam-puan untuk mengalir akan semakin kecil, begitu pula sebaliknya (Martin et. al,
1993). Pengujian viskositas dalam penelitian ini dilakukan 48 jam setelah
pem-buatan karena setelah 48 jam sediaan dianggap sudah melewati suatu fase yang
tidak ada lagi energi mekanik (shearing) yang digunakan saat proses pencampu-ran sehingga viskositas yang terukur dianggap viskositas sistem gel yang
se-benarnya, sehingga diharapkan struktur kerangka tiga dimensi gel telah tertata
dengan baik. Pengukuran viskositas sediaan gel dilakukan menggunakan vis-cotester Rion seri VT dengan menggunakan rotor nomor 2. Berdasarkan data viskositas pada Tabel V, semua sediaan masuk ke dalam range viskositas yaitu
200-300 dPas, sehingga dapat dikatakan bahwa gel yang dibuat tidak terlalu
ken-tal maupun tidak terlalu encer.
Tabel V. Data Uji Sifat Fisik, Q3jam, dan Fluks
Formula pH Viskositas (d.Pas) Daya sebar (cm) Q3jam (µg/cm2) Fluks (µg/cm2/jam) F1 6 225 4,083±0,113 1,885±0,065 0,628 F2 6 240 3,767±0,052 0,953±0,028 0,318 F3 6 240 3,617±0,076 0,660±0,026 0,220 F4 6 250 3,542±0,072 0,572±0,015 0,191